Disklamer ~ Rumiko Takahashi
Fict ini jauh dari kata sempurna
Saya tidak mendapatkan materil apapun dalam pembuatan fict ini
This Thing Is Killing Me presented by Hakuya Cherry
.
.
.
Perasaan yang ditarik-ulur, pacuan kuda pada dada dan kupu-kupu yang mendesak dalam lambung. Seumur hidup Sesshoumaru belum pernah merasakan hal itu. Baginya, segala hal tentang cinta terasa memuakkan dan menjijikkan. Namun ketika tangan halus itu menggenggamnya erat, hazelnut yang menatap rapat, dan bibir tipis yang terasa lezat. Jangan salahkan bila nalurinya yang mulai terpikat.
Kagome berani sumpah bila InuYasha adalah cinta matinya yang ia dapatkan dengan jatuh bangun berat. Namun ketika iris dengan warna sama itu menatapnya lekat, memikat dan penuh hasrat, Kagome tak lagi bisa menjamin jika jantungnya tak menabuh gendering dengan hebat. Dalam sekejab pria itu menjungkir balikkan pertahanan Kagome yang sudah ia bangun kuat.
.
.
.
~OOOoooOOO~
.
.
.
Sinar surya menelisik di antara celah kelopak yang terpejam, satu tangan berada di atas paha bersebelahan dengan kepala yang menjadikan paha tersebut sebagai bantal, sedang tangan lain di atas perutnya yang rata. Cuitan burung berdendang mengusik telinga seperti alarm, rumput tergelar bagai tikar dan langit biru terlihat mendamaikan. Elusan halus Kagome rasakan di antara helaian hitam yang terurai. Bergerak lembut, hati-hati, tak mau menyakiti. Aroma kayu-kayuan bercampur mint dan amber menusuk hidung mancung, harumnya menenangkan seolah mampu membuat Kagome melayang.
Kagome membuka mata sedikit menyipit karena mentari menghujani cahaya, helaian silver berembus searah angin adalah hal pertama yang ia tangkap, sudut bibir yang terangkat lalu sepasang iris sewarna senja yang menatap. Hazelnut mulai terpikat.
"Aku di mana?" Kagome beranjak mendudukkan diri di depan pria itu, memandang pohon yang menjulang, ilalang yang bergoyang, kupu-kupu beterbangan di antara bunga crysanthium dan sweet pea. Pemandangan yang menyenangkan.
Si pria mengulurkan tangan bercakarnya untuk menjengut rambut Kagome yang hitam, lalu diciumnya helaian itu, menyesap aroma yang menguar. "Baumu harum sekali." Ia memejamkan mata seolah menikmati, bibirnya mengulas senyum setipis kertas yang tak disadari.
Kagome bersemu, ia tersipu malu dengan pipi semerah tomat yang semakin membuatnya terlihat cantik. "Terima kasih." Ia berdiri menjejak kaki pada rumput, menatap matahari yang bersinar anggun dengan sejuta cita yang ada. Kebahagiaan, kenyamanan, ketenangan, dan ia bersyukur masih bisa melihatnya setiap hari. Tangannya terulur menggapai udara—berharap bisa menangkap sinarnya supaya menerangi gelap malam yang melintang, ketika api tak berkobar di atas lilin atau ketika sinar bulan hilang dimakan awan.
Pria bersurai silver ikut berdiri, salah satu lengannya melingkar pada pinggang Kagome yang ramping dan lengan kanannya meraih tangan Kagome, menautkan jarinya di sela jari wanita itu. Dagunya ia letakkan di atas bahu Kagome yang kecil, napasnya merambat di kulit leher hingga telinga.
Kagome menutup mata merasakan hembusan halus napas yang mampu menyulut percikan api, pinggangnya dipeluk posesif seolah menunjukkan kekuasaan pria itu atas dirinya, jemarinya berada di antara tangan yang membungkus erat, seolah pria itu menegaskan bahwa ia adalah miliknya.
Si pria tak dikenal membalikkan badan Kagome membuat mereka berdiri berhadapan, napas beradu penuh nafsu, kilau emas memantulkan cahaya—terlihat bersinar. Lelaki itu mengulas senyum, tangan bercakarnya menyusuri helaian Kagome sebelum mengecup di pucuk kepala—Kagome memejamkan mata. Ia menjauhkan bibirnya, satu kecupan turun ke dahi—membuat Kagome terlena—hanya sekejab sebelum turun pada pertengahan alis di pangkal hidung yang membuat wanita itu pasrah. Sedikit lebih lama dibanding dua kecupan lainnya, tangan si pemuda mengelus punggung dan tangan lain membelai bagian sisi tubuhnya—kedua tangan itu bergerak seduktif penuh gairah yang tertahan.
Tangan Kagome merayap sampai ke dada, merasakan detak jantung yang berbunyi seperti tabuhan genderang obon di musim panas. Ia menyusuri tulang selangka bergerak halus pada bahu lebar yang kokoh, gerakannya naik pada leher besar yang tegap juga terasa gagah. Kagome menahan napas berusaha menghalau pikiran anehnya yang mulai mengambil alih kesadaran.
Si pemilik surai silver menarik wajah, menatap dalam hazelnut yang balik menatapnya. Cukup lama mereka terdiam membuat bunyi gesekkan daun dan debur rumput terempas angin terdengar keras. Mereka hanya saling beradu pandang, mengunci pada satu objek yang begitu indah, menikmati keheningan yang melanda.
Entah mengapa dada Kagome mendadak bergemuruh seperti ombak di lautan yang menerjang karang, suaranya keras sampai ke surga, hatinya damai seolah lara tak pernah ada. Gelenyar kupu-kupu bergerak agresif, perutnya terasa dililit dengan tali tak kasat mata yang menyambung hingga ke hati. Sorak sorai kembang api meletus dalam tubuhnya. Terang, indah, cantik dan itu menyenangkan.
Pemuda di depan Kagome menempelkan dahinya pada dahi sang miko, sepasang emas terpejam, napasnya halus dan tenang. Dadanya naik turun secara konstan, wajahnya damai tak tergurat keraguan. Seperti asa yang terbangun kokoh di antara bencana.
Kedamaian pemuda itu merambat sampai ke perasaan Kagome, seperti virus menular yang sulit dicegah. Wanita itu ikut memejamkan mata, menikmati setiap detik yang terlewati. Hidung mereka bersentuhan, pemuda di depannya sengaja bergerak ke kiri dan kanan, sebelum menarik napas dalam lalu mengembuskannya dengan halus. Kagome membuka mata menembak tepat pada senja yang mendamba, bibirnya sedikit terbuka menyambut sentuhan benda kenyal yang serupa.
.
"Sesshoumaru!" Kagome berjengit menatap horror pada dinding coklat beratap jerami yang ia kenali sebagai rumahnya, napasnya tersengal ketika mengulang kembali isi mimpinya. Padang rumput, terik mentari yang bersinar hangat, rengkuhan pada pinggang, kecupan di puncak kepala, hidung, lalu ... Ya Tuhan ia sudah gila jika mengingat silver yang , yang, yang ...
"Kyaaaaaa!" Kagome menjerit kedua tangannya menutup muka, ia luar biasa malu. Mengacak surai hitam panjang yang sudah berantakan, mengelus dada lalu mengatur napas. Ia sudah kembali tenang. Lupakan tentang mimpi konyolnya, sekarang sudah pagi sebaiknya ia bergegas mandi yang semoga saja air sungai mampu membawa pergi ingatan tentang mimpinya. Semoga saja.
"Sesshoumaru?" suara lembut Rin bagai parang yang menghantam dinding kaca, beberapa detik yang lalu Kagome sudah menendang keluar nama itu dari otaknya tapi malah orang lain yang kembali membawanya masuk. Wanita itu menoleh dengan gerakan patah-patah, menatap mata Rin yang melempar pandangan bertanya—ada raut heran sekaligus penasaran. Kagome berkedip sekali, pandangan Rin seolah mampu mengulitinya, rasa gugup tiba-tiba menguasai tubuh dan otaknya sibuk mengubek-ubek jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Rin setelah ini.
"Ano ... etto," lidahnya kelu tak mampu bergerak, mendadak pita suaranya macet dan otaknya kehilangan semua isinya. Rasanya ia benar-benar ingin menggali lubang yang dalam lalu menguburkan dirinya sendiri di sana.
"Nee-chan bermimpi tentang Sesshoumaru-sama?" Lengkungan pada bibir Rin makin melebar, matanya menatap menggoda, kedua tangan yang tadi sibuk melipat futon sekarang bersidekap, seperti ingin menghakimi dan Kagome merasa hari ini dirinya begitu ingin mati.
.
~OOOooOOO~
.
Kagome memejamkan mata, menghirup udara dalam hitungan satu, dua, tiga. Tangannya mengelus rumput yang ia duduki, memandang desa dari tempat tinggi yang ia singgahi. Kedua kakinya diluruskan, panah dan busur di sebelah kiri sedangkan keranjang obat di atas paha.
Ia kembali menghela napas untuk kesekian kali, kepalanya sedikit meneleng mengindikasikan bahwa Kagome tengah melamun. Ingatannya terlempar kala pagi datang, sekitar empat atau lima jam sebelum sekarang. Pertanyaan-pertanyaan yang Rin lontarkan dan beberapa ucapan yang terasa benar. Rupanya, semua itu cukup mampu mengobrak-abrik keteguhan Kagome dengan alasan-alasan tak masuk akal yang ia buat.
"Ini ketiga kalinya Kagome nee-chan mengigaukan Sesshoumaru-sama." Gadis itu beringsut mendekat, sepasang maniknya memojokkan, terlihat berusaha menggali pengakuan.
Kagome gelagapan bahkan ia sampai tak sadar jika sedang menahan napas, "Tidak, Rin. Kau salah paham." Miko cantik itu segera berdiri, berjalan keluar untuk mencuci wajah dan menyadarkannya dari imajinasi.
"Benarkah?" Rin menyusul setelahnya, pandangan bertanya masih menempel pada muka, "aku berpikir, pasti sudah terjadi sesuatu di antara kalian." Kalimat itu di akhiri senyum yang mencurigakan.
"Empat hari. Sesshoumaru-sama duduk di samping nee-chan selama empat hari, menunggu nee-chan hingga sadar, menggenggam tangan nee-chan dengan erat. Sampai aku berpikir apa ada perekat di tangan kalian." Rin bertolak pinggang, kali ini ia benar-benar digerogoti rasa penasaran, "apa Sesshoumaru-sama sudah memperkosamu?"
Kagome berjengit kaget hingga matanya melotot pada batas, menatap tak percaya pada pemikiran gadis remaja itu yang ucapannya mendadak vulgar. "Apa maksudmu, Rin?" ia tak sadar jika suaranya naik satu oktaf. Kagome menerobos masuk, melewati Rin yang berdiri di ambang pintu. Ia akan Bergegas mandi setelah merapikan futon-nya.
"Kumohon katakan sesuatu padaku. Bila Sesshoumaru-sama telah melakukan hal buruk padamu, akan terasa memalukan bagiku untuk menegakkan kepala di hadapanmu." Rin bersimpuh. Tatapan matanya berkaca, ada genangan kecil di sudut sana.
Perasaan egois menggagahi isi hati, Kagome tak mengerti. Saat orang lain sibuk memikirkan keselamatannya, ia malah larut dengan dirinya sendiri. Apa egonya memang setinggi ini? Atau hatinya yang terlalu rapuh hingga ia tak siap untuk berbagi?. Miko cantik itu mengambil napas dalam, mengisi rongga dada dengan udara pagi yang menyejukkan. Surya baru tiba dan rasanya bukan hal baik jika hari ini di awali pertengkaran sepele tak berguna. Ia mengulas senyum sebelum menjawab, "Sesshoumaru tak melakukan apapun padaku," memejamkan mata sejenak, menggulir pada memori ciuman mereka berdua kala itu, "aku baik-baik saja, Rin." Kagome melengkungkan kurva, tatapannya mantab meyakinkan lawan bicara.
"Baiklah," Rin mengalah lalu melanjutkan kegiatan melipat futon-nya yang sempat terjeda, "apa Kagome nee-chan menyukai Sesshoumaru-sama?" pertanyaan itu dibiarkan mengambang tanpa jawaban. Hingga sekarang, pertanyaan itu masih terngiang.
Apa aku menyukai Sesshoumaru?
Kagome tahu jika ia telah membohongi gadis polos itu. Tapi sekali lagi egonya membenarkan langkah yang ia ambil. Lagipula, kenapa harus nama Sesshoumaru yang ia sebut? Kenapa bukan InuYasha? Kenapa ia begitu yakin jika pemuda itu adalah Sesshoumaru? Dan … bila itu benar adalah Sesshoumaru, kenapa harus Sesshoumaru? Ia semakin tak mengerti dengan arah hatinya yang seperti daun kering diempas angin. Di sisi lain, ia mulai berpikir bahwa yang memulai langkah pertama adalah dia. Bukan Sesshoumaru. Pria itu tidak salah, dan mungkin siapapun lelaki itu pasti akan membalas ciuman seorang wanita yang bergerak terlebih dulu.
Apa aku terlalu agresif?
Ah ... hatinya sedikit tercubit jika memang siapapun wanita itu maka Sesshoumaru akan membalas ciumannya. Tapi bila dipikir lagi, Kagome mencium Sesshoumaru karena ia sedang terdesak. Pasalnya, saat itu Sesshoumaru benar-benar marah dan nyaris masuk pada mode wujud silumannya, lalu yang Kagome ingat, ia selalu mengecup InuYasha tepat di bibir ketika ia bertransformasi. Terbukti hal itu mampu mencegah darah silumannya menguasai raga, mungkin berlaku juga pada Sesshoumaru—pikirnya saat itu sebelum dengan lancang mencium bibir milik sang kakak ipar.
Kakak ipar.
Aku pasti sudah gila!
Mungkin sedikit berbagi cerita dengan sahabat bisa menjadi obat penat, jadi setelah bertingkah nyaris seperti orang gila dengan menjumputi rumput di sampingnya karena kesal, Kagome lekas beranjak pergi menuju kediaman pemilik Hiraikotsu itu.
.
~OOOooOOO~
.
Sango sedang meracik racun kalajengking di teras rumah ketika putri kembarnya berlatih bersama, tak ada Shippou di sana (sepertinya siluman rubah itu tengah absen untuk sekolah ilusinya) saat Kagome datang dan mengempaskan pantatnya di sebelah Sango. Ibu dari tiga anak itu menoleh lalu mendapati senyum Kagome yang terkesan dipaksakan.
"Kagome-chan!" Ibu si kembar segera menyudahi kegiatannya, ia tersenyum sumringah menyambut sang sahabat. Lekas-lekas ia mencuci tangan dan menyimpan mangkuk dari batok kelapa yang berisi racun ke dalam rumah, menaruhnya di tempat yang aman supaya si kembar dan putranya tak mampu menemukannya.
"Lama tak bertemu, Kagome-chan." Istri Miroku itu keluar dengan membawa keranjang berisi buah dan segelas ocha, ia menyerahkan gelas itu pada Kagome yang segera meneguknya. Sango mengambil duduk tepat di sebelah Kagome, di antara mereka ada keranjang buah.
"Hanya ingin melihat si kembar. Di mana Akirra?" Kagome memandang putri seiras Sango yang sedang berlatih menggunakan senjata, terlihat Hikaru mendominasi serangan sedangkan Hikari berusaha bertahan dan melawan. Senjata milik Hikaru terayun, nyaris memenggal kepala milik Hikari jika saja ia tak segera menghindar.
"Bersama dengan Miroku, belajar berburu." Sango ikut menatap kedua putrinya, rupanya Hikari sedang memarahi Hikaru karena serangan tadi yang hampir melenyapkan nyawanya. Tanpa sadar Sango terkikik geli.
"Tak terasa, mereka sekarang sudah besar," Kagome berujar, lengkungan kurva tergambar di wajahnya. Gelas ocha-nya sudah ia letakkan di sampingnya. "Rasanya waktu berlalu begitu cepat, seolah baru kemarin aku bertemu dengan kalian, mencari bola empat arwah dan melawan Naraku. Entah kenapa aku begitu merindukan saat itu."
Miko penjelajah waktu mendongak, langit biru cerah menyambut bersama gumpalan awan yang terlihat empuk. Kembali ia menatap putri sahabatnya, kali ini mereka bertarung dengan tangan kosong, Hikari memiting ke belakang tangan Hikaru lalu menjadikan punggung saudaranya sebagai pijakan, ia melompat sambil membanting tubuh Hikaru. Hikaru segera berdiri kemudian berlari menyerang Hikari, ia menunduk ketika kaki kanan Hikari mengayun dan tepat saat itu kepalan tangan kanan memukul tepat di bawah dagu Hikari, membuatnya terhuyung ke belakang sembari memegangi dagunya.
"Rasanya sudah lama sekali." Sango mengambil satu buah pisang, ia mengupas kulitnya lalu menikmati manis buah itu.
"Huh?" Kagome menoleh, alisnya terangkat mengekspresikan wajah bingung.
"Sudah lama sekali kita tidak duduk bersisihan seperti ini," ia menjawab setelah menelan kunyahannya.
Hati Kagome tertohok, tenggorokannya seperti baru saja menelan biji buah salak. Tersangkut di tengah-tengah menghalangi pita suaranya. Seolah ia telah lama mengindahkan pelampung dari orang yang berusaha mencegahnya tenggelam. Tenggelam karena air mata kesedihannya. Pandangan miko cantik itu berubah sayu, ia menunduk dalam-dalam, menggigiti bibir bawahnya.
"Maaf," satu kata meluncur diikuti satu tetes liquid bening dari matanya, "maaf..." dan air mata itu makin deras ketika ia mendongak menatap mata sahabatnya.
Sango tak berkata apa pun, ia hanya menepis jarak di antara mereka, memeluk Kagome sambil menepuk-nepuk punggungnya. Berusaha menenangkan dengan suara lirih yang bergetar. Tak lama, kedua sahabat itu menangis bersamaan, menangisi segala waktu yang telah terlewati, menangisi luka dari masing-masing. Air mata itu mewakili kasih sayang yang lama tak tersampaikan.
.
~OOOooOOO~
.
Kagome pikir ia lebih pantas untuk menerima tamparan atau umpatan dari Sango daripada pelukan hangat yang menenangkan diikuti serentetan kalimat yang membuatnya seolah tak pernah sendirian meski InuYasha sudah meninggal. Miko penjelajah waktu itu kembali merenung akan tujuannya untuk datang ke sini, rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk membagi isi hatinya, mungkin karena seusai kegiatan tangis-menangis mereka malah mengingat kembali ingatan lampau, yang malah membuat Kagome merindukan sosok InuYasha untuk berada di sampingnya.
Hazelnut Kagome menatap Sango dan dua putrinya yang sedang berlatih bersama, sahabatnya itu rupanya tidak main-main saat mengatakan akan melatih mereka, nyatanya sekarang Sango benar-benar serius menghadapi si kembar, dan si kembar juga nampak bersemangat untuk melawan ibu mereka.
Meskipun kembar nyatanya tak membuat keahlian keduanya serupa, Hikaru sang kakak lebih lihai pada pertarungan jarak jauh, terlihat ia sangat cekatan saat menggunakan boomerang yang dibuat oleh Kakek Totosai. Sang adik, Hikari lebih ahli pada pertarungan jarak dekat, respon tubuhnya terhadap serangan sangat baik, ia dapat menghindari semua serangan yang Sango lakukan. Garis besarnya bila kedua kakak beradik ini turun dalam pertempuran mereka akan unggul dengan mudah saat bersama. Hikari mampu menyibukkan gerakan lawan dan membuatnya fokus pada dirinya sedangkan Hikaru dapat langsung menyerang dari jarak jauh ketika musuh sibuk melawan Hikari.
Mungkin, jika ia dan InuYasha memiliki seorang anak, anak itu akan menjadi setengah siluman seperti ayahnya dengan kebaikan hati yang mirip dengan Kagome. Mungkin juga anak itu adalah anak perempuan supaya Kagome bisa selalu mendandaninya atau memakaikan pakaian yang bagus. Dan kemungkinan itu akan terjadi jika saja anaknya berhasil lahir ke dunia.
'Kagome bodoh! Kenapa kau malah memikirkan masa lalu?'
Tangan Kagome yang menopang dagu kini berpindah pada perutnya yang rata. Dulu, di dalam rahimnya pernah ada nyawa lain selain dirinya. Dulu, di dalam sana ada buah hatinya dengan InuYasha. Dulu, ia dan InuYasha pernah begitu mendamba akan janinnya.
Kagome memejamkan matanya, menghirup udara pelan-pelan supaya raut wajah sedihnya tak dapat dilihat oleh sahabatnya. Ia mencengkram perutnya kuat-kuat berharapa rasa sakit di dadanya tersalurkan. Sekarang, ia benar-benar ingin kembali menangis. Pada akhirnya meski seribu kali ia mencoba untuk bangkit, ia tak pernah mampu melakukannya tanpa sosok InuYasha di sampingnya.
.
~This Thing Is Killing Me~
.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama istana wilayah barat membuka gerbang utama, membuat penduduk sekitar berbondong-bondong ikut menyiapkan pernikahan dari teman kesayangan sang kaisar, seharian ini gerobak buah dan sayur keluar masuk sudah lima kali dan daging perburuan mulai di asapi. Bagian dekorasi hanya menghias di istana utama, kali pertama setelah bertahun-tahun manusia mampu berdampingan dengan siluman—yang tak lain adalah bawahan sang kaisar. Mereka bekerja sama supaya pernikahan Rin dapat terlaksana dengan lancar dan mewah. Bertahun-tahun sang kaisar memimpin tak pernah satupun ada korban dari kejahatan siluman, rupanya sang kaisar sangat melindungi penduduknya. Sang kaisar dikenal sebagai pribadi yang pendiam, buktinya seharian ini sang kaisar belum menampakkan diri sama sekali. Hanya tangan kanan kaisar yang terlihat mondar-mandir sibuk memarahi siluman lainnya. Sikap sok bossy yang paling menjengkelkan bagi penduduk desa, karena tangan kanan kaisar seolah tak mampu menutup sedetik saja mulut runcingnya.
"Kudengar Sesshoumaru-sama sangat tampan dan kuat."
"Dia juga hebat, pantas saja wilayah barat aman dan damai selama bertahun-tahun semenjak beliau memimpin."
"Katakan padaku, apa ia ingin menikah juga? Jika ia ingin menikah−"
"Hei apa yang kalian lakukan!" Jaken berseru marah mendapati tiga remaja manusia yang membicarakan Sesshoumaru-sama-nya. Bukannya ikut merangkai bunga ketiga gadis itu malah terlihat asyik sekali menjadikan Sesshoumaru sebagai buah bibir. Jaken geram karena mereka lancang menyebut nama Sesshoumaru dari mulut kotor mereka. Mulut kotor manusia rendahan yang paling Jaken benci.
"Dasar kalian manusia rendahan yang kotor, berani sekali menyebut nama Sesshoumaru-sama dengan lidah kalian." Ketiga gadis desa itu buru-buru berdiri, menggenggam tangan di atas paha sambil menunduk dalam-dalam. "Apa kalian ingin dibakar hidup-hidup? Tidak tahukah kalian siapa aku ini? Aku adalah tangan kanan Sesshoumaru-sama yang paling−"
"Jaken," suara yang sudah dihapal Jaken di luar kepala terdengar begitu menakutkan. Jaken buru-buru bersujud menghadap masternya.
"Sesshoumaru-sama sudah pulang? Maafkan saya atas keramaian ini, Sesshoumaru-sama. Para manusia ini bekerja demi kelancaran pernikahan Rin. Mereka−"
"Berisik."
Dan dengan itu seluruh manusia juga siluman di sana terdiam. Menunduk tak mampu menatap sang kaisar, bahkan Jaken yang sangat cerewet itu pun langsung menutup mulutnya.
Sesshoumaru menatap sekeliling ruangan yang penuh dengan aroma harum bunga, mawarlah yang paling menyengat hidungnya. Pernikahan Rin yang diadakan pada saat musim semi membuat wewangian tak hanya berada di dalam istana yang telah berhias bunga-bunga, tapi nyaris di seluruh wilayah barat kekuasaannya. Ia menatap Jaken sebentar sebelum kembali melangkah meninggalkan bangunan utama menuju ruangannya.
Pada koridor panjang yang kanan-kirinya terdapat taman dengan hamparan rumput dan sebuah bangunan kecil tempat pertemuan pribadi, langkah Sesshoumaru berhenti saat merasakan kehadiran Rin yang berada di dekatnya. Sesshoumaru melangkah menuju ke bangunan kiri istana, di sana kamar Rin berada. Penguasa wilayah barat itu menghenti pijakannya ketika mata madunya melihat gadis kecilnya yang penurut−yang kini telah beranjak dewasa−sedang dipojokkan oleh Kohaku pada dinding kamarnya, salah satu kaki Rin diangkat dan dilingkarkan pada pinggang pemuda itu, membuat kimono yang dikenakannya tersingkap hingga paha. Bibir mereka menyatu, terlihat saling melumat menyecap. Kedua tangan Rin tengah dikalungkan pada leher Kohaku, terkadang jemarinya ia selipkan di antara rambut pemuda itu.
Sebelum Sesshoumaru bersuara, mata coklat milik Rin terlebih dulu mendapatinya yang tengah berdiri sepuluh langkah dari mereka. Lekas-lekas gadis itu mendorong Kohaku, membenarkan kimono-nya sambil menatap takut. Kohaku yang awalnya hendak bertanya kini ia urungkan karena melihat gelagat Rin yang aneh, adik dari Sango itu segera berbalik, menatap Sesshoumaru dengan mata yang nyaris akan melompat dari tempatnya. Kedua pasangan yang akan menikah itu menunduk, perasaan malu dan gugup menjadi satu. Beberapa menit mereka masih dalam keadaan diam hingga Kohaku segera berlutut.
"Sesshoumaru-sama, maaf atas kelancangan kami!" Pemuda itu berujar dengan suara bergetar meskipun ia telah menggenapkan seluruh keberaniannya.
"Sesshoumaru-sama, Kohaku tidak bersalah. Akulah yang memulainya, aku … aku," lidah Rin kelu. Gadis itu hanya berniat ingin menyelamatkan calon suaminya supaya tak dicap kurang ajar oleh Sesshoumaru, namun rasanya ia malah gagal dan semakin membuat situasi menjadi canggung.
"Kohaku," Sesshoumaru akhirnya bersuara, panggilannya dijawab dengan tegas dari Kohaku. "Pulanglah." Satu perintah itu membuat Kohaku segara beranjak dari posisinya, ia menunduk sambil menjawab.
"Baik!"
Dengan itu Kohaku melangkah melewati Sesshoumaru yang masih menatap Rin. Sebelum menghilang di belokan koridor menuju istana utama ia sempat melihat Rin sebentar.
Rin memainkan jemarinya di atas dada, menggigiti bibir bawahnya. Rasa takut yang luar biasa menggahinya saat ini. Mata coklatnya tak berani menatap balik sang master, kini entah kenapa Rin merasa begitu menjijikkan di hadapan Sesshoumaru yang selama ini merawatnya. Tingkahnya yang barusan, seperti para geisha di istana harem. Rin menutup matanya dan satu tetes air mata lolos menghantam lantai kayu tempatnya berpijak.
"Lakukan sesukamu," Sesshoumaru beranjak dari tempatnya, "tapi setelah kalian menikah," lanjutnya kemudian.
"Sesshoumaru-sama!" tanpa sadar suara Rin meninggi, ia maju selangkah sambil menghapus air matanya lalu ber-ojigi, "maaf."
"Hn."
.
~OOOooOOO~
.
Malam ini bulan begitu penuh, keangkuhannya memantul di atas riak air kolam ikan di depan kamar sang kaisar. Angin malam yang sejuk menerpa bunga krisan yang di tanam di pinggiran kolam, sesekali ikan koi berenang ke permukaan. Seolah menyambut senang malam yang begitu tenang.
Namun, ketenangan malam ini rupanya tak sampai menular hingga hati sang kaisar. Penguasa wilayah barat itu duduk di depan kamarnya beralaskan zabuton, salah satu kakinya di tekuk, lengan kanannya ia letakkan tepat di atas lutut. Tangan kirinya menggenggam sebuah batu kecil, terkadang ia melempar-tangkap batu itu guna mengusir rasa aneh yang kini bersarang dalam dadanya.
Mata emas Sesshoumaru mengamati gerak ikan koi dalam kolam, ingatannya terlempar ke beberapa hari yang lalu ketika ia mencium Kagome. Pemuda itu tak pernah menginginkan hal itu terjadi, tak pernah sama sekali. Ia adalah sosok yang tak tersentuh, jadi bagaimana mungkin ia mengijinkan perasaanya untuk menang kala itu?
'Wanita jalang!'
Sesshoumaru melempar batu di tangannya ke dalam kolam, membuat ikan di sana bergerak-gerak gelisah. Mata emasnya kembali menatap tajam pada air beriak di hadapannya. Batu itu seperti Kagome, dan kolam itu layaknya pikiran Sesshoumaru. Sekali gadis itu masuk ke dalamnya, apapun yang ada di sana akan menjadi berantakan dan tak tenang.
Putra sulung Ino no Taisho menatap telapak tangan kanannya, empat hari lamanya tangan itu menggenggam erat tangan milik Kagome. Sesshoumaru benci mengatakannya, tapi tangan wanita itu seolah sangat pas berada di sana. Dalam rengkuhannya. Seperti potongan puzel, tangan Kagome begitu tepat dengan tangan besarnya.
Sesshoumaru mengalihkan pandangan pada bulan yang menggantung di angkasa. Jauh di atas dengan pendar cahaya menerangi malam, yang kedatangannya akan selalu dikagumi namun tak mampu tergapai, seumpama dirinya. Karena wanitalah ayahnya meninggal dunia, dan karena wanita pula InuYasha tersegel selama limapuluh tahun. Sesshoumaru selalu menanamkan hal yang sama dalam otaknya. Bahwa wanita adalah sumber kehancuran dunia.
Jadi, bagaimana mungkin ia akan membiarkan wanita merusak hidupnya?
Angin malam menerpa helai silver milik sang kaisar, kali ini putra Inu no Taisho itu melepas semua pelindung dadanya, tenseiga dan bakusaiga tak terlihat menyampir di pinggang. Hanya yukata tidur yang Sesshoumaru kenakan bersama moko-moko yang masih terlihat melilit bahu kanan.
Langkah cepat dari Jaken mengalihkan perhatian Sesshoumaru, pintu shogi dibuka menampakkan wajah Jaken yang sudah basah karena keringat, raut mukanya terlihat khawatir.
"Sesshoumaru-sama, maaf mengganggu malam Anda tapi ini penting." Jaken berlutut sambil terengah-engah, ia berusaha mengatur napasnya supaya kembali normal.
.
~OOOooOOO~
.
Malam semakin larut namun Kagome tak mampu terpejam meski telah berusaha begitu keras, mungkin karena dua hari ini Rin tak bersamanya, biasanya gadis itu akan mengoceh tentang kegiatannya seharian sebelum tidur dan tanpa Kagome sadari ia akan terlelap dengan sendirinya. Ia beranjak untuk duduk, menyingkirkan selimutnya kemudian mengusap wajah lesunya.
Mungkin mandi akan membuatnya merasa lebih tenang. Miko cantik itu mengambil busur dan panahnya sebelum keluar rumah, ia berjalan menuju sungai di bagian dalam hutan.
Bulan terlihat indah malam ini, cahanya lebih terang dari biasa, menemani temaram obor yang diletakkan di pinggiran desa guna mengusir hewan buas. Kagome melangkah hingga cahaya rembulan tak mampu menjangkaunya dari balik dedaunan pohon di hutan, ketika langkahnya sampai pada sungai tujuannya barulah cahaya bulan kembali menyapanya.
Kagome tersenyum, rupanya pemandangan sungai ini saat malam terlihat begitu indah. Ia melepas seluruh pakaiannya, wanita cantik itu mendesah senang ketika jemari kakinya menyentuh suhu air sungai, sedikit dingin memang tapi entah mengapa rasanya begitu pas. Biasanya saat ia sedang banyak pikiran, wanita itu akan berendam dalam air hangat dengan aroma terapi yang menenangkan. Hal itu nyatanya sangat efektif untuk mencari jalan keluar. Ia akan terus berpikir hingga menemukan jawaban atas masalahnya.
Miko cantik itu mendongak, menatap kerlipan bintang di angkasa. Meski ukurannya lebih kecil dibanding bulan, tapi jumlahnya yang banyak mampu membuat semua mata yang menatapnya terpesona. Kagome memejamkan mata kemudian menenggelamkan dirinya, merasa tubuhnya diselimuti air sungai dingin yang memabukkan. Beban pikirnya seolah larut di sana, dibawa pergi air mengalir entah ke mana.
Wanita itu kembali ke permukaan ketika ia ingin meraup udara kemudian mengusap wajahnya guna menghilangkan tetes-tetes air. Kagome menatap permukaan air yang bergeming karena gerakannya, matanya terkunci pada objek bulan yang terpantul di sana. Kedua tangannya menangkup air tepat di bagian bulan itu terpantul, diperhatikannya sejenak air dalam tangannya. Gadis itu tersenyum tanpa alasan, seolah ia sedang bahagia. Dan ia pun mengangkat tangannya, membuat tetesan air itu menimpanya, kembali ia menenggelamkan dirinya.
Kagome memejamkan matanya, memutar memori lama. Alasan mengapa ia memilih untuk berada di sengoku jidai. Awalnya, itu hanyalah sebuah rasa bersalah saja, ia harus bertanggungjawab atas semua ulah bodohnya. Hingga ia sadar itu bukan hanya sebuah tanggungjawab belaka, itu karena InuYasha. Karena ia ingin selalu bersama dengan hanyou itu, karena ia ingin mereka selalu bersama, karena ia … karena ia mencintainya.
Kagome terkesiap. Ia segera kembali ke permukaan, meraup udara banyak-banyak, kali ini hatinya benar-benar terasa sakit. Jika memang ia memilih untuk tinggal karena InuYasha, mengapa wanita itu masih tetap bertahan di sana meski InuYasha sudah meninggalkannya bertahun-tahun lamanya? Mendadak pikirannya linglung. Tak seharusnya ia tetap berada di sini, ia harus kembali, ia ingin pulang, ia ingin bertemu keluarganya, ia tidak ingin lagi berada di sini, ia …
Sekelebat bayangan putih tertangkap mata.
InuYasha?
"Miko," suara dalam itu menyapanya. Pemuda yang penuh dengan kearogansian namun selalu tenang yang Kagome kenal. "Menyingkir," nadanya memerintah seperti biasa.
Kagome melempar pandangan nyalang, "Kau yang menyingkir!" ia berujar setelah cukup mengambil kembali kesadaran yang sempat hilang. "Tak kusangka kau semesum ini, Sesshoumaru-sama." Miko cantik itu mengejek, raut mukanya terlihat benar-benar marah.
Sesshoumaru masih tak bergeming, ia hanya menatap Kagome yang juga sedang melihatnya dengan emosi yang mungkin sudah sampai di ubun-ubun, muka wanita itu merah−entah karena marah atau malu−Sesshoumaru tak peduli dan tak ingin tahu. Ia mengeluarkan bakusaiga dari sarung pedangnya, mengacungkan tepat ke arah Kagome.
"Berhentilah menjadi orang bodoh, Miko." Pandangan Sesshoumaru berubah serius, nampaknya ia tak main-main dengan ucapannya, "Minggir." Ia kembali mengulang kalimatnya−hal yang sangat jarang ia lakukan.
Kagome terperangah, kedua alisnya mengerut pertanda heran. Seingatnya, Sesshoumaru bukan tipe yang sembarangan mengacungkan senjata. Siluman itu memang sombong, tapi kesombongannya hanya akan ditunjukkan bila lawannya tak mengindahkan ucapannya, ia juga bukan tipe yang akan membunuh makhluk lemah. Jadi, bila Sesshoumaru mengacungkan senjata lalu menyuruhnya menyingkir, itu artinya ia sedang dalam bahaya.
Kembali Kagome terkesiap atas pemikirannya, ia segera berbalik memerhatikan air terjun di depannya. Normal. Gemerisik air yang saling menghantam terlihat biasa saja. Kedua matanya menyipit, mencoba berkonsentrasi supaya ia bisa mengetahui apa yang ada di baliknya. Ada sesuatu yang bergerak di sana, Kagome kembali berbalik menghadap Sesshoumaru, raut mukanya kini berubah khawatir. Ia segera berenang ke tepi, berusaha mendorong air secepat yang ia bisa. Namun belum sempat wanita itu sampai tiba-tiba gelombang air menerpanya membuat wanita itu terempas hingga menabrak batu di sisi air terjun.
Kagome mengaduh, beruntung sebelum ia mencium kerasnya batu ia lebih dulu menyelimuti dirinya dengan reiki. Wanita itu kemudian melihat penyebab ia terpelanting, seorang wanita dengan tubuh ular yang sangat panjang sedang berhadapan dengan Sesshoumaru, rambut panjang hitamnya tergerai berantakan, ia pun tertawa.
"Inikah Sesshoumaru-sama yang tersohor itu?" nada bicaranya begitu angkuh. Salah satu jemari bercakarnya menutup muka, kembali ia tertawa. "Cukup mengejutkan. Tapi kau lumayan tampan," kalimatnya di akhiri dengan lidah ularnya yang menjulur panjang. Ekornya meliuk-liuk di depan mata Kagome, membuat wanita itu merasa risih.
Kagome berenang pelan ke tepi, berusaha tak memancing perhatian sang siluman ular yang tengah sibuk berbicara. Namun naas baginya karena sebelum ia sempat meraih pakaiannya siluman itu sudah menaruh atensi padanya.
"Apa kau shikon miko itu?" lidah siluman ular itu kembali menjulur, "shikon miko yang menikahi hanyou," hidungnya mengernyit jijik saat mengatakannya.
"Tak ada yang salah dengan hanyou," Kagome berujar tegas, ucapannya mantab seolah menantang wanita ular itu. "Bila ada yang salah itu bukanlah karena ia seorang hanyou, tanyakan pada perasaan kedua orang tuanya yang tak mampu dicegah. Jika mereka tahu bila kelak persatuan mereka akan melahirkan seorang hanyou, mengapa mereka tetap saja saling jatuh cinta?"
Miko cantik itu melempar pandangan tajam, ia paling tak suka jika ada yang merendahkan suaminya. "Satu-satunya yang salah di sini hanyalah kalian yang selalu menatap jijik mereka seolah mereka tak pantas untuk hidup." Tatapannya beralih pada Sesshoumaru, kakak iparnya itu terlihat sangat tenang meski dalam ucapan Kagome juga ditujukan padanya.
"Hooo …" siluman itu mendekati Kagome, jarak wajah mereka hanya lima senti. Ia menyeringai lebar, memerlihatkan deretan gigi taringnya juga lidah ularnya yang menjulur, "Tak kusangka kau seberani ini." Tangan kanan berkuku tajamnya mencengkram wajah Kagome, lidahnya kembali menjulur guna menjilat wajah cantik miko itu−Kagome meringis jijik.
"Aku selalu heran mengapa manusia lemah sepertimu bisa begitu sombong. Bukankah kau Miko yang kalah telak saat melawan seekor katak dan belalang? Oh tunggu biar kuingat lagi … bukankah bayimu dibunuh oleh ayahnya sendiri?"
Wajah Kagome menegang, ekspresinya mendadak muram. Kedua bibirnya sedikit bergetar, dalam hatinya terasa seperti ada sembilu yang kembali menusuk luka lama, membuat luka itu semakin menganga. Dadanya sesak, perutnya seperti sedang dililit erat membuatnya sulit mengambil udara dan kepalanya seolah baru saja di hantam godam. Berkali-kali hingga rasanya ia ingin mati.
Siluman ular itu tertawa, tawanya begitu puas seolah ia baru saja memenangkan pertandingan. Ia menegakkan tubuhnya, membuat tinggi mereka terpaut lebih jauh, ujung ekornya diletakkan di atas kepala Kagome, menepuk-nepukkannya dengan pelan, membuat kepala Kagome mengangguk-angguk karenanya, "Tsk… tsk… tsk," ia menggelang pelan, raut mukanya benar-benar terlihat menjengkelkan, "kasihan."
Siluman itu kembali tertawa, "Katakan padaku, untuk apa kau masih hidup di dunia ini? Shikon no tama telah hancur, suami dan bayimu juga sudah tiada." Ia mengangkat tangan kanannya lalu meniup udara kosong di atasnya, kembali ia mendekatkan wajah mereka, "Tak ingingkah kau untuk menyusul mereka berdua?"
"Tarik kembali," Kagome menjawab pelan, suaranya sedikit tertahan. Kedua tangannya mengepal, bibir bawahnya ia gigit kuat sebelum kembali berucap, "Tarik kembali kata-katamu, Siluman Bodoh!" suaranya melengking di akhir kalimat bersamaan dengan kedua tangannya yang ia majukan, seketika aliran reiki dalam jumlah yang besar menyerang tepat di wajah wanita ular itu, membuatnya terpelanting hingga tubuhnya terpotong-potong, jeritan kesakitan miliknya menghilang dibarengi cahaya reiki yang semakin pudar.
Kagome terengah, ia menatap kedua tangannya dengan pandangan sayu. Kembali ia menunduk, kali ini lebih dalam. Angannya mengulang, saat itu … lima tahun lalu ketika ia dan InuYasha sibuk menyiapkan penyambutan lahirnya anak pertama mereka. Kaede baa-chan, InuYasha, penduduk desa yang ketakutan, Sango dan Miroku yang terluka, Rin memeluknya, malam penuh darah. Bayinya tiada. InuYasha yang telah … "Aargh!" Kagome menutup telinga kuat-kuat, air matanya menetes begitu deras, jemarinya menjambak rambutnya dengan asal. Sesak, dadanya butuh oksigen. Sakit, ada yang berdenyut nyeri dalam dirinya.
Sesshoumaru menatap adik iparnya, wanita itu benar-benar terlihat kacau. Jeritan parau lolos dari kedua bibirnya, tangannya yang pernah ia genggam begitu erat kini mencengkram asal helai hitam panjangnya, menariknya dengan kuat seolah ingin itu terlepas darinya. Aura youki asing yang tiba-tiba menguar mengalihkan pandangannya, mata seindah senjanya melirik pada bangkai siluman ular yang baru saja Kagome kalahkan. Ada sesuatu yang akan keluar dari sana, lalu tiba-tiba sebuah bayangan berwarna putih terbang mengarah tepat ke arah Kagome, yang tak disadari oleh wanita itu karena ia masih saja menangis.
"Bodoh," gumam Sesshoumaru pelan, ia menyarungkan kembali bakusaiga sebelum beranjak.
"Dasar Wanita Jalang!" kedua tangan siluman itu terentang ke depan, tepat sebelum ia berhasil meraih leher Kagome untuk dicekik, Sesshoumaru datang sambil mengacungkan bakusaiga.
"Nure Onna, matilah," suara Sesshoumaru terdengar menakutkan, aura youki dari bakusaiga menghantam siluman ular itu, namun tiba-tiba cahaya putih menyelimuti Nure Onna dan setelahnya tubuh wanita itu menghilang. "Dia menghilang," Sesshoumaru menggumam sambil kembali menyarungkan bakusaiga.
Sesshoumaru memandang Kagome sekali lagi, rupanya wanita itu masih belum bisa menarik kewarasannya kembali. Putra sulung Inu no Taisho berjalan ke tempat Kagome meletakkan pakaiannya, ia memungut haori wanita itu kemudian melemparkannya tepat ke atas kepala Kagome.
"Manusia lemah sebaiknya mati saja."
Kagome mendongak melihat Sesshoumaru yang sudah berjalan menjauh, ia menyentuh haori di atas kepalanya kemudian memakainya. Tangis sesengguknya masih belum reda. Wanita cantik itu memeluk tubuhnya erat, tangannya mencengkram bagian depan haori miliknya. Berusaha mengatur napas pada hitungan ketiga, ia berjalan ke tepi lalu memakai hakama-nya dan segera beranjak pergi dari sana.
Tanpa Kagome sadari, Sesshoumaru mengawasinya dari atas tebing air terjun. Pemuda itu berdiri pongah, namun tatapan matanya seolah menyiratkan rasa kasihan pada wanita itu.
.
This Thing Is Killing Me
.
Hari baru, lembaran baru. Rin mamatut dirinya di depan cermin, gaun pengantinnya berwarna putih dengan motif teratai timbul di bagian bawahnya−yang juga berwarna serupa. Ia berputar satu kali, mengagumi kimono pernikahannya yang dibelikan Sesshoumaru untuknya. Sejak tadi senyum tak pernah lepas dari wajah ayunya. Ia bahagia, akhirnya sebuah kehidupan baru mengampirinya. Kehidupannya bersama Kohaku.
"Ne, Saori baa-chan," ia memanggil salah satu pelayan istana bagian dapur yang paling akrab dengannya, pelayan yang di panggil Saori itu tersenyum sebagai jawaban. "Apa aku benar-benar cantik? Apa Kohaku akan suka?" kembali pertanyaan itu ia ucapkan, ini sudah ketiga kalinya Saori mengangguk untuknya sebagai jawaban.
Saori baa-chan, begitulah Rin memanggil pelayan bagian dapur kesayangannya. Sesshoumaru menemukannya saat wanita tua itu hendak dimangsa oleh siluman, ia hanyalah pencari kayu bakar di hutan, putra semata wayangnya yang juga seorang pencari kayu bakar telah mati, suaminya pun meninggal saat perang. Saori baa-chan tinggal sendirian di gubuk tua di tepi hutan, awalnya Sesshoumaru membiarkannya namun karena wanita paruh baya itu adalah seorang tunawicara, sang penguasa wilayah barat itu akhirnya iba dan membiarkan Saori tinggal di istananya−yang sebenarnya adalah Rinlah yang mengajaknya untuk tinggal karena kasihan.
Gadis itu membuka pintu shogi kamarnya, ia melongokkan kepalanya guna melihat istana utama. Matanya terlihat mencari-cari seseorang, "Kagome nee-chan lama sekali," ia menggumam pelan sambil kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Ia dudukkan dirinya di depan cermin, lalu mengambil tudung pengantin yang terdapat sulaman Kagome di atasnya.
"Kagome nee-chan begitu terampil membuatnya." Ia mengangkat tinggi-tinggi kain itu, seulas senyum tulus tergambar di wajahnya. Saori yang melihatnya pun ikut tersenyum sambil mengangguk. Tangan tuanya mengambil tudung pengantin itu dan memakaikannya pada Rin.
"Terima kasih, Saori baa-chan," gadis itu berujar sambil memeluk Saori. Pelukan Rin terlepas saat pintu shogi kamarnya di buka oleh seseorang.
"Rin-sama, upacara pernikahannya segera di mulai," pelayan yang membuka pintu itu berujar sembari menunduk, kedua tangannya di atas paha.
"Apa Kagome nee-sama sudah datang?" calon pengantin Kohaku bertanya setelah melepas pelukannya, ia mengampiri pelayan yang membuka pintu kamarnya.
"Kagome-sama belum datang, Rin-sama."
.
~OOOooOOO~
.
"Kagome-sama belum datang, Rin-sama."
Sesshoumaru tengah berjalan menuju istana utama ketika ia melihat seorang pelayan yang sedang berbicara dengan Rin di depan kamarnya. Gadis kesayangannya itu menghentak-hentakkan kakinya pada lantai kayu tempatnya berpijak, seperti merasa kesal.
"Apa Kagome nee-chan lupa tentang hari ini?" ia bahkan sampai merubah suffix −sama yang biasa ia ucapkan saat di depan orang lain, Sesshoumaru tahu bila Rin hanya akan memanggil Kagome dengan akhiran –chan ketika mereka berdua saja.
Raut muka gadis itu terlihat akan menangis, Sesshoumaru mampu merasakan aura sedih dalam dirinya. Rin kembali masuk ke kamarnya lalu menutup pintu shogi dengan kasar.
Rupanya, sekali lagi dunia harus mencatatnya ; bahwa Sesshoumaru benci bila harus melakukan hal yang menurutnya tidak penting, tapi apapun hal itu jika menyangkut tentang Rin akan selalu menjadi hal yang penting.
Dai youkai itu menyelimuti dirinya dengan youki sebelum beranjak pergi. Desa Musashi adalah tujuannya saat ini.
.
~OOOooOOO~
.
Kicauan burung camar menyeruak masuk ke dalam gendang telinga, hempasan angin pada daun-daun yang bergoyang membuat para rusa mendapatkan tidur siang yang tenang, kali ini langit terlihat sangat bersih tanpa awan yang berserak di sekelilingnya. Aroma bunga-bunga menguar di sepanjang jalan, kupu-kupu beterbangan memutari mereka guna mencari nektar.
Kagome bersimpuh pada pinggiran sumur pemakan tulang di depannya, kepalanya ia letakkan di atas lipatan tangan yang berada di bibir sumur. Sepoi angin yang lembut menerpanya, membuat helai-helai hitamnya berkibar pelan. Kedua matanya berwarna merah dengan kantung mata yang menghitam. Raut wajahnya dirundung lara.
Miko cantik itu menikmati setiap hempas angin yang menerjangnya, ia benar-benar berharap bahwa angin itu tak hanya sekadar lewat saja melainkan juga membawa lukanya. Kembali ia mengingat masa lalunya. Sumur inilah penyebabnya. Tempat ia bisa berkunjung ke era sengoku dan juga sebagai jalan ia untuk pulang kembali ke rumahnya.
"Mama, aku ingin pulang," ia bergumam sangat pelan, lirih suaranya tersembunyi di antara bunyi dedaunan. Tubuhnya lunglai karena semalaman ia tak bisa tenang, mimpi buruknya datang lagi, menghantam keteguhannya bertubi-tubi. Rasanya, kini tubuh dan jiwanya telah hancur menjadi serpihan yang tak mungkin bisa disatukan kembali.
Reinkarnasi dari Kikyou itu berdiri, menggenggam erat pinggiran sumur yang berbahan kayu, kayu dari pohon yang sama tempat InuYasha tersegel. Pegangannya mengendur menyadari kenyataan itu, ia menunduk guna melihat ke dalam sumur.
Gelap.
Bagaimana mungkin tempat ini bisa begitu gelap? Bagaimana bisa dulu ia tak pernah merasa takut saat melewati sumur ini? Kapan terakhir kali ia ke sini?.
Kagome sudah menaikkan satu kakinya ke atas bibir sumur ketika suara dalam seseorang menyapanya.
"Jadi, kau memutuskan untuk menjadi seorang pecundang." Sesshoumaru berdiri tepat di belakang miko cantik itu, jarak mereka hanya terpaut lima langkah. Pandangannya datar seperti biasa, namun raut muka dan nada bicaranya benar-benar sedang merendahkan. Kagome menoleh, menatapnya dengan mata merah sehabis menangis, diturunkannya kaki kanan yang sudah berada di atas sumur kemudian berbalik guna berhadapan dengan kakak iparnya.
"Kupikir kau bukan tipe yang suka ikut campur masalah orang lain."
Sesshoumaru tak membalas kalimatnya, pria itu hanya diam di tempat dan terus menatap pada iris oak milik Kagome. Kedua manik mereka beradu pandang dan taka da satu pun dari mereka yang ingin mengakhiri hal itu. Angin mengempas tubuh mereka, debur rumput bersuara nyaring bersamaan daun-daun yang melambai berisik mendominasi seolah kebisuan mereka adalah hal yang patut untuk dipertahankan. Kagome mengambil satu langkah, kini tersisa empat langkah sebelum ia dapat meraih Sesshoumaru. Mata jingganya beradu dengan coklat miliknya. Miko cantik itu menelan ludah sebelum berkata.
"Sesshoumaru," ia berusaha meloloskan suaranya yang hampir habis, "cabut bakusaiga dan bunuhlah aku." Suaranya memelan di akhir kalimat, entah kenapa tiba-tiba ia merasa ragu meski hanya memandang mata yang serupa dengan milik InuYasha itu.
Pemilik bakusaiga hanya memandangnya, tak ada arti dalam pandangan matanya. Lengan kanannya bergerak mengambil bakusaiga yang tersampir, mencabut pedang itu dari tempatnya lalu mengacungkan ujungnya tepat di leher Kagome. Wanita itu memejamkan kedua matanya, Sesshoumaru dapat melihat tubuh Kagome yang sedikit bergetar, berulang kali miko itu menelan ludah, ia bahkan sampai menggigit ujung bibirnya.
"Bakusaiga tak akan mau mandi darah dari seorang pecundang," ujarnya sembari menurunkan pedangnya dan kembali menyarungkannya. Pria itu beranjak dari tempatnya, hendak pergi sebelum suara Kagome menginterupsinya.
"Sesshoumaru−"
"Rin menunggumu."
Kagome terhenyak di tempatnya, memandang kepergian Sesshoumaru yang meninggalkannya. Wanita cantik itu jatuh terduduk, ia tangkup wajahnya dengan kedua tangan. Dan isak tangis kecil lolos di antara celah jemarinya. Lagi. Ia mengulang kesalahan yang sama. Ribuan kali. Sudah tak terhitung banyaknya. Semua orang berusaha menolongnya, memanggil namanya untuk menjauh dari keterpurukan namun selalu ia mengabaikannya. Lalu, pertanyaan itu datang lagi.
Apa ia memang seegois ini? Atau hatinya terlalu rapuh hingga ia tak siap untuk berbagi?.
.
~OOOooOOO~
.
Para undangan yang datang menunggu dengan kesabaran yang nyaris melewati batas, pasalnya sang mempelai wanita tak juga masuk ke dalam altar. Kouga terlihat sudah menghentak-hentakkan kaki pertanda kesal, beruntung anak buahnya tak terlalu peduli pada acara ini karena mereka masih sibuk makan, sedangkan Ayame tengah asyik berlari-lari kecil dengan kedua putra mereka di halaman istana.
"Di mana Kagome?" Kakek Myouga bertanya dengan raut khawatir, ia kini sedang berada di pundak istri Miroku yang sedang mondar-mandir di depan koridor yang menghubungkan istana utama dengan kamar Rin, terlihat Sango juga memasang ekspresi yang sama, ia bahkan sampai menggigiti ujung kuku ibu jarinya.
"Miroku sedang mencarinya," Sango menjawab asal. Tepat setelah ia mengatakan hal itu Miroku datang bersama Kirara, Sango segera menghampiri mereka kemudian bertanya, "di mana Kagome-chan? Apa kalian tak menemukannya?".
Miroku hanya menggeleng setalah turun dari pelana, raut wajah menyesal tergurat jelas, Kirara bahkan ikut menunduk. "Tenanglah," Miroku berusaha menenagkan istrinya yang terlihat semakin digerogoti rasa khawatir, ia mengusap lengan kiri Sango dengan lembut.
"Bagaimana nasib Kohaku?" Sango melirik adiknya yang berdiri di depan kamar Rin, pemuda itu sudah berkali-kali membujuk calon istrinya untuk keluar namun tetap saja diabaikan. Raut sedih tercetak jelas di wajah Kohaku dan Sango tak tega bila harus menyaksikan adik semata wayangnya bersedih di hari−yang harusnya menjadi hari− bahagianya.
"Kagome-chan, sebenarnya kau ke mana?" Ibu dari Hikaru dan Hikari itu menghela napas pasrah, ia memegangi kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing.
"Sango! Miroku!" teriakan Shippou mengalihkan perhatian mereka, teman kecilnya itu tengah berlari sekuat tenaga untuk mengampiri mereka. Shippou berhenti tepat di depan Miroku yang kemudian menunduk untuk menyejajarkan tingginya.
"Ada apa, Shippou?" Tanya suami dari Sango itu setelah menunggu temannya menormalakan kembali deru napasnya.
"Kagome," Shippou menjawab sambil menunjuk ke arah gerbang utama. Miroku dan Sango yang mengerti pun langsung mengangguk dan segera berlari menuju tempat yang Shippou tunjuk.
Kagome melangkah pelan, flower crown dari bunga mawar merah terlihat berada di keranjang yang ia jinjing. Rambut panjangnya ia ikat satu tinggi-tinggi, warna merah muda terpoles di atas kelopak mata, ia memulas sedikit bedak di atas muka supaya menyamarkan wajah lusuhnya. Kedua mata hazel-nya menangkap sosok Miroku dan Sango yang sedang menunggunya di depan gerbang, Shippou berlari mendekatinya kemudian berkata.
"Kagome, kami sudah menunggumu." Yang hanya dia balas dengan senyum tipis dan anggukan. Kakinya melangkah memasuki istana di mana seluruh mata melihatnya dengan pandangan bahagia, Kouga bahkan ikut mendekat dan menyapanya−hal itu mengundang kecemburuan Ayame yang berdiri di belakangnya. Dan lagi, Kagome hanya tersenyum untuk menaggapinya.
Wanita cantik itu melangkah menuju kamar Rin berada, di sana ada Kohaku yang sedang bersandar pada pintu. Kagome menyentuh pundak Kohaku yang tengah melamun, pemuda itu berbinar saat melihatnya.
"Rin," panggilnya pelan, "boleh aku masuk?" tanyanya setelah beberapa menit tak ada jawaban.
Pintu shogi di depannya terbuka, menampakkan wajah Rin yang sudah basah. Raut sedih terlampau kentara darinya dan gadis itu langsung memeluk Kagome begitu erat.
"Kupikir Kagome nee-chan lupa tentang hari ini," ia bergumam lirih, Kagome mengelus lembut rambut calon pengantin itu sebelum melepas pelukan mereka.
"Maaf aku lama, tadi aku membuat ini." Ia mengangkat mahkota bunga yang ia bawa dan Rin akhirnya tersenyum karenanya, "Baiklah, karena tamu undangan sudah datang jadi ayo kita lekas mendandanimu supaya acara dapat segera di mulai," lanjutnya sambil mendorong gadis itu masuk ke dalam kamar. "Kohaku, tunggulah di altar. Aku akan ke sana bersama Rin," pintanya diiringi senyum yang di balas anggukan bahagia dari Kohaku.
Kagome menutup pintu kamar Rin kemudian merias wajah ayu gadis itu. Rin memerhatikan miko cantik itu dari pantulan cermin di depan mereka, wanita yang disayanginya itu sedang menata rambut miliknya dengan telaten, "Apa Kagome nee-chan habis menangis?" calon pengantin itu berucap setelah lama mereka terdiam. Tatapan khawatir benar-benar ia tunjukkan, gadis itu menggenggam tangan Kagome yang berada di atas kepalanya guna menghentikan kegiatan wanita itu.
Kagome balas menatapnya lewat cermin di depan mereka, ia melengkungkan kurva kecil lalu menjawab, "Siapa pun akan menangis di hari bahagia mereka, Rin."
Genggaman tangan Rin semakin erat, gadis itu berbalik untuk menatapnya secara langsung, "Bohong." Kedua tangannya masing-masing memegang tangan Kagome, ia dekatkan kedua tangan wanita itu lalu memandang di atas telapak tangannya. Ada sedikit goresan di atasnya, sepertinya itu adalah goresan yang ia dapatkan ketika merangkai flower crown untuknya. Kembali, calon pengantin itu menangis dan tetes air matanya jatuh ke telapak tangan Kagome yang langsung merasa khawatir.
"Ada apa, Rin?" Kagome beringsut mendekat berusaha melihat wajah Rin yang menunduk. Ia sentuh bahu kanan gadis itu perlahan supaya Rin mendongak untuk balas menatapnya.
"Kenapa Kagome nee-chan tak pernah mau menceritakan apapun padaku? Kenapa Kagome nee-chan selalu memendamnya sendiri? Apa Kagome nee-chan tak percaya padaku?" gadis itu bertanya dengan nada menuntut yang membuat Kagome terdiam, ia mengalihkan pandangannya ke arah tudung pengantin yang Rin letakkan di sisi cermin.
"Kagome nee-chan selalu merahasiakannya dariku, tak pernahkah nee-chan berpikir bagaimana perasaanku?" Rin berdiri dari duduknya, wajahnya kembali basah oleh air mata.
"Maaf," Kagome menjawab lirih, tangannya mengepal kuat di atas paha. Ia tak berani mengadu pandang dengan Rin. Perasaannya kembali kacau, dan wanita itu kembali menangis. Untuk kesekian kali di hari ini.
Rin menunduk, menatap kepala Kagome yang juga menunduk. Gadis cantik itu ingin kembali berucap, namun ia merasa tak tega bila harus terus-menerus menekan kakak kesayangannya itu. Jadi, ia memutuskan untuk menghela napas dalam, menghirup udara banyak-banyak supaya pikirannya kembali tenang. Ia berlutut dan memeluk Kagome. Tangan kanannya mengusap punggung Kagome dengan pelan, berusaha mencairkan perasaan miko cantik itu.
.
~OOOooOOO~
.
Kohaku duduk di atas zabuton di depan pendeta yang akan menikahkannya dengan Rin, ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggebu, berbagai perasaan tercampur aduk menjadi satu. Membuat pemuda itu bingung entah perasaan apa yang sedang mendominasi. Ia kembali melihat ke arah pintu masuk−ini sudah ketujuh kalinya ia melakukannya− untuk melihat calon mempelai wanita yang tak kunjung datang juga. Matahari hampir tenggelam karena kini mega jingga yang menguasai angkasa.
Kembali ia melihat sang pendeta yang masih duduk tenang di tempatnya, ia bahkan melempar senyum ramah padanya yang bertujuan untuk menenangkan Kohaku dari resah yang tak kunjung padam. Baru saja ketika ia hendak berdiri untuk bertanya pada kakaknya guna segera memanggil Rin dan Kagome, kedua orang yang ditunggu Kohaku akhirnya memasuki ruangan.
Kagome terlihat menggandeng tangan Rin yang sedang mengenakan tudung pengantin, di atas tudung itu melingkar mahkota bunga dari mawar merah yang tadi Kagome bawa. Samar-samar Kohaku dapat melihat gadisnya itu tersenyum kepadanya. Pandangan pemuda itu terkunci pada calon pendamping hidupnya yang berjalan mendekat. Ingatan Kohaku terlempar jauh ketika pertama kali mereka bertemu. Dulunya gadis itu adalah tawanan Naraku untuk melemahkan Sesshoumaru, dan Kohakulah yang bertugas untuk mengawasinya dari sang master. Gadis kecil yang sangat cerewet dipertemuan pertama mereka, gadis kecil yang begitu peduli padanya, gadis kecil yang selalu berusaha menenangkan kekhawatirannya, yang selalu meminta pada Sesshoumaru agar sang master mau membantunya, yang takut pada kesendirian dan masa lalunya, yang pernah ia gendong di punggungnya dalam keadaan tak bernyawa, yang bangkit demi masa depannya, dan gadis kecil yang, yang, … paling Kohaku suka.
Kohaku berdiri dari tempatnya, menyambut tangan Rin yang terulur untuknya. Pemuda itu terpesona. Berjuta kali, meski arang melintang di kehidupan mereka. Dan gadis itu … tak pernah berhenti menyemangatinya. Ia tersenyum, akhirnya, gadis itu akan menjadi miliknya.
Kagome mengambil duduk di barisan paling depan di sebelah Sango, Kakek Myouga tiba-tiba bercokol di pipinya dan menghisap darahnya yang kemudian di tepuk dengan keras oleh Kagome. Shippou melompat ke pangkuannya dengan senyum sumringah pertanda bahagia. Para tamu undangan segera duduk di tempatnya masing-masing karena upacara akan segera di mulai.
Pandangan Kagome mengedar ke sekeliling, ia tak melihat Sesshoumaru ikut dalam upacara ini. Hanya ada Jaken, Royakan, dan beberapa siluman lainnya yang menyandang sebagai pengikut setia Sesshoumaru terlihat di barisan paling belakang. Sedangkan Saori dan para pelayan manusia lainnya duduk pada barisan di depan mereka.
Kagome tak sadar bila ia telah melewatkan bagian pertama dalam sesi acara ketika pendeta menyucikan pasangan pengantin. Saat ia kembali melihat Kohaku dan Rin, keduanya akan melakukan san-sakudo− yang mana kedua pengantin bergantian mengirup sake sebanyak sembilan kali dari tiga cangkir.
Senyum tipis terpatri di bibir Kagome, mungkin ia bisa mencoba untuk berbahagia kali ini. Demi Rin, yang selalu menjaga perasaannya. Demi Sango, yang selalu ada untuknya sebagai sahabat. Demi Kohaku, Shippou, dan yang lain. Kagome mengirup napas dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan. Ia berusaha mengusir beban dalam hatinya. Setidaknya, ia harus terlihat bahagia di hari penting ini 'kan?.
Kini kedua mempelai itu saling berhadapan, mengucap janji suci pernikahan yang di dasarkan pada perasaan tulus. Sango menatap adiknya dengan mata yang berkaca, satu tetes air mata bahagia lolos namun dengan cepat ia menghapusnya. Sedangkan Miroku masih saja usil seperti dulu dengan meremas pantat istrinya−yang langsung dihadiahi cubitan super keras dari Sango.
Acara dilanjutkan dengan keluarga masing-masing mempelai saling meminum sake, tepat saat acara ini akan di mulai, Sesshoumaru melangkah masuk dan mengambil duduk di hadapan Kagome−Rin tersenyum senang sambil memanggil nama masternya dengan nada pelan yang bahagia. Penguasa wilayah barat itu terlihat memakai haori hitam dengan motif bunga sakura pada bagian dada kirinya dipadukan bersama hakama berwarna abu tua. Sangat kontras dengan penampilannya yang biasa−kecuali moko-moko yang masih melilit di bahu kanannya.
Kagome tak sadar berapa lama ia memandang Sesshoumaru, mata coklatnya seolah tenggelam dalam balutan emas yang memesona milik pria itu. Seingatnya, dulu ia juga pernah merasakan hal yang sama. Ia tersentak ketika Sango memanggil namanya dan memberikan cangkir sake untuknya. Kagome segera mengambilnya dan menyesap sedikit isinya, matanya kembali beradu pandang dengan Sesshoumaru. Kali ini tatapannya berbeda, seolah tatapan pria itu untuknya mempunyai arti lain. Kagome ikut diam dan hanya balas menatap balik jingga milik Sesshoumaru. Miko cantik itu benar-benar merasa bahwa kakak iparnya kini tengah berusaha merajut ikatan hanya lewat matanya.
Sesshoumaru belum pernah merasakan hal menjijikkan seperti ini sebelumnya, di mana hasratnya yang selalu ia tekan kuat tiba-tiba membuncah keluar diiringi lilitan geli pada perutnya. Jujur, ini sedikit menyiksa. Karena biasanya ego dan kesombongannya akan mendominasi melebihi kewarasannya setelah ini. Pandangan matanya bergulir pada Kohaku dan Rin yang sedang bergandengan−jemari Kohaku mengisi kekosongan di antara jemari gadis itu− membuat ingatan konyolnya terlempar jauh pada wanita yang kini sedang duduk di depannya. Kedua mata emasnya terus menatap lekat Kagome, seolah tak ada hal menarik lainnya selain adik iparnya itu−atau mungkin sebut saja mantan adik iparnya mengingat InuYasha sudah lama mati.
Pemilik tenseiga itu mendengkus untuk dirinya sendiri, menertawakan nasib yang seolah selalu berpihak pada adik tiri bodohnya. Pertama, InuYasha diwarisi pedang tessaiga yang benar-benar Sesshoumaru inginkan. Segala cara sudah ia lakukan untuk mendapatkan hak milik tessaiga namun semuanya sia-sia. Dan hatinya membutuhkan waktu lebih dari limapuluh tahun untuk merelakan pedang itu. Kedua, Sesshoumaru benci mengatakan ini tapi bocah dungu itu memiliki seseorang yang kini benar-benar ia−sialan− inginkan. Kagome hanyalah satu di antara seribu wanita bodoh yang melemparkan dirinya untuk jatuh cinta pada ras yang berlainan dengannya, wanita itu biasa saja di mata Sesshoumaru pada awalnya. Namun, seiring waktu berjalan ia kagum pada segala sikap yang Kagome miliki. Dan miko itu adalah satu-satunya wanita yang mengatakan akan memberinya pelajaran karena telah berhasil melukainya saat di makam sang ayah. Putra sulung Ino no Taisho itu terkesan pada semangat dan tatapan nyalang yang ia tujukan padanya.
Sesshoumaru tak meyadari bila acara pernikahan Rin sudah usai jika saja suara berisik Jaken tak mengganggunya, siluman yang sangat setia padanya itu menawarkan untuk kembali mengisi cangkir sake miliknya yang langsung ia balas dengan anggukan. Para geisha segera memasuki ruangan yang kini hanya bersisa Sesshoumaru dan Jaken, rupanya semua tamu tengah asyik menikmati makan malam. Api unggun di nyalakan di halaman istana, daging rusa di panggang di atasnya. Di sekeliling api menyala para siluman berpesta, botol sake teracung tinggi dan mereka menari sesuka hati.
Lima orang geisha bergerak anggun diiringi petikan shimasen yang khas, Sesshoumaru tidak tahu siapa yang memiliki ide bodoh untuk mengadakan pesta bising ini. Namun pandangannya berubah tajam saat melihat Jaken yang kini sedang berkeringat dingin dengan ekspresi ketakutan.
"Bukan saya yang melakukannya, Sesshoumaru-sama. Para siluman bodoh itulah ya− maafkan saya, Sesshoumaru-sama," kilahan Jaken terpotong saat menatap mata masternya yang semakin menyipit tajam, siluman kerdil itu segera bersujud berulang kali memohon ampunan supaya nyawanya di ampuni. Jaken mendongakkan kepalanya ketika ia merasa tak ada respon sama sekali dari tuannya. Terlihat Sesshoumaru mengalihkan pandangan ke luar, menatap kobaran api dan para siluman yang seolah bersuka cita. Tangan kanan bertato taringnya menyodorkan cangkir sake yang kosong kepada Jaken−meminta siluman itu untuk mengisinya kembali.
Tanpa banyak berkata Jaken langsung meraih botol sake dan menuangkan isinya pada cangkir milik Sesshoumaru, kali ini ia akan menutup mulutnya rapat-rapat supaya kontrak hidupnya tak segera berakhir begitu cepat.
Kagome tengah asyik mengobrol dengan Sango di halaman depan sambil menyantap shushi tuna yang disajikan para pelayan, mereka sesekali melempar gelak tawa karena candaan. Hikaru dan Hikari bermain dengan para siluman yang saat ini sedang asyik menari memutari api. Shippou dan putra bungsu Sango telah tidur setelah kegiatan makan malam mereka selesai, Saori baa-chan mengantar mereka berdua ke kamar tamu untuk beristirahat sedangkan Miroku tengah pingsan karena hantaman hiraikotsu dari Sango−kebiasaan buruk ayah dari tiga anak itu rupanya belum sepenuhnya menghilang jika menyangkut sake dan wanita. Dan Kakek Myouga sudah mabuk berat hingga ia tak sanggup lagi membuka mata. Siluman kutu itu berbaring nyaman di tubuh Kirara yang sedang menggulung tubuhnya di atas pangkuan Sango. Rin dan Kohaku tak terlihat sejak upacara selesai.
Miko cantik itu sedari tadi merasa ada seseorang yang memerhatikannya begitu intens seolah orang yang memandangnya tak juga mengalihkan matanya darinya barang sedikitpun padahal ia sudah berusaha untuk tak acuh. Mata hazel-nya berputar memerhatikan satu per satu orang yang masih terjaga, berusaha mencari tahu siapa orang kurang kerjaan yang menghujaninya dengan pandangan yang membuatnya risih.
Matanya menatap Sesshoumaru di kejuhan yang tengah di kelilingi para geisha di dalam ruangan, di sebelahnya ada Jaken yang bertugas mengisi cangkir sakenya ketika kosong dan empat botol sake tergeletak di sebelah siluman hijau itu. Mungkin ini hanya perasaan Kagome saja atau memang Sesshoumaru kini tengah memandangnya? Bisa saja pria itu memandang kobaran api dan para siluman yang menari mengelilinginya, karena posisi ia duduk berada bersebrangan dengan bangunan utama istana yang dipisahkan halaman. Kagome mencoba menepis prasangkanya.
"Kagome-chan, gomen. Sepertinya aku harus meninggalkanmu karena si kembar mengajakku untuk tidur," suara Sango yang setengah mengantuk mengalihkan perhatian Kagome, miko cantik itu segera mengangguk dan ikut berdiri.
"Aku akan membantumu."
"Tidak, tidak perlu. Hikaru dan Hikari masih bisa berjalan sendiri, kau akan menginap atau pulang?" Sango menggandeng tangan Hikaru sedangkan satu tangannya yang lainia gunakan untuk membopong Kirara. Hikari mengucek mata kanannya sambil menguap, satu tangannya menarik yukata Sango.
"Aku akan pulang, besok masih ada beberapa hal yang harus kuurus," Kagome beralasan. Tatapan matanya meyakinkan hingga Sango yang awalnya ragu kini berubah percaya. Ibu dari tiga anak itu menarik tangan Hikaru yang digandengnya menuju kamar tamu yang telah disediakan untuk pihak mempelai pria setelah mengatakan 'Hati-hati dan sampai jumpat' pada sahabatnya.
Kagome segera melangkah keluar istana, malam semakin larut dan ia berusaha mengayun langkah secepat yang ia bisa. Di depan pintu gerbang, ia bertemu dengan Kouga, Ayame dan kedua putranya juga para pengikutnya yang juga hendak pulang.
"Yo, Kagome. Kau tak menginap?" Kouga menyapanya dengan nada riang dan pipi kemerahan karena mabuk. Ayame di belakangnya berubah awas lalu menyerahkan putra dalam gendongannya kepada Hakkaku.
"Emmh," ia menggeleng sebagai jawaban sebelum melanjutkan, "terima kasih sudah mau datang ke pesta." Kagome menunduk berusaha untuk tak menarik perhatian Ayame lebih jauh karena istri Kouga itu sepertinya memandangnya dengan waspada, seolah Kagome akan menggoda Kouga kemudian membawanya lari.
"Kouga-kun anak-anak sepertinya sudah lelah," Ibu dari dua anak itu berucap sambil menarik lengan Kouga yang dibalas angukan dari suaminya.
Kagome melempar senyum ramah pada mereka dan lambaian ringan yang juga dibalas oleh Kouga dan Ginta, Hakkaku hanya tersenyum karena kedua tangannya sedang menggendong salah satu putra pemimpinnya. Alfa dari rombongan siluman itu masih ramah seperti dulu dan Ayame masih saja menyimpan kecemburuan padanya yang membuat miko itu tak enak hati bila berbicara dengan Kouga.
Tapi, bukankah cemburu tanda cinta?
Miko cantik itu tersenyum tipis, langkahnya kembali diayunkan menuju tempat tinggalnya. Kedua tangannya mengeratkan yukata yang ia kenakan, meski ini adalah musim semi tetap saja angin malam tak pernah baik untuk kesehatan. Kagome sedikit berlari ketika kedua matanya sudah mampu menangkap objek rumahnya, ia tak mau berlama-lama berada di luar pada tengah malam. Wanita itu membuka pintu setelah mengambil lampu minyak yang diletakkan di dekat sumur lalu menyalakannya, ia letakkan lampu minyak itu di atas meja rendah kemudian segera mengganti pakaiannya. Kagome melepas obi pada yukata-nya sebelum melepas pakaian itu, tubuhnya yang polos berjongkok mengambil yukata tidur di dalam lemari kecil tempat ia menyimpan pakaiannya bersama Rin.
"Apa kau sedang menggoyangkan ekormu pada srigala yang lapar?"
Gerakan tangannya terhenti, ia berjengit kaget atas suara yang tiba-tiba masuk dalam telinganya. Miko itu terpaku ditempatnya, tubuhnya kaku dan Kagome tak berani berbalik untuk memastikan bahwa suara yang ia dengar ini bukan dari pria itu.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Area Author :
Jelek? Jelas. Lama update? Pasti. Deskripsinya bingungin? Iya. Alur lambat? Benar. Gak seru? Yes. Payah? Yups. Yakin masih mau baca lanjutannya? Coba pikir ulang xD
Tumpahin semua unek-unek kalian di kolom review yah, supaya saya tahu pendapat kalian tentang gaya penulisan saya yang amburegeul ini. Makin ke bawa deskrip ancur yah kayaknya. :'(
Area Balasan Review untuk yang gak login/belum punya akun :
Nur : iyah sayang ini udah dilanjut yah terima kasih untuk Review-nya maaf yah lama update.
Myuu : Iyah sayang udah dilanjut kok ini, makasih yah review-nya .
Ddafmipa97 : Yosh lanjut dong, masak enggak? XD makasih untuk review-nya.
Vryheid : Yups, ini next nya … maaf yah mengecewakan XD terima kasih untuk review-nya.
Amuto : Makasih untuk review-nya iya nih pair ini sepi banget yak .. hiks :'( .
Guest : Lanjut dong terima kasih untuk reviewnya.
Shyna : Kenapa TBC? Idenya mentok situ kayaknya makanya saya TBC-in hehe #digaplok XD makasih untuk review-nya yah. Makasih juga udah mampir.
Guest : lanjutkan dong pasti XD terima kasih untuk review nya.
P.S : Tolong jangan panggil saya "Thor" yah … kan di sebelah judul fict ini ada penname saya :'(
