Han Byul berjalan santai- keluar dari lobi fakultasnya. Gadis itu mengenakan sweater krem dengan gambar bebek besar di dada, celana katun gelap 3/4, dilengkapi tas ransel punggung dan sepatu warna cokelat tua. Matanya lengket saja menatap layar smartphone- mengabaikan lalu-lalang sekitar. Ia sedang menunggu jemputan Sehun. Sehun bilang, dia akan mengajak Han Byul pergi jalan-jalan sebentar untuk mencari bunga. Sungguh romantis bukan?

Pagi tadi, tiba-tiba saja Sehun mengiriminya pesan. Han Byul sempat bingung Sehun sedang cuti atau apa, tapi tak apalah! Kebetulan hari ini Han Byul tidak sedang begitu sibuk mengurus skripsi. Waktu yang tepat. Han Byul pikir, ini sungguh bagus. Menurutnya, tidak baik bagi Sehun jika ia terus-menerus bekerja tujuh hari dalam seminggu tanpa istirahat. Sehun butuh liburan supaya suasana hatinya segar dan tidak marah-marah terus.

"Oey, Han Byul-ah!" Suara yang sangat familiar bagi Han Byul itu muncul dari arah timur. Han Byul menoleh. Nampak Sehun menuju ke tempatnya dengan sepeda kayuh warna biru.

"Yaa… Sehun," balas Han Byul. "Omo, sepeda siapa itu kau pakai?"

Sehun menghentikan kayuhannya begitu ia sampai tepat di depan Han Byul. Ia lantas merapikan rambutnya sejenak- memasukkan beberapa helai yang luput dari dalam topi. "Ini sepeda ahjumma yang punya warnet. Aku tadi pinjam."

"Wew. Dan dia meminjamkannya begitu saja?"

"Memangnya sekarang kau pikir bagaimana keadaannya? Sudahlah, ayo cepat. Kelihatannya hendak hujan." Sehun menarik tangan Han Byul.

Han Byul lantas naik ke kursi bonceng. Tangannya mencengkeram erat sisi kanan dan kiri kaos Sehun.

"Sudah belum?" Sehun memastikan.

"Ah, sebenarnya bokongku agak sakit," jawab Han Byul sembari mencari posisi duduk yang tepat.

"Kalau begitu, kau turun dulu."

Han Byul mengikuti saja instruksi sang kekasih tanpa pikir panjang. Setelah gadis itu turun, Sehun malah mengayuh sepedanya sendiri- meninggalkan Han Byul yang kebingungan.

Han Byul berteriak, "E-e-eh… Kim Sehun-ah!"

"Kau jalan kaki saja. Memboncengmu sangat berat. Aku tidak mau," ujar Sehun enteng sembari terus mengayuh pedal.

"SEHUUUNN-AAAAHHH!" memekik lantang, Han Byul berlari mengejar Sehun.

...

Langit agak muram. Mendung tipis menaungi hiruk-pikuk para pekerja kebun yang asyik memindahkan pot-pot tanaman. Geluduk berdehem lembut. Angin dingin seolah hendak menampar kulit siapa saja yang tidak diselimuti jaket. Tetapi tetap saja, yang demikian itu tidak mampu meredam semangat orang-orang untuk mencari nafkah hari ini. Ada bibi yang sedang menjual permen, paman yang sedang mengantarkan roti, dan lain sebagainya yang masih nampak begitu tenang menyikapi suasana.

Di depan salah satu toko bunga, terlihat Sehun dan Han Byul yang baru saja sampai setelah melakukan perjalanan. Jika tadi Sehun yang memegang setir, maka sekarang Han Byul-lah yang ambil kendali. Han Byul menyupiri kekasih galaknya yang saat ini dengan santai menyilangkan tangan di depan dada. Mereka bertukar posisi karena Sehun tidak mau pusing mendengarkan keluhan Han Byul tentang pantatnya yang sakit. Mengenai berat-ringan, kuat atau tidak, Sehun tidak begitu menaruh perhatian. Sehun yakin Han Byul mampu saja memboncengnya. Dan hal itu benar-benar terjadi.

"Kita sudah sampai? Di sini tempatnya?" Han Byul memandangi intens bangunan sederhana yang berdiri di depan matanya. "Wah! Bunganya cantik-cantik!"

"Memang cantik. Ayo cepat parkirkan sepedanya."

Mereka berdua lantas masuk ke toko mungil asri tersebut. Ada berbagai macam jenis bunga di sana. Mawar, dahlia, lily, bahkan ada bunga matahari! Warna dan bentuk kelopaknya juga bermacam-macam. Aroma yang tercipta atas mereka sungguh harum dan menyenangkan untuk dihirup. Baunya tidak terlalu menyengat, malah sangat mendamaikan suasana.

Di sudut rak sebelah kanan, Han Byul mendapatkan perhatiannya. Dua tangkai bunga berkelopak putih kecil-ramai membuat gadis itu tertarik. Kembang aster, Han Byul tahu nama bunga itu. Lama mendengar namanya, tapi Han Byul sama sekali belum pernah melihat secara langsung.

"Ada apa kau melihat bunga itu seperti itu?" Mendadak Sehun bicara kepada Han Byul.

Han Byul menoleh. "Wah, bunga ini sangat cantik, Sehun! Kembang aster ini seperti menghidupkan lagi aku!"

"Oh, jadi selama ini kau sedang mati, ya?"

"Tiap hari kau omeli, bagaimana aku tidak mati?"

"Heeyyy, kok ngomongnya begitu, sih?"

"Kenyataan...!"

Sehun menghela napas kecil. Ia kemudian pergi meninggalkan Han Byul menuju bagian toko yang lebih dalam. Sementara Han Byul hanya berdumal- melanjutkan kembali kegiatannya menatap bunga di hadapannya.

Beberapa menit berlalu. Di luar, hujan akhirnya benar-benar turun. Langsung saja deras setelah sepuluh sampai sebelas detik gerimis. Han Byul yang mendengar rintiknya bergegas ke mulut toko untuk melihat keadaaan.

"Yah, hujan! Omooo... bagaimana kita pulang nanti?" gerutu gadis itu.

"Kok hujan? Bagaimana caranya pulang ini?" Lagi-lagi Sehun muncul dari balik punggung Han Byul secara tiba-tiba. Kata-kata yang ia ucapkan nyaris sama dengan kata-kata Han Byul.

"Ya! Kau menirukan kalimatku!" Merasa tak terima, Han Byul menyalaki sang kekasih.

Sehun berkacak pinggang. "Kau ini! Di saat seperti ini masih memikirkan hal macam itu, ya? Lebih baik kau pikirkan bagaimana cara kita pulang daripada marah-marah nggak jelas!"

"Memangnya kita perlu pulang di saat begini? Tunggu saja sampai hujannya berhenti..."

"TIDAK BISA!" Sehun mendamprat Han Byul. "Kau tahu, bibi pemilik warnet sudah menungguku untuk memberikan bunga ini. Dia berpesan padaku agar memberikannya sebelum jam lima sore." Sehun menggoyang-goyangkan seikat bunga berwarna violet di tangannya.

Han Byul meringkik. Jadi ternyata Sehun mengajaknya ke sini untuk membelikan bunga bosnya? Bukan untuknya? Ah, Sehun memang buntut jahe.

"Sebenarnya kalau mendadak betul, kita bisa pulang sekarang. Aku bawa payung." Han Byul menyipitkan matanya. "Tapi payungku cuma payung lipat yang kecil."

Sehun menarik napas membara.

...

"SEHUN-AH! Apa kau yakin dengan semua ini?"

"Yakin! Tidak ada waktu lagi! Sekarang sudah jam 16:35!"

Sehun dan Han Byul menerobos hujan lebat dengan nekat. Tidak pakai jas hujan, hanya bersenjatakan payung kecil, mereka berkendara dari toko bunga yang letaknya cukup jauh dari kediaman bibi pemilik warnet as knowing as majikan perjuangan yang cukup berat. Sehun harus mengayuh pedal- menerjang butiran air hujan yang berkali-kali menerpa wajahnya sembari membonceng Han Byul, sementara Han Byul sendiri memegang kuat tangkai payung untuk menghindarkan mereka dari derasnya guyuran air.

Han Byul ingat, ia pernah bertemu dengan bos Sehun satu kali saat ia sedang membawakan Sehun makan siang. Perawakan bibi itu tidak begitu buruk. Dia hanya pendek, agak gemuk, dan keriput. Kelihatannya berperangai baik. Namun menimang mengapa Sehun sangat takut tidak menuruti perintah bosnya kerap membuat Han Byul bingung.

Tidak satu-dua kali Sehun bercerita mengenai betapa galaknya sang majikan. Katanya: ahjumma itu seperti kucing besar yang suka mencakar. Dia akan mengurangi gajiku jika aku tidak menuruti kata-katanya. Bagaimana lantas aku bisa hidup jika aku tidak punya uang untuk dibelikan makanan?

Yah, Han Byul pikir itu benar juga. Pantas Sehun selalu memintanya memasakkan sesuatu.

"Hahh! Perjuangan yang sangat berat untuk menjalani hidup!" Mendadak Sehun bergumam.

Han Byul menimpali, "Hidup memang berat, nak! Jadi jalani dengan rasa syukur supaya kau tidak merasa kekurangan."

Angin kencang menyenggol payung yang dipegang Han Byul ke kanan dan ke kiri, pun dengan laju sepeda Sehun yang tidak stabil. Daun-daun kecil beberapa kali melayang di samping-samping mereka- nyaris mengacaukan konsentrasi.

"Apa?! Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau menganggapku sebagai orang yang tidak bersyukur?" Sehun mulai marah lagi.

"Tapi kau selalu mengeluh, Hun! Itu tidak baik!"

"Dengar, potato! Menjadi OP warnet yang memiliki bos galak bukan pekerjaan mudah! Kalau aku bisa cari pekerjaan, maka aku akan cari dari dulu. Tapi tidak bisa! Kau tahu sendiri aku tidak punya surat-surat penting," ceramah Sehun panjang-lebar.

"Memang ke mana surat-suratmu itu?"

Sehun diam saja. Ia tampak tak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Pekikan guntur mengganti jatah dialognya.

"Hun?"

"Itu tidak penting. Seharusnya dengan wajah seperti ini, aku bisa jadi artis atau penyanyi. Aku bahkan bisa masuk EXO."

"Imajinasimu sangat tinggi, ya?"

Saat sedang asyik berdebat, tiba-tiba datang mobil dari arah belakang dengan laju kencang- menyipratkan genangan air yang tak kira-kira banyaknya pada pasangan kekasih itu dari samping. Han Byul menjerit, sedangkan Sehun langsung saja mengumpat-umpat tidak jelas.

"Oey, bangsyaaat! Terkutuk kau, saus tartar!" Sehun ngotot. Saking ngototnya, sepeda yang ia kendarai sampai kehilangan keseimbangan. Oleng berat.

Han Byul panik. "Se-Sehun-ah! Sehun-ah!"

"Wo-wo-wo... "

"WUAAA-!"

Pada akhirnya, mereka berdua pun jatuh tersungkur bersamaan.

...

16:59

Satu menit tepat sebelum pukul lima. Sehun dan Han Byul berhasil membawakan bunga pesanan bibi pemilik warnet. Wanita paruh baya itu terlihat senang sekali. Ia bahkan terus mengendus bau bunga tersebut sembari menempel-nempelkan jari telunjuk ke buliran embun yang bersemayam di atas kelopak si bunga.

"Wah, terima kasih! Sudah lama aku mengidamkan bunga ini! Kalian benar-benar membantu!"

Han Byul meringis kecut. Di sisi lain, Sehun hanya memasang wajah datar.

"Kalau begitu, kami kembali dulu ya, bi. Han Byul harus pulang dan aku harus menjaga warnet lagi," ujar Sehun.

"Baiklah, baiklah. Cepat pulang. Kalian harus membersihkan diri. Maksudku, kenapa kalian bisa sampai kotor begitu?"

Han Byul dan Sehun berpandangan sejenak. "Panjang ceritanya...," tukas mereka berdua bersamaan.

"Kalau begitu, kami pulang dulu. Permisi." Sehun memberi salam sebelum menarik Han Byul.

"Hati-hati, ya!"

Mereka lantas keluar. Di ambang pintu gerbang, Sehun segera menyambar payung yang tergeletak di bawah.

"Hun, kenapa kita tidak pinjam jas hujan pada bibi itu?" tanya Han Byul.

"Yang benar saja!" Sehun menggoncangkan payung- berusaha menghilangkan embun yang menempel. "Kau lihat tidak betapa tidak pedulinya ia terhadap kita yang sudah susah-susah mencarikannya bunga sampai seperti ini? Ah, aku tidak habis pikir."

"Ish, jangan berpikiran negatif begitu..."

"Sudahlah. Payung ini sudah cukup untuk kita berdua pulang. Ayo cepat."

Sehun menggandeng tangan Han Byul sepihak. Hujan kali ini sudah tidak seganas tadi. Tetapi anginnya masih saja membuat orang menggigil.

Han Byul merapatkan kedua lengannya. Sebuah kesalahan ia tidak membawa jaket walaupun sudah mengenakan sweater. Hal lain yang ia sesali adalah: hujan ini membuat tasnya basah. Beruntung Han Byul sudah menitipkan semua buku ke teman satu prodinya yang ngekos di dekat kampus.

Sejenak Han Byul menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Cuaca memang benar-benar dingin.

"Han Byul, kau capek tidak memegang payung seperti tadi?" Sehun membuka percakapan.

"Sebenarnya capek!" Han Byul masih menggosok-gosokkan telapak tangan. "Tanganku pegal dan lenganku sedikit keram."

"Aigoo..., aku tidak bisa berpikir. Mari kita meneduh dulu."

Sehun mengajak Han Byul menepi ke depan kedai mi kecil di pinggir jalan. Sesampainya di sana, Sehun bergegas merapikan payung.

"Kau kedinginan? Kemarikan tanganmu." Ia lantas menarik jemari sang gadis. Kini giliran telapaknya yang menggosok-gosok punggung tangan Han Byul. Diembuskannya napas lemah untuk mengurangi dingin tangan sang kekasih. "Aigo, tanganmu seperti batu es."

"Aku tidak apa-apa, Hun! Hari ini aku sangat sehat."

Sehun berdecak. "Ya! Terakhir hujan-hujanan, kau jatuh pingsan! Bagaimana aku tidak khawatir?"

Han Byul tersenyum. "Bukannya tadi kau yang ngotot ingin menerobos hujan?"

"Iya, sih..." Sehun mengulum bibir. "Tapi mau bagaimana? Aku tidak mau bibi itu memotong gajiku lagi. Ada sesuatu yang harus kubeli."

"Apa itu? Makanan jenis baru? Atau kau mau beli celana?"

"Ah, sudahlah! Lupakan. Kemari, peluk aku."

Tanpa ancang-ancang, Sehun merangkul pundak Han Byul dan meletakkan kepala sang kekasih ke dadanya. Dieratkan oleh lelaki itu pelukan hingga ia rasa cukup hangat bagi Han Byul. Sesekali ia bersihkan sedikit-sedikit sisa lumpur yang mengotori rambut Han Byul akibat terjatuh tadi.

Diperlakukan seperti itu tentu membuat Han Byul tersipu. Sehun sangat sulit ditebak. Suatu waktu ia suka marah-marah, tapi di waktu lain ia akan sangat lembut... seperti saat ini. Tidak akan pernah Han Byul berpikir ulang mengapa ia bisa sampai menjalin hubungan dengan lelaki yang tengah mendekapnya sekarang. Sehun terlalu manis.

"Oh, iya. Aku punya sesuatu untukmu." Sehun melonggarkan dekapannya sedikit.

"Benarkah? Apa itu?"

Lelaki itu lalu merogoh kantong celananya. Setangkai bunga aster kecil mainan muncul dari sana. "Bunga plastik."

Hening sejenak.

"Kau ini sangat tidak romantis..."

"Hei, jangan salah. Begini-begini, bunga plastik ini tidak mudah layu seperti bunga-bunga asli."

"Itu memang tidak bisa layu, Hun...!"

"Maka dari itu," Sehun menatap Han Byul lekat, "maka dari itu aku memberikannya padamu. Bunga ini tidak akan layu, sama seperti perasaanku padamu."

Satu kalimat manis dari Sehun untuk menutup hari ini. Han Byul tersenyum malu. Wajahnya memerah seketika bersamaan dengan pipinya yang menghangat.

Awan-awan mulai memberi celah untuk matahari bersinar. Burung-burung kecil kembali keluar dari sarang- bercicit-cicit merayakan kembalinya cahaya surya dalam bentuk senja. Rintik air semakin berkurang. Angin pun kini lenyap entah ke mana.

"Itu sungguh manis. Terima kasih," Han Byul meringis senang, "walaupun sebenarnya kau terdengar gombal."

"Tentu saja manis. Btw, aku tidak gombal. Nih, pegang."

Satu lagi kisah yang akan mengisi buku diary Han Byul. Berhujan-hujanan hingga jatuh tersungkur selama mencari kembang, huh? Han Byul mungkin tidak akan menyesalinya seumur hidup.