Terima kasih pada semua yang mereview, membaca dan masih mengikuti kisah ini.

Oppa Minho Ganteng : Makasih banget buat nasihatnya. Membuat saya bersemangat lagi untuk menulis.

Azzu ya: Thanks sudah baca dan review, sepertinya chapter kali ini juga masih pendek. saya masih sulit mengembangkan Ide.

Warning : Mature Content

Chapter 4 :

Satu rumah, Satu Ranjang.

.

.

Kamar Ino berantakan, pakian, sepatu, make up semuanya berserakan. Wanita itu tampak sedang membongkar isi lemarinya. 'haduh mengapa barang-barangku sebayak ini aku tak mungkin membawa semuanya ke tempat Sai' Ino memandangi isi kopernya yang sudah penuh sesak 'sudalah bawa yang penting-penting saja, lagipula rumah Sai hanya satu jam dari sini' Lalu dia menimbang-nimbang barang apa lagi yang perlu dibawa.

Pintu apartementnya berderit 'pasti Shikamaru dan Choji' tebak wanita yang sedang sibuk berkemas-kemas itu.

"Wow ada apa ini Ino" Choji terheran-heran melihat kondisi kamar wanita itu yang semrawut. "Kaya orang mau pindahan saja" lanjut pria bertubuh besar itu.

Ino menyeka keringat di keningnya. Dia paling tidak suka packing, "Iya Choji aku akan pindah rumah"

"Hey-hey, Apa maksudmu Ino, mengapa aku yang jadi managermu tidak tahu soal ini?" Shikamaru menuntut penjelasan. Ino selalu saja bertindak impulsive melakukan semua yang dia mau tanpa menimbang akibatnya. Kalau ada masalah selalu dia yang harus mencari solusinya.

"Aku baru saja bertunangan dan tunanganku minta aku tinggal bersamanya"

"Ino kau jangan bercanda pacar saja kau tidak punya tiba-tiba punya tunangan. Aku tidak percaya bualanmu"

"Aku serius Shika, Choji. Aku akan tinggal di rumah Sai Shimura"

"Mengapa kau begitu gegabah Ino? Kau baru mengenalnya beberapa hari"

"Shika, kami saling mencintai dan ingin selalu bersama" Ungkap Ino dengan mata menerawang dan acting yang berlebihan.

"Ayolah Ino, Kau apakan Sai Shimura?"

Dahi wanita itu mengerenyit, bahkan Shikamaru berpikiran dia memanipulasi Sai. " Dengar, Kami berdua sama-sama ada kepentingan dan tidak ada yang dirugikan dalam hal ini. Kau cukup tahu itu saja Shika, Detailnya adalah urusan pribadi kami. Bila kalian berdua masih penasaran ikut saja ke rumah Sai" Ajak Ino. " Kau dan Choji tolong bawa koper ku ke mobil!"perintah wanita itu galak.

.

.

Mereka tiba di rumah Sai Shimura. Ketika Ino datang beberapa hari yang lalu, dia tidak sempat mengamati rumah Sai. Eksterior rumah itu cukup membuatnya terkesan. Kebunnya tertata rapi, dan pemandangan di sekitarnya begitu indah, hanya Ino tidak suka lokasinya begitu terpenci.l Dia akan butuh waktu jauh lebih lama untuk sampai di lokasi syuting. Ino memencet bel dan tidak lama kemudian Sai datang membukakan pintu.

"Hi Gorgeous, ayo masuk"

"Sai aku membawa dua orang temanku. Kau tidak keberatan?"

Sai menggeleng, Pria itu tampak santai mengenakan sweater hitam dan celana panjang. Ino berani bertaruh isi lemari Sai hanya pakian hitam. Dia akan melakukan sesuatu soal itu.

Choji dan Shika muncul dengan koper-koper Ino. "Dimana aku harus meletakannya?" Tanya Choji.

"Letakan saja di sana. Biar aku yang urus nanti" Ujar Ino berkacak pinggang. "Sai kenalkan bodyguardku Choji Akimichi dan managerku Nara Shikamaru mereka akan sering-sering datang kemari"

Ketiga pria itu berjabat tangan dan saling menilai.

"Aku haus" guman wanita itu menghempaskan dirinya di sofa kulit berwarna hitam "Bisakah kau mengambilkan aku minuman Sai?" pinta wanita itu.

"Oh maaf, Kalian mau minum apa?" Sai melupakan tata krama. Dia tidak pernah kedatangan tamu sebelumnya.

"Air saja bila tidak merepotkan" jawab pria berambut nanas itu.

"Sai, Kau punya sherry?" tanya Ino

"Tidak gorgeous. Aku hanya minum whisky. Apa kau mau teh?"

Ino mengangguk lalu pria itu pergi ke dapur mengambil air dan membuat teh.

Choji dan Shika menatap wanita berambut pirang itu penuh tanda Tanya "Ino, mengapa aku merasa Shimura mirip Uchiha apa kau belum bisa melepaskan obsessimu itu?"

"Shikamaru, Choji kau ingat rencanaku untuk mengalahkan Sakura. Aku perlu Sai memainkan peran sebagai tunanganku dan pria itu setuju"

"Walau itu artinya dia akan terekspos media?"

Ino mengangguk, "Lalu apa harga yang kau bayar? Sampai-sampai pria itu merelakan privasinya" tanya Shikamaru lebih detail.

"Dia hanya minta aku jadi modelnya"

"Terdengar mencurigakan untukku Ino" otak Shikamaru mencoba menganalisa motif di balik permintaan pria berkulit pucat itu. Shika tidak ingin hal-hal buruk terjadi pada sahabatnya.

"Kau tanya saja langsung padanya" Ujar Ino sambil memijat -mijat bahunya mencoba melemaskan otot pundaknya yang lelah.

Sai datang dengan gelas minuman dan meletakannya di atas meja, "Maaf lama, Aku tidak punya pelayan" kemudian dia mengeluarkan kotak kecil dari sakunya dan menyerahkannya pada Ino "Gorgeous, Ini yang kau minta"

Ino membuka kotak dan terkejut melihat sebuah cicin berlian bertatahkan platinum. Desainnya simple tapi elegant. "Kau serius, Aku hanya bercanda waktu itu" Ucapnya heran

"Aku setuju untuk mengikuti kemauanmu. Kau minta cincin jadi aku belikan"

Shika dan Choji memperhatikan dengan seksama interaksi antara dua insan manusia berbeda jenis itu.

Ino mencoba cincin itu di jari manisnya. Cicin itu terlihat cocok tidak mencolok dan ukurannya juga pas.

"Terima kasih Sai, Seleramu bagus" ucapnya manis.

Shikamaru yang dari tadi memperhatikan Sai sama sekali tidak melihat ada indikasi kalau pria itu tertarik pada Ino. Pria berambut hitam itu bersikap apatis. Dia hanya menjawab bila ditanya dan tidak menceritakan apapun tentang dirinya. "Sai mengapa kau menginginkan Ino tinggal disini?"

"Ms. Gorgeous telah menjadi inspirasiku, tapi yang aku butuhkan bukanlah Yamanaka Ino sang artis. Aku pikir aku akan menemukan Muse ku lagi dalam dirinya bila aku mengamatinya dari dekat"

"Dan kau mau menuruti semua permintaannya?" Tanya Choji terheran-heran.

"Tanpa ide aku tidak akan bisa melukis dan melukis adalah eksistensiku. Sebuah pengorbanan dilakukan untuk tetap eksis aku rasa itu adalah hal yang wajar"

Choji dan Shikamaru terdiam, Mereka setuju Sai Shimura pria yang eksentrik dan tidak biasa. Sepertinya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan karena Sai terlihat sopan dan baik. Ino juga bisa menjaga dirinya sendiri. Kemudian mereka berduapun pergi.

.

.

Sai membawa koper-koper wanita itu "Gorgeous aku akan menunjukan kamar mu, jadi kau bisa beristirahat"

Pria itu membawa Ino masuk ke dalam ruang tidur yang luas bernuansa hitam dan putih. Dia tidak menyukai ruangan ini sama sekali, begitu steril, kosong dan dingin amat berbeda dengan kamarnya yang bernuansa pink dan lavender 'apa kepribadian Sai juga seperti ini?' tanyanya dalam hati.

"Gorgeous, aku harus mengerjakan sesuatu. Kau bebas melakukan apapun di sini, anggap saja rumah sendiri"

"Apa kau akan keluar rumah?" Tanya wanita itu. Dia enggan ditinggal sendirian di rumah.

"Tidak, aku hanya akan berada di ruang baca. Kalau kau ada perlu cari saja aku disana" Sai berpaling dan akan menutup pintu.

"Sai, Sepertinya kau butuh sedikit warna dalam hidupmu" komentar wanita itu.

Entah dia mendengarnya atau tidak, Sai berlalu meninggalkan Ino sendirian di tempat yang sekarang menjadi ruang tidurnya.

Baru dua jam berlalu Ino merasa akan mulai gila, tempat ini terlalu sunyi dan dia tidak terbiasa dengan ini. Setelah Sai pergi Ino memutuskan untuk membongkar kopernya dan membaca naskah drama untuk syuting besok tetapi dia gagal menemukan kedamaian dalam keheningan. Malahan wanita itu merasa takut dengan kesunyian yang mencekam. Ino berniat mencari Sai sekalian mau bertanya apa rencana pria itu untuk makan malam.

Ino tidak tahu dimana letak ruang baca, jadi dia menelusuri rumah itu. Dari jendela ruang tamu dia melihat sebuah bangunan mungil di luar sana. Bangunan itu menarik perhatiannya. Ino kembali ke kamar mengambil sweater dan syal nya. Cuaca di luar cukup dingin dia tidak mau kena flu saat jadwal sibuk. Wanita itu berjalan di jalan setapak yang pepohonannya mulai layu akibat pergantian musim. 'Pasti taman ini akan terlihat lebih indah di musim semi' Ino menemukan bangunan itu dan pintunya tidak terkunci . Dia melangkah ke dalam dan memekik gembira "Wow, Rumah kaca" ujarnya takjub. Bangunan itu penuh dengan bunga-bunga dan tanaman. Di rumah keluarga Yamanka mereka juga punya satu rumah kaca yang besar. Keluarga Yamanka adalah botanist selama beberapa generasi dan mereka punya bisinis bunga potong bila Ino tidak menjadi artis dia pasti menjadi florist. Ino menyukai tanaman.

Sai bingung tidak menemukan wanita berambut pirang itu di mana-mana, Ino tidak mungkin pergi karena mobilnya masih terparkir di garasi. Sai memutuskan mencarinya di kebun. Pria itu menemukan Ino sedang memotong dahan-dahan bunga mawar di rumah kaca. Dia begitu fokus dengan pekerjaanya dan tidak menyadari pria itu datang. Sai memperhatikan ekspresi wajah polos tanpa make up Ino, Bibir mungil wanita itu mengerucut menyiulkan lagu-lagu berirama gembira

Ino tampak begitu menikmati hidup 'Ini yang aku cari' ucap pria itu dalam hari. Sai berdiri di tempatnya tidak membuat satu suara pun sampai akhirnya Ino menyadari kehadirannya.

"Sai, Maafkan kan aku. Mawar-mawar ini butuh dipangkas tadi aku melihat ada peralatan berkebun jadi aku mengerjakannya"

"Tidak apa-apa Ino, Sepertinya kau menyukai tempat ini"

"Aku menyukai bunga, Lihat aku memotong beberapa tangkai mawar untuk di letakkan di dalam rumah" Ino menunjukan beberapa tangkai mawar pink dan merah yang dia petik. "Bagaimana kau bisa memiliki rumah kaca?" lanjut wanita berambut pirang itu.

"Rumah kaca ini dibangun oleh pemilik sebelumnya" Pria tampan berambut hitam itu mengulurkan tangan dan mengusap pipi wanita berambut pirang itu.

Pipi Ino merona merah dengan tindakan yang tidak terduga itu "Sai?"

"Pipimu kotor terkena tanah" Jawab Sai tanpa rasa canggung.

'Dia perhatian juga' Ino menghela nafas.

.

.

Mereka berdua menikmati makan dalam diam. Seperti dugaan Ino pria yang duduk di depannya bukanlah orang yang gemar bercakap-cakap tapi pria itu bisa memasak dengan baik. Menyenangkan juga sekali-kali makan masakan rumah. Ino tengah menikmati wine yang dia temukan di dapur Sai sedangkan laki-laki itu duduk membaca di sofa. Ino berjalan menemui Sai.

"Sai ada yang perlu kita diskusikan" wanita itu duduk di sebelahnya.

Sai mengalihkan perhatiannya pada Ino "tentang?"

"Kau dan aku harus menghadiri acara red carpet hari sabtu malam. Jadi kita akan shopping besok"

"Tidak masalah, ada lagi?"

" Dan tolong jangan bersikap aneh bila kau melihat reporter atau paparazzi, yang perlu kau lakukan hanya tersenyum dan ikuti perintahku" Lanjut wanita itu.

Bila ada hal yang Sai lakukan dengan sempurna itu adalah mengikuti perintah, terima kasih untuk didikan militer ala Danzo Shimura. Dia tidak mau lagi mengingat laki-laki yang memberinya nama keluarga itu mengingat betapa kejam pria yang seharusnya jadi pelindungnya.

Setelahnya, Sai memutuskan untuk melukis dan Ino kembali ke kamarnya. Sudah berjam-jam ia terbaring di ranjang, Matanya terbuka memandang langit-langit kamar. Ino tengah berusaha untuk tidur bahkan dia telah menghabiskan tiga gelas wine untuk membuatnya sedikit mabuk dan relax tapi tidak berhasil. Kamar ini membuatnya depresi dan merasa kesepian. Mungkin dia akan minta sang tuan rumah untuk mendekorasi ulang kamar ini. Setengah jam berlalu. Ino mencoba bergulang-guling menganti posisi, tapi kantuk tak kunjung tiba padahal besok dia harus shooting pagi-pagi. Dengan frustrasi dia mengetuk pintu kamar disebelahnya.

"gorgeous ada apa?"

Nafas Ino tercekat melihat sosok di hadapannya. 'seharusnya tampan itu dosa' pikirnya. Wanita itu mengelengkan kepala mencoba mengumpulkan kembali akal sehatnya yang sempat tercerai berai akibat melihat Sai setengah telanjang. Celana tidurnya mengantung rendah di pinggul, rambut hitam membingkai wajahnya dan kulitnya terlihat lembab mungkin baru habis mandi. Ino menjadi sedikit ragu untuk menyampaikan permintaanya tapi dia butuh tidur.

"Sai, Aku tidak bisa tidur, kamar itu membuatku merasa kesepian. Bisakah aku tidur dengan mu?" tidak ada laki-laki yang menolak untuk tidur dengan artis cantik

"Boleh" Jawabnya singkat dengan ekspresi datar. Ino sedikit kecewa dengan reaksi Sai yang biasa-biasa saja.

'Masa dia tidak merasa senang ada wanita tidur di ranjangnya' Ino menatap mata kelam itu. Dia penasaran ingin melihat sesuatu yang berbeda di wajah impassive Sai.

Sementara Ino menatapnya tajam, Sai naik ke tempat tidur dan berbaring santai. Melihat wanita itu masih berdiri di depan pintunya pria itu berkata, "Gorgeous. Sampai kapan kamu mau berdiri di situ? Aku mau tidur dan mematikan lam…pu"

Belum selesai kalimat yang dia ucapkan, wanita berambut pirang itu sudah duduk mengangkangi pingangnya. Sai terkunci dalam posisi itu. Jari Ino yang lentik menyentuh dada telanjang pria itu. Wanita itu baru menyadari banyak bekas luka sayatan yang telah memudar di kulit Sai yang pucat. Tanpa dia sadari jari-jarinya menelusuri jejak luka-luka itu. 'Apa yang terjadi denganmu?' Ino pun melupakan tujuan awalnya untuk mengoda pria itu.

Sai terdiam, merasakan jari-jari wanita itu menyentuhnya. Menelusuri bayangan masa lalunya yang kejam. Tidak ada yang pernah menyentuhnya seperti ini dan ekspresi yang dibuat wanita itu membuatnya terhenyak 'apa yang kau rasakan gorgeous' Sai ingin tahu dan mengerti apa yang gadis itu rasakan tapi Sai tidak akan pernah bisa karena perasaanya sudah mati bertahun-tahun yang lalu.

"Sai tidakkah kau menginginkanku?" Bisiknya lembut, telapak tangan Ino mengusap pipi pria yang sama sekali tidak bergeming dengan sentuhannya.

Sai meraih tangan yang menakup pipinya kemudian berguling, membuatnya menindih tubuh langsing wanita yang tengah mencoba merayunya. Sai menahan ino dengan berat badannya lalu dia menunduk untuk berbisik di telingganya "Jangan bermain api gorgeous" tangan pria itu dengan ahlinya menelusuri tiap lekuk tubuh indah wanita berambut pirang itu.

Ino hanya bisa menahan nafas, merasakan sensasi aneh melanda syarafnya. Sai tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari iris berwarna aquamarine milik wanita yang tengah dibelainya. Ino begitu ekspresif. Sai sangat tertarik dengan semua ekspresi yang dia buat. Perlahan-lahan wajah pria itu mendekat. Ino merasakan hembusan nafas pria itu di bibirnya.

'Damn, Cium aku Sai' wanita itu memohon dalam hati.

"Gorgeous, sudah larut malam sebaiknya kita tidur" Sai berguling kembali ke sisi tempat tidur dan mematikan lampu. "Selamat tidur Gorgeous" Ucapnya berbisik.

Ino merasa kesal dan frustrasi dengan pria yang sudah terlelap di sampingnya. Mengapa pria itu begitu bodoh, Mengapa dia tidak sadar kalo Ino tertarik padanya padahal aksinya sudah begitu gamblang bisa dibilang vulgar dan tak tau malu. Apa dia sengaja mengabaikan Ino. Kalau dia tidak tertarik mengapa pria itu minta dia tinggal dengannya dan setuju dia tidur di tempat tidurnya. Mendengar ritme nafas teratur Sai yang sudah terlelap. Perlahan-lahan mata wanita itu menutup dan tertidur. Dia memimpikan sosok pria tampan berambut hitam memeluknya dengan erat.