Chapter 5:
Author Note : Terima Kasih buat yang sudah memberi review dan juga yang masih mampir untuk membaca cerita ini, Sebenarnya author ingin menulis lemon di chapter ini tapi apa daya kemampuan merangkai kata sangat kurang jadi lain kali saja. Selamat membaca
.
Warning : Mature Content (Under 17th dilarang baca). Rada Gaje. Typoo. Sedikit OOC .
.
.
Sexual Tension
.
.
Sai terbangun merasakan suatu yang lembut dan hangat bersentuhan dengan kulitnya. Hidungnya mencium wangi bunga dan matahari kemudian dia membuka matanya dan menemukan Yamanka Ino terlelap dalam pelukannya. Kapan dia memeluk wanita itu dia tidak ingat. Wajah tidurnya bagaikan malaikat. Sai terheran-heran wanita yang selalu ribut dan vulgar itu bisa memunculkan ekspresi ino-cent seperti ini. Pria itu memandang Ino sedikit lebih lama kemudian dia bangun dan pergi ke studionya.
Ino merasa lega. Ketika dia bangun Sai sudah pergi karena dia tidak akan sanggup menatap wajah Sai yang setengah telanjang setelah mengalami mimpi X-rated lagi. Mimpi itu datang tiap malam sejak dia pertama kali datang ke rumah ini dan Ino merasa frustasi. Semakin Sai menolaknya semakin dia terobsessi. 'aku perlu ke psikiater' pikirnya spontan. Kemudian wanita itu pergi menuju dapur menyalakan mesin pembuat kopi dan membuat sarapan untuk dua orang. Dia tidak menemukan Sai di ruang baca jadi wanita itu memutuskan mencarinya di studio.
Benar saja, Orang yang Ino cari tengah tengelam dalam dunianya. Ino meletakan nampannya di meja terdekat dan berdiri di belakang pria yang sibuk membuat coretan dan lengkungan pada lembar kanvas putih di hadapannya. Coret-coretan itu tampak seperti sosok seorang wanita. "Apa itu aku?" suara jernihnya memecah kesunyian pagi.
Sai menoleh dan tersenyum, Pria itu mengangguk kemudian dia mencium aroma kopi dan roti bakar seketika perutnya merasa lapar.
"Aku membawakanmu sarapan dan secangkir kopi hitam tanpa gula" Wanita itu meletakan tangannya di bahu Sai sambil lalu.
Sai menyadari betapa sering artis itu membuat kontak fisik dengan dirinya. Seolah-olah itu adalah hal yang sangat natural untuk dilakukan layaknya seorang teman akrab. Tidakkah wanita itu menyadari kalau mereka adalah orang asing. Tapi pria tampan itu tidak keberatan dengan semua sentuhan itu karena dia merasa nyaman-nyaman saja. cukup aneh sebenarnya bagi Sai karena biasanya dia tidak suka disentuh.
"Terima kasih, gorgeous" Sai berdiri dan meraih kopinya. 'ada juga enaknya tinggal bersama orang lain' pikir Sai. ini pertama kalinya ada seseorang yang membuatkan sarapan untuknya.
"Sai, Aku akan pergi bekerja. Nanti jam tiga sore kau jemput aku di tempat syuting. Akan kukirim map nya nanti. Lalu kita bertemu dengan designer untuk memilih pakian dan kita bisa makan malam di luar kalau kau mau"
"Baiklah" jawab Sai singkat.
Sepertinya Sai harus mempersiapkan mental untuk diekspos media besar-besaran. Dia berharap media tidak akan membongkar masa lalunya. Sai yang sekarang hanyalah orang sipil, seorang pelukis tetapi dulu Sai adalah seorang mata-mata konoha. Dia lulusan akademi militer. Berkat metode latihan brutal dan Koneksi Danzo, Sai berhasil lulus dengan nilai sempurna dan diterima di dinas intelegent. Danzo begitu ambisius. Dia ingin menjadi gubernur dan keberadaan Sai sebagai intel adalah demi kepentingannya. Danzo memintanya memata-matai lawan politiknya dan mencuri informasi rahasia konoha. Sai juga terlibat dalam pembunuhan lawan-lawan politik Danzo. Pada akhirnya ayah angkatnya itu meninggal karena serangan jantung. Walaupun Danzo sudah mati Sai tidak benar-benar bebas. Sepeningalan ayah angkatnya Sai bingung mau melakukan apa dengan hidupnya karena dia tidak pernah dibiarkan untuk punya keinginan sendiri. Bersyukur dua orang mentornya Tenzo dan Scarecrow membimbingnya. Mereka menyarankan Sai untuk belajar bergaul dan menjalani hidup normal lalu Sai meninggalkan dunia intelligent.
Sudah beberapa tahun berlalu tapi Sai masih tidak mampu berbaur dan membuat hubungan dengan orang lain. Wajahnya yang selalu tanpa ekspresi dan gaya bicaranya yang menurut orang lain begitu terus terang dan lancang membuat mereka salah paham dan enggan menghabiskan waktu dengannya. Dia sudah berusaha belajar dari buku tapi itu tidak banyak membantu. 'Mungkinkah aku bisa punya teman?' pertanyaan itu sudah bertahun-tahun bergaung di benaknya dan dia pun mulai ragu kalau dia akan bisa hidup normal.
Apapun yang sedang menganggu pikiran Sai tidak tampak di wajahnya. Pria itu mengandeng tangan Ino Yamanaka seperti yang wanita itu perintahkan. Ino bergelayut manja di lengan Sai seolah sedang kasmaran. Mereka berjalan menuju butik seorang designer terkenal di konoha. Kehadiran Sai di tempat syuting Ino tadi cukup membuat kehebohan dan Sai dengan mudahnya mengabaikan pertanyaan-pertanyaan dari wartawan dan lampu-lampu blitz yang menyilaukan itu. Sepertinya dia sudah memulai debut menjadi pacar artis Ino Yamanaka.
Tiba di sebuah butik bergaya kontemporer. Mereka disambut seorang Pria berusia empat puluh tahun, Rambut pria itu di cat platinum blond, kontras dengan warna kulinya yang gelap. Dia juga sedikit menggunakan make up. Pria yang aneh menurut Sai. Ino langsung memeluk dan mencium pipi designer favoritnya.
"Jiri, Senang bertemu denganmu" Kata Ino riang.
"Wow, beib lihat kau semakin bersinar. Apa ini ada hubungannya dengan pria yang kau bawa. Dia ganteng banget. Aktor baru ya?" Mata Jiri melirik dan menilai Sai
"Jangan menggodaku Jiri, Seperti yang sudah aku jelaskan di telpon Kami butuh pakian untuk acara hari sabtu nanti, Kau punya sesuatu berwarna ungu untukku?"
"Ada banyak gaun ungu, beib. tapi jelaskan siapa dulu pria yang kau bawa itu" Jiri adalah Raja gossip. Dia selalu ingin tau berita terbaru soal klien-kliennya.
"Dia tunanganku" Ucap wanita itu dengan bangga.
"Wah selamat ya, Kau sungguh beruntung mendapatkan wanita secantik Ino" Ucap pria itu dengan suara agak ngondek.
Sai melihat ino memberinya isyarat jadi dia tersenyum "Terimakasih" Sai kagum dengan kemapuan Ino berbohong, Tidak ada kecanggungan dan ragu-ragu disana. Wanita itu berkata seolah-olah pertunangan mereka adalah sebuah kebenaran bahkan wajah dan matanya berbinar-binar.
"Jiri, Aku butuh pakian untuk Sai juga, tapi sesuatu yang tidak berwarna hitam"
Pria itu mengamati Sai dengan seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tiba-tiba Sai merasa tidak nyaman karena pria itu memandangi bokongnya dengan cukup lama sebelum akhirnya mengembalikan atensinya ke Ino.
"Hm, Ino pria ini begitu pucat, warna-warna gelap dan hitam adalah warna terbaik untuknya tapi bila kau bersikeras kita bisa membuatnya mencoba beberapa jas rancangan terbaruku"
Ino berpikir sejenak"Kau punya jas berwarna pink? Pink dan ungu terlihat bagus kan"
Wajah Sai yang pucat bertambah pucat. Ino akan menyuruhnya memakai warna pink. Sekarang dia menyesali pernah membuat kesepakatan dengan wanita itu.
Sejam berlalu, Mereka membuat Sai mencoba selusin pakian, termasuk sesuatu berwarna pink dan print leopard. Ino bahkan mengambil photo dan tertawa terpingkal-pingkal. Akhirnya wanita dan designernya itu memilih sebuah jas hitam dengan potongan klasik untuk dia kenakan. Sai bisa bernafas lega. Dari semua siksaan yang pernah dia alami. Dia paling tidak tahan dengan yang ini sepertinya wanita itu punya gen sadis dalam dirinya. Sai duduk dan menunggu Ino selesai fitting. Syukurlah wanita berambut pirang itu tidak berlama-lama. Sai merasa ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Tatapan pria bernama Jiri itu membuatnya bergidik.
"Terima kasih ya Jiri, Besok aku datang lagi" Ino memeluk pria berambut pirang itu untuk mengucapkan selamat tinggal
"Sama-sama beib. Iya besok jadi gaunmu, Eh tunangan mu itu sangat cool dan bokongnya sexy em, kalau saja aku belum punya pacar aku pasti akan naksir dia juga" Jiri mengerlingkan mata pada Sai
Sai membalas kerlingan jiri dengan senyum walau sebenarnya dia merasa ngeri. Sai lebih memilih berhadapan dengan terrorist dari pada designer di depannya. Ino hanya tertawa terbahak-bahak dan mengandeng pria berambut hitam itu pergi.
Mereka makan malam di restaurant favorite Ino. Seperti biasa gadis itu hanya memesan salad dan air putih. Sementara Sai memesan tenderloin steak dan red wine. Sai jarang makan di luar dia terlalu malas untuk pergi meninggalkan rumahnya.
"kau yakin hanya makan itu saja" komentar Sai melihat makanan pesanan mereka datang
"Aku sedang diet Sai"
"Kau tidak terlihat gendut" Sai bingung mengapa Ino perlu diet wanita itu sudah kurus menurutnya.
"kau tidak akan mengerti Sai, Ini masalah wanita"
Pria berambut hitam itu manggut-manggut. Subjek tentang wanita sangat sulit untuk dipahami dan tidak masuk logika. Dia membaca beberapa buku dan tetap saja tidak ada cara untuk mendecode mahluk yang namanya wanita. Lalu apa gunanya dia membaca. Pada akhirnya buku itu tidak memberikan jawaban. Sai pun memutuskan untuk mejauhi subjek wanita karena membuatnya sakit kepala.
"Sai, Mengapa rumah mu begitu kosong?" Ino ingin tahu lebih banyak soal teman serumahnya, karena wartawan pasti akan bertanya soal pria itu.
"Aku hanya punya barang-barang yang aku benar-benar butuhkan saja" Jawab pria itu singkat.
Ino mengenal banyak pria tapi dia tidak pernah bertemu pria yang begitu sederhana dan minimalis. Yang paling aneh menurut pengamatan Ino pria di hadapannya tidak punya personal style dia begitu basic dan generic padahal dia seniman. Satu-satunya hal yang memperlihatkan sedikit jejak kepribadian hanya lukisannya. 'Apa Sai punya perasaan?' Pikir Ino, Pria di hadapannya selalu terlihat impassive apapun situasinya 'tapi tidak mungkin melukis sesuatu yang emosional dan indah tanpa perasaan'
"Apa kau punya teman atau keluarga?" Tanya wanita berambut pirang itu lagi. Dia tidak menemukan apapun bahkan photo keluarga di rumah Sai.
Pria itu mengeleng, "Aku selalu sendirian" Dia engan menceritakan soal Danzo dan Shin pada wanita di hadapannya. Sai belum tahu Ino Yamanka bisa dipercaya atau tidak.
Ino langsung merasa kasihan. Wanita itu memang sering terbawa perasaan dan emosional dia tidak tahan melihat masalah orang lain dan kerap ikut campur. Shika selalu mengangap hal itu merepotkan. Tanpa pikir panjang Ino meraih tangan Sai dan mengengamnya. "Sai, Sekarang kau punya teman tidak perlu merasa sendirian lagi. Lagipula kita tinggal bersama walau sementara" Kemudian dia tersenyum dengan tulus.
Sai memandang wanita di hadapannya. Sesaat dia merasakan kehangatan menyentuh dirinya dan dunia terlihat lebih terang. Dia tidak percaya seseorang akhirnya menawarkan persahabatan padanya tapi Ino belum mengenalnya. Suatu saat wanita itu juga akan lelah dengan dirinya dan akan meninggalkannya juga seperti halnya yang lainnya.
Malam itu Ino berdiri di depan pintu kamar Sai, Dia ragu untuk mengetuk tapi Ino enggan tidur sendirian sampai kamar yang dia huni didekorasi ulang. Dia juga belum menyampaikan niatnya pada Sai.
"Sai, boleh aku tidur di sini lagi?"
Pria itu tengah duduk membaca di tempat tidurnya, Dia memandang wanita berambut pirang itu sebentar lalu menjawab, "Tidak masalah gorgeous". Sebenarnya dia keberatan tapi ia tidak ingin teman barunya marah. Apalagi melihat apa yang Ino kenakan. Dia amat sangat keberatan tidur bersamanya. Wanita berambut pirang itu terbalut dalam gaun tidur berbahan sutra tipis menerawang. Lekuk tubuhnya terlihat jelas dalam temaram lampu kamar dan Sai bisa melihat Ino tidak mengenakan apa-apa lagi dibaliknya. Entah dia memang sengaja mau merayunya lagi atau tidak, Sai tidak tahu. Pria berambut hitam itu menarik nafas dan menutup mata. Mencoba untuk menbayangkan hal selain sosok Ino Yamanka yang tengah telanjang.
Pria itu merasakan kasurnya bergoyang sedikit. Ino sudah merebahkan dirinya di sisi lain tempat tidur
"Sai, Boleh aku merubah dekorasi kamar itu?"
"Mengapa?"
"Aku tidak nyaman, Ruangan itu terkesan dingin aku tidak suka"
"Kalo itu mau mu lakukan saja aku tidak keberatan" Sai tersenyum. Dia akan membiarkan wanita itu melakukan apa saja selama bisa membuatnya menjauh dari tempat tidurnya.
Wanita berambut pirang itu duduk dan beringsut mendekati Sai. "Terima kasih, Kamu baik sekali" kemudian Ino menghadiahi Sai dengan sebuah pelukan.
Sai mengerang tertahan, Payudara wanita itu menyentuh lengannya. Ino yang melihat Sai sedikit bereaksi diam-diam tersenyum licik, Wanita itu malah mengeratkan pelukannya 'Sedingin-dingin nya es, pasti akan mencair bila dipanaskan' pikirnya senang.
Sai dengan reflex mendorong Ino menjauh "Maaf Ino, Aku sudah lelah sebaiknya kita tidur sekarang" Ino tampak kesal, Dia mengembungkan pipinya dan melepaskan suara "huff" layaknya anak kecil yang merajuk.
'hampir saja kontrol diri ku runtuh' Sai mendapati Ino sudah tidur memunggunginya.
Bagi Sai sex adalah kebutuhan biologis, layaknya makan minum dan tidur. Dia punya Kontrol diri yang luar biasa tetapi terkadang bila ia terlalu lama mengingkari kebutuhannya badannya akan bereaksi sendiri meminta pelepasan walau dia tidak menginginkannya dan wanita di sebelahnya membuat situasi bertambah sulit.
Ino begitu bersedia dan menggairahkan bahkan wanita itu melempar dirinya sendiri untuk dimangsa. Insting Sai memerintahkannya untuk menjamah wanita itu tapi akal sehatnya berkata tidak sebab Ino bukan wanita yang bisa dia pakai semalam terus dilupakan seperti wanita-wanita lainnya. Ino Yamanaka adalah sumber inspirasinya, dia juga teman pertama Sai. Dia tidak ingin kehilangan semua itu hanya karena nafsu belaka tapi bila wanita itu tetap tidak mau mengerti sepertinya suatu saat bercinta dengan wanita itu akan dapat dia hindari.
Sai yang tertidur dalam kekalutan, terbangun oleh suara erangan wanita.
"Eh.. Sai..Ah..jangan" Mata Ino masih terpejam tapi dia berguman tidak jelas. Wajahnya merona dan Sai bisa melihat titik-titik keringat di leher jenjangnya. Kemudian wanita yang tengah tertidur itu mengeliat dan mengerang lebih keras.
Sepertinya Sai bisa menebak apa yang Ino mimpikan. Tanpa dia inginkan muncul bayangan wanita itu merintih dan mengeliat dibawahnya "Sial" Sai mengumpat mendapati bagian lain dari dirinya juga ikut terbangun. Pria itu pun berjalan menuju kamar mandi mencoba menenangkan diri di bawah guyuran air dingin.
