Disclaimer : All character belong to Masashi Kishimoto
Terima kasih untuk para reader yang masih membaca dan mengikuti cerita ini.
piggypow : Makasih banget sudah review, ini sudah aku buat lebih panjang dan semoga kamu masih menyukai ceritanya.
Warning : Sexual content, Gore
Chapter 6:
Ledakan
.
.
Di antara kertas-kertas yang berserakan dan noda-noda cat yang mengering di lantai. Seorang pria tampan berdiri menghadap kanvas. Tangan kanannya mengengam kuas dan wajahnya begitu pasif. Sungguh tidak sesuai dengan gerakan tangannya yang kasar menggoreskan warna demi warna pada media lukisnya. Pria itu mengurung diri di studionya. Mencoba memahami hal baru yang tengah mencerai beraikan akal sehatnya. Sai tidak pernah bimbang tapi kali ini dia jatuh dalam permasalahan yang tidak dapat dipahami oleh logikanya. Nafsu bukan hal yang baru dia kenal, tapi keinginan adalah suatu konsep yang asing baginya.
Awalnya dia menyalahkan hormon karena dia tidak bisa menemukan alasan lain untuk menjelaskan nafsu yang sedang bergolak dalam jiwanya. Nafsu yang semakin dia coba untuk ingkari semakin dia merasakan desakan untuk memenuhinya. Jadi semalam dia menelpon mantan mentor nya Scarecrow a.k.a Kakashi untuk mencarikannya kencan. Kakashi hatake adalah seorang agen yang luar biasa handal tapi mentornya itu juga punya hobi mesum. Koleksi bokep dan buku erotisnya segunung, setiap libur dia akan mangkal di Red district Konoha bahkan saat bertugas pria itu sempat-sempatnya membaca Icha-icha tactic. Dia juga menugaskan Sai yang diketahui masih perjaka untuk menyamar menjadi pengunjung rumah bordil dan mentornya itu hanya membekalinya dengan buku panduan sex untuk pemula. Dia selalu mengingatkan Sai, menjadi seorang mata-mata harus siap untuk menjadi kotor. membunuh, menguntit dan memanipulasi bukahlah pekerjaan orang suci hanya yang membuat mereke sedikit berbeda dari para kriminal dan terrorist adalah semua pekerjaan kotor ini demi menjaga keamanan konoha. Yep, sepolos-polosnya Sai terlihat dia sama sekali tidak Inocent
Jadi semalam mentornya mempertemukan Sai dengan Wanita berambut merah yang dia tidak ingat namanya di sebuah hotel ternama. Menurut Kakashi wanita itu sexy, cantik dan menggoda. Sai tidak begitu paham tapi pria berambut hitam itu ingin masalahnya cepat berakhir. Mentornya tidak berbohong di dalam kamar wanita itu telah menunggu, Dia terlihat seperti siren dalam mitologi yunani rambut panjang bergelombang berwarna kemerahan dan sepasang mata amber. Begitu Sai tiba wanita itu langsung menanggalkan bajunya dan dengan senang hati ingin memuaskan client nya yang tampan tapi Sai tidak tergerak sedikitpun. Apapun yang dilakukan wanita itu padanya, pria berambut hitam itu tidak merasakan apa-apa. Wanita berambut merah itu tidak membuatnya bernafsu. Setelah beberapa menit lewat tanpa hasil Sai memutuskan untuk pergi. Dia tidak paham mengapa wanita berambut merah itu berteriak marah dan memanggilnya 'Impotent' meskipun Sai memberinya tip yang banyak.
Dalam perjalanan pulang Sai memikirkan wanita yang sedang menunggunya di rumah, tidak sengaja dia mengingat-ingat kembali sepasang iris aquamarine yang menghantuinya. Bibir penuh yang merintihkan namanya ketika dia sedang tertidur dan aroma musim semi yang selalu tercium bila wanita itu berada di dekatnya. Sai merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Hanya dengan mengingatnya saja tubuh Sai langsung bereaksi. Sai mengerang. Dalam pikirannya dia ingin cepat tiba di rumah dan melemparkan wanita berambut pirang itu keranjangnya dan bercinta semalam suntuk. Mungkin setelahnya nafsu ini bisa reda dan dia bisa mendapatkan kembali ketenangan pikiranya. Tapi disinilah pria itu berada di scantuarynya. Sai menyelinap masuk ke rumah. Memilih mengunci dirinya di studio dan menghindari Yamanaka Ino. Karena Sai tidak bisa menjamin kontrol dirinya masih akan utuh bila dia harus tidur seranjang lagi dengan wanita vulgar itu. Sekarang jelas bagi Sai dia menginginkan Yamanka Ino dan Yamanaka Ino juga menginginkannya. Tapi menurut pemahamannya orang yang berteman tidak melakukan hubungan sexual. Dia dan Ino sudah menjadi teman dan logikanya mengatakan bila Dia dan Ino akhirnya melakukan itu maka mereka bukan teman lagi. Sayang sekali pemahaman Sai begitu kuno. Andai dia paham ada istilah Friend with benefit pasti dia tidak akan bingung lagi.
Ino Yamanka berjalan menelusuri koridor, Langkahnya besar dan menghentak. Tangan nya terkepal dan iris aquamarinenya berpendar dalam amarah. Tadi dia ke dapur dan melihat mobil Sai terparkir di garasi tapi pria itu tidak pernah muncul di kamar tidurnya semalam. Ino menunggunya semalam suntuk dan wanita itu ketakutan sendirian di rumah yang sepi. Dia membutuhkan tidur cantiknya karena hari ini adalah malam penghargaan tapi pria itu malah merusak rencananya. Sekarang dia akan membutuhkan lebih banyak concealer untuk menutupi kantung matanya.
Ino membuka dan menghempaskan pintu di hadapannya dengan Kasar
"SAI…..I" Wanita pirang itu berdiri di ambang pintu berkacak pingang, dahinya berkedut dan bibirnya cemberut.
Mendengar teriakan yang luar biasa keras, Sai menjatuhkan paletnya dan menoleh "Gorgeous?" Pria itu takjub melihat ekspresi sangar Ino.
"Kau, Apa yang kaulakukan?, Aku sms aku telpon tidak kau jawab. Aku menunggu mu semalam suntuk. Kau tahu aku tidak bisa tidur sendirian. Aku di kamar ketakutan sementara kau di sini melakukan hal yang kau senangi. Tak bisa mikirin orang lain ya?" geram wanita pirang itu sambil menyodok-nyodok dada Sai dengan jari telunjuknya.
Belum sempat Sai menjawab Ino sudah mengomel lagi "Kau tahu ini hari penting, Kita akan menghadiri Konoha movie awards malam ini dan kau tidak boleh melakukan kesalahan. Bila kau gagal Sai aku akan mengulitimu sendiri jadi beraktinglah yang bagus" Ancam wanita itu "Dan sekarang istirahatlah aku tidak mau tunanganku terlihat lelah dan kusam sebab photo kita akan menjadi headline di Koran besok" Lalu wanita itu pun pergi.
Sai memegang pelipisnya, mendadak dia sakit kepala. 'mungkin aku memang butuh tidur' lalu dia berjalan menuju kamar tidurnya. Dia kesal mendapati ranjangnya berbau wanita itu dan akhirnya memutuskan untuk tidur di sofa. Sai terbangun tengah hari dan mendapati sms dari Ino. Dia punya waktu lima jam sebelum wanita itu datang untuk menjemputnya. Pria itu pun kembali melanjutkan rutinitasnya.
Ino berendam dalam Jacuzzi, Dia memutuskan untuk memanjakan diri seharian sebelum bertemu make up artisnya. Sai membuat pikirannya bercampur aduk. Mengapa pria yang gayanya begitu simple ternyata pribadinya sangat kompleks. Hampir seminggu mereka tinggal bersama dan dia tidak mengetahui apapun soal Sai itu selain obessinya pada buku, lukisan dan kerapian. Pria itu tidak pernah membicarakan dirinya bahkan Sai lebih sering diam. Dia hanya menjawab bila ditanya.
Wanita pirang itu menarik nafas panjang mencoba untuk relaks dari semua masalah hidupnya. Saat ini dia berada di persimpangan jalan. Menjadi Artis tidak mudah. Sebagai gadis muda Ino selalu memimpikan menjadi populer, glamour, banyak fans dan dia memutuskan menjalani karir di dunia showbiz. Sekarang setelah sepuluh tahun Ino lelah dengan para wartawan, paparazzi dan orang-orang yang mencela dan menilai dirinya tanpa benar-benar mengenalnya. Dia juga lelah berusaha untuk tetap eksis di tengah gelombang artis pendatang baru yang lebih muda dan lebih cantik. Ino bosan untuk membuat skandal demi skandal hanya untuk publisitas, tapi seorang artis tidak akan tenar bila tidak diliput media. Dia hanya sedang berusaha untuk mempertahankan posisinya sebagai bintang di tengah-tengah buasnya dunia entertainment walaupun itu artinya hidup Yamanka Ino penuh kepalsuan.
Wanita itu merindukan masa lalu, Ketika dia, Shika dan Choji begitu dekat, mereka akan keluar setiap malam minggu untuk barbeque-an dan party. Ino tidak harus membangun image nya karena tidak seorang pun perduli selain teman-teman dan keluarganya dan mereka menyayanginya apa adanya. Dia merindukan bestie nya Sakura Haruno. Sungguh Shopping dan ngegossip tidak lagi seru tanpa wanita beramput pink itu dan media dengan keji mengadu domba mereka. Media tidak mengekspos berita baik. mereka menginginkan konflik dan skandal. Dua orang sahabat yang sedang minum teh bersama tentu saja tidak akan mendapatkan perhatian public tapi bila mereka melihat dua orang sahabat saling jambak dan pukul karena meributkan sesuatu 'yes, they love the drama and I gave them' putus wanita itu.
Merefleksikan kehidupannya muncul sebuah pertanyaan besar. 'Apa aku bahagia?'
Dengan mantap benaknya menjawab tidak. Popularitas tidak membuatnya merasa bahagia. Ino tahu jauh dalam lubuk hatinya dia mengangankan cinta sejati. Dulu dia berpikir dengan menjadi terkenal dan populer banyak pria yang akan mencintainya tapi dia salah. Pria memperlakukannya layaknya pajangan, sebuah tropi untuk dipamerkan dan penaklukan untuk di gembar-gemborkan. Para pria yang katanya mencintainya ini tidak sedikitpun perduli dengan sosok wanita di balik topeng Ino Yamanka. Mereka tidak berusaha untuk mengenalnya. Yang mereka butuhkan hanyalah status dan kecantikannya. Mereka memanfaatkan Ino dan Ino pun memanfaatkan mereka.
Begitulah bukanya menemukan pangeran berkuda putih dan hidup bahagia selamanya wanita pirang itu malah terlibat berbagai affair singkat yang sama sekali tidak memberinya kepuasan mental. Ino ingin jatuh cinta pada sosok lelaki yang mampu melihat dan menembus topengnya. Seseorang yang menghargai dia seutuhnya. Sayangnya lelaki seperti itu tidak ada. Entah sejak kapan Ino merasa dia tidak lebih sebuah objek untuk dimenangkan.
Wanita itu memandang cicin berlian yang menghiasi jari manisnya, pikirannya kembali melayang pada sosok pria tampan berkulit pucat yang sangat aneh. Dia sama sekali tidak terkesan dengan kecantikannya maupun status selebriti yang disandangnya. Lalu apa yang Sai lihat dari dirinya sehinga pria itu sampai rela menuruti kemauannya hanya agar bisa mengamati Ino. 'Mungkinkah?' Ino ingin berharap Sai melihat sosok wanita yang selama ini terkubur di balik persona Sang artis yang dia kenakan.
'Apa aku ingin jatuh cinta dengan Sai' wanita itu menutup mata menikmati air hangat yang menyentuh kulitnya. Jujur bila pria itu bukan Sai Shimura sang pelukis misterius dan terkenal Ino tidak akan memperdulikannya setampan apapun rupanya. tapi setelah mengenalnya Ino merasa ingin bersamanya, menolongnya walaupun pria itu tidak terlihat seperti punya masalah. Wanita pirang itu tidak bisa membayangakan bila dirinya hidup seperti Sai. Dia pasti akan mati termakan kesepian. Apalah arti hidup bila tidak ada orang lain untuk berbagi. Ino punya keluarga dan sahabatnya tapi Sai selalu sendirian dan Ino ingin pria itu berbagi dengannya.
Ino tidak memahami perasaanya untuk pria itu tapi dia merasakan ketegangan sexual di antara mereka yang siap meledak kapan saja. Sai selalu menghindar dan Ino bingung dimana letak masalahnya. Sudah jelas mereka berdua single. 'Mungkinkah pria itu phobia komitment? Mungkinkah Sai takut bila aku akan menutut hubungan yang jelas setelah sex' Pria tertutup seperti Sai pastinya engan terlibat dalam suatu hubungan apapun. Ino akan berbicara pada Sai malam ini dan sebaiknya pria itu tidak menolak idenya karena kebutuhan fisiknya sangat mendesak.
Ino tengah dalam perjalanan pulang. Setelah seharian perawatan dan tiga jam berdandan dia puas dengan hasilnya, Dia meraih telpon gengamnya dan mencari nomer Sai di daftar kontak. "Sai, Apa kau sudah siap? Aku akan tiba setengah jam lagi"
"Sudah" Jawab Sai singkat
"Ok, Bye" Ino pun memutus linenya.
Sai memandangi bayangannya di cermin, semua terlihat sempurna kecuali satu hal. Lalu dia mencoba untuk tersenyum. Senyumnya terlihat kaku dan dipaksakan tidak seperti senyum Ino yang bebas dan tulus. Senyum yang membuat wajah wanita itu bersinar seperti matahari. Bukan saatnya dia memikirkan Ino. Dia harus fokus dengan tugasnya malam ini. Menjadi tunangan artis Yamanaka Ino.
Sai mendengar suara mobil dari depan rumahnya. Ino sudah datang sebaiknya wanita itu memberikanya briefing singkat sebelum misi dimulai. Sebuah Limosin hitam terpakir dan sopirnya membukakan Sai pintu. Sai tertegun melihat wanita itu duduk menyesap champagne nya.
"Mengapa bengong Sai, terpesona dengan paras ku yang menawan" Guraunya.
Sai hanya tersenyum kemudian wanita itu menawarkannya segelas champagne
Ino menatap Sai. Berapa kalipun dilihat pria itu tetap tampan, Ino tidak menemukan sedikitpun kekurangan dalam penampilannya. "Sai yang perlu kau lakukan malam ini hanya berada disisi ku, Mengandeng tanganku dan tersenyum. Biar aku dan Shikamaru yang mengurusi pertanyaan wartawan. Mungkin kita harus sedikit menyentuh disana-sini untuk meyakinkan mereka kita adalah dua orang yang tengah mabuk cinta"
Pria itu menganguk mengerti, tapi membayangkan harus menyentuh wanita pirang itu. Sai mendapatkan firasat buruk. 'bisakah aku bertahan dengan godaan ini' Sai sedikit meragukan dirinya.
"Lalu ada satu hal lagi Sai" Ino mencondongkan badannya berbisik di telinga pria itu "Aku tahu kau menginginkanku" wanita itu memberikanya senyum penuh rahasia dan kembali menyesap champagnenya dan mengabaikan Sai sepanjang perjalanan. Sai menjadi kebingungan.
Mereka tiba di sebuah gedung mewah dimana acara itu diadakan. Di luar gedung fans dan wartawan tengah berkumpul menanti kehadiran para celebrity konoha. Sai turun duluan dari mobil dan membantu Ino keluar. Karpet merah membentang hingga ke pintu masuk hall dimana acara berlangsung. Ino meraih tangan Sai dan dia keluar dengan kenganggunan seorang bangsawan. Ino menoleh tersenyum dan melambaikan tangan kearah kerumunan. Teriakan dan lampu blitz menyambut kedatangan pasangan itu. Lalu Sai mengandengnya melintasi karpet merah. Ino pasti akan merindukan momen-moment seperti ini tapi dia memutuskan sudah cukup baginya dia menginginkan kehidupan yang lain.
Di dalam dia melihat Sakura dan Sasuke. Hal pertama yang Ino akan lakukan adalah memperbaiki hubungannya dengan wanita berambut pink itu. Sungguh tidak berguna mengorbankan persahabatan yang mereka miliki sejak kecil hanya untuk publisitas. Ino mengandeng Sai untuk menyapa wanita itu.
"Sakura"
"Pig" Sakura heran tumben Ino menyapanya biasanya wanita berambut pirang itu mengacuhkan Sakura kalaupun mereka saling bertukar kata isinya berupa sindiran
"Forehead berapa kali aku bilang jangan panggil aku pig di depan umum" Ino mengeleng tapi senyum tak hilang dari bibirnya.
Sakura baru memperhatikan pria yang digandeng Ino "Sai" Sakura bertambah heran melihat Sai Shimura di tempat seperti ini bersama Ino. Ino yang tidak ramah padanya semenjak debut menjadi model tiba-tiba jadi baik dan mengandeng Sai Shimura yang itu. Ada sesuatu yang tidak beres. Sepertinya dia harus berbicara empat mata pada Ino.
"Halo Sakura, Halo Uchiha" Sapa pria itu tersenyum. Sasuke dari tadi hanya diam memperhatikan dua wanita yang dulu pernah bersahabat itu dan dia juga mencurigai kemunculan Sai Shimura ditempat ini. Apa akatsuki bergerak lagi kenapa dia tidak mendengar info apapun. Orang awam tidak mengenal Sai tapi dunia hitam mengenal code name Ink-man. Agen rahasia konoha yang berdarah dingin bahkan lebih brutal dan sadis dari penjahat manapun mengapa dia muncul lagi setelah menghilang lama.
Iris mata Ino membesar "Kau mengenal Sai?"
Sakura mengagguk dia tidak bisa menjelaskan prihal Sai ditempat umum "Sepertinya banyak yang harus kita bicarakan Ino, Bagaimana kalau lain kali kita pergi minum kopi"
"Dengan senang hati" Ino senang dia akan mendapat sedikit informasi tentang teman serumahnya dan memperbaiki persahabatannya dengan Sakura.
Lalu mereka melihat Shikamaru dan Temari.
"Hallo Shika, Temari" Ino memeluk wanita yang dikencani sahabatnya itu "Dimana Choji"
"Seperti biasa di dekat meja buffet" Shika menatap Sai "Kau benar-benar membawa Sai Shimura?"
Ino tersenyum misterius "Tunggu saja Shika kau akan mendengar sebuah kejutan"
Shika menghela nafas panjang " Apapun itu merepotkan pastinya aku tidak suka dengan rencana kalian"
Temari menyikut Shikamaru "Sudah jangan seperti itu Shika, Sai tolong maafkan si bodoh ini"
"tidak apa-apa"
"Ayo kita duduk acara penghargaannya akan segera dimulai" kwartet itu pun berjalan menuju meja mereka.
Satu per satu nominasi mulai dibacakan, Ino berharap-harap cemas. Sekarang atau tidak sama sekali dia. Sebuah ending dramatis sang ratu skandal menunggu untuk ditampilkan. Pembawa acara membacakan nominasi. Sai bisa melihat wanita itu cemas. Pupil matanya melebar dan dia mengigit bibirnya 'apa yang ditunggu Ino'.
"Penghargaan artis terbaik, Nominasi Kurenai Yuhii dalam film losing my husband. Anko Mitarasi dalam film my love for dango. Sakura haruno dalam film chasing the bad guy dan Yamanaka Ino dalam film the flower girl"
" Penghargaan jatuh kepada…..Yamanaka Ino, The flower girl. Selamat silahkan naik ke panggung untuk menerima penghargaan"
Mendengar namanya disebut Ino merasa lega, Satu tahap berlalu. Dengan anggun dia berjalan menuju panggung untuk bersinar seterang bintang di bawah cahaya lampu sorot dan padangan kagum orang-orang disekelilingnya.
Ino menerima tropinya dan mengucapkan pidato singkat, Emosinya campur aduk antara senang, sedih dan lelah "Puji syukur saya ucapkan pada tuhan dan terimakasih untuk keluarga sahabat dan para fans yang telah mendukung karir saya. Juga para kru director film dan semua yang terlibat sehingga saya memenangkan penghargaan ini" Dia diam senjenak "Terimakasih juga untuk seseorang yang menemani saya hari ini disini, Sai Shimura I love you"
Semua orang yang menghadiri acara tersebut mulai berbisik-bisik dengan deklarsi cinta sang artis dan spekulasi pun mulai beredar, Mata mereka mencari-cari sosok Sai Shimura yang mereka sering dengar namanya tapi tidak pernah lihat wajahnya. Shikamaru hanya bisa menepok gidat, Sakura ternganga, Choji tetap mengunyah keripik kentangnya dan Sai wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Masih ada lagi, Hari ini saya juga mengumumkan pengunduran diri saya dari dunia akting. Tidak ada yang perlu disedihkan karena akan selalu terlahir bintang baru yang akan menghibur kalian " Mata Ino mulai berkaca-kaca "Saya harap fans bisa memahami dan tidak kecewa dengan keputusan saya terima kasih banyak semua" Wanita itu akan merindukan gemerlapnya dunia showbiz tapi sekarang dia siap membuka lembaran baru.
Shikamaru dan Choji gembira dengan keputusan Ino walau mendadak dan tiba-tiba. Mereka berdua juga tidak terlalu menikmati pekerjaan mereka. Choji dan Shika disana untuk melindungi Ino. 'apa keputusan mendadak Ino ada hubungannya dengan Sai' pria berambut nanas itu melirik Sai yang tengah duduk memandang Ino. Shika menyadari Sai tidak berkedip sedikitpun memandang wanita pirang yang tengah berdiri di atas panggung itu
Ino berjalan kembali ke mejanya, mengisyaratkan Sai untuk berdiri. Pria itu menuruti perintah memeluk Ino sebentar mengucapkan selamat dan mencium kening wanita itu, Semuanya terlihat begitu natural. Bisik-bisik terdengar makin keras dan semua mata memandang Sai tapi pria itu tetap tenang.
Ino duduk dengan wajah merona.
"Wow, kau benar-benar tahu cara membuat situasi dramatis ya" Temari berkomentar.
" ..ha, Paman Inoichi akan senang dengan pengumuman ini tapi mungkin dia tidak senang dengan berita kau punya pacar lagi " Choji mengkhawatirkan Sai, Ayah Ino yang sangat protektif mungkin akan memburu pria itu.
"Apa kau yakin mau berhenti, bukanya dari dulu kau ingin populer" Tanya shikamaru
"Kalian lihat bagaimana aku berubah gara-gara popularitas, Aku merasa menjadi jauh lebih buruk"
"ya Ino, Kau menjadi wanita artifisal yang dangkal" Ucap Choji jujur.
"Tidak usah terlalu jujur Choji" wanita pirang itu memukul sahabat gendutnya.
"Aku penasaran apa yang membuat mu tiba-tiba tersadar, bertahun-tahun kau tidak mendengar saran kami lalu tiba-tiba dalam semalam kau membuat keputusan besar" Shikmaru masih mengamati Sai. Dalam hati dia berpikir apa Ino dilanda asmara.
Setelah acara penghargaan usai dilanjutkan dengan gala dinner. Sai berdiri menyandar di dinding dan menegak wine-nya. Dia sadar akan semua antensi yang di arahkan pada dirinya. Ino Yamanaka dan Sai Shimura praktis menjadi trending topic malam ini. Pria itu melihat Sasuke Uchiha berjalan mendekatinya
"Ink-man, Apa kau yakin tidak sedang dalam misi" Pria itu bertanya sekasual mungkin
"Aku sudah tidak aktif lagi Uchiha"
"Kau pasti tau dimana itachi berada bukan? Kau dan Dia bekerja untuk Danzo" Desak Sasuke
"Kau sudah tau dimana Itachi, aku tidak perlu memberitahu mu"
"Jadi benar dia bersama akatsuki" Kontak sasuke di akatsuki tidak pernah memberitahunya info soal itachi. Malah mereka ingin merekrut Uchiha terakhir itu.
"Bukan hak ku untuk membocorkan informasi"
"Aku tidak menyukaimu Shimura"
"Perasaan kita sama Uchiha sebaiknya kau menjaga sikap. Agen rahasia konoha mengawasi tiap langkahmu" Sai pun meningalkan pria itu untuk mencari Ino dan kawan-kawanya.
"Ada apa Sasuke" Sakura melihat konfrontasi Sasuke dan Sai, Sepertinya mereka juga saling kenal
"Bukan urusanmu Sakura" ucapnya dingin Sasuke mengingalkan Sakura tanpa menoleh.
Hati Sakura merasa hancur, Setiap saat Sasuke selalu dingin dan ketus padanya tapi Sakura tidak akan menyerah. Nalurinya mengatakan Sasuke perlu diselamatkan, entah dari apa dia belum tahu.
Tak jauh dari sana sepasang pria yang mengenakan hoodie berwarna hitam duduk di mobil, mereka sedang menonton acara konoha award dari ponselnya.
"Apa kau pikir rencana mu akan berhasil?" Tanya pria berambut merah pada rekannya.
"Karya seni ku tidak pernah gagal, Lagipula bos hanya menugaskan kita untuk membuat terror, aku tinggal meledakkan gedung itu dan misi selesai tapi sepertinya aku punya ide lain. Ada dua orang yang kebetulan aku benci di dalam sana dan aku ingin menyiksa mereka dulu sebelum meledakkannya"
"Siapa?"
"Sasuke uchiha dan Sai Shimura"
"Ah jadi kau masih dendam pada bos?"
Pria berambut pirang itu menyeringai, "Aku bisa bilang padanya tak sengaja membunuh adiknya dan sebagai sesama seniman aku masih ada urusan dengan Shimura. Aku tidak terima mengapa karya seninya yang buruk dan tidak berkelas bernilai tinggi sementara tidak ada yang menghargai hasil karyaku sepertinya masyarakat punya selera rendah"
"Lalu apa rencana baru mu?" Pria berambut merah heran dengan rekannya, membawa urusan pribadi dalam misi itu tidak dibenarkan organisasi.
Mata sipit dengan iris berwarna biru itu berkilat, dan seringai kejam menghiasi wajahnya. Dia mengambil duvel bag di bagasi dan mengeluarkan sebuah senjata laras panjang "Ini rencanaku". Pria itu pun mengisi pelurunya.
Ino bersandar pada bahu Sai, Dia sedikit mabuk dan bersyukur area ini bebas wartawan. Shikamaru sudah merencanakan press conference besok. Jadi sekarang dia bisa menikmati malam terakhirnya sebagai mega bintang bersama Sai dengan tenang
"Sai menarilah dengan ku" pintanya
"Aku tidak bisa menari, dan kau gorgous terlalu mabuk bahkan untuk berdiri" Sai meraih pingan Ino yang ramping untuk menopang wanita itu. Ino terlihat bisa ambruk kapan saja.
"Kalau begitu peluk aku" Wanita pirang itu mengalungkan kedua lengannya di leher Sai. Iris aqua marinenya mengunci pandang sepasang mata kelam dengan hasrat yang tidak dia disembunyikan.
"Aku sedang memelukmu" Jawab pria itu
Ino mengeleng "Lebih erat lagi" Bisiknya merdu.
Sai menurut. Dia menarik wanita itu lebih dekat sehingga pipi gadis itu menempel di dadanya. Ino memejamkan mata menghirup aroma musk dan tinta yang terpacar dari tubuh pria yang dia selalu mimpikan. Ino merasa aman dan nyaman dalam pelukan Sai Shimura.
Ino tidak perduli orang-orang sedang melihat mereka. 'let them see and talk' Ino hanya fokus pada Sai
"Mengapa kau mengingkarinya"
"Mengingkari apa" Sai bingung
"Hasrat mu" Ino kembali memandang mata hitam Sai yang tidak pernah menunjukan apa-apa selain kemuraman. "Sai Shimura mengapa kau tidak meraihku, Aku menawarkan diriku untuk mu"
"Gorgeous, Apakah nanti kau akan tetap bisa melihatku sebagai teman?"
Jari-jari lentik Ino menyisir helian rambut hitam pria yang tengah memeluknya "Jadi itu yang kau khawatirkan?" Wanita itu tersenyum "Sai aku tidak meminta hal lebih dari dirimu, Yang aku minta hanya bantu aku melepaskan diri dari rasa frustrasi ini"
Sai masih diam mencoba mencerna kata-kata Ino. Jari-jari Ino yang kini menelusuri pipi dan rahangnya membuat sulit berkonsentrasi.
"Kita bisa melakukannya dan pura-pura tidak terjadi apa-apa, Yakinlah Sai Sex tidak akan merubah sesuatu di antara kita, Itu hanya sebuah kebutuhan fisik" Bujuk wanita pirang itu.
BIla Sai ingin punya teman dia harus belajar mempercayai. ini langkah pertamanya mempercayai Yamanka Ino, "Aku percaya padamu" dengan kalimat itu dia membiarkan nafsu yang dia pendam terbebas.
Waktu terasa berhenti, Ino bisa mendengar detak jantung nya dan Sai dalam sinkroni. Perlahan pria itu menunduk mendaratkan sebuah kecupan di bibir merahnya. Ciuman ringan penuh keraguan tapi menjanjikan pembebasan. Ino membalas ciuman Sai dan membuat pria itu menghapus keraguannya. Sai kembali mencium wanita itu kali ini dengan rasa lapar yang baru dia sadari dia punya. Bibir Ino yang lembut terasa manis dan memabukan.
Ino mengerang, merasakan lidah pria itu menyelinap ke dalam bibir nya, membelai dan merayu dengan sangat ahli mencoba membuatnya patuh. Ino tidak membiarkan Sai mendominasinya. Wanita itu mengigit bibir Sai membuat pria itu terbelalak dan menghentikan ciumannya.
'ah suka main kasar ya' Sai mendorong wanita itu ke tembok dan menarik gelungan rambut Ino yang tadinya sempurna, Rambut pirangnya jatuh mengurai bagaikan air terjun. Kemudian Sai kembali mencium wanita itu lebih dalam, lebih kasar dan menuntut.
Ino merasa bagaikan bunga yang terkena hujan pertama setelah musim kemarau. Dia ingin lebih. Ino merasakan rasa hangat dan kelembaban yang perlahan-lahan timbul di antara kedua kakinya.
Kedua orang itu seakan lupa mereka sedang ada di tempat umum
Muka Shikamaru dan Temari merah, Akting mereka terlalu riil sebagai pasangan yang Cuma pura-pura. Pria dengan Marga Nara itu ingin menepok bahu Sai dan berteriak "Cari kamar oi" ini bukan lagi public display affection.
Aksi mereka terhenti karena suara ledakan dan bau mesiu. Sai secara otomatis waspada menarik Ino untuk merunduk. Ledakan Skala kecil di sudut yang jauh membuat kaca pecah dan serpihanya berterbangan. Dan membunuh orang-orang yang berada di sekitar pusat bom. Kerumunan itu langsung panik dengan segera berlari berbondong-bondong ke pintu keluar menimbulkan kekacauan luar biasa.
Ino yang masih linglung mulai panik menyadari ada bom di tempat ini. "Sai" wanita itu tampak ketakutan.
"Tenang Ino, Aku akan melindungimu" Sai mengirim pesan SOS pada Kakashi, berharap mereka cepat datang. Karena dia mendapat firsat yang terburuk belum tiba. Sai amat yakin di tempat ini terdapat bom yang lebih besar lagi. Tidak mungkin para terrorist itu hanya menanam bom skala kecil.
Dugaan Sai benar, Tak lama kemudian terdengar suara rentetan tembakan, jeritan dan teriakan dari arah satu-satunya pintu keluar dari ruangan ini. Dia memindai semua titik dan celah dalam ruangan itu. Dia bisa keluar dari jendela. Ini hanya gedung berlantai tiga tapi dia tidak bisa membawa serta Ino
Wajah Ino begitu pucat. Dia masih terduduk di lantai gemetaran. Shock. Melihat mayat-mayat bergelimpangan. Darah dan potongan badan manusia tersebar dimana-mana. Ini mimpi buruk
Kerumunan orang-orang yang ketakutan membelah dan terdiam memberi jalan pada pria berambut pirang berserta rekannya. Dua orang itu membawa senjata dan menembaki orang-orang secara acak.
Mata hitam bertemu dengan mata biru.
"Ah, Kita bertemu lagi shimura" Pria berambut pirang itu menyeringai
"Kau lagi, Deidara" Wajah Sai tetap tenang menatap mata anggota akatsuki itu.
