Disclaimer : Hidekaz Himaruya
Rating : Alhamdulillah masih T. Bisa berubah sewaktu - waktu tergantung mood Author.
Warning : Author newbie, jadi banyak TYPO dan aneh. Abal2 dan tidak masuk di akal. Ini percobaan nekad dari author yang baru ngeh dikit tentang hetalia. *ditimpuk pake kayu glondongan se-truk*
Cerita sebelumnya:
"Kekai itu dibuat untuk melindungi sekolah. Sebenarnya kekai itu ada disekeliling sekolah dan asrama, tapi yang terkuat ya memang disana." Kataku keceplosan.
"Kau tahu dari mana?" Tanya Arthur tajam sambil menyingitkan dahinya.
"Ah, itu... pokoknya aku tahu. Jika mereka bisa keluar masuk dari sini tanpa merusak kekai, pasti ada jalan masuk lain ke dalam sekolah tanpa melewati kekai." Kataku menutup mulutku dari kenyataan. Aku jadi teringat kepala sekolah juga mengatakan hal yang sama.
"Jika benar begitu, artinya kita harus bisa mengetatkan penjagaan kita, Kaicho. Siapa tahu dengan mengetatkan penjagaan kita bisa mengetahui dimana pintu masuk mereka saat mereka menghilang." Kata Kiku.
"Baiklah. Kita perketat lagi penjagaan kita mulai malam ini. Bisa jadi kita, para personifikasi, adalah sasaran mereka selanjutnya. Kiku, laporkan pada Willem dan Ludwig lalu minta penjagaan Dewan Keamanan diperketat." Perintah Arthur. Kiku segera berdiri, lalu membungkuk sebelum pergi meninggalkan kami berdua.
Apa?! Kenapa harus nama si Londo itu ikut - ikutan disebut? Jangan bilang dia salah satu petinggi organisasi seperti Arthur. Oh, Tuhan!
—OOOoooOOO—
Normal Pov
Nesia terpaku di perpustakaan. Dia terlalu terkejut dengan semua ini. Nesia berharap jika dirinya tidak akan pernah berurusan dengan Willem selama disini. Sementara itu Arthur kini kembali sibuk dengan buku - buku dihadapanya. Arthur mencari kembali informasi yang sekiranya bisa ia gunakan untuk mencari tempat itu.
Kini mata Nesia melirik buku - buku yang dibaca Arthur. Hampir semuanya mengenai sihir dan dunia ghaib. Nesia hampir tertawa melihat buku - buku tua yang terlihat seperti primbon milik kakeknya itu. Arthur yang merasa ada suara tawa yang tertahan, melirik Nesia yang sudah hampir meledakkan tawanya.
"Apa?" Tanya Arthur galak.
"Bwahahaha... aduh, aku tidak tahan mau tertawa melihatmu membaca buku - buku seperti itu. Ahahahha..." Kata Nesia yang akhirnya tak tahan tertawa lagi.
"Terserah apa katamu. Buku ini berguna untuk pertahanan diri dan mencari petunjuk mengenai kasus ini." Kata Arthur ketus.
"Hahaha... Kalau kau mencari petunjuk mengenai kekai, sebaiknya jangan baca buku itu. Tidak cocok dengan imejmu yang menyebalkan. Aneh. Hihihi..." Kata Nesia masih tertawa.
Arthur hanya melirik Nesia yang cekikikan dengan tatapan tajam. Setelah itu, Arthur menghela napas berat. 'Jika saja itu bukan kasus rahasia, aku pasti sudah menjelaskan perkaranya padamu. Sayangnya aku terlalu baik tidak ingin melibatkanmu dalam kasus ini, Kirana', kata Arthur dalam hati.
"Kekai itu tidak bisa dihancurkan dan ditembus, kecuali dengan seizin pemasang kekai. Ada sih satu cara untuk menghancurkannya, tapi perlu tenaga yang sangat besar seperti tenaga dari 10 orang dengan sihir terkuat. Dari yang pernah aku rasakan, kekai itu ada beberapa jenis. Yang paling ringan itu bisa dibuat sebagai tameng portable, tapi hanya bisa menangkal serangan ghaib. Untuk serangan fisik seperti panah dan peluru hanya bisa ditangkal dengan kekai tingkat tinggi yang sangat tebal." Kata Nesia menjelaskan setelah tawanya berhenti.
"Kau tahu sekali tentang kekai." Kata Arthur menyindir.
"Aku juga salah satu pengguna kekai tahu! Gini - gini aku cukup ahli mengendalikan kekai." Kata Nesia merasa tersinggung.
"Kalau begitu, kenapa tak kau gunakan kemampuanmu untuk menembus kekai itu tanpa merusaknya?"
"Sudah aku katakan tadi. Kekai itu tidak bisa di hancurkan dan ditembus tanpa seizin pemasangnya. Terutama kekai tingkat tinggi seperti yang terpasang disekeliling sekolah dan asrama." Kata Nesia ketus.
"Lalu, jika mereka bisa masuk keluar dari sini, artinya jika mereka tidak menemukan pintu rahasia, mereka memiliki izin menembus kekai dari pembuat kekai itu? Ah, bahaya kalau begitu." Kata Arthur menyimpulkan sesuatu.
"Hmm... benar juga. Tapi, bukankah kekai itu sudah terpasang sejak awal pembangunan wilayah ini? Itu artinya sudah lebih dari 1000 tahun yang lalu." Kata Nesia.
"Jika memang kekai di pulau ini dibangun lebih dari awal, artinya memang pembuatnya tahu jika akan ada perang dunia beberapa ratus tahun yang lalu, dan menyelamatkan pulau ini." Kata Arthur curiga akan sesuatu.
"Ah, benar juga. Atau jangan - jangan memang pulau ini dilindungi untuk—" Nesia langsung menutup mulutnya sebelum membocorkan informasi tugasnya.
"Untuk apa?" Tanya Arthur curiga. Arthur curiga Nesia menyembunyikan sesuatu yang besar dibalik kepindahannya ke sini.
"Bukan apa - apa." Kata Nesia menutupinya.
"Hh... tak masalah. Jika kau tak mau memberi tahunya tak masalah. Aku tak akan memaksamu." Kata Arthur akhirnya setelah terdiam selama 10 detik penuh.
Nesia tersenyum tipis. Meski menyebalkan, Arthur memang bukan tipe orang yang memaksa untuk mendapatkan informasi secara lisan. Dia lebih suka hal yang konkret seperti data di atas kertas. Menurut Arthur, informasi lisan itu mudah berubah hanya dengan berpindah mulut yang menyampaikan. Maka dari itu dia lebih senang berkutat dengan buku dan kertas yang menyampaikan informasi lebih konkret.
Perdebatan dan diskusi sengit itu berakhir manakala bel istirahat berbunyi. Nesia segera pamit untuk kembali ke kelasnya dan Arthur merapikan buku - buku tua yang tadi diambilnya. 'Jika yang dikatakannya tadi benar, berarti aku harus mulai menyusuri awal pembangunan wilayah ini', gumam Arthur dalam hati.
Nesia hanya 'bersembunyi' di dalam kelasnya sepanjang istirahat karena ia takut akan bertemu Willem jika berkeliaran di lorong sekolah dan tempat umum lainnya seperti perpustakaan dan kantin. Tapi, sepertinya berdiam diri di kelas yang sepi sambil menyantap bekalnya yang berupa sepotong roti dan sekotak susu justru menarik perhatian siswa yang kebetulan melintasi lorong di depan kelasnya. Nesia yang pura - pura tak menyadarinya sibuk membaca buku apa saja yang ada di hadapannya.
Arthur sebenarnya malas untuk kembali ke kelasnya. Namun, tak ada lagi alasan baginya untuk tetap di perpustakaan. Baru saja Arthur melangkah keluar perpustakaan, Arthur merasa ada yang aneh yang tertinggal. 'Ah, bloody hell! Aku lupa handband-ku tadi', umpat Arthur dalam hati.
Dengan langkah terburu - buru, Arthur segera menuju lokernya untuk mengambil handband yang seharusnya ia kenakan sejak pagi. Begitu handband hitam itu melingkari tangan kanannya, seseorang menepuk pundak Arthur dari belakang dan membuatnya terlonjak kaget dan hampir membantingnya.
"Astaga Arthur, kau tak perlu sekaget itu. Apa kau tak dengar aku memanggilmu sejak tadi?" Kata Francis yang untungnya tak jadi dibanting Arthur.
"Bloody hell! Ternyata kau. Mana mungkin aku mendengarmu jika kau memanggilku dengan suara flamboyan-mu itu!" Keluh Arthur.
"Tak mungkin kau tak mendengarkanku. Ah, aku tahu. Kau pasti sedang banyak pikiran. Est-ce pas ma chéri?" Kata Francis penuh percaya diri.
"Darling kepalamu pitak! I'm still straight! Aku masih suka perempuan, bloody hell! Lagi pula kau itu sok tahu sekali sih." Kata Arthur ketus.
"Ohonhonhon... tentu aku tahu, Arthur. Kau itu jarang tidak berkonsentrasi pada sekelilingmu jika tak ada masalah." Kata Francis tertawa senang melihat Arthur berhasil diganggunya.
"Terserah apa katamu."
"Honhonhon... Ah, aku hampir lupa mengatakannya karena tertawa terus. Tadi kepala sekolah menghubungiku karena tidak bisa menemukanmu, katanya anggota ke-5 sudah dipilih." Kata Francis serius.
"Sungguh? Siapa?" Tanya Arthur penasaran.
"Entahlah. Pak tua itu tak memberi tahuku lebih lanjut. Katanya kau akan menemukannya sendiri." Kata Francis lalu berlalu pergi.
'Bloody hell! Apa - apaan Pak Tua itu! Sudah seenaknya menentukan anggota ke-5, menyuruhku mencari tahu pula siapa anggota ke-5 dari badan eksekutif OSIS itu! Bloody hell!' umpat Arthur dalam hati. Arthur terus mengumpat dalam hati sepanjang perjalanan menuju kelasnya.
Tiba - tiba matanya tertuju kepada sosok yang sedang menyantap roti sendirian di dalam kelas Asia. Sepertinya gadis itu merasa diperhatikan oleh Arthur karena kini dia sedang berpura - pura membolak - balik buku di hadapannya yang terbalik. Kaki Arthur berhenti sejenak dan bibirnya berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa.
Arthur segera mempercepat langkah kakinya sebelum tawanya meledak di lorong yang ramai ini. Tingkah Nesia yang lucu tadi membuat mood Arthur membaik. Bahkan kini ia geli sendiri jika mengingat tingkah Nesia yang tadi. 'Gadis itu memang unik', puji Arthur dalam hati.
Ah, iya juga. Arthur jadi teringat akan perkataan Francis tadi. Jika anggota ke-5 sudah ditentukan, artinya ada kasus berbahaya yang akan menimpa atau bahkan bisa dibilang telah menimpa diam - diam di sekolah ini. Berbeda dengan OSIS di sekolah lain yang memiliki 4 orang sebagai eksekutifnya, Hetalia Academy ini memiliki 5 orang anggota eksekutif.
Anggota eksekutif pertama tentu saja Arthur Kirkland, sang ketua OSIS. Dialah poros penggerak OSIS. Semua kegiatan OSIS tidak akan terlaksana tanpa persetujuan Arthur. Selain tanggung jawab yang besar sebagai ketua, Arthur juga memiliki keistimewaan lain. Dia boleh saja tidak masuk kelas bahkan selama beberapa bulan penuh, tapi nilainya akan tetap aman. Selain itu hampir semua informasi siswa pasti langsung diserahkan padanya. Dia adalah tameng bagi siswa di sekolah ini.
Anggota eksekutif kedua yaitu Alfred F. Jones, sang wakil ketua OSIS. Dialah yang mem-backup semua pekerjaan Arthur ketika Arthur sibuk dengan masalah lain yang membutuhkan perhatian lebih seperti kasus sekarang ini. Alfred menggantikan peranan Arthur saat Arthur tidak bisa menghadiri rapat besar OSIS berasama anggota lainnya. Yah, walaupun Alfred lebih sering ikut terjun bersama Arthur saat menangani sebuah kasus dari pada menggantikan kewajiban Arthur sebagai pemimpin OSIS sih.
Anggota ketiga dari eksekutif OSIS adalah Elizabeta Héderváry, sang sekretaris. Dialah yang merapikan seluruh data yang ada di ruang OSIS. Jika Arthur membutuhkan data mengenai surat dan lain sebagainya, Elizabeta lah yang akan memberikannya.
Anggota yang keempat yaitu Kiku Honda, sang bendahara. Semua hal yang berhubungan dengan keuangan OSIS akan ditanganinya. Tapi, karena ketelatenan dan kerja kerasnya, Arthur lebih suka menjadikan Kiku sebagai tangan kanannya dibanding Alfred. Selain itu, Kiku yang cekatan membuat Arthur lebih nyaman bersamanya.
Sementara anggota eksekutif OSIS kelima inilah yang menjadi rahasia. Dia ini dipilih langsung oleh kepala sekolah. Tak ada yang tahu siapa dia, termasuk Arthur. Bisa dibilang juga dia anggota yang tersembunyi. Jika Arthur adalah tameng utama, maka anggota ke-5 ini adalah pedangnya. Dia bisa berasal dari tingkat berapa saja, siapa saja, dan yang pasti dia adalah siswa disini. Dia bisa dibilang intel pribadi OSIS dan kepala sekolah. Tak ada yang membatasinya kecuali aturan dari kepala sekolah. Dia langsung berada di bawah naungan kepala sekolah, sama seperti Arthur.
Arthur jadi berpikir, kira - kira siapa orang yang memiliki kemampuan intel sehebat itu sampai bisa dipilih langsung oleh kepala sekolah? Apakah laki - laki? Ataukah justru perempuan? Entahlah. Arthur hanya perlu mencarinya. Hanya ada satu cara membedakan anggota eksekutif OSIS, yaitu dari aksesoris platina yang dikenakannya. Arthur memakai cincin platina dengan ukiran emblem OSIS yang legendaris. Alfred memakai manset telinga dari platina dengan ukiran emblem OSIS juga. Elizabeta sendiri memakai bross platina dengan ukiran emblem OSIS sebagai penada bahwa ia sekretaris OSIS. Sementara itu, Kiku memakai dua buah kancing kerah dari platina yang juga terdapat ukiran emblem OSIS. Dan anggota ke-5 ini... Arthur tak tahu apa yang dikenakannya. Selama ia berada di sekolah ini, belum pernah ia lihat seorang pun menjadi anggota ke-5.
Menurut Francis, aksesoris platina itu sangat langka dan dibuat dengan pesanan khusus untuk menjadi satu - satunya. Sekilas terlihat seperti perak dan emas putih, namun jika diteliti baik - baik akan ketahuan jika itu platina.
Platina, emas putih, dan perak bisa dibedakan dengan mata telanjang. Secara kasat mata, platina memiliki tekstur yang keras, warna putih berkilau dengan sedikit gradasi keabu-abuan, dan tidak memiliki goresan. Sedangkan perak memiliki tekstur yang lebih halus dan warna putih yang lebih cerah. Perak juga mudah berubah warna menjadi putih keabu-abuan atau kehitaman saat teroksidasi. Sementara emas putih memiliki warna yang sedikit kekuningan karena sesungguhnya emas putih adalah emas kuning yang dicampur dengan logam putih seperti nikel dan palladium. Selain itu, emas putih juga lebih ringan dari platina dengan ketahanan kilau yang lebih rendah pula.
Ah, Arthur tak mau ambil pusing dan membiarkannya untuk sementara ini. Lebih baik Arthur belajar untuk kelas berikutnya.
—OOOoooOOO—
NESIA POV
Hh... Akhirnya orang itu pergi juga. Aku pun menyelesaikan makan siangku dengan tenang. Selesai makan, aku membuang bungkusnya ke tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk kelas. Baru saja aku membuang sampah itu, tiba - tiba pintu kelas terbuka dan seseorang menubrukku.
"Ah, gomennasai, Nesia!" Kata Kiku yang ternyata menubrukku.
"It's okay. Tidak apa - apa kok." Kataku setelah dibantu Kiku untuk bangkit.
"Aku buru - buru harus sembunyi! Maaf ya sekali lagi." Kata Kiku yang terlihat panik.
Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan bingung. Tak lama kemudian, masuklah pria bule dengan aksen sengaunya yang belum pernah aku lihat. Walaupun memakai seragam yang sama, entah mengapa terlihat mencolok sekali. Apalagi dengan janggut tipis dan rambut pirang nya yang gondrong. Yah, walau harus aku akui dia sedikit tampan.
Dari warna dasi yang dipakainya, sepertinya dia siswa kelas tiga. Aku tak mau ikut campur dengan urusannya. Lebih baik aku menyingkir. Tapi, ternyata pria aneh itu malah mendekatiku.
"Bonjour belle. Are you new student here? I've never seen you before." Sapa pria itu dengan bahasa Inggris yang aneh karena logat sengaunya.
"Iya, aku memang anak baru. Kanapa? Ada masalah?" Semprotku galak. Aku paling tidak suka pria Eropa yang suka gombal macam dia.
"Oh, jangan terlalu galak. Nanti cantiknya hilang. Perkenalkan, mon nom est Francis Bonnefoy." Kata pria Eropa itu yang mengaku namanya Francis sambil memberikanku setangkai mawar.
"Aku tak butuh gombalanmu. Lagi pula, untuk apa murid kelas 3 Eropa masuk ke kelas 2 Asia?" Kataku semakin galak sambil menolak mawar yang ditawarkannya.
"Oh, astaga! Sepertinya kau benar - benar tak mengenalku. Ah, aku jadi lupa tadi aku kesini untuk apa. Oh, iya, aku mencari Kiku. Kau tahu dimana dia, Belle?" Tanya Francis masih mencoba gombal padaku dengan memanggilku 'cantik'.
"Aku tak melihatnya. Lagi pula, bisa tidak tidak merayuku dengan memanggilku 'belle'? Aku juga punya nama." Kataku berbohong untuk melindungi Kiku yang tadi terlihat ketakutan.
"Oui. Kalau begitu, boleh aku tahu namamu?" Tanya Francis.
"Nesia. Panggil saja Nesia." Jawabku ketus.
"Êtes-vous Indonésien?"
"Ya begitulah. Kenapa?" Kataku yang mengerti maksudnya, tapi tak mampu menjawab pertanyaannya dengan bahasa yang sama.
"Ah, tidak ada apa - apa kok. Ya sudah, kalau begitu. Sampai bertemu lagi, Nesia!" Katanya kemudian pergi sambil melambaikan tangannya dengan anggun.
Astaga! Siapa sih makhluk itu? Apa tidak ada makhluk normal disini selain diriku?! Dasar, semua pria Eropa sama saja! Jika tidak menyebalkan total seperti Arthur, pasti penggoda seperti dia. Atau mungkin bahkan dua - duanya. Agh, menyebalkan!
Kiku keluar dari persembunyiannya dan berterima kasih padaku. Lalu dia menjelaskan padaku bahwa bule tadi adalah mantan ketua OSIS di sekolah ini. Pantas saja dia terlihat angkuh seperti Arthur. Dia mengejar - ngejar Kiku karena ada hal yang ingin dia diskusikan berdua dengan Kiku. Tentu saja Kiku menolak karena setiap dekat Francis, pasti aura - aura yaoi muncul dari diri Francis.
Sudah begitu, kata Kiku, biasanya Francis tidak suka membicarakan hal yang penting. Paling hanya membicarakan bagaimana cara mengganggu Arthur agar marah. Sebagai bawahan yang baik, tentu saja Kiku menolak untuk bersekongkol menggoda Arthur dengan Francis. Aku hanya bisa menyingitkan dahi karena heran mendengar tingkah aneh mantan ketua OSIS itu.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Kiku pun kembali ke tempat duduknya. Sepertinya dia tidak akan keluar kelas lagi untuk sementara waktu ini. Oh, iya, apa aku lupa memberi tahu kalian kalau sebenarnya di pulau ini dilengkapi semacam alat untuk menterjemahkan bahasa ibu masing - masing personifikasi saat mengobrol? Jadi, aku bebas berbicara dalam bahasa Indonesia disini tanpa khawatir tak ada yang mengerti. Yah, kecuali untuk bahasa gaul yang belum masuk ke daftar kamus pusat alat itu.
Memang sih, terkadang ada juga bahasa yang tidak diterjemahkan secara otomatis, tapi biasanya aku mengerti apa yang dibicarakan. Yah, begitulah. Aku sedikit - sedikit paham bahasa lain karena Ayah memaksaku untuk mempelajarinya sejak kecil. Apalagi, kata Ayah, aku seorang personifikasi yang akan menjadi wakil negaraku di dunia saat aku besar nanti. Aku tak begitu paham maksud Ayah, tapi aku hanya bisa menurut dan mengatakan iya untuk semua perintah Ayah.
Akhirnya aku melewati jam - jam terakhir di pelajaran hari ini dengan lebih damai dan normal. Meskipun sebal juga karena banyak sekali pekerjaan rumah yang diberikan kepadaku karena aku anak baru yang harus mengejar ketertinggalan materiku. Nasib - nasib...
Para siswa yang lain segera bangkit dan membereskan barang - barangnya di meja. Sementara diriku masih malas untuk beranjak dari kursiku. Aku ingin bersantai sejenak memandang langit dari jendela kelas. Ah, rasanya aku ingin kehidupanku damai seperti ini terus. Aku pun mencicil sedikit tugas yang tadi diberikan para guru menyebalkan.
Tiba - tiba ada yang menepuk pundakku. Saat aku menoleh, yang ku lihat adalah Feliciano, si bule ceria yang aku kenal pagi ini.
"Yo, Nesia! Kenapa masih disini? Bukankah kelas sudah selesai sejak tadi?" Tanya Feliciano sok akrab. Tapi, aku suka dengan sikap sok akrabnya itu.
"Ah, benar juga. Aku tidak ada kegiatan lain setelah pulang sekolah, maka dari itu aku masih bersantai di kelas sambil mengerjakan tugasku. Kau sendiri?" Kataku mengikuti jejak sok akrabnya Feliciano.
"Aku sedang dalam perjalanan menuju klub. Tadinya aku ingin pergi bersama Kiku karena kami searah, tapi sepertinya dia sudah menghilang duluan..." Kata Feliciano memandang ke arah kursi Kiku yang kini kosong.
"Mungkin dia sedang ada rapat dengan Arthur." Kataku santai.
"Kau kenal Kaicho?" Tanya Feliciano terkejut.
"Ya, begitulah. Ada apa memangnya?" Aku balik bertanya karena bingung.
"Ah, tidak. Hanya sedikit orang yang memanggil Kaicho dengan namanya, terutama nama depannya. Maka dari itu aku tak menyangka Kaicho punya kenalan lain di kelas Asia selain Kiku." Jelas Feliciano.
"Hmm... aku tak tahu juga. Sejak awal aku tak menyangka orang seperti itu ketua OSIS, jadi aku hanya memanggil namanya. Dan lagi, sejak pertama bertemu, dia tidak pernah menyebutkan nama keluarganya." Kataku sambil mengingat - ingat.
"Mungkinkah Kaicho tertarik padamu?" Tebak Feliciano tak masuk akal.
"Ahahaha... itu mustahil, Feliciano! Sudah ah, aku mau membereskan barang - barangku. Kau juga pergilah, nanti terlambat ke klub-mu lho..." Kataku berusaha mengusir halus Feliciano sebelum imajinasi liarnya muncul mengenai diriku dan Arthur.
"Ah, benar juga. Aku duluan kalau begitu. Sampai jumpa, Nesia!"
"Sampai jumpa!"
Aku baru tahu jika tidak semua pria Eropa menyebalkan. Feliciano mungkin salah satu tipe langka dari pria Eropa. Yah, walaupun sedikit aneh sih, tapi pada dasarnya dia baik. Dia menyenangkan dengan caranya sendiri. Ah, iya juga, aku baru ingat. Sebenarnya ada hal yang masih ingin aku tanyakan pada Arthur mengenai sekolah ini. Dia pasti lebih tahu sejarah dan lain sebagainya mengenai sekolah ini. Walau ketus dan dingin, tapi Arthur siap membantuku. Buktinya, dia juga mencari cara untuk menyelamatkan Teh Unti. Nanti saja aku tanyakan. Mungkin sekarang dia sedang sibuk.
Agh, pikiranku jadi kalut karena terlalu banyak hal yang harus aku lakukan. Lebih baik aku bereskan barang - barangku dulu saja. Setelah barang - barangku beres, aku segera menuju lokerku. Ah, berantakan sekali! Kenapa tidak aku rapikan saja tadi. Aku mendengus kesal sambil merapikan lokerku yang lebih parah dari loker siswi manapun karena aku asal menumpuk buku dan barang - barangku saat pergantian pelajaran.
Sepertinya hari ini aku sial sekali. Baru saja aku berpikir begitu, tiba - tiba ada guncangan tak terduga. Awalnya aku kira hanya gempa kecil biasa. Namun, begitu mataku menatap ke arah atap gedung kelas 1, aku terkejut dan hampir kehilangan kesadaranku.
Di atap gedung, sudah berdiri adikku, yang walau menyebalkan tetap saja dia adik tersayangku, Maya Lisa. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai bisa ke sana, tapi tempat itu berbahaya. Secepat mungkin aku berlari melintasi koridor antar gedung dan menuju puncak tertinggi dari gedung kelas 1.
Astaga! Apa yang dipikirkan anak itu? Belang kan sedang tidak bersamanya saat ini, tak ada yang bisa melindunginya. Getaran yang semula aku kira gempa semakin nyata. Tidak, itu bukan gempa. Ada serangan tak terlihat disini. Aku semakin mempercepat langkah kakiku.
Di belakangku ternyata ada yang mengikuti langkahku yang sudah seperti kerasukan, begitu liar dan cepat. Begitu kakiku sampai di depan pintu lantai teratas menuju atap, ternyata pintu itu tertutup dan terkunci. Astaga, apa yang harus aku lakukan? Aku benar - benar panik dan kalut. Aku takut sesuatu yang buruk menimpa Maya.
Tiba - tiba saja pintu di hadapanku hancur. Aku menoleh ke belakang. Ternyata pelaku penghancuran pintu itu adalah Arthur, Kiku, dan seorang lagi yang belum pernah aku lihat. Aku tidak mau ambil pusing dan langsung menerobos menuju atap. Aku begitu terkejut melihat banyak bekas seperti bekas terjatuhnya meteor di atap. Namun, hal yang lebih mengejutkanku, aku melihat Maya sudah tidak bisa menghindar lagi karena terjatuh, sementara sebuah serangan berbentuk bola cahaya berwarna kuning cerah sedang menuju ke arahnya.
"MAYAAA!" Kataku berteriak panik memanggil nama adikku sambil berusaha memasang kekai padanya. Tidak! Aku terlambat!
BOOMMM. Suara ledakan terdengar jelas. Sebuah sihir berhasil menangkal serangan yang akan berakibat fatal pada adikku dan menimbulkan ledakan hebat di langit. Aku segera bergerak mendekati adikku. Tapi, gerakanku dihentikan Kiku dan dia yang mendekati Maya dengan sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik, Kiku sudah berhasil membawa Maya ke sampingku.
"Apa yang kau lakukan diatas sini, bodoh?! Kau mau membuatku mati melihatmu dalam bahaya?" Semprotku pada Maya begitu dia berada di sampingku.
"Maafkan awak, Kak Nesia. Tadi siang awak mendapatkan letter. Isi letter-nya meminta awak kemari selepas balik sekolah." Kata Maya gemetaran.
"Hh... sudahlah. Kau aman bersamaku sekarang. Lain kali, jika ada yang memanggilmu lagi lewat surat atau semacamnya, bilang padaku. Aku yang akan menghadapinya untukmu." Kataku sambil memeluk Maya yang bergetar ketakutan.
"Awak takut, Kak. Takut..."
Maya menangis dalam dekapanku. Hh... anak ini memang penakut walau dia memiliki penjaga seekor harimau. Sudah begitu karena dia yang paling cengeng diantara semua adikku, Ayah memanjakannya secara berlebih. Bahkan, si Singapore yang merupakan adik bungsuku, jauh lebih mandiri dari Maya.
Serangan bola - bola cahaya itu masih terus berlanjut. Dengan cepat aku berusaha membangun kekai terkuat yang bisa aku buat untuk melindungi kami semua dari serangan itu. Arthur dan seorang pria Eropa lain yang tadi ikut bersamanya tampak membaca mantra dalam bahasa yang tidak aku mengerti untuk menghalau serangan itu.
"Kiku, tolong bawa adikku ke tempat yang aman. Akan aku kembalikan mereka ke tempat pengirimnya." Kataku sambil mendelik marah ke arah bola - bola cahaya itu.
"Tapi, Nesia bagaimana denganmu?"
"Jangan pikirkan aku. Sekarang! Bersembunyilah!"
Aku segera maju ke depan melewati Arthur dan pria Eropa di sebelahnya yang sedari tadi melindungi kami. Sebenarnya aku ragu untuk menggunakan ilmu sihir hitam yang aku miliki karena sangat berbahaya. Biasanya aku hanya menggunakan sihir pelindung. Tapi, serangan ini sudah keterlaluan karena melibatkan orang tak bersalah yang tak memiliki ilmu apapun di dalamnya.
Aura gelap menyelimuti atap gedung, suara gemuruh seolah akan hujan menggelegar, dan aku tidak ingat apa - apa lagi. Yang aku tahu, tenagaku aku habiskan untuk mengirimkan kembali serangan itu kepada pemiliknya. Kakiku sudah lemas dan aku terjatuh tak sadarkan diri.
—OOOoooOOO—
ARTHUR POV
Rapat untuk menentukan tema pekan olahraga akan berlangsung kembali. Hh.. aku sudah tidak sanggup lagi jika harus memimpin rapat yang akan penuh perdebatan ini. Bahkan aku sampai lupa jika perutku kosong sejak pagi jika saja Alfred tak menawariku burgernya. Otak memang akan berpikir jauh lebih keras saat perut kosong, tapi bukan berarti aku harus mati kelaparan, kan?
Aku tak menyangka rapat untuk hal seperti ini saja akan memakan waktu yang cukup lama. Padahal tema yang diajukan itu - itu saja. Aku ingin sesuatu yang berbeda dari tahun - tahun sebelumnya. Dan akhirnya aku menghentikan rapat ditengah jalan karena tidak ada ide bangus yang terlontar dari para anggota tidak berguna yang lain.
Well, sebenarnya bisa saja aku meminta ide pada para eksekutif seperti Kiku, Alfred, dan Elizabeta. Tapi, jika aku melakukannya, apa gunanya punya anggota OSIS yang lain? Mereka hanya jadi sebagai pelengkap penderita (?) saja jika tidak aku beri kerjaan seperti ini. Agh, bloody hell! Membuat mood-ku berantakan saja!
"Hei, Arthur!" Sapa seseorang kepadaku. Aku mengalihkan pandangnku dari vending machine ini ke arah sumber suara. Ternyata Lukas.
"Yo, Lukas!" Kataku mengangkat sebelah tanganku, kemudian aku ambil kaleng jus jeruk yang tadi aku beli.
"Sedang apa kau sendirian disini? Tumben sekali." Kata Lukas setelah mendekat padaku.
"Hanya membeli minuman untuk menyegarkan otakku. Rapat tadi benar - benar menghancurkan mood-ku." Kataku lalu berjalan kembali menuju ruang rapat bersama Lukas.
"Oh, begitu. Ah, iya, bagaimana perkembangan mengenai troll-ku? Kau sudah menemukannya?" Tanya Lukas.
"Belum. Tapi, aku menemukan sedikit petunjuk untuk mencarinya. Bersabarlah dulu, aku pasti akan menemukannya." Janjiku.
"Aku percaya padamu. Aku hanya merasa khawatir dengan hilangnya dia. Aku takut ada orang yang mencoba memanfaatkan kekuatannya." Kata Lukas.
"Aku juga begitu. Kekuatan troll-mu terlalu berbahaya jika dikendalikan oleh orang yang salah." Kataku khawatir.
Tiba - tiba aku merasakan gempa kecil. Tidak, ini bukan gempa biasa. Aku segera berlari menuju ruang rapat OSIS dan meminta Alfred menggantikanku sementara Kiku ikut denganku. Ada yang tidak beres disini dan aku yakin kemampuan ninja Kiku akan berguna, setidaknya ia bisa mengevakuasi orang lain yang dalam bahaya.
Lukas sudah menungguku di luar pintu karena ia juga merasakan energi aneh dari gempa tadi. Tiba - tiba mataku menangkap sosok Nesia yang tengah berlari seperti kerasukan menuju gedung kelas 1. Aku memberi isyarat kepada mereka untuk mengikuti Nesia karena sepertinya Nesia lebih tahu tentang hal ini.
Dari awal aku sudah curiga gadis itu tahu sesuatu yang tidak aku ketahui tentang masalah ini. Terutama mengenai aktifitas spiritual yang meningkat belakangan ini. Pasti gadis itu tahu dimana kunci penyelesaiannya. Meskipun sebenarnya aku sungguh tak ingin melibatkannya lebih jauh lagi.
Kami akhirnya sampai di lantai teratas. Tapi, pintunya terkunci. Gadis itu terlihat panik dan kalut. Aku tak tahu apa yang membuatnya kalut seperti itu, tapi aku yakin sesuatu di balik pintu itu adalah sesuatu yang berbahaya. Aku pun menggunakan sihir penghancur untuk menghancurkan pintu itu tanpa pikir panjang. Nesia menoleh menatapku, Kiku, dan Lukas yang berada di belakangnya.
Sepertinya memang sesuatu di balik pintu itu adalah hal yang berbahaya karena tak lama kemudian Nesia menerobos menuju atap dan berteriak histeris memanggil seseorang.
"MAYAAA!" Teriak Nesia panik.
Aku lihat seorang gadis sedang terduduk terjatuh membelakangi kami. Ku lihat Lukas refleks menghalau serangan bola cahaya yang akan mengenai gadis yang terjatuh di hadapan kami. Nesia segera bergerak mendekati gadis itu. Aku memberi isyarat kepada Kiku untuk menghentikannya dan mengevakuasi gadis itu. Kiku mengangguk tanda mengerti dan mencegah Nesia kesana karena terlalu berbahaya.
Setelah gadis itu berada di dekat kami, aku dan Lukas maju untuk menghalau serangan - serangan lainnya yang masih berlangsung. Sial, serangan ini terlalu banyak! Sudah begitu, serangan ini kekuatan sihirnya luar biasa, terlihat dari warna bola cahaya yang menyerang.
Sihir itu tingkat kekuatannya berbeda tergantung dari warna yang dihasilkannya. Sihir terkuat memiliki warna yang paling terang, yaitu pure white. Tapi, ada juga sihir unik yang memiliki kekuatan yang hampir setara dengan pure white, yaitu pure black. Hanya sedikit yang bisa memiliki kedua sihir tersebut. Aku saja yang sudah bertahun - tahun mempelajari sihir, belum bisa mengendalikan kekuatanku untuk mencapai pure white dan pure black.
Gawat, kalau begini terus tenagaku akan terkuras sia - sia. Lukas juga nampaknya sudah mulai lelah karena dibutuhkan minimal kekuatan yang sama untuk menghalau sihir dengan warna kuning cerah ini. Tiba - tiba terdengar teriakan Nesia untuk bersembunyi sekarang.
Nesia menerobos kedepan melewatiku dan Lukas. Baru saja tanganku hendak menariknya, sebuah kekuatan besar muncul. Ini... pure black! Tapi... kok berbeda dari yang pernah aku tahu? Setahuku pure black akan berbentuk bola energi besar. Tapi ini... seperti asap hitam yang memenuhi atap. Aku dan Lukas saling menatap karena kami berdua tahu kekuatan ini sangatlah besar. Lalu, tiba - tiba saja asap itu tertarik ke langit dan Nesia jatuh pingsan.
Aku segera menahan tubuhnya sebelum kepalanya membentur beton atap. Tubuhnya dingin dan pucat seolah seluruh darahnya habis terkuras keluar dari tubuhnya. Aku segera membopongnya turun menuju asrama. Kali ini aku memakai wewenangku sebagai ketua OSIS untuk melanggar peraturan dalam kondisi darurat.
Ya, di sekolah ini memang ada peraturan untuk tak memasuki wilayah asrama lawan jenisnya. Tapi, untuk kondisi darurat seperti ini, aku dan para eksekutif organisasi yang lain memiliki hak istimewa. Kiku mengikutiku bersama gadis yang tadi kami selamatkan, sementara Lukas membersihkan sisa kekacauan tadi bersama anggota magic club yang lain setelah aku memintanya begitu kami sampai di lantai dua gedung kelas satu.
"Lukas, bereskan kekacauan tadi. Aku akan membawanya ke asrama. Kiku panggil Perawat Flor dan Elizabeta. Setelah ini aku minta rapat darurat dengan Dewan Keamanan." Kataku memberi instruksi sambil terus berjalan cepat menuju asrama wanita.
"Baik." Kata Lukas dan Kiku bersamaan. Sementara gadis tadi masih mengikutiku sambil terisak.
"Kamarnya di lantai berapa? Nomor berapa?" Kataku bertanya begitu kakiku memasuki lingkungan asrama wanita.
"Bilik Kak Nesia nomor 70A di lantai 2." Kata gadis itu terisak. Oh, ternyata dia adiknya yang ikut masuk ke sini.
Aku mempererat dekapanku saat membopongnya menaiki tangga menuju lantai 2. Ternyata kurcaci kecil ini cukup berat juga jika terlalu lama aku gendong. Begitu sampai di depan kamarnya, aku lupa satu masalah. Aku tak memiliki kunci kamarnya dan aku tak tahu dimana dia menyimpannya.
"Agh, bloody hell! Aku lupa kalau aku tak memegang kuncinya!" Kataku mengumpat di depan kamar Nesia.
"Kak Nesia tak pernah membawa kunci biliknya. Dia mesti meletakkannya di sekitar sini." Kata gadis tadi sambil mencari - cari di bawah karpet dan pot bunga.
"Ah, ada! Sekejap, biar saya buka pintunya." Kata gadis itu setelah mencari di bawah pot bunga anggrek.
Aku menunggu sambil tetap membopong Nesia yang kian pucat. Begitu sistem keamanan terbuka, well di asrama ini dilengkapi 3 sistem keamanan, yaitu kunci, kode angka, dan sandi khusus yang hanya diketahui sang pemilik kamar kecuali si pemilik tidak memasangnya seperti Nesia, kami masuk ke dalam. Kamarnya tak berbeda dengan kamarku yang tidak dipenuhi barang - barang pribadi. Aneh sekali, biasanya wanita senang memajang barang - barang kesayangannya agar merasa seperti di rumah.
Setelah menidurkan Nesia di tempat tidurnya, aku segera mengambil air panas dari dispenser dan mengompresnya dengan air hangat menggunakan botol penghangat atau biasa disebut buli air panas. Gadis itu terus menggenggam tangan Nesia. Suhu tubuhnya belum juga kembali. Aku tak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa memberikan pesan singkat pada Kiku untuk segera datang ke kamar Nesia dan memberi tahunya nomor kamarnya.
Kiku segera datang bersama Elizabeta dan Perawat Flor. Aku membukakan pintu kamar Nesia untuk mereka dan membiarkan mereka masuk. Setelah aku jelaskan kondisi Nesia yang suhu tubuhnya menurun, aku keluar bersama Kiku. Kami segera pergi sebelum banyak penghuni yang melihat kami masuk ke asrama wanita.
"Terima kasih telah menolong kami berdua." Kata adik Nesia yang entah tadi siapa namanya saat mengantarku dan Kiku keluar dari kamar Nesia.
"Sama - sama." Kataku datar dan langsung pergi.
Bisa heboh jika ada siswi yang melihat kami disini. Apalagi murid Asia. Mereka terkenal suka gossip dan dengan mudahnya menyebarkan gossip itu ke seantero sekolah. Well, sebenarnya para siswi Eropa juga suka bergossip, tapi setahuku hanya untuk kalangan mereka sendiri. Oh, sepertinya memang para wanita suka bergossip. Itulah yang membuatku enggan memasukkan wanita ke dalam tim-ku. Tapi, sepertinya Elizabeta masuk kedalam pengecualian. Dia lebih mirip pria dibandingkan wanita, kecuali untuk fisiknya yang memang 100% wanita.
Aku segera membuka pintu ruang OSIS dan mendapati Alfred, Ludwig, dan Willem sudah disana. Kiku yang berada di belakangku segera mengunci pintu yang tadi aku buka dan dimulailah rapat ini.
"Aku ingin meminta penjagaan terkuat malam ini. Sepertinya ada hal berbahaya yang sedang mengintai kita. Tadi, siswi dari kelas Asia yang hampir menjadi korban. Aku juga akan meminta bantuan magic club untuk menemani kalian." Kataku memulai rapat ini tanpa basa - basi.
"Apa ini ada kaitannya dengan kasus itu?" Tanya Ludwig.
"Kemungkinan besar ada. Untuk detailnya akan aku jelaskan besok. Aku minta seluruh kegiatan hari ini ditiadakan dan seluruh siswa tidak ada yang keluar dari asrama sampai pagi." Jawabku.
"Lalu, bagaimana dengan siswi tadi?" Tanya Alfred.
"Dia baik - baik saja sekarang di asrama wanita bersama Elizabeta." Jawabku berusaha menutupi jika korbannya adalah adik dari Nesia.
"Oh, iya, kenapa kami harus berpatroli bersama magic club?" Tanya Willem. Ah, mereka ini banyak bertanya.
"Karena serangan itu bukan serangan fisik seperti pistol dan sejenisnya. Kau tak bisa menahan serangan seperti itu sendirian bukan, Tuan Willem Van Govert?" Kataku mulai lelah dengan pertanyaan mereka.
"Huh, sejak kapan sekolah ini jadi sekolah sihir?" Komentar Ludwig pedas.
"Tapi, serangan itu nyata. Kita hidup bukan di lingkungan yang hanya ada hal konkret seperti ilmu pengetahuan." Kataku menanggapinya.
"Ya, Kaicho benar. Aku pun awalnya tak percaya dengan semua ini sampai akhirnya merasakan sendiri kekuatan serangan itu." Kata Kiku.
"Baiklah, aku akan meningkatkan status situasi saat ini ke tingkat waspada. Aku akan memastikan tak akan ada yang keluar sampai besok pagi." Kata Ludwig akhirnya.
"Terima kasih. Untuk sementara aku dan Lukas yang akan berjaga patroli. Kiku, kau dan Alfred bantu kami sementara untuk menjaga asrama wanita, hanya untuk wilayah luar gedung. Sisanya aku serahkan padamu dan Dewan Keamanan, Ludwig." Kataku mengakhiri rapat singkat ini.
"Besok rapat lagi jam berapa?" Tanya Willem sebelum kami benar - benar bubar.
"Jam pelajaran kedua. Aku ada urusan sedikit besok pagi - pagi." Kataku lalu membubarkan semuanya.
Aku segera menemui Lukas dan memberitahunya hasil keputusan mendadakku tadi. Lukas hanya mengangguk dan meminta anggota lainnya untuk berkumpul. Walau aku menyebutkan anggota, sesungguhnya anggota utama dari klub ini hanya aku, Lukas Bondevik, dan Vladimir Popescu. Well, klub ini baru menambah anggotanya karena awal tahun ajaran baru kemarin sih. Tapi, mereka masih pemula dalam menggunakan sihir dan lagi... wajahnya tidak meyakinkan.
Untuk malam ini, aku akan menggunakan salah satu warisan dari leluhurku. Sejujurnya, aku sudah tak ingin menggunakan sihir hitam seperti ini, tapi aku harus melakukannya untuk melindungi semuanya karena itulah tanggung jawabku sebagai ketua OSIS. Aku melirik atap yang sudah hampir rampung dibereskan. Sepertinya Vlad dan Lukas berhasil mengajarkan sihir pemulihan dengan baik.
Aku pun kembali ke kamarku di asrama untuk bersiap melakukan patroli malam ini. Sebenarnya aku hanya mandi dan makan malam sih. Ah, benar juga. Apa kabar dengan Nesia? Apa dia baik - baik saja? Walaupun galak, gadis itu membuatku rindu. Astaga, aku pasti sudah gila merindukan kurcaci bermulut pedas itu! Aku pun segera keluar kamar dan memulai patroliku dengan Lukas.
—OOOoooOOO—
NORMAL POV
Mata Nesia perlahan terbuka. Dilihatnya langit - langit kamarnya dengan perasaan bingung. 'Sejak kapan aku ada disini? Bagaimana bisa aku di kamarku?' pikir Nesia bingung. Nesia melihat ke sampingnya dan mendapati adiknya tertidur dengan posisi duduk di kursi samping tempat tidur. Lalu, pandangan Nesia beralih ke tubuhnya yang berbalut beberapa lapis selimut.
"Aw!" Jerit Nesia yang hendak menggerakkan tangan kanannya yang terhubung dengan infus berisi saline hangat.
Nesia benar - benar tak mengerti apa yang terjadi. Dia mencoba untuk duduk dan menyingkirkan tumpukan selimut yang menutupi tubuhnya. Nesia juga menghentikan laju infusnya lalu mencabutnya perlahan. Nesia meringis perih ketika jarum infus terlepas dari kulitnya lalu menahan bekas lukanya dengan perban yang tadi melilit di punggung tangannya yang menahan jarum infusnya. Di lihatnya jam di dinding kamar. 'Ah, sudah malam rupanya. Pantas aku merasa lapar', keluh Nesia.
"Maya, bangun!" Kata Nesia sambil mengguncang tubuh adiknya.
"Ung— ah, Kak Nesia sudah bangun." Kata Maya sambil mengucek matanya.
"Iya. Hei, ngomong - ngomong bagaimana aku bisa ada di kamarku?" Tanya Nesia bingung.
"Tadi Kaicho yang menggendong Kak Nesia sampai disini. Berterima kasihlah padanya esok." Jawab Maya masih setengah sadar.
"WHAT?! Si bule menyebalkan beralis tebal itu yang membawaku?! Aduh, aku harus mandi kembang 7 rupa malam ini." Seru Nesia terkejut.
"Jangan macam itu lah, Kak. Kaicho sudah sangat berbaik hati menyelamatkan kita." Kata Maya.
"Yaa... yaa.. terserah kau lah. Oh, ya, bagaimana kita bisa masuk? Kan pintunya aku kunci." Kata Nesia masih tak mengerti.
"Ish, Kak Nesia ini. Kakak kan tak pernah bawa kunci bilik. Mesti Kakak letakkan dekat pintu. Lagi pula, sandi angka Kak Nesia senang lah diterka. Jika tak angka beraturan, mesti tanggal hari jadi." Kata Maya santai setelah akhirnya berhasil mengumpulkan kesadarannya.
"Huh, tak ku sangka kau tahu tentang diriku sedetail itu." Komentar Nesia dengan nada ketus. "Lalu, si bule menyebalkan itu tahu kode angka milikku?" Lanjut Nesia.
"Tak, Kaicho tak tahu. Ada apa sebenarnya antara Kak Nesia dengan Kaicho? Nampak macam kucing berjumpa anjing saja, jadi garang." Kata Maya heran dengan sikap Nesia yang tidak ada manis - manisnya kepada sang ketua OSIS.
"Urusan pribadi. Anak kecil tidak perlu tahu. Sudah, sana kembali ke kamarmu sendiri!" Kata Nesia mengusir sang adik yang mulai menggodanya.
"Ish, Kak Nesia kejam sangat. Awak sudah tunggu Kakak sampai sadar, malah awak Kakak usir. Ya sudah, awak keluar sekarang. Oh, iya, jangan lupa berterima kasih pada Kaicho dan kawan - kawannya, ya. Pada Perawat Flor dan Kak Elizabeta pula!" Kata Maya akhirnya keluar dari kamar Nesia dan pergi menuju kamarnya sendiri di lantai 1.
"Iya, bawel!" Balas Nesia lalu menutup rapat pintu kamarnya.
Nesia mendengus kesal. 'Aku benar - benar harus mandi kembang 7 rupa', pikirnya kesal sambil bersiap mandi. Karena tubuhnya masih sedikit kedinginan, Nesia memutuskan untuk menggunakan air hangat. 'Untung aja aku masih nyimpen nih kembang banyak', ujar Nesia dalam hati sambil mengambil persediaan kembang 7 rupanya.
Perlahan, Nesia memasuki bathup yang berisi air hangat dan kembang 7 rupa. Rasa hangat dan nyaman langsung menjalari tubuhnya yang memang sebenarnya hanya kelelahan. Begitulah efek samping jika Nesia menggunakan sihir hitamnya. Tenaganya akan terkuras dan Nesia kehilangan kesadarannya. Tak jarang pula akan menimbulkan hypothermia seperti tadi.
Sebenarnya, Nesia memikirkan juga apa kata adiknya tadi. Arthur memang sudah sangat baik padanya hari ini. Selain sudah membantunya mencari petunjuk mengenai Teh Unti, Arthur juga sudah menyelamatkan nyawa Maya dan mau bersusah payah membawanya kemari. Ah, Nesia jadi sedikit merasa bersalah tadi siang sudah menginjak kakinya dengan keras. 'Habis, bule alis tebal itu sih. Ngapain coba tidak melepaskanku dari pelukannya?' bela Nesia dalam hati untuk membenarkan tindakan kasarnya tadi siang.
Setelah dirasa cukup bersih, Nesia segera mengganti bajunya dengan baju tidur yang sama sekali tidak feminin. Nesia hanya menggunakan kaus dan celana panjang yang membuatnya terlihat sama sekali tidak seperti perempuan kebanyakan. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Nesia mencari sesuatu untuk ia makan malam ini. Tiba - tiba terdengar bunyi bel kamar ditekan.
'Siapa yang bertamu malam - malam begini? Rasanya aku tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga kamarku. Ah, pasti si Malay itu ketinggalan sesuatu disini. Dasar ceroboh!' pikir Nesia lalu membuka pintu kamarnya. Nesia sangat terkejut begitu mendapati Kiku dan Alfred yang ada di balik pintu kamarnya. 'Bukankah ini zona bebas laki - laki?!' pikir Nesia benar - benar terkejut.
"Ano... etho... aku hanya ingin memastikan keadaanmu." Kata Kiku gugup.
"Kau tak apa, Nesia? Tadi Kiku bercerita kau pingsan." Tanya Alfred khawatir.
"Aku baik - baik saja. Yang lebih penting dari itu, kenapa kalian bisa ada disini malam - malam? Ini kan kawasan terlarang bagi kalian." Kata Nesia terkejut.
"Kami sedang tugas jaga malam untuk wilayah ini. Well, walaupun hanya untuk malam ini saja. Ah, harusnya tadi sore kau memanggilku untuk membantumu. Aku kan hero untuk semua orang, jadi aku pasti bisa menyelamatkanmu." Kata Alfred santai yang perkataannya tidak digubris Nesi maupun Kiku.
"Kau sudah makan?" Tanya Kiku terlihat khawatir.
"Belum. Ini aku sedang mencari makanan di dalam." Jawab Nesia jujur.
"Ini, aku bawakan untukmu." Kata Kiku sambil menyerahkan bungkusan berisi kotak bekal.
"Ah, terima kasih. Kau memang sahabatku yang paling pengertian." Kata Nesia senang sambil mengambil bungkusan itu dari tangan Kiku.
"Kami tidak dipersilahkan masuk ke dalam nih?" Tanya Alfred yang kemudian diiringi cubitan dari Kiku.
"Tidak! Laki - laki tidak boleh masuk kamar seorang gadis. Apalagi malam - malam begini." Tolak Nesia mentah - mentah.
"Ah, Alfred hanya bercanda. Lagi pula kami bertugas di luar gedung. Iya, kan?" Kata Kiku sambil tersenyum menatap Alfred. Sementara yang ditatap terlihat pucat ketakutan dan hanya bisa mengangguk.
"Meski kau Fuku Kaicho, tapi protokol peraturan, keamanan, dan perintah Kaicho lebih mutlak dijalankan." Bisik Kiku dengan nada mengancam di telinga Alfred.
"Kalau begitu, kami bertugas lagi. Selamat beristirahat, Nesia!" Kata Alfred hendak kabur, tapi kerah belakangnya ditahan Kiku.
"Tunggu aku dong, Fuku Kaicho. Hehehehe... Kami pamit. Selamat beristirahat, Nesia." Kata Kiku membungkuk hormat sebelum pergi.
Nesia hanya bisa tertawa kecil sambil melambaikan tangannya. Sahabatnya yang satu itu memang seperti itu. Terlalu taat pada peraturan dan perintah atasan. Bahkan dia bisa jadi seorang yandere jika dibutuhkan. Hal unik dari diri Kiku yang seperti itulah yang membuat Nesia merasa nyaman bersahabat dengannya.
Ah, kalau dipikir - pikir lagi, Nesia tidak banyak memiliki teman dekat karena sifatnya yang galak dan terlalu overprotective. Yah, mungkin sedikit orang yang sadar sifat Nesia yang sebetulnya lembut dan penuh perhatian sejak rasa sakit di hatinya muncul karena bule berkepala tulip yang lolicon itu. Nesia jadi sangat berhati - hati, kalau ingin menyebutnya dengan kata yang halus, terhadap orang - orang baru, terutama dari kalangan orang Eropa. Kiku saja butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan kepercayaan Nesia dan bertahan menjadi sahabatnya hingga kini.
Nesia segera menutup kembali pintu kamarnya dan membuka bungkusan yang tadi Kiku berikan. Isinya bentou dengan lauk berbagai olahan sayur dan ikan. Nesia tersenyum tipis melihatnya. 'Dia ingat kalau aku tidak bisa sembarangan makan daging. Terima kasih, Kiku', ucap Nesia dalam hati. Nesia pun memakan bentou itu dengan lahap. Selain karena rasanya yang lumayan enak, Nesia juga benar - benar kelaparan.
Selesai makan, Nesia mencuci kotak bekal itu dan mulai membuka tugasnya lagi. Malam itu dia habiskan dengan mengerjakan tugasnya. Sementara itu, Arthur sedang berkeliling di sekitar asrama wanita sendirian karena ia memutuskan untuk membagi wilayah patroli dengan Lukas karena luasnya daerah yang harus dijaganya. Matanya terpaku ke arah jendela kamar Nesia yang tertutup dengan lampu menyala. 'Gadis itu masih terjaga semalam ini?' pikir Arthur bingung karena jam di tangannya menunjukkan pukul 12 malam.
Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Arthur. Dari Francis.
"Sepertinya aku tahu siapa anggota ke-5 itu. Dia gadis yang sangat manis." Tulis Francis.
Arthur mengangkat sebelah alis tebalnya yang mirip ulat bulu itu. Dia heran bagaimana bisa si Francis mesum itu bisa mengetahuinya. Arthur tahu jika si kodok itu suka mempermainkannya, tapi ia yakin Francis tidak sedang mempermainkannya. Arthur pun membalas pesan dari musuh bebuyutan sekaligus orang yang paling mengerti dirinya itu.
"Siapa? Siswa kelas mana?" Tulis Arthur penasaran.
"Kau akan tahu segera, Arthie. Dia dari kelas 2 kok. Oh, aku harap akan bertemu dengannya lagi. Dia benar - benar manis..." Tulis Francis. Entah mengapa Arthur jadi bisa membayangkan nada suara menyebalkan dari Francis.
Arthur yang tidak puas dengan jawaban Francis memutuskan untuk menelepon pria itu tengah malam begini.
"Cepat beritahu aku, bloody hell!" Semprot Arthur begitu teleponnya diangkat.
"Oh, jangan marah - marah begitu tengah malam begini, Arthie... tidak baik mengganggu tetangga dengan suara kerasmu." Kata Francis santai menanggapi semprotan Arthur.
"Aku sedang patroli di luar. Dan berhentilah memanggilku 'Arthie', git! Cepat beri tahu aku siapa dia!" Arthur semakin jengkel dengan sikap santai dari Francis.
"Honhonhon... kau benar - benar penasaran rupanya. Aku sendiri belum memastikannya, tapi aku yakin dialah sang intel itu." Kata Francis penuh percaya diri.
"Jadi kau hanya menduganya saja?! Agh, membuang waktu percuma, bloody hell!" Kata Arthur kesal dan langsung menutup teleponnya.
Arthur pun kembali melirik ke jendela kamar Nesia yang lampunya masih menyala terang sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu dengan perasaan dongkol. Arthur tak habis pikir dengan makhluk yang satu itu. Ada saja ide bodohnya untuk membuat Arthur kesal. Dan yang lebih bodoh lagi, sering kali ide itu berhasil seperti saat ini.
Dan beruntunglah malam itu tidak ada lagi serangan seperti tadi sore. Malam itu pun berlangsung dengan damai tanpa ada kejadian mengejutkan lagi. Tapi, Nesia dan Arthur tak menyangka jika kedamaian itu tak akan berlangsung lama karena sebuah kejutan menanti mereka di hari berikutnya.
—OOOoooOOO—
Catatan Author:
1. Info mengenai perbedaan perak, emas putih, dan platina(um) ada di mbah gugel.
2. *Est-ce pas ma chéri?: isn't it Darling? (Iya, kan sayang?)
*Bonjour belle: Hello beauty (Hai cantik)
*Mon nom est...: My name is... (Nama saya...)
*Êtes-vous Indonésien?: Are you Indonesian? (Kamu orang Indonesia?)
3. Kalo istilah dalam bahasa Jepang uda pada tau yak, Author ga usah ngejelasin lagi. :P
4. Cerita dan berita mengenai sihir ini Author dapet referensinya dari manga yang judulnya Author lupa karena baca online waktu itu asal baca karena sinopsis ceritanya menarik tanpa liat sama ngapalin judulnya. Yang diinget cuman genre-nya doang, yaitu Josei dan itu manga lagi jadi urutan ke 3 hot list waktu itu. Hehehe...
5. Kalo ceritanya agak aneh harap maklum karena sesungguhnya cerita ini baru kepikiran setelah diskusi masalah hubungan Nesia dan Arthur kalo di baikin dalam sehari akan aneh sama temen Author. Jadi, bisa dibilang sebenernya ini bukan chapter 2, tapi chapter 1.5... Hehehe...
Udah, ah catatannya. Uda mirip Pancasila aja nih sampe 5. Kalo ada yg kelewat bisa tanyain langsung aja ya pake PM. Yg uda REVIEW, FOLLOW, sama FAVORITE pokoknya TENGKYUUUUU... Author akan berusaha membuat yg lebih baik lagi chapter depan. BHAY!
