Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

a/n : Terima kasih banyak buat yang masih menyimak dan mengikuti kisah ini. Thank you juga buat yang nge review, Saya sangat menghargai feed back anda. Chapter kali ini author sedang gak ada ide.

arihara : Thanks buat review nya, Semoga masih lanjut membaca fic ini

Piggypow : Makasih masukannya, Semoga chapter kali ini cukup menghiburmu.

.

Warning : Mature content, Typoo, OOC

Chapter 8:

Calon Menantu?

.

.

Inoichi Yamanaka sangat gembira melihat putrinya selamat. Kemarin dia menonton acara itu live di TV lalu mendadak tayanganya menghilang. Kemudia dia mendengar tempat itu diserang terrorist. Semalaman dia berusaha menghubungi putrinya, Choji, dan Shikamaru. Keluarga Nara dan Akimichi juga panik bukan main karena tahu putra mereka tengah bersama Ino.

Lalu mereka mendengar para terorist telah dilumpuhkan dan segera melucur ke apartement Ino tapi rumah itu kosong. Shikamaru menelpon mereka dan memberitahu kalau Ino disandera, Istrinya langsung pingsan dan hatinya hancur. Mereka tidak tidur semalaman memikirkan nasib putri semata wayangnya.

Dan siang ini Shikamaru mengusulkan untuk mencoba mencari Ino di rumah Sai sebab polisi tidak memberikan mereka info apa-apa. Inoichi tidak pernah mendengar putrinya menyebut nama Sai sebelumnya. Apalagi bercerita tinggal serumah dengan pria. Baru kemarin dia terkejut mendengar pernyataan langsung Ino di tv Ino soal pria misterius yang dikencaninya ternyata Sang pelukis terkenal.

"Ino kau selamat, Aku dan Ibu mu panik bukan main mendengar kau disandra terrorist itu"

"Aku tidak apa-apa ayah" Ino memeluk Inoichi. "Sai menyelamatkanku"

Inoichi mengarahkan pandangannya pada pria berambut hitam yang berdiri di pintu tanpa baju, Dia ingat melihat pria itu megandeng putrinya semalam. Pria yang putrinya cintai. Mendengar pria itu menyelamatkan Ino, Sang ayah langsung memberi nilai plus untuk pria yang belum dia kenal itu.

"Oh jadi ini calon menantu ku?, Mengapa kau tidak pernah bercerita tentang pacar mu yang ini Ino?"

Sai tidak tahu harus berkata apa, Dia hanya melempar senyum pada ayah wanita berambut pirang itu.

Wajah Ino merona, Sepertinya dia harus menjelaskan semuanya pada sang ayah sebelum kesalah pahaman ini jadi lebih parah.

"Shika, Ayah bagaimana kalau kita duduk di ruang tamu. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan"

Shikamaru dan Inoichi mengikuti wanita pirang itu, sementara Sai menutup pintu dan berjalan dengan pincang ke kamar tidurnya mencari pakian.

Inoichi mengamati putrinya dengan seksama, ada sedikit luka dan lebam. Tidak ada hal yang serius tapi ada hal yang menganggu pria itu. Mengapa kulit di bagian leher putrinya merah-merah.

Shikamaru yang juga mengamati penampilan Ino menebak sahabatnya habis berpanas-panas ria dengan sang tuan rumah. Sekarang dia menghawatirkan reaksi Inoichi, Mendengar gossip putrinya macam-macam tentu akan berbeda dengan menangkap basah Ino melakukan macam-macam.

Inoichi berdeham…"Ino, Jadi kau sudah sibuk membuatkan ayah cucu ya, ayah sangat gembira dari dulu ayah ingin menimang-nimang cucu. tapi sebaiknya kalian menikah secepatnya" Kepala keluarga Yamanka itu tersenyum lebar, Senang membayangkan akan segera menimang-nimang cucu dari anak satu-satunya.

Mulut Shikamaru menganga mendengar reaksi Inoichi, Dia pikir Inoichi akan murka mengetahui langsung putri kecil nya yang manis dan innocent sudah tidak lagi innocent

"Ayah, Kau salah paham" Ino bingung bagaimana harus menjelaskan pada sang ayah. Lalu Sai muncul bergabung dengan para tamunya.

Melihat pria itu duduk Inoichi langsung mengintrograsi Sai "Anak muda kapan kau akan menikahi putriku?"

Sai bingung dengan pertanyaan itu, Dia memandang Ino dengan tanda tanya besar, Ino hanya mengeleng dan Sai tidak paham isyarat wanita itu. Melihat wajah inoichi yang sepertinya tidak sabar menanti jawaban Sai berkata apa adanya " Saya tidak berencana menikahi Ino" Sai tidak ingat wanita itu pernah membahas soal pura-pura menikah.

Jawaban Sai membuat ketiga orang dalam ruangan itu bagaikan tersambar petir. Terutama ayah Ino. Aura kemarahan mulai terpancar dari pria berambut pirang itu, "Jadi kau hanya bermain-main dengan putriku?. Pria macam apa kau? Mengajak putriku tinggal dengan mu, menidurinya dan tidak mau bertanggung jawab. Aku tidak peduli kalau putriku mencintaimu akau akan memberimu pelajaran" Inoichi mencengkram kerah baju Sai mencoba mengintimidasi pria itu. Wajah Sai yang masih tenang walau sedang diintimidasi membuat ayah Ino tambah naik darah.

"Ayah sudah hentikan" Ino melerai mereka "Aku jelaskan semuanya, sekarang duduk dan tenangkan dirimu"

Shikamaru yang dari tadi hanya jadi penonton angkat bicara dia tidak ingin Sai jadi korban "Paman, Ino dan Sai hanya pura-pura pacaran untuk publisitas"

"Apa ini ide mu Shikamaru"

Tidak ingin ikut terkena murka sang kepala keluarga Yamanka Shika segera membela diri "Bukan, Ini ide Ino sendiri, Dia ingin membuat sesuatu yang bombastis dan dramatis"

"Benar Ino?" Dia bertanya pada putrinya.

Ino menganguk

"Lalu kau mengapa setuju dengan permainan putriku?"

"Aku ingin dia menjadi modelku dan syaratnya aku harus menuruti semua kemauannya"

Inoichi menarik nafas panjang. Sepertinya dia melakukan kesalahan karena terlalu memanjakan putrinya dari kecil Ino jadi sering berbuat sesuka hati.

"Apa kau tertarik pada putriku?"

Sai bingung harus menjawab apa, karena dia tidak tahu apa yang dia rasakan untuk Ino "aku tidak tahu"

"Jawab dengan jujur apa kau tidur dengan putriku?"

Sai mengangguk mengingat Ino tiap malam menjajah tempat tidurnya "Setiap malam Ino tidur dikamarku"

"Lalu mengapa kau tidur dengan putriku?"

Sai adalah Sai dia selalu bicara apa adanya tanpa maksud apa-apa "Ino yang memaksa"

Ino merah dari ujung rambut ke ujung kaki karena jawaban Sai. "Arrgh… Sai jawaban macam apa itu dan kau ayah, tidak berhak ikut campur dengan kehidupanku jangan tanya-tanya lagi. Aku sudah dewasa terserah aku mau apa" Teriak wanita pirang itu "Bukankah kau datang kesini untuk memastikan keselamatanku"

"Benar Ino, ayah senang kamu selamat itu yang paling penting dan bila ada apa-apa kau selalu bisa kembali ke rumah, Ibu dan Ayah merindukanmu"

Ino tersenyum "Aku akan segera kembali ke rumah Yamanka dan menjalankan bisnis keluarga, seperti yang kau minta ayah"

Inoichi dari awal tidak setuju anaknya jadi artis, tapi apa daya dia tidak mampu berkata tidak pada putrinya. Pria itu bahagia akhirnya Ino akan meneruskan bisnis Yamanka dari generasi ke generasi.

"Tidak semudah itu Ino, Kau masih harus menyelesaikan kontrak-kontrakmu yang tersisa. Baru kau benar-benar bisa mudur dari bisnis ini"

"Apa kau akan kembali ke apartement mu?" Tanya Inoichi pada putrinya

Wanita pirang itu menggeleng "Aku harus menyelesaikan janjiku dengan Sai"

Lalu Inoichi memandang Sai dengan tajam dan mengancam "Kau jangan pernah menyentuh putriku lagi"

"Sudah ayah, Sudah" Ino mencoba menenangkan sang ayah.

Akhirnya Shikamaru dan Inoichi meningalkan rumah Sai. Ino pun itu pun berjanji akan menemui mereka untuk makan siang di rumah Keluarga besar Yamanka Besok.

.

.

"Shikamaru apa pendapatmu tentang pria itu?" Inoichi bertanya pada Shikamaru yang tengah menyetir.

"Menurutku dia agak aneh, tapi bisa dipercaya. Paman dia akan melindungi Ino dan dia sudah melakukannya"

"Tapi pria itu tidak akan melindungi Ino dari dirinya sendiri, Kau tahu aku hanya ingin putriku bahagia"

"Biarkan Ino memilih jalan hidupnya sendiri paman, Kita hanya bisa membantu" Ujar pria berambut nanas itu bijak.

.

.

Sai masih memikirkan kemarahan ayah wanita itu dan merasa bersalah. Tidak seharusnya dia terbawa nafsu. Sai mendekati Ino yang tengah berdiri di counter dapur meminum kopinya.

"Sai, Seharusnya kau duduk saja nanti luka mu terbuka lagi, kau kan bisa memanggilku" Ino khawatir dengan luka tembak Sai walau pria itu bilang dia tidak akan apa-apa.

"Gorgous aku minta maaf soal tadi pagi" Sai meraih rambut Ino yang panjang , Merasakan textur lembut helaian pirang dalam gengamannya.

Ino menatap pria itu dengan lembut "Sai tidak perlu minta maaf. Menurutku itu bukan sebuah kesalahan"

"Tapi ayahmu marah"

"Jangan dipikirkan Sai, Ayahku hanya over protective lupakan apa yang dia katakan. Kita berdua sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab dengan pilihan kita"

" Bila kau berkata begitu baiklah. Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?"

Wanita itu menarik Sai mendekat dan menyunggikan senyum sugestif nya "Bagaimana kalau ronde kedua"

"Belum puas ?" Sai balas tersenyum. Kemarahan Inoichi terlupakan seketika.

Wanita berambut pirang itu menggeleng lemah, rona merah bersemu di pipinya

"Hm.. Disini saja, Kamar tidur terlalu jauh" Ucap Sai dan dia mulai menciumi wanita itu.

.

.

Ino terbangun dengan perasaan lebih baik walau badannya pegal-pegal. Dia memandang pria yang sedang tidur pulas disebelahnya Sai pastinya kelelahan. Wanita itu tersenyum sendiri dia membuat Sai berkerja keras. Ino turun dari tempat tidur tanpa suara dan mandi. Dia harus mempersiapkan diri untuk press conference hari ini dan makan siang bersama keluarganya. Dalam dua hari banyak hal yang terjadi pada dirinya. Hingga dia tidak sempat berpikir dan memilah-milah emosinya apa lagi memikirkan rencana masa depan. Ino butuh waktu untuk merenung. Terutama memikirkan perasaanya pada Sang tuan rumah.

Sai memicingkan mata, Silau dengan sinar matahari pagi yang masuk dari celah-celah gorden kamarnya. Dia terbangun sendirian. Wanita itu sepertinya sudah pergi. Bila wangi musim semi tidak tertinggal di kamarnya Sai pasti yakin apa yang terjadi kemarin hanya mimpi belaka. Ia menatap tangannya dengan kemasgyulan. Tangan yang telah dikotori oleh darah telah menyentuh sesuatu yang begitu elok. Sai khawatir bunga yang dia sentuh perlahan-lahan akan mati. Deidara menyandra dan menyakiti Ino karena dia. Bila Ino diasosiasikan dengan dirinya. Wanita itu akan terus-menerus dalam bahaya. Sai tidak yakin akan bisa melindunginya. 'apa aku harus menjauhinya?' sepertinya itu satu-satunya jalan menghindarkan Ino dari hal yang dia tidak inginkan.

Ponselnya berdering. Ino menelponya.

"Sai, aku tidak membangunkanmu kan?"

"Tidak gorgeous aku sudah terbangun dari tadi, ada apa kau pergi pagi-pagi sekali?"

"Maaf tadi kau tertidur lelap jadi aku tidak ingin menganggumu. Hari ini aku ada pers conference dan aku tidak akan pulang Sai. Aku akan menginap di rumah orang tuaku jadi jangan tunggu aku untuk makan malam"

"Baiklah" Sai menutup telpon bangun dari tempat tidur. Walau Kakashi menyarankan dia untuk beristirahat tapi Sai memutuskan untuk berlatih sudah lama dia terlalu santai dengan kehidupan sipilnya.

.

.

"Ah, Akhirnya selesai juga, pertanyaan para wartawan begitu absurd" Ino meregangkan tangannya ke atas, mencoba mengurangi ketegangan yang dialami otot-ototnya pundaknya.

"Jawaban mu lebih absurd lagi, begitu banyak bohongnya" Shikamaru menanggapi, Pria itu tengah membuka sekaleng bir. Pekerjaan ini bener-benar melelahkan mental. Apalagi untuk orang malas seperti dia.

"Tapi masih masuk akal kan…Eh Choji, Shika. Bagaimana kalau kalian ikut aku makan siang bersama di rumah Yamanaka?" Usulnya riang. Bila dia membawa Shika dan Choji sang ayah tidak akan mengintrograsi nya. Ino sayang dengan sang ayah tapi Inoichi terlalu ingin tahu dan ikut campur. Dia selalu lupa putrinya bukan anak-anak lagi

"Tidak Ino, Kami tidak mau menjadi tameng mu" Jawab Choji.

"Ah kalian tidak setia kawan. Apa begini saja persahabatan trio Ino-Shika-Cho?" wanita itu mengerutu.

"Ino, Jangan bawa-bawa persahabatan bila kau dalam masalah. Bila kau merasa menjadi kawan yang baik kau tidak akan membuat ulah yang membuat aku dan Choji kerepotan" Pria berambut nanas itu jengkel dengan tingkah pola Ino yang tidak berubah dari kecil.

.

.

Sakura berjalan mondar-mandir di kamarnya, Sudah dua hari dia mencoba menghubungi Sasuke tapi tidak ada balasan. Bahkan nomer handphonenya sudah tidak aktif lagi dia juga sudah mencari ke rumahnya tapi rumah itu kosong. Wanita itu khawatir tiba-tiba Sasuke menghilang begitu saja setelah insiden di acara penghargaan itu. Apa ini ada hubungannya dengan terrorist Akatsuki itu.

Sakura tanpa sengaja mengetahui aktivitas Sasuke di dunia hitam, Dia sedang membuntuti Sasuke ternyata pria itu tengah bertemu dengan Orochimaru. Semua orang tahu siapa Orochimaru dia adalah anggota dewan terhormat konoha yang juga dirumorkan sebagai pimpinan sindikat mafia. Pria itu selicin ular dan tidak ada satu orang pun yang mampu membuktikan keterlibatannya dan memasukan dia ke penjara.

Dia mendengar Orochimaru meminta Sasuke menyingkirkan beberapa orang untuknya dan sebagai gantinya dia memberi Sasuke informasi tentang akatsuki yang dia curi dari badan intelegent konoha. Dia tidak mendengar banyak karena Sasuke keburu menyadari keberadaanya. Pria itu memintanya tutup mulut dan dia setuju asal Sasuke berkencan dengannya. Hari itu dia mengetahui pria yang dia idolakan ternyata adalah seorang criminal. Tapi bukannya merasa takut dan mundur Sakura malah merasa simpati. Sasuke pasti punya alasan besar melakukan kejahatan hanya untuk mendapatkan informasi tentang sekelompok terrorist. Apa yang sebenarnya Sasuke inginkan dari kelompok akatsuki sampai dia rela menjual jiwanya pada orochimaru.

Sakura teringat Sai, Pria itu mungkin tahu dimana Sasuke. Tapi dia tidak punya kontak dengan sang pelukis itu. 'Ino pasti tahu dimana aku bisa menemukan Sai', Wanita berambut pink itu pun segera mengirimkan pesan pada mantan sahabatnya.

.

.

Ino Yamanaka tiba di rumahnya, Sudah lama dia tidak menginjakan kaki di rumah keluarga besar Yamanaka.

"Ayah, Ibu aku pulang" teriak wanita itu. Kedatangannya disambut pelukan dan air mata oleh ibunya.

"Ino, Ibu senang melihat mu baik-baik saja"

"Aku tidak apa-apa, bu. Jangan Khawatir lagi"

"Ah, Kau datang sendiri? Ku pikir kau akan mengajak tunangan mu itu" Tanya inoichi iseng menganggu putrinya

"Ayah, Jangan mengodaku kau sudah tau kami tidak ada apa-apa"

"Tapi di acara gossip hari ini di beritakan kau bertunangan dan akan menikah dengan Shimura. Aku sakit hati putriku tidak memberitahuku secara langsung"

"Ayolah ayah, Kau tahu itu semua bohong, sudah jangan mengolok-olok aku lagi, Lagipula lelaki macam apa yang nonton acara gosip" Ino cemberut.

"Ayo masuk ke dalam, Makananya sudah siap. Ceritakan pada kami apa yang terjadi. Terutama pria yang bernama Sai Shimura itu" Ibunya mengedipkan mata pada Ino

"Ah Ibu, Jangan ikut-ikutan"

Makan siang berlangsung dengan hangat, Ino senang bisa berkumpul dengan orang tuanya. Dia menceritakan semuanya. Kengerian dan ketakutan yang dia alami. Aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakan dalam mobil. Sampai akhirnya dia diselamatkan oleh pasukan khusus.

.

.

Wanita berambut pirang itu tengah bersantai di teras rumah. Memandangi kebun yang indah. Pikirannya melayang pada sosok pria yang tadi pagi masih tertidur 'Apa Sai baik-baik saja sendirian di rumah?' Ino mengkhawatirkan Sai. Dia masih belum sembuh. Ino heran dengan dirinya sendiri mengapa dia merasa berat hati meningalkan Sai walau untuk semalam. Ino tidak memungkiri dia perduli pada Sai tapi perasaanya tidak jauh-jauh dari simpati pada seorang teman yang sendirian dan sedang terluka 'Bukankah begitu?' Dia mencoba meyakinkan dirinya.

Inoichi melihat putrinya sedang merenung "Ino, Kau memikirkan apa?"

"Banyak hal ayah, apa aku sudah mengambil keputusan yang benar?"

"Bila kau sudah merasa bebanmu terangkat maka itu keputusan terbaik walau belum tentu benar"

Wanita berambut pirang itu menghela nafas, menatap langit senja. Inoichi duduk disebelah putrinya.

"Ino, Ini tentang pria itu ya?, Aku bisa melihat ada ketertarikan di antara kalian. Walau pria itu sepertinya sulit mengekspresikan emosinya. Kau tahu apa yang terjadi dengannya?" Inoichi adalah pria yang pandai menilai karakter. Dia tahu Sai pria yang baik tapi dia melihat bayangan kegelapan dalam diri pria itu dan Inoichi sangat khawatir bila Ino terlalu dekat dengannya. Kegelapan yang sama akan menyelimuti putrinya.

"Tidak banyak ayah, Aku hanya tahu dia anak angkat Danzo Shimura dan dia ternyata anggota pasukan elit konoha. Tapi aku bisa menebak dia banyak mengalami hal-hal buruk"

"Aku tahu putriku punya hati yang lembut tapi ayah benar-benar berharap kau tidak terlibat dengan pria ini Ino, Seseorang yang tanpa emosi bagaikan cangkang kosong. Sebanyak apapun kau mencurahkan cinta dia tidak akan mengerti apalagi bisa membalas perasaanmu. Lagipula dia berbahaya"

"Ayah, Aku tidak jatuh cinta padanya" Wanita itu menegaskan.

"Ya sudah Ino, Ayah akan selalu ada untuk mu" Inoichi mengelus kepala putrinya dengan rasa sayang.

.

.

Malam itu Ino baru mengecek ponselnya. Berharap Sai meninggalkan pesan tapi dia malah melihat pesan dan miscal dari Sakura. Sepertinya wanita berambut pink itu sedang dalam segera dia menghubungi wanita itu.

"Hallo Sakura ada apa?"

"Pig, Kemana saja kau?. Dari tadi aku coba menghubungimu" Nada panik terdengar dari suara Sakura

"Maaf Sakura aku sibuk, Kau tenanglah. Apa yang membuat mu begitu panik"

"Sasuke menghilang" Ino bisa mendengar sahabatnya mulai terisak

"Aku tidak mengerti Sakura, Sasuke menyelamatkanku dari penjahat itu lalu dia mengikuti teman Sai sementara aku ke rumah sakit yang jelas dia masih hidup"

"Sejak hari itu dia tidak ada di rumahnya, ponselnya pun mati. Aku khawatir sekali"

"Sakura kau tenang, Mungkin Sai tahu sesuatu aku akan mencoba menayakannya"

"Terimakasih Ino, Bisa kita bertemu besok?"

"Bailkah jam sepuluh pagi gimana?"

"Ok" dan sekarang dia harus menghubungi Sai.

.

.

Sai baru saja menyelesaikan makan malam. Entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Rumahnya terasa sepi. Sepertinya kehadiran Ino yamakana selama seminggu telah merubah rutinitas hidup yang dijalaninya bertahun-tahun. Hidup dengan orang lain tidak buruk. Selama ini dia tidak menyadari kesendiriannya karena dia tidak tahu hal lain. Lalu wanita itu muncul. Sekarang ketika wanita itu meningalkanya walau hanya sehari dia sudah merasa enggan untuk kembali sendiri. Tapi Sai sadar Ino harus pergi. Bila tidak dia terpaksa harus membuatnya pergi. Hanya itu yang dia bisa lakukan untuk melindungi temannya. Jangan sampai tragedi dengan Shin terulang lagi

Renungan Sai terputus oleh suara ponsel yang berdering.

"Ino?"

"Maaf Sai bila menganggumu tapi ini penting. Apa kau tahu sesuatu tentang Sasuke"

"Tidak Ino. Kakashi membawanya ke markas lalu pria itu pergi setelah pertemuan empat mata mereka"

"Jadi kau juga tidak tahu. Sakura panic karena tidak bisa menghubungi Sasuke dan dia juga tidak ada di rumahnya. Sasuke menghilang" Jelas wanita itu.

Sai berpikir apakah mentornya sudah tahu tentang ini. Bila Sasuke menghilang dia pasti mencari Itachi. Mungkinkah Kakashi memberitahu Uchiha dimana sang kakak berada?.

Sai tidak ingin menceritakan prihal Itachi Uchiha pada siapapun karena itu top secrets konoha."Minta Sakura untuk tidak panik, Aku yakin Uchiha pasti akan kembali setelah menyelesaikan urusannya"

"Terima kasih, Selamat malam Sai"

"Selamat malam gorgous"

Sai pun beranjak ke kamar tidur menatap ranjangnya yang kosong dengan perasaan yang tidak dia pahami. Dia ingin Ino disana bersamanya seperti malam-malam sebelumnya. 'Tidak semua keinginan harus menjadi nyata' Pria itupun merebahkan tubuhnya mencoba untuk tidur.

.

.

"Sakura… " Ino melambaikan tangan pada temannya, Dia melihat dengan jelas kekhawatiran terpancar dari mata hijau Sakura, Wajahnya juga tampak kuyu. Ino tidak menyangka Sakura benar-benar mencintai Sasuke seperti itu.

"Hi Ino, Kau dengar sesuatu" Sakura tersenyum lemah

"Maaf, Aku sudah bicara dengan Sai. Dia juga tidak tahu. Kau benar-benar menyukai Sasuke ya Sakura?"

"Iya Ino, Walaupun dia dingin padaku tapi terkadang dia bisa baik juga. Apa kau masih menyukai Sasuke Ino?"

Wanita pirang itu tertawa rendah "Ah, Aku tidak benar-benar suka pada Sasuke mungkin aku terpesona dengan tampangnya saja"

"jadi kau jatuh cinta pada Sai kalo begitu"

"Ah..Mengapa kalian semua mengira begitu, Aku heran"

"Ino, kau sadar tidak selalu tertarik pada tipe cowok berambut gelap dan mysterius dan chemistry kalian saat acara penghargaan itu tidak bisa bohong"

"Nah, Aku hanya tertarik padanya secara fisik." Lalu wanita pirang itu merubah topic "omong-omong Sasuke menyelamatkanku, Dia membuntuti anggota akatsuki itu bahkan membunuh satu dari mereka. Aku terkejut Sasuke punya kemampuan bertarung dan dia juga punya senjata bukankah itu illegal Sakura. Kau tahu sesuatu?"

" Kau lupa ya. Sasuke pernah belajar di sekolah militer. Jadi benar dia mengejar akatsuki, Aku ingin tahu mengapa dia begitu terobsesi dengan kelompok terrorist itu. Ino, Sasuke juga berkerja untuk Orochimaru dan pria itu yang memberi akses Senjata pada Sasuke"

"Kau tahu dia seperti apa dan masih mencintainya"

"Bila aku memberitahumu Sai Shimura itu juga berbahaya apa kau akan menjauhinya Ino?" Mata hijaunya menatap Ino.

"Apa yang kau tahu tentang Sai?"

"Tidak banyak. Kau ingat Ino, waktu kuliah aku magang di rumah sakit. Sai selalu mejadi pasien disana dan aku pernah merawatnya. Tiap kali dia sembuh tak berselang berapa lama dia akan di rawat lagi. Patah tulang, luka tembak, tertusuk, Malnutrisi. Sepertinya dia terlibat hal-hal berbahaya dan lebih aneh lagi Ino tak seorang pun pernah menjenguknya. Dia selalu sendirian dan hampir tak pernah bicara. Dia menghabiskan waktu untuk melukis. Pandangan matanya selalu kosong. Selama aku disana Sai tidak pernah menunjukan emosi sediktpun aku mencoba mengajaknya bicara terus menerus walau dia tidak pernah menjawab tapi akhirnya dia mengingat namaku"

"Dia masih sama seperti itu Sakura. Dingin dan tidak berperasaan tapi sepertinya dia ingin mencoba mengerti dan terhubung dengan orang lain dan dia melindungiku Sakura"

"Apa yang akan kau lakukan sekarang Ino"

"tidak ada, Aku perduli pada Sai. Aku tidak akan membiarkan dia sendirian. Sai mengatakan padaku Sasuke pasti akan kembali setelah urusannya selesai"

"Itu bila dia selamat Ino. Sepertinya Sai tau apa urusan Sasuke dan dia tidak memberitahu kita. Huff ya sudahlah aku hanya bisa berdoa dan menunggu" ujar wanita itu pasrah

Wanita pirang itu meraih tangan sahabatnya mencoba membesarkan hati Sakura "Sasuke pasti kembali dan aku senang kita berteman lagi setelah sekian lama bermusuhan karena alasan remeh"

"Aku juga senang Ino, Kita berdua sama-sama sudah jadi dewasa"

"Ek.. Jangan ingatkan aku soal jadi dewasa forehead"

"Kenapa? Kau masih suka berfantasi pangeran tampan berkuda putih. Wake up Ino Prince charming itu tidak eksis seharusnya kau tahu soal itu lebih dari aku" Sakura terkekeh-kekeh Ino tidak banyak berubah.

"Kau benar Sakura, Bila aku menunggu prince charming datang aku tidak akan menikah-menikah dan ayah ku akan marah-marah. Dia sudah membicarakan prospek untuk punya cucu"

"Oh, Kita berumur hampir tiga puluh dan masih single. Wajar saja orang tua kita khawatir"

"Sampai kapan kau akan mencintai Sasuke?"

"Aku tidak tahu. Mungkin perasaan itu akan hilang mungkin juga tidak, Kau tidak bisa memilih dan meminta jatuh cinta dengan siapa" Wanita berambut pink itu menarik nafas dan meminum tehnya yang telah dingin "Lalu apa kau akan jatuh cinta pada Sai?" Sakura balik bertanya.

"Aku tidak ingin jatuh cinta padanya. Dia terlalu kompleks"

"Aku juga berpikir begitu awalnya. Sayang sekali bila perasaan itu datang kau tidak bisa mengelak"

"Kau pikir begitu?"

"Iya Ino, Kau bisa membohongi dirimu tapi tidak bisa membohongi hatimu"

.

.

Sai menghabiskan sorenya untuk melukis. Lalu dia memutusakan untuk membaca sambil menunggu Ino pulang. Terdengar Suara mobil dan pintu dibuka.

"Sai, Aku pulang" Teriak wanita itu lantang

"Selamat datang gorgeous" Sai menyambut Ino dengan senyum

"Kuharap kau belum makan, karena aku membeli Chinese food" Lalu Dia membawa semua bungkusan ke dapur dan menyiapkan makan malam mereka. "Dan kau Tuan, Tidak usah berdiri kita makan di sofa saja" Dengan tangkasi Ino membawa piring-piring itu ke ruang duduk dimana Sai berada.

Sai menerima piringnya "Terima kasih gorgeous"

"Apa yang kaulakukan seharian Sai"

"Tidak banyak, Melukis dan Membaca itu saja"

"Aku senang menghabisakan waktu dengan orang tua ku. Sudah lama juga aku tidak berkunjung. Aku juga bertemu Sakura hari ini. Dia benar-benar mencemaskan Sasuke. Sai bisa kau bantu Sakura?" Ino memohon.

"Maaf, Ino…saat ini aku masih non-aktif. Meskipun aku tahu sesuatu aku tidak bisa membocorkannya"

"Aku mengerti Sai" Ino menghabiskan makanannya lalu menatap Sang tuan rumah "Apa kau merindukanku?"

"Rindu? Aku tidak mengerti"

Dalam hati Ino marah-marah 'Pria ini pintar tapi bebal' kemudian dia bertanya lagi "Apa kau merasa ada yang berbeda ketika aku tidak ada?"

"Iya rumah kembali sunyi"

"Oh jadi selama ini kau berangapan aku membuat ribut di rumahmu?" Ino naik pitam.

"Kau memang ribut Ino, tapi aku tidak mengeluh"

Sai selalu merusak mood. Bagimana jatuh cinta dengan pria macam ini. "Sai kau harus mandi dan menganti perbanmu apa kau perlu bantuan?"

"Gorgeous, Kau menawarkan diri membantuku mandi?" Mata pria itu membesar tidak percaya

"Bila kau mau. Tapi mandi saja ya"

"Hm.. mungkin kau akan merubah pikiranmu nanti saat melihatku telanjang" Sai tersenyum menjanjikan sesuatu yang lain.

"Ah, Mesum" Teriak Ino sambil melemparkan bantal pada Sai