Disclaimer : Hidekaz Himaruya
Rating : Insya Allah masih T. Bisa berubah sewaktu - waktu tergantung mood Author.
Warning : Author newbie, jadi banyak TYPO dan aneh. Abal2 dan tidak masuk di akal. Ini percobaan nekad dari author yang baru ngeh dikit tentang hetalia. *ditimpuk pake beton se-truk*
Cerita Sebelumnya:
"Honhonhon... kau benar - benar penasaran rupanya. Aku sendiri belum memastikannya, tapi aku yakin dialah sang intel itu." Kata Francis penuh percaya diri.
"Jadi kau hanya menduganya saja?! Agh, membuang waktu percuma, bloody hell!" Kata Arthur kesal dan langsung menutup teleponnya.
Arthur pun kembali melirik ke jendela kamar Nesia yang lampunya masih menyala terang sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu dengan perasaan dongkol. Arthur tak habis pikir dengan makhluk yang satu itu. Ada saja ide bodohnya untuk membuat Arthur kesal. Dan yang lebih bodoh lagi, sering kali ide itu berhasil seperti saat ini.
Dan beruntunglah malam itu tidak ada lagi serangan seperti tadi sore. Malam itu pun berlangsung dengan damai tanpa ada kejadian mengejutkan lagi. Tapi, Nesia dan Arthur tak menyangka jika kedamaian itu tak akan berlangsung lama karena sebuah kejutan menanti mereka di hari berikutnya.
—OOOoooOOO—
NORMAL POV
Arthur akhirnya menyeret Nesia kedalam ruang OSIS pagi ini ketika jam pelajaran pertama berlangsung. Arthur ingin Nesia menandatangani perjanjian untuk menutup mulutnya atas kasus ini. Memang sih, awalnya Arthur enggan memasukkan Nesia ke daftar orang yang menyelesaikan masalah yang menyangkut kepercayaan siswa terhadap organisasi tertinggi di sekolah ini. Tapi, setelah dipikir lagi dan mendengar saran Nesia untuk mencari pintu tersembunyi itu dan juga Arthur melihat kekuatan sihir Nesia yang tidak biasa, Arthur harus melibatkan Nesia ke dalam kasus ini.
Nesia memberontak sepanjang jalan. Untunglah jam pelajaran telah berlangsung, jadi tak ada yang menatap Arthur dan Nesia yang sedang tarik - menarik ini. Karena tak tahan dengan perlawanan Nesia yang kecil - kecil cabe rawit ini, Arthur membopong Nesia menuju ruang OSIS. Nesia jadi terdiam dan wajahnya memerah karena malu. Jarak antara wajahnya dan Arthur jadi dekat sekali.
Keduanya terdiam tak bicara, bahkan setelah Arthur mendudukkan Nesia di sofa empuk yang terdapat di ruang OSIS. Arthur segera mengambil kertas perjanjian yang sama yang ia paksa untuk Kiku, Alfred, Willem, dan Ludwig menandatanganinya. Untung saja Arthur masih menyimpan salinannya di laci meja pribadinya itu. Bahkan Elizabeta Héderváry sang sekretaris OSIS tak mengetahui mengenai kasus dan perjanjian ini. Dia sibuk mengurusi acara pekan olahraga.
"Tanda tangani surat ini dan aku akan menceritakan semuanya dari awal." Kata Arthur sambil menyerahkan surat perjanjian dan pulpen untuk Nesia.
"Apa - apaan ini?! Kenapa aku harus menandatanganinya?" Tanya Nesia kesal begitu dia dihadapkan dengan surat perjanjian lagi.
"Hanya untuk berjaga - jaga." Kata Arthur santai sambil mengambil cangkir untuk minum teh.
"Kalau aku tidak mau?"
"Yah, sayangnya tidak ada pilihan lain selain menandatanganinya. Kau mau minum apa?" Kata Arthur santai sekali sambil menyeduh Earl Grey kesukaannya.
"Tidak perlu, terima kasih. Hhh... aku muak dengan semua surat perjanjian seperti ini." Gumam Nesia masih kesal.
"Memangnya ada apa dengan surat perjanjian? Toh, surat ini hanya menjamin kau tetap tutup mulut mengenai kasus yang sedang aku tangani ini untuk menjaga nama baik OSIS dan Dewan Keamanan. Ah, ini teh untukmu, maaf tak ada pendampingnya." Kata Arthur sambil membawa dua cangkir berisi teh ke hadapan Nesia.
"Itu dia yang membuatku muak. Aku benci jika harus selalu tutup mulut tentang semua hal. Aku tak pandai berbohong." Kata Nesia lebih tenang karena mencium aroma Earl Grey yang nikmat. Tentu saja Nesia sedang berbohong saat ini karena dia dengan pandainya mengunci rapat tugas rahasianya dari Arthur.
"Kau tidak sendirian menutupinya. Sekarang tanda tangani surat ini!" Perintah Arthur.
Semua perkataan Arthur terdengar mutlak dan harus dijalankan. Nesia yang tak ingin berdebat lebih panjang dengan Arthur menandatangani surat itu tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Nesia kesal, tapi tak banyak yang bisa ia lakukan. Arthur segera menyimpan surat itu kembali ke laci mejanya.
Nesia tak habis pikir niatnya yang datang menemui Arthur untuk berterima kasih atas pertolongannya kemarin sekaligus mencari gadis bernama Elizabeta akan berakhir dengan surat perjanjian konyol seperti ini. Tanpa surat itu juga, Nesia tidak akan berbicara pada siapapun. Tak ada orang yang bisa ia jadikan teman mengobrol tentang hal yang tak pernah dianggap ada itu.
"Bagus. Sekarang akan aku ceritakan asal mula semua kejadian ini." Kata Arthur lalu memberi jeda untuk meresap tehnya dengan nikmat.
"Awal mulanya adalah hilangnya burung kesayangan Gilbert, kakak dari Ludwig, yang ia beri nama Gilbird. Awalnya Gilbert kira Gilbird hanya pergi sebentar untuk jalan - jalan di sekitar sekolah, namun hingga sore hari, Gilbird tak kembali. Lalu, Gilbert melapor pada Ludwig dan memintanya mencari Gilbird. Ludwig sudah mencarinya hingga ke sudut sekolah dan asrama, namun burung kecil itu tak ditemukan. Beberapa minggu setelahnya, giliran troll milik Lukas yang menghilang. Karena hanya aku dan Lukas yang dapat melihatnya, kami mencarinya berdua. Tapi, sama seperti Gilbird, dia tidak ditemukan. Semuanya menghilang tanpa jejak. Awalnya juga aku pikir itu hal sepele karena mereka bosan, jadi pergi jauh. Tapi, kemudian aku menemukan catatan di perpustakaan mengenai hilangnya makhluk astral. Yah, walaupun Gilbird bukan astral, tapi dia telah bersama Gilbert sejak lama. Catatan itu mengatakan bahwa ada upacara gelap untuk mengubah sejarah dunia dengan makhluk - makhluk tersebut. Tentu saja bukan sembarang makhluk yang dibutuhkan. Hanya mereka yang memiliki kedekatan batin dan selalu bersama dengan para personifikasi yang bisa. Dan karena bisa membahayakan semuanya, aku bermaksud untuk menghentikannya tanpa menimbulkan keresahan pada para siswa yang akan berakibat pada lunturnya kepercayaan mereka pada kami, para petinggi OSIS dan Dewan Keamanan." Jelas Arthur.
Nesia hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan Arthur yang terdengar seperti dongeng. Tapi, Nesia tahu itu bukanlah dongeng. Ia juga mendapatkan tugas untuk menyelidiki mengenai orang - orang yang berniat menggunakan upacara serupa. Karena itu, sebelum mereka berhasil, Nesia harus bisa menggagalkan segalanya dan menghapus seluruh data untuk melaksanakan upacara itu.
Karena menyadari tujuan mereka yang sama, Nesia dengan senang hati bersedia membantu Arthur. Tugasnya jadi lebih ringan daripada harus sendirian. Well, tentu saja Nesia tetap tidak akan membocorkan apapun kepada Arthur. Hanya memanfaatkannya.
"Oh, iya, satu hal lagi. Hanya kau, Kiku, dan Ludwig yang aku beritahu detail mengenai data itu. Aku tidak begitu percaya pada Alfred yang mulutnya seperti ember bocor itu meski sudah menandatangani perjanjian." Kata Arthur menambahkan.
"Ah, Alfred memang suka seperti itu. Tapi, dia bisa dipercaya kok." Bela Nesia.
"Aku tahu." Kata Arthur dengan nada lembut.
Untuk pertama kalinya, Nesia tidak merasa Arthur itu menyebalkan. Meski caranya memerintahkan sesuatu membuat siapa saja jengkel menerimanya, tapi Arthur memikirkan hal lain selangkah lebih kedepan dibandingkan siapapun yang pernah Nesia kenal. Yah, sepertinya pengecualian untuk ayahnya sih yang sepertinya sudah bisa menduga sebuah kasus hingga selesai hanya dari cerita mulanya. Ayah Nesia memang selalu bisa menangani kasus hingga ke akarnya hanya dalam waktu singkat. Nesia seolah melihat sosok ayahnya saat muda dalam diri Arthur.
Nesia tersenyum lembut menatap Arthur yang kini meresap kembali tehnya. 'Semoga saja Arthur tidak terjebak karena sikap baiknya itu sendiri, seperti Ayah', ucap Nesia dalam hati. Nesia ikut meresap teh yang sudah Arthur letakkan dihadapannya. Wangi yang menggoda itu membuat Nesia tak tahan ingin mencicipi teh itu.
"Hei, Arthur. Boleh aku melihat data yang kau temukan di perpustakaan itu? Mungkin kita bisa mencari petunjuk dari situ." Kataku setelah meresap teh dalam diam bersama Arthur.
"Boleh. Sebentar, aku ambil dulu dari brankas." Ucap Arthur lalu pergi ke belakang meja pribadinya.
Setelah agak lama menunggu, Nesia menerima beberapa lembar kertas tua yang didalamnya berisi tulisan kuno yang anehnya bisa ia baca.
Pembangkitan Dunia Baru, itu judul yang terdapat dalam tulisan yang Nesia pegang. —bla bla bla— yang harus diselenggarakan saat malam menjadi sempurna seperti siang. —bla bla— terlaksana ketika kekuatan dari 5 makhluk selain manusia bersatu untuk membuka gerbang dimensi. Namun, ke-5 makhluk tersebut harus memiliki sejarah yang sama dengan semuanya, terutama mereka yang memiliki kekuatan sihir terpendam karena tak terlihat. —bla bla bla— ketika kekuatan dari 4 penguasa tertinggi dan 1 pemegang kunci dimensi hadir, gerbang akan terbuka sempurna dan sejarah akan berubah untuk selamanya.
Nesia menyingitkan dahi saat membaca lembaran pertama dari kertas tua tersebut. Lembaran - lembaran berikutnya menjelaskan tata cara upacara tersebut dan beberapa syarat tambahan lainnya. Hanya sedikit kesimpulan yang bisa Nesia ambil.
"Jadi, maksudmu kita hanya punya minimal 7 hari lagi sampai upacara itu dimulai?" Tanya Nesia kepada Arthur.
"Sepertinya begitu. Apalagi menurut sumber informasi di luar sana, bulan ini akan terjadi fenomena supermoon. Jika menurut laporan kasus ini benar, artinya mereka telah memiliki 3 makhluk yang dimaksud. Gilbird milik Gilbert, Troll milik Lukas, dan Teh Unti milikmu. Aku tidak bisa menentukan siapa lagi yang akan mereka incar." Jawab Arthur.
"Ada berapa makhluk lagi yang dekat dengan personifikasi?" Nesia kini mulai serius memikirkan jalan keluarnya.
"Aku tak tahu pasti. Flying Mint Bunny milikku, Pochi milik Kiku, Hanatamago milik Tino, Pixie milik Lukas, Mr. Puffin milik Emil, Panda milik Wang Yao, Pierre milik Francis, lalu Kumajiro milik hmm... ah, aku lupa. Yang aku tahu dengan jelas, mereka yang memenuhi syarat itu." Kata Arthur memberi informasi.
"Kau juga punya?"
"Ya.. begitulah."
Setelah berkata seperti itu, Flying Mint Bunny milik Arthur muncul dari balik kepala Arthur. Mata Nesia membulat dan senyum di wajahnya mengembang ketika melihat makhluk menggemaskan yang berada di depan matanya.
"Kawaii..." Seru Nesia sambil mengulurkan tangannya kepada Flying Mint Bunny.
"Hei, jangan macam - macam padanya. Dia tidak suka orang—" Belum selesai Arthur berbicara, Fying Mint Bunny sudah melayang mendekati Nesia.
"Ah, ternyata dari dekat dia benar - benar imut." Seru Nesia senang.
Arthur hanya bisa terdiam tak percaya. Kelinci tak kasat mata miliknya yang biasanya tak menyukai orang asing langsung bisa akrab dengan Nesia. Tapi, Arthur bahagia melihatnya. Akhirnya Nesia menampakkan senyum manisnya setelah marah - marah terus padanya. Walaupun Arthur juga senang karena Nesia sudah bisa marah - marah lagi padanya, itu tandanya dia telah pulih sepenuhnya.
"Oh, sepertinya aku lupa memberitahumu. Jika ada rapat besar dengan semuanya, aku tidak bisa ikut. Hm... sebenarnya hanya dengan Dewan Keamanan saja sih aku tidak bisa ikutnya."Kata Nesia setelah puas bermain - main dengan Flying Mint Bunny.
"Kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu sejak kemarin." Tanya Arthur curiga.
"Well... aku hanya tidak ingin bertemu Willem sebenarnya." Kata Nesia akhirnya sedikit jujur dengan wajah kecut.
"Kau yakin hanya itu alasanmu?" Tanya Arthur masih curiga.
"Hei, itu bukan alasan sepele. Aku punya alasan kuat dibalik ketidak inginanku untuk bertemu Willem." Kata Nesia ketus.
"Sepertinya terlambat untuk hal itu, Kirana Kusnapharani. Aku sudah mendengar langkah kaki mereka mendekat kesini. Well, aku memang meminta rapat lagi saat jam pelajaran kedua." Kata Arthur santai.
Mata Nesia melotot karena ia tidak bisa lari dari ruangan ini. Di remasnya rok yang menutupi kakinya itu tanda dirinya gelisah. Arthur yang tidak suka melihat kegelisahan Nesia menariknya menuju mejanya. Arthur merangkulnya dan membuat Nesia merunduk untuk bersembunyi di bawah kolong mejanya.
"Jika sebegitunya tak ingin bertemu Willem, sembunyilah disini sampai keadaan aman. Tak ada satu pun dari siswa disini yang berani mendekati mejaku, jadi kau tenang saja." Kata Arthur pada Nesia.
Nesia hanya bisa mengangguk pasrah karena malu. Wajahnya dan Arthur jadi dekat sekali. Mata emerald Arthur seolah menembus masuk ke dalam matanya. Embusan napas Arthur terasa jelas di wajahnya. Nesia merasakan degup jantungnya menjadi tak menentu. Wajahnya terasa panas dan memerah.
"Kenapa kau ikutan bersembunyi?" Tanya Nesia heran sambil memalingkan wajahnya dari Arthur. Ia takut Arthur melihat semburat merah merona di kedua pipinya.
"Oh, iya, maaf." Kata Arthur segera bangkit.
Tak lama setelah itu terdengar suara pintu ruang OSIS dibuka. Masuklah 3 orang laki - laki personifikasi dari Jerman, Netherlands, dan Jepang ke dalam ruangan mewah itu. Arthur sedang berpura - pura membereskan dokumen yang tadi Nesia pegang di mejanya.
"Kemana Alfred?" Tanya Arthur begitu melihat hanya ada 3 orang yang masuk ke dalam.
"Ke toilet sebentar." Jawab Kiku.
"Ah, bloody hell! Dia selalu saja menghilang di awal pertemuan." Umpat Arthur.
"Tadi kau bersma siapa, Kirkland?" Tanya Ludwig tiba - tiba.
"Aku— aku sendirian kok." Jawab Arthur berbohong.
"Lalu kenapa ada dua cangkir kosong di meja ini?" Tanya Ludwig masih curiga.
'Bloody hell! Aku lupa menyingkirkan cangkir gadis itu', rutuk Arthur dalam hati. "Ah, itu ya. Aku lupa tadi aku sempat ada sedikit keperluan dengan murid baru. Tapi, dia sudah pergi sekarang." Kata Arthur mencari alasan.
"Ooh..."
"Aku pikir Kaicho ada perlunya dengan kepala sekolah makanya kita rapat di jam kedua. Ternyata dengan murid baru." Kata Kiku.
"Tidak biasanya kau ada perlu dengan siswa baru, Arthur." Komentar Willem.
"Kenapa? Ada masalah? Itu hak-ku untuk memiliki keperluan dengan siapa pun." Kata Arthur sinis.
"Oh, astaga! Sejak kapan Tuan Arthur Kirkland menjadi sensitif seperti wanita begini?" Kata Willem pedas.
"Hentikan kalian berdua! Kita mulai saja rapat hari ini. Sekarang aku menuntut penjelasan yang kemarin tertunda." Kata Ludwig menghentikan perdebatan Arthur dan Willem. Arthur menurut pada Ludwig karena ia tidak mau mati konyol kena amukan Ludwig karena sama seperti Arthur, Ludwig benci penolakan.
Arthur segera mendekati para personifikasi yang kini telah duduk di sofa. Rapat kecil itu pun dimulai dengan penjelasan mengenai masalah penyerangan kemarin minus keterangan nama Nesia dan adiknya, lalu dilanjutkan dengan pembahasan yang sama dengan Nesia tadi, yaitu mengenai siapa yang diincar berikutnya. Arthur memiliki kecurigaan yang kuat jika Flying Mint Bunny miliknya akan diincar berikutnya.
"Jadi, maksudmu kami, Dewan Keamanan, harus menjaga peliharaanmu yang bahkan tidak bisa kami lihat? Itu tidak masuk akal, Kirkland!" Tolak Ludwig.
"Aku tak meminta kalian menjaganya. Aku tahu kalian tak bisa melihatnya sepertiku, maka dari itu aku meminta kalian menjaga yang lainnya. Biarkan urusan menjaga Flying Mint Bunny dan Pixie diserahkan padaku dan Lukas yang berteman dengannya." Kata Arthur tegas. Suaranya kini terdengar jauh lebih berwibawa.
"Lalu, bagaimana dengan pencarian pintu masuk itu? Bukankah kita juga harus mencarinya?" Tanya Willem.
"Itu dia yang membuatku ragu. Aku memiliki cara untuk mencarinya, tapi agak beresiko. Dan agak sulit untukku mengambil keputusan ini." Kata Arthur terdengar ragu. Nesia memasang telinganya baik - baik mendengarkan setiap percakapan mereka.
"Lalu, cara apa itu, Kaicho?" Tanya Kiku penasaran.
"Menggunakan salah satu dari Flying Mint Bunny, Hanatamago, Pochi, Pixie, Mr. Puffin, Panda, Pierre, atau Kumajiro sebagai umpan. Setelah itu, kita ikuti mereka menuju pintu masuk mereka." Kata Arthur setelah menghela napas panjang.
"Aku tak ingin menggunakan cara itu. Terlalu beresiko. Apalagi jika yang mereka ambil bukanlah umpan yang kita siapkan." Kata Ludwig menolak mentah - mentah.
"Maka dari itu, aku mengumpulkan kalian untuk memikirkan cara lain untuk mencarinya tanpa resiko sebesar itu." Kata Arthur.
Semuanya terdiam memikirkan cara lain yang mungkin ditempuh. Tiba - tiba pintu ruang OSIS terbuka dan Alfred masuk tanpa rasa bersalah. Dengan percaya dirinya, Alfred langsung duduk diantara mereka.
"Apa maksudmu masuk seenak jidatmu setelah telat selama ini, Alfred Foster Jones?" Umpat Ludwig yang memang anti terlambat.
"Maaf, deh. Aku tadi berhenti untuk ke toilet, lalu bertemu dengan Feliciano. Dia baru selesai dari kelas ekonomi kreatif. Dia memberiku banyak pasta, makanya aku bawa untuk kesini. Kalian pasti belum sarapan semua kan?" Kata Alfred dengan tenang. Lalu dia meletakkan sebuah wadah besar berisi pasta ke atas meja yang berada di depan mereka.
Kiku segera bangkit dan membuat teh untuk semuanya dan menyiapkan piring. Memang, perut lapar membuat pikiran tidak jernih. Arthur baru ingat jika dirinya hanya minum kopi pagi ini sebelum berangkat. Tapi, kemudian dirinya teringat pada Nesia yang sedang bersembunyi dibawah mejanya. Pasti dia juga belum makan.
Semua yang hadir makan dengan lahap karena memang masakan Feliciano enak sekali. Hanya Arthur yang menyisakan sebagian makanannya. Well, menyisakan sebenarnya bukan kata yang tepat. Sejak awal Arthur memang menyingkirkan sebagian makanan yang diambilnya.
"Kaicho tidak menghabiskan makanannya? Tumben sekali." Kata Kiku ketika melihat piring Arthur yang setengah penuh.
"Aku akan memakannya nanti. Aku baru saja meminum Earl Grey, jadi perutku sedikit penuh." Kata Arthur memberi alasan sambil menaruh piringnya di atas mejanya.
Kiku membereskan piring lain yang ada di atas meja dan menuangkan teh untuk semuanya. Arthur meresap tehnya sedikit sebelum memulai berbicara lagi.
"Jadi, untuk sementara waktu kita hanya bisa memperketat penjagaan seperti semalam. Berhati - hatilah karena ada kemungkinan selain mereka, kita juga diincar. Seperti serangan kemarin. Aku takut jika serangan itu adalah pengalihan bagi kita sementara mereka memgambil apa yang mereka incar." Arthur memulai pembicaraan.
"Apa maksudmu kita diincar, Kaicho?" Tanya Alfred tak mengerti.
"Ah, ya aku paham. Empat penguasa dan satu pemegang kunci, bukan?" Kata Ludwig yang sepertinya mengerti maksud Arthur.
"Ya, begitulah. Meski aku pun tak begitu yakin jika yang dimaksud adalah kita." Kata Arthur.
"Hei, apa arti semua ini? Aku tak paham." Kata Alfred yang kemudian diikuti anggukan Willem.
Arthur menghela napas dan mengambil kertas yang ada di mejanya tadi.
"Tadinya aku tak ingin memberi tahu kalian tentang hal ini. Tapi, sepertinya memang hal ini harus dibeberkan sekarang." Kata Arthur kemudian menyerahkan kertas itu kepada Alfred dan Willem.
Keduanya terbelalak setelah membaca lembaran tersebut. Sama seperti Ludwig saat baru membaca dan mendengar hipotesa Arthur mengenai masalah ini, keduanya tertawa dan tak percaya. Sulit memang menjelaskan hal yang berbau supranatural kepada orang - orang yang katanya berpikir secara logis.
Arthur pun menyerahkan urusan penjelasan itu pada Ludwig. Dialah yang paling mengerti bagaimana menyelaraskan logika dengan hal seperti ini. Setelah Alfred dan Willem sepertinya mengerti betapa gawatnya situasi saat ini, mereka terdiam dan tak lagi tertawa.
"Jadi, bagaimana Kaicho? Jika hanya penjagaan di lingkungan sekolah dan asrama laki - laki kita bisa melakukannya secara terang - terangan. Bagaimana dengan asrama wanita? Mau tidak mau kita harus meminta bantuan kepada Elizabeta untuk mengamankan situasi disana. Tidak mungkin kita melanggar peraturan sekolah untuk tidak memasuki wilayah asrama wanita terus, kan? Seperti semalam." Kata Kiku bingung sambil melirik tajam ke arah Alfred. Yang dilirik malah pura - pura tidak melihat.
"Benar, tapi kita tidak mungkin membiarkan Elizabeta bekerja sendirian. Kita harus mencari orang lain lagi." Kata Willem menyetujui pendapat Kiku.
"Sebenarnya aku hanya ingin melibatkan orang sesedikit mungkin untuk kasus ini. Tapi, sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Aku akan menghubungi Elizabeta setelah ini. Untuk orang yang lainnya, serahkan padaku. Aku tahu orang yang tepat untuk itu." Kata Arthur akhirnya setelah berpikir cukup lama.
"Lakukan apapun asal jangan melibatkan hantu." Kata Alfred bergidik.
"Baiklah kalau begitu, hampir sama dengan semalam. Aku dan Willem akan berjaga di sekolah. Kiku dan Jones akan berjaga di asrama laki - laki. Sementara kau, Kirkland, akan berjaga berkeliling. Terutama menjaga Pixie milik Lukas dan peliharaanmu sendiri. Dalam keadaan darurat, kita saling memberi tahu. Jangan ada yang mematikan ponsel." Kata Ludwig membeberkan strategi.
"Kalau begitu kita berkumpul lagi sepulang sekolah bersama Elizabeta dan orang yang kau pilih, Arthur." Kata Willem kemudian bersiap pergi.
Rapat pagi itu pun selesai dan tinggal Arthur di ruangan itu. Arthur segera berjalan menuju mejanya, lalu menunduk melihat Nesia.
"Sudah aman. Kau bisa keluar sekarang." Kata Arthur sambil mengulurkan tangannya pada Nesia. Nesia meraihnya dan bangkit sambil membenarkan roknya yang terlipat berantakan.
"Terima kasih." Kata Nesia singkat sambil memperbaiki pakaiannya yang berantakan.
"Sebelum pergi, makanlah dulu pasta ini. Tenang saja, itu bukan sisa milikku. Aku sudah membaginya sejak awal, jadi itu masih bersih." Kata Arthur sambil menunjuk piring di atas meja.
Arthur segera pergi meninggalkan Nesia untuk membereskan gelas bekas teh yang berserakan diatas meja yang tadi mereka pakai rapat. Nesia menurut pada Arthur dan memakan pasta itu karena memang perut Nesia kelaparan sejak tadi. Arthur jadi tersenyum sendiri melihat Nesia yang makan dengan lahap.
Setelah selesai, Nesia membawa piring kotornya ke mesin pencuci otomatis yang memang ada disana. Nesia tak menyangka Arthur memikirkan dirinya yang kelaparan dibawah sana. Pandangam Nesia tentang seberapa menyebalkannya Arthur berkurang lagi.
Ternyata dibalik sikap dingin dan kata - katanya yang kasar, Arthur memiliki sikap yang sangat hangat. Benar - benar seorang tsundere. Nesia yakin jika sikap tak acuh milik Arthur sebenarnya hanya ilusi. Buktinya Arthur menyingkirkan sebagian makanannya untuk Nesia padahal Nesia yakin Arthur pun belum makan sejak pagi.
"Terima kasih banyak atas pastanya. Enak sekali." Kata Nesia mendekati Arthur yang sedang menaruh dokumen - dokumen yang tadi dikeluarkannya.
"Bukan aku yang memasak." Kata Arthur merasa tak enak mendapatkan terima kasih atas sesuatu yang tidak ia lakukan.
"Tapi kau yang membaginya padaku. Jadi, terima kasih." Kata Nesia sambil tersenyum manis.
Arthur hanya bisa menganggukan kepala tanda ia menerima ucapan terima kasih dari Nesia. Setelah itu keduanya berjalan beriringan keluar ruang OSIS. Keduanya tampak akrab, bahkan kini Nesia sedang tersenyum menatap Arthur. Hati Nesia jadi sedikit melunak karena sikap Arthur hari ini. Well, walau masih ada kekesalan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata oleh Nesia.
"— Aku yakin kau yang bisa melakukannya. Saat ini, hanya kau yang bisa aku andalkan, Kirana." Kata Arthur setelah meminta bantuan Nesia untuk bekerjasama dengan Elizabeta menjaga asrama wanita.
"Nesia. Panggil aku Nesia saja." Pinta Nesia.
"Baiklah, Nesia. Jadi, kau bersedia kan?" Tanya Arthur meminta kepastian Nesia.
"Seperti aku punya pilihan untuk menolak saja. Tentu aku harus bersedia, bukan?" Kata Nesia yang kini sudah maklum dengan sikap Arthur. "Tapi, aku minta dengan satu syarat." Lanjutnya.
"Apa?" Tanya Arthur penasaran.
"Jangan pertemukan aku dengan si kepala tulip itu. Setidaknya jangan libatkan aku dengannya." Kata Nesia.
"Baiklah, akan aku coba menghindarkanmu dari manusia lolicon itu." Kata Arthur menyetujui syarat Nesia.
Hanya dalam beberapa jam saja, Nesia sudah tidak membenci Arthur. Bahkan kini muncul debaran aneh setiap dirinya terlalu dekat dengan Arthur. Nesia tiba - tiba teringat sesuatu dan menghentikan langkah kakinya. Arthur yang heran ikut berhenti dan kini menatap Nesia dalam - dalam.
"Sebenarnya, aku masih memiliki penjaga lain selain Teh Unti. Masih ada Kak Ocong, Mang Wowo, dan Onti Wewe. Tapi, tak semuanya bisa aku mintai tolong untuk datang kemari. Aku hanya memanggil mereka jika dalam keadaan darurat atau terdesak saja. Terlalu banyak tenaga yang harus aku keluarkan jika memanggil mereka." Kata Nesia jujur pada Arthur.
"Itu lebih baik. Artinya ada yang akan menjagamu disaat kau terdesak. Tapi, sebisa mungkin, jangan panggil mereka. Aku akan disana untukmu." Kata Arthur lembut membuat pipi Nesia memerah malu.
Keduanya tak menyadari kehadiran Willem yang mendekat karena buku agendanya ternyata tertinggal di ruang OSIS. Willem heran melihat Arthur berdiri mematung membelakanginya. Saat dirinya hendak menyapa, matanya melihat sosok gadis mungil yang kini tersipu malu dihadapan Arthur. Mata Willem membulat ketika menyadari bahwa gadis itu adalah orang yang selama ini menghindarinya dan menghilang tanpa kabar, Nesia.
—OOOoooOOO—
NESIA POV
Arthur sungguh membuatku malu. Kata - katanya sungguh gentleman. Baru kali ini aku mendapatkan perhatian seperti ini selain dari keluargaku. Yah, sebenarnya sudah pernah sekali. Itu pun sudah sangat lama sampai aku menyadari hal buruk dibalik perhatian itu.
Aku menengadah menatap Arthur. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, namun jika diperhatikan baik - baik, bibirnya tersenyum tipis. Aku jadi ikut tersenyum menyadari senyum Arthur yang malu - malu itu. Ternyata bule alis tebal ini lucu juga.
Tapi, kemudian senyumku luntur saat melihat sosok laki - laki yang mendekat di belakang Arthur. Aku ingin segera lari menghindar, tapi sepertinya terlambat karena beberapa detik kemudian aku mendengar laki - laki menyebalkan itu memanggil namaku. Arthur ikut menoleh ke belakang mencari sumber suara yang memanggil namaku dengan keras.
"Nesia!" Kata manusia kepala tulip itu.
Arthur berbalik ketika sadar yang memanggilku adalah si Londo. Aku segera berlindung dibalik tubuh Arthur yang besar. Arthur tampak terkejut melihatku yang kini bersembunyi dibalik tubuhnya sambil menggenggam erat blazer miliknya dari balik punggungnya. Namun, sepertinya kemudian dia sadar apa yang membuatku seperti ini karena tangannya seolah melindungiku dan menjagaku tetap di belakangnya.
"Hei, Nesia! Kenapa kau ada disini? Sejak kapan?" Tanya Willem si Londo antusias.
Aku sama sekali tak ingin menanggapinya dan mengeratkan genggamanku. Arthur sepertinya paham lalu memposisikan dirinya diantara aku dan makhluk yang paling aku benci yang bernama Willem.
"Maaf ya, Willem. Nesia sepertinya tidak enak badan, jadi aku akan mengantarnya ke ruang kesehatan." Kata Arthur berusaha sopan. Rasanya tidak seperti Arthur.
"Kalau begitu biar aku ikut mengantarnya." Kata Willem sepertinya tidak mau melepaskanku.
"Tidak! Aku bersama Arthur saja." Kataku cepat sebelum makhluk menjijikan itu sempat menyentuhku.
Arthur merangkulku disisi lain tubuhnya dan menjauhkanku dari Willem. Baru saja kaki kami melangkah menjauh, tanganku ditahan oleh Willem. Refleks aku menggenggam tangan Arthur. Posisi kami jadi terlihat seperti saling tarik menarik dengan aku sebagai tambangnya.
"Lepaskan aku." Kataku sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Willem. Aku jamin setelah ini aku akan mandi dengan kembang 7 rupa lagi.
"Aku perlu bicara berdua denganmu." Kata Willem enggan melepaskan tanganku.
"Lepaskan! Sudah tak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Kataku tak ingin ditahan. Aku menatap Arthur dengan tatapan memohon pertolongan.
"Lepaskan Nesia, Willem! Dia tak ingin bicara denganmu, jangan memaksanya!" Kata Arthur sambil melepaskan pegangan tangan Willem dari pergelangan tanganku.
Begitu terlepas, aku langsung pergi menjauh bersama Arthur. Wajahku benar - benar muak melihat Willem tadi. Rasanya air mata sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku ingin pergi saja dari sini dan pulang ke Indonesia. Aku tak mau lagi disini.
Kakiku melangkah semakin menjauhi sekolah. Aku tak tahu harus kemana, tapi aku sudah tak mau berada di sekolah itu lagi. Tak mau! Tak terasa air mataku akhirnya jatuh.
"Bloody hell! Kenapa kau menangis?" Tanya Arthur sambil menarikku untuk berhenti.
Aku tak menjawab pertanyaan Arthur. Air mataku mengalir semakin deras. Aku tak bisa menahannya lagi, sakit itu ternyata masih terasa nyata. Kenangan itu ternyata tak semuanya bisa terhapuskan. Waktu tidak bisa menghapuskan semuanya.
Arthur memelukku dan membiarkanku menangis di dadanya. Arthur diam dan hanya membiarkanku menangis. Dia tak lagi bertanya dan mengelus lembut kepalaku. Berangsur - angsur, perasaanku mulai tenang dan tertata. Pelukan Arthur terasa nyaman dan hangat. Astaga! Apa yang aku lakukan dengan Arthur?!
Aku segera mendorong Arthur menjauh dariku. Wajahku memerah. Agh, aku maluu...
"Ehm, anu... maaf. Eh, maksudku terima kasih." Kataku malu.
"Ah, i—iya. Tak masalah." Kata Arthur yang wajahnya juga merah.
Kami terdiam dalam malu. Kami tak tahu harus berbuat apa. Aku terlalu malu untuk berkata apapun. Astaga, aku sudah menangis dalam pelukan Arthur! Aku tak tahu apa lagi yang bisa membuatku lebih malu dari ini. Lengkap sudah kisah memalukanku.
"Ngomong - ngomong ini kita dimana ya?"" Tanyaku saat menyadari sekelilingku adalah lingkungan yang tak aku kenal.
"Oh, disini adalah area bangunan lama. Gedungnya sih sudah rata dengan tanah, tapi taman ini masih ada walau tidak terawat." Jawab Arthur menjelaskan.
"Jadi, yang kita tempati itu gedung baru?" Kataku.
"Iya. Gedung lama ini baru diratakan 5 tahun yang lalu. Walau letaknya bersebelahan dengan gedung baru, tapi tak banyak orang yang tahu dan pernah kesini." Jelas Arthur.
"Pondasinya masih utuh?" Tanyaku masih mengorek informasi.
"Masih. Karena rencana awalnya gedung yang kita tempati itu untuk tingkat SMP. Namun, entah kenapa pembangunan kembalinya masih ditangguhkan, jadi gedung baru itu masih kita gunakan untuk tingkat SMA." Kata Arthur memberikan informasi yang aku harapkan.
"Arthur, entah mengapa, aku merasa curiga dengan daerah ini." Kataku dengan nada merasa tak enak disini.
"Aku juga sebenarnya begitu. Tapi, aku pernah mencari disekitar sini. Tak ada hal mencurigakan." Terang Arthur.
"Begitu ya..."
"Sebaiknya kita kembali. Kau masuk saja ke ruang kesehatan jika perasaanmu masih tak enak untuk masuk kelas." Kata Arthur perhatian sambil menghapus sisa - sisa dari bulir bening yang mengalir di pipiku.
Aku tersenyum dan mengangguk. Kami berjalan kembali menuju sekolah. Aku tak menyangka jika aku bisa membuka diri dengan pria Eropa lagi. Aku merasa ada yang berbeda dari sepasang mata emerald yang menatapku itu. Meski begitu, aku pun masih belum terlalu percaya kepada pemilik sepasang mata emerald yang kini berjalan di depanku ini. Aku masih takut akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Tiba - tiba aku mencium aroma aneh. Aku menghentikan langkah kakiku. Aroma itu samar, tapi aku yakin itu bukan aroma bangkai maupun manusia. Aromanya amis dan busuk seperti darah, tapi bukan bangkai. Aku mencoba mengingat aroma apa itu. Kepalaku terasa pusing dan mual.
Arthur sepertinya menyadari kondisiku dan menghentikan langkah kakinya. Arthur berbalik menghadapku dan kini berlari kecil mendatangiku. Aku mencoba mengendalikan diriku dengan memasang kekai disekelilingku. Sayangnya aku terlalu lemah karena seperti ada yang menyedot tenagaku. Tidak biasanya aku begini, setidaknya aku tidak sedang memakai sihir hitam.
"Kau kenapa, Nesia?" Tanya Arthur bingung melihatku merunduk menutupi mulutku dan memegangi kepalaku.
"Aku— aku tak tahu. Kepalaku terasa pusing dan aku mual. Rasanya tenagaku tersedot hilang." Kataku lemah.
Mata Arthur membulat seketika dan ia langsung membopongku pergi. Arthur langsung membawaku ke ruang kesehatan dan membaringkanku di ranjang. Perawat Flor sedang tidak ada disini. Arthur tampak panik mencari sesuatu di tubuhku dan aku terlalu lemah untuk protes. Sepertinya Arthur menemukan apa yang dicarinya di leherku.
Arthur tampak sibuk membuat sesuatu dari beberapa tanaman herbal yang entah muncul dari mana. Arthur memintaku untuk tetap sadar apapun yang terjadi sementara dirinya sedang membuat sesuatu. Aku berusaha untuk tak memejamkan mataku walau rasanya sulit.
Tiba - tiba bibir Arthur sudah menempel di leherku tanpa aku sadari. Dia menyedot kulit leherku selama beberapa saat dengan cukup kuat dan menggigitnya sedikit lalu menempelkan sesuatu yang dingin yang kemudian dia balut dengan perban di tempat yang diisapnya tadi. Aku terkejut dan tak bisa melawan, uhm sebenarnya aku sempat mengerang sedikit karena merasa aneh, aneh tapi suka, entahlah jangan dibahas lagi. Namun, setelahnya aku merasa lebih baik. Aku sudah kuat untuk duduk dan Arthur tampak sibuk membersihkan mulutnya di wastafel.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Tanyaku bingung.
"Kau terkena racun hitam." Jawab Arthur setelah mengeringkan mulutnya dengan sapu tangannya.
"Hah? Tapi, aku tidak merasa tertusuk sesuatu." Kataku masih bingung.
"Itu bukan racun biasa. Hanya orang dengan ilmu yang sangat tinggi yang bisa memakainya. Racun itu membuatmu seperti kehilangan banyak darah, maka dari itu tadi kau merasa mual, pusing, dan lemah." Terang Arthur.
"Tapi, bagaimana mungkin aku terkena racun? Sementara tadi aku tak merasa ada yang menusuk leherku." Aku masih saja tak mengerti dengan semua ini.
"Racun itu tidak dimasukkan dengan media biasa. Dia menggunakan semacam jarum tak kasat mata yang bisa menusuk tanpa terasa. Maka dari itu hanya orang yang berilmu tinggi yang bisa melakukannya. Tapi, sepertinya orang ini belum mahir melakukannya." Kata Arthur menjelaskan panjang lebar padaku.
"Lalu, dari mana kau tahu jarum itu menusukku di leher?" Aku mulai paham situasinya tadi.
"Jarum itu selalu meninggalkan bekas seperti lambang iblis kecil di tempatnya menancap. Tadi sudah aku isap semua racunnya, lalu tandanya sudah aku coba hilangkan. Mungkin akan sedikit bengkak dan membekas selama beberapa hari." Kata Arthur memberi tahuku.
Tanpa sadar, aku memegangi leherku yang terbalut perban. Ah, sepertinya memang agak sakit sih karena rasanya seperti ada bentol.
"Itu aku beri sedikit obat untuk mengecilkan bekasnya. Karena tidak berdarah, mungkin bekasnya terlihat seperti memar kecil." Jelas Arthur begitu melihatku menyentuh leher.
"Terima kasih. Kau sudah menolongku lagi hari ini. Aku benar - benar berhutang banyak padamu." Kataku tulus dengan nada paling lembut yang pernah aku keluarkan.
"Sama - sama. Kau juga sudah membantuku untuk menyelesaikan kasus ini. Sekarang, istirahatlah. Aku akan mengurus beberapa hal lain. Nanti aku minta Kiku menemanimu disini." Kata Arthur sambil bersiap meninggalkanku.
"Aku sendiri saja, tak masalah." Kataku menolak.
"Baiklah. Terserah kau saja." Kata Arthur lalu keluar dari ruang kesehatan.
Aku memejamkan mataku sebentar. Aku yakin hanya sebentar, namun ternyata aku tertidur hingga jam pelajaran berakhir karena aku mendengar bunyi bel pulang. Saat terbangun, seorang gadis Eropa cantik duduk disampingku. Aku tak mengenalnya, tapi dia tersenyum ramah padaku. Aku terduduk di ranjang dan berusaha turun. Gadis itu membantuku untuk turun dan berjalan keluar bersamaku.
"Aku Elizabeta Héderváry. Kau bisa memanggilku Liz, Eliza, atau Elizabeta. Kaicho memintaku menjemputmu untuk rapat lanjutan di ruang OSIS setelah rapat kegiatan untuk acara OSIS selesai. Kau tunggu saja di ruang OSIS. Aku, Alfred, Kiku, dan Kaicho akan datang pukul 5." Kata gadis cantik itu menuntunku ke ruang OSIS.
"Ah, jadi kau yang bernama Elizabeta. Terima kasih sudah mengantarku, Eliza. Terima kasih juga sudah menolongku kemarin. Kata adikku, kau membantunya menjagaku. Oh, iya, maaf tidak sopan belum memperkenalkan diri. Namaku Kirana Kusnapharani, tapi aku biasa dipanggil Nesia." Kataku begitu memasuki ruang OSIS sambil menjabat tangannya.
"Sama - sama. Aku ada rapat sebentar. Kalau ada apa - apa, cari saja di ruang rapat OSIS." Kata Elizabeta sebelum meninggalkanku sendirian di ruang OSIS.
Sepertinya aku terlalu lelah hari ini. Mungkin juga karena kurang tidur semalam. Mood-ku juga jadi tak menentu hari ini. Sepertinya aku memang harus istirahat total karena aku hanya tidur 2 jam setelah tugasku itu selesai. Yah, aku bisa mengantarnya ke ruang guru sendiri nanti. Eh? Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang saja? Kan Arthur dan yang lainnya baru datang jam 5 nanti.
Aku segera keluar dari ruang OSIS menuju lokerku untuk mengambil tumpukan tugas yang telah aku kerjakan. Aku pun melangkah menuju ruang guru dan meletakkan tugasku disana. Dan sesuai dugaanku jika mereka akan menceramahiku habis - habisan karena ketidak hadiranku di kelas hari ini. Yah, salahku juga menemui Arthur saat bel hampir berbunyi. Tadinya aku berniat agar bisa segera melarikan diri dari si bule alis tebal itu karena bel sudah berbunyi. Tapi ternyata malah dia yang menyeretku.
Omelan panjang dari mereka tak kunjung selesai. Aku mulai kesal karena harus terus berdiri di dalam ruang guru ini. Bayangkan saja, aku sendirian berdiri di dalam ruang guru mendapat omelan dari 3 guru berbeda dalam satu waktu. Ah, membuatku kesal saja.
Sudah begitu, leherku yang di perban ini terasa sedikit perih. Aku memegang bentol yang tadi ada di leherku. Sudah mulai kempis ternyata, tapi terasa perih. Tak sengaja tanganku menyentuh rantai platina dari kalung pemberian kepala sekolah yang terus aku gunakan. Aku menarik sedikit rantai kalung itu dan menyembulkan liontin aneh yang juga terbuat dari platina itu karena merasa sedikit gatal di bagian yang terkena rantai kalung itu.
"Hei, kamu dengar tidak apa yang kami bicarakan?!" Bentak salah satu guru yang tadi menceramahiku. Aku tak hafal namanya, yang aku ingat hanya dia guru matematika saja.
"Iya, saya dengar kok." Dustaku. Aku memang tidak pernah mendengarkan omelan mereka sejak awal.
"Kau ini—" Geraman guru itu terhenti ketika matanya melihat ke arah leherku... atau kalung yang tadi aku tarik? Entahlah, namun mereka langsung terdiam setelah berbisik sebentar di hadapanku.
Setelah itu mereka seolah minta maaf dan mengizinkanku keluar dari ruang guru. Aku tak mengerti, kenapa mereka begitu? Ah, masa bodoh. Aku merapikan kembali posisi kalung yang tadi menyembul keluar. Dasar guru - guru aneh. Setelah marah, malah mengusirku keluar.
Aku kembali memasuki ruang OSIS. Waktu hampir menunjukan pukul 5, dan itu artinya tadi mereka memarahiku hampir 2 jam penuh. Huh, sempurna! Dari pada mood-ku bertambah buruk, aku lebih memilih memandang seisi ruang OSIS yang mewahnya tidak biasa ini.
Mataku tertuju kepada meja - meja kerja yang membentuk huruf U. Aku memang tadi pagi bersembunyi di bawah meja Arthur yang menjadi pusat dari meja - meja itu, tapi aku tidak memperhatikan jika jumlah dari semuanya ada 5 meja. Ini aneh sekali mengingat yang aku tahu biasanya hanya akan ada 4 meja untuk eksekutif OSIS. Apalagi, meja di sebelah meja bertuliskan Fuku Kaicho itu tampak polos seperti tak ada yang menempatinya. Apa mungkin mereka semua membutuhkan satu meja tambahan untuk menaruh barang saja? Mungkin saja ya karena siapa yang tahu sifat manusia penghuni ruangan ini.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dengan angkuhnya Arthur masuk ke dalam diikuti Alfred, Kiku, dan Eliza. Oh, astaga! Rasanya aku ingin menghajar wajah angkuhnya. Arthur langsung duduk di sampingku dan membisikkan sesuatu yang membuatku ingin menamparnya saat itu juga.
"Maaf Nesia, kali ini kau harus bertemu Willem." Bisik Arthur.
"Tapi, perjanjiannya..." Kataku benar - benar ingin menamparnya detik itu juga.
"Aku akan mencoba menjauhkanmu darinya. Aku sudah berjanji bukan?" Kata Arthur membuatku mengurungkan niatku untuk menamparnya.
"Apa yang kalian berdua bicarakan? Kenapa Nesia disini?" Tanya Alfred bingung.
"Hanya masalah kecil. Nesia disini karena dia yang akan membantu Elizabeta dan dia berhak tau segalanya." Jawab Arthur menggantikanku untuk menjelaskan segalanya.
"Oh, jadi orang yang Kaicho maksud tadi pagi adalah Nesia." Kata Kiku mengerti.
"Ngomong - ngomong, tumben sekali Ludwig dan Willem terlambat." Kata Eliza sambil melirik jam tangannya.
"Benar juga. Kau yakin sudah memberi tahu mereka pertemuan selanjutnya jam 5, Alfred?" Kata Arthur ragu pada Alfred.
"Sudah, Kaicho. Aku sudah mengatakan kepada keduanya." Kata Alfred meyakinkan.
"Ini aneh. Tidak biasanya Ludwig terlambat." Gumam Arthur.
Tiba - tiba pintu ruang OSIS dibuka dengan kasar. Masuklah pria bule yang kemarin mencari - cari Kiku. Napasnya terengah - engah dan wajahnya nampak panik.
"Arthur, gawat!" Teriak pria yang jika aku tidak salah ingat bernama Francis.
"Ada apa?" Tanya Arthur kini berdiri dan mendekat ke arah Francis.
"Oh, Nesia disini juga? Apa kabar, belle?" Kata Francis malah menggodaku. Astaga, sepertinya makhluk itu perlu disiram air.
"Ayolah, apa yang gawat, git!" Umpat Arthur.
"Oh, iya, gawat! Ludwig terluka parah. Sekarang sedang ada di ruang kesehatan bersama Perawat Flor dan Willem." Kata Francis.
Kami segera berlari keluar dari ruang OSIS menuju ruang kesehatan. Aku memiliki firasat buruk tentang ini. Jangan - jangan ada serangan lain selain yang aku dapat tadi. Oh, apa lagi sekarang?
—OOOoooOOO—
ARTHUR POV
Rapat hari ini menyebalkan sekali. Anggota yang lain itu benar - benar tidak berguna. Pada akhirnya semua ide yang terlontar aku tolak karena terlalu standar. Rapat hari ini hanya membuahkan amarah dan sedikit hasil keputusan mengenai pembagian kelompok untuk lomba. Rencana awal yang menginginkan untuk membagi kelompok menjadi 7 sesuai benua asalnya, aku ubah semuanya.
Well, sejujurnya aku tak terlalu suka dengan sistem sekolah ini yang memisahkan kelas sesuai benua, bukan minat. Maka dari itu, aku ingin mengubah semuanya kali ini. Aku menginginkan kelompok yang terbagi menjadi 3 saja. Jadi, setiap kelas dari setiap angkatan akan digabung. Dan untuk penggabungannya akan ditentukan melalui undian nanti. Hari ini aku sudah terlalu lelah untuk melanjutkan rapat. Lagi pula, aku ada rapat lain dengan Dewan Keamanan dan Nesia jam 5 sore ini.
Ah, aku harus meminta maaf pada Nesia nanti karena melanggar syaratnya. Aku tahu, dia benar - benar tak ingin menemui Willem seperti tadi pagi. Namun, aku harus rapat dengan keduanya. Aku pasti akan menjauhkan mereka berdua sebisaku. Aku membuka pintu ruang OSIS dengan sekali sentak. Nesia tampak terkejut dengan kehadiranku yang membuka pintu dengan tiba - tiba.
Aku langsung mendekati Nesia dan duduk disebelahnya. Aku tak ingin yang lain mendengar percakapanku dengan Nesia. Rasanya menyenangkan memiliki rahasia berdua.
"Maaf Nesia, kali ini kau harus bertemu Willem." Bisikku pelan tepat di telinga Nesia.
"Tapi, perjanjiannya..." Kata Nesia terlihat kesal sekali.
"Aku akan mencoba menjauhkanmu darinya. Aku sudah berjanji bukan?" Kataku kemudian membuat wajah Nesia melunak.
"Apa yang kalian berdua bicarakan? Kenapa Nesia disini?" Tanya Alfred bingung.
"Hanya masalah kecil. Nesia disini karena dia yang akan membantu Elizabeta dan dia berhak tau segalanya." Jawabku menutupi rahasia kami.
"Oh, jadi orang yang Kaicho maksud tadi pagi adalah Nesia." Kata Kiku mengerti.
"Ngomong - ngomong, tumben sekali Ludwig dan Willem terlambat." Kata Eliza sambil melirik jam tangannya.
"Benar juga. Kau yakin sudah memberi tahu mereka pertemuan selanjutnya jam 5, Alfred?" Kataku ragu pada Alfred.
"Sudah, Kaicho. Aku sudah mengatakan kepada keduanya." Kata Alfred meyakinkan.
"Ini aneh. Tidak biasanya Ludwig terlambat." Gumamku bingung.
Tiba - tiba pintu ruang OSIS dibuka dengan kasar. Masuklah si kodok Francis menyebalkan. Napasnya terengah - engah dan wajahnya nampak panik.
"Arthur, gawat!" Teriak Francis.
"Ada apa?" Tanyaku kini berdiri dan mendekat ke arah Francis.
"Oh, Nesia disini juga? Apa kabar, belle?" Kata Francis malah menggoda Nesia dan mengabaikanku. Astaga, sepertinya kodok ini perlu aku kutuk.
"Ayolah, apa yang gawat, git!" Umpatku kesal.
"Oh, iya, gawat! Ludwig terluka parah. Sekarang sedang ada di ruang kesehatan bersama Perawat Flor dan Willem." Kata Francis.
Aku dan yang lain langsung berlari keluar menuju ruang kesehatan. Geram rasanya mendengar ada serangan lagi. Apa sebenarnya mau mereka? Apa mereka ingin bermain - main denganku? Tidak! Mereka tidak akan bisa mempermainkanku! Mereka tidak akan pernah bisa mempermainkan personifikasi Britania Raya ini! Tidak akan pernah!
Kemarahanku menyeruak begitu saja. Bukan karena Ludwig yang terluka, tapi karena mereka menyerang selalu diluar perkiraanku. Jika ingin menyerang, kenapa tidak malam hari saja? Kenapa harus sore? Kenapa? Bukankah lebih mudah melakukan penyerangan saat mata terbutakan gelapnya malam? Oh, astaga! Aku bisa gila dengan semua pertanyaan yang muncul di pikiranku saat ini.
Siapa yang sebenarnya menyerang Ludwig? Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan panser besar bertenaga badak itu? Ludwig adalah salah satu makhluk terkuat di Hetalia Academy ini, maka dari itu dia terpilih sebagai ketua dari Dewan Keamanan. Hanya orang dengan kekuatan luar biasa yang bisa menandingi Ludwig.
"Ludwig!"
Aku membuka ruang kesehatan dengan sangat kasar. Perawat Flor dan Willem menoleh padaku dengan terkejut. Feliciano tampak ada disana juga sedang menangis tersedu - sedu. Aku segera menyeruak melihat keadaan Ludwig. Tubuhnya penuh luka sayat dan wajahnya tampak membiru, namun kulit tubuhnya berwarna kemerahan. Aku dan Nesia saling pandang. Ini bukan serangan biasa.
"Sihir." Bisik Nesia yang berlindung di belakangku. Aku mengangguk menyetujui kata - kata Nesia tadi.
"Kau punya sihir penyembuh?" Bisikku.
"Tidak, aku tidak bisa menggunakannya." Bisik Nesia balik.
"Willem, kau yang bersama Ludwig sejak tadi?" Tanyaku kepada Willem yang sedari tadi memperhatikan seseorang dibalik punggungku.
"Ya, begitulah. Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi karena Ludwig sudah berlari keluar saat aku akan menghampirinya untuk pergi ke ruang OSIS. Begitu aku berhasil menyusulnya, yang aku lihat tubuhnya sudah berdarah, lalu ada seperti bola cahaya merah yang mengenainya." Jelas Willem tanpa mengalihkan pandangannya dari kurcaci mungil di belakangku ini.
"Kiku, panggil Vlad. Dia pasti ada di ruang perpustakaan. Alfred, cari Lukas dan bawa dia kesini. Elizabeta, kau kembalilah ke asrama bersama Nesia. Biar aku yang mengurus masalah disini. Nanti akan aku telepon lagi untuk kabar selanjutnya. Bubar!" Perintahku untuk mengamankan situasi sementara ini.
Willem tampak tak setuju dengan keputusanku agar Nesia kembali ke asrama dan tampak ingin menyusulnya. Untunglah Willem tak mengikuti mereka dan tetap berada disini bersamaku. Tak lama kemudian, Kiku kembali bersama Vlad yang langsung memberikan pertolongan pertama kepada Ludwig.
Jujur, aku hanya punya sihir untuk menyerang dan perlindungan diri. Sebenarnya bisa aku belajar menggunakan sihir penyembuhan sama seperti Vlad, tapi aku enggan melakukannya. Hanya membuang waktuku yang berharga. Walaupun sedikit - sedikit aku juga belajar mengenai pengobatan berbagai kasus serangan ghaib sih.
Keadaan Ludwig mulai membaik. Warna kulitnya sudah mulai normal. Mungkin karena serangan itu tidak terlalu kuat, Ludwig bisa bertahan lama. Ludwig mulai membuka matanya.
"Kau merasa lebih baik?" Tanya Vlad yang masih mengobatinya.
"Ya, rasanya sudah tidak ada ribuan jarum yang menusukku." Jawab Ludwig. Perawat Flor segera memberi Ludwig minum.
"Ludwig!" Teriak Feliciano girang sambil memeluk erat sahabatnya itu dengan mata yang masih basah berurai air mata. Entah mengapa aku jijik melihatnya.
"Aduh! Sakit, Bodoh! Lepaskan!" Teriak Ludwig sambil menjauhkan Feliciano darinya. Aku hanya bisa memutar bola mataku melihat pertengkaran kecil mereka.
"Apa yang kau lakukan sampai seperti ini?" Tanyaku tanpa basa - basi.
"Aku mengejar Mr. Puffin yang keluar dari wilayah pengamanan. Begitu aku berada di dekat daerah bangunan lama, dia menghilang. Suaranya masih terdengar, tapi entah kemana. Aku mencari ke sekeliling sana dan tak menemukannya. Begitu hendak kembali, ada seperti benang - benang tipis yang tidak aku lihat yang menggoresku. Semakin lama, benang - benang itu semakin melilitku, aku tak bisa menghindar, dan... yah, cahaya merah itu mengenaiku." Jelas Ludwig panjang lebar.
Ternyata benar dugaanku dan Nesia sebelumnya. Ada yang mencurigakan dengan daerah bangunan lama itu. Nesia juga diserang disana. Setelah yakin bahwa Ludwig sudah baik - baik saja, aku keluar dan mencari Alfred yang tak kunjung kembali. Kemana anak itu? Biasanya tak sulit baginya mencari dan menemukan seseorang. Jangan - jangan...
Aku mulai berpikiran hal buruk ketika mataku menangkap sosok pemuda berkacamata yang sedang mengigit burger sambil berjalan. Huh, bocah itu benar - benar—! Dia hampir saja membuatku paranoid. Aku kira dia terkena serangan juga seperti Ludwig.
"Kemana saja kau?" Semprotku begitu Alfred berada di hadapanku.
"Kan kau yang menyuruhku mencari Lukas, Kaicho. Aku tak menemukannya dimana pun. Karena lelah terus mencari, ya aku makan dulu." Kata Alfred santai sambil menunjukkan burgernya yang sudah tinggal separuh.
"Huh, lain kali jika tak menemukannya beri aku kabar! Apa gunanya ponselmu jika tak kau gunakan dalam keadaan begini?" Ujarku kesal.
"Kenapa marah?" Tanya Alfred yang tak juga mengerti.
"Karena aku takut kau diserang juga! Kau adikku, meski kau sudah melepaskan diri, kau tetap adikku..." Kataku kelepasan mengungkapkan ketakutanku. Aku merasa lemas hingga bersimpuh di hadapan Alfred.
"Maaf..." Hanya itu yang terucap dari mulut Alfred.
Aku mendengak dan mendapati sosok kurcaci kecil yang seharusnya tidak ada disana. Bukankah dia seharusnya sudah kembali ke asrama?
"Nesia?" Kataku heran melihat kehadirannya yang tak jauh dari tempatku. Aku bangkit dan mendekatinya meninggalkan Alfred di belakangku.
"Tsundere..." Desis Nesia tajam.
"Apa kau bilang? Kurcaci." Kataku tersinggung.
"Alis tebal."
"Mulut pedas."
"Ulat bulu."
Aku terdiam mendengar kata - kata terakhir Nesia. Bisa - bisanya dirinya menyebutku Ulat Bulu. Rasanya aku ingin menarik kuat pipinya yang menggembung sehat itu.
"Ahahahaha..." Tahu - tahu Nesia tertawa geli. Tentu saja aku bingung dibuatnya.
"Kenapa tertawa?"
"Hahaha... ternyata benar. Kau itu lebih cocok galak dan seperti peran antagonis disini. Tidak cocok mellow seperti tadi. Hihihihi..." Kata Nesia masih tertawa geli.
Aku baru sadar apa yang diperbuat Nesia. Dia mengalihkan ketakutanku yang tadi dengan kekesalan yang dia perbuat. Aku menyentuh dan mengelus lembut puncak kepala Nesia. Nesia tampak terkejut, tapi dia tidak menepis tanganku menolaknya.
"EHM." Alfred menginterupsi. "Oh, ayolah! Jangan abaikan hero disini." Lanjut Alfred. Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ah, Alfred mengganggu kesenanganku saja.
"Ngomong - ngomong kenapa kau masih disini, Nesia?" Kataku beralih pada Nesia setelah sempat mengacak - acak rambut Alfred sebagai hukumannya karena telah merusak kesenanganku.
"Ah, aku hanya mengambil tasku yang tertinggal di loker tadi. Lalu, Eliza memintaku menunggu sebentar karena dia ada urusan di gedung kelas 3. Tapi, dia tidak juga kembali." Kata Nesia terlihat lelah menunggu.
"Ah, susul saja. Dia pasti lama jika bertemu dengan suaminya." Kata Alfred santai.
Mata Nesia terbelalak terkejut. Ah, aku sampai lupa jika dia anak baru. Dia pasti belum tahu jika si Hungary itu telah menikah dengan Roderich Edelstein. Well, itu sudah menjadi rahasia umum disini. Bahkan semua orang tahu kemana mencarinya jika ia tak ditemukan bersama kami, para eksekutif OSIS. Pasti Elizabeta sedang berada di ruang musik gedung kelas 3.
"Jangan terkejut seperti itu. Hal itu sudah menjadi rahasia umum." Kataku menyadarkan Nesia dari keterkejutannya.
"Oh... kalau begitu aku akan kembali ke asrama sendiri saja." Kata Nesia berbalik hendak pergi.
"Jangan! Setelah dua serangan dalam sehari ini, terlalu berbahaya untukmu kembali sendirian. Kami akan mengantarmu sampai gerbang asrama." Kataku menyeret Nesia dan Alfred keluar dari sekolah.
Tumben sekali Nesia tidak memberontak seperti tadi pagi. Alfred berjalan di sampingku, sementara Nesia tertinggal selangkah di belakangku. Ah, iya, aku hampir lupa ingin menanyakan tentang kalung yang dipakainya pada Nesia. Aku menemukan bahwa Nesia memakai kalung dari platina tadi pagi saat menghisap racun dari lehernya. Mungkinkah dia anggota ke-5 yang dimaksud Francis?
Sebaiknya nanti saja aku menanyakannya. Sekarang bukanlah waktu yang tepat. Sekarang adalah waktu untuk memperketat penjagaan karena mereka sudah mulai agresif dan tinggal satu makhluk lagi yang mereka incar. Entah mengapa instingku mengatakan jika Flying Mint Bunny dan teman - temanku dalam bahaya.
—OOOoooOOO—
Catatan Author:
Beres deh chapter ini. Ntar nyambung laginya agak lama ya. Kayaknya otak Author lagi buntu karena tahu - tahu yang nongol malah buat endingnya. Eh, tapi enggak tahu juga ding. Aurhor masih cari cara nyambungin ceritanya. Hehehe...
Makasih buat yang udah REVIEW, FOLLOW, dan FAVORITE! Yeay, ga nyangka Author abal - abal gini ada yang suka. Hahaha... /PLAK/
Oh, iya, kalo tokohnya jadi OCC maklumin aja yah! Kan di warning udah Author tulis kalo ini percobaan nekad dari Author. Huehehehe...
