Disclaimer : All characters belong to Masashi Kishimoto
a/n : Ah terimakasih buat yang masih nongkrong dan ngereview fic ini. Sepertinya saya sedang baper karena niatnya bikin lemon yang super asem eh malah jadi mellow. semoga chapter kali ini yang cukup kental dramanya masih bisa membuat kalian merasa terhibur. ditunggu komen nya.
Warning : Mature content, Lemon (under 18 don't read)
Chapter 9 :
Selamat tinggal.
.
.
Tiga minggu berlalu. Sai melukis di rumah kacanya. Pria itu berhenti melukis sejenak untuk mengamati bokong indah milik seorang wanita pirang yang tengah menunduk untuk mencabuti semak-semak liar di rumpun bunga mawar. Seminggu lagi masa damainya berakhir dan dia tidak akan bisa lagi diam-diam mengagumi bokong sexy di hadapannya.
Begitu Sai pulih dia harus melacak keberadaan jaringan Akatsuki di Konoha, Markas telah besar mengetahui bahwa Sasuke menghilang tapi menemukan si bungsu Uchiha itu bukan fokus utama mereka saat ini. Pemboman yang dilakukan Deidara dan Sasori sama sekali tidak diketahui oleh Itachi. Bila Itachi tau sudah pasti pria itu akan memberikan peringatan pada mereka. Mungkin yang mereka takutkan terjadi. Keberadaan Itachi di organisasi Akatsuki sebagai informan konoha telah terbongkar.
"Sai.." Wanita itu memanggilnya "Apa yang sedang kau pikirkan?" Setelah sebulan mengamati Sai dari dekat Ino menyadari pria itu tidak punya banyak ekspresi tapi sedikit petunjuk dan kebiasaan membuat Ino memahami apa yang tengah melintas dikepalanya. Ino menyadari Sai memperhatikannya begitu lama sudah jelas pria itu memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.'hum apa mungkin dia memikirkan trik baru yang bisa mereka praktekan nanti' baru memikirkannya saja Ino sudah excited. Tinggal dengan Sai benar-benar menyenangkan buat Ino. Dia tidak ingin pergi.
"Seminggu lagi aku akan pergi untuk misi, sebaiknya kau kembali ke apartement mu gorgeous"
"Apa maksudmu Sai?" Ah yang Ino takutkan terjadi.
"Dengar bila aku pergi kau akan sendirian di rumah ini, Kau tidak suka sendirian jadi lebih masuk akal bila kau kembali ke apartement mu"
"Bila kau sudah kembali, apa aku bisa tinggal disini lagi?" Wanita itu memandang Sai penuh harap. Ino terlanjur menyukai rumah ini, Dia suka menata kebunnya dan mengatur segalanya. Selama sebulan ini ino merasa layaknya nyonya rumah.
Kenapa wanita itu membuat semuanya semakin sulit saja "Dengar Ino, Aku membuatmu tinggal disini karena aku perlu melukis, tapi sekarang aku punya pekerjaan lain dan melukis bukan lagi prioritasku kau mengerti? Perjanjian kita berakhir sampai disini" Sai tidak ingin mengucapkan semua kata-kata itu tapi inilah kenyataan.
Mengapa mendengar kata-kata Sai yang dingin membuat hatinya terasa sesak karena dia merasa tidak dibutuhkan, Ino tidak ingin meneteskan air mata. Yang diakatakan pria itu semua benar mereka berdua tidak punya ikatan apa-apa. Ino tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk tinggal disana bersama pria itu bila Sai tidak menginginkan hal yang sama.
Wanita itu memasang topengnya. Dia tidak ingin Sai mengetahui kata-katanya telah menyakiti Ino, Karena memang seharusnya wanita itu tidak sakit hati tapi dia menghabiskan waktu sebulan bersama Sai. Mereka tinggal bersama. Tidur di ranjang yang sama bercinta tiap hari layaknya suami istri hanya tanpa surat nikah. Ino merasa mereka menjadi begitu dekat. Wajar bila tumbuh perasaan apalagi dia seorang wanita yang emosional mudah terikat dengan seseorang. Dia tidak berhak marah bila Sai ternyata tidak memiliki perasaan yang sama. Dalam hati dia mengerang dan menepok jidatnya 'Aku sudah jatuh cinta padanya, bodoh sekali'
"Ok, Aku mengerti Sai. Aku akan berkemas dan pergi tiga hari lagi" Lalu wanita berambut pirang itu melanjutkan membersihkan semak-semak mawar tanpa keriangan yang tadinya dia pancarkan.
Sai merasa bersalah. Dia tidak ingin wanita itu pergi tapi dia tidak bisa mengatakannya. Sai tidak punya pilihan selain menyingkirkan wanita itu dari hidupnya. Keselamatan Ino jauh lebih penting ketimbang menuruti ego nya. Sebagus apapun harinya di lewati bersama Ino tidak lebih penting dari nyawa wanita itu.
Syukurlah Ino selalu optimis dari pada merasa kecewa karena Sai memintanya keluar dari rumah itu. Ino memutuskan untuk membuat hari-hari terakhirnya dirumah itu bersama Sai menyenangkan. Lagipula walaupun mereka tidak serumah lagi mereka masih bisa berteman dan mungkin mempertahankan status friend with benefit sampai Ino bosan. Sai benar untuk apa dia tinggal sendirian disini bila Sai tidak ada. Pria itu tidak mengatakan tidak ingin berjumpa dengannya lagi jadi Ino masih punya kesempatan. Yamanaka Ino menolak untuk jadi pesimis.
"Sai" Ino memanggil pria itu dengan lembut. Sai yang tengah duduk di sofa meletakan buku yang dibacanya untuk mengamati wajah wanita itu. Sepertinya dia tidak sedih lagi karena wanita itu tersenyum padanya. Ino tanpa mau-malu duduk di pangkuan pria itu kemudian mengaitkan kedua tangannya di leher Sai." Mau kencan denganku?"
Alis Sai terangkat "Kencan?"
"Kau belum pernah pergi kencan kan?"
Sai mengeleng
"Ok, Kalau begitu kita pergi jam enam sore. Aku akan membuat reservasi makan malam di restaurant favorite ku sekarang " Ino meraih ponselnya dan membuat reservasi untuk mereka "ah Ini sudah jam setengah lima aku akan mandi dan bersiap-siap. Sai tolong dress up sedikit jangan pakai jeans dan T-shirt" Ino langsung meluncur menuju kamarnya. Meningalkan Sai kebingungan.
Sai menuruti perintah Ino, sebelum jam enam pria itu sudah duduk lagi di sofa mengenakan sweater khasmir hitam yang dipadukan dengan celana panjang abu-abu. Terlihat casual simple tapi elegant. Ino masih belum keluar juga dari kamarnya. Sai heran mengapa Ino butuh waktu satu setengah jam hanya untuk mandi dan berganti pakian.
Lalu Ino muncul, Sai terpana dia sudah tahu wanita itu cantik secara estetik dan dia juga sudah hapal setiap lekuk dan sudut tubuhnya yang telanjang tapi tetap saja dia merasa debaran jantungnya meningkat melihat Ino Yamanaka terbalut gaun ungu sepanjang lutut yang memamerkan bahu dan leher jenjangnya.
Sai meringis ketika memperhatikan leher dan bahu wanita yang seharusnya putih dan mulus itu. ternodai bekas-bekas percintaan panas mereka. Sai mengutuk dirinya yang hobi meningalkan jejak di tubuh Ino. Dia tidak mengerti mengapa dia merasa harus menandai wanita itu dan wanita itu juga tidak mencoba menutupinya atau melarangnya melakukan itu
"Siap?" Tanya Ino pada Sai.
Mereka berdua mengunci rumah dan menuju garasi.
.
.
Begitu Ino dan Sai turun dari mobil puluhan kamera sudah menanti mereka, Wanita itu meraih lengan pria disampingnya dan berbisik pada Sai "Tersenyum Ok, Aku tidak tahu mengapa mereka disini"
Para wartawan mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
"Tuan Shimura apa benar kalian akan segera menikah?" Salah seorang wartawan bertanya, tapi Ino dan Sai melangkah tanpa menjawab
"Nona Yamanaka apakah rumor anda tengah hamil itu benar? Makanya anda buru-buru mau menikah dan mundur dari dunia artis" Seorang wartawan bertanya lagi memprovokasi. Pelipis Ino langsung berkedut tapi wanita itu tetap diam.
"Tuan Shimura apa benar anda dipaksa dan diancam oleh keluarga Yamanaka untuk segera menikahi putrinya?" Ino mulai kehilangan ketenangannya, Bisa-bisanya mereka menduga yang tidak-tidak dan membawa-bawa keluarganya. Ia hampir menyahut kesal pada wartawan. Akhirnya mereka berdiri di pintu masuk.
Dengan satu gerakan, Sai meraih pingang Ino dan mencium wanita itu dengan panas, Suara shutter kamera terdengar mengambil photo mereka. Sai berbalik menatap para wartawan gossip "Aku harap itu menjawab semua pertanyaan kalian, Jadi permisi kami sedang ada kencan" lalu mereka melangkah masuk ke dalam hotel tersebut.
Ino Yamanaka sangat terkejut dengan tindakan spontan Sai. Dia tidak percaya pria itu berimprovisasi. "Mengapa kau melakukan itu?"
"Simple, Aku memberikan sesuatu untuk mereka spekulasikan"
"Wow, Kau beradaptasi dengan cepat"
"Bagian dari pekerjaanku" ucapnya datar.
Mereka duduk di sebuah restaurant yang terletak di lantai lima puluh gedung tertinggi di konoha. Dari jendela mereka bisa melihat indahnya kelap-kelip lampu kota. Lilin menyala dan Champagne telah dibuka. Ino mengangkat gelasnya "Mari bersulang Sai, Untuk merayakan kebersamaan kita yang singkat dan menyenangkan" terdengar sedikit kepahitan dalam nada suara wanita berambut pirang itu. Sai sudah tentu tidak menyadarinya. Dia meniru gesture Ino dan menyunggingkan satu-satunya senyum yang dia tahu "untuk kesuksesan mu gorgeous" Lalu mereka menyesap minumannya.
Mereka menikmati hidangannya tanpa banyak bercakap-cakap, Sai memang bukan seorang conversasionalist dan Ino sedang tidak berminat basa-basi tapi mereka nyaman dengan kesunyian diantara mereka.
"Ino tidak apa-apa kalau kita terlalu banyak minum?" Sai tidak mabuk tapi dia sudah mengkonsumsi lebih dari standar yang diperbolehkan untuk mengemudi
"Tidak masalah Sai, Kita bisa check in di hotel ini dan pulang besok" Ino menghabiskan gelas nya yang ke empat. Dia sudah merasa badannya sedikit hangat dan merasa pikirannya sedikit berkabut
"Sepertinya Ide bagus" Sai tidak ingin berurusan dengan polisi hanya karena menyetir dalam kondisi tidak dizinkan.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini Sai?"
"Kembali menjalankan pekerjaanku di militer"
"Aku ingin tahu mengapa tiba-tiba kau memutuskan untuk kembali melakukan pekerjaan berbahaya itu?" Dalam hati Ino berandai-andai bila saja Sai tidak kembali pada pekerjaan lamanya mungkin dia dan Sai masih akan tinggal bersama. Tapi bila Sai tidak ada disana menembak deidara yang memegang granat mungkin Ino sudah tamat.
"Aku akhirnya menemukan tujuan dan motivasi gorgeous. Karirku di militer adalah permintaan ayah angkatku dan ketika dia meninggal aku merasa tidak punya tujuan lagi untuk melanjutkan pekerjaanku. Tapi serangan mereka waktu itu menyadarkanku. Aku ingin melindungi warga konoha dengan kemampuanku"
Bila Sai peka dia akan melihat cinta dan kekaguman terpacar dari mata Ino Yamanka tapi dia begitu bebal apalagi menyangkut emosi. Sai tidak paham apa yang sedang dirasakan wanita itu. itu bukan ekspresi yang sama dibuat Ino ketika menyeretnya ke tempat tidur dia pernah melihat Ino membuat ekspresi ini sebelumnya.
Ino telah menghabiskan dessertnya dan meminum gelas terakhir dari champagnenya. Semua alcohol dan gula yang dia konsumsi membuatnya merasa ceria. Sai tidak mencintainya tapi pria itu menginginkannya. Ino bisa hidup dengan itu sama sekali tidak buruk.
"Sai, Aku merasa mabuk"
"Kau bisa berdiri?, Sebaiknya kau beristirahat"
"Ayo check in kalau begitu" Usul Ino.
Sai berdiri untuk mengandeng Ino, dia melihat noda coklat tertingal di sudut bibirnya. Lalu dia meraih dagu wanita berambut pirang yang sedikit bingung
"Apa ada yang aneh Sai?"
"Sepertinya kau makan dengan berantakan"
Ino memekik kecil terkejut saat merasakan lidah pria itu menjilati ujung bibirnya
"Sekarang sudah bersih" Pria itu tersenyum lagi tanpa dosa.
Malam ini terasa aneh, Sepertinya Sai bertindak di luar karakter. Pria itu mulai mengambil insiatif biasanya Ino harus meminta atau memerintahkan Sai untuk melakukan sesuatu. Selalu Ino yang menginisiasi sepertinya malam ini akan sedikit berbeda.
Ino berhasil berjalan sampai depan meja resepsionist, tapi kemudian dia merasa melayang-layang. Dia bahkan tidak bisa berjalan dengan lurus. Sai yang khawatir dengan mudahnya mengendong Ino ala bridal-style ke kamar mereka dan membaringkan wanita itu di ranjang yang lebar.
Wanita itu menutup matanya dan merasa kepalanya berputar-putar. Jelas dia minum terlalu banyak tapi biasanya mabuknya akan hilang bila berkeringat. Sai duduk di tepi ranjang membuka sepatunya dia sama sekali belum merasa lelah.
"Sai bantu aku melepas bajuku, tidak nyaman tidur dengan pakian lengkap" Wanita itu berguling menelungkup. Ia terlalu pusing untuk berdiri.
Sai dengan patuh menuruti permintaan wanita itu. perlahan dia menarik turun resleting gaun ungu tersebut dan dengan sengaja membiarkan jari-jarinya menyentuh kulit pungung Ino yang lembut.
Ino gemetar dan mendesah, Sai kadang-kadang bisa menjadi pengoda juga. Seringan apapun sentuhan pria itu dikulitnya selalu membuat Ino bereaksi seolah dia menderita hypersesitivitas.
"Kau bisa duduk?"
Wanita itu menurut dan membiarkan Sai melepas bajunya. Dia lebih nyaman sekarang hanya mengenakan pakian dalamnya.
Sai mendaratkan ciuman singkat di kening wanita itu "Kalau begitu tidurlah Gorgeous,kau terlihat lelah"
Ino menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, bibirnya mencebik tampak sedikit kecewa. Ino mengharapkan sesuatu yang berbeda. Dia bahkan memilih pakian dalamnya yang paling sexy untuk malam ini dan Sai mengabaikanya begitu saja. Sepertinya pria itu sedang tidak berminat.
Sai melepas sweaternya dan bergabung dengan wanita berambut pirang itu diranjang. Dia meraih Ino dan memeluk wanita itu dari belakang, merasakan hangat tubuh wanita itu di dadanya yang telanjang, Sai mendengar nafas teratur dan dengkuran ringan dari bibir wanita itu. Ino telah terlelap dan perlahan kantukpun menyerang pria itu. Kelopak matanya mulai terasa berat. Ini akan menjadi malam terakhir yang dia habiskan bersama Ino dalam pelukannya. Sai tidak ingin melepaskan wanita itu tapi dia harus. Pria itupun terlelap dalam tidur tanpa mimpi. Dia merasa damai.
.
.
Sasuke Uchiha bersandar di pintu mobilnya yang terparkir di tengah-tengah reruntuhan pabrik di pinggir kota konoha. Dia menanti seseorang. Aneh mereka membuatnya menunggu. Dengan hati-hati dia menyelipkan pistol di pingangnya dan menyembunyikan beberapa pisau. Senjata laras panjang tersimpan di dalam mobilnya. Lebih baik dia mempersiapkan diri. Akatsuki tidak bisa di anggap remeh.
Sebuah mobil hitam mendekat, pengemudinya turun. Seorang berpakian serba hitam dan bertopeng.
"Sasuke uchiha, Selamat bergabung dengan Akatsuki. Aku Tobi dan mulai hari ini kau akan bekerja di bawah pengawasanku"
Sasuke menatap pria bertopeng itu dengan bosan "Aku mau bertemu Itachi"
"Tsk..tsk..tsk.. Tidak semudah itu Sasuke. Kau harus membuktikan dirimu dan kesetiaanmu pada organisasi baru kami bisa membawamu ke markas"
"Jadi kau kenal kakakku"
"Bisa dibilang begitu, Kami bekerja pada divisi yang berbeda dan aku tidak selalu menyukai pria itu"
"Ah, Jadi kita punya kesamaan kita membenci orang yang sama. Lalu apa tugasku"
Tobi melemparkan sebuah file padanya. "Kau perlu menyingkirkan orang-orang dalam daftar itu"
"Bagaimana aku bisa mengontak mu?" tanya pria berambut biru gelap itu
Tobi menyerahkan sebuah ponsel "Tidak usah khawatir, Kami mengawasimu" Lalu dia meninggalkan Sasuke yang mulai berpikir bagaimana caranya menyelesaikan misi pertamanya untuk akatsuki.
Dia merasa kasihan dengan orang-orang yang akan dia habisi tapi sekali lagi pengorbanan ini diperlukan untuk menemukan kakaknya.
.
.
Ino terbangun dan menemukan Sai tengah berdiri di depan jendela menatap pemandangan kota konoha di pagi hari. Entah mengapa wanita itu merasakan atmosfer kemuraman dari sosok pria itu meskipun wajahnya tidak terlihat suram. Ino melangkah dan melingkarkan lengannya dipinggang Sai mendekapnya dari belakang.
"Ada apa Sai?"
"Aku tidak ingin kita bertemu lagi" Ucap pria itu dingin. Dia bersyukur sedang memunggungi Ino, Karena dia tidak akan sanggup mengucapkannya bila harus memandang wajah wanita itu.
"Tak cukup kah dengan aku keluar dari rumahmu? Harus kah kau juga membuang hubungan kita" suara wanita itu bergetar
Sai mencoba menjelaskan "Ino, ini hal terbaik untuk mu. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam bahaya. Pria sepertiku tidak bisa punya hubungan dengan siapapun. Mengapa kau tidak mengerti"
"Apa hak mu untuk memutuskan apa yang terbaik untukku?" Ucap wanita itu marah. "Tatap aku Sai"
Sai berbalik dan menemukan air mata menghiasi wajah cantiknya. Ino meraih tangan pria itu dan meletakannya di pipinya yang basah "Inikah yang kau inginkan. Melupakan semua seolah-olah tak pernah ada?" Baru kemarin Ino berpikir dia dan Sai masih bisa bertemu tapi hari ini pria itu mengandaskan harapannya. Bila ini yang dia inginkan. Ino akan menghormati keputusannya.
Sai merasakan sakit walau dia tidak terluka. Dia tidak sanggup melihat wanita itu menangis "Maafkan aku Ino. Aku tidak ingin membuatmu menangis"
"Tapi kau telah membuatku sedih. Jika ini membuatmu lega aku menerima keputusanmu dan kita akan melupakan semua ini pernah terjadi" Hati Yamanka Ino hancur. Sai telah membuat keputusan dan tidak memberikan mereka kesempatan. Dia tidak akan memperjuangkan pria yang tidak ingin diperjuangkan
Sai menyerah dengan dorongan hatinya. Dia meraih wanita itu dan menciumnya "Maafkan aku Ino" Bisiknya pelan.
Dengan berurai airmata Ino berbisik "Sai, aku mencintaimu dan peluklah aku untuk terakhir kalinya" Kata-kata itu terasa berat diujung lidahnya. Tapi dia ingin pria itu tahu apa yang dia rasakan.
Sai memeluk Ino 'apakah ini emosi mengapa terasa begitu menyakitkan' dia mencium pipi wanita itu. Mencoba menghapus airmata yang dia sebabkan.
Ino merasakan bibir dingin Sai di pipinya. Pria itu mengakhiri semuanya karena peduli pada dirinya. Ini sungguh tidak adil. Tidakkah ada jalan lain.
Sai mengendong dan membaringkan Ino di tempat tidur. Mencium bibir yang telah mengucapkan cinta. Kata yang selamanya dia tidak akan pernah mengerti. Ino balas memagut bibir Sai mencurahkan semua perasaannya dalam sebuah ciuman. Dia berharap Sai bisa merasakannya.
Mereka saling menatap, Saling menyentuh mencoba mengingat setiap detailnya. Karena yang akan tersisa hanyalah kenangan. Ino akan selalu mengingat rasa pria itu dalam dirinya. Bagaimana mereka berdua saling mengisi dengan sempurna. Bergerak dengan sinkroni yang sama.
Dia mencoba menengelamkan rasa sakit hatinya dengan kenikmatan sesaat yang diberikan pria itu. memekikkan namanya untuk terakhirkalinya. Sai rebah berbalut peluh dalam pelukannya dan wanita itupun membisikan selamat tinggal.
Yamanka Ino tidak pernah kembali ke rumah Sai shimura.
