Disclaimer : Hidekaz Himaruya
Rating : T (?) Bisa berubah sewaktu - waktu tergantung mood Author.
Warning : Author newbie, jadi banyak TYPO dan aneh. Abal2 dan tidak masuk di akal. Ini percobaan nekad dari author yang baru ngeh dikit tentang hetalia. *ditimbun pake pasir se-truk*
Cerita Sebelumnya:
"Aku butuh bantuanmu sekarang. Tidak ada waktu lagi." Kataku sambil mempercepat langkah kakiku.
"Jelaskan dulu padaku!" Kata Nesia masih galak.
"Flying Mint Bunny hilang. Tadi dia terlihat gelisah, lalu keluar dan menghilang." Kataku mempersingkat cerita sambil terus menyeret Nesia.
"Flying Mint Bunny yang ini?" Kata Nesia membuatku otomatis menghentikan langkah kakiku dan menoleh padanya.
Aku melihat tangan Nesia yang sebelah lagi sedang memeluk Flying Mint Bunny yang kini sudah lebih tenang. Aku mengambil napas panjang dan mengembuskannya dengan keras karena lega. Aku segera mengambil alih Flying Mint Bunny dari tangan Nesia dan memeluknya lega. Setelah itu aku memintanya kembali ke dimensinya untuk membuatnya tetap aman.
Nesia menatapku geli dan aku segera memalingkan wajahku darinya karena pasti ada semburat merah di pipiku. Aku bersyukur karena semuanya masih aman saat ini. Aku tak bisa membayangkan lagi apa yang harus aku lakukan jika upacara itu sampai terlaksana dengan Flying Mint Bunny sebagai tawanannya. Karena sudah terlanjur menarik Nesia keluar, aku kembali menariknya menuju sekolah untuk mengajaknya bekerja sama mengendalikan situasi yang mulai kacau ini. Entah mengapa, firasatku mengatakan untuk mempercayai Nesia meskipun dialah yang paling mencurigakan dibanding semuanya.
—OOOoooOOO—
NESIA POV
Pagi ini aku terbangun dengan enggan. Suara alarm yang membahana menyerang kantukku untuk segera menghilang. Dengan terseok - seok, aku melangkah menuju kamar mandi. Namun, keengganan mataku untuk terjaga hanya sebentar saja karena mataku otomatis terbuka lebar begitu air dingin menyentuh kulitku.
Setelah mandi dan berganti seragam, aku mencari makanan di lemari dapur kecilku. Sayangnya sepertinya aku lupa mengisi persediaan makananku lagi. Ah, benar juga, aku sudah jarang bahkan hampir tidak pernah ke basement lagi beberapa hari belakangan ini. Terakhir kesana, sekitar seminggu yang lalu saat baru masuk sekolah ini. Ah, bodoh! Kalau begini ceritanya, aku terpaksa turun untuk sarapan di ruang makan yang selalu aku hindari. Aku malas berada di tempat ramai.
Sukses merutuki diri dengan kebodohan sepele yang aku buat sendiri, aku mengunci pintu kamarku dan turun menuju ruang makan di lantai 1. Aku hanya mengambil menu vegetarian dan segelas teh manis hangat sebagai menu sarapanku. Aku tidak mau mengambil resiko dengan menu daging dan ayam yang sering dibumbui dengan sedikit alkohol maupun daging yang tidak boleh aku makan. Aku sangat intolerant dengan alkohol.
Aku segera mencari meja kosong dan aku menemukannya di pojok ruangan. Aku segera duduk disana dan mulai menyantap sarapanku sendirian. Ah, rambutku yang tergerai ini cukup mengganggu saat makan. Aku pun mengikatnya diatas tengkuk dengan membuat cepol kecil menggunakan ikat rambut yang biasa aku alih fungsikan sebagai gelang di tanganku.
"Kak Nesia tumben sekali santap sarapan disini." Kata adikku si Malay yang tahu - tahu sudah duduk di hadapanku dengan nampan berisi makanan yang sama denganku.
"Persediaanku di dapur habis. Aku belum sempat turun ke mini market lagi di bawah." Kataku cuek sambil menyendokkan salad ke mulutku.
"Pantas saja aku tak pernah melihatmu saat sarapan. Ternyata memang kau tak pernah sarapan disini." Kata Eliza yang juga tiba - tiba sudah duduk disampingku sambil menyuapkan sepotong roti bakar ke dalam mulutnya.
"Begitulah. Di sekolah juga dia tidak pernah ke kantin. Selalu makan dalam kelas." Kali ini kepalaku sukses menengok ke arah samping kiriku yang ternyata ditempati seorang gadis India yang kalau aku ingat ada di kelasku.
"Betulkah? Ish, Kak Nesia ini. Awak tak sangka Kakak betul - betul tak senang tempat ramai macam ni." Kata Maya mengomentariku. Aku hanya menanggapinya dengan tatapan malas sambil terus memakan sarapanku.
"Kau tidak makan daging, Nesia?" Tanya Eliza yang melihat menu makananku.
"Aku tak bisa sembarang makan, Eliza. Terutama daging. Aku hanya bisa makan daging tertentu dan aku juga tidak bisa makan makanan yang berbumbu alkohol seperti menggunakan mirin, rum, dan sejenisnya." Jelasku pada Eliza.
"Betul itu. Kak Nesia ni tak tahan sangat dengan alkohol. Masa itu awak tak sengaja membagi Kak Nesia coco yang mengandung rum sikit. Betul - betul sikit sampai awak tak rasa ada rum didalamnya. Muka Kak Nesia merah padam macam orang mabuk berat. Dan Senior semua ni mesti tak nak tahu bila Kak Nesia mabuk. Bisa habis satu asrama ni sebab ulah dia." Kata Maya membongkar cerita lama tentang aku yang tak sengaja mabuk dan menghancurkan taman rumah. Aku hanya bisa memberinya tatapan peringatan untuk tak bercerita lebih jauh.
"Ahahaha... Kau lucu sekali, Nesia. Aku baru tahu kau sebegitu tidak tolerannya dengan alkohol. Ngomong - ngomong, kenapa belakangan ini kau jarang masuk ke kelas? Kalau Honda sudah biasa karena dia bendahara OSIS. Nah, kau kemana?" Kata gadis India itu. Aku lupa namanya. Maklumi saja jika ingatanku agak buruk terhadap teman - teman sekelasku yang bahkan jarang menyadari kehadiranku karena aku sendiri jarang hadir di kelas.
"Wah, Kak Nesia puting sekolah. Nanti akan awak beritahu Ayahanda." Kata Maya sukses membuatku memberinya death glare. Dasar tukang ngadu!
"Aku ada urusan lain." Kataku singkat dambil melirik Eliza. Yang aku lirik malah cuek mengigit roti bakarnya dan tak melihat ke arahku.
DUKK! Aduh, ada sesuatu yang menubruk kepalaku. Ternyata Flying Mint Bunny yang terlihat resah dan ketakutan. Aku segera mengambilnya dan memeluknya di pangkuanku. Mereka semua hanya menyingitkan dahi melihat tanganku bergerak di udara mengambil Flying Mint Bunny yang ketakutan sambil memeluk kepalaku. Setelah itu keheningan tercipta dan aku menyuapkan kembali makananku.
"Ah, urusan lain atau bertemu pacar?" Kata Eliza berusaha mengganti topik dengan caranya yang membuatku sukses tersedak makanan yang sedang aku telan.
"Kak Nesia baru masuk telah memiliki kekasih?! Woah, berita ini sungguh amat besar. Awak tak tahu Kakak boleh dekat dengan lelaki." Kata si Malay yang membuatku semakin menatapnya tajam.
"Ah, benar juga. Kalian pasti bermesraan dengan sangat panas. Sampai meninggalkan bukti segala." Kata si India yang membuatku semakin tersedak saat menyeruput teh milikku untuk menghilangkan tersedakku yang sebelumnya.
"Bukti?" Aku benar - benar bingung dengan pembicaraan ini. Terima kasih pada Eliza yang membuatku sukses terpojok begini. Aku melihat Eliza yang hanya menyeringai penuh kesenangan.
"Itu, kissmark di lehermu." Kata gadis itu melanjutkan lagi.
"Astaga, Kakak!" Seru Maya terkejut.
Aku meraba leherku dan aku baru ingat jika perbannya sudah aku lepas kemarin. Arthur bilang bekas lukanya memang terlihat seperti memar kecil, tapi aku tak tahu apapun. Aku selalu menggerai rambutku sehingga bekas luka kemarin tak terlalu tampak. Terima kasih kali ini untuk Arthur yang membuatku sukses terlihat seperti perempuan rendahan. Aku menggeram kesal.
"Jangan salah paham. Ini bukan kissmark. Ini hanya luka yang aku dapat saat urusanku." Kataku berusaha menjelaskan.
"Siapa lelaki itu, Kak?! Biar awak hajar dia yang telah berani menyentuh Kakak." Kata si Malay dengan gaya hiperbolanya tanpa mempedulikan penjelasanku.
"Luka itu goresan, bukan kissmark." Kata si India menggodaku. Eliza hanya diam saja dengan seringaian kemenangannya berhasil membuatku kerepotan.
"Ini luka bekas terkena racun. Dan lagi aku tidak pernah punya pa—" Ucapanku terputus begitu Arthur si alis tebal menarikku keluar dari ruang makan. Untunglah tanganku yang lain masih memeluk Flying Mint Bunny sehingga makhluk malang itu tidak terjatuh dari pangkuanku akibat tarikan Arthur tadi.
Kejadian itu akhirnya sukses membuatku akan mendapatkan masalah yang lebih besar karena kesalahpahaman. Aku tidak kuasa menolak tarikan tangan Arthur yang dengan terburu - buru membawaku keluar asrama. Setelah kebingunganku kali ini aku memberontak dan menanyakan maksudnya. Enak saja main tarik - tarik orang! Aku kan bukan tali tambang!
"Apa - apaan ini?" Semprotku kesal begitu kaki kami melangkah ke depan gerbang asrama.
"Aku butuh bantuanmu sekarang. Tidak ada waktu lagi." Kata Arthur malah mempercepat langkah kakinya yang jenjang.
"Jelaskan dulu padaku!" Kataku galak tak mau kalah dari bule menyebalkan ini.
"Flying Mint Bunny hilang. Tadi dia terlihat gelisah, lalu keluar dan menghilang." Jelas Arthur singkat. Hilang? Dia kan ada di pelukanku sekarang ini. Aku jadi bingung.
"Flying Mint Bunny yang ini?" Kataku memastikan maksudnya.
Arthur langsung menghentikan langkah kakinya seketika dan menoleh padaku. Sinar kelegaan terlihat jelas dimatanya. Arthur mengembuskan napas lega dan mengambil alih Flying Mint Bunny dari pelukanku. Setelah menggumamkan beberapa hal pada Flying Mint Bunny, makhluk itu menghilang.
Aku terkikik geli melihat Arthur yang berbicara dengan Flying Mint Bunny dengan sangat lembut dan berbeda dari biasanya. Ternyata makhluk sesangar Arthur saja bisa luluh dengan makhluk semanis Flying Mint Bunny. Semburat merah terlihat di pipi Arthur yang putih. Mungkin karena malu ketahuan olehku, dia segera memalingkan wajahnya dan kembali menarikku untuk berjalan mengikutinya.
Setelah memasuki area sekolah, Arthur membawaku ke ruang OSIS. Aku diminta untuk duduk di sofa dan dia memulai pembicaraan ini.
"Terima kasih sudah menemukan Flying Mint Bunny. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, tapi tadi dia tahu - tahu gelisah dan pergi dari sini." Kata Arthur berat. Sepertinya gengsinya runtuh ketika ketahuan panik olehku tadi.
"Aku tak menemukannya. Dia yang datang padaku. Saat makan tadi, dia menabrak kepalaku dan langsung memeluknya. Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi, tapi dia ketakutan akan sesuatu." Kataku.
"Itulah yang membuatku bingung. Padahal kami hanya berdua disini." Kata Arthur menjelaskan.
Aku terdiam dan memandang sekeliling. Mataku terhenti pada jendela di belakang meja Arthur. Aku bangkit dan langsung menuju jendela itu. Pemandangan yang aku lihat adalah halaman belakang sekolah dan hutan. Dari lantai 2 ini, semuanya cukup terlihat jelas.
"Arthur, cahaya itu..." Kataku begitu melihat pagar belakang yang terlihat bercahaya.
"Ya, itu kekai dan segel terkuat. Hanya orang seperti kita yang bisa melihatnya dari atas sini." Kata Arthur menghampiriku.
"Tapi, kenapa kita tidak bisa melihatnya dari bawah?" Tanyaku bingung. Aku baru melihat yang seperti ini. Selama aku menggunakan kekai, aku baru tahu jika kekai bisa bercahaya.
"Entahlah. Aku juga penasaran, maka dari itu aku pernah memotretnya dari seluruh penjuru arah. Dan hanya disitu yang bercahaya. Entah mengapa, di kamera biasa, cahaya itu seolah tak ada dan... hasinya selalu buram. Namun, jika memakai kamera khusus, cahaya itu seperti mendekati pure white." Kata Arthur menjelaskan.
"Sihir terkuat itu?" Tanyaku terkejut.
"Ya, sihir terkuat." Kata Arthur seperti membeo.
"Arthur, apa tidak ada petunjuk lain mengenai masalah ini?" Kataku frustasi mendengar kata pure white.
"Sebenarnya aku sendiri bingung. Mereka mengubah pola serangannya dan mulai mengincar kita, para personifikasi negara. Yang aku tahu, semua kejadian ini memang berakar di area bangunan lama. Aku butuh data lengkap mengenai penangguhan pembangunan disana yang aku yakin akan aku dapatkan di ruangan Pak Tua itu." Kata Arthur.
"Mengubah pola serangan? Mengincar kita? Apa maksudmu?" Kataku tak paham dengan apa yang terjadi.
"Ah, benar juga, kau belum tahu masalah ini. Jadi, tadi pagi sekitar jam 3, ada serangan di area gedung lama. Serangan itu melukai Lukas dan Willem. Sayangnya, Willem menghilang saat aku berusaha menyelamatkannya bersamaan dengan hilangnya cahaya yang sesaat menyilaukan mataku." Kata Arthur menjelaskan.
"Si kepala tulip hilang?!" Seruku terkejut.
"Begitulah." Kata Arthur.
"Kau yakin dia benar - benar hilang? Sudah kau cari lagi disekitar sana?" Tanyaku memastikan.
"Aku yakin, sudah aku cari lagi begitu dia menghilang."Kata Arthur terdengar frustasi.
"Ini aneh. Sihir itu hanya membutakanmu sesaat dan si Londo menghilang tanpa jejak. Akan sulit untuk manusia biasa mengangkat tubuhnya yang tinggi besar itu. Apalagi memindahkannya dalam sekejap. Lain lagi ceritanya jika ada pintu rahasia di bawah tempat dia terjatuh ataupun makhluk kuat seperti buto." Kataku memberi analisa.
"Kau benar. Sepertinya aku harus membagi tugas lagi untuk ini. Sebentar, kita akan rapat dengan Kiku dan Elizabeta. Terima kasih sudah memberikan titik terang untukku, Nesia." Kata Arthur tersenyum.
Deg... Ada apa ini? Kenapa jantungku berdegup dengan kencang saat melihat Arthur tersenyum? Memang sih, aku sangat jarang melihat Arthur tersenyum seperti itu. Biasanya dia hanya menampakkan wajah angkuh dan dinginnya saja. Yah, walaupun aku pernah melihatnya tersenyum lembut dan frustasi sih. Tapi, tersenyum manis seperti itu? Sebuah pemandangan langka dari si alis tebal bak ulat bulu menyebalkan, Arthur.
Aku memalingkan wajahku yang terasa panas. Arthur segera pergi dari hadapanku untuk menelepon seseorang yang aku yakin jika bukan Eliza, pasti Kiku. Aku beranjak dari tempatku menuju dapur kecil yang ada di dalam ruang OSIS. Sepertinya teh akan cocok untuk rapat nanti. Aku melihat ada banyak jenis teh disini.
Matcha, Earl Grey, Hazelbank, Rossela, dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku identifikasi karena aku malas membaca tulisan di kotak tehnya satu persatu. Aku menyingitkan dahi begitu melihat ada kotak teh bertuliskan Jasmine Tea. Siapa yang suka minum teh melati? Seingatku Kiku tak begitu menyukai teh dengan aroma tambahan seperti ini.
"Kenapa? Kau mau menyeduh teh disini?" Tanya Arthur yang tahu - tahu sudah ada di belakangku.
"Ini koleksi teh siapa?" Tanyaku balik sambil merebus air untuk menyeduh teh.
"Koleksiku dan Kiku." Kata Arthur lalu mengambil kotak teh yang bertuliskan Earl Grey.
"Aku lebih suka Earl Grey, Kiku lebih suka Matcha, sementara Elizabeta dan Alfred tak begitu menggilai teh. Mereka biasanya menerima apa saja yang disajikan." Kata Arthur sambil menuangkan tehnya kedalam poci teh.
"Kalau Jasmine Tea ini?" Tanyaku sambil mengambil kotak teh melati.
"Itu Kiku yang membelinya kemarin. Katanya kita harus menambah koleksi teh karena akan ada rapat - rapat lain denganmu. Itu teh kesukaanmu?" Jelas Arthur sambil menoleh ke arahku.
"Ya, aku sangat suka teh jenis ini. Kiku masih ingat ternyata. Padahal dia sendiri tak begitu menyukainya." Kataku sambil tersenyum lembut.
"Kalian dekat sekali ya." Komentar Arthur terdengar sinis.
"Dia sahabatku sejak lama. Dia sudah seperti kakak yang tak pernah aku miliki." Kataku dengan tatapan menerawang. Aku jadi teringat kegigihan Kiku untuk membuatku percaya padanya dan bangkit setelah tersakiti oleh si kepala tulip itu.
Selama ini aku memang selalu mencari sosok yang bisa aku andalkan seperti seorang kakak. Aku ingat sekali saat kecil dulu aku selalu diminta mengalah dan mengurus adik - adikku yang kecil. Aku penat dengan semua itu. Apalagi adik - adikku, terutama si Malay, selalu manja dan bergantung padaku. Lalu, si kepala tulip itu datang dan memberikanku sosok yang aku inginkan.
Dulu, garis bawahi dan baca dengan penekanan kata 'dulu', aku sangat mengidolakan si Londo itu. Dia terus meracuniku dengan berkata bahwa perasaan kagum dan nyamanku padanya adalah cinta. Aku yang saat itu masih sangat polos hanya percaya saja dengannya. Dia terus memberiku harapan dan berbuat baik di depanku. Sayangnya aku terlambat menyadari bahwa dia hanya memanfaatkanku dan menyakiti rakyatku dengan kejinya.
Setelah itu, dia menghilang begitu saja dari hadapanku. Kepercayaanku langsung runtuh seketika dan membuat lubang yang tak tersembuhkan di dalam hatiku. Tak lama setelah hilangnya si kepala tulip dan hilang pula kepercayaanku pada orang lain, terutama kaum pria, Kiku datang dengan wajah seriusnya yang terus berusaha membuatku tersenyum dengan caranya yang ajaib.
Kiku dengan baiknya membantuku bangkit dari keterpurukanku dan membuatku menyadari racun yang selama ini si Londo tanamkan bukanlah cinta. Kiku pula lah yang membuatku mulai percaya bahwa masih ada pria baik sepertinya. Dia menawarkanku persahabatan yang sangat menyenangkan. Aku bisa bergantung padanya seperti seorang adik kecil dan dia bisa merasakan kemanjaan seorang adik perempuan yang tak dimilikinya. Di saat yang sama, dia juga menjadi teman curhat yang paling pengertian dan aku memberinya saran untuk menjadi lebih terbuka dan ekspresif. Meski pada akhirnya Kiku harus kembali, tapi itu sama sekali tak memberiku luka dan membuatku terus bangkit hingga kini. Dia adalah sahabat terbaik yang aku miliki.
—OOOoooOOO—
NORMAL POV
Bunyi air yang telah mendidih menyadarkan Nesia dari lamunannya. Dimatikannya kompor listrik itu dan didiamkannya dahulu air itu untuk menurunkan suhunya hingga 80 derajat celsius karena pada suhu itulah suhu optimum untuk teh diseduh dan diambil manfaatnya tanpa merusak kandungan teh. Begitu suhu teh turun dengan sempurna, Nesia menuangkan air panas itu dengan hati - hati dan menyeduh Earl Grey, Jasmine Tea, dan Matcha.
Setelah itu, Nesia menuangkan teh - teh tersebut kedalam 4 cangkir yang telah Arthur siapkan di atas baki. Setelah menuangkannya, Nesia membereskan poci teh yang tadi digunakannya dan mencucinya. Sementara itu Arthur membawa bakinya ke meja depan sofa lalu kembai ke arah Nesia untuk mengambil sugar block yang tertinggal. Tangan mereka tak sengaja bersentuhan karena Nesia juga berpikiran untuk mengambil sugar block dan meletakkannya di meja.
Nesia menarik tangannya dan menunduk malu. Setelah merasakan degup jantungnya yang tak karuan tadi, kali ini tangannya seolah tersengat listrik. Wajah Nesia benar - benar merah. Beberapa anak rambut yang tidak terikat menutupi wajah ayu-nya bersama dengan poni sampingnya yang kini sebagian terjulur menutup ke depan karena terlepas dari jepit bunga melati kesayangannya. 'Astaga, apa yang terjadi ini sebenarnya? Kenapa aku tidak marah dan malah malu seperti ini? Agh, sepertinya aku mulai gila', erang Nesia frustasi dalam hati.
Pintu ruang OSIS tiba - tiba terbuka lebar tanpa menimbulkan suara seperti kenop pintu yang diputar. Masuklah Elizabeta dan Kiku ke dalam ruangan itu dengan santainya. Arthur yang sedari tadi hanya memandangi wajah Nesia yang memerah dan menggemaskan terlonjak kaget dan segera pergi sambil membawa sugar block ke arah sofa. Nesia masih bergeming dan merutuki dirinya yang seperti orang linglung sampai tepukan Kiku di pundaknya mengejutkannya.
"Astaga, Kiku! Kau mengejutkanku." Kata Nesia sambil mengusap dadanya untuk menenangkan jantungnya yang terlonjak kaget.
"Aku sudah memanggilmu dari tadi. Kenapa melamun?" Kata Kiku dengan wajah seriusnya yang entah mengapa terlihat berbeda dari biasanya. Sorot matanya terasa semakin menjauh dari kata hidup.
"Aku tidak melamun kok." Elak Nesia sambil berlalu menuju sofa yang diikuti Kiku untuk memulai rapat.
Elizabeta hanya terkikik melihat Nesia yang salah tinglah karena kedapatan melamun. Nesia mendengus kesal disampingnya sambil menarik ikatan rambutnya dan membiarkannya tergerai lagi. Kiku duduk di seberang Arthur sambil mengambil tehnya. Sementara Arthur meresap Earl Grey hambar miliknya.
Setelah dirasa cukup membasahi kerongkongan masing - masing dengan teh, Arthur berdehem menandakan dirinya akan mulai bicara. Nesia yang sedang meresap teh manisnya segera menurunkan cangkir teh yang ia pegang. Elizabeta yang sedari tadi hanya menghirup aroma melati dari tehnya, meneguknya sedikit sebelum menaruhnya kembali ke atas meja. Sementara Kiku sudah meletakkan teh hijaunya sedari tadi.
"Aku tadi mendiskusikan berbagai langkah yang sebaiknya kita ambil bersama Nesia. Aku akan membagi tugas untuk kita semua." Kata Arthur memulai rapatnya tanpa banyak basa - basi, khas Arthur sekali.
"Tunggu sebentar, Kaicho. Apa tidak sebaiknya kita tunggu Ludwig dan Alfred untuk ikut rapat?" Kata Kiku mengiterupsi perkataan Arthur.
"Aku juga sebenarnya ingin begitu. Tapi, kondisi Ludwig tak memungkinkan untuk keluar dari asrama. Nanti akan aku beri tahu dia hasil rapatnya. Lagi pula, sebenarnya dengan hanya 4 orang anggota yang bisa bergerak bebas seperti ini cukup merugikan juga." Kata Arthur setelah menghela napas sejenak.
"Maksudnya hanya 4 orang apa, Kaicho?" Tanya Elizabeta tak mengerti.
"Hanya kita ber-4 yang bisa melakukan penyelidikan untuk saat ini. Willem menghilang, Ludwig masih terluka, Alfred aku minta untuk menjaga Ludwig karena kemungkinan serangan lanjutan pasti ada dan aku tak ingin ada korban lagi." Jelas Arthur.
"Hmm... jika seperti itu, memang tugas apa yang akan kau berikan?" Kata Nesia.
"Aku akan mencoba meminta secara baik - baik data mengenai penangguhan pembangunan gedung lama kepada kepala sekolah. Aku yakin ini semua berhubungan dengan penangguhan itu. Jika aku gagal mendapatkan dokumen itu, aku ingin kau mengambilnya secara paksa dengan cara apapun, Kiku. Elizabeta, kau koordinasikan penjagaan keseluruhan gedung bersama anggota Magic Club dengan Vlad." Perintah Arthur.
"Lalu, aku?" Tanya Nesia.
"Kau akan membantuku menyegel area gedung lama setelah aku mencoba mendapatkan data itu. Kau harus memastikan tak akan ada yang masuk area penyegelan. Kita isolir daerah itu." Kata Arthur.
"Jadi, aku dapat tugas terakhir kan? Kalau begitu, aku bisa masuk kelas dulu? Aku tak mau mati kebosanan karena menunggu urusan kau selesai, Arthur." Kata Nesia ringan.
"Tidak." Nesia hanya bisa cemberut menanggapi penolakan Arthur.
"Jangan merenggut dulu! Aku hanya tak ingin kesulitan menemukanmu." Lanjut Arthur.
"Apa gunanya kau memiliki ponsel jika tidak kau gunakan, Alis Tebal?!" Semprot Nesia galak.
"Kau tidak pernah memberikan nomor teleponmu padaku, Kurcaci! Bagaimana bisa aku menghubungimu?!" Semprot Arthur tak kalah galak. Kalau dilihat lagi, segalak - galaknya Arthur, dia tidak pernah melontarkan kata kasar pada Nesia, ya?
Nesia hanya bisa tercengang mendengar pengakuan Arthur yang kelewat jujur itu. Ia lupa kalau dirinya memang belum pernah memberikan nomor ponselnya pada personifikasi Britania Raya itu. Dan harga diri Arthur yang memang setinggi langit itu membuatnya gengsi untuk sekedar menanyakan nomor Nesia pada siapa saja. Dirinya lebih memilih seseorang memberikannya secara sukarela dari pada harus memintanya. Walaupun awalnya ia berniat memintanya pada Kiku atau Elizabeta, tapi hal itu selalu ditundanya lantaran gengsinya.
Tawa Elizabeta pecah seketika. Dia baru tahu kalau selama ini sang ketua OSIS tidak pernah berhubungan dengan Nesia via ponsel karena tidak memiliki nomor ponsel Nesia. Padahal dari awal ia mengira jika Arthur memang lebih suka bertemu langsung dan mencari personifikasi dari Indonesia tersebut. Ternyata, alasan Arthur yang sepele itu membuat Elizabeta tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi. Apalagi dia tahu Arthur selalu berhasil mendapatkan informasi yang dia inginkan dari berbagai sumber tanpa perlu izin dari si empunya informasi.
Kiku menatap Elizabeta heran, sementara Nesia menyenggol tubuhnya karena menyadari tatapan sinis tanda tidak sukanya Arthur pada sikap Elizabeta. Elizabeta pun berusaha sekuat tenaga menghentikan tawa gelinya mengingat kejadian tadi.
"Hihihi... aduh, maaf. Aku jadi tidak tahan untuk tertawa." Kata Elizabeta meredakan tawanya.
"Apa yang kau tertawakan, git?" Umpat Arthur kesal.
"Aduh, hihihi. Itu, aku jadi geli sendiri mendengar perdebatan kalian yang seperti sepasang kekasih yang mempermasalahkan hal sepele. Lagi pula, kenapa tak memintanya saja sih pada Nesia, Kaicho?" Kata Elizabeta setelah tawanya benar - benar mereda.
"Kau lupa akan harga diri Kaicho yang tingginya melebihi langit, Elizabeta?" Kata Kiku menanggapi dengan sinis. Entah apa yang terjadi padanya pagi ini hingga membuatnya menjadi sinis seperti itu.
"Ah, benar juga. Kalau tidak ada di data, Kaicho tidak pernah memaksa meminta kepada orang lain." Kata Elizabeta terus mengoceh dan menyadari kebodohannya.
"Kalian berisik!" Umpat Arthur.
"Sudah, jangan ribut lagi. Kalau begitu aku akan memberikanmu nomor ponselku dan kau harus membiarkanku masuk kelas. Aku tak mau jamuran disini karena harus menunggu urusan kalian." Kata Nesia meredakan suasana.
"Baiklah. Tapi, pastikan kau harus segera keluar kelas begitu ada telepon dariku atau yang lain." Kata Arthur akhirnya.
Setelah itu, mereka membubarkan diri dan mulai menjalankan tugas masing - masing kecuali Nesia yang masuk kelas walaupun terlambat. Semua mata memandang ke arah Nesia. Nesia hanya bisa menghela napas karena memang inilah rasanya terlambat masuk kelas, menjadi pusat perhatian. Tapi, Nesia merasa itu bukan tatapan menyelidik biasa, tapi tatapan tajam seolah ingin menyayat kulit mulus Nesia.
Nesia hanya bisa membungkuk meminta maaf pada sang guru yang sedang mengajar sejarah kala itu. Sang guru yang sudah diperingatkan oleh 3 guru yang sebelumnya melihat kalung platina Nesia untuk membiarkan Nesia apapun kelakukannya hanya bisa menghela napas dan membiarkan Nesia duduk dan mengikuti pelajarannya. Tatapan tajam semakin terasa menghujam Nesia, terutama dari kalangan kaum hawa.
Pelajaran sejarah kali ini lebih banyak membahas mengenai sastra dan sejarahnya. Aneh memang karena seharusnya materi itu masuk kedalam pelajaran sastra dan bukannya sejarah. Mungkin guru ini sedang lelah atau terinspirasi oleh sebuah puisi romantis sepanjang sejarah? Entahlah, tak ada yang tahu apa yang ada di pikiran guru labil tersebut.
Nesia hanya bisa menahan kantuk sepanjang pelajaran. 'Nyesel aku tidak menerima perintah Arthur tadi. Jika aku tahu materi di kelas akan semembosankan ini, lebih baik aku tinggal di ruang OSIS atau perpustakaan', rutuk Nesia sambil menghela napas berat dalam hati. Bukan karena penjelasannya tidak menarik, namun Nesia sudah tahu apa isi pembahasannya. Nesia sudah hafal mengenai sejarah sastra yang dibahas, yaitu mengenai kisah Heloise dan P. Abelard, sepasang kekasih yang dipisahkan secara paksa pada abad 12 lalu yang hanya dapat mengungkapkan dengan saling mengirim surat cinta mengenai betapa mereka saling kehilangan.
"You know, beloved, as the whole world knows, how much I have lost in you, how at one wretched stroke of fortune that supreme act of flagrant treachery robbed me of my very self in robbing me of you; and how my sorrow for my lost is nothing compared with what I feel for the manner in which I lost you."
Itulah sepenggal surat dari Heloise yang terkenal. Nesia tersenyum miris mengingat penggalan isi surat itu. Sepertinya guru labilnya ini sedang patah hati sampai membahas mengenai hal ini. Ia jadi teringat akan hari - hari kelamnya. Kelam mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya saat pertama kali ditinggalkan oleh Willem karena pada saat itu Nesia hanya merajuk dan menolak untuk keluar kamar saja. Bahkan Nesia tidak peduli ketika ayahnya mengatakan bahwa mereka kedatangan tamu dan tetap menolak keluar kamar. Untunglah adikknya, Maya berhenti mengganggunya setelah mereka kedatangan tamu tersebut. Saat itulah Nesia banyak membaca buku sejarah mengenai sastra seperti itu sampai akhirnya Willem kembali. Setelah kedua kalinya Willem menghilang, akhirnya Nesia sadar dan berbalik menjadi sangat membencinya.
Nesia menghela napas berat. 'Kenapa aku mengingat kejadian memalukan itu lagi? Apa karena kali ini si Londo itu menghilang? Entahlah', kata Nesia miris dalan hati. Jujur, bukannya Nesia mau peduli atau apapun itu istilahnya mengenai menghilangnya Willem. Tapi, bagaimana pun juga, Nesia tetap memiliki hati nurani dan rasa kasihan jika sampai musuhnya kali ini menyakiti para personifikasi yang akan berdampak pada negara mereka.
Sementara Nesia berada di kelas dan menderita kebosanan akut mendengar celotehan dari guru sejarahnya, Arthur kini sibuk berdebat dengan kepala sekolah untuk memberinya dokumen mengenai area bangunan lama. Kepala sekolah menolak memberikan data yang Arthur butuhkan karena merasa Arthur tidak akan membutuhkan dokumen itu dalam pelaksanaannya sebagai ketua OSIS. Dokumen itu dan kegiatan siswa sangat tidak berhubungan, menurut kepala sekolah.
Arthur melirik Kiku untuk memberinya kode untuk melacak dan mengambilnya secara paksa. Kiku yang paham akan tugasnya hanya mengedipkan kedua matanya sekali tanda dia mengerti apa yang harus ia lakukan. Sebelum keluar ruangan, Kiku sempat menempelkan kamera ukuran mikro di pintu untuk memantau apa yang ada di dalam ruang kepala sekolah. Tentu saja kamera itu berguna untuk mengintai dimanakah letak kepala sekolah menyimpan dokumennya.
Kiku dan Arthur segera kembali ke ruang OSIS untuk melihat hasil rekaman kamera tersebut melalui tablet milik Kiku yang biasanya ia gunakan untuk membuat doujinshi "laknat" bergenre yaoi. Arthur sempat bergidik kala melihat wallpaper tablet milik Kiku yang merupakan karya terbaiknya yang menggambarkan dua orang lelaki berambut pirang yang saling mencumbu tanpa tahu jika dirinyalah yang dijadikan model oleh Kiku. Kamera langsung merekam kejadian di ruang kepala sekolah dan menunjukkan bahwa kepala sekolah sedang membuka sebuah dokumen dalam map kuning, lalu memindahkannya ke tempat yang dirasanya aman. Setelah itu, beliau keluar dari ruangan. Sepertinya kepala sekolah butuh asupan kafein untuk paginya.
"Gotcha! Akhirnya ketemu. Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan, Kiku?" Kata Arthur.
"Tentu saja, Kaicho." Kata Kiku menyeringai. Sepertinya suasana hati Kiku sudah mulai membaik.
Tak lama kemudian, Kiku pergi dan kembali membawa beberapa map. Arthur menyingit heran melihat ada map lain yang dibawa Kiku selain map yang dilihatnya dalam video. Seperti tahu apa yang ada dipikiran Arthur, Kiku segera menjelaskan.
"Aku rasa kau harus melihat ini, Kaicho." Kata Kiku sambil menyerahkan sebuah map hijau.
"Ini..." Arthur tak sanggup melanjutkan kata - katanya begitu membaca judul awal tulisan di dalam map hijau itu.
"Benar, ini potongan lain dari dokumen itu yang selama ini kita cari." Kata Kiku.
"Kalau begitu, kau urus mengenai dokumen ini bersama Nesia. Biar aku sendiri yang akan mengurus area bangunan lama. Disini denahnya lengkap kan?" Kata Arthur sambil mengacungkan map kuning.
"Entahlah, aku hanya sekilas melihatnya." Kata Kiku jujur.
"Aku anggap lengkap. Lalu, map merah ini?" Kata Arthur penasaran pada map yang terakhir.
"Data lengkap anggota OSIS dan Dewan Keamanan. Aku tak tahu apa maksudnya, tapi data kita, para petinggi, dipisahkan tersendiri di awal. Maksudku, dipisahkan dengan aneh. Jika tujuannya memang membedakan petinggi dari masing - masing organisasi, tidak mungkin kan jika kertas data Willem akan terselip diantara dataku dan Alfred, Kaicho? Sudah begitu, data Ludwig yang notabennya adalah ketua Dewan Keamanan berada di akhir." Jelas Kiku saat Arthur membuka map terakhir yang dibawanya.
"Benar, ini mencurigakan. Sudah kuduga. Ada yang tidak beres dengan Pak Tua itu. Sepertinya kita benar - benar harus sangat berhati - hati jika Tua Bangka Berengsek itu terlibat. Aku tahu dia sangat licik dan licin untuk ditangkap." Kata Arthur menyiratkan ketakutan yang nyata.
Kiku yang mengerti hanya bisa mengangguk paham. Sejak awal dirinya menerima untuk melibatkan diri dalam lingkaran kasus ini, dia sadar akan resikonya. Apalagi jika yang berkuasa sudah bertindak, keselamatan rakyatnya sangat terancam. Baginya, sebagai seorang personifikasi, keselamatan rakyat adalah prioritas utama. Apapun bahayanya, dia harus meminimalisir dirinya terluka tanpa harus lari dan bersembunyi seperti pengecut.
Arthur juga sadar akan hal itu. Maka dari itu, orang kepercayaannya adalah Kiku dan bukannya Alfred. Kiku dan Arthur memiliki tubuh yang terlatih untuk menghadapi situasi terburuk. Maksudnya mereka memiliki otot proposional yang terbentuk karena latihan rutin dan bukannya hasil alat - alat berat. Well, meskipun tidak sebesar otot Ludwig sih. Tapi, cukuplah untuk sekedar membentuk kotak - kotak sebanyak 6 buah di perut rata mereka yang membuat kesan seksi.
Setelah mencapai kesepakatan tugas baru mereka, Arthur segera menghubungi Nesia. Bunyi ponsel Nesia pun bergema nyaring di dalam kelas yang tadinya sunyi karena sang guru sedang mengambil napas sejenak sebelum kembali berkicau mengenai kisah Heloise dan Aberald. Nesia hanya pura - pura tidak tahu mengenai suara ponsel itu dan berpura - pura seolah itu bukan suara dari ponsel miliknya dan mengangkat telepon itu diam - diam menggunakan wireless earphone yang biasa digunakan orang saat mengemudi.
"Hallo? Ada apa?" Tanya Nesia berbisik menjawab panggilan dari ponselnya.
"Kembali ke ruang OSIS sekarang. Aku dan Kiku sudah selesai." Perintah Arthur langsung.
"Tunggu sebentar. Sebentar lagi juga selesai pelajarannya. Paling 5 menit lagi." Kata Nesia sedikit mengulur waktu.
"Tidak ada nanti. Sekarang atau aku yang akan menyeretmu dengan tanganku sendiri." Kata Arthur yang memang tidak suka ditawar untuk tenggat pelaksanaan perintahnya.
Nesia akhirnya hanya bisa cemberut karena Arthur langsung memutuskan sambungan telepon. Dengan sangat terpaksa, Nesia membereskan barang - barangnya saat itu juga, lalu langsung izin keluar. Dirinya tidak peduli lagi dengan tatapan aneh dan menusuk dari sekelilingnya. 'Biarlah. Nanti juga aku akan segera keluar dari sekolah ini, dari pulau ini. Tapi, sebelum itu aku akan memastikan si alis tebal itu menjelaskan dan bertanggung jawab atas ini semua', Nesia berkata dalam hati hingga mengeluarkan aura mencekam ke sekelilingnya.
Setelah membuka pintu ruang OSIS dengan kasarnya hingga membuat Kiku dan Arthur terlonjak kaget dari bangku mereka, Nasia segera menghampiri Arthur dengan wajah yang benar - benar masam. Arthur hanya menyingitkan dahi melihat Nesia yang datang dengan bad mood seperti itu. 'Harusnya aku yang marah karena dia lama sekali. Kenapa justru malah dia yang wajahnya kecut begitu?', Arthur hanya bisa berucap dalam hati karena heran dengan sikap Nesia.
"Kenapa merengut?" Tanya Arthur akhirnya karena tak tahan dengan kesunyian yang tercipta dan atmosfer menekan dari Nesia.
"Kau tidak sabaran! Padahal kelas akan berakhir dalam 5 menit." Kata Nesia kecut.
"5 menit juga berharga." Kata Arthur dengan nada dinginnya.
"Sudahlah! Kau tidak akan mengerti!" Kata Nesia merajuk.
"Hh... terserah kau saja. Aku hanya ingin memintamu bekerja dengan Kiku sekarang untuk meneliti isi potongan dari dokumen rahasia itu yang baru saja kami dapatkan." Kata Arthur akhirnya menghentikan perdebatan konyol itu.
"Dari mana kau mendapatkannya?" Nesia menyingitkan dahi heran sambil berjalan untuk duduk disamping Kiku.
"Well, aku selalu bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan. Walau itu dengan tindakan kriminal." Kata Arthur menyeringai bangga.
Nesia masih heran dengan perkataan Arthur. Namun, keheranannya itu tak berlangsung lama begitu dirinya melihat map dan halaman depan dokumen yang Arthur maksud. Matanya terbelalak melihat dokumen yang seharusnya tersimpan di ruangan lain itu kini berserakan diatas meja Kiku bersama dengan dokumen milik Arthur.
"Kau mencurinya dari ruang kepala sekolah?!" Seru Nesia terkejut.
"Kami hanya 'meminjam' sebentar. Tenang saja, yang aslinya sudah kembali bertengger dalam brankas sialan itu." Kata Kiku tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran dokumen itu.
'Ini tidak benar! Seharusnya aku yang mengambil dokumen mereka untuk diserahkan, bukan mereka yang mendapatkan dokumen milik Tua Bangka itu', protes Nesia dalam hati. Tapi, entah mengapa sebagian dirinya merasa ini adalah hal paling benar untuk dilakukan. Nesia akhirnya memutuskan untuk membiarkan hal ini dan ikut meneliti isi dokumen itu. Toh, dirinya juga tidak pernah membaca dokumen itu. Hanya melihat sekilas saja.
Kebanyakan isi dari dokumen yang didapat dari ruang kepala sekolah itu menjelaskan mengenai peranan 5 makhluk selain manusia yang dekat dengan personifikasi dan juga peranan 4 penguasa tertinggi. Mereka semua adalah sumber kekuatan pembuka dimensi dan pilar sejarah. Nesia agak bingung dengan maksud dari pilar sejarah dalam dokumen itu. Jika kekuatan pembuka dimensi, Nesia paham karena makhluk - makhluk itu memang dapat berpindah dengan cepat melalui celah antardimensi yang mereka buat sendiri. Tapi pilar sejarah? Entahlah.
Kiku menyingit heran menatap tulisan yang ada di tangannya. Dia kemudian mencari - cari lembaran yang berserakan. Wajahnya nampak sangat panik dan mengacak - acak dan memeriksa setiap lembar yang ada di atas mejanya.
"Hilang." Gumam Kiku.
"Apa yang hilang?" Tanya Nesia panik begitu mendengar gumaman Kiku.
"Ada halaman yang hilang. Seharusnya ada informasi mengenai pemegang kunci dimensi. Tapi, aku cari - cari kenapa tidak ada?" Kata Kiku gusar sambil terus mencari.
Nesia akhirnya ikut mencari dari lembaran yang dipegangnya. Arthur pun ikut menghentikan analisisnya mengenai denah bangunan lama dan mencari lembaran yang Kiku maksud. Setelah satu jam lebih mencari ke seluruh penjuru ruangan dan dokumen yang berserakan, akhirnya mereka menyerah.
Arthur kembali berkutat pada dokumennya. Nesia menuju dapur kecil untuk membuatkan teh untuk mereka bertiga. Sementara Kiku sudah kembali duduk pasrah dan membaca kelanjutan dokumen tadi. Tak ada yang bersuara setelah itu. Hanya denting cangkir yang memenuhi ruangan.
Mata Arthur terbelalak melihat ada bagian yang hilang di dokumen denah tersebut. Rancangan desain pondasi dan basement untuk di bangunan lama hilang. Pasti ada yang tidak beres dengan rancangan pondasi dan basement. Apalagi menurut dokumen ini, ekspansi bangunan akan menutup sebagian area taman lama. Pasti seharusnya ada rancangan pondasi baru untuk area tersebut.
Dengan perhitungan Arthur yang akurat, Arthur telah dapat menandai area mana saja yang harus ia isolasi. Jika analisanya tidak meleset, hanya area yang akan di jadikan ekspansi gedung saja yang bermasalah disini. Arthur kembali menyingitkan dahinya begitu mengambil jurnalnya untuk mencatat semua perhitungan dan analisanya disana.
Arthur kembali membandingkan informasi dan letaknya dalam denah saat Nesia menaruh Earl Grey disudut mejanya dan membawa matcha dan teh melati untuk dirinya sendiri dan Kiku yang sudah kembali terlarut dalam tumpukan dokumen itu. Nesia meresap sedikit tehnya sebelum kembali ke meja Arthur yang penuh berkas berserakan dan tangannya yang sibuk mencoret - coret sesuatu.
"Ini aneh!" Kata Arthur tiba - tiba.
"Apanya yang aneh?" Tanya Nesia penasaran sambil mendekat ke meja Arthur.
"Ini, lokasi kejadian kasus yang kemarin itu berada di sudut - sudut yang berbeda. Coba kau perhatikan. Ini adalah lokasi dimana Ludwig diserang, letaknya tepat diujung daerah yang seharusnya menjadi bangunan yang terdekat dengan gedung kelas X. Lalu, ini tempat kau terkena racun hitam, di ujung yang berlawanan dengan lokasi Ludwig, masih di pojok daerah yang seharusnya menjadi bangunan. Lalu, adikmu di atap gedung kelas X. Jika diperhatikan baik - baik, lokasi hilangnya Willem tak terlalu jauh dari lokasi Ludwig, tapi berada pada garis lurus dengan gedung kelas X hingga membuat pola horizontal seperti ini." Kata Arthur menjelaskan sambil membeberkan denah dan menandainya
"Benar. Seolah - olah membentuk pola layang - layang. Tapi, apa maksudnya? Apa mereka mengejek kita karena kita tidak bisa menangkap mereka yang terbang bebas di angkasa?" Kata Nesia menyetujui keanehan yang ada.
"Tidak, aku rasa pola ini masih belum selesai. Tapi, aku juga belum tahu pola apa yang akan mereka buat." Kata Arthur melipat tangannya di depan dada dan mulai berpikir kembali.
Kesunyian kembali menyelimuti mereka. Tak ada yang berani berbicara kembali. Semua tenggelam dalam pikirannya masing - masing. Ah, sungguh menggemaskan ketika tinggal sedikit lagi menuju petunjuk sesungguhnya, namun justru petunjuk tersebut berhenti di tengah - tengah. Benar kan?
—OOOoooOOO—
ARTHUR POV
Ugh, aku benci jika ini terjadi. Sejak kapan otakku berjalan begitu lambat? Aku personifikasi Britania Raya yang pernah menguasai 2/3 bumi. Kenapa untuk masalah seperti ini begitu menguras isi otakku?! Ini sungguh membuatku frustasi.
banyak bentuk yang bisa dibuat dari layang - layang. Banyak pula kemungkinan siapa saja yang akan mendapatkan serangan selanjutnya. Siapapun bisa, termasuk diriku sendiri. Aku tak mengerti apa yang kira - kira mereka pikirkan. Aku butuh petunjuk lagi.
Mataku tak bisa lepas dari dokumen ini. Pasti ada petunjuk lain yang belum aku sadari. Tapi, apa? Apa yang sudah aku lewatkan? Apa yang sebenarnya Pak Tua itu rencanakan? Aku butuh jawaban. Aku butuh jawaban dari semua drama busuk ini.
Nesia tampak serius memikirkan sesuatu sambil terus meresap tehnya. Gadis itu, aku yakin dia tahu sesuatu yang tidak aku ketahui. Tapi, bagaimana caranya agar dia mau buka mulut? Ah, terlalu banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku. Sebaiknya aku dinginkan dulu kepalaku sejenak sebelum melanjutkan kembali menemukan petunjuk mengenai kasus ini. Aku butuh kafein dari kopi dingin.
Aku bangkit dari kursiku dan beranjak untuk membeli kopi dari vending machine di ujung lorong depan ruang OSIS ini. Baru saja tanganku hendak menyentuh kenop pintu, Kiku mengejutkanku dengan lemparan koinnya. Refleks aku menghindarinya dengan sihir.
"Hei!" Protesku setelah menghindar.
"Maaf Kaicho, ada yang mencurigakan di depan pintu." Jelasnya dan mengisyaratkanku menjauh dari pintu.
Segera aku memakai sihirku untuk memeriksa apa yang ada di balik pintu. Tiba - tiba ada percikan seperti kembang api mini dari arah pintu yang aku fokuskan. Ini kekai. Tapi, aku belum pernah menghadapi kekai seperti ini. Seolah - olah ada listrik yang merambatinya dan akan menimbulkan percikan api jika tersentuh. Pandanganku langsung beralih pada Nesia.
"Benar, ini bukan kekai biasa." Kata Nesia mengkonfirmasi kecurigaanku.
"Lalu? Kita terkunci disini?" Tanyaku kemudian.
"Tidak. Kekai ini tidak sekuat itu. Kita hanya perlu mencari titik terlemahnya saja dan menembus untuk menyerang pemasangnya. Aliran sihirnya tidak stabil. Pemasangnya pasti masih ada dibalik pintu ini." Kata Nesia sambil mendeteksi aliran energi di pintu.
"Kelamaan." Kataku tak sabar dan langsung membentuk serangan brutal pada pintu.
Nesia langsung mundur ke belakang tubuhku dan mendelik marah karena membuatnya hampir terkena percikan serangan brutalku. Well, aku melakukannya bukan tanpa perhitungan tentu saja. Hei, aku seorang Arthur Kirkland! Tidak mungkin seorang gentlemen sepertiku melukai wanita.
Percikan berbeda aku dapatkan dari sudut terkecil di pintu. Huh, tentu saja aku tidak akan meluputkannya. Segera aku memperkecil ukuran seranganku hingga sebesar jarum melewati celah itu.
"Ouch!" Teriak seseorang dibalik pintu.
Aku menyeringai lebar. Kali ini dia tidak akan bisa kabur. Aku tinggal mencari orang dengan bekas luka berbentuk bintang iblis, yaitu dua buah segitiga bertumpuk yang berlawanan arah. Aku sengaja menggunakan sihir hitam terlangka yang aku miliki untuk menyerangnya. Ingat mengenai racun hitam? Kau pikir dari mana aku tahu ilmunya jika aku tak dapat menguasainya dengan baik?
Dengan cepat aku membuka pintu dengan satu sentakan. Sayangnya tak ada seorangpun di depan sana. Sial! Bagaimana caranya dia menghilang begitu saja tanpa jejak seperti ini? Aku mengumpat dengan tak karuan atas situasi ini. Kakiku bersiap untuk segera berlari.
"Arthur, jangan nekad!" Cegah Nesia ketika aku bersiap mengelilingi satu sekolah ini untuk mencari pelakunya.
"Nesia benar, Kaicho. Lebih baik Kaicho simpan tenaga Kaicho dan biarkan aku mengawasi ketat kepala sekolah sementara kalian menyegel bangunan lama." Kata Kiku memberi persetujuan atas tindakan Nesia yang mencegahku.
"Baiklah, jika itu mau kalian. Nesia, ikut aku. Kiku, jangan sampai Tua Bangka itu lolos dari pandanganmu. Kita berpencar dari sekarang dan berkumpul lagi di ruang OSIS ini pukul 5 sore. Elizabeta, Alfred, dan Ludwig harus ikut. Nanti kita cari cara membawa si Panser itu kemari." Perintahku mutlak.
"Baik!"
Setelah itu, aku terlebih dahulu mengunci semua dokumen yang kami dapatkan salinannya tadi di dalam brankas di bawah mejaku. Hanya itu satu - satunya tempat penyimpanan terpercayaku yang tak akan ada yang bisa membukanya karena memakai keamanan 5 lapis, yaitu kombinasi angka, kode pin, sidik jari, kunci, dan pemindai suara. Sebenarnya aku ingin menggunakan pemindai retina juga, tapi aku malas memasangnya.
Aku dan Nesia sampai ke lokasi terdekat dengan gedung sekolah untuk menyegel tempat itu, yaitu lokasi penyerangan Ludwig. Segel dan kekai ini bersifat sementara karena aku yakin kami pasti akan memasukinya kembali. Nesia menggunakan kekai terkuatnya yang aku lihat berasal dari sihir putih. Aneh, bukankah kemarin - kemarin dia menggunakan pure black yang notabennya adalah sihir hitam istimewa? Bagaimana mungkin seseorang bisa menguasai 2 jenis sihir sekaligus?
Setiap orang lahir dengan bakat sihirnya masing - masing. Dan lagi, hanya satu jenis sihir yang bisa dikuasai setiap orang. Seperti diriku, aku menguasai sihir hitam. Walaupun pada akhirnya semua spekrtum warna akan menyatu di spektrum kuning dan menjadi pure white.
Penguasaan dan tingkat kekuatan sihir seseorang dapat dilihat melalui spektrum warna yang dikeluarkannya. Pengguna sihir hitam akan memulai kekuatan sihir terlemahnya dari spekrtum nila, biru, hijau, baru memasuki spektrum kuning, dan berakhir di pure white. Sementara pengguna sihir putih akan memulai kekuatan sihir terlemahnya dari spektrum ungu, merah, jingga, kuning, dan berakhir di pure white. Sementara pure black adalah kekuatan sihir istimewa yang hanya bisa dikuasai pemegang bakat sihir hitam.
Seingatku disini pengguna sihir putih adalah Vladimir dan 2 anak baru di Magic Club yang aku tak ingat namanya. Sisanya adalah pengguna sihir hitam sepertiku. Tapi, aku belum pernah mendengar ada orang yang bisa menggunakan keduanya sekaligus. Well, walaupun kita bisa saling mempelajari teknik sihir masing - masing sih, tapi spektrum warna yang dihasilkan akan tetap berbeda gelombang dan hasilnya. Dan dari gelombang energi yang aku rasakan saat ini, ini murni sihir putih. Sementara kekuatan pure black-nya kemarin sangat nyata itu berasal dari sihir hitam. Bagaimana mungkin seseorang bisa menggunakan kedua jenis sihir? Itu kan bawaan dari lahir.
"Heh, bule menyebalkan! Bengong terus kayak beo. Ini kekai harus aku pasang berapa jauh ke arah mana?" Kata Nesia galak membuyarkan lamunanku.
"Kalo ngomong bisa baik - baik enggak, Kurcaci? Kau pasang 45 derajat ke timur sejauh 100 meter, 180 derajat ke barat sejauh 500 meter. Nanti kita pindah lokasi lagi untuk menentukan arah selanjutnya." Kataku memberi komando lalu menyiapkan segelku.
"Huh! Salah sendiri melamun dan tidak mempedulikan panggilanku sejak tadi." Kata Nesia kesal sambil memasang kekainya sesuai dengan petunjuk arah yang aku berikan.
"Kau yakin kekai ini aman dan bisa disandingkan dengan segelku?" Tanyaku ragu ketika hendak memasang segel.
"Aman, tenang saja. Kekai miliku bisa disandingkan dengan segel apa saja dari ilmu mana saja." Kata Nesia menjamin keamanan kekainya.
Aku hanya bisa memegang kata - katanya karena biasanya sihir hitam dan sihir putih sangat sulit untuk bekerja sama. Begitu segel pertama terpasang, kekai yang Nesia buat nampak memberontak dan aku memberi death glare padanya. Sudah kubilang kan tadi?! Aku sangat meragukan kekai ini bisa bersanding dengan segelku.
"Aneh, biasanya kekai ini tak pernah seperti ini. Pakai segel darimanapun biasanya tak masalah." Kata Nesia mencoba membela diri.
"Kau punya kekai lain?" Kataku memintanya meruntuhkan kekai ini secara tidak langsung sebelum kekai ini membahayakan sekolah.
"Ini yang paling kuat yang aku miliki. Ng... sebenarnya ini yang terkuat yang sudah aku kuasai sih." Kata Nesia meruntuhkan kekainya lalu menggaruk belakang kepalanya yang sepertinya tidak gatal.
"Kau ini bisa mengendalikan sihirmu hingga pure black tapi malah menggunakan kekai dari sihir putih. Kenapa tak kau gunakan saja kekai dari sihir hitam?" Tanyaku penasaran.
"Aku... aku sudah tak mau lagi menggunakan sihir hitam." Kata Nesia tampak menerawang jauh.
"Kalau begitu, kenapa kau bisa menggunakannya?" Desakku.
"Bawaan dari lahir. Sejak awal aku memang pengguna sihir hitam, tapi setelah kejadian 'itu', aku tak mau lagi menggunakannya. Setelah aku sadari, ternyata aku juga bisa menggunakan sihir putih. Ya sudah, aku pelajari saja sihir putih." Jelas Nesia.
"Kau tahu, jenis sihirmu itu sangat langka. Aku belum pernah bertemu pengguna sihir hitam dan sihir putih sekaligus. Gelomang energimu berbeda." Kataku memperjelas rasa penasaranku.
"Maksudmu energiku memiliki energi murni keduanya? Yah, aku juga tak begitu mengerti kenapa bisa seperti itu. Aku pernah tanyakan hal ini pada Ayahanda dan Ibunda, namun mereka juga tak mengerti. Dan lagi, seluruh adikku tak ada yang memiliki kekuatan sepertiku. Mereka hanya menguasai satu jenis sihir, tapi tak memperdalamnya sepertiku. Hanya memiliki potensi saja." Kata Nesia menjelaskan.
"Ayah dan ibumu?"
"Sama seperti saudara - saudaraku, hanya menguasai satu jenis sihir. Ayahanda adalah personifikasi Majapahit yang menguasai sihir hitam, sementara Ibunda adalah personifikasi Sriwijaya yang menguasai sihir putih."
"Biasanya energi yang diturunkan pada anggota keluarga adalah yang dominan, sama seperti golongan darah. Tapi kau memiliki keseimbangan energi yang sama. Kau makhluk langka, Kurcaci." Pujiku (?) tulus.
"Apa kau bilang, Alis Tebal?!" Semprot Nesia.
"Sudahlah, jangan bertengkar dulu. Lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya menyegel tempat ini dengan kekai-mu dan segel-ku tanpa membuatnya tak seimbang seperti tadi." Kataku akhirnya mengalah.
"Kau duluan yang ngajak berantem!"
"Sudahlah! Jadi, kau punya kekai dari sihir hitam?"
"Ada, tapi belum sempurna."
"Hah, sudahlah. Kita tak perlu menggunakan segel. Nanti akan aku pikirkan lagi cara lain. Kita amankan dulu daerah ini sebelum ada korban lagi." Kataku mencari solusi sejenak. Sebenarnya segelku berguna untuk memperkuat kekai agar tak mudah ditemukan dan dirasakan.
Hampir sepanjang siang ini aku dan Nesia berkeliling memasang kekai. Aku mencoba memperhitungkan jarak seakurat mungkin dan selebar mungkin. Aku tak mau ada korban lagi setelah ini. Kami baru menyelesaikan semuanya saat jam istirahat makan siang berakhir. Dan sekarang aku menyadari kalau perutku sudah berteriak meminta sesuatu untuk menyumpalnya.
Aku menarik tangan Nesia menuju kantin sekolah yang sepi karena sepertinya kurcaci mungil itu juga sudah kelaparan. Apalagi dia mengeluarkan banyak energi untuk membuat kekai. Setidaknya lebih baik aku traktir dia kali ini. Anggap saja bayaran atas kerja kerasnya kali ini.
Nesia tampak tak tertarik dengan menu - menu makanan yang ada di kantin dan memilih untuk hanya makan salad dan roti ditambah segelas orange juice. Apa gadis ini seorang vegan? Ah, tapi rasanya aneh jika gadis dengan pipi sedikit berisi seperti Nesia seorang vegan.
"Aku bukan vegan. Aku hanya tidak makan babi dan alkohol." Jelas Nesia tanpa perlu aku minta. Apa ekspresiku terbaca sekali ya?
"Tidak, bukan ekspresimu yang terbaca. Tapi, kau yang tanpa sadar melihat menu makananku terus dan membandingkan dengan milikmu itulah yang mengindikasikan kau sedang bertanya - tanya apa aku vegetarian atau bukan. Dan tadi tanpa sengaja kau menyuarakan pikiranmu, Alis Ulat Bulu." Kata Nesia panjang lebar sambil menyantap makanannya.
Seketika aku merasa malu karena telah menyuarakan pikiranku tanpa sadar. Bloody hell! Itu sangat memalukan. Aku memalingkan wajahku dari Nesia sambil menyantap sisa makan siangku. Terdengar sekilas suara cekikikan milik Nesia yang tak aku gubris. Bahkan kata - katanya yang menghinaku sebelumnya pun tak aku balas.
Setelah menghabiskan makan siangku dengan kilat, aku segera mengambi jarak dari Nesia untuk pergi menuju toilet. Hey, panggilan alam tak mungkin aku tunda bukan? Setelah selesai membuang hasil eksresi dari ginjalku, aku kembali ke kantin, namun tak menemukan gadis mungil itu dimanapun. Kemana kurcaci kecil itu?
Mataku waspada ketika melihat ada cahaya biru berpendar dari atap gedung kelas X. Apa - apaan itu?! Mereka mau nekad menyerang siang bolong begini? Sial! Aku segera pergi menuju atap gedung kelas X. Secepat mungkin aku langkahkan kakiku berlari menuju atap.
Pintu itu terbuka. Tak ada seorang pun disana. Apa?! Bloody hel! Kabur kemana mereka?
"Arthur, awas!" Seseorang mendorongku menjauh dari pintu setelah memberi peringatan itu dan membuatku terjatuh dengan tidak elite.
"Aduh, punggungku." Kataku merintih kesakitan karena di dorong jatuh. Tapi, yang sakit kan punggung, kenapa dadaku yang terasa berat?
Aku melihat sesuatu atau seseorang (?) menimpaku. Ada bagian yang memerah khas terkena serangan sihir. Aku segera menyingkirkan sesuatu yang ada diatasku ini dan menahan serangan dari luar yang kembali datang. Oh, aku salah. Itu bukan benda, tapi Nesia. Kurcaci kecil ini yang telah mendorongku.
Bloody hell, mereka menggunakan kekuatan cukup besar kali ini. Warna serangan kali ini buttermilk. Sial! Spektrum warna itu akan menguras tenagaku. Serangan bertubi - tubi yang datang membuatku dengan cepat kehabisan tenaga. Agh! Aku sudah tidak kuat lagi. Jika serangan selanjutnya yang datang berwarna lebih terang lagi dari ini, tenagaku sudah tak cukup menahannya.
"Guard ACTIVE!" Teriak Nesia tiba - tiba sambil mengangkat tangannya yang memerah ke udara.
Seketika serangan itu terhenti di depan pintu tanpa daun yang ada di hadapanku. Bola cahaya itu menabrak dinding tak kasat mata di hadapanku. Ternyata kurcaci kecil ini sudah memasang kekai disana, tapi tadi masih belum cukup kekuatannya. Setelah aku rasa cukup aman, aku menghampiri Nesia yang terduduk lemas setelah tadi mengaktifkan kekai dengan kekuatan besar. Dia menyelamatkanku kali ini.
"Kiku, laporkan situasi disana! Apa ada kegiatan mencurigakan dari Tua Bangka itu?" Kataku segera menghubungi Kiku.
"Dia tidak melakukan hal yang aneh. Sekarang kepala sekolah sedang mengecek beberapa dokumen dan meminum secangkir kopi." Kata Kiku melaporkan kegiatan Tua Bangka itu.
"Kau yakin dia tidak melakukan hal seperti mengendalikan sesuatu?" Aku masih tak percaya dengan kenyataan yang Kiku ungkapkan.
"Yakin. Tak ada apapun aktifitas yang menghubungkannya dengan perangkat elektronik saat ini." Jelas Kiku.
Aneh. Jika memang Pak Tua itu pelaku utamanya, mengapa penyerangan kali ini dia tak memegang kendali apapun? Apa aku sudah salah mengira bahwa Pak Tua itu pelakunya? Atau mungkinkah ada pelaku lain dalam permainan keji ini? Ah, bloody hell!
—OOOoooOOO—
Catatan Author:
Holla! Author abalabal ini balik lagi setelah sempat matisuri *langsung ditimpuk reader*. Maaf ya kelamaan update nya. Habis, Author baru punya waktu senggang belakangan ini. Tadinya rencana update itu awal puasa ini, tapi berhubung Author ada satu dan lain hal di dunia nyata yang mendadak dan tak bisa Author cegah, akhirnya baru update sekarang.
Oh, iya. Kalau ada yang ngerasa aneh pas baca ceritanya karena perubahan gaya bahasa ataupun mood yang ada di cerita, tolong maklumin ya. Author nulisnya nyicil sambil belajar buat berbagai ujian masuk univ. Jadi, kadang dapet feelnya, kadang blank, dan pernah satu titik Author bener - bener ga dapet feel tsundere nya Arthur sama Nesia. Maafkan! .
Untuk update selanjutnya, Author janji akan lebih cepat dari ini. Makasih untuk yang udah REVIEW, FOLLOW, dan FAVORITE cerita abalabal dari Author nekad ini. Makasih buat para readers yang udah neror Rizu nanyain, "KAPAN UPDATE?"... Hahaha, sabar yah. Rizu mah gitu anaknya. Bye bye!
