Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Warning : OOC tingkat tinggi


Under The Spotlight

.

Chapter 11 :

.

Krisis

.

.

Kakashi Hatake berdiri di ruangan meeting mempersiapkan strategi penyergapan tapi dia tengah bimbang. Putri Hiashi Hyuga harus diselamatkan di sisi lain dia juga yakin suatu yang buruk sedang menunggu mereka. Dia menerima info dari Itachi kalau Akatsuki sedang berencana menyerang Konoha. Sepertinya bukan suatu kebetulan Sasuke menculik pewaris Hyuga dan Akatsuki berniat meledakan bom kembali di kota ini di saat yang bersamaan. Bagaimana jika keduanya terkait? Bila dia meminta mensterilkan area pertemuan diadakan para penculik akan curiga. Bila dia tidak melakukannya maka korban yang berjatuhan akan bertambah banyak. Para penjahat itu sangat cerdas mereka bisa membaur dengan keramaian dan pasukannya akan sulit menidentifikasi mereka. Lagipula mereka juga bisa menyandera orang-orang yang kebetulan berada disana.

Hiashi hyuga sampai saat ini juga belum menerima info jam berapa dia harus menemui Sasuke di hotel Senju. Mata kelabu pria itu memandangi peta layout bangunan di area dekat hotel Senju sembari berpikir. Mereka harus mempersiapkan diri untuk sekenario yang terburuk.

"Yamato siapkan sepuluh orang snipper terbaik kita. Posisikan di gedung sekitar hotel senju" kakashi menunjukan beberapa titik pada Yamato.

" Kemudian orang-orang kita juga harus menyamar sebagai staff hotel. Kau juga harus mengecek daftar tamu yang akan check in di hotel senju besok. Selidiki mereka semua" perintah pria itu lagi.

"Kau yakin Akatsuki dalang dari penculikan dan pembunuhan ini?"

"Sangat yakin Yamato. Karena Sasuke Uchiha tidak mungkin membunuh orang yang tidak ada hubungan dengannya tanpa ada yang menyuruh dan dia tidak akan senekad ini bila tidak ada yang mengcovernya"

"Lalu siapa yang akan mengawal Hiashi?" Tanya Sai.

"Neji dan Ten-ten bisa melakukanya. Kau dan tim mu Sai berbaur dengan keramaian disekitar lokasi. Awasi setiap gerakan yang mencurigakan. Itachi juga mengabarkan mereka akan meledakan sejumlah bom jadi persiapkan tim penjinak bom"

"Baik" Sai akan mempersiapkam tim nya setelah ini.

.

.

Markas Akatsuki tersembunyi diantara pegunungan dan tanah tandus. Di tempat yang begitu terisolir ini mereka membangun trowongan dan bunker. Markas mereka berada di bawah tanah. Satelit pun tidak bisa melihat keberadaanya. Markas ini hanyalah tempat pertemuan dan penyimpanan logistik. Karena anggota mereka mereka menyebar dimana-mana dengan identitas baru dan kehidupan normal. Seperti halnya dirinya yang punya kehidupan lain selain menjadi Tobi.

Akhirnya dia kembali ke konoha untuk menghancurkan pemerintahan mereka yang bobrok dan korup. Politisi adalah manusia-manusia munafik. Mereka mengorbankan orang-orang seperti dirinya untuk kepentingan pribadi. Dengan dalil menjaga perdamaian mereka mengirim para tentara yang tidak tau apa-apa untuk melakukan pekerjaan kotor mereka.

Ketika mereka ditugaskan dalam wilayah konflik mereka dihadapkan pada pilihan dibunuh atau membunuh. Sering kali mereka harus kehilangan rekan, mempertaruhkan nyawa dan mengalami trauma. Bahkan sampai harus melakukan pembantaian karena pemerintah ingin menyingkirkan kaum yang mereka sebut sebagai pemberontak. tapi sebenarnya para pejabat yang duduk manis di kantornya itu hanya ingin merampas sumber daya alam yang dikelola oleh penduduk lokal. Pemerintah menyuruh mereka bertempur dan mempertaruhkan nyawa hanya untuk ketamakan sekelompok orang.

Wajar bila saat itu Fugaku Uchiha meinginkan kudeta. Pria itu menyadari militer tidak lagi difungsikan untuk menjaga keamanan kota tapi telah disetir untuk kepentingan politik dan ekonomi. Terutama oleh Danzo Shimura seorang jendral bintang lima yang sibuk berpolitik dia menyalahgunakan wewenangnya dan banyak yang mendukungnya. Walau pria itu telah mati kroni-kroninya masih berkuasa. Orang semacam itu ada dimana-mana dan mereka adalah pembuat kebijakan. Dunia butuh reformasi dan Akatsuki akan membawa perubahan tertawa di balik topengnya. Sebentar lagi konoha akan hancur. Dia dia beserta anggota Akatsuki lainnya akan menciptakan dunia baru. Orang-orang akan tunduk pada mereka karena rasa takut.

.

.

Itachi memutuskan untuk pergi ke Konoha. Dia tidak bisa diam saja. Lagipula sepertinya Tobi tahu dirinya memata-matai Akatsuki. Mungkin pria bertopeng itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk menghabisinya. Lagipula dia ingin bertemu Sasuke. Dia harus menghentikan adiknya menghancurkan kedamaian yang selama ini dia jaga bahkan dengan mengorbankan segala yang dia cintai. Semoga saja dia belum terlambat.

Itachi mempersenjatai diri layaknya akan berperang. Dia meraih beberapa hand gun. Rifle dan membawa banyak amunisi. Semua senjata itu dia masukan kedalam mobil sport berwarna merah. Bila dia sedang tidak bekerja untuk akatsuki dia akan berada di amegakure menjalankan sebuah resort yang juga asset Akatsuki. Sepertinya banyak orang juga mengunakan organisasi ini untuk mencuci uang. Dia harus menyetir selama Sembilan jam untuk sampai di Konoha. Semoga saja dia sampai sebelum Tobi disana. Karena dia tidak melihat pria itu di markas hari ini.

.

.

Mata hinata sembab akibat menangis semalaman. Dia berdoa dan berdoa semoga Naruto dan Ayahnya akan selamat.

Sasuke Uchiha terlihat berdiri di pintu gudang sedang menelpon kemudia dia melangkah mendekati Hinata. "Kau sudah siap hime?, Sebentar lagi jemputan kita tiba" Sasuke kembali mengikat tangan Hinata.

"Lepaskan aku Sasuke-kun" pintanya memohon tapi pria berambut gelap itu tidak bergeming dan tidak iba melihat airmata tergenang di iris putih lavendernya

"Maaf-kan aku Hinata bila kau atau orang lain akan terbunuh hari ini, Aku tidak perduli berapa nyawa yang harus aku korbankan untuk bisa membalas dendam pria yang menghancurkan segalanya yang berarti bagiku"

Sayup-sayup terdengar suara helikopter mendarat. "Sepertinya jemputan kita sudah tiba" Sasuke menarik gadis itu berdiri dan menyeretnya keluar.

"Hi Sasuke, kau siap untuk membunuh lagi hari ini?" Tobi berdiri di pintu helikopter menyambut mereka dengan ceria.

"Tentu saja Tobi, Aku selalu menyelesaikan misi dengan sempurna" Jawab Sasuke datar

Mereka menaikan tawanan ke dalam helikopter dan segera berangkat menuju Senju hotel. Tobi telah meminta Hiasi menemui mereka di helipad yang terletak di atap gedung tertinggi Konoha tersebut. Anggota militer dan Agen rahasia Konoha tengah bersiaga. Sai dan team nya mengamati tiap sudut senju hotel untuk memastikan tidak ada hal mencurigakan.

Yamato sudah mensiagakan para snipper di posisinya tapi sepertinya akan percuma. Mereka sudah mendengar Sasuke dan Hiasi akan bertemu di atap Hotel Senju yang posisinya lebih tinggi dari bangunan di sekitarnya. Kondisi itu tidak menguntungkan karena mereka tidak bisa menjangkau dan melihat sasaran. Kakashi akan turun tangan sendiri dia dan Yamato beserta beberapa agen lain sudah berada di dalam gedung hotel tersebut mereka bersembunyi dan membiarkan Hiasi, Neji dan Ten-ten menyambut si penculik.

Hiasi Hyuga terlihat cemas dan gugup. Neji dan ten-ten bersiaga di samping pria itu. Sayup-sayup terdengar suara helicopter mendekat. Mereka belum mendarat masih melayang tiga puluh meter dari landasan. Sasuke meminta pilot menahan posisi mereka. Pria berambut gelap itu berdiri di pintu membidikan M107 yang dahulu merupakan milik Kakaknya ke arah Hiashi Hyuuga yang berdiri hanya seratus lima puluh meter dari landasan. Dengan jarak dan elevasi demikian Sasuke yakin pelurunya akan tepat sasaran meskipun angin cukup kencang dan Sasuke pun melepas tembakan.

Neji melihat Sasuke membidikan rifle nya. Para penjahat itu tidak menepati kata-kata mereka."Paman menyingkirlah" dengan cepat pria itu mendorong Hiashi. Hanya dalam sepersekian detik Kepala keluarga Hyuga itu terjatuh tapi sebagai gantinya peluru menembus dada keponakannya.

"Cih, Meleset" Umpat Sasuke kesal.

"Nii-San" Jerit Hinata dari dalam Helikopter melihat tubuh kakak sepupunya terkapar berlumuran darah.

Melihat apa yang terjadi, Ten-ten dengan marah menembaki helikopter tersebut.

Sasuke menyingkir dari pintu untuk menghindari rentetan peluru yang di muntahkan senjata wanita bercepol dua itu.

"Ten-ten Hentikan, Mereka bisa membunuh Hinata" Teriak Hiashi pada pengawalnya.

"Tapi mereka telah membunuh Neji" Ujar Wanita itu marah.

"Tenang Ten-ten, Neji hanya menjalankan tugas nya untuk melindungiku"

Tembakan berhenti dan Helikopter itupun mendarat. Sasuke membawa Hinata turun dan menodongkan revolver di kepalanya.

"Bila kalian menyerangku, Aku akan menembaknya"

"Apa yang kau inginkan Sasuke Uchiha" Hiashi memandang Hinata yang wajahnya begitu mirip dengan mendiang istrinya. Putrinya tampak pucat dan ketakutan. Hiasi merasa gagal menepati janji pada istrinya untuk selalu menjaga anak mereka.

"Nyawamu. Kita bisa tukarkan nyawamu dengan nyawa putrimu"

"Otou-san, Jangan.." Air mata mengenanggi pelupuk matanya.

"Apa kau akan memegang kata-katamu?"

"Terserah, Kau tidak punya banyak pilihan. Tapi Uchiha selalu memegang janjinya" Sasuke tersenyum sinis.

"Tuan Hiashi, Jangan" Ten-ten memohon "Neji baru saja mengorbankan nyawanya untuk anda"

"Otou-San, Aku mohon jangan kau dengarkan Sasuke" Pinta gadis itu.

"Maafkan aku Ten-ten,Hinata" Hiashi memandang putrinya untuk terakhir kali.

"Dor…" Sasuke melepaskan tembakan tepat di dada pria itu.

"Otou-San….." teriak Hinata dengan berurai air mata melihat tubuh sang ayah roboh. Hinata meronta-ronta dari cengkraman penculiknya. Ia ingin berlari menemui ayahnya tapi Sasuke sangat kuat.

Mendengar suara tembakan Kakashi dan teamnya segera naik ke atas, Mereka menemukan Neji dan Hiashi Hyuga terbaring berlumuran darah. Sementara putrinya masih dalam cengkraman Uchiha

"Bila kalian menyerang aku akan membunuhnya" Ancam pria itu membawa Hinata Mundur kembali ke helikopter.

Kakashi dan teamnya diam menilai situasi. Dia tidak ingin membahayakan putri Hiashi jadi dia tidak menyerang.

"Mengapa kau tidak membunuhku juga?" Bisik Hinata penuh kebencian.

"Aku sudah berjanji pada ayahmu" Jawab pria itu.

Sasuke memanjat ke dalam helikopter dan meningalkan Hinata. Gadis itu jatuh berlutut pandangan matanya kosong, shock melihat ayahnya dan sepupunya terbunuh. Tobi memerintahkan pilot helikopter untuk lepas landas.

Ten-Ten berlari untuk mengamankan Hinata dan Team Kakashi mulai menembaki Helikopter yang dinaiki Sasuke. Sayang sekali tidak tembakan mereka tidak ada pengaruhnya. Peluru-peluru itu hanya mengenai dinding helikopter yang terbang semakin tinggi.

Sasuke duduk berhadapan dengan pria bertopeng spiral, Deru baling-baling helikopter begitu bising tapi tidak menganggu percakapan mereka.

"Misi ku telah selesai, Sebaiknya kau membawaku menemui Itachi sekarang"

"Tsch… Tunggu saja Sasuke kakak mu akan muncul disini nanti"

"Bagaimana kau tahu?" Alis Sasuke terangkat melihat Tobi begitu yakin Itachi akan kembali ke Konoha.

"Pria itu tidak akan membiarkan tempat ini hancur"

Sasuke memandang tobi dengan heran "Aku tidak mengerti maksudmu"

"Sekarang kau lihat Uchiha, Apa yang Tobi bisa lakukan. Bukan kau saja yang berniat balas dendam " Pria itu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, Tak lama kemudian kepulan asap hitam membumbung tak jauh dari tempat mereka lepas landas. "Satu sudah meledak" Pria itu menyeringai di balik topengnya.

.

.

Sai sedang berpatroli, Dia dan teamnya menyebar dalam radius satu kilo meter dari Hotel Senju dan berpakian sipil. Pria itu mengenakan jeans dan T-shirt hitam. Setelah satu jam berkeliling Dia duduk di sebuah bangku taman kota. Tidak ada hal yang terlihat jangal atau orang dengan gelagat mencurigakan. hingga tiba-tiba terdengar suara ledakan keras.

Orang-orang panik dan berlarian meningalkan area tersebut, Sementara api dan asap membumbung dari bangunan di depan hotel Senju. Sai segera mengontak tim nya untuk menuju lokasi. Pria berambut hitam itu berlari dengan kencang melawan arus orang-orang yang mencoba menyelamatkan diri dan dilanda kepanikan.

Sai berhenti di depan sebuah restaurant yang sedang terbakar Asap hitam membumbung ke angkasa dan api mulai menjalar ke gedung disebelah nya. Pria itu mencium bau pengit daging yang terbakar, potongan tubuh manusia berceceran hingga ke jalanan. Arus lalu lintas berhenti mobil yang melintas saat ledakan terjadi ikut terkena Impactnya. Puluhan orang cidera. Ledakan itu sangat keras hingga membuat kaca-kaca bangunan dalam radius lima puluh meter bergetar dan pecah. Pemandangan begitu mengerikan. Dapat dipastikan semua orang yang sedang berada di restaurant itu maupun yang sedang melintas saat bom meledak tidak selamat.

Pria itu mengepalkan tangannya dan mengumpat, "Akatsuki Sialan"

Tangisan dan jeritan terdengar dimana-mana. Dan semua orang di area itu panik. Orang-orang meningalkan kantornya dan menutup toko. Ketakutan jelas-jelas terpancar di wajah warga kota konoha.

Sai meraih komunikatornya mencoba mengontak mentornya "Kakashi-San, Kau lihat yang terjadi"

"Tidak, Aku dan teamku masih berada di atap gedung hotel Senju. Aku melihat asap dari bawah sana apa yang terjadi"

"Bom meledak di kafe tepat di depan Hotel. Level ledakan medium, Menghacurkan semua yang berada dalam radius lima puluh meter" Lapor Sai dari lokasi kejadian.

Pria bermata sayu itu memijat batang hidungnya "Hubungi pemadam kebakaran, rumah sakit dan tim forensik aku akan menghubungi Nona Tsunade"

"Bagaimana dengan urusan Hyuga?"

"Putrinya selamat, Tapi kita kehilangan Hiashi dan Neji" Suara Kakashi Hatake terdengar begitu lelah.

Sudah dua kali dia gagal dan entah berapa nyawa sudah melayang. Pria itu begitu menyesal tidak dapat berbuat lebih baik. Sayang sekali terror tidak berhenti sampai disitu, Yamato mendapatkan laporan dua belas orang bersenjata sedang merampok Bank Central Konoha. Mereka menyandera dan menembaki para karyawan Bank. Kali ini Kakashi tidak boleh gagal menangkap mereka. Paling tidak dia harus berhasil membawa seseorang untuk di intrograsi oleh Ibiki.

Dia memerintahkan Sai segera menuju ke lokasi. Pasukan telah bersiaga area sekitar Bank tapi mereka belum melakukan tindakan apapun. Mereka masih menunggu perintah Kakashi yang belum tiba.

Sai sudah disana, Melakukan pengamatan dari jarak aman mengunakan binocular. Dia melihat tiga mobil van terparkir di depan bank dan dua orang sedang memaksa para pegawai untuk menaruh berkarung-karung uang di mobil-mobil mereka. Empat orang dengan senjata Shotgun berdiri mengawasi keadaan. Para security bank sudah tewas tertembak.

Gir di otak pria berambut hitam itu mulai bekerja. Dia bisa mengatasi ke enam orang yang di luar. Sai meminta tiga orang penembak jarak jauh mengcovernya. Tiga orang tersebut memastikan ear piece mereka berfungsi dan segera menyebar mencari spot yang tepat untuk menembak para perampok yang kini berdiri di tepi jalan. Sai tahu Kakashi pasti tidak akan setuju dengan tindakannya yang gegabah tapi dia lelah menunggu. Semakin lama mereka diam semakin banyak korban yang berjatuhan. Para perampok itu tidak akan melepaskan sandera hidup-hidup.

Pria berambut hitam itu mengkokang pistol semi automatisnya. Dengan mantap dia menunggangi motor Ducati hitam kesayangannya melintasi jalanan yang kini lenggang. Akibat serangan bom tadi warga konoha memilih untuk tetap aman tingal di rumah menghindari tempat keramaian.

"Ruen, Lepasakan tembakan kearah mereka " Sambil memacu motornya mendekati lokasi Sai memberikan perintah.

Snipper yang bersiaga di atap gedung yang berada di seberang Bank central Konoha menjawab "Roger". Ruen pun mulai melepaskan tembakan kearah para perampok dengan bertubi-tubi.

Para perampok itu terkejut dan langsung bereaksi dengan melepaskan tembakan kearah asal serangan tadi. Barter peluru pun tak terelakkan. Ruen melakukan pekerjaannya dengan baik serangannya berhasil membuat mereka terganggu dan tidak menyadari kehadirannya.

"Saki, Koji tolong cover aku. Bila aku gagal membidik mereka. Kalian harus melepaskan tembakan seakurat mungkin jangan perdulikan aku. Para perampok itu harus di lumpuhkan"

"Ok kapten", Sahut anak buahnya kompak.

'Ini akan sulit' pikir Sai. Saat para perampok itu sibuk baku tembak dengan Ruen, Sai dengan cepat melintas dan membidikan pistolnya. Bukan pekerjaan mudah menembak dengan tangan kiri dan mestabilkan laju motor. Para perampok itu tidak menyadari kedatangan Sai dari arah berlakang

"Dor…Dor…Dor" Sai melambatkan lajunya dan melepaskan tembakan tepat sasaran. Satu, dua, tiga orang telah jatuh tembakan berikutnya tidak mengenai sasaran 'Brengsek meleset'.

Kini para perampok yang tersisa menghujaninya dengan tembakan. Sai berusaha menghindar dan kehilangan keseimbangan motornya selip dan terpelanting ke aspal. Sai merasa kaki dan tangannya terluka. Sepertinya kali ini dia akan mati. Tapi berondongan peluru yang dia nanti-natikan tidak kunjung tiba. Ketiga perampok yang tersisa telah tumbang. Saki dan Koji menembak dengan sempurna.

"Good Job" Pria itu menyelamati anak buahnya.

Beruntung keributan di luar tidak di ketahui oleh anggota perampok yang lain. Dengan tertatih tatih Sai memungut senjatanya dan berjalan menuju pintu masuk.

"Kalian selamatkan diri" Ucap pria itu pada empat pegawai bank yang tiarap di antara mobil-mobil van milik perampok.

Sai menyelinap sendirian tanpa tahu apa yang sedang menanti di dalam sana.

.

.

"Kau lihat batangan Emas ini Hidan. Aku akan membawa semuanya keh..keh..keh." Pria besar bertopeng memasukan emas satu demi satu kedalam karung nya "Tobi memang anak baik. Menyuruhku merampok bank" lanjut pria itu.

"tch, Kecintaan mu pada uang memang menjijikan Kakuzu. Apa organisasi kita kekurangan uang sampai kita harus merampok" Tanya Hidan pada sang bendahara Akatsuki.

"Organisasi kita sangat kaya, tapi aku tidak membuang kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak uang" Kakuzu menyengir lebar.

"Omong-omong kemana anak buah kita yang idiot itu. Disuruh memindahkan uang saja lama sekali, Menyebalkan Akatsuki kini merekrut orang-orang bodoh" Hidan sama sekali tidak suka dengan kebijakan baru Akatsuki yang belakangan membiarkan siapa saja bergabung tanpa seleksi

"Ayo kita periksa" Kakuzu mengangkat karung nya dan meninggalkan ruangan itu

.

Itachi Uchiha tiba di Konoha. Dia hendak pergi ke markas besar divisi Intelegent tapi sekumpulan polisi memblokade jalan dan memaksanya berhenti.

Itachi menurunkan kaca mobilnya. "Ada apa?"

"Maaf, Tuan anda tidak boleh melintas, Carilah rute lain"

Pria itu lega polisi itu tidak mengenali wajah di balik kaca mata hitamnya. Bagaimanapun dia masih berstatus buronan Konoha.

"Apa yang terjadi?"

"Polisi dan Militer sedang mengepung perampok di Bank Central" ucap polisi itu letih

"Ok, Baiklah aku akan mencari rute lain"

Itachi memutar mobilnya. Pria itu berhenti dan pakir di sebuah lorong mengambil tas nya dan berlari menuju Bank Central konoha yang hanya lima ratus meter dari situ 'Sepertinya aku terlambat'

.

.

Di kediaman keluarga Yamanka yang jauh dari kericuhan dan kepanikan. Ino duduk di depan televisi memantau berita hari ini. Pemberitaan bom dan perampokan live di semua saluran. Wanita itu terlihat pucat dan lesu. Dia mendapatkan firsat buruk. Ino tidak bisa berhenti memikirkan Sai yang mungkin sekarang sedang bertugas dan terancam bahaya. "Mengapa aku masih perduli padanya?" guman wanita itu pada dirinya sendiri.

Inoichi memandang putrinya dari ruang makan dengan sedih "Ino apa kau tidak mau makan sedikit hari ini kau tidak menyentuh sarapan mu?" Pria itu hendak makan siang.

"Aku tidak apa-apa ayah, Aku sedang tidak bernafsu makan"

"Kau sudah mengatakannya selama seminggu Ino. Aku dan Ibu mu khawatir"

"Aku baik-baik saja ayah" Ino berusaha tersenyum meyakinkan ayahnya dia memang baik-baik saja.

Inoichi tahu putrinya sedang patah hati. Tapi dia tidak menyangka suasana hati putrinya mempengaruhi kesehatannya. Ino tidak terlihat baik. Seminggu ini putrinya terlalu banyak tidur dan sama sekali tidak menyentuh makanannya. 'Apa Ino stress?' Dia akan memaksa putrinya ke dokter.

Tiba-tiba Wanita berambut pirang itu merasa mual, Sontak ia berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Bagaimana mungkin dia terus-menerus merasa mual ketika dia tidak makan apa-apa. Ino terdunduk di wastafel mengeluarkan semua isi perutnya. Dia merasa lemas dan berkunang-kunang.

"Braak.." Inoichi mendengar suara benda terjatuh dari kamar mandi.

Kepala keluarga Yamanaka itu segera mengecek putrinya. Dia mendorong pintu kamar mandi yang tidak terkunci dan menemukan Ino tak sadarkan diri di lantai.

.

.

Sai telah menyelinap ke dalam Bank sendirian. Luka-lukanya terasa perih dan kebas tapi dia mengabaikannya. Dia bersembunyi di balik tembok mengamati situasi. Sekitar lima belas orang duduk dilantai, Mereka semua terlihat cemas dan ketakutan. Empat orang pria bertopeng berjaga di ruangan itu. 'Kemana dua orang lagi? Bukankah harusnya ada dua belas orang'

Sai mulai berpikir bagaimana cara memancing mereka keluar dari ruangan itu. Pria berkulit pucat itu menendang tong sampah dari logam yang berada di dekatnya. Suara berisik yang dihasilkan berhasil membuat salah satu dari mereka berjalan ke arahnya. Sosok Sai masih tersembunyi dan dia bisa mendengar suara langkah kaki di lorong mendekat. Dia hanya punya satu kesempatan membuat serangan kejutan. pria bertopeng itu melihat tong sampah yang terjatuh dan memeriksa sekelilingnya. Dia melihat Sai muncul dari bayangan. Belum sempat sang perampok bereaksi Sai menembak pria itu dengan cepat.

Suara tembakan membuat tiga orang sisanya waspada. Sai berjalan mengendap-ngendap bersembunyi di balik pilar. Menunggu mereka bergerak benar saja dua orang datang. Melihat mayat rekan mereka tergeletak di lantai para perampok itu sadar seseorang sedang menyelinap. Pria dengan topeng berwarna coklat melihat Sai di balik pilar dia dan rekannya memberondong Sai dengan peluru. Sai tetap tenang berjongkok di balik pilar yang sisi lainnya kini dipenuhi lubang akibat terjangan peluru.

"click..click" Suara tembakan berhenti, Sai tersenyum dari tadi dia menghitung jumlah tembakan yang mereka lepaskan. Dia punya waktu tiga detik para perampok itu sedang mengisi kembali senjatanya. Dalam sepersekian detik Sai keluar dari persembunyiannya dan menembak mati dua orang bertopeng itu.

Dia berlari menuju ruangan dimana para sandera berada, tinggal satu orang. Sai mengerahkan semua tenaga dan konsentrasinya. Belum sampai disana Sai sudah dihujani tembakan membabi buta. Perampok terakhir sepertinya memutuskan mengarahkan tembakan ke satu-satunya pintu masuk. Sai menempelkan punggungnya pada tembok. Menghindari tembakan acak tersebut. 'Sial aku hanya butuh satu kesempatan' Pria itu memejamkan mata memutar otaknya mencari cara menghabisi sisa perampok dan membebaskan sandera.

Seorang pria setengah baya berkacamata meringkuk di bawah meja kerjanya. Dia seperti halnya sandera yang lainnya ketakutan dengan perampok yang menembakan senapan membabi buta ke arah pintu. Tapi pria itu juga kesal dia tahu cepat atau lambat para perampok itu akan membunuh mereka. Di mana polisi konoha ketika sedang di perlukan. Merasa putus asa si bapak secara impulsif berdiri dan meraih vas bunga yang berada di meja kerjanya. Dia melemparkan vas kaca itu ke arah sang perampok yang berdiri tidak jauh dari tempatnya

Entah apa karena keberuntungan atau si bapak mantan atlet tolak peluru. Vas tersebut pecah menghantam kepala sang perampok.

"Brengsek" Si perampok menghentikan tembakannya. Meskipun tidak luka tapi lemparan vas itu cukup menyakitkan.

Melihat kesempatan Sai berlari ke dalam melepaskan tiga tembakan yang bersarang tepat di tubuh perampok terakhir.

"Kalian cepat pergi dari sini" Teriak Sai pada para sandera.

Mereka pun berlari dengan panik ke luar. Pria berambut hitam itu lega semua orang telah melarikan diri tapi kelegaan Sai tidak berlangsung lama.

Lift di ruangan itu terbuka menampakan dua orang pria membawa machine gun dan berkarung-karung emas. Sai mengenal wajah-wajah itu. Kakuzu seorang perampok bank legendaris dan Hidan seorang pemimpin sekte aliran setan yang diburu karena membunuh ratusan wanita dan anak-anak untuk ritualnya.

Sai sudah merasa kalau aksi heroiknya akan berakhir dengan kematian. Kali ini dia tidak punya kesempatan untuk lolos. Pria itu menjatuhkan senjatanya dan mengangkat tangan.

"Heh lihat Kakuzu ada tikus penyusup disini dan dia membunuh semua idiot itu"

"Kau agen Konoha?" Kakuzu bertanya

Sai tidak menjawab, Dia sudah berhasil. Walau dia akan mati hari ini. Pasukan konoha di luar sana tidak akan segan-segan memburu mereka karena tidak ada lagi sandera yang harus dipikirkan.

"Sudalah Kakuzu, Kita bunuh saja brengsek ini lalu pulang" Hidan mengangkat senjatanya bersiap menembak Sai yang tidak melawan.

Sai menutup matanya Belum sempat Hidan melepaskan tembakan. Seseorang yang muncul dari belakang. Dia melepaskan tiga tembakan yang mengenai kaki dan perut pria berkulit pucat itu. Sai merasakan peluru-peluru berdesing menembus dagingnya. Siapa yang menembaknya?

Pria berkulit pucat itu rubuh berlumuran darah. Pandangannya mulai buram dan sayup-sayup dia mendengarkan suara-percakapan mereka. Kesadarannya menghilang perlahan-lahan. tapi aneh dia bisa mendengar suara tawa Ino Yamanka dengan jelas. Bila dia punya kesempatan dia ingin minta maaf pada wanita itu tapi sepertinya sudah terlambat. Sai menutup mata tak sadarkan diri.

"Itachi kau datang juga" Kakuzu memberi salam pada rekannya sesama Akatsuki

"Kau jahanam, Mengapa membunuh mangsaku" Hidan kesal karena Itachi menembak Sai.

Mata Onyx pria itu menatap kedua rekannya " Ayolah, Kita tak punya waktu untuk ini. Kalian terkepung dan Tobi mengirimku untuk membantu kalian"

"Kau serius?" Tanya Hidan.

"Ya sangat serius ratusan polisi sudah siaga"

"Sebaiknya kita pergi sekarang" Kakuzu menenteng semua karung emasnya.

.

.

Ino Yamanka tersadar di ruang perawatan rumah sakit. Inoichi berdiri di dekat jendela. Pria berambut pirang itu tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kondisi ini pada putrinya. Ia berharap Ino tidak akan bereaksi negative. Dia sendiri sangat terkejut dengan apa yang disampaikan dokter.

"Ayah apa yang terjadi denganku?" mendengar pertanyaan itu wajah ayah dan Ibunya tampak bimbang.

Inoichi buka suara "Aku menemukanmu pingsan di kamar mandi dan membawamu ke rumah sakit"

Wanita itu menarik nafas panjang apa dia sedang sakit parah "Lalu apa kata dokter?"

Kemudian Ibunya menarik nafas panjang memberikan jawaban "Ino kau sedang hamil"

Mata aquamarine Ino terbelalak. Dia kesulitan menerima berita ini. Dia hamil