Chapter 2: Minat
A/N: Cast milik Tuhan, orangtua dan agensi mereka. Maaf kalau ada typo atau kesalahan dalam bentuk apapun, kesalahan hal yang manusiawi.
Ini adalah BoyxBoy(Yaoi). Yang tidak suka atau merasa jijik bisa tinggalkan laman.
Happy Reading
Srett.
Bruk.
Jimin mendudukkan dirinya di bangku kantin sekolah mereka dengan Taehyung disampingnya. Menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan bibir yang mem-pout lucu.
"Jadi? Masalah ekstrakurikuler lagi?" Tanya Taehyung to the point. Atensinya ia pusatkan pada Jimin yang hanya mengangguk lesu.
Dua bulan. Jimin sudah menjadi siswa di sekolah yang sama dengan Taehyung selama dua bulan. Dan selama dua bulan tersebut, ia juga sudah mendapat panggilan sebanyak empat kali karena belum juga menuliskan ekstrakurikuler apa yang ia pilih. Sekolah mereka memang mewajibkan siswanya mengikuti minimal satu ekstrakurikuler untuk membuat para siswa mengembangkan bakat dan minat mereka, hal yang lebih bermanfaat daripada menghabiskan sisa hari dengan hal-hal yang belum tentu bersifat positif. Itu kata kepala sekolah mereka.
"Lalu kenapa belum juga, sih? Kau hanya tinggal menuliskan kau ingin bergabung dengan klub apa, Jim." Ucap Taehyung, terlalu bosan melihat Jimin yang keluar dari ruang kesiswaan selalu dengan wajah cemberut dan lesu.
"Aku tidak minat, Tae." Jimin mengangkat kepalanya dan merengek pada Taehyung seperti anak kecil.
"Kenapa, sih? Kan ekstrakurikuler disini banyak."
"Bukan masalah banyak atau tid—"
"Hei! Ada apa?" Ucapan Jimin terpotong karena Hoseok yang tiba-tiba datang dan merangkul Jimin dengan akrab.
"Jimin dipanggil untuk kesekian kalinya karena belum mengisi kegiatan ekstrakurikuler yang ingin dia ikuti." Jawab Taehyung, melirik kesal kearah Jimin sebentar, "Kemana yang lain, Hyung? Kenapa hanya kau sendiri."
"Mereka lambat dalam berjalan, sepertinya ketularan virus malasnya Yoongi Hyung." Jawab Hoseok asal. Kemudian mengalihkan atensinya pada Jimin yang masih mem-poutkan bibirnya.
"Kenapa kau belum memilih, Jim?" Tanyanya lembut.
"Aku tidak minat, Hyung~ Kenapa sekolah ini memaksa sekali Aku 'kan tidak akan tinggal kelas walau tidak mengikuti ekstrakurikuler apapun~" Rengek Jimin, membuat Hoseok gemas dan mencubit pipi tembamnya dengan ganas.
"Aih~ Gwiwoyo~"
Plak.
"Lepaskan, Hoseok! Kau menyakiti Mochi-ku."
Hoseok meringis saat tangannya mendapat tamparan cukup keras dari Kim Seokjin yang baru saja datang dengan Yoongi, Namjoon dan Jungkook. Jin langsung menarik Hoseok dan duduk disamping Jimin.
"Jiminie~ Ada apa, hm? Cerita pada Hyung, ya." Ucapnya lembut, seperti sosok ibu.
"Aku dipaksa mengikuti ekstrakurikuler, Hyung~" Jimin kembali merengek pada Jin, membuat Jin juga ikut mencubiti pipinya walau tidak seganas Hoseok.
"Memang kenapa? Kau 'kan tinggal menulis ekstrakurikuler yang kau minati." Kata Jin, mengelus rambut hitam Jimin dengan sayang.
"Dia tidak minat, Hyung." Taehyung mewakili Jimin menjawab pertanyaan Jin, "Aku juga sudah menyuruhnya berkali-kali. Dia tetap saja tidak minat."
"Hmm, bagaimana jika klub vocal? Aku dan Taehyung 'kan juga masuk klub vocal." Usul Jin, tapi Jimin menggeleng, "Tidak, Hyung. Aku tidak yakin dengan suaraku."
"Tapi menurutku suaramu bagus, Jim." Taehyung menepuk pundak Jimin, seolah memberi keyakinan pada Jimin yang sering sekali kehilangan kepercayaan dirinya sendiri.
"Tapi aku lebih menyukai suaramu, Tae." Jimin tersenyum lebar, membuat mata lurusnya muncul dengan indah.
"Kenapa jadi memuji ku? Aku 'kan malu." Taehyung mengalihkan pandangannya dari Jimin. Mukanya sedikit memerah tanpa Jimin dan yang lainnya sadari, entah karena malu akan pujian Jimin atau karena hal lainnya.
"Klub basket? Walaupun aku tidak yakin kau akan menguasainya dalam beberapa minggu, aku bisa mengajarimu." Yoongi berbicara dengan ciri khasnya, datar dan malas.
"Tidak, Hyung. Terimakasih. Tinggiku tidak cocok dengan basket." Tolaknya dengan cengiran polos.
"Klub rapper, Jim?" Tawar Namjoon, lagi-lagi Jimin menggeleng, "Aku lebih buruk dalam rapper, Hyung. Aku tidak mau klub-mu hancur." Candanya.
"Kalau klub dance? Jiminie mau 'kan? Kau juga dulu di Busan mengikuti klub dance, 'kan? Ayo klub dance saja! Ada Hyungie, kok~" Bujuk Hoseok, dengan semangat empat puluh lima-nya yang tidak pernah tertinggal.
"A-ah, itu sih benar, Hyung. Tapi aku juga masih ragu. Aku harus meminta izin Papa." Kata Jimin sendu. Pasalnya, ia memang ingin mengikuti klub dance lagi, tapi pasti Chanyeol tidak mengizinkan.
"Bagaimana kalau klub beladiri? Taekwondo, Hyung?" Tanya si magnae—Jungkook, "Aku juga masih pemula. Jadi, kita bisa belajar bersama-sama." Kalimat Jungkook diakhiri dengan senyum kelinci-nya yang lucu.
"Eh!? Benarkah!? Kau ikut beladiri, Kook? Kenapa aku baru tahu?" Jimin menanyai Jungkook dengan heboh. Membuat yang lainnya berfikir bahwa Jimin akhirnya berminat pada salah satu ekstrakurikuler sekolah mereka.
"Nde, Hyung. Kau saja yang tidak pernah bertanya padaku, Hyung!" Jungkook menjeda ucapannya dan menatap Jimin antusias, "Apa kau berminat, Hyung?"
"Iya, Kook! Aku berminat!" Tanpa sadar Jimin berdiri dari duduknya, "Aku akan bicara pada Pap—" Jimin baru saja mengatakan ke-minat-annya pada sebuah klub beladiri. Tapi ucapannya tiba-tiba berhenti dan ia langsung duduk kembali dengan sedih. Bahkan, matanya sudah berkaca-kaca. Membuat yang lain bingung dan sedikit khawatir.
"Jiminie~ ada apa?" Tanya Jin, menangkup wajah Jimin agar menatapnya. Ia bisa merasakan kesedihan dari mata Jimin yang sekarang juga sedang menatapnya.
"Papa sepertinya tidak akan mengizinkan aku untuk mengikuti klub beladiri, Hyung."
"Memangnya kenapa? Kau coba tanyakan dulu. Jika tidak berhasil kau bisa membujuknya, Jim." Saran Namjoon.
"Ne, Hyung. Aku nanti akan berusaha membujuk Papa, hehe~"
.
.
.
.
Langit Seoul yang mulai berganti warna menjadi jingga menemani Taehyung dan Jimin yang beriringan pulang ke rumah masing-masing. Tak ada yang membuka suara dari awal mereka turun dari bus. Bukan karena mereka sedang marahan, tapi karena Jimin yang tidak dalam mood yang baik. Jadi Taehyung tidak mau mengambil resiko mengajaknya bicara jika akhirnya ia diabaikan.
"Aish! Aku harus bagaimana, Tae!?" Jimin berhenti melangkah dan berjongkok dengan tangan yang mengacak rambutnya frustrasi.
"Kenapa kau jadi seperti ini? Kau berbicara pada ayahmu tentang kegiatan ekstrakurikuler, lalu kau katakan bahwa minat-mu ada pada klub Taekwondo." Taehyung ikut berjongkok disamping Jimin, menangkup wajah Jimin dan berbicara dengan lembut, "Jadi dimana yang membuatmu frustrasi?" Tanyanya.
"Tidak semudah itu, Tae. Papa benar-benar tidak akan mengizinkan aku ikut klub yang menguras banyak tenaga."
"Wae? Apa kau memiliki penyakit parah, Jim!? Jadi paman Chan tidak akan mengizinkanmu, begitu? Katakan! Apa penyakitmu? Kau tidak akan meninggalkan aku, 'kan?" Taehyung bertanya dengan berlebihan, membuat Jimin harus menoyor kepalanya.
"Kau berlebihan. Jangan banyak menonton drama makanya." Kesal Jimin.
"Aku 'kan hanya khawatir, Pendek! Dan Jim, aku punya ide untuk mendapat izin Paman Chan." Kata Taehyung semangat.
"Apa? Apa?" Jimin berdiri dari posisi jongkoknya, dan melompat-lompat seperti anak kecil.
"Kau pura-pura menangis saja, Jim. Pasti Paman Chan luluh. Hiks hiks,—Papa, hiks." Taehyung membuat ekspresi menangis yang sangat menjengkelkan bagi Jimin, membuat Jimin ingin segera menendangnya.
"Hahahaha!" Sebelum sempat Jimin melakukan niatnya, Taehyung sudah berlari lebih dulu dengan tawa menggelegar.
"TAETAE! Jangan lari! Aku belum menendangmu!"
.
.
.
"Semangat ya, Chimchim-ku~ ingat saran ku tadi. Annyeong!" Taehyung melambai pada Jimin yang cemberut karena mendengar suara tawa Taehyung yang kembali muncul.
"Saran apa, Jim?" Jimin terlonjak kaget karena Sang papa berada tepat dibelakangnya.
"Aish, papa. Mengagetkan Jimin saja!" Jimin menekuk wajahnya lucu, lalu berjalan kedalam rumah mereka.
"Maaf, nak. Papa 'kan tidak sengaja." Kata Chanyeol mengikuti Jimin dari belakang, kemudian menghentikan Jimin yang akan memasuki kamarnya dan membawanya duduk di sofa.
"Ada apa? Kenapa murung sekali?" Chanyeol mengusap rambut Jimin dengan lembut, dan Jimin segera merapatkan dirinya pada Chanyeol akibat rasa nyaman yang ditimbulkan.
"Jimin dipanggil menghadap kesiswaan, Pa." Kata Jimin pelan, mengeratkan tangannya yang memeluk Chanyeol dan menyamankan posisinya.
"Apa Jiminie nakal?" Jimin menggeleng.
"Apa Jiminie bolos?" Jimin menggeleng, lagi.
"Lalu kenapa?"
"Jimin belum memilih kegiatan ekstrakurikuler, Pa."
"Kenapa tidak memilih? Apa tidak ada kegiatan yang menarik?" Tanya Chanyeol, masih betah mengelus rambut anaknya.
"Ada kok." Jawab Jimin.
"Lalu? Kena—"
"Klub beladiri. Apa Papa mengizinkan Jimin?" Jimin menghentikan ucapan Chanyeol, begitu juga dengan usapan Chanyeol yang terhenti.
Chanyeol menjauhkan Jimin dari pelukannya dan menatap anaknya dingin.
"Tidak lagi. Papa tidak akan mengizinkan. Kita sudah pernah membicarakan ini." Kata Chanyeol dingin, beranjak dari duduknya menuju dapur, "Papa akan menyiapkan makan ma—"
"Papa." Panggil Jimin pelan, berjalan ke hadapan Chanyeol yang menghentikan niatnya menuju dapur, "Apa Jimin tidak boleh melakukan hal yang Jimin sukai? Jimin tidak pernah melarang papa melakukan yang papa sukai. Jadi, boleh Jimin punya satu kesempatan? Toh, Itu tidak akan melukai Jimin." Kata Jimin memohon. Matanya sudah memerah, berusaha menahan cairan bening yang tanpa ia sadari sudah menggenenang.
"Kau berkata begitu karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Kata Chanyeol, mendengus kesal karena Jimin yang keras kepala.
"Memang! Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kenapa tidak mencoba lagi saja dan membuktikan kekhawatiran papa yang tidak beralasan itu!?"
"PARK JIMIN!" Teriak Chanyeol marah, matanya menatap nyalang pada Jimin, "bagian mana yang kau sebut tidak beralasan, ha!? Bagian mana!? Kekhawatiran ku itu punya alasan!"
"Jimin juga punya alasan kenapa Jimin mengemis izin pada papa!"
"Apa maksudmu mengemis!? Kau fikir dirimu pengemis!?"
"Kalau begitu biarkan aku melakukan apa yang aku mau dan aku suka! Agar aku tidak perlu mengemis pada Papa lagi!"
"SILAHKAN! Lakukan sesukamu! Tapi jangan anggap aku papa-mu lagi!"
Hening.
Jimin dan—bahkan Chanyeol sendiri sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja ia Ucapkan. Membuatnya benar-benar menyesal karena hal itu pasti menyakiti hati anaknya.
"Begitu? Hanya karena masalah ini dan dampaknya sampai papa tidak mau mau mengakui Jimin lagi?" Jimin mengusap kasar pipinya yang sudah basah entah sejak kapan.
"J-Jiminie, maaf, nak. Papa tidak bermaksud begitu."
Jimin menghela nafas lelah, "Sudahlah. Jimin juga salah." Ucapnya pelan. Jimin berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Chanyeol yang masih diam di tempatnya.
"Jimin akan istirahat, Pa. Jimin tidak akan ikut makan malam." Kata Jimin sebelum membuka pintu kamarnya.
"Tapi Jiminie pasti lap—"
"Jimin tidak lapar. Selamat petang, Pa." Dengan begitu Jimin menutup pintu kamarnya.
.
..
.
TBC
.
Maaf, mungkin nanti banyak yang ngerasa ceritanya ga sesuai sama judulnya. Jadi, maafkan saya terlebih dulu. Terimakasih ^^
