Disclaimer : Hidekaz Himaruya
Rating : Masih T kayaknya (?) Bisa berubah sewaktu-waktu tergantung mood Author.
Warning : Author newbie, jadi banyak TYPO dan aneh. Abal2 dan tidak masuk di akal. Ini percobaan nekad dari author yang baru ngeh dikit tentang hetalia. *ditimbun pake semen se-truk*
Cerita Sebelumnya:
"Kiku, laporkan situasi disana! Apa ada kegiatan mencurigakan dari Tua Bangka itu?" Kataku segera menghubungi Kiku.
"Dia tidak melakukan hal yang aneh. Sekarang kepala sekolah sedang mengecek beberapa dokumen dan meminum secangkir kopi." Kata Kiku melaporkan kegiatan Tua Bangka itu.
"Kau yakin dia tidak melakukan hal seperti mengendalikan sesuatu?" Aku masih tak percaya dengan kenyataan yang Kiku ungkapkan.
"Yakin. Tak ada apapun aktifitas yang menghubungkannya dengan perangkat elektronik saat ini." Jelas Kiku.
Aneh. Jika memang Pak Tua itu pelaku utamanya, mengapa penyerangan kali ini dia tak memegang kendali apapun? Apa aku sudah salah mengira bahwa Pak Tua itu pelakunya? Atau mungkinkah ada pelaku lain dalam permainan keji ini? Ah, bloody hell!
—OOOoooOOO—
NORMAL POV
Arthur segera membawa Nesia menuju ruang kesehatan dan menghubungi Vladimir yang tengah bersama Elizabeta. Sementara itu, Kiku masih mengamati tindak-tanduk sang kepala sekolah yang kini semakin tenggelam dalam pekerjaannya. Tak ada yang menyangka jika kejadian yang melukai Nesia ini hanya pengalih sebelum target yang sebenarnya tak lagi dapat meloloskan diri. Tapi, kita kesampingkan dulu kasus selanjutnya dan lihat bagaimana keadaan personifikasi negeri zamrud ini.
Wajah Nesia semakin kesakitan ketika dirinya dibaringkan di atas ranjang di ruang kesehatan oleh Arthur. Perawat Flor sedang tidak ada di tempat karena memang sekarang jadwal pengambilan persediaan obat keluar pulau. Well, karena ini pulau terpencil, tak semua kebutuhan dapat tersedia disini. Ada beberapa kebutuhan yang perlu disetok dari pulau-pulau besar seperti obat-obatan, pembersih, detergent, dan barang-barang yang tidak dapat mudah dibuat secara alami lainnya.
Sebenarnya para guru dan perawat Flor sudah mengembangkan obat herbal, namun karena khasiatnya lama diproses tubuh, mereka tetap mengutus perawat Flor untuk membeli obat kimia. Cairan infus seperti Ringer Laktat dan Saline tidak mudah dibuat sendiri bukan?
Keringat dingin mulai membanjiri pelipis gadis Asia manis itu. Napasnya memburu karena menahan sakit. Tak lama, suara gaduh telapak kaki yang bergesekan dengan lantai terdengar bersahutan mendekat ke arah ruang kesehatan. Vladimir Popescu membuka pintu ruang kesehatan dengan terburu-buru. Elizabeta Hèdervàry menyusul di belakangnya.
"Kalian lama sekali sih?" Semprot Arthur.
"Maaf, Kaicho. Kami sedang mengecek lantai 3 gedung kelas XII ketika Kaicho memanggil Vlad. Ada apa dengan Nesia?" Kata Elizabeta terengah-engah karena lelah setelah berlari sejauh itu.
"Dia terkena serangan sihir saat melindungiku. Tenaganya terkuras untuk membuat kekai di atap." Jelas Arthur singkat.
Vladimir yang mengetahui apa maksud Arthur segera menggunakan sihirnya untuk memulihkan tangan Nesia yang semakin memerah seolah seluruh darahnya berkumpul disana. Perlahan, warna kulit Nesia mulai kembali normal. Napasnya pun berangsur-angsur mulai teratur. Elizabeta nampak lega melihat sahabat barunya yang membaik.
Setelah tak ada lagi efek dari serangan itu, Arthur mengajak Vladimir keluar dan meminta Elizabeta menjaga Nesia. Sepertinya personifikasi gentlemen itu hendak menggantikan tugas Elizabeta untuk mengkoordinasikan pengamanan sekolah bersama Magic Club.
"Bagaimana kelanjutan penjagaan kali ini?" Tanya Arthur tanpa basa-basi.
"Karena keterbatasan pengguna sihir dan anggota, aku agak sulit menentukan titik mana yang sekiranya memerlukan penjagaan lebih. Namun, sepertinya serangan mereka tidak pernah berada di indoor, aku pikir cukup menempatkan para anggota di pintu masuk dan atap setiap gedung." Jelas Vladimir.
"Begitu ya. Kalau begitu, sisanya hanya tinggal kau, Lukas, dan diriku sendiri. Aku sudah memutuskan untuk menjaga area bangunan lama. Kau akan berkeliling menggantikanku dan Ludwig. Sementara Lukas, jika keadaannya sudah membaik, katakan padanya untuk menjaga area asrama. Sementara ini, sepertinya hanya itu yang bisa kita lakukan." Arthur memberikan pengarahan strategi yang sementara ini terpikirkan olehnya.
"Lalu, bagaimana dengan asrama wanita? Siapa yang menjaganya? Seingatku anggota kita tidak ada yang wanita. Eh, ada sih, tapi dia sudah aku tempatkan untuk menjaga atap." Tanya Vladimir bingung.
"Disana masih ada Nesia dan Elizabeta. Mereka yang bertugas disana untuk saat ini. Tapi, karena ada kejadian ini, mungkin aku akan membantu sesekali disana. Kemungkinan aku akan mengecek kesana setiap beberapa jam sekali." Jawab Arthur.
"Baiklah. Aku akan meminta anggota kita untuk berjaga mulai sore ini. Jika ada tambahan lain, hubungi saja aku. Ah, iya satu hal lagi. Keadaan Lukas sudah membaik sejak tadi. Aku meninggalkannya tadi pagi sendirian karena dia butuh istirahat dan sedang tertidur pulas saat aku tinggal tadi." Kata Vladimir.
"Syukurlah kalau begitu. Aku serahkan urusan ini pada kalian dan anggota Dewan Keamanan. Kalau bisa, jangan sampai terlalu mencolok ya." Kata Arthur lalu pergi menuju ruang OSIS.
Arthur merasa tak bisa menangani semua ini sendirian. Masalah ini lebih besar dari yang ia bayangkan. Belum lagi kegiatan besar OSIS. 'Kalau begini terus, acara itu bisa terbengkalai. Terpaksa, aku harus meminta kodok jelek itu membantuku mengurus acara tahunan OSIS. Tak ada lagi yang bisa membantuku selain makhluk jahannam itu kali ini', pikir Arthur.
"Honhonhon... Ada apa Arthie? Tumben sekali kau meneleponku duluan." Kata Francis dengan nada gembira yang dibuat-buat.
"Hentikan tawa menjijikanmu! Dan berhenti untuk memanggilku dengan sebutan anehmu itu! Tadinya ada yang ingin aku sampaikan, tapi kalau begini ceritanya, tidak jadi saja." Kata Arhur kesal.
"Tunggu! Ada apa memangnya?" Tanya personifikasi negeri yang menjadi kiblat fashion dunia itu mulai serius.
"Ada hal yang tidak bisa aku tangani saat ini karena ada masalah lain yang membutuhkan perhatian lebih dariku. Aku ingin kau menanganinya." Kata Arthur lebih seperti perintah dari pada permintaan tolong.
"Hooo... jadi The Great Arthur minta tolong padaku. Honhonhon... ini kejadian langka." Kata Francis geli dengan ketidakmauan Arthur minta tolong secara jelas.
"Cih, bloody hell." Arthur hanya bisa mendecih mendengar Francis karena memang ia tidak bisa membalasnya.
Sementara Arthur sibuk dengan urusannya, Nesia sudah membuka kedua matanya. Nesia terkejut mendapati Elizabeta ada disampingnya. Dan yang membuat Nesia semakin terkejut, dirinya sudah ada di ruang kesehatan. 'Rasanya tadi aku masih di atap bersama bule menyebalkan itu', pikir Nesia mengingat kejadian terakhir yang dialaminya.
"Eliza, apa yang terjadi?" Kata Nesia sambil berusaha bangkit duduk.
"Kaicho bilang, kau terkena serangan sihir karena melindunginya. Lalu, Kaicho panik membawamu kesini dan menelepon Vladimir yang sedang bersamaku untuk mengobati tanganmu." Jelas Elizabeta.
'Ah, benar juga. Tanganku sudah tidak lagi terasa ditusuk ribuan jarum', kata Nesia dalam hati. Nesia mencoba bangkit dari tempat tidur. Elizabeta segera membantunya karena Nesia hampir terjatuh.
"Arthur kemana?" Tanya Nesia setelah dirinya bisa berdiri dengan tegak.
"Kaicho keluar bersama Vladimir. Mungkin sekarang sedang ke ruang OSIS." Kata Elizabeta santai.
"Agh, bule menyebalkan itu?! Apa dia tidak sadar jika dirinya yang diincar saat ini?" Kata Nesia langsung menyeruak keluar tanpa peduli kondisinya yang masih lemah.
"Nesia tunggu!" Elizabeta segera berlari mengejar Nesia yang semakin menjauhi ruang kesehatan.
Personifikasi Indonesia itu sekuat tenaga berlari menuju ruang OSIS. Dirinya teringat akan kejadian yang membuatnya meninggalkan Arthur di kantin sekolah sebelum ini. Sebuah surat berisi tantangan untuk menangkap sang pelaku karena sebentar lagi dirinya segera mengambil kembali sang penguasa tertinggi.
Sekilas, Nesia dapat menduga siapa saja yang diincar sebagai penguasa tertinggi ketika membaca sebuah berita di ponselnya. Para personifikasi dari negara yang dianggap sebagai negara adikuasa, Amerika, China, Perancis, Rusia, dan Inggris. Namun, karena Rusia dianggap telah kalah telak, hingga banyak terpecah, kemungkinan ia tidak masuk hitungan. Namun, Nasia sedikit ragu dengan dugaannya ini karena mereka telah menculik Willem yang notabennya personifikasi Netherland dan di dalam surat kaleng berisi tantangan tersebut, sang pelaku menggunakan kata "mengambil kembali sang penguasa tertinggi" yang artinya Willem adalah salah satu bagian dari empat penguasa tertinggi.
Nesia terus berlari hingga di satu titik kakinya tak lagi sanggup melangkah karena kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah. Nesia terjatuh di atas lantai yang keras dan dingin dengan sangat keras hingga menimbulkan suara gaduh di sepanjang lorong menuju ruang OSIS. Nesia kembali tidak sadarkan diri disusul dengan teriakan panik dari Elizabeta yang membahana ke seantero gedung kelas XI.
BRUKKK
"Kyaaaa... NESIA!" Teriak Elizabeta.
Arthur yang sedang menelepon sang mantan ketua OSIS pun mencari sumber suara gaduh tersebut. Elizabeta tengah kebingungan menyadarkan Nesia yang kini jatuh tersungkur dengan tidak elite. Arthur segera menghampiri mereka dan membopong Nesia menuju ruang OSIS.
"Kenapa dengan Nesia? Bukankah sudah kubilang untuk menjaganya!" Semprot Arthur pada Elizabeta.
"Hei, jangan salahkan diriku. Nesia sendiri yang berlari menyusulmu. Dia khawatir padamu sampai tak sadar kondisinya yang juga perlu pertolongan, Kaicho." Semprot Elizabeta balik pada Arthur.
"Nesia khawatir padaku? Kenapa?" Tanya Arthur bingung.
"Aku juga tak tahu, Kaicho. Yang aku dengar hanya Nesia bilang kau diincar." Jelas Elizabeta.
Arthur hanya bisa memperhatikan wajah Nesia yang damai dalam pingsannya (?) kini diatas sofa ruang OSIS. Sementara itu Elizabeta sedang mencari sesuatu yang dapat membangunkan Nesia dari pingsan damainya. Arthur mengelus lembut pipi Nesia yang memerah akibat tersungkur dengan laknatnya di koridor tadi. 'Ah, benar juga. Gadis ini memang tahu sesuatu. Dia pasti kunci dari semua ini', pikir Arthur. Sayangnya, baik Arthur maupun Elizabeta tak menyadari keadaan Nesia yang tak bernapas.
Ya, kali ini jiwa Nesia otomatis keluar tanpa peringatan maupun pengendalian Nesia seperti sebelumnya. Ini adalah masalah lain dari ilmu nenek moyangnya yang tidak sempurna ia pelajari. Pada tahap ini, sulit bagi Nesia untuk kembali ke dalam tubuhnya sendiri tanpa bantuan orang lain atau tenaga yang sangat besar. Inilah mengapa Nesia membenci sihir hitam. Semua ilmu yang dipelajari dari sihir hitam memiliki resiko yang sangat besar. Jika kondisi ini terus berlangsung, bisa-bisa Sang Penjemput Maut datang menghampirinya. Well, karena jiwa keluar, otomatis napas dan detak jantung pun ikut berhenti sementara.
Ilmu Nesia ini spesial. Roh Nesia hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki ilmu yang sama dan para makhluk dari dimensi lain. Orang dengan kemampuan mata "lebih" seperti Arthur saja tak dapat melihatnya. Hal ini sungguh membuat Nesia kesulitan. Pasalnya, selain tenaganya sudah terkuras untuk membuat kekai tadi, tak ada makhluk seperti Teh Unti yang dapat membantunya.
"Alis tebal, aku titip tubuhku dulu ya. Nanti aku akan kembali lagi dengan bala bantuan untukku sendiri. Jangan cari-cari kesempatan!" Kata Nesia penuh ancaman, walaupun ia sendiri tak yakin Arthur bisa mendengarnya.
Akhirnya, Nesia memilih untuk meninggalkan tubuhnya dibawah perlindungan Arthur dan Elizabeta. Setidaknya kondisi ini menguntungkannya untuk menyelidiki kasus ini tanpa ketahuan. Namun, Nesia juga harus segera mencari pertolongan. Batas limit waktunya untuk terpisah dengan tubuhnya hanya 6 jam, pasalnya jantung seseorang tidak bisa berhenti berdetak jika lebih dari 6 jam, jika lebih, kemungkinan besar jantung itu tidak lagi bisa berdetak atau timbul kecacatan permanen. Jika begini caranya, Nesia harus memutar otak untuk menghubungi ayahnya agar membantunya. Sulit bagi Nesia untuk menyeberang antar dimensi dengan sisa kekuatan yang dimilikinya saat ini.
Nesia memilih mendatangi Kiku yang sedang menyelidiki Sang Kepala Sekolah. Senyumnya mengembang tatkala melihat keseriusan Kiku dalam menjalankan tugasnya. Teman yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri itu memang selalu serius ketika menjalankan apapun, bahkan saat menjalankan hukuman memalukan. Tanpa sadar Nesia terkikik mengingat wajah Kiku yang sama seriusnya seperti saat ini.
"Hihihi... kau lucu sekali, Kiku. Kau terlalu serius, santailah sedikit agar tak cepat tua. Hihihi..." Tawa Nesia geli.
Kiku tampak merinding. Sepertinya tawa Nesia sampai terdengar ke telinga Kiku saking seramnya (?). Nesia membekap mulutnya sendiri menahan tawa dan pergi berlalu meninggalkan Kiku dengan wajahnya yang merinding karena kikikan Nesia tadi. Nesia melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kepala sekolah. Dan ia mendapati si Tua Bangka itu tengah asik bergumul dengan tumpukan dokumen yang sepertinya sangat penting.
Kepala sekolah nampak tenang dengan wajah yang sudah penuh keriput. Tidak ada penjagaan khusus di ruangannya selain CCTV. Nesia menyingit heran karenanya. Padahal untuk mengambil dokumen saja Arthur dan Kiku harus berusaha mati-matian.
Nesia melangkahkan kakinya semakin mendekati Sang Kakek Laknat. 'Tunggu, ada yang aneh. Tangannya yang satunya bukan berada diatas meja, tapi...', batin Nesia semakin penasaran dan mendekat. Tiba-tiba tubuhnya kaku dan dirinya tersedot ke dimensi lain.
—OOOoooOOO—
NESIA POV
Sialan! Tua Bangka itu ternyata dilindungi pintu dimensi! Kenapa aku tidak menyadari hal ini?! Agh, Nesia bodoh! Aku terus merutuki kebodohanku sendiri. Sekarang aku tak tahu ada dimana dan harus pergi kemana. Celah antardimensi ini terlalu gelap dan terasa menghimpit. Ugh... aku harus mencari jalan keluar dari sini.
Aku terus berjalan. Celah ini seolah tanpa ujung. Seharusnya aku sadar sejak awal bahwa tidak mungkin Kakek Tua itu tanpa perlindungan lebih. Tua Bangka sialan! Akan aku adukan pada Ayah nanti. Biar saja kasusnya tidak akan aku beri informasi.
Langkahku terhenti ketika sebuah cahaya terang datang secara tiba-tiba dan perlahan menyilaukan mataku. Sial! Aku harus menghindari sihir dengan kekuatan besar ini! Aku mencoba untuk menghindar, namun sulit karena aku tak memiliki ruang gerak yang cukup. Seandainya tenagaku masih banyak, aku pasti melawannya.
Eh, tunggu dulu! Tidak mungkin ada sihir di celah antardimensi jika tidak ada yang masuk ke dalam atau menggunakannya dari pintu dimensi. Lagipula, itu melanggar aturan dunia sihir. Dalam celah dimensi, tidak boleh ada sihir karena dapat merusak tatanan yang ada dan menimbulkan kebingungan dimensi. Sial, aku tak bisa membiarkan mereka seenak jidatnya merusak tatanan dimensi dan menghilangkan pintu keluarku. Kalau seperti ini, hanya ada satu pilihan: membiarkan sihir itu mengenai diriku.
Sihir dengan kekuatan spektrum warna kuning itu semakin mendekatiku. Jika seperti ini, mungkin memang malaikat maut akan segera menjemputku. Ayah, maafkan aku. Mungkin aku tak akan pernah menyelesaikan tugas ini. Aku memejamkan mataku bersiap menjadi tameng untuk mencegah rusaknya celah dimensi.
Huh? Kenapa aku tak merasakan apapun? Apa yang terjadi? Aku membuka sedikit mataku untuk mengintip apa yang terjadi. Itu... Oom Wowo?! Kenapa? Bukankah seharusnya saat ini Oom Wowo sedang bersama Ayah di rumah? Bukankah seharusnya...
"Kau baik-baik saja, Nesia?" Tanya Ayah yang tahu-tahu sudah ada dibelakangku menggunakan lentera sihir.
"A... Ayah?! Kenapa?" Kataku terkejut.
"Sejak awal, Ayah sudah merasakan firasat tidak baik padamu. Jadi, Ayah hendak menemuimu lagi. Tapi, entah mengapa dimensi yang Ayah ciptakan malah tersambung ke celah ini dan Ayah melihatmu dalam bahaya." Terang Ayah.
"Ayah..." Kataku memeluk Ayah erat.
"Sstt... sudah. Maaf karena Ayah datang terlambat." Kata Ayah menenangkan. Terkadang, Ayah memang dapat menjadi sosok yang sangat hangat seperti ini. Walaupun memang jarang sekali. "Sekarang, kita keluar dulu,ya dari celah dimensi ini. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan denganmu." Kata Ayah menggiringku keluar dari celah dimensi ini.
Pintu keluar dari celah dimensi telah terlihat. Aku dan Ayah segera keluar. Dimensi mana ini? Apa ini dimensi buatan? Rasanya tidak. Udaranya terasa normal. Ini ada di dunia nyata, tapi dimana?
Gelap, semuanya terasa semakin gelap. Tempat ini sangat lembab dan gelap. Aku tak tahu dimana ini. Ayahku terus menggiringku. Tempat gelap ini seperti lorong tanpa ujung. Aku mulai merasakan aura aneh yang sangat kuat dan sebuah kekuatan seolah memberatkan langkahku.
"Ayah..." Keluhku.
"Ya, Ayah tahu. Ayah rasa kita harus segera keluar dari sini. Dinding disini tidak normal, mereka dapat mendengar, sekalipun suara kita saat ini. Akan Ayah usahakan untuk membuat celah dimensi baru dan kita keluar dari sini." Ujar Ayah seolah mengerti kekhawatiranku.
Rasanya Ayah semakin hebat saja. Bahkan Ayah tahu tentang dinding disini. Aku saja hanya merasakan bahwa ada sebuah sihir yang menyelimuti sekitarku.
"Ayah, tunggu." Kataku mencegah Ayah membuat gerbang dimensi baru.
Sayup-sayup aku dengar suara rintihan. Aku berlari menuju sumber suara itu. Ketika suara itu semakin menguat dan terdapat sumber cahaya diujung lorong, aku dan Ayah tertarik menuju celah dimensi lain. Tua Bangka sialan! Beraninya dia menjebakku lagi. Akan aku beri dia pelajaran nanti karena telah mempermainkan diriku dan Ayah, Penguasa Nusantara.
"Sst, Kirana Kusnapharani Annesia anakku, kemari. Ayah akan membuat dimensi baru dari sini dan kita bicara." Kata Ayah membungkam mulutku dan menahan tanganku agar tak mengeluarkan sihir pemantul. Ingat, serangan sihir tidak diperbolehkan dalam celah antardimensi.
Bergeming aku karena terlalu syok. Ayah tak pernah sekalipun memanggil namaku selengkap itu. Mengapa Ayah jadi keluar dari karakternya seperti ini? Tidak, aku merasakan firasat buruk seburuk-buruknya. Ada apa sebenarnya, Ayah? Mengapa aku merasa sesak?
"Kau... Kau bukan Ayah kan?" Tanyaku curiga.
Ayah sama sekali tidak menyukai nama terakhirku pemberian dari Ibu walaupun sering memanggilku 'Nesia'. Ayah masih tidak rela aku merdeka karena Ayah merasa aku belum bisa mandiri walaupun akulah yang paling dewasa dibandingkan adik-adikku. Atau mungkin Ayah masih belum rela untuk turun tahta dan hanya terkenang sebagai penguasa Nusantara saja. Entahlah, aku tak tahu. Yang aku tahu, Ayah hanya sangat membenci nama pemberian Ibu sebagai ucapan selamat atas kemerdekaanku.
"Apa maksudmu? Tentu saja aku ayahmu." Kata 'Ayah'.
"Bukan! Ayah tak pernah memanggil nama lengkapku." Kataku menentang.
"Memangnya tidak boleh seorang ayah memanggil nama lengkap putrinya?" Tanya 'Ayah' heran.
"Tidak! Ayah tak akan pernah memanggilku seperti itu. Siapa kau sebenarnya?!"
Tak lama, 'Ayah' tersenyum sinis. Oom Wowo yang ada disampingnya juga menghilang. Dia tertawa lepas seolah hal tersebut yang sangat lucu. Firasatku semakin buruk melihatnya.
"Tak aku sangka, ternyata putri dari penguasa Majapahit mengenaliku secepat ini. Padahal sihir ini cukup sempurna. Kejelian yang sangat luar biasa. Pantas saja lelaki tua itu sangat membanggakan anak sulungnya. Well, kalau begini, aku buat kau bertemu malaikat maut saja disini sekarang." Kata 'Ayah' bersiap menyerangku.
Sudah kuduga ternyata dia bukan Ayah. Firasat burukku terbukti. Ini yang membuatku membenci instingku yang selalu benar ini. Sangat menyebalkan jika kau pernah merasakannya saat semua firasat burukmu menjadi kenyataan. Sementara firasat baikmu tak selalu benar.
Aku bersiap menahan serangannya. Well, tenagaku mulai terisi walaupun belum sepenuhnya. Dan untuk kesekian kalinya, aku terseret masuk dimensi lain. Ada yang menarikku tepat sebelum serangan itu sampai padaku. Aku menoleh dan mendapati makhluk mungil menggemaskan milik Arthur yang menarikku menuju dimensi miliknya.
"Puu..." Tanyanya seolah memastikan diriku baik-baik saja.
"Yes, I'm okay. Thank you so much." Jawabku pada makhluk mungil itu.
Aku memeluknya erat. Ah, Flying Mint Bunny kali ini menyelamatkanku. Mungkin inilah alasannya tadi pagi menubrukku. Makhluk ini mau memperingatkanku mengenai masalah ini. Ya, roh seperti wujudku sekarang memang tidak bisa dilihat dengan mata biasa maupun mata batin normal.
Tunggu dulu. Kalau seorang yang menyamar sebagai Ayah itu sudah tahu informasi ini, artinya... TIDAK. Aku harus memperingatkan Arthur secepatnya. Aku harus kembali ke tubuhku sekarang juga.
"Flying Mint Bunny, kau bisa membantuku kembali?" Tanyaku lembut pada makhluk manis ini.
"Puu." Ucapnya pasti sambil mengangguk tegas.
Flying Mint Bunny pun membukakan pintu dimensi yang terhubung dengan ruang OSIS. Oh, sial. Aku melihat Kiku sedang marah-marah seperti kesetanan pada Arthur. Seingatku, Kiku itu tidak bisa marah. Ya, benar. Seorang Kiku Honda TIDAK PERNAH dan TIDAK BISA MARAH. Tapi, kali ini dia marah besar sampai wajahnya memerah dengan katana yang siap menebas leher si alis ulat bulu. Ada apa ini sebenarnya?
Kiku berlari keluar dengan sangat cepat sambil mengumpat. Arthur mengembuskan napas lega. Tentu saja dia merasa lega. Siapa juga yang tidak akan merasa lega jika lehermu yang hampir tertebas katana bebas begitu saja. Apalagi itu adalah katana dari seorang Kiku Honda.
Tunggu, ada yang aneh di ruangan ini. Hey, dimana tubuhku? Bukankah seharusnya dalam pengawasan bule menyebalkan ini? Arthur Kirkland, tunggu ajalmu jika sampai tubuhku kenapa-napa.
"Flying Mint Bunny, bisa tolong aku mencari dimana tubuhku? Sepertinya tuan muda satu ini melupakan untuk membuatnya tetap ada disini." Kataku pada makhluk menggemaskan disampingku.
"Puu... Puu..." Kata Flying Mint Bunny menunjuk ke arah sofa.
Aku tak melihat apapun diatas sofa yang ditunjuk Flying Mint Bunny. Apa makhluk ini kompak dengan tuannya untuk mengerjaiku? Tak lama, Arthur menjentikkan jarinya dan tubuhku muncul diatas sofa. Ah, begitu rupanya. Ternyata bule alis tebal ini juga bisa menggunakan sihir untuk menyembunyikan sesuatu.
Arthur mendekati tubuhku dan memeriksa denyut nadiku. Sepertinya dia sudah sadar jika jantungku tak berdetak. Apa?! Apa yang akan dia lakukan? Aku melihat dia sedang menelusuri tulang rusuku dan berhenti di pertemuan kedua rusuk, dia sedang mencari titik kompresi. Aku merasakan firasat buruk mengenai pergerakannya.
Personifikasi Britania Raya itu akan melakukan CPR padaku. Sial, aku masih hidup bodoh! Aku menggunakan sihirku untuk mencegahnya melakukan CPR. Jika sampai tulang rusukku turun karena CPR alias resusitasi jantung-paru, sementara jantungku seharusnya masih berdetak, itu akan membuatku mengalami kerusakan rusuk. Apalagi dia terlihat tidak ahli dalam hal itu. Dan yang lebih penting, aku tak mau ada lelaki yang menyentuhku. Apalagi sampai memberikan napas buatan. Tidak, tidak akan pernah mau!
Arthur melepaskan tangannya dari tubuhku karena terasa seperti terkejut listrik. Hahaha... rasakan! Aku memberi kode pada Flying Mint Bunny untuk membantuku segera kembali ke tubuhku sebelum bule alis tebal ini kembali menyentuhku.
Aku membuka mataku dan sialnya wajah Arthur dekat sekali denganku. Agh, terlalu dekat... aku merasakan wajahku merah sempurna.
"Kau... syukurlah!" Kata Arthur lega.
"Art... Arthur. Ter-lalu de-kat..." Kataku terbata karena wajah Arthur justru tinggal beberapa centi dari wajahku.
"Maaf."
"Hh, dasar bule menyebalkan. Untung saja aku masuk tepat waktu." Keluhku.
"Masuk tepat waktu? Maksudnya?" Tanya Arthur tak mengerti.
"Kau tak akan mengerti. Kau tidak pernah menguasai ilmu nenek moyangku. Tunggu sebentar, ilmu nenek moyangku... seharusnya hanya keturunan dari penguasa Nusantara yang bisa... jika orang itu bisa juga bahkan sampai menyamar, artinya ada ilmu sejenis yang lebih hebat. ASTAGA! INI GAWAT." Seruku nyaring.
Arthur menutup telinganya saking kencangnya teriakanku. Aku langsung bersiap memulihkan tenagaku dan mencoba menghubungi Ayah. Kali ini aku mencoba menghubunginya via telepon dengan menggunakan ponselku. Aku harap kali ini Ayah tahu mengenai ilmu yang serupa dengan raga sukma.
—OOOoooOOO—
ARTHUR POV
Gadis ini selalu punya kejutan. Mendengarnya yang mengkhawatirkan diriku membuatku merasa sangat senang. Senang? Kenapa? Entahlah. Gadis ini selain mengetahui hal-hal yang tidak aku ketahui, dia juga punya daya tarik lain yang membuatku tak bisa lepas darinya. Mungkin karena sihirnya yang unik.
Eliza tak jua kembali dari mencari barang untuk membantuku menyadarkan personifikasi Indonesia ini. Hh... aku hanya bisa menghela napas berat memandangi gadis yang sedang pingsan di hadapanku. Lebam di pipinya sudah aku kompres menggunakan es batu agar tak semakin memburuk.
Sebaiknya aku kembali menghubungi si kodok jelek itu. Aku harus menjelaskan secara lebih detail agar makhluk jahannam itu tak mengacaukannya. Aku ingat sekali terakhir dia mengacaukan konsepku yang sudah aku buat sempurna dengan alasan aku tak memberinya detail konsepku. Padahal itu tertulis jelas. Dia itu tidak bisa mengikuti kemauanku jika tidak mendapat ancaman secara lisan.
"Maaf tadi ada sedikit masalah. Aku lanjutkan. Jadi konsep yang aku jelaskan sebelumnya, jangan pernah kau ganti. Kau hanya mengawasi kerja dari anggota OSIS yang lain dan memberi tahu keadaan terbaru padaku." Kataku kembali ke kursiku dan menelepon kodok jelek itu.
"Jangan begitu, Arthie. Bagaimanapun, aku kan juga pernah ada di posisimu sekarang. Aku cukup tahu diri untuk masalah ini. Festival ini kan acara kebanggaan kita. Ngomong-ngomong kau tak menambah perlombaan baru dari tahun kemarin? Bukankah sudah tradisi setiap ketua OSIS mengadakan satu lomba baru khas milik dia." Kata Francis tumben sekali bijak.
"Ada, tapi belum aku putuskan. Aku ingin memilih yang sempurna untuk festival nanti." Kataku.
Dan obrolan pun berlanjut dengan mekanisme festival yang aku inginkan. Disaat seperti ini saja manusia itu bersikap normal. Well, aku tahu makhluk itu tak pernah masuk kelas saat seperti ini. Dia masuk hanya kalau menjelang dan ada ujian saja. Maka dari itu aku tak pernah canggung mengganggunya.
Aku lihat Eliza kembali membawa berbagai aroma terapi. Dia mencoba membangunkan Nesia yang masih pingsan. Aku tak melihat lagi apa yang dilakukannya. Setelah itu aku terus berbincang mengenai masalah festival yang aku serahkan kepemimpinannya pada si kodok Perancis itu.
Earl Grey yang sebelumnya aku sediakan sudah tidak nikmat lagi. Sudah terlalu dingin. Aku segera bangkit dan membuat teh yang baru setelah menggunakan earphone wireless sambil terus menelepon Francis. Aku bingung karena tak ada lagi suara gaduh yang dibuat oleh Eliza yang sedang mencoba menyadarkan Nesia.
Aku menoleh dan tidak mendapati satu-satunya petinggi OSIS yang perempuan itu di dekat Nesia. Aku tak terlalu peduli dan kembali menyeduh teh nikmatku. Setelah itu, aku kembali ke mejaku dan membuka catatan untuk festival nanti.
"Ya kalau bisa katakan pada mereka untuk mencarinya. World War II itu tema yang sangat keren tahu." Kataku saat Fancis bilang jika akan sulit menemukan salah satu properti yang aku minta.
"Tapi ini pulau terpencil Arthieeee... tak semuanya tersedia begitu saja disini," Kata kodok Perancis itu tak mau kalah.
"Oh, ayolah! Kau pikir apa gunanya aku membentuk tim kreatif dan properti kemarin? Tentu saja mereka yang harus bertanggung jawab atas barang-barang itu. Jika tidak tersedia yang sudah jadi, mereka kan tinggal membuatnya dari bahan yang tersedia. Manfaatkanlah toko kain di asrama." Kataku masih bersikeras pada pendirianku.
"Baiklah, aku menyerah. Nanti akan aku sampaikan pada rapat selanjutnya. Lalu, untuk sistem penilaiannya masih sama dengan tahun lalu?" Tanya Francis.
"Aku ingin mengubahnya sedikit. Well, spice is the important things in this war. Point yang didapat nanti akan bergantung pada jenis spice yang mereka menangkan. Tentu mereka harus menerka sendiri harga spice tertinggi pada masa itu." Jawabku penuh percaya diri.
"Jadi, kau akan merahasiakan spice jenis apa yang merupakan point tertinggi?"
"Ya, benar sekali. Ini akan menjadi sangat seru." Kataku dengan aura jahat yang menguar.
"Honhonhon... benar. Apalagi jika spice yang dimenangkan akan diacak tak sesuai urutan pemenang lomba." Kata Francis dengan kejamnya menyetujui ide brilliant milikku.
"Ah, tapi kita harus merahasiakan ini dari semuanya. Jangan sampai mereka mendapatkan daftar point itu." Kataku setelah aura jahatku mereda sambil menikmati secangkir Earl Grey.
"Aku setuju. Ini akan jadi kejutan yang bagus."
"Well, sebenarnya aku lebih mengharapkan ide brilliant seperti ini juga keluar dari para anggotaku yang lain. Tapi, sepertinya mereka tak memiliki ide sepertiku." Kataku sedikit kecewa.
"Kau hanya kurang memancingnya saja, Iggy." Kata Francis menirukan gaya bicara Alfred.
"Come on. Please stop calling me by those name! It's really disgusting to hear, Git!" Kataku mengumpat cara kodok jelek itu memanggil namaku.
"Ada lagi yang perlu dibahas?"
"Aku rasa cukup untuk saat ini. Aku masih harus membereskan hal lain. Lagi pula, telingaku harus beristirahat dari mendengar suaramu hampir 3 jam tanpa jeda seperti ini." Kataku mengeluh dan langsung memutuskan sambungan dengan si kodok itu.
Ada yang aneh. Gadis itu tak jua terbangun dari pingsannya dan semua terlihat berantakan di meja tamu depan sofa. Sepertinya Eliza tak jua kembali. Ada apa ini? Aku membaca note yang Eliza berikan diatas meja.
'Kaicho, aku pergi mencari ambu bag dan alat kejut jantung. Aku yakin Perawat Flor tak membawanya pergi.'
Apa?! Ambu bag dan alat kejut jantung?! Tunggu sebentar. Apa Nesia...? Aku segera memerika respon dasar. Benar, dia tidak bernapas. Aku segera memeriksa nadinya. Astaga! Aku juga tak menemukan denyut nadinya. Bagaimana ini? Apa jantung Nesia sudah berhenti berdetak sejak tadi? Tapi, kondisinya tak terlihat seperti mayat. Tubuhnya masih hangat dan kulitnya tidak pucat. Pupilnya juga tak terlihat seperti sudah mati. Aku harus memberinya bantuan hidup dasar.
Baru saja aku hendak mencari titik kompresi diantara tulang rusuk, Kiku masuk ke dalam dengan panik. Aku yang terkejut langsung menggunakan sihir untuk menyembunyikan barang, yaitu menyembunyikan Nesia dan kekacauan diatas meja.
"Kaicho, dimana Nesia?" Tanya Kiku panik.
"Nesia... dia... sedang ke asrama. Iya sedang ke asrama!" Kataku tergagap lantaran melihat katana di tangan kanan Kiku sementara tangan yang lainnya menggenggam erat selembar kertas.
"Jangan berdusta! Aku baru dari asrama dan aku tak melihat Nesia." Kata Kiku membentakku. Aku terkejut tentu saja. Setahuku, seorang Kiku Honda adalah personifikasi yang sama sekali tidak bisa marah.
"Mungkin dia sedang berpatroli. Aku dan dia sedang bagi tugas," Dustaku kembali. Ah, alasanku sangat tidak masuk akal.
"Jangan pernah berbohong padaku! Kalau sampai Nesia tertangkap oleh musuh, kepalamu yang pertama kali hilang oleh katana ini." Kata Kiku benar-benar antara marah dan panik. Okay, kali ini aku ikutan panik karena katananya mengacung pada leherku.
"Aku jamin Nesia tidak tertangkap oleh musuh. Dia hanya sedang tidak berada disini." Kataku setengah jujur.
"DIMANA NESIA SEKARANG?!" Tanya Kiku lagi.
"Aku tak tahu dimana dia tepatnya sekarang. Memang ada apa?" Kataku penasaran.
"Kau tak akan pernah mengerti! Lebih baik aku mencarinya sebelum mereka menangkap Nesia." Kata Kiku lalu melesat pergi.
Aku mengembuskan napas lega. Aku tak tahu setan mana yang merasuki anggota kepercayaanku itu. Aku pun baru tahu jika isu Nesia begitu sensitif baginya. Aku akan berhati-hati lain kali. Tapi, aku masih penasaran. Apa yang membuat seorang Kiku Honda begitu panik? Personifikasi yang memiliki tingkat pengendalian diri dan ketenangan yang sempurna, panik sampai keluar dari karakternya yang biasa.
Setelah itu, aku kembali ke masalah Nesia yang jantungnya tak berdetak. Aku menjentikkan jariku untuk menghilangkan sihir penyembunyi dan segera menghampiri Nesia. Aku akan melakukan CPR padanya. Aku mencari lagi titik kompresi diantara dua tulang rusuk dan bersiap menekannya untuk memberi kejutan listrik.
Agh, sial! Ada yang menyetrum tanganku. Rasanya tanganku seperti terkena aliran listrik kecil yang cukup menyakitkan. Tak lama, Nesia membuka kedua matanya dan bangun. Aku memperhatikan wajahnya lekat dan wajahnya memerah.
"Kau... syukurlah!" Kataku tertunduk lega.
"Art... Arthur. Ter-lalu de-kat..." Kata Nesia terbata karena wajahku justru tinggal beberapa centi dari wajahnya.
"Maaf." Aku cepat-cepat menyingkir.
"Hh, dasar bule menyebalkan. Untung saja aku masuk tepat waktu." Keluh Nesia.
"Masuk tepat waktu? Maksudnya?" Tanyaku tak mengerti.
"Kau tak akan mengerti. Kau tidak pernah menguasai ilmu nenek moyangku. Tunggu sebentar, ilmu nenek moyangku... seharusnya hanya keturunan dari penguasa Nusantara yang bisa... jika orang itu bisa juga bahkan sampai menyamar, artinya ada ilmu sejenis yang lebih hebat. ASTAGA! INI GAWAT." Seru Nesia nyaring. Setelah bergumam tak jelas, sekarang dia berteriak di depan wajahku. Benar-benar perempuan aneh. Aku sampai harus menutup telingaku karena teriakannya yang menyakitkan.
Nesia bangkit dan menelepon seseorang dengan paniknya. Aku jadi semakin bingung dengan keadaan ini. Apa hanya aku yang tak mengerti apapun disini?
"Puu." Seru Flying Mint Bunny mengejutkanku.
"Kau disini juga? Apa kau tahu apa maksud semua ini?" Tayaku lirih karena tak mengerti dengan keadaan ini.
"Puu." Angguk Flying Mint Bunny pasti.
Aku segera menggunakan sihir perentas memori pada Flying Mint Bunny untuk mencari memori yang ingin aku tahu. Terlihat sekelebat memori pagi ini, tapi ada yang berbeda dengan apa yang aku lihat. Aku melihat ada seseorang sedang tersenyum sinis. Aneh, padahal aku tak melihat seorangpun pagi itu. Lalu, memori itu berganti dengan bayangan Nesia di sebuah tempat yang aku ketahui sebagai celah antardimensi, aku tahu karena pernah pergi kesana saat aku masih sangat kecil, dengan seseorang yang hendak menyerangnya dan dia diselamatkan dengan cara ditarik ke dimensi lain.
Ah, sepertinya aku sedikit mengerti tentang keadaan ini. Nesia bisa melepaskan rohnya dari raganya tanpa membuatnya mati dan pergi ke suatu tempat. Tapi, karena satu dan lain hal, dia diserang oleh musuh di celah antardimensi dan diselamatkan oleh kelinci menggemaskan ini. Roh Nesia masuk lagi ke tubuhnya sekarang dan dia panik karena ada orang lain yang bisa menggunakan ilmu serupa ilmu sihirnya. Well, aku mengerti kekhawatirannya karena aku memang pernah membaca jika roh orang yang masih hidup tidak bisa dilihat oleh orang biasa maupun mata batin normal seperti milikku.
Aku mengelus lembut Flying Mint Bunny dengan sayang. Dia telah menyelamatkan Nesia. Aku juga jadi tahu mengapa dia panik tadi pagi. Gadis ini memang punya sesuatu. Aku melirik Nesia sekilas. Dia masih panik karena teleponnya tak juga tersambung.
Ngomong-ngomong soal panik, tadi Kiku panik kenapa mencari Nesia? Nesia hampir membanting ponselnya ketika aku hendak berbicara kembali dengannya jika saja aku tak menahan tangannya. Dia sudah gila ini.
"Hei, Nesia. Kau sudah gila, ya mau membanting ponselmu sendiri? Kalau kesal jangan lampiaskan pada ponsel. Dia satu-satunya benda yang menghubungkan kita dengan dunia luar tahu!" katak sambil menahan tangan Nesia.
"Iya, aku tahu! Habisnya Ayah tak menjawab teleponku. Aku jadi khawatir. Selain itu, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada Ayah." Kata Nesia sambil mengerucutkan bibir dengan lucunya.
"Maksudmu tentang ilmu sihir yang seperti milikmu yang bisa melepaskan roh dari raga? Rasanya aku pernah baca di perpustakaan keluarga yang bukunya milik nenek moyangku dulu. Aku malah baru tahu jika ilmu itu milik keluargamu." Kataku.
"Sungguh? Lalu, buku itu dimana?" Tanya Nesia besemangat.
"Tentu saja masih ada di perpustakaan milik keluargaku di Inggris. Kalau kau mau, nanti aku minta pada adik bungsuku untuk mengambilkannya dan scan isinya untuk dikirim via email padaku." Kataku santai.
"Ya tentu aku mau, itu salah satu kunci pemecahan masalah ini. Musuh kita bahkan sudah mengetahui latar belakang kita dengan detail. Tadi saja dia menyamar sebagai ayahku." Kata Nesia menerangkan semuanya.
Ini benar-benar gawat. Dia bahkan sudah mengetahui informasi mengenai Nesia yang bahkan tidak aku ketahui. Aku semakin mencurigai kakek busuk itu. Tapi, saat kejadian itu, Kiku sedang mengawasinya dengan ketat. Masalah ini semakin rumit saja.
"Oh, iya. Tadi aku lihat Kiku marah-marah padamu. Apa yang terjadi?" Tanya Nesia penasaran.
"Aku juga bingung. Dia tahu-tahu masuk ke dalam dan mencarimu seperti kerasukan." Jawabku jujur.
"Ada apa, ya? Kita harus segera mencarinya. Perasaanku tak enak." Kata Nesia sambil menarikku keluar dari ruang OSIS.
Kami terus berlari mengelilingi gedung sekolah. Sayangnya, Kiku tak kami temukan dimanapun. Kemana anak itu? Kami masih terus berlari dan berlari. Tunggu dulu! Aku menarik tangan Nesia untuk berhenti. Rasanya aku melihat ada seseorang di area gedung lama.
"KIKU AWAS!" Teriak Nesia tepat di telingaku. Sialan, gadis ini memang berniat membuatku tuli diusia muda!
Aku melihat lagi ada cahaya kebiruan yang datang menuju area gedung lama. Aku segera membuat segel untuk kekai. Gawat, jaraknya terlalu jauh dan tenagaku jadi tak stabil karena sembari berlari mendekat ke halaman gedung lama.
"Kai!" Terdengar bisikan seseorang yang menghancurkan segelku di dekat gedung kelas X.
Konsentrasiku hancur dan aku segera menoleh mencari sumber suara itu. Nesia masih terus berlari, sementara aku mencari orang yang menghancurkan segelku. Aku menemukan siluet bayangan seseorang di area Ludwig diserang. Aku segera mengejarnya yang berlari menghindar. Aku yakin saat melihat posturnya, dia laki-laki.
Bloody Hell! Dia hilang begitu saja. Aku masih terus mencari di sekitar tempatnya hilang. Tak ada satupun jejak kaki yang terlihat. Aneh, aku yakin sekali arahnya dari situ dan taka da tempat untuk bersembunyi lebih jauh dari tempat ini. Apa mungkin... Ah, tidak mungkin. Mataku yang melihatnya sendiri. Tidak mungkin sosok itu berupa roh. Tapi, kalau berupa makhluk astral, mungkin aku bisa melihatnya. Tunggu, makhluk astral...
Benar juga, ada ilmu sihir untuk merubah wujud sesosok makhluk itu menyerupai manusia. Bisa saja dia diubah untuk memfitnah seseorang. Atau, mungkin juga dia diubah untuk mewakili sosoknya yang tidak bisa berada di banyak tempat sekaligus dalam satu waktu. Teka-teki ini semakin rumit saja.
"KIKU!" Suara Nesia menggema ke seluruh area.
Aku menoleh dan mendapati Kiku yang tergeletak karena terkena serangan sihir. Sial, orang ini tahu jika Kiku tidak mempan diserang dengan serangan fisik normal. Kiku memiliki kecepatan yang tidak biasa untuk ukuran manusia normal dan ketahanan stamina yang sangat luar biasa. Percuma menyerangnya dengan serangan fisik karena dia bahkan bisa mendengar langkah kaki serangga yang ada di ruang sebelah. Dia adalah banteng hidup paling sempurna untuk serangan fisik.
Segera aku berlari lurus menuju tempat Nesia berada. Kiku sudah tak sadarkan diri ketika aku berlari mendekat. Aku segera membuat segel kekai kembali. Aku melindungi Kiku dengan kekai paling kuat yang aku punya.
"Nesia menjauh jika tenagamu belum pulih." Perintahku sembari berlari mendekat.
"Tidak! Biarkan aku membantumu." Tolak Nesia mentah-mentah. Gadis ini sungguh keras kepala.
Kekaiku jadi tidak stabil karena serangan yang datang bertubi-tubi. Aku tidak boleh kalah. Tidak boleh, aku sama sekali tidak boleh kalah. Aku tidak boleh kehilangan kaki tanganku, ralat temanku, lagi. Benar-benar musuh kali ini mengujiku sampai titik kesabaran terakhirku.
Oh, bloody hell! Kali ini dia membelokkan serangannya padaku. Aku harus memastikan tak akan ada serangan yang mengenai kami. Serangan yang datang semakin kuat dan gencar. Sial! Ini menyebalkan.
"Nes, pergi sekarang juga! Biar Kiku aku yang urus. Pergi sekarang juga!" Teriakku karena Nesia juga mulai terkena serangan, untung saja refleksku bagus sehingga bisa menahannya.
"Tidak akan pernah. Kau tahan saja serangannya. Aku akan membawa Kiku keluar dari situasi disini." Kata Nesia benar-benar keras kepala.
"Kirana Kusnapharani! Jangan membantahku kali ini. Kau bisa terbunuh kalau terus berada disini. Aku tak bisa melindungi 3 orang sekaligus seperti ini." Kataku menarik Nesia mundur ke belakangku.
"Tuan Arthur Kirkland yang terhormat, aku tak pernah memintamu melindungiku. Sahabatku dalam bahaya dan aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Sekarang biarkan aku menolongnya dan berikan akses untukku masuk ke dalam kekaimu." Kata Nesia sambil menyentak tanganku.
"Kau tahu kalau memberikan akses buat seseorang sama dengan melemahkan kekai sementara. Dengan serangan yang berspektrum kuning seperti ini, akan sangat berbahaya untuk Kiku. Kekuatanku tidak akan sanggup menghalau semuanya sendirian." Kataku setengah berteriak pada Nesia.
"Maka dari itu, kau halau serangannya dan berikan aku akses kedalam. Kau tak perlu melindungiku, lindungi saja Kiku dan dirimu sendiri, Arthur. Tenagaku sudah pulih 60% jadi kau tak perlu pedulikan aku." Nesia tetap berpegang teguh pada kata-katanya.
"Dasar keras kepala! Baiklah, lakukan sesukamu." Kataku akhirnya mengalah.
Aku segera memberikan akses pada Nesia untuk masuk dan keluar dari kekai bersama Kiku. Serangan ini sepertinya dikendalikan dari jarak dekat. Terbukti dari arah serangannya yang sekarang menuju Nesia dan Kiku.
Bloody hell! God, please safe them!
Serangan dengan spectrum sugar cookie datang tepat saat Nesia dan Kiku sudah keluar dari kekai. Ini buruk! Aku tidak yakin bisa menahannya seperti sebelum ini. Tenagaku sudah berkurang drastis. Kalau begini, mereka dalam bahaya. Aku segera berlari menuju Nesia yang sedang susah payah memapah Kiku dengan tubuh mungilnya. Aku segera merundukkan mereka dan membungkusnya dengan tubuhku. Biar saja aku menjadi tameng hidup untuk keduanya.
Punggungku terasa seperti tertimpa batu ribuan ton. Aku semakin mendekap kedua manusia yang sedang terluka ini dengan erat. Kesadaranku kian menipis dan tubuhku terasa mulai hancur. Sebelum semuanya benar-benar gelap, aku sempat mendengar suara lirih entah milik siapa yang berkata, "―jatuh ke dalam perangkap –".
Sebuah kehangatan menjalari tubuhku. Rasa sakit yang tidak aku rasakan tadi terasa semakin nyata seiring dengan datangnya cahaya yang mengembalikan kesadaranku. Aroma khas yang sering aku cium semakin menguatkan kesadaranku. Aku tersadar dan menatap langit-langit yang tak asing lagi denganku. Ini kamarku di asrama. Kenapa aku bisa disini? Aku pun mencoba untuk bangkit dan duduk walau rasanya seperti membelah tubuhku menjadi 2 bagian.
Aku melihat sekelilingku. Ada Alfred yang tertidur di sofa bersama dengan senior Roderich Edelstein alias suami si Hungary itu. Lalu, aku melihat si kodok jelek yang tertidur dalam keadaan duduk disampingku bersama dengan Vlad. Ada apa ini?
Senior Roderich Edelstein terbangun dan mendapati aku telah tersadar. Dia segera membangunkan Vlad dan yang lain. Tapi dasar tukang tidur, hanya Vlad saja yang terbangun. Si kodok mantan ketua OSIS dan wakilku itu tetap tertidur pulas.
"Arthur, apa kau masih merasa sakit?" Tanya Vlad terlihat khawatir.
"Aku hanya merasa seperti terbelah menjadi dua." Kataku sambil meringis karena sedikit gerakan saja membuatku merasakan sakit yang teramat sangat.
"Wajar saja kalau kau merasa seperti itu. Pengaruh serangan sihir itu menembus hingga organ dalammu. Butuh waktu bagiku untuk memulihkannya hingga tahap itu. Kau benar-benar nekat." Kata Vlad mengomel panjang lebar.
"Bagaimana dengan Kiku?" Tanyaku penasaran.
"Kiku? Kiku Honda?" Kata senior Roderich dan Vlad saling menatap tak mengerti.
"Iya, dia kan juga terluka." Jelasku.
"Saat kami menemukanmu, tidak ada Kiku disana. Hanya dirimu yang sedang memeluk gadis Asia Tenggara itu dengan erat dengan tubuh yang sudah benar-benar mengenaskan." Kata senior Roderich membuatku tercengang.
"Tidak mungkin! Kiku harusnya ada disana. Nesia memapahnya dan aku melindungi mereka berdua dengan erat. Tidak mungkin hanya ada aku dan Nesia." Kataku terkejut.
"Tapi itu kenyataannya Arthur. Saat aku dan Eliza datang karena melihat cahaya menyilaukan dari area gedung lama saat kami akan kembali ke ruang OSIS setelah mendapatkan alat pacu jantung dan ambu bag dari gudang persediaan obat dan alat kesehatan, hanya ada kau dan gadis itu. Kemudian Vlad dan Francis datang menyusul untuk membantuku membawa kalian ke ruang kesehatan. Tapi karena hingga pukul 5 sore kalian tak kunjung sadar, kami memutuskan untuk membawa kalian ke asrama." Jelas senior Roderich.
"Dan aku menemukan kertas ini di dalam sakumu." Kata Vlad memberikan secarik kertas lusuh.
Aku membaca isi kertas tersebut. 'Aku menantangmu untuk mengagalkanku mengambil kembali penguasa tertinggi. Personifikasi dari Asia yang manis, itu adalah ciri-cirinya. Kalau kali ini kalian gagal, kalian tak akan pernah bertemu lagi dengannya.' Begitulah isinya.
Bloody hell! Sepertinya kertas ini yang membuat Kiku panik mencari Nesia tadi. Pantas dia panik seperti tadi. Aku sendiri pasti akan mengira itu Nesia. Tunggu, kenapa harus Nesia? Disini hanya dikatakan personifikasi dari Asia yang manis. Bukankah banyak personifikasi dari wilayah Asia. Dan manis itu relatif, tergantung yang berbicara. Jangan-jangan yang dimaksud adalah Kiku sendiri. Bodoh, seharusnya dia bicarakan masalah ini denganku saat itu!
"Lalu, dimana Nesia sekarang?" Tanyaku penasaran.
"Dia aman bersama istriku dan adiknya." Jawab senior Roderich.
"Vlad, aku titip dia untuk sementara, sampai aku bisa bergerak bebas. Pelaku penyerangan ini mengincar personifikasi Asia. Dia sudah mengambil Kiku, tapi tidak ada jaminan Nesia tidak terancam. Dalam surat tantangan ini, dia tidak menyebutkan berapa personifikasi yang diincarnya. Aku pikir dia mengincar tidak secara acak. Dia mengincar orang-orang yang mengetahui masalah ini." Kataku memaparkan analisisku.
"Lalu, apa artinya aku juga terancam?"
"Sepertinya, ya. Semua yang mengetahui masalah ini terancam. Dewan Keamanan, Para pemegang platina, Magic Club, dan Francis. Peringatkan Ludwig dan Lukas tentang hal ini. Aku akan mencoba menggunakan sihir milik nenek moyangku untuk memulihkan diriku seharian besok. Aku harap ini akan berjalan baik karena aku belum menguasainya dengan baik." Kataku lalu beranjak tidur.
Aku harap tak akan ada masalah seharian besok. Semoga semua ini hanya mimpi buruk yang akan berakhir saat aku membuka mata besok. Maafkan aku Kiku, aku seharusnya bisa memprediksi ini lebih cepat. Aku harap mereka tidak membuat nyawamu terancam. Dan jika sampai dia membahayakan mereka semua, aku bersumpah akan membunuhnya saat itu juga. Aku akan mengorbankan segalanya termasuk nyawaku untuk melindungi seluruh personifikasi disini.
—OOOoooOOO—
Author's Note:
Hai hai. Rizu kembali! Sebelumnya Rizu bener-bener mau minta maaf soalnya Rizu kan baru jadi mahasiswa baru, jadi masih belum bisa mengatur waktu. *pamer*PLAKK/digampar readers*
Disini info mengenai CPR dan kawan-kawannya ada yang Rizu dapet dari pengalaman Rizu waktu di PMR dulu dikasih tau kakak kelas dan ada juga yang dari mbah gugel. Jadi, kalo sekiranya terlihat ga valid, maapkeun...
Maap banget ya kalo lama banget update nya. Rizu bukan tipe orang yang bisa sambil disambi soalnya kalo ngetik. Kalo disambi suka mampet idenya dan alurnya jadi ga nyambung. Ini aja hasilnya banyak banget yang kudu diperbaiki lagi. Makasih buat yang uda mau sabar nungguin update-an nya Rizu. Makasih banget banget banget buat yang uda FOLLOW, FAVORITE, sama REVIEW. Tetep dukung Rizu yaaa… *kissuuu*
