Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Under The Spot Light

.

.

Chapter 12

Mencoba Melupakan

.

.

.

"Aku ha…mil?" Yamanaka Ino tertunduk lesu di ranjang rumah sakit, Dia mencoba menerima berita yang baru saja dia dengar. Tentu saja ada kemungkinan dia bisa hamil karena beberapa kali dia lupa minum pil-nya tapi dia tidak mengira ternyata benar-benar terjadi. Dia terlalu ceroboh tapi ini bukan salah dia seorang.

"Ino, Apapun keputusanmu kami akan mendukungmu" Inoichi merasa saat Ini yang dibutuhkan anak gadisnya adalah dukungan. Tentu dia marah dan kecewa putrinya hamil di luar nikah tapi Ino bukan lagi seorang remaja yang sedang mencari jati diri. Dia adalah wanita mapan dan dewasa yang mampu bertanggung jawab secara emosional terhadap pilihan hidupnya. Dia geram pada pria yang menghamili putrinya tapi Inoichi tidak bisa serta merta menyalahkan Sai karena putrinya juga punya andil yang sama. Yang dia sesalkan hanya mengapa mereka tidak lagi bersama bila mereka menikah tentu saja reputasi Ino masih terselamatkan. Inoichi berpikir mungkin dia bisa memaksa Sai bertanggung jawab dan menikahi putrinya.

"Ayah…Ibu… Maaf bila aku mengecewakan kalian. Tapi aku akan membesarkan anak ini" Ino tidak berpikir panjang untuk membuat keputusan karena dia tidak akan mau membunuh darah dagingnya sendiri. Meskipun dia merasa belum siap menjadi seorang ibu tapi seorang bayi sudah berada di rahimnya dan sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dia akan melakukan tugasnya tidak perduli apa pendapat orang lain.

Sang ibu menatap putrinya dengan lembut "Kau akan menjadi seorang Ibu yang baik Ino dan kami akan selalu membantumu. Ibu dan ayah senang punya cucu tentu saja akan lebih baik bila kau menikah tapi kami tidak akan pernah memaksamu melakukan hal yang tidak kau inginkan"

"Lalu kapan kau akan memberitahu Sai Shimura? Pria itu harus bertanggung jawab. Bila dia tidak mau ayah akan memaksanya" Inoichi merencanakan untuk mencari pria itu secepatnya. Instingnya mengatakan pria yang pernah menjadi tunangan putrinya itu bukan orang brengsek. Dia yakin Sai akan bertanggung jawab tanpa paksaan.

"Aku tidak akan memberitahu Sai. Aku tidak ingin melibatkan dia dalam hidupku lagi ayah. Apapun hubungan yang pernah kami punya sudah berakhir" Sai memintanya pergi dan Ino tidak akan kembali bila pria itu tidak datang sendiri kepadanya. Ino bukan pengemis cinta. Bila pria itu merasa membutuhkannya dia akan mencari Ino.

"Ayah tidak mengerti, Meskipun kau tidak menginginkan pria itu dalam hidupmu tapi Sai berhak tahu kalau dia telah menjadi seorang ayah dan membiarkannya membuat pilihan. Mungkin saja dia ingin terlibat membesarkan bayi itu. Itu sungguh tidak adil Ino kau bahkan tidak memberikan dia kesempatan" tiba-tiba Inoichi membela Sai.

Ino mencengkram selimut dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih "Sai tidak menginginkan ku ayah. Dia yang memintaku pergi mengapa kau berpikir pria itu akan berminat pada anak ini. Anak ini adalah miliku seorang dia tidak perlu mengenal ayahnya"

Sampai hari ini pun Ino masih merasakan sakitnya mengucapkan selamat tinggal atas kebersamaan mereka yang singkat. Air mata jatuh membasahi pipi wanita itu. Dia tidak suka menangis tapi semenjak dia meningalkan Sai di hotel itu dia jadi sering menangis. Cintanya yang kandas itu menyakitkan dan dia tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia karena sekarang dia memiliki sesuatu yang akan selalu mengingatkanya pada Sai Shimura selamanya.

.

.

Di sisi lain rumah sakit, Kakashi Hatake memantau kondisi anak buahnya yang terluka parah. Oprasi baru saja selesai dan Sai yang masih tak sadarkan diri dirawat di ruang ICU. Ini hari yang sangat traumatis bagi semua orang di konoha. Terlalu banyak terror dan kematian dan tidak banyak informasi yang bisa dia kumpulkan bahkan dengan kemampuannya yang luar biasa dia tidak lagi bisa memprediksi apa yang akan direncanakan musuh. Apa yang bisa dia lakukan untuk menghentikan kegilaan kelompok Akatsuki yang kian lama kian memakan korban. Pria itu mengusap wajahnya yang lelah

Sosok pria berambut panjang dengan wajah serupa Sasuke menghampiri Kakashi. Raut wajahnya tak kalah letih dari sang pimpinan. Dia khawatir bila saat ini semua anggota Akatsuki sudah tau kalau dia mengkhianati organisasi. Mungkin mereka akan segera mengerahkan orang untuk memburunya.

"Aku minta maaf, Aku terpaksa harus menembak Sai"

"Aku mengerti Itachi, Bila kau tidak menembaknya pasti Sai sudah mati. Hidan akan langsung menghabisinya, Aku harus berterima kasih padamu karena usahamu kami berhasil menangkap kakuzu dan Hidan. Aku berharap Morino bisa mendapatkan informasi penting dari mereka. Mengapa kau tiba-tiba datang dan mengkianati Akatsuki terang-terangan begini?"

"Aku terpaksa kembali tanpa menyelesaikan misi, karena sepertinya Tobi sudah tahu aku memata-matai mereka. Dia merahasiakan banyak hal dariku"

"Karena itu kau tidak memberi peringatan soal serangan bom Deidara dan Sasori?"

"Benar dan masih banyak lagi rahasia yang tidak bisa aku dapat meskipun aku berhasil menjadi orang penting di organisasi,tapi satu hal yang pasti kita harus bisa menghentikan Tobi. Dialah dalang utama dan penyebar propaganda semua terror ini"

"Bagaimana kita bisa menyerang balik Akatsuki?, Kau yang anggota Akatsuki saja tidak tahu banyak"

"Entahlah, Aku pikir salah satu cara untuk mengurangi kekuatan mereka adalah dengan menghancurkan markas mereka, Walau anggota mereka tersebar dimana-mana tapi logistik dan persenjataan serta tempat latihan berada dimarkas. Dan penting juga untuk bisa melacak dan menyetop aliran keuangan mereka tanpa uang mereka tidak akan bisa mendanai aksi-aksi nya"

"Kalau begitu kita akan adakan rapat dengan pemerintah dan militer untuk membahas ini, Ngomong-ngomong Itachi kau sudah tahu soal Sasuke?, Dia bergabung dengan Akatsuki dan membunuh pejabat-pejabat penting Konoha"

Kekawatiran melintas di wajah stoic Itachi "Aku tahu,Dia sedang bersama Tobi. Aku kemari untuk menyelamatkan Sasuke tapi sepertinya terlambat. Aku tidak yakin dia akan mendengar kata-kataku lagi. Ini semua salahku"

Kakashi menepuk pundak rekannya "Jangan menyalahkan dirimu, Sasuke membuat pilihanya sendiri. Aku telah memberitahunya kebenaran tentangmu tapi dia memilih untuk tidak mempercayainya"

"Aku berharap bisa membawa Sasuke kembali, Aku tidak pernah mengira tindakanku malah menjadikanya seperti ini"

"Aku tahu kau sangat menyayangi Sasuke dan Seumur hidupnya Sasuke mencari mu. Dia tidak pernah menyerah untuk menemukanmu walau untuk membalas dendam"

"Bila Kematianku bisa menghapus kebenciannya, Aku rela mati ditangannya"

"Kau tidak boleh mati sampai kita membereskan Akatsuki. Ayo kita pergi ke markas Itachi, Kita punya banyak pekerjaan"

Dua pria itu melangkah meninggalkan rumah Sakit, Masih banyak hal yang harus mereka lakukan untuk mengamankan Konoha.

.

.

Sai merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Bukankah dia telah mati tertembak mengapa dia masih merasakan sakit. Sayup-sayup pria itu mendengar suara bip dari monitor yang memantau detak jantungnya tapi dia merasa enggan untuk membuka matanya. Berada di kegelapan ini jauh terasa lebih nyaman. Hidupnya tak jauh beda dengan kegelapan yang meneyelimutinya. Hanya ada kesunyian dan kesendirian yang menemaninya jadi mengapa dia harus menjalani hidup dan melihat dunia penuh warna jika dunia itu tidak akan pernah menjadi bagian dari dirinya.

Seorang suster yang merawat Sai tergesa-gesa mencari dokter yang sedang piket di ruang ICU "Dokter, Jari pasien bergerak"

Sang dokter dengan segera melakukan pengecekan tapi tidak ada tanda-tanda pasiennya sadar. Pria yang berbaring di ruang ICU itu telah koma selama satu minggu. Semua dokter tidak paham mengapa kesadaran pria itu belum kembali padahal oprasinya berjalan sukses tidak ada organ-organ vital yang terluka. Harusnya Sai Shimura sadar begitu efek biusnya habis. Mungkin pria itu mengalami trauma psikologis hanya itu hipotesis yang dokter bisa simpulkan.

.

.

Ino bertemu Sakura di Café langganan mereka. Dia hendak pamitan dengan sahabatnya. Wanita itu memutuskan untuk meninggalkan Konoha dan memulai hidup ditempat lain hingga situasi memungkinkannya untuk kembali. Ino meskipun mundur dari dunia showbiz masih tetap dibuntuti paparazzi dan dia tidak ingin siapapun tahu tentang kehamilannya.

Usia kehamilan tujuh minggu ino masih tidak bernafsu makan, Ia hanya memesan Salad dan juice untuk makan siang. Sepertinya Sakura datang terlambat.

"Hey, Maaf Ino aku terlambat. Aku mampir ke rumah sakit"

"Memang ada apa lagi?"

Raut muka Sakura muram, "Hari ini Naruto keluar dari rumah sakit dan di sana aku bertemu Hinata. Aku tak mampu memandang wajah gadis itu. Sasuke menculiknya kemudian membunuh ayahnya dan sepupunya. Gadis itu begitu trauma. Aku merasa bersalah Ino, Bila saja aku tidak mengajak Naruto untuk double date semua ini tidak akan terjadi"

"Sakura kau tidak perlu merasa bertanggung jawab dengan perbuatan Sasuke. Semua itu diluar kuasamu. Kau tidak bisa mencegah Sasuke dan niat jahatnya. Kau lebih baik berusaha melupakan pria itu. Dia sudah menjual jiwanya pada iblis "

"Oh Ino, Bila saja gampang menyuruh hati ini untuk berpaling aku pasti sudah melakukannya jauh-jauh hari. Melupakan Sasuke dan berhenti menderita sakit hati"

"Aku tahu Sakura, tidak seheharusnya aku menasehatimu. aku juga berusaha melupakan cintaku untuk Sai. Dia tidak pantas menerimanya tapi aku tak kunjung bisa melupakannya" Ino terdengar lelah dan kalah, Kalah melawan hatinya sendiri

"Ino, Apa kau tau Sai sedang koma" Sakura merasa perlu memberitahu Ino apa yang terjadi pada mantan tunangan wanita itu.

Mata aquamarine Ino tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut dan khawatir yang melandanya seketika mendengar Sai sedang Koma "Bagaimana bisa?"

"Kau ingat peristiwa perampokan Bank minggu lalu?, Sai menerebos dan membebaskan para sandera sendirian lalu dia ditembak. Sudah seminggu Sai belum sadarkan diri. Aku mendengar ini dari Kakashi Hatake, Seniornya Sai. Kami berpapasan di parkiran rumah sakit saat aku akan kemari, mungkin kau harus menengoknya Ino"

Ino mengelengkan kepala "Sakura kau ingat saat malam Naruto tertembak?, Aku berpapasan dengan Sai dan dia sama sekali tidak menyapaku aku merasa Sai tidak ingin lagi berurusan denganku jadi untuk apa aku kesana" Ino berpura-pura bersikap tidak perduli tapi Sakura tahu temanya khawatir bukan main.

"Ino tengoklah dia sekali saja supaya hatimu tenang, Bila Sai tidak akan pernah sadar kembali apa kau tidak akan menyesal Ino?"

"Ok, Aku akan ke rumah sakit setelah ini. Lagipula besok aku sudah akan pergi"

"Pergi kemana Ino?"

"Aku menemuimu karena aku ingin berpamitan Sakura, Aku akan meninggalkan konoha sementara waktu. Aku tidak tahu kapan aku bisa kembali dan aku berharap walaupun aku jauh nanti kita masih bisa bersahabat"

"Pig, Apa yang membuatmu pergi?, Aku tidak percaya kau meninggalkan aku saat aku sedang susah dan kau bahkan tidak memberitahuku kemana kau akan pergi"

"Aku juga sedang banyak masalah Sakura, Katakan saja aku melarikan diri dari media. Nanti aku akan memberitahumu, Mungkin kalau kau punya waktu nanti kunjungilah aku"

"Aku berharap kau akan baik-baik saja Ino"

"Tentu saja aku akan baik-baik saja, Aku berharap kau segera move on dari Sasuke. Masih banyak pria yang lebih baik dari Sasuke. Kau tahu itu kan"

"Yap, Tentu saja Ino. Aku tidak menutup pintu hatiku untuk pria lain koq"

"Bagus lah"

Kedua wanita itu bercakap-cakap tentang banyak hal sebelum akhirnya Ino merasa kurang enak badan dan mengakhiri pertemuan mereka. Ino sudah berencana dia akan pindah ke kota Ame dimana tak seorangpun akan mengenalnya. Dia bisa dengan tenang memulai sebuah hidup baru

.

.

Ino mengarahkan mobilnya ke rumah sakit pusat konoha. Mendengar berita tentang Sai, Ino tidak bisa tidak perduli walaupun dia berusaha. Waktu itu dia punya firasat buruk dan firasatnya benar mungkin ini kesempatan terakhirnya untuk melihat pria itu

Ino berjalan menuju ruang perawatan. Dia bertemu dengan Suster yang sedang berjaga di ruang ICU.

"Maaf, Apa aku bisa menjengguk tuan Sai Shimura?"

Suster tersebut mengenali wajah celebrity Ino "Anda Yamanka Ino artis yang terkenal itu? Tunangan Tuan Shimura?" Sepertinya sang suster juga membaca kolom gossip.

"Ehem.. Mantan tunangan" Ino menegaskan.

"baiklah Nona silahkan ikuti saya"

Suster memberikan Ino masker dan baju rumah sakit berwarna hijau, dan dia harus melewati ruang steril sebelum akhirnya bisa melihat Sai. Pria itu terbaring di ranjang rumah sakit, masker oksigen menutupi sebagian wajahnya dan berbagai tube terpasang di lengannya. Suara yang terdengar hanyalah bunyi bip dari monitor cardiac. Suster telah meningalkan mereka sendirian. Ino berjalan mendekat ke sisi tempat tidur Wajah Sai yang memang pucat kini terlihat seputih kertas Ino bisa melihat memar keunguan menghiasi pipi dan lengan pria itu. Kondisi Sai membuat Ino sedih.

"Sai aku datang" Ucap wanita itu lirih sambil membelai rambut hitam pasien yang tidak sadarkan diri itu

"Aku tahu mungkin kau tidak mendengar ku, tapi tidak apa-apa karena sebenarnya aku tidak pernah ingin kau mengetahuinya. Sai kau akan segera menjadi ayah" Jari-jari Ino menyusuri luka memar di pipi pria itu.

Ino melanjutkan percakapan satu arahnya dengan pria yang koma, "Apa kau akan senang atau marah Sai?. Aku tahu kau memintaku pergi untuk kebaikanku tapi ini tidak adil karena kau tidak memikirkan perasaanku. Aku berusaha untuk melupakanmu dan aku tidak bisa. Anak ini akan selamanya mengingatkanku pada dirimu" Air mata mulai menetes dari pelupuk mata Ino. Suaranya bergetar memikirkan ini saat-saat terakhirnya dengan Sai dan saat ini pria itu dalam kondisi tidak berdaya mungkin Ino tidak akan pernah berjumpa dengannya lagi.

Ino mengengam tangan Sai "Sai sadarlah, Aku lebih memilih melihatmu sehat dan mengabaikanku daripada melihatmu seperti ini. Aku berharap kau akan terus hidup dan mungkin suatu hari akan mencariku dan anakmu. Lalu kita bisa bersama lagi dan aku bisa melihatmu tersenyum dengan tulus" Air mata wanita itu semakin deras, tanpa Ino sadari airmatanya jatuh membasahi tangan Sai.

"Aku mencintaimu" Ino mendaratkan kecupan di kening Sai kemudian pergi meningalkan ruangan itu.

Dalam perjalanan pulang Ino berdoa semoga Sai cepat terbangun dari komanya. Melihat kondisi pria itu membuat perasaan Ino lebih hancur.

.

.

Sai perlahan membuka matanya. Cahaya lampu membuatnya silau. Tadi dia mendengar Ino memanggilnya tapi mungkin itu cuma mimpi karena Sai merasa dia tertidur lama sekali. Sai mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari dia sedang berada di rumah sakit. Tidak mungkin Ino datang kemari. Dia sudah sangat mengecewakan wanita itu. Sampai saat ini ucapan selamat tinggal Ino masih terngiang-ngiang di telinganya. Dia tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang dia alami sejak saat itu seolah-olah kepergian Ino melukai sesuatu yang tidak dia tahu eksis dalam dirinya.

"Tuan Shimura anda sudah sadar?" Suara suster jaga menyadarkan dia dari lamunannya.

Tengorokan Sai terasa begitu kering untuk berkata-kata jadi pria itu hanya mengangguk

"Saya pangilkan dokter untuk memeriksa anda"

Tak lama kemudian suster itu kembali dengan membawa seseorang dan mereka mulai memeriksa kondisi Sai. Masker oksigen dan Monitor kardio terlah di lepaskan dari tubuhnya.

"Tuan Shimura anda baru tersadar dari koma selama tujuh hari, tubuh anda sedang dalam proses pemulihan dari luka tembak. Bila dalam tiga hari kedepan kondisi anda sudah stabil maka kami akan memindahkan anda keruang perawatan biasa"

Sai terdiam mendengar penjelasan dokter, Dia tertembak dan masih hidup dia tidak menyangka akan lolos dari maut saat memutuskan menyerang Hidan dan Kakuzu. Siapapun yang menembaknya sengaja tidak menyerang bagian vital, Dia hanya menerima dua peluru di kaki dan satu di perut.

"apa anda mengalami keluhan seperti pusing dan mual dan ganguan pengelihatan?" Dokter itu bertanya lagi sambil mengukur tensinya

Sai mengeleng "Air" Ucapnya serak

Suster pun datang membawa gelas dan membantu Sai minum, Pria itu lega tenggorokannya tidak lagi terasa pasir Suna. Setelah pemeriksaan selesai mereka meningalkan Sai sendirian. Masih merasa lelah pria itu pun jatuh tertidur.

.

.

Ino tiba di Kota Ame. Sebuah kota yang selalu mendung dan hujan. Cuaca seperti ini membuatnya menjadi mellow. Ayahnya membelikan Ino sebuah rumah berdesign minimalis di tengah kota. Sebenarnya Inoichi tidak setuju Ino pergi tapi akhirnya pria itu mengizinkan dengan catatan Ino membawa serta Ayame. Pelayan kepercayaan keluarga Yamanaka. Ayame telah meletakkan koper nya di kamar tapi Ino terlalu telah. Morning sickness yang dia alami menguras semua tenaganya jadi Ino langsung membaringkan dirinya di kasur. Wanita itu tidak menyangka kehamilan itu begitu berat dia tidak mungkin tinggal sendirian dan mengurus dirinya sendiri dalam kondisi begini bersyukur ayahnya ngotot menyuruh Ino membawa Ayame.

Ayame muncul di ambang pintu, Wanita berusia empat puluhan itu khawatir melihat Ino yang biasanya energik dan cerewet menjadi murung dan lesu "Nona, Anda tidak apa-apa?"

"Aku hanya lelah Ayame, Bisa kau membantuku membongkar koper?"

"Tentu saja Nona" Dengan cekatan wanita itu membuka dan memilah-milah barang bawaan Ino "Aku senang bisa membantu anda, Kehamilan itu hal yang sangat berat untuk dilalui sendirian. Aku paham mengapa Nona datang kemari. Tapi anda tidak akan bisa bersembunyi terus-menerus"

"Aku pasti akan pulang Ayame, tapi nanti bila kondisi sudah kondulsif"

'dan aku sudah bisa menata hati dan perasaanku lagi' ucap Ino dalam hati.

Wanita berambut pirang itu kembali memikirkan Sai. 'Apa pria itu sudah sadar? Atau jangan-jangan..' Ino tidak ingin memikirkan kematian. Tapi apa yang akan dia lakukan seandainya Sai meninggal. Mungkin dia bisa minta Sakura mencari informasi tentang Sai. Dia tidak akan bisa tenang sampai dia tahu pria itu sudah sadar

.

.

Sai mengatasi kebosananya di rumah sakit dengan melukis. Dia senang tangannya tidak terluka. Kakashi dan Yamato mengunjunginya beberapa hari setelah dia sadar. Selain mereka tidak ada lagi yang menengoknya. Harusnya dia terbiasa dengan situasi ini. Sai memang tidak punya siapa-siapa tapi mengapa sekarang dia merasa sendirian itu menyedihkan. Mungkin ini karena dia sudah mengenal rasanya punya teman.

Sosok wanita berambut pink masuk ke ruangannya dengan membawa seikat bunga.

"Sakura?"

"Halo Sai, Apa kau baik-baik saja? Maaf aku baru bisa menengok mu"

"Aku tidak apa-apa, Terima kasih sudah datang. Bagaimana kabar mu dan Naruto"

Sakura duduk di kursi setelah meletakan bunga di vas yang tersedia "Aku baik-baik saja, tapi Naruto dan Hinata masih mengalami trauma dan kehilangan"

"Aku paham, Pasti berat sekali bagi mereka dikhianati sahabat dan menyaksikan orang-orang tercinta terbunuh di hadapanmu"

"Ya, Dan sampai saat ini Sasuke masih belum ditemukan kau tahu sesuatu?"

" Tidak Sakura, Kakashi dan Yamato masih mencari mereka" Sai bisa melihat rasa khawatir melintas di mata hijau giok Sakura. Wanita itu masih memperdulikan Sasuke sepertinya.

"Sai apa kau pernah memikirkan Ino?" Sakura tiba-tiba bertanya. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya Sai rasakan untuk sahabatnya.

"Mengapa kau bertanya Sakura?"

"Hanya Ingin tahu, Sebenarnya hubungan kalian itu apa"

"Kami berteman, tapi aku meminta Ino tidak terlibat denganku lagi. Kau mengerti Sakura aku tidak ingin Ino celaka karena berada di sekitarku"

"Jadi kau memperdulikan Ino" Sakura menarik kesimpulan sendiri. "Kau tahu Ino mencintaimu dan dia ingin selalu disampingmu tidak perduli bahwa pekerjaan mu membuat kalian berdua dalam bahaya. Ino yakin kau mampu melindungi dirinya. Dia percaya padamu tapi kau malah memintanya pergi"

"Aku paham bila Ino kecewa dan marah, tapi ini hal terbaik untuknya bagaimana bila aku gagal melindunginya?"

Sakura merasa marah, Sai punya perasaan pada Ino tapi ketakutannya membuat pria itu memilih untuk tidak bersama Ino "Kau pengecut Sai. Kau tahu Ino sudah pergi dari kota ini dan aku harap kau tidak akan menyesali pilihanmu membiarkan orang yang kau cintai pergi" lalu wanita berambut pink itu pergi dengan kesal sambil berguman tentang para pria idiot.

Sai terguncang dengan mendengar kata-kata Sakura, Dia mencintai Ino. Itu tidak mungkin, Sai tidak punya perasaan. Setidaknya itu yang dia percayai dia tidak mungkin tahu bagaimana cara jatuh cinta dan Sakura salah Sai hanya berperan sebagai teman yang baik. Sai berpikir Ino lebih pantas bersama pria lain bukan pria seperti dirinya. itu juga alasan dia menolak Ino. Sai mendesah. Sebaiknya dia berhenti memikirkan wanita berambut pirang itu dan melanjutkan melukis.

Beberapa hari kemudian Yamato dan Kakashi datang menjenguknya, Dua orang mentornya itu membawakan dango yang super manis.

"Sai, apa kata dokter?" Pria berambut perak itu sibuk setengah mati tapi dia masih tetap meluangkan waktu untuk Sai. Kakashi sudah mengangap Sai dan Yamato sebagai saudara mereka bertiga adalah yatim piatu yang tak punya keluarga.

"Butuh waktu tiga bulan untuk pemulihan, seminggu lagi aku bisa keluar dari rumah sakit tapi permasalahnya aku tidak bisa mengurus diriku sendiri sampai aku benar-benar pulih"

"Yamato akan mencarikan mu perawat dan pelayan Sai, Kau tidak bisa tinggal sendirian di rumah"

"Ya, Aku akan melakukannya dan untuk semtara kau di non-aktifkan hingga benar-benar pulih" Yamato duduk santai di kursi sambil makan dango yang mereka bawa.

"Sai, Harusnya aku menghukummu Kau mengambil tindakan sendiri tanpa menggu perintah dariku. Kau telah melanggar aturan"

"Maaf Kakashi-San, Tapi tindakan harus di ambil dengan cepat, Kita tidak ingin lebih banyak korban berjatuhan"

"Tapi bukan berarti kau membuat sebuah misi bunuh diri, Kau sangat ceroboh di sini, Bila Itachi tidak muncul mungkin kau sudah mati Sai" Kakashi sedikit marah dengan kesembronoan Sai. Tidak biasanya Sai melakukan hal-hal yang melawan prosedur apa yang merubah anak buahnya menjadi impulsive.

Mendengar nama Itachi disebut Sai terkejut "Itachi-san kembali?"

"Yah, Tobi sudah mengetahui Itachi adalah mata-mata. Jadi dia memutuskan untuk mengakhiri misinya di Akatsuki" Yamato menambahkan informasi.

"Lalu bagai mana perkembangan Akatsuki?"

"Kami masih melacak Tobi dan Sasuke. Itachi sendiri yang memimpin tim penyelidik dan pemerintah juga setuju kita menjatuhkan bom di markas mereka"

Sai menarik nafas "Sementara kalian sibuk, aku malah tidak berguna"

"Manfaatkan waktu pemulihanmu untuk hal lain, Aku yakin kau punya masalah pribadi yang ingin kau selesaikan"

"Maksud mu apa Kakashi-San?"

Pria bersurai perak itu melirik rekannya mengisyaratkan Yamato memberi penjelasan

"Sai, kau memilih misi bunuh diri dan sudah bersiap untuk mati mengapa? Apa kau tidak menganggap nyawamu berharga?"

"Yamato-San Aku hanya merasa lebih baik satu orang mati dari pada puluhan lainnya, aku bisa menyelamatkan mereka. Para sandera itu punya rumah dan keluarga yang menanti mereka bila mereka yang mati akan ada orang-orang yang merasa kehilangan. Dan bila aku yang mati tidak seorangpun akan menangisi kematianku"

"Kau salah Sai, Kau adalah rekan kami yang berharga. Bila kau mati maka kami akan merasa kehilangan. Kita menjadi tim untuk saling melindungi. Jadi jangan lagi gegabah dalam melaksanakan misi setidaknya kau harus berkomunikasi dengan kami yang juga atasan mu"

"Baik, aku mengerti"

"Dan Sai, Jalinlah hubungan dengan seseorang, Kau tidak akan menjadi kuat bila selalu sendirian"

.

.

Ino Yamanka membuka toko bunganya, sudah tiga bulan dia menjadi penduduk Ame Ino mulai menyukai kota ini, walau dia masih tidak terbiasa dengan mendung dan hujan yang terjadi hampir tiap hari. Kehamilan Ino mulai terlihat, dia senang bayinya tumbuh sehat-sehat saja dan masa ngidam nya sudah berakhir, tri semester pertama kehamilannya benar-benar seperti mimpi buruk. Dia tidak bisa melakukan banyak aktifitas karena terus menerus mual muntah dan merasa lelah.

Seorang pria berambut jabrik berwarna oranye kecoklatan muncul di tokonya, Dia mengenakan jeans dan kemeja polos berwarna biru senada dengan warna matanya.

"Hi, Ino" Sapa pria itu.

"Yahiko, Kau datang untuk membeli bunga lagi?, Aku heran untuk siapa bunga-bunga itu"

"Untuk malaikatku" Pria itu tersenyum lebar mengingatkan Ino pada Naruto. Sifat Yahiko dan Naruto sedikit mirip karena itu Ino senang berada di dekatnya. Aura ceria pria itu menularinya.

"Lihat Ino, Perut mu membesar" Pria itu mandang Ino dengan takjub, seperti tidak perenah melihat wanita hamil sebelumnya

"Tentu saja Yahiko aku sedang hamil, lima bulan lagi aku akan terlihat bengkak seperti gajah" Ino tersenyum dan mengelus-elus perutnya.

"Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihat suamimu Ino? Dan kau tak pernah menceritakannya"

Senyum Ino langsung menghilang bukan pertama kalinya orang-orang bertanya, Karena Ino sedang hamil mereka berasumsi Ino punya suami "Aku tidak punya suami tidak lagi" Ino berbohong.

"Maaf, Pasti berat bagimu menjanda saat sedang hamil seperti ini" Yahiko merasa tidak enak telah menanyakan hal yang sensitive

"Yah memang berat Yahiko tapi orang tua ku sangat supportive mereka selalu membantuku"

"Jadi suami mu meninggalkanmu saat kau sedang hamil, Dia pria brengsek ya?"

"Tidak dia meninggal, menjadi korban peledakan bom di konoha" Bagi Ino, Sai sudah mati dia mengubur memori tentang pria berambut hitam itu, Ino bahkan tidak bertanya pada Sakura apa yang terjadi dengan Sai.

"Aku turut berduka cita Ino" Yahiko bersimpati pada wanita di hadapannya. Yamanaka Ino terlihat cantik dan rapuh. Bila saja dia tidak jatuh cinta pada Konan Yahiko pasti akan menawarkan diri untuk melindungi wanita itu. Percakapan tentang suami Ino membuat suasana menjadi muram "Ino apa kau suka anak-anak?, Bila kau punya waktu aku ingin mengajakmu ke panti asuhan yang didirikan oleh malaikatku"

"Wow, Jadi gadis yang kau sukai memang seorang malaikat"

"Dia berhati malaikat. Kau yang baru pindah ke Ame pastinya belum punya banyak teman. Konan akan senang punya teman wanita karena biasanya dia hanya di kelilingi laki-laki dan anak-anak"

"Terima kasih Yahiko, Aku akan sangat senang bisa membantu di panti asuhan, Berikan saja aku alamatnya. Aku akan berkunjung kesana "

Yahiko memberikan kartu nama Konan pada Ino, Lalu bergegas pergi membawa rangkaian bunga yang dia beli dari toko Ino. Siang ini Ino harus membawa bunga ke sebuah resort terkenal di Ame, Klien nya akan menikah disana dan Ino yang mengurus dekorasi bunganya dia akan sangat sibuk. Setibanya di Ame Ino segera membangun bisnisnya, Nama dan Koneksi keluarga Yamanka benar-benar membantu Ino mendapatkan pelanggan. Dia mengubur kesedihan dan kesepiannya dengan bekerja tidak ada hal lain yang dia lakukan

.

.

Sai menatap ke luar jendela, Salju mulai mencair. Sebentar lagi musim semi tiba dan bunga bunga bermekaran. Dia menghabiskan tiga bulan untuk pemulihan dan terapi. Sekarang dia sudah bisa berjalan kembali dengan normal. Kakashi dan Yamato benar-benar tidak mengizinkannya kembali sampai dia pulih bahkan dia tidak diperbolehkan mengerjakan tugas-tugas administrasi. Jadi selama tiga bulan ini dia hanya diam di rumah dan melukis.

Kini Sai memiliki seorang pelayan, Wanita berambut putih yang berusia lima puluh tahun tapi masih energik dan cakap. Yamato merekomendasikan wanita itu bekerja untuknya dan Sai cukup senang ada orang yang mengurusnya ketika dia sakit. Walau kini dia sudah sembuh dia memutuskan untuk tetap mempertahankan Yuzuyu karena rumah ini terlalu sepi untuk dia tinggali sendiri. Lagipula Yuzuyu tidak pernah menggangunya.

Pelayannya datang membawakan Sai secangkir teh "Tuan, Ini teh nya. Sebentar lagi musim semi dan anda sudah pulih. Apa anda masih akan terus mengurung diri"

Sai memandang wanita berambut putih itu, tidak biasanya dia berkomentar tetang kehidupannya

"Maafkan saya telah lancang tuan, tapi anda tidak bisa hidup seperti ini terus menerus. Ini bukan hidup namanya. Setiap hari anda hanya melukis, membaca, makan dan tidur"

"Lalu apa yang harus ku lakukan Yuzuyu, Aku tidak punya teman dan keluarga. Yang aku punya hanya pekerjaan dan melukis" Sai menyesap tehnya yang masih panas.

Wanita itu sedih melihat Sai, tidak pernah dia melihat seseorang yang begitu tertutup dan penyendiri Sai bahkan tidak pernah mencoba bercakap-cakap dengan dirinya. Pria itu hanya bicara seperlunya dan membuat jarak dengan orang lain.

"Mengapa anda tidak mulai membuat teman?, Begitu banyak orang di luar sana anda pasti bisa menemukan seseorang yang mengerti anda"

"Aku menemukannya Yuzuyu, tapi aku memintanya pergi. Aku khawatir bila aku menjalin sebuah hubungan hanya akan berakhir dengan bencana aku tidak ingin menyakitinya lebih jauh" Sai tidak mengerti mengapa dia bercerita pada pelayannya. Dia tidak pernah bercerita pada siapapun tidak juga pada mentornya. Tapi Yuzuyu membuatnya merasa nyaman dan dia mempercayai wanita itu.

Yuzuyu tahu siapa yang Sai maksud " Anda berbicara soal Yamanaka Ino, Tunangan anda? Berita tentang kalian ada dimana-mana berbulan-bulan lalu jadi saya tahu. Saya bisa melihat anda masih mencintainya tuan. Mengapa tidak meminta maaf "

Mata hitam Sai memandang Yuzuyu dengan rasa ingin tahu " Mengapa kau berpikir aku mencintai wanita itu?" Pelayannya bukan orang pertama yang mengatakan Sai sedang jatuh cinta.

Yuzuyu tidak percaya tuannya begitu bodoh "Tidakkah anda sadar tuan, selama saya disini anda hanya melukis wanita itu" Yuzuyu mengedarkan padangan pada puluhan kanvas yang bertebaran di ruang studio. Semuanya objek lukisannya adalah seorang wanita berambut pirang bermata aquamarine dengan ekspresi berbeda-beda.

Sai menghela nafas, Lukisannya adalah cerminan benaknya, Jadi selama ini dia selalu memikirkan Ino mungkin dari awal perjumpaan mereka dia telah tertarik dengan wanita itu hanya saja dia tidak menyadarinya. Ino singgah sebentar dalam hidupnya tapi dia membuatnya berubah. Bersama wanita itu dia merasa menjadi normal. Sakura benar dia pengecut seharusnya dia tidak pernah melepaskan kesempatan untuk belajar mencintai apapun alasannya. Dia hanya takut berharap dan kemudian harapannya hancur. Dia takut Ino berubah pikiran dan meninggalkanya ketika dia menjadi sangat dekat dengan wanita itu. Lebih mudah baginya untuk tidak berharap sama sekali.

"Terima kasih Yuzuyu, Aku senang bisa bercakap cakap denganmu, Maaf selama ini aku terlalu dingin aku tidak terbiasa dengan keberadaan orang lain di dekatku"

"Saya paham tuan, Saya senang bisa melayani anda" Wanita itu pun pergi meningalkan tuannya merenung. Malam itu Sai memutuskan untuk mencari Ino untuk meminta maaf.

.

.

Sai tiba di kediaman Yamanaka. Dia sudah mencari Ino ke apartementnya tapi tempat itu sudah di huni orang lain. Satu-satunya alamat yang dia bisa cari adalah rumah keluarga Yamanaka. Sai berharap Ino berada di sana atau mungkin orang tuanya memberitahu Sai dimana wanita itu berada. Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Kediaman Yamanaka sangat luas rumah itu bergaya tradisional jepang. Keluarga Ino adalah keturunan bangsawan di jaman kerajaan dan mereka mempertahankan rumah leluhur mereka ditambah sedikit moderenisasi. Sai berjalan menuju gerbang utama dan di sambut oleh seorang petugas keamanan yang sedang berjaga.

"Maaf, Anda siapa?" Penjaga gerbang itu memperhatikan Sai dari atas ke bawah

"Saya Sai Shimura, Bisakah saja bertemu dengan Inoichi Yamanka" Sai mengingat nama ayah Ino. Dia berharap kali ini Inoichi akan bersikap ramah padanya. Karena dia datang dengan niat baik.

Petugas keamanan itu segera membukakan pintu dan membiarkan Sai masuk setelah mendapatkan konfirmasi dari tuannya.

Inoichi tengah membaca Koran saat pelayannya datang memberitahu bahwa Sai Shimura sedang berdiri di depan gerbangnya. Beraninya pria itu datang kemari setelah apa yang dia lakukan pada putrinya. Dia tidak akan membiarkan Sai pergi begitu saja tanpa memberinya pelajaran. Tangan Inoichi sudah gatal untuk memukul pria itu di awal perjumpaan mereka. Dia tidak mengerti mengapa pria itu menyia-nyiakan putrinya.

Pelayan mengantarkan Sai ke ruang tamu. Di sana sang kepala keluarga Yamanaka telah menunggu.

"Selamat siang Yamanka-San, Maaf bila kedatangan saya menggangu" Tatapan Inoichi pada dirinya membuat Sai merasa terancam. Dia tidak pernah merasa takut sebelumnya tapi pria di hadapannya membuat bulu kuduk Sai meremang.

"Apa mau mu Shimura?" Ucapnya dingin.

Sai bisa merasakan Ayah Ino tidak menyukainya. "Saya mencari Ino, Anda tau dia berada dimana?"

"Mau apa lagi kau dengan putriku?, Tidak cukupkah kau menghancurkannya?"

"Aku mau minta maaf pada Ino"

Inoichi mendekati Sai dengan marah dan mencengkram kerah baju Sai. Inoichi kesal mengapa baru sekarang pria ini muncul dengan permintaan maaf "Kau pikir minta maaf bisa membuat putriku bahagia lagi?" Sebuah pukulan melayang ke wajah Sai dan pria itu tidak menghindarinya "Kau sudah menghancurkan hatinya Shimura" Pukulan Inoichi mendarat di bibirnya, membuat mulut pria itu berdarah. Sai masih diam saja. Dia merasa pantas menerima kemarahan Inoichi. Inoichi melepaskan lebih banyak pukulan lagi. Sai tidak menyangka ayah Ino sangat kuat tapi pria berambut hitam itu tidak melawan karena tuduhan Inoichi benar. Dia telah menyakiti Ino jadi sudah sewajarnya dia di hukum

Puas melampiaskan kemarahannya pria dengan rambut pirang itu melepaskan Sai, "Aku tidak akan memberitahu mu dimana Ino berada dan asal kau tahu putriku tidak ingin berurusan denganmu lagi. Sekarang pergi dari sini"

Sai tertunduk dengan wajah lebam 'Apa sekarang Ino membenciku?'