Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto

Warning : Alur cepat.

.

.

Under The Spot Light

.

.

Chapter 13

.

Cinta baru?

.

.

Mendung kembali menghiasi langit, Hanya secercah sinar mentari mampu menerobos tebalnya awan kelabu yang melayang di atas kota Ame. Ino merindukan langit biru cerah dan hijaunya pepohonan konoha. Di kota Ame ini hampir semua begitu suram dan abu-abu. Ino tidak mengerti entah bagaimana Yahiko selalu bisa tersenyum di tengah cuaca seperti ini tapi untuknya hujan selalu mengambarkan kesedihan. Hujan adalah Tangisan langit.

Ino bersama staffnya tiba di sebuah hotel yang bernama Harusame. Dia langsung disambut oleh Wedding organizer yang mengontraknya.

"Apa semua bunganya sudah siap Nona Yamanka?"

"Sudah, Semua sesuai pesanan, Kita tinggal mendekorasinya saja" Ino memperhatikan staff nya mulai bekerja membuat dekorasi dan merangkai center piece dengan design yang dia contohkan.

Ruangan itu kini penuh dengan mawar, Liliy dan tuberose yang dipilih oleh sang pengantin untuk menghiasi pernikahannya. Ino teringat Hand bouquet untuk mempelai wanita tertinggal di mobilnya. Segera dia pergi ke parkiran. Karena rintik-rintak hujan mulai turun, Ino berjalan dengan terburu-buru. Ino lupa kalau air membuat lantai menjadi licin begitu kakinya menapak lantai marmer lobby yang basah dia terpelesat. Detik Ino hampir terjatuh tiba-tiba lengan kuat seseorang meraih pingangnya mencegah wanita itu terjengkang ke lantai.

"Ya, Ampun" Ino merasa lega. Bila dia jatuh apa yang akan terjadi dengan kandungannya. Wanita itu imenggeleng dia sungguh ceroboh. Hampir saja bayinya dalam bahaya. Ino menegakkan badan untuk mendapatkan kembali keseimbangannya.

"Anda harus lebih berhati-hati nyonya" Suara maskulin sang penyelamat membuat Ino berbalik.

"Terimaka…sih" Ino terkejut menemukan wajah yang familiar di kota Ame ini. 'Ini tidak mungkin' pikir Ino dalam hati.

"Apa anda baik-baik saja Nyonya" pria berjas hitam itu khawatir melihat wanita hamil yang di tolongnya malah tertegun menatap wajahnya.

"Ah, Maafkan saya. Wajah anda membuat saya teringat seseorang"

Pria itu menatap bunga yang di bawa Ino "Ah, Anda bekerja untuk wedding even di hotel ini"

"Iya, Saya Ino Yamanaka, Florist yang dikontrak Hotel ini"

"Kalau begitu perkenalkan, Hisoka Karasuma. Saya Manager Harusame Hotel ini. Semoga anda senang bekerja dengan kami"

Namanya Karasu cocok sekali karena mata dan rambutnya yang sehitam gagak. "Sama-sama, Saya permisi dulu pekerjaan saya belum selesai" Ino meninggalkan pria itu.

.

.

Itachi Uchiha melongarkan dasi yang terasa mencekik leher. Menatap komputer di hadapannya dengan frustrasi. Tiga bulan dia mencari informasi tapi Tobi dan Sasuke lenyap di telan bumi. Lebih anehnya lagi tidak satupun orang Akatsuki mengejarnya malah Nagato menghubunginya untuk menyelidiki kemana Tobi, kakuzu dan Hidan menghilang. Apa Tobi tidak memberitahukan yang lainnya soal dia seorang mata-mata?

Untuk memastikan dugaannya Itachi kembali ke Ame menjalankan posisinya seperti biasa. Bila ini hanya jebakan maka anggota akatsuki akan menyerangnya disini. Hanya mereka yang tau identitas lain itachi Uchiha. Tapi sudah seminggu dia tiba dan tidak ada hal yang aneh terjadi. Malahan Dia ,Nagato, Yahiko sempat pergi untuk minum kopi bersama. Sepertinya mereka memang tidak tahu apa-apa. Termasuk rencana Tobi.

Intelejen Konoha harus segera membereskan Tobi, Mungkin Itachi bisa menghasut anggota Akatsuki lainnya untuk tidak mempercayai Tobi. Strategi ini harus dia coba. Dia harus meyakinkan bahwa Tobi-lah pengkianat organisasi yang menyimpan agenda pribadi tersembunyi. Banyak anggota Akatsuki yang tidak suka pada Tobi yang penuh teka-teki. Mereka bahkan tidak tahu indentitas asli pria itu. Dia bisa memanfaatkan ini untuk menghancurkan Akatsuki dari dalam. Itachi kembali memusatkan pikirannya pada laporan-laporan di hadapannya dan menyusun rencana memburu Tobi.

.

.

Ino menyaksikan pernikahan clientnya dengan air mata. Rasanya sesak melihat dua orang bahagia bertukar janji sehidup semati. Sementara dirinya mungkin tidak akan pernah menikah atau jatuh cinta lagi. Ino berjalan keluar ruangan. Seharusnya dia pulang begitu pekerjaannya selesai dan tidak perlu mengintip acara pernikahan yang membuat emosinya jadi labil.

Rasa sesak di dadanya membuat kepala Ino berputar-putar. Wanita itu segara duduk di lantai sebelum dia jatuh. Perutnya terasa mual kembali apa ini ulah bayinya atau hormonnya. Ino memejamkan mata bersender di dinding berharap pusingnya segera hilang.

"Nyonya Yamanaka?" Itachi melihat wanita yang tadi siang dia tolong duduk di lantai koridor dan terlihat pucat. Tidak semua wanita memiliki rambut panjang berwarna pirang seperti itu jadi Itachi mengingatnya.

Ino membuka satu mata dan dunianya kembali berputar-putar. Itu pria yang menolongnya tadi pagi "Tuan Hisoka"

"Anda terlihat tidak sehat, mau saya antarkan kerumah sakit?" Ino mengaguk lemah. Dia bersyukur orang asing ini mau menolongnya.

Tanpa terlihat bersusah payah pria itu mengendong Ino bridal style ke mobilnya dan meluncur menuju rumah sakit terdekat. Itachi tidak punya banyak waktu tapi melihat wanita hamil tak berdaya dia merasa harus menolong. Mereka tiba di rumah sakit dan Ino sudah menjadi terlalu lemas.

"Nyonya haruskah saya menelpon suamimu?" Itachi bingung karena dia harus segera pergi menemui anak buahnya dia tidak bisa menunggui Ino di sana.

Wanita itu mengisyaratkan Itachi mengambil ponsel di tasnya. Setelah mengengam ponselnya dengan lunglai Ino mencari nomer Ayame. Itachi berbicara dengan Ayame memberitahu dimana Ino berada dan segera pergi ke meetingnya.

Ino merasa sedikit baikan setelah berbaring, dan kemudian Ayame muncul dengan panik di ruang gawat darurat

"Nona, Anda tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa Ayame. Dokter bilang aku mengalami kelelahan dan tekanan darahku turun, Mungkin akibat beberapa hari bergadang mengerjakan rangkaian bunga untuk wedding hari ini, Aku bisa meninggalkan rumah sakit setelah pusing ku reda"

"Nona, tolong berhati-hatilah anda butuh banyak istirahat. Ingat bayi anda"

"Aku mengerti Ayame" Hari ini Ino berhutang banyak pada Tuan Hisoka, Dua kali pria itu menolongnya. Ino merasa wajah pria itu sangat mirip dengan Sasuke Uchiha tapi yang membuat Ino tertegun adalah mata hitam pria itu yang tampak kelam tidak berdasar. Sorot matanya mengingatkan Ino pada Sai. Wanita itu merasa mungkin Hisoka Karasuma juga seorang penyendiri.

.

.

Kantor Intelejensi Konoha tampak sibuk hari ini, setelah kecolongan dua kali mereka membenahi kinerja semua personelnya. Kakashi Hatake menurunkan tim terbaiknya untuk menelusuri dan membongkar aliran keuangan Akatsuki, Sementara Itachi sibuk melacak keberadaan Tobi.

Sai memandang layar komputer di kantornya. Dia masih mencoba menemukan Ino. Pria itu telah bertanya dan menemui orang-orang yang dekat dengan wanita itu tapi mereka semua bungkam. Sai tidak menyerah. Dia adalah intel yang punya banyak jaringan dan akses informasi jadi Sai memutuskan untuk mengawasi Inoichi serta Shikamaru. Sai menemukan informasi Inoichi dan istrinya pergi ke Kota Ame beberapa kali dalam empat bulan terakhir Jadi mungkin saja Ino berada di sana.

Sai mengetik nama Yamanka di kolom pencarian. Pria itu mencari informasi apapun yang berhubungan dengan Yamanaka di kota Ame. Lalu dia menemukan sebuah artikel tentang toko bunga yang baru buka dua bulan yang lalu dan merupakan cabang toko Yamanaka flower shop di kota Ame. Sai Jadi semakin yakin dia harus pergi ke kota itu mencari Ino.

"Sai, Apa yang kau kerjakan?" Yamato masuk ke kantor Sai membawa beberapa file untuk anak buahnya.

"Maaf-kan Aku Yamato San, Sepertinya aku butuh cuti beberapa hari untuk menyelesaikan masalah pribadiku"

"Kau menemukan Yamanaka – Ino?"

Sai terkejut bagaimana Seniornya tau dia sedang mencari Ino "Bagaimana anda tahu?"

"Kau anak buah ku Sai. Semua yang terjadi disini aku mengetahuinya, Aku harusnya memberimu peringatan keras karena telah menyalah gunakan wewenang. Kau tahu kan tidak seharusnya kau meminta team IT meretas dan menyadap ponsel Inoichi Yamanka seorang warga sipil yang tidak mengancam keamanan kota"

"Maafkan Aku Yamato-san, Aku sudah mencoba bertanya langsung tapi semua tidak tahu"

"Sudahlah, Aku dan Kakashi tutup mata dengan hal ini. Tapi tolong jangan di ulangi lagi. Kami tahu urusan Ino Yamanaka sangat penting buatmu"

"Kalau begitu aku akan pergi ke Ame besok"

Ke esokan harinya Sai terbang dengan pesawat pertama ke kota Ame. Dia hanya membawa sebuah back pack. Sai merasa tegang apa yang akan dia katakan pada Ino. Dia tidak pernah pintar berkata-kata. Pria itu berharap semua akan lancar-lancar saja. Bila Ino mencintainya pasti dia akan memaafkannya bukankah cinta adalah hal terhebat di dunia. bila tidak benar orang-orang pastinya tidak akan menulis banyak buku tentang cinta.

Pesawat mendarat di Ame lewat tengah hari, Sai menyewa mobil di bandara dan langsung meluncur menuju alamat Yamanaka flower shop yang terletak di tengah kota. Sai membaca setiap hari hujan turun di kota ini tapi hari ini langit kota Ame begitu biru tanpa awan sedikitpun.

.

Ino merasa gembira. Wanita itu bersiul-siul dan menata bunga-bunga di tokonya. Pertama kalinya Ino melihat langit cerah terang benderang dan itu memuat mood nya baik. Dia berencana untuk menemui Hisoka Karasuma untuk berterima kasih atas pertolongannya beberapa hari yang lalu.

Setelah melayani beberapa pelangan, Ino kembali menata bouquet yang terpajang di teras tokonya. Dia sangat menyukai bekerja dengan bunga. Memandang bunga-bunga yang indah ini membuatnya berhenti merasa depresi. Ino tidak mau merasa stress dengan situasinya karena stress tidak baik untuk janin dalam kandungannya. Dia akan berusaha menikmati hidup demi anaknya. Tak lama kemudian Yahiko datang dengan senyum secerah langit Ame hari ini.

"Yahiko, Aku merasa perlu memakai kaca mata hitamku senyummu menyilaukan" Ujar Ino bercanda.

"Ino aku butuh rangkaian bunga yang special"

"Untuk apa Yahiko?"

"Aku mau melamar Konan hari ini" Yahiko mengeluarkan kotak berisi cicin berlian dia ingin pendapat Ino karena tidak yakin apa cincin yang dia beli sudah tepat

"Menurutmu cincin ini bagus tidak? Aku tidak begitu mengeri selera wanita"

Ino tersenyum "Cincin yang indah Yahiko dan aku akan membuatkan mu karangan bunga yang pastinya akan membuat Konan mengatakan iya"

"Terima kasih Ino" Yahiko secara impulsive memeluk wanita itu.

Ino tertawa " Sepertinya kau sangat bahagia, Sadar Yahiko lamaran mu itu belum di terima"

"Maaf Ino, Aku tak sengaja. Aku sudah menganggapmu teman lagipula aku tahu Konan tidak akan menolakku kami sudah bersama sejak kecil" Pria itu melepaskan pelukannya.

"Aku senang kau menganggapku teman dan Yahiko keceriaanmu itu menular. Dengan melihatmu saja aku sudah merasakan energy positif di sekitarku"

Pria itu mengaruk kepalanya "Anak-Anak di panti juga bilang begitu, Mereka menyukaiku"

Bicara tentang anak-anak Ino tiba-tiba mengelus-elus perutnya " Kau suka anak-anak?"

"No, Mereka pembuat bencana" Pria itu tertawa bercanda.

"Ayo kita masuk dan pilih bunganya" Ino berbalik dan mengajak Yahiko masuk ke dalam toko.

Mereka berdua tidak menyadari sepasang mata hitam mengamati interaksi mereka dari seberang jalan.

.

Sai memarkirkan kendaraannya tepat di seberang toko bunga. Dia mengamati orang-orang yang masuk dan keluar dari tempat itu. Dari dalam mobilnya Sai bisa melihat sosok Ino mondar-mandir merapikan bunga-bunga yang terpajang di teras toko. Wajah Ino masih terlihat sama seperti terakhir kali Sai melihatnya tapi perut Ino terlihat buncit. Pria itu heran karena seingatnya Ino sangat disiplin dengan dietnya. Sai hendak keluar dari mobil untuk menemui wanita berambut pirang itu tapi apa yang baru saja dia saksikan membuat Sai terpaku di tempatnya.

Sai melihat seorang pria berambut orannye muncul lalu Ino tertawa, Sai mengenali ekspresi bahagia di wajah Ino dan pria itu memeluk wanita yang seharusnya menjadi miliknya. Mereka berdua tampak senang dan Ino mengelus perutnya.

'Apa Ino sedang hamil?' Seketika Sai merasa bodoh mengapa dia tidak memikirkan kemungkinan Ino telah menemukan laki-laki lain dan berbahagia. Mengapa dia berharap hanya dengan kata maaf Ino akan kembali padanya. Padahal Sai sendiri tahu dirinya bukan pria yang tepat untuk wanita itu tapi secepat itukah Ino melupakannya? Wanita itu bilang dia mencintai Sai.

Sai tidak mengenal emosi apa yang melandanya, Dia mencengkram kemudi dengan kencang mencoba tetap bersikap tenang tapi dia tahu sesuatu dalam dirinya hancur pelahan-lahan dan rasanya amat menyakitkan. Tanpa dia sadari matanya basah dengan air mata. Sai menangis.

Sai pergi tanpa berbicara dengan Ino. Baginya situasi ini sudah cukup untuk menjadi bukti. Inoichi mengatakan putrinya tidak menginginkan Sai lagi. Awalnya dia menolak untuk percaya makanya dia memutuskan mencari wanita itu. Tapi apa yang dia lihat hari ini membuktikan kebenaran kata-kata ayah Ino. Dia tidak perlu menanyakannya pada Ino lagi. Kebenarannya sebening kristal. Jadi ini yang Ino rasakan saat dia meminta Ino pergi dan menjauhinya. Sai merasa bersalah ketidak mampuannya untuk mengerti perasaan wanita itu telah membuat Sai menyakitinya. Sekarang dia mengerti mengapa Ino menangis.

Seperti halnya Ino menerima keputusannya yang kini dia sesali maka dia juga akan menghormati apa yang wanita itu inginkan. Sai Shimura tidak akan lagi muncul dalam kehidupan Ino. Tidak ada lagi jalan bagi mereka untuk bersama dan itu semua karena Sai begitu bodoh tidak menyadari perasaannya saat mereka masih bersama dan kini semua sudah terlambat.

Yuzuyu terkejut melihat tuannya kembali pada tengah malam. Pria itu melempar jacket dan tas nya kemudian mengambil sebotol whisky dari bar. Sai mengunci dirinya di studio. Pria itu duduk di tengah keremangan cahaya lampu dan dengan cepat menghabiskan setengah botol minuman keras. Semakin banyak alcohol dalam tubuhnya semakin berkurang rasa sakitnya. Sai meraih sebuah portrait Ino memandanginya sebentar kemudian melemparkan kanvas itu ke sudut ruangan.

Pria itu mabuk dan dengan langkah terseret dia berhasil menemukan kamar tidurnya. Sai merebahkan dirinya di ranjang teringat malam-malam yang dia habiskan bersama Ino kamar ini. Makian kasar terlontar dari mulutnya. Saat seperti ini dia ingin kembali mati rasa seperti saat dia belum mengenal Yamanaka Ino.

.

.

Ino datang kembali ke Hotel Harusame membawa banyak rangkaian bunga untuk lobby, Restaurant dan Kamar. Berkat Inoichi dan Nama besar Yamanaka Ino berhasil membuat kontrak untuk menjadi supplier bunga di beberapa hotel dan perusahaan. Sebenarnya dia bisa saja menyuruh staffnya melakukan pekerjaan ini tapi Ino berniat untuk menjumpai Hisoka Karasuma.

Telpon di meja Itachi berdering, Pria itu meraih gagang telpon dan mendengar seketarisnya berbicara

"Tuan Karasuma, Seorang wanita bernama Yamanka Ino ingin menemui anda?"

"Persilahkan dia masuk", Itachi bersandar dengan santai di kursinya sambil memainkan pulpen yang dia pegang. Dia berpikir apa yang wanita itu inginkan darinya.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu kantor itachi, Wanita berambut pirang itu muncul dengan mengenakan sundress sewarna matanya dan Khasmir Scraf berwarna ungu tersampir di pundaknya. Wajah nya polos tanpa make up. Hanya seulas lipstick pink mewarnai bibirnya yang tersenyum tipis. Walau itachi adalah pria yang dingin dan tak berperasaan pria itu masih bisa mengapresiasi keindahan dan wanita hamil yang berdiri di hadapannya tergolong mahluk yang indah. Beruntunglah siapapun yang menjadi suami wanita itu.

"Nyonya Yamanaka, Ada apa anda mencari saya?" Ujarnya dengan nada bisnis dan formal.

"Saya mengantarkan supply bunga untuk hotel ini, Sekalian mau mengucapkan terimakasih pada anda" Ino meletakan bunga yang dia bawa di meja kerja Itachi.

"Bunga?"

"Yup, Ini rasa terima kasih saya. Sepertinya bouquet yang saya bawa membuat ruangan anda lebih berwarna" Ino mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tidak ada pernak pernik apapun disana, Semua begitu rapi dan professional. Seperti halnya pria yang duduk di hadapannya. Rambut hitamnya yang panjang terikat rapi, Dia mengenakan setelan jas abu-abu gelap dan dasi berwarna marron. Kemiripan wajahnya dengan Sasuke tidak terbantahkan. Hanya saja Hisoka Karasu terlihat sangat dewasa. Garis-garis di wajahnya tidak mengurangi ketampanan pria itu tapi dari ekspresinya yang stoic dan dingin Ino mengerti pria itu pastinya punya hidup yang sulit.

"Ada lagi yang ingin anda sampaikan pada saya Nyonya?" Itachi tidak ingin berlama-lama membuang-buang waktunya.

"Saya ingin mengajak anda minum kopi" Ujar Ino lugas.

Tidak ada salahnya kan mengajak seseorang berkenalan dan minum kopi. Ino butuh lebih banyak teman atau bahkan menemukan kekasih baru. Bukankah satu cara untuk melupakan patah hati adalah dengan menemukan cinta baru. Lagipula seorang ekstrovert seperti Ino hanya akan bahagia bila banyak orang disekelilingnya. Dia tidak pernah suka sendirian.

Ajakan Ino membuat Itachi heran, "Apa suami anda tidak akan marah anda mengajak pria lain kencan?"

Alis Ino terangkat bingung "Ini bukan kencan Tuan Hisoka, Saya hanya ingin berteman dengan anda. Saya berasal dari Konoha dan baru pindah ke tempat ini tiga bulan yang lalu jadi sedapat mungkin saya ingin membuat sedikit kehidupan sosial. Lagipula saya tinggal sendirian Saya tidak punya suami maupun kekasih"

Itachi mendengar kalimat terakhir diucapkan Ino dengan nada sedih, 'Wanita ini pasti kesepian' pikir Itachi.

"Dan tuan Hisoka anda mirip sekali dengan seseorang yang saya kenal. Namanya Sasuke Uchiha. Mungkin anda pernah mendengar nama itu. Dia adalah Aktor terkenal di Konoha"

Mendengar nama adiknya disebut Itachi menjadi tertarik, dan wanita itu bilang dia kenal Sasuke. Itachi ingin tau seperti apa Sasuke yang telah ditinggalkanya belasan tahun yang lalu. Dia mengikuti perkembangan Sasuke hanya dari berita. Sesunguhnya dia senang Sasuke berhenti dari akademi militer dan menjadi aktor. Itachi pikir adiknya akan menjalani hidup yang berbeda dari para leluhur Uchihanya yang tidak jauh-jauh dari kekuatan, senjata dan pertempuran tapi ternyata adiknya malah menjadi penjahat.

"Kau mengenal Aktor terkenal? Koneksimu pasti luar biasa" Itachi memancing Ino untuk berbicara lebih jauh.

"Tidak Juga tuan Hisoka, Kebetulan Saya dan Sasuke bekerja di bidang yang sama jadi kami kenal" Ino memberikan jawaban vague. Dia tidak ingin Hisoka tau lebih banyak tentang masa lalunya.

"Baiklah Nona Yamanaka" Itachi mengkoreksi panggilannya "Bagaimana kalo besok jam tiga sore kita bertemu di Café dekat lobby?" Itachi yang praktis dan pragmatic berpikir mungkin dia bisa memperoleh sesuatu dari Ino. Paling tidak informasi tentang karakter Sasuke.

Senyum Ino mengembang "Sampai jumpa besok tuan Hisoka" Ino pergi meninggalkan kantor Itachi dengan riang.

.

.

Di sebuah Villa yang indah terletak di pinggir danau desa otogakure. Sasuke duduk di beranda menikmati hangatnya musim semi sambil menggosok senjatanya. Pemandangan yang damai itu tidak bisa menenangkan pikiran chaotic si bungsu Uchiha. Sasuke merasa bosan sudah tiga bulan dia tidak melakukan apa-apa. Tobi memintanya untuk bersembunyi sampai pria itu membuat rencana baru.

Sasuke menembakan pistolnya pada sekumpulan bebek liar yang berenang di danau. Dia kesal karena rencananya membunuh Itachi harus tertunda dan itu semua karena Tobi. Sasuke membenci pria bertopeng itu. Dia sama sekali tidak memenuhi janjinya untuk membawa Sasuke pada kakaknya. Sasuke malah merasa dijadikan tawanan oleh Tobi. Bagaimana tidak Dia diminta untuk tinggal disini dan dijaga dengan ketat oleh pasukan Akatsuki.

Sekarang Sasuke tahu dia bisa menemukan Itachi di Kota Ame. Tapi bagaimana caranya untuk kesana tanpa menyingung Tobi. Sasuke bisa saja membunuh para pengawal itu dan kabur tapi itu artinya dia akan membuat Tobi marah. Sasuke enggan membuat musuh yang tidak perlu apalagi bermusuhan dengan pria yang menurutnya gila dan berbahaya. Sasuke menimbang-nimbang senjatanya sambil berpikir mungkin yang perlu dia lakukan hanya bersabar dan menunggu kesempatan. Itachi tidak akan lari kemana-mana.

.

.

Seperti janjinya Hisoka muncul di café jam tiga tepat. Ino meminum coklat panas yang tadi dia pesan. Ino menyapanya dengan senyuman yang hanya dibalas pria itu dengan anggukan. Satu lagi yang Ino sadari, Hisoka Karasu tidak pernah tersenyum. Bila Sai selalu mencoba tersenyum dan terlihat ramah maka pria di depannya memancarkan aura intimidatif yang membuat orang lain mengerti pria itu tidak untuk didekati.

Itachi meletakkan tas kerjanya di kursi yang kosong dan duduk di menghadap Yamanaka Ino. Dia memesan secangkir kopi hitam.

"Jadi apa yang seorang artis terkenal konoha lakukan di Ame?"

Ino tersenyum tipis "Jadi kau sudah mengetahui siapa aku?"

"Bila kau sedang dalam persembunyian kau melakukan kesalahan fatal dengan tetap menggunakan nama aslimu"

"Aku hanya berpikir tidak seorangpun akan mengenaliku disini, Siapa yang peduli dengan celebrity Kota sebelah"

"Kau benar, Aku hanya punya kebiasaan mengecek latar belakang orang yang diassosiasikan denganku. Lebih baik aku tahu dengan siapa aku bicara"

"Kau terdengar paranoid Hisoka" Ino menyingkirkan formalitas dengan berhenti menyebutnya tuan "Jadi apa kau juga punya rahasia?" Lanjut Ino mencemooh pria berambut hitam itu.

Itachi berkedip dan berbohong dengan lancar "Tidak sama sekali"

"Begitu?" Ino berguman tidak percaya.

"Jadi Ino Yamanaka apa yang membawamu ke Ame?" Itachi menyempatkan diri mencari informasi tentang wanita itu dan saat ini kolom gossip majalah konoha dipenuhi spekulasi soal hilangnya sang artis setelah pertunangannya kandas. Yang membuat Itachi menaikkan alis adalah berita pertunangan wanita itu dengan Sai Shimura. Itachi tidak mengenal Sai yang dia tembak beberapa waktu yang lalu secara personal tapi dia ingat dengan remaja seusia Sasuke yang selalu mengikuti Danzo. Anak angkat atasannya itu selalu diam tanpa ekspresi dan hanya bertindak bila Danzo memerintahkannya. Sebuah misteri bagi Itachi bagaimana Sai yang seorang agen rahasia sampai melanggar kode etik dengan membuat dirinya menjadi semacam selebritis.

"Aku kemari menghindari Media"

"Ah, Kau menyembunyikan diri karena kehamilanmu?"

"Aku tidak ingin jadi beban untuk keluargaku bila aku masih di konoha. Dan aku juga tidak ingin ayah anak ini tahu. Pria itu sudah punya banyak masalah dalam hidupnya"

Itachi mengerti, Hidup sebagai mata-mata jauh dari kebahagiaan. Mereka tidak bisa punya ikatan dengan siapapun. Hidup dalam kesendirian dan kesepian seperti yang dia alami lima belas tahun terakhir. Setiap saat dia dihantui hari tatapan tidak percaya dan kecewa Sasuke yang menyaksikan dia menembak orang tua mereka. Tapi tugas adalah tugas, Cintanya pada kedamaian jauh lebih besar dari cintanya pada keluarga sendiri. Sebuah pilihan yang sangat berat.

Sai tentunya juga harus memilih antara Ino dan tugasnya. Memang sepertinya tidak ada kata bahagia untuk orang-orang seperti mereka. Bahkan bisa dibilang mereka adalah manusia-manusia cacat mental dengan kapasistas emosi nyaris tidak ada. Apa yang mereka alami membuat mereka menutup dan membunuh perasaan mereka. 'Tidak ada yang bisa menyakitimu bila kau tidak merasakan' Itachi memperhatikan ekspresi wajah lawan bicaranya. Mata aquamarine Ino terlihat sendu, Sudah jelas wanita itu merasa kesepian tapi Itachi tidak bisa menolongnya karena dia sendiri juga mengalami hal yang sama.

Pertemuan mereka tidak berlangsung lama. Selama setengah jam hanya Ino yang berbicara. Tidak sedikitpun pria itu bercerita tentang dirinya. Dia tidak mengerti mengapa lebih mudah membicarakan masalahanya dengan orang asing dari pada sahabatnya sendiri. Ino tidak memberitahu Shikamaru, Choji maupun Sakura soal kehamilannya dan lagi-lagi Ino merasa dia mencari sosok Sai Shimura dalam diri Hisoka Karasuma. Dalam beberapa hal mereka begitu mirip.

Sejak saat itu Itachi terkadang bertemu Ino hanya untuk bercakap-cakap, Secara teknis Ino yang selalu berbicara dan dia hanya mendengarkan cerita wanita itu. Itachi tidak mengerti mengapa dia membuang-buang waktunya untuk hal-hal tak penting seperti bertemu Yamanaka Ino tapi wanita itu membuat Itachi sedikit relax dan melupakan sejenak pekerjaanya yang begitu banyak. Kini wanita itu terlihat lebih ceria walaupun tiap kali ia membicarakan bayinya wajahnya kembali mendung.

.

.

Ino dan staffnya baru saja mengantarkan bunga ke Hotel dan Ino menyempatkan diri untuk menyapa Hisoka karena pria itu sering sibuk dan keluar kota mereka jadi jarang bertemu. Perutnya yang sudah sangat besar membuatnya sulit bergerak dan Ayame sudah memintanya untuk berisirahat dan mengurangi kegiatan.

Dia dijadwalkan melahirkan bulan depan. Ayah dan Ibunya kini semakin sering mengunjunginya Ino merasa tidak enak tapi dia tidak bisa melarang orang tuanya untuk khawatir. Mereka senang akan mendapatkan seorang cucu laki-laki dan membantu Ino untuk memilihkan nama.

Wanita itu kepikiran dengan sahabatnya Sakura, selama delapan bulan dia tidak menghubungi wanita berambut pink. Sakura pasti akan marah padanya. Ino mengambil ponselnya dan mencari nomor Sakura.

"Moshi-Moshi" terdengar suara menyapa

"Hey gidat, Kau masih mengingatku?" Ino memangil Sakura dengan nama julukannya

"Ino pig, Kau masih hidup. Mengapa baru sekarang kau mengontakku" Sakura terdengar tidak percaya

"Panjang ceritanya, Aku sekarang tingal di ame dan membuka toko bunga, Kau sendiri bagaimana?"

"Aku kembali melanjutkan studi kedokteranku, Kapan kau akan kembali ke Konoha? Aku merindukanmu Dunia begitu hambar tanpa persaingan kita" Ucap Sakura bercanda

"Aku belum tahu, Tapi bila kau ada waktu datanglah ke ame. Kau akan terkejut melihatku. Bukankah sedikit terlambat untuk melanjutkan studimu Sakura?"

"Tidak ada kata terlambat Ino, Lagipula aku jenius"

"Ngomong-ngomong bagaimana dengan kisah cintamu? Sudah pindah ke lain hati?"

"Hm…Sebenarnya aku sedang mengencani adik temari" Sakura mengatakannya dengan malu-malu

"Apa Kau berkencan dengan Sabaku Gaara? Aku tidak percaya. Adik Temari itu sedingin es"

"Walaupun begitu Ino. Dia sangat baik dan perhatian"

"Oke..Oke.. aku percaya. Sekarang kau terdengar seperti orang yang jatuh cinta"

"Kau sendiri bagaimana Ino, Ada pria yang dekat denganmu?"

Ino berjalan menuju mobilnya sambil menelpon sementara hujan mulai jatuh rintik-rintik. Pertanyaan Sakura membuat Ino memikirkan Hisoka. Dia hanya mengenal dua orang laki-laki di Ame, Yahiko yang sudah bertunangan dengan Konan dan Hisoka pria yang kadang dia temui tapi mereka tidak begitu dekat.

"Hm.. Mungkin, Aku tidak tahu"

"Ino, Kau tidak ingin tahu kabar tentang Sai?" Sakura bertanya. Wanita berambut pink itu heran mengapa Ino tidak menanyakan soal Sai, Apa Ino sudah melupakan pria itu.

"Oh, Aku tidak perduli lagi tentang dia" Jawab Ino acuh.

"Benar? Kalau begitu berita kematiannya tidak akan mempengaruhimu kalau begitu"

"Apa maksudmu?" Ino mulai merasa panik

"Ino, Sai meninggal dalam kecelakaan empat bulan yang lalu"

"Bohong?" Tangan Ino mulai gemetar

"Kau cari saja beritanya sendiri Ino, Kau pasti akan menemukan artikelnya di Internet"

Ino langsung memutus sambungan telpon dan membrowsing nama Sai Shimura. Benar saja dia melihat banyak artikel tentang pria itu.

.

"Pelukis terkenal Sai Shimura meninggal dalam kecelakaan"

Sai Shimura (30th) Seorang pelukis terkenal meninggal dalam kecelakaan, Mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan dan masuk ke jurang. Berbagai spekulasi menghiasi kematiannya termasuk dugaan bunuh diri. Pelukis eksentrik yang biasanya begitu low profile tiba-tiba mengumumkan pertunangannya dengan Aktris Yamanaka Ino. Mereka mengumbar kemesraan di publik akan tetapi Kemesraan mereka tidak berlangsung lama karena Sang Aktris secara misterius menghilang. Apakah dugaan Sai Shimura depresi karena ditinggal tunangannya itu benar? tidak ada yang bisa membuktikannya.

Ino tidak membaca lanjutan artikel tersebut. Tangan wanita itu gemetar dan dia menjatuhkan ponselnya. Mengapa Ayahnya tidak memberitahu Ino soal ini. Ino merasa dingin dan mati pelan-pelan. Dia tidak tahu Sai masih bisa mempengaruhinya seperti ini. Bukankah dia sudah melupakan pria itu. Ino tidak menyadari hujan lebat sudah turun dan membasahinya. Wanita itu mematung di tempatnya.

Itachi keluar dari Lobby membuka payungnya, Pekerjaanya sudah beres untuk hari ini tapi dia perlu menghubungi Kakashi. Konoha sudah memutuskan akan menyerang langsung markas Akatsuki. Ini akan menjadi perang besar dengan kelompok terrorist itu. Lalu dia melihat Ino berdiri mematung di tengah hujan.

Itachi berjalan mendekati wanita itu. Itachi bisa melihat Ino sedang Shock "Ino apa yang kau lakukan?, Kau bisa sakit kehujanan begini" Itachi memayungi wanita berambut pirang yang sudah basah kuyup itu.

Mendengar suara seseorang memanggilnya Ino tersadar. Dia butuh pegangan dia butuh seseorang untuk membuatnya merasa hidup, Dia menatap mata hitam Itachi dan memeluk pria itu tanpa perduli dia membuat pakian Itachi basah. Lalu Ino menangis meluapkan emosinya. Itachi terkejut dengan rekasi wanita itu. Tapi dia dia tidak melakukan apa-apa dan membiarkannya. Yamanka Ino memeluk Itachi Uchiha di tengah hujan dan dalam dukanya dia mencium pria itu.

.

.

Tobi tiba di Desa Oto, Sekarang saatnya dia mengerakkan semua pion-pionnya. Saat pembalasan dendam dan penghancuran sudah dekat. Pria dengan topeng spiral itu mencari Sasuke.

"Sasuke Uchiha, Sudah tiba saatnya bagimu untuk membalas dendam"

"Kau terlalu lama Tobi, Aku hampir karatan menunggu perintah darimu. Selama delapan bulan kau menyuruhku melatih pasukanmu sungguh membosankan"

"Maafkan aku kawan, tapi aku lebih suka menyerang mereka ketika mereka mulai lengah dan semua persiapan butuh waktu lama"

"Jadi apa rencanamu?" Tanya Sasuke.

Tobi melemparkan selembar photo ke atas meja yang kemudian di ambil Sasuke.

"Yamanka Ino ?"

Tobi bersedekap dan bersandar di dinding "Wanita itu terlihat sering bersama Itachi, Kau culik wanita itu dan bawa dia ke konoha. Kau bereskan Itachi sendiri dan aku mengurus sisanya. Kita akan selesaikan semua disana"

Sasuke tersenyum sinis. Dia tidak perduli rencana Tobi. Yang paling penting untuknya hanya membalas dendam pada Itachi.

.

.

Ino sedang tertidur lelap dan dia terbangun karena suara gemertak di jendelanya. Saat Ino membuka mata ujung pistol sudah mengarah di wajahnya. Lidahnya kelu dia tidak bisa bersuara dan merasa terancam. 'Bagaimana pencuri bisa masuk ke kamarnya?'

Ino melihat jendela terbuka dan kordennya berkibar-kibar tertiup angin. Ino beringsut duduk menyandar di bantalnya. Pistol itu masih tidak bergerak dari wajahnya. Sang pencuri masih diam saja. Dalam keremangan Ino bisa melihat sosok pria yang menodongkan pistol ke arahnya. Dan seketika Ino menemukan suaranya kembali

"Sasuke Uchiha?"

"Yamanaka Ino jangan melawan, Kau ikut denganku ke Konoha"

"Apa yang kau inginkan dariku?" Ino bertanya

"Tidak ada, Tapi karena kau sepertinya dekat dengan kakakku aku jadi terpaksa melibatkan mu"

"Kakakmu?" Ino kebingungan.

Sudut mulut Sasuke terangkat "Jadi kau tidak tahu. Hisoka Karasuma adalah Itachi Uchiha. Pria yang membunuh orang tua kandungnya sendiri"

Ino terkejut, Pantas saja mereka begitu mirip. Bukankah Itachi seorang buronan.

"Menurutlah, dan Aku tidak akan menyakitimu"

Ino tidak punya banyak pilihan lebih baik dia menuruti Sasuke "Baiklah aku akan ikut denganmu, tapi biarkan aku berganti pakian"

Sasuke mengangguk dan membiarkan wanita itu turun dari tempat tidurnya, Sasuke mengamati Ino yang menganti piyamanya

"Apa itu anak Itachi?, Seleramu pada laki-laki sungguh aneh Yamanaka. Kau mengejar-ngejarku lalu bertunangan dengan Shimura. Lalu sekarang affair dengan Itachi"

"Bukan urusanmu Sasuke" Jawab wanita itu ketus.

Sasuke menyeret Ino keluar lewat pintu dan wanita itu sama sekali tidak membuat suara. Dia tidak ingin membangunkan Ayame. Tiba di pinggir jalan Sasuke membuka pintu mobilnya dan memaksa Ino masuk. Wanita itu menurut dan berdoa dia dan bayinya akan baik-baik saja.

.

.

Itachi masuk keruangannya dan menemukan secarik kertas di atas meja, Dia membaca dan kemudian meremas kertas itu. Ino dalam bahaya. Itachi langsung menghubungi Kakashi Hatake. Serangan Akatsuki akan dimulai lagi dan lagi-lagi mereka menyandera orang tidak berdosa. Mengapa Sasuke menculik Ino. Itachi tidak mengerti sama sekali

.

To be Continued...


A/N : Dear Pembaca sekalian yang masih setia mengikuti cerita ini. tinggal satu atau dua chapter lagi cerita ini akan tamat, jadi author membuat banyak time skip kali ini.

terima kasih banyak pada pembaca yang memberikan review. review kalian menjadi mood booster buat saya. Saya tunggu comment kalian..