Chapter 4: Teman dan klub baru
A/N: Cast milik Tuhan, orangtua dan agensi mereka. Maaf kalau ada typo atau kesalahan dalam bentuk apapun, kesalahan hal yang manusiawi.
Ini adalah BoyxBoy(Yaoi). Yang tidak suka atau merasa jijik bisa tinggalkan laman.
Happy Reading
.
.
.
Jimin berjalan menyusuri koridor sekolahnya, sebuah kertas tergenggam dalam tangannya. Setelah berdiskusi dengan Papa dan teman-temannya, Jimin memutuskan untuk mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Walau Jimin tidak begitu mengerti tentang dunia jurnalis, setidaknya jika ia memiliki keyakinan dan keinginan, itu akan membuat semuanya terasa lebih ringan. Tulisan yang tertempel di setiap pintu ia baca dengan seksama, berharap ia segera menemukan sebuah ruangan bertuliskan 'klub jurnalistik'.
"Aish, kenapa sekolah ini begitu besar? Mencari ruangan saja sampai sesulit ini." Rengek Jimin. Ia sudah mencari semenjak lima belas menit yang lalu, tapi ia belum dapat menemukan ruangan klub tersebut.
"Park Jimin?"
Jimin menghentikkan langkahnya saat seseorang memanggil namanya, ia membalikkan badan untuk melihat siapa sang pemanggil. Saat mereka bertatap muka, sontak Jimin berlari dan memeluk namja tersebut.
"Aaaa~ Aku tidak menyangka kita bertemu lagi~! Kenapa aku baru tahu kita satu sekolah!?" Jimin bergerak senang ke kanan dan ke kiri dalam pelukan mereka, membuat namja yang dipeluknya berusaha keras untuk menghentikan aksi kekanakan Jimin.
"Jangan bertingkah seperti bocah! Aku tidak mau jatuh dengan berada di bawahmu." Ia mendorong Jimin agar melepas pelukan mereka.
"Hehe~ Maafkan aku, Seungcheol-ah." Jimin tersenyum polos dengan lebarnya, membuat obsidian hitamnya menghilang, "Tapi kau benar Seungcheol, 'kan? Choi Seungcheol?" Jimin bertanya, memastikan bahwa apa yang ia lihat di depan matanya adalah nyata.
"Ck, lalu kau pikir yang berada di depanmu ini siapa? Arwahku? Aku belum mati asal kau tahu." Jawab Seungcheol sarkastis.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jimin.
"Aku baru saja dari ruangan klub-ku. Kau sendiri sedang apa disini?" Seungcheol melirik pada kertas yang Jimin bawa, "Kau berniat mendaftar ekstrakurikuler? Apa kau ingin bergabung dengan klub Taekwondo sekolah kita?" Seungcheol memegang kedua bahu Jimin, matanya menatap penuh harap pada Jimin yang sedang tersenyum kecil.
"Sini formulirnya! Kau tahu? Aku adalah ketua klub, bukankah itu terdengar keren?" Bangga Seungcheol, membuat Jimin tertawa geli, "Terdengar mustahil." Tanggapnya.
"Hei! Jangan begitu! Sebentar lagi kau akan menjadi anggota klub—Jurnalistik?" Seungcheol melambatkan ucapannya, lalu menatap Jimin bingung.
"Apa maksudnya ini?"
"Apa? Itu adalah formulir pendaftaran anggota baru." Kata Jimin santai.
"Tapi setahuku, Formulir klub-ku tidak berlogo seperti ini." Jawab Seungcheol linglung, membuat Jimin tertawa gemas.
"Apa aku bilang aku akan bergabung dengan klub-mu?" Tanya Jimin pada Seungcheol, "Tidak, 'kan? Aku akan bergabung dengan klub jurnalistik. Kau tahu dimana ruangan mereka?"
"Aku tahu. Aku akan mengantarmu." Seungcheol menarik tangan Jimin agar mengikutinya, sementara Jimin mengikuti dalam diam.
"Kenapa kau tidak bergabung dengan klub kami, Jim?" Seungcheol bertanya tanpa menghentikan langkahnya ataupun menatap Jimin.
"Jangan berlagak kau tidak tahu. Papa-ku tidak mengizinkan." Jawab Jimin tenang, berbanding terbalik dengan matanya yang memancarkan kesedihan.
"Cheol-ah."
"Wae?"
"Apa boleh aku datang setiap klub kalian berlatih? Aku ingin melihat hal yang aku sukai, setidaknya itu bisa mengobati kerinduan-ku." Jimin berucap sendu, pandangannya ia tujukan pada sepatunya yang melangkah mengikuti kemana Seungcheol pergi.
Seungcheol melepas genggamannya pada Jimin, menghentikkan langkahnya dan berbalik menatap Jimin. Jimin refleks mengangkat kepalanya dan balik menatapnya, menunggu namja Choi itu bersuara.
"Jim, apa kau harus meminta izin hanya untuk melihat klub kami? Semua orang yang ingin datang dan melihat tidak perlu izin. Jadi datanglah, aku akan menunggumu." Jawab Seungcheol dengan tersenyum damai pada Jimin. Membuat Jimin mengangguk dan membalas senyumnya dengan lebih lebar.
"Nah, masuklah. Aku akan menunggumu disini dan mengantarmu kembali ke kelas."
.
.
.
"Taehyung! Disini!" Namja dengan wajah ceria memanggil Taehyung, membuat sang pemilik nama bergegas mendekati teman-temannya dan duduk disamping si magnae.
"Kenapa sendiri? Dimana Jiminie?" Bocah dengan gigi kelinci bertanya, menghentikan sebentar acara makannya.
"Ia sedang memberikan formulir anggota baru klub jurnalistik. Juga, Jimin Hyung bukan Jiminie, Kook . Dia lebih tua darimu." Ingat Taehyung malas, pasalnya ia dan yang lain sudah bosan mengingatkan Jungkook untuk menambahkan kata 'Hyung' saat memanggil Jimin, namun tetap saja ia keras kepala.
"Tapi aku lebih tinggi darinya, lagipula ia tidak terlihat seperti seorang Hyung." Jawab Jungkook cuek, jawaban sama yang selalu ia berikan saat mendebatkan hal ini.
"Apa dia sudah yakin dengan pilihannya?" Tanya Jin, "Aku takut ia menjadi terbebani dan tertekan karena mengikuti ekstrakurikuler yang bukan pilihannya."
"Aku juga, Hyung. Apalagi Jiminie 'kan orang yang pemalu." Hoseok mengangguk setuju dengan perkataan Jin. Hoseok ingat saat pertama kali Taehyung mengenalkan mereka kepada Jimin. Saat itu Jimin hanya mengucapkan namanya, dan bersembunyi dibalik punggung Taehyung. Ia menunduk dalam dengan tangan yang memegang jas sekolah Taehyung dengan erat, terlihat jelas bahwa ia gugup dan malu. Tapi syukurlah, karena akhirnya mereka bisa se-akrab ini.
"Percaya saja pada Jiminie, ia punya semangat agar tidak mudah menyerah pada sesuatu." Perkataan Taehyung sedikitnya menenangkan mereka semua, dan akhirnya kembali sibuk dengan makanan mereka masing-masing.
"Halo Hyungie, Taetae, Kookie~"
Mereka semua mengangkat kepala mereka dan dapat mereka lihat namja berpipi chubby dengan senyum lebar melambai pada mereka.
"Ah, Jiminie~ duduklah." Jin tersenyum pada Jimin dan menepuk sisi kosong disampingnya.
"Seungcheol-ah, kau ikut makan bersama kami, ya?" Bukan duduk, Jimin malah bertanya pada seseorang dibelakangnya. Membuat mereka yang berada di meja tersebut mengalihkan perhatiannya pada seseorang dibelakang Jimin.
"Oh, annyeong Seungcheol Hyung." Jungkook menyapa paling awal, dan yang lain melemparkan tatapan bertanya pada Jungkook, "Dia ketua klub taekwondo, Hyung. Choi Seungcheol." Jelas Jungkook, yang dibalas dengan anggukan paham dari para Hyung-nya.
"Hai, Kook." Seungcheol membalas sapaan Jungkook dengan senyum. "Aku tidak tahu ternyata kau mengenal Seungcheol Hyung, Jim." Mata Jungkook melirik pada Jimin dan Seungcheol bergantian.
"Teman lama yang baru bertemu lagi." Jawab Jimin. Ia sibuk menarik Seungcheol agar duduk disamping Jin dan berpamitan untuk memesan sesuatu untuknya dan Seungcheol.
"Jadi kau teman Jiminie? Bagaimana bisa? Kalian berkenalan dimana? Apa kalian sangat dekat?" Taehyung merapatkan tubuhnya dengan meja, lalu menatap Seungcheol penasaran. Tentu saja itu membuat Seungcheol merasa risih dan hanya mengelus lehernya canggung.
"Apa kau kekasihnya?"
Taehyung menjadi blank.
"A-apa?"
"Apa kau kekasihnya? Kau terlihat seperti seorang namja yang takut seseorang merebut kekasihnya." Canda Seungcheol, yang sekarang malah membuat Taehyung tersenyum malu.
.
.
Bel pulang sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu, membuat keadaan SMA Chung Il berangsur-angsur sepi. Namun bukan berarti semua siswanya sudah kembali menuju rumah masing-masing, karena ada beberapa siswa yang masih bertahan disekolah untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler yang mereka ikuti, salah satunya adalah Jimin.
Ia berdiri di depan ruangan klub jurnalistik, menunggu para anggotanya yang belum ia ketahui siapa saja dan berapa banyak. Ia sebenarnya sangat gugup saat ini mengingat bahwa ia orang yang pemalu dengan orang-orang baru. Tapi ia ingat perkataan Taehyung bahwa ia harus menjadi seorang yang pemberani, dengan begitu ia akan cepat bergaul dan mendapat banyak teman. Mengingat perkataan teman alien-nya itu membuat Jimin merindukan Taehyung.
"Sepertinya aku akan menginap dirumah Taetae malam ini." Kata Jimin tersenyum tipis, melupakan kegugupannya menghadapi teman baru di klub nanti.
"Permisi? Apakah kau Park Jimin?"
"Omo!" Jimin terlonjak kaget saat tiba-tiba saja seorang namja bertanya tepat disampingnya, membuat namja tersebut terkikik akan reaksi kaget Jimin yang menurutnya lucu.
"Maaf. Sepertinya aku membuatmu kaget, apa kau baik-baik saja?" Tanyanya ramah setelah menghentikan acara cekikikannya.
"Ya, aku baik-baik saja. Annyeong, aku Park Jimin, calon anggota baru klub jurnalistik." Jimin membungkuk dengan semangat, membuatnya hampir saja terjungkal kedepan jika namja dihadapannya tidak menahan Jimin.
"Hati-hati, Jimin-ssi. Kau ini, ceroboh sekali." Ia kembali tertawa kecil karena kelakuan Jimin, "Aku Yoon Jeonghan. Ketua klub jurnalistik. Kau tidak perlu sungkan ya padaku? Kalau kau butuh sesuatu kau bisa bertanya padaku atau anggota lainnya." Jelas namja yang mengenalkan dirinya dengan nama Jeonghan.
"Ah tentu, terimakasih Jeonghan-ssi." Jimin tersenyum manis pada Jeonghan.
"Cukup panggil aku Jeonghan, kita seumuran. Aku sudah membaca profilmu."
"Baiklah, terimakasih Jeonghanie." Jimin sedikit membungkuk dan tersenyum lebih lebar.
"Ayo masuklah! Yang lain akan datang lima menit lagi." Jeonghan menarik Jimin agar memasuki ruangan klub mereka, ia menaruh tasnya diatas meja dan duduk disalah satu bangku. Jeonghan menatap Jimin yang hanya berdiri diam di dekat pintu masuk, membuat Jeonghan lagi-lagi berpikir bahwa Jimin sangat lucu dan polos.
"Kenapa kau kaku sekali? Kau bisa duduk, Jiminie."
"Eh? Maaf, aku hanya sedikit canggung." Jimin memilih duduk disamping Jeonghan dan mulai bertanya seputar klub mereka, "Berapa banyak anggota klub ini?" Tanyanya, memusatkan penuh perhatian pada Jeonghan.
"Tidak sebanyak klub lainnya, kita hanya memiliki dua puluh anggota." Kata Jeonghan.
"Benarkah? Itu menyenangkan!" Jimin menepuk tangannya dengan antusias, membuat Jeonghan mengernyit bingung, "Maksudmu?"
"Menyenangkan karena tidak terlalu banyak orang." Jawab Jimin disertai senyum lebarnya.
"Sebenarnya yang aktif hanya dua belas orang. Menyedihkan bukan?" Tanya Jeonghan.
"Aniya," Jimin menggeleng, "Yang terpenting bukan berapa banyak anggotanya, tapi berapa banyak ke-kompakkan yang bisa klub ini bangun."
"Kau benar, Jiminie." Jeonghan mengacak rambut Jimin, dibalas dengan suara rengekan Jimin yang seperti anak kecil karena tidak terima rambutnya berantakan.
"Sebentar lagi aku akan mengenalkan anggota lainnya padamu. Mereka semua baik dan ramah, jadi kau tenang saja karena kau akan mudah untuk beradaptasi baik dengan mereka ataupun dengan lingkungan klub kami." Kali ini Jeonghan mencubit pipi Jimin yang berisi dengan gemas membuat Jimin kembali mengeluarkan rengekannya, "Jeonghan-ah, berhenti~"
"Selamat datang ke klub kami, Jiminie~! Semoga kau bertahan dengan klub ini dan semoga kau dengan mudah beradaptasi, ya? Bagaimanapun juga kenyamanan dalam lingkungan sekitarmu itu penting." Kata Jeonghan, yang sekarang makin gemas menekan-nekan pipi Jimin.
"Terimakasih, Jeonghan-ah. Aku mohon bantuanmu dan anggota yang lainnya, karena aku tahu mungkin aku akan banyak menyusahkan kalian." Jimin tertawa kecil akibat ucapannya sendiri.
"Tentu, Jiminie~ Jangan sungkan, oke? Aku akan membantu mu selagi aku mampu." Jeonghan tersenyum dewasa pada Jimin. Senyuman yang membuat Jimin merasa nyaman, senyuman yang membuatnya mengingat sosok ibunya, sama seperti senyuman Kim Seokjin.
"Nah, sekarang—" Jeonghan menghentikan kalimatnya, berusaha bersikap misterius dihadapan Jimin.
"Kenapa?" Tanya Jimin bingung.
"Aku akan mencubiti dulu pipi-mu yang gembil itu, Jiminie~! Kemari~!"
"AH, ANDWAE~!"
.
.
.
TBC
Makasih banyak buat yang udah me-review, mem-follow atau mem-favorite cerita ini. Makasih banyak juga untuk yang membaca walau tidak me-review ataupun yang lainnya. Maaf, karena engga membalas review kalian, bukan maksudnya saya sombong atau gimana, ya hehe~
Saya biasanya membalas review di wp hehe, ada yang mau bertanya? Silahkan pm saja^^ Annyeong^^
