Disclaimer : All characters belong to Masashi Kishimoto

.


Under The Spot Light

Sai & Ino Story

.

.

EPILOG

.

.

Ino menatap ke luar jendela, memandang hijaunya hutan di tengah musim panas. Angin semilir yang berhembus membuat korden tipis di ruangan itu menari-nari . Rumah ini selalu sunyi tapi kini dia tidak lagi takut dengan kesunyian.

Ino tersenyum melihat puluhan portrait dirinya memenuhi dinding ruangan ini, sepertinya Sai memang terobsesi padanya. Studio Sai berbau cat dan tinta meskipun Yuzuyu selalu membersihkanya. Ruangan yang menjadi tempat favorite Sai kini Juga menjadi tempat favoritenya. Terkadang dia bisa duduk berjam-jam menatap lukisan-lukisan karya Sai atau melihat pemandangan hutan yang berganti setiap musim.

Lima tahun berlalu. Tidak ada lagi yang mengingat Yamanaka Ino sebagai Artis penuh skandal. Dia kini mengurusi bisnis keluarganya dan sibuk membesarkan putranya . Ino menghirup aroma yang tertinggal di ruangan itu. Matanya mentap kanvas besar yang masih terjepit di papan easel . Sai melukis portrait mereka berdua bergandengan tangan tapi lukisan itu belum selesai Sai tak pernah pintar berbicara, tapi lukisan dan pengorbanannya sudah cukup membuat Ino paham seberapa besar cinta pria itu padanya dan Ino sangat mencintainya.

"Mama, Lihat aku menggambar bunga untukmu" Putranya memberikan selembar kertas yang penuh dengan coretan warna-warni khas anak-anak.

"Terima kasih Inojin, ini indah sekali" Wanita itu tersenyum. Putranya semakin hari semakin mirip dengan sang ayah. Bahkan bakat seni pun mengalir di darahnya. Bocah itu tersenyum lebar. Senang melihat ibunya bahagia

"Inojin nanti kau ikut mama dan papa pergi ya"

"kemana?"

"Aku ingin kau menemui seseorang"

Setelah Tobi tewas kehidupan di Konoha kembali damai. Kelompok Akatsuki tidak lagi pernah muncul. Hari itu puluhan orang meninggal termasuk Sasuke dan Kakashi Hatake. Konoha mengenangnya sebagai black tuesday

Sakura bersedih berbulan-bulan lamanya mengetahui cinta pertamanya tewas. Tapi dia menemukan cinta baru dalam sosok Sabaku Gaara. Ino harus merelakan sahabatnya itu pindah ke Suna setelah dia menikahi adik Temari itu.

Melewati trauma bersama Naruto dan Hinata pun mengikat janji sehidup semati. Mereka telah memiliki dua orang anak dan hidup berbahagia. Pria berambut pirang yang dulu selebor dan serampangan kini karirnya melesat di dunia politik. Hanya tinggal menunggu waktu Naruto akan menjadi pemimpin Konoha.

"Nyonya, Sudah saatnya" Yuzuyu memanggil mereka.

"Ok, Kita berangkat. Inojin kau panggil papa ya"

Bocah lima tahun itu segera mencari ayahnya yang duduk menunggu di ruang tamu. Ino mengambil bouquet bunga lily putih dari atas meja. Dan mereka pun pergi.

.

.

.

Ino bersimpuh meletakan bouquet Lily yang dia gengam dan tersenyum sendu "Sai, kau suka bunga ini?, Sudah lima tahun ya sejak hari itu tapi aku masih mencintaimu. Jangan khawatir Sai aku bahagia"

Ino menempelkan dahinya pada permukaan yang pucat dan dingin tangan nya menelusuri relief berwarna keemasan air matanya menetes. Mengapa nasib begitu kejam pada mereka.

"Apa kau merindukan aku disana" Ino berkata dengan terisak "Karena aku merindukanmu"

"Mama…Mama" Bocah lelaki berambut pirang dengan mata Aquamarine berlari ke arahnya "Mengapa kau menangis"

"Mama tidak apa-apa Inojin" Wanita itu memeluk anaknya "Sai, Kau lihat Inojin sudah besar dan dia terlihat seperti dirimu. Dia juga suka melukis"

Bocah itu binggung dengan siapa mamanya bicara. "Mama ini makam siapa?"

"Ini makam papa-mu, Ayo Inojin beri salam" Bocah itu semakin bingung

"Papa kan masih di mobil?"

"Nanti Mama akan cerita tentang papa mu yang satu lagi" Ujar wanita berambut pirang itu mengelus rambut anaknya.

Seorang datang pria merangkul bahu Ino "Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja Itachi, terima kasih sudah menemaniku selama ini" Ino bersandar di bahunya.

"Sai memintaku untuk menjagamu"

"Itachi, Aku tidak akan pernah bisa berhenti mencintai Sai"

"Aku mengerti Ino dan Aku juga tidak akan pernah menyuruhmu berhenti mengenangnya"

.

.

They that love beyond the world cannot be separated by it.

Death cannot kill what never dies.

William Penn

.

"Kematian mengakhiri kebersamaan tapi tidak mengakhiri cinta seseorang"


A/N : Dear pembaca tolong jangan lempar sandal pada saya.

Saya mengerti nasib Sai begitu tragis, tapi mau bagaimana lagi saya tidak bisa membuat Sai selamat karena tidak realistis setelah mengalami pendarahan di atas 20 menit dia masih hidup. Meskipun begitu paling tidak Sai sudah meraih impiannya untuk bisa merasakan emosi walau sangat singkat. Dan Ino meskipun ditinggalkan Sai dia masih punya Inojin bukti cinta mereka.

Lain kali saya buat fic yang happy ending...

Thank you...