Disclaimer © Masashi Kishimoto
(π_π)
.
.
.
(*-*)
.
Entah kenapa Sakura merasa dia harus selalu bergerak lebih cepat. Seolah bahaya mengintainya dan dapat menangkapnya kapanpun. Kepala gadis itu tak berhenti menoleh ke sana kemari dengan waspada disela-sela langkah cepatnya menuju cerukan tempat ranselnya berada.
"Oh ini tidak bagus. Apa aku mulai mengidap anxiety disorder?" Gumam Sakura gugup.
Sesampainya di cerukan, gadis itu menyipitkan matanya mengamati sekitar. Nafasnya melambat demi menyesuaikan diri dengan kewaspadaannya pada sekitar.
Sakura tahu dan sadar jika penjahat itu sudah pergi. Tapi bukan berarti tidak ada kemungkinan kembali. Atau justru ada penjahat lainnya yang mungkin akan menyergapnya.
"Sial." Keluh Sakura merasakan letih berlebihan karna tegang.
Dia mengandalkan sinar lemah bintang-bintang untuk memeriksa cerukan. Gadis itu panik seketika saat melihat ranselnya dan ransel Ino sudah acak-acakan. Berbagai barang pribadi berhamburan.
"Tidak. Tidak." Dengan gemetar Sakura bersimpuh mencari apapun yang bisa berguna untuknya diantara berbagai barang itu.
Saat ini yang paling dia perlukan adalah sesuatu untuk bertahan. Memikirkan itu membuat Sakura makin frustasi karna tak menemukan senter ataupun lampu.
"Tidak." Ratap Sakura nyaris menangis. Tak ada barang yang bisa digunakan.
Bulu kuduk Sakura berdiri saat mendengar desir angin. Tubuhnya menegang kaku secara otomatis. Menarik nafas pelan dengan gemetar, Sakura menaikkan tudungnya. Memastikan seluruh tubuhnya berkamuflase dengan pakaian putihnya lagi.
Zruk. Irama jantung Sakura tak bisa tak tersentak mendengar suara mirip langkah seseorang tak jauh darinya.
Bernafas dengan sangat pelan, Sakura bertumpu pada dinding cerukan. Berjalan hati-hati ke sisi terjauh dari arah suara.
Sakura sadar jika tubuhnya bergetar hebat. Dia memaksakan diri terus bergerak hati-hati tanpa berani berpikir mencari sumber suara. Gadis itu takut mengalami hal seperti yang Ino alami.
Setelah cukup jauh dari cerukan, Sakura tak bisa lagi menahan diri. Dia terisak dan berlari sekuat tenaga. Tanpa memikirkan arah tujuan. Lagipula kenyataannya gadis itu memang tak memiliki tujuan. Dia kehilangan arah. Semua terlihat gelap dan putih dimatanya. Hanya beberapa pohon tanpa daun terkadang memasuki batas pandangannya.
Bruk. Sakura terjatuh.
"Hiks hiks kaa-san... aku takut..." Isak Sakura. Wajahnya terbenam dalam Salju, tapi dia tak begitu memperdulikan dingin yang menyengat satu-satunya bagian dari dirinya yang terbuka itu.
Dia berusaha duduk, memandangi sekitar dengan matanya yang buram karna basah oleh air mata. Udara dingin semakin menggerogotinya, membuat nafasnya memberat.
"Sasuke... Hinata... dimana kalian?" Bisik Sakura. Tentu saja dia tak berani berteriak. Memang akan ada kemungkinan salah salah satu temannya mendengar teriakannya, tapi itu juga berarti ada kemungkinan untuk si penjahat mendengar suaranya.
Auuuuuuuuuu.
Sakura reflek menoleh ke arah lolongan serigala berasal. Dia takut, tentu saja. Dan ketakutannya itu kian menjadi saat dia melihat dikejauhan sana. Bayangan hitam bergerak lambat diantara langit malam dan hamparan putih salju.
Nafas Sakura memburu seiring irama jantungnya yang menyakitkan. Matanya memandang frustasi jejak langkahnya yang mulai tertutupi butiran salju. Benar, salju mulai turun.
Bergantian Sakura menatap jejaknya dan bayangan hitam diujung sana yang terus bergerak ke arahnya. Siapapun itu, dia mengikuti jejaknya.
Menarik nafas demi menenangkan diri, Sakura mulai berjalan mundur tanpa menegakkan tubuhnya. Dengan hati-hati dia menghapus jejaknya. Butiran salju yang turun sangat membantunya membuat seolah Sakura tak pernah melewatinya.
Dia melihatnya, sekarang bayangan hitam itu tengah berdiri diam di tempat Sakura mulai menghapus jejaknya. Jaraknya dengan Sakura sekarang hanya sekitar lima puluh meter. Bayangan hitam itu terlihat diam.
Gerakan Sakura menghapus jejaknya pun terhenti. Tubuhnya menegang kaku. Posisinya sekarang adalah berjongkok. Itu menguntungkan, ditambah dengan dataran diantara mereka yang tidak rata bisa menyembunyikan sosok Sakura. Tentu tidak secara sempurna.
Gadis itu baru bisa bernafas saat melihat sosok hitam mengambil arah yang salah. Saking leganya, Sakura sampai terduduk. Dia tak tahu suara yang keluar dari tenggorokannya adalah tangis atau tawa. Perasaan lolos dari hal menakutkan ini begitu menakjubkan. Setidaknya Sakura bisa tenang untuk beberapa saat.
Namun kelegaannya lenyap seketika saat seseorang menyentuh bahunya.
"Kyaaaaa!" Jerit Sakura bersamaan dengan tubuhnya yang melompat menjauh dari siapapun itu.
"Sssst, Sakura, ini kami."
Sakura yang terengah-engah ketakutan menatap dua orang didepannya. Tangisnya pecah saat melihat Sai dan Sasuke.
"Uh...uuh...hu...hu... Sasuke... Sai..." Isaknya tanpa bisa ditahan. Seolah kelegaan bertemu dengan mereka terluapkan melalui air mata.
Sakura melemparkan dirinya ke pelukan Sai yang berjongkok didepannya.
"Semua akan baik-baik saja. Tenanglah." Hibur Sai menepuk lembut punggung gadis itu.
Selagi meredakan tangisnya, Sakura merasakan seseorang mengusap kepalanya. Dia mendongak dan mendapati Sasuke lah yang mengusap kepalanya.
Beberapa saat mereka saling berpandangan.
"Sasuke..." Rengek Sakura menyedihkan. Gadis itu tanpa sadar mengulurkan tangannya pada Sasuke. Perasaan lega, tertekan, sedih dan senang bercampur menjadi satu. Itu membuat Sakura tanpa sadar ingin bermanja pada pria pujaannya itu.
"Sssh..." Sasuke meraih tangan Sakura. Membawa gadis itu berdiri dan masuk dalam pelukannya.
"Ino... Sasuke... Ino... seseorang melukainya... membunuhnya..." Racau Sakura tersendat-sendat karna isakannya.
"Sssh bicaralah saat kau sudah tenang." Sasuke menepuk lembut punggung gadis musim semi itu.
Setelah tenang, Sakura menceritakan apa yang dialaminya pada dua pria itu. Jelas ceritanya menciptakan raut gelisah dan tak percaya di wajah Sai. Sedangkan Sasuke, pria itu hanya diam mendengarkan tanpa berkomentar. Bahkan Sai dan Sakura sama sekali tak bisa menebak isi pikirannya. Raut Sasuke begitu datar.
Sebaliknya, Sakura jadi tau jika Sasuke dan Sai juga baru bertemu kurang dari dua jam yang lalu. Sebelumnya Sai bersama Naruto, namun Naruto terjatuh ke dalam cerukan. Sayangnya tidak ada tali atau peralatan penyelamatan apapun dalam ransel dua pria itu. Sai yang memutuskan mencari bantuan bertemu dengan Sasuke, namun saat mereka kembali ke tempat dimana Naruto berada, pria pirang itu sudah menghilang. Entah ada yang menyelamatkannya atau justru menemukan jalan lain dalam cerukan.
Sedangkan Sasuke bahkan tak mengeluarkan sedikitpun cerita tentangnya pasca longsor. Meski begitu baik Sakura maupun Sai sama sekali tak mendesak.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Sakura hati-hati.
"Apa kau ingat arah perginya orang yang membawa Ino?" Tanya Sai pelan.
"Apa yang kau pikirkan?" Sakura merasa tubuhnya menegang seketika. Kewaspadaannya muncul secara otomatis.
"Ino sahabat kita. Sembari mencari yang lainnya, ku pikir setidaknya kita harus pulang dengan jumlah lengkap. Apapun kondisinya."
"Tapi..." Sakura terdiam berkutat dengan kemelut batinnya. Dia tak bisa berpura-pura berani menghadapi penjahat itu. Bayangan Ino yang diseret dengan cara menarik rambutnya cukup melenyapkan bibit keberanian Sakura.
Sakura menatap Sai dan Sasuke ragu. Dilema melandanya.
Melihat kondisi Sakura yang cukup menyedihkan, Sasuke mengulurkan tangannya. Menggenggam tangan gadis itu.
"Tak apa-apa, Sakura. Kita pergi bersama maka pulang akan bersama." Lirih dan terkesan acuh tak acuh. Tapi entah kenapa jika itu Sasuke, maka Sakura akan mendengarkannya dengan baik.
Merasakan lidahnya keluar karna masih ragu, yang bisa Sakura lakukan hanyalah mengangguk.
"Jadi kau ingat arah orang itu pergi?" Tanya Sai lagi hati-hati.
"Ku rasa kita harus kembali ke cerukan tempatku dan... Ino..." Sakura tak bisa menyembunyikan getaran suaranya saat menyebut nama sahabat pirangnya itu. "... maka aku akan tahu, arahnya." Ucap Sakura jauh lebih lirih.
"Jika begitu maka kita harus ke sana." Putus Sai.
Merekapun berjalan dipimpin Sakura. Demi keamanan, mereka memutuskan tak menggunakan senter. Hanya mengandalkan warna putih salju.
Salju yang turun semakin deras sama sekali tak membantu. Hanya sebentar saja berjalan sudah membuat Sakura kedinginan.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan cerukan yang dimaksud Sakura. Gadis itu mengarahkan pandangannya ke samping kanan cerukan. Dia menatap dua pria dibelakangnya ragu, sebelum akhirnya memutuskan mengikuti arah si penjahat membawa Ino.
Setelah berjalan cukup jauh, Sakura menghentikan langkahnya. Dengan ragu-ragu dia berpaling pada Sai dan Sasuke.
"Ada apa?" Tanya Sai.
"Ini sudah cukup jauh. Aku jadi tidak yakin. Bisa saja dia berbelok atau bagaimana. Kenyataannya aku hanya mengikuti arah dari cerukan. Tidak ada yang pasti."
Sai terdiam. Menatap Sasuke untuk meminta pendapatnya. Namun yang ditatap hanya diam. Sai dan Sakura menghela nafas. Pria ini bahkan tidak merubah ekspresinya disituasi seperti ini.
Sai mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sekali lagi dia menghela nafas. Pemandangannya terlihat sama.
"Kita jalan saja. Mungkin akan menemukan sesuatu." Putus Sai.
Namun bahkan sebelum mereka melangkah. Hal mengejutkan menghentikan mereka.
"Aaaaaaaaaaaaaa!"
Jeritan kuat itu menarik perhatian mereka bertiga. Arah datangnya dari kiri mereka. Namun yang terlihat hanya beberapa pohon dan gundukan salju.
"Kita ke sana!"
Mereka bertiga berjalan cepat menuju arah jeritan. Meski begitu mereka tetap berhati-hati dan waspada.
Dalam benak Sakura gelisah hebat. Dalam kelompok mereka perempuan hanya ada tiga. Jika satu terbunuh, satu dirinya, jadi kemungkinan besar yang menjerit adalah Hinata.
Memikirkan itu langkah Sakura melambat. Tubuhnya mulai bergetar. Dia tidak siap jika harus kehilangan sahabat lagi. Nafasnya memburu bukan saja karna udara dingin dan kelelahan, namun juga karena kecemasan berlebihan.
Di saat seperti itu, Sakura merasa sentuhan lembut menggenggam tangannya. Dia menoleh dan menemukan raut seindah porselen yang selalu acuh tak acuh. Perasaannya sedikit membaik mendapati Sasuke menggenggam tangannya. Memberinya kekuatan untuk terus melangkah
"Aaaaaaaaa!"
Mereka tersentak saat jeritan itu terdengar lagi. Bahkan suaranya lebih menyayat dan serak. Begitu menyedihkan.
Langkah mereka terhenti saat Sai mengulurkan tangan menghentikan Sasuke dan Sakura ketika sebuah bangunan memasuki jarak pandang mereka.
"Kita harus lebih hati-hati untuk mengintip apa yang terjadi didalam..." Ucapan Sai terinterupsi oleh jeritan itu lagi. Bahkan karna posisi mereka lebih dekat dengan bangunan, kini mereka bisa mendengar erangan menyayat disela jeritan yang intervalnya semakin intens. Ketiganya berpandangan. Kengerian dan berbagai pertanyaan berkilat di manik mereka.
"...apapun itu, kita harus memastikan situasinya lebih dahulu. Jika tak ada teman kita di dalam. Maka kita tidak perlu terlibat dengan hal apapun itu." Sakura mengangguk sepakat. Sejujurnya saat ini dia sangat ingin berlari menjauhi bahaya. Namun genggaman hangat Sasuke membuatnya memaksakan diri tetap bersama dua pria itu.
Mereka mengendap-endap ke salah satu sisi bangunan rumah berukuran sekitar tujuh kali dua belas meter yang terbuat dari kayu tersebut. Mendapatkan berkas cahaya menyemburat, tidak membuat mereka terburu-buru mendekat ke jendela. Kehati-hatian sangat mereka utamakan.
Sai menatap Sakura dan Sasuke sekilas sebelum memutuskan mengintip ke dalam. Sementara itu erangan dan jeritan menyayat tak terdengar lagi.
Hanya butuh beberapa detik mengintip mampu membuat Sai mengalihkan pandangannya dan menutup mulutnya. Kedua matanya berair. Entah itu karna menahan keinginan muntah atau memang akan menangis.
Sakura dan Sasuke berisyarat bertanya. Namun Sai justru menggeleng. Mata nanarnya menatap Sasuke dan Sakura. Terlihat jelas kengerian sekaligus ketidakpercayaan berkilat disana.
Penasaran, Sakura dan Sasuke memutuskan mengintip. Mencari tahu apa yang dilihat Sai. Sayangnya rasa penasaran mereka membawa mereka dalam penyesalan.
.
.
.
Keyikarus
24 November 2017
