Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

\(#^_^#)/

.

Sakura merosot terduduk disalju. Wajahnya pucat pasi. Disana, didalam sana dia melihat seorang pria asik menyayati tubuh Hinata. Seolah-olah sedang memotong-motong daging sapi! Bahkan Sakura sempat melihat isi perut Hinata yang ditarik keluar.

Sakura tersengal-sengal. Tangannya bergerak menutup mulut saat merasakan gejolak hebat diperutnya. Gadis itu merasakan tekanan ditubuhnya makin besar. Kakinya yang bergetar hebat perlahan bangun. Tanpa berpikir dia langsung bergerak cepat. Sakura berlari. Ketakutannya begitu kuat hingga keinginan berlari sulit dibendung.

Namun sebelum sempat dia sampai ke halaman depan bangunan, seseorang menarik tubuhnya. Membekap mulutnya agar dia tidak berteriak.

"Ssssstt, tenanglah Sakura." Bisik Sasuke dengan suara bergetar. Meskipun terlihat dingin dan acuh, bukan berarti Sasuke tidak akan terguncang melihat pemandangan tadi. Diapun ketakutan dan ingin berlari menjauh dari tempat ini secepatnya. Tapi dia tidak boleh melakukannya sekarang.

Bisikan Sasuke menghentikan Sakura yang berniat memberontak. Perlahan gadis itu berbalik dan menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Sasuke. Dia berusaha keras meredam isak tangisnya meski tak bisa sepenuhnya berhasil.

Sementara itu Sai menyusul mereka. Dia dan Sasuke terdiam melihat seseorang datang. Dan sepertinya seseorang itu membawa sesuatu.

Zruk. Zruk. Sakura mengangkat kepalanya akan menoleh ke arah suara langkah yang datang. Tapi Sasuke dengan cepat mendekapnya lagi. Membuat gadis itu tak bisa melihat apapun.

Sedangkan Sasuke dan Sai saling berpandangan dengan wajah pucat. Semakin dekat sosok itu, mereka semakin bisa melihat jika yang dipanggul layaknya sekarung beras oleh sosok itu ada tubuh Neji. Tidak jelas apakah pria berambut coklat itu masih hidup atau sudah mati.

Perlahan mereka beringsut, berlindung kebalik dinding agar tak terlihat oleh sosok itu.

Mengabaikan tatapan bingung Sakura, Sasuke memilih mengeratkan dekapannya pada gadis itu. Dia tak ingin hal-hal diluar kendali terjadi dan membuat mereka ketahuan oleh sosok asing yang membawa Neji.

Sementara Sai menatap was-was pada jejak mereka yang kini sebagian besar tertutup salju. Dia berkomat-kamit semoga sosok asing itu tak menyadari adanya jejak mereka.

Setelah yakin sosok itu masuk ke dalam bangunan, Sasuke membawa Sakura mengikuti langkah Sai menjauh dari bangunan.

Setelah merasa jaraknya cukup aman, Sai berbalik menatap dua temannya. Wajah merek sama pucat dengannya.

"Apa yang harus kita lakukan?" Ucap Sai lemah. Situasi ini membuat pria eboni itu cukup frustasi. Segala macam jenis perasaan bercampur aduk.

Sasuke mengerjap beberapa kali lalu mengalihkan pandangannya pada Sakura. Tubuh gadis itu menggigil hebat. Entah karena udara dingin atau itu mengeluarkan selimut dari ranselnya dan menyelimuti tubuh mungil Sakura.

"Kita tak yakin jumlah orang asing psikopat itu..." Mulai Sasuke. Sementara Sai memperhatikan Sasuke dengan serius, Sakura memilih memeluk lututnya. Mengeratkan pegangannya pada selimut.

"...yang bisa kita simpulkan sekarang adalah Ino dan Hinata sudah meninggal. Lalu, Naruto dan Neji disekap." Mendengar ucapan Sasuke, Sakura mengangkat wajahnya. Matanya bergetar menatap pria itu.

"Naruto dan Neji apa?" Lirih Sakura dengan suara bergetar.

"Tenanglah Sakura. Jika kita tidak tenang, kita tidak akan memiliki kesempatan menyelamatkan mereka..." Sasuke mengusap puncak kepala gadis merah muda itu.

"Tapi..."

"Sakura, dua teman kita sudah meninggal dan diperlakukan layaknya hewan potong. Setidaknya kita harus menyelamatkan Neji dan Naruto." Potong Sai lembut yang membuat Sakura terdiam.

"Sebenarnya aku tak yakin mereka masih hidup atau tidak." Gumam Sasuke. Dia sempat melihat Naruto yang diikat dengan tangan terentang disalah satu sejenis meja operasi. Mulutnya disumbat kain. Namun yang membuat Sasuke tak yakin adalah Naruto sama sekali tak membuat gerakan. Entah itu karna pingsan atau sudah tak bernyawa.

"Dan aku tak yakin bisa pulang bersama semua teman kita. Mereka... mereka..." Tenggorokan Sai seperti tercekat. Dia tak mampu meneruskan ucapannya. Pria eboni itu menutup wajahnya, menyembunyikan tangisannya.

Diseberangnya Sasuke menundukkan kepala, menekuri butiran salju yang terjatuh di kakinya. Dia tak menyangka liburan mereka akan menjadi tragedy seperti ini. Tidak ada yang menyangka.

"Maaf... maaf..." Perhatian dua pria itu teralih pada Sakura yang tersengal-sengal. Karnaku... karna ideku kita...kita... Ino..."

"Sakura tenanglah. Ini bukan salahmu. Tidak ada yang tahu bahwa akan menjadi seperti ini." Sai tersenyum sendu mengusap punggung satu-satunya gadis yang tersisa diantara mereka.

Setelah mencapai kesepakatan, mereka membongkar ransel Sasuke dan Sai. Mencari barang yang bisa digunakan sebagai senjata. Sayangnya sepertinya itu adalah hal sulit.

Para pria sebenarnya berencana hanya menggunakan kantung tidur. Sementara wanita lebih suka berkumpul di dalam tenda. Toh mereka bukannya mendaki gunung everest atau sejenisnya. Jadi tak ada persiapan khusus. Karna itulah isi dari ransel masing-masingnya begitu sederhana.

Ransel Sasuke hanya berisi satu selimut tipis, makanan ringan dan beberapa bahan makanan instan, lalu barang-barang pribadinya. Mereka menghela nafas.

Ransel Sai berisi lagi-lagi makanan, beberapa barang pribadinya, korek api, pisau kecil, gunting kecil, kain kasa dan obat-obatan darurat. Ini lebih baik.

"Ku pikir isi ransel Hinata dan Naruto akan lebih bisa diandalkan dari ini..." Keluh Sakura. Dua pria disampingnya mendengus. Apa kabar dengan dirinya yang bahkan kehilangan ranselnya.

"Tidak ada yang berguna. Kita masuk saja dan lakukan sesuai situasi dan kondisi nanti." Putus Sai. Dua pria itu membereskan isi ransel masing-masing. Mereka memutuskan meninggalkan ransel mereka agar tak menghambat.

"Mau pergi sekarang?" Sasuke menatap Sai yang mengangguk. Lalu menatap Sakura yang menunduk. Terlihat gadis itu meremas telapak tangannya sendiri dengan gemetar.

Sasuke meraih tangan Sakura dan menatap emerald yang ketakutan itu.

"Kita akan baik-baik saja Sakura. Yakinlah." Bisiknya lembut.

"Sejujurnya bisa saja kau menunggu disini. Tapi aku tak ingin mengambil resiko kehilangan teman lagi. Kita tidak boleh berpisah dan akan pulang bersama." Sai meremas lembut bahu gadis itu.

Sakura menarik nafas panjang lalu mengangguk setengah yakin.

"Ayo. Semakin lama, keselamatan Naruto dan Neji akan semakin tidak jelas." Sasuke bergerak menggandeng tangan Sakura. Sai dibelakang mereka mengikuti.

Salju yang turun semakin lebat. Setidaknya itu membantu meredam gerakan mereka disekitar bangunan.

Saat mereka melewati jendela tempat mereka mengintip sebelumnya, entah kenapa mereka sepakat mengintip lagi.

Di dalam sana ada dua orang pria sedang berdiri disamping meja tempat tubuh Hinata terbaring. Maksudnya tadinya, karna sekarang yang terlihat di meja itu hanya tulang-belulang dengan warna merah segar. Sepertinya dua pria itu sudah selesai menyayati daging sahabat malang mereka.

Sakura menutup mulutnya gemetar. Dia tak menyangka akan melihat sosok sahabatnya dalam keadaan seperti ini.

Sai dan Sakura tak bisa menahan diri untuk tidak muntah saat melihat salah satu pria itu mencelupkan bagian mata Hinata ke air mendidih di panci kecil lalu memakannya.

Sementara dua temannya berusaha tak mengeluarkan suara selagi mengeluarkan isi perut mereka, Sasuke justru terbelalak melihat pria satunya mendekati meja tempat Naruto terbaring. Sekarang dia tahu jika pria pirang itu masih hidup.

"Mmmh... mmmhhhmm..." Naruto berusaha memberontak dari ikatannya. Dia menatap ngeri pria yang mendekatinya dengan pisau ditangannya. Pisau yang sama dengan yang digunakan untuk menyayat Hinata sampai mati. Yang membuat Naruto berkali-kali pingsan karena melihat adegan mutilasi Ino dan Hinata.

Raungan Naruto yang teredam mengudara saat pria itu menyeringai senang. Seringainya yang terlihat amat sangat mengerikan dimata Naruto.

Pria yang sedang makan mata Hinata menghentikan suapannya saat mendengar raungan ketakutan Naruto. Dia memiringkan wajahnya sedikit, menatap Naruto heran. Ekspresi yang sangat polos dan imut jika saja tidak sedang memakan lidah matang Hinata.

Entah karna rasa lidah itu enak atau sengaja ingin menakuti Naruto, pria berambut merah itu menjilat dan menyedot lidah Hinata secara berlebihan.

Tentu saja hal itu membuat Naruto semakin meraung kesetanan. Dia sangat ketakutan. Apalagi ketika pria itu mendekati Naruto dan melepaskan kain yang menyumpal mulutnya.

Sementara itu diluar, Sasuke langsung menggeret Sai dan Sakura ke arah pintu depan. Dia tak peduli jika masih ada kemungkinan pria kanibal lain selain dua pria didalam sana. Dia bahkan tak sempat memikirkan rencana apapun. Dikepalanya saat ini hanya ada Naruto. Dia akan mengutuk dirinya sampai mati jika kehilangan temannya lagi dengan cara sesadis yang terjadi pada Hinata.

Sasuke memutar handle pintu. Begitu pintu terbuka, mereka bertiga langsung muntah. Bau busuk begitu mengerikan menyengat penciuman mereka.

"Ya Tuhan... rasanya aku akan segera mati..." Isak Sakura. Dia sudah lupa berapa kali dia muntah hari ini.

Aaaarrrrrggghhhhh!

Mereka bertiga tersentak mendengar teriakan memilukan itu. Pikiran Sasuke langsung berlari pada Naruto.

"Naruto!" Sasuke berlari masuk. Matanya menyusuri ruangan mencari apapun yang bisa dijadikan senjata. Sayangnya matanya tak menemukan apapun yang berguna.

Dibelakangnya, Sai dan Sakura menyusul. Dengan wajah pucat Sai menoleh ke sana kemari lalu berbelok, dia meraih dua balok kayu dari tumpukan di ruang sempit sebelah kanan pintu masuk.

Sedangkan Sakura merinding menatap daging-daging dan tulang berbau busuk yang bergantungan di tiang kanan kiri ruangan. Seperti dijemur. Sepertinya mereka tidak punya lemari pendingin disini. Bahkan penerangan mereka hanya kelap-kelip kunang-kunang dalam dalam botol-botol yang berjajar di sepanjang dinding. Ini indah jika saja yang menempatinya bukanlah kanibal.

Sementara itu, Sasuke langsung berlari mencari ruangan tempat Naruto berada. Meski dari luar terlihat kecil, kenyataannya dalam rumah ini termasuk luas dengan banyak ruangan.

Saat menemukan ruangan yang dimaksud, Nafas Sasuke tercekat di tenggorokan melihat Naruto meraung. Pria berambut merah bata terlihat menyayat paha Naruto dengan riang. Mengambil potongan daging dari bagian tubuh Naruto itu.

"Bajingan!" Dengan kalap Sasuke menerjang pria berambut merah bata itu hingga terjungkal.

Belum sempat Sasuke melayangkan tinjunya pada wajah pria berambut merah bata, pria yang sedari tadi asik makan beranjak dan menusukkan besi seukuran pensil menembus bahunya.

"Aaaaarrrgghhh!" Raung Sasuke kesakitan saat pria dibelakangnya menarik besinya lagi.

Diatas meja Naruto bahkan tidak menyadari adanya Sasuke. Pria pirang itu kelojotan merasakan sakit pada bagian daging pahanya yang hilang. Darah mengalir deras dari lukanya.

Di sisi lain pria berambut merah dan merah bata memiringkan wajah mereka menatap Sasuke yang mengerang kesakitan. Pria raven itu mundur hingga ke pojok ruangan.

Seringai dua kanibal itu melebar. Si merah mengangkat tangannya bersiap menusukkan besinya lagi, kali ini diarahkan pada jantung Sasuke.

Tapi, sebelum itu terjadi Sai datang dan langsung menghantamkan balok kayu pada punggung pria merah hingga tersungkur. Didepannya, Sasuke refleks memberikan tendangan pada wajah si pria merah.

Melihat itu, pria berambut merah bata meraung lalu menyerang Sai dengan pisau ditangannya.

Sai yang tidak siap tersentak mundur menabrak rak tempat panci-panci berisi daging manusia berjajar. Pria eboni itu mengerang merasakan sakit di punggungnya. Bukan itu saja, dia juga merasakan jijik berlebihan melihat daging-daging mentah berbau anyir mengotori dirinya.

"Sasuke!" Jerit Sakura. Dia baru tiba diruangan itu dan harus melihat Sasuke yang tangannya digigit oleh si rambut merah setelah pria raven itu melayangkan dua pukulan tambahan.

Sasuke meraung kesakitan sembari satu tangannya tak berhenti meninju wajah si rambut merah. Pergelangan tangannya yang digigit terasa sangat menyakitkan.

Melihat Sasuke seperti itu, Sakura meraih panci dari lantai dan menggunakannya untuk memukuli si rambut merah membabi buta ditengah jeritan dan isak tangisnya. Gadis itu melupakan fakta jika panci yang dipegangnya bekas wadah menyimpan daging manusia sebelum tumpah karna rak tempatnya berada tertabrak tubuh Sai.

Setelah si pria merah pingsan, tangan Sasuke bisa lepas dari mulutnya. Darah mengalir deras dari luka menganga itu. Nafas mereka tersengal-sengal. Namun itu hanya berlangsung sebentar. Perhatian mereka teralih pada Sai. Pria eboni itu berjuang menahan pisau yang diarahkan ke jantungnya oleh si rambut merah bata.

.

.

Tbc

.

.

Keyikarus

27 November 2017