Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

Sakura meraih lagi pancinya dan berlari ke arah Sai. Dengan membabi buta gadis itu memukuli pria yang menindih Sai. Kebenciannya membuncah mengingat bagaimana pria-pria kanibal itu memperlakukan Hinata dan Ino. Setiap pukulan Sakura diiringi umpatan bencinya, tentu saja tanpa melewatkan tangisannya.

Gerakan Sakura berhenti saat pria berambut merah bata itu menoleh, menatap tepat ke matanya. Kilatan dingin dan girang yang cenderung gila dimata pria merah bata sukses membuat Sakura bergetar ketakutan.

"Sakura!" Jerit Sasuke saat pria merah bata itu dengan cepat mengalihkan serangannya pada Sakura.

Sembari menahan nyeri hebat dibahu dan pergelangan tangannya, Sasuke menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Memastikan Sakura tak terkena tusukan, namun sebagai gantinya punggungnya merasakan sakit yang terasa menyengat akibat tusukan pisau pria merah bata.

Beruntung Sai segera bangun dan menyerang pria itu hingga tersungkur tak sadarkan diri.

"Sasuke..." Bisik Sakura panik merasakan beban tubuh Sasuke tertumpu padanya.

"Sasuke!" Raungnya histeris saat Sasuke merosot jatuh. "Ya Tuhan... Sasuke... pisau... Sasuke... dipunggungmu..." Sakura yang panik hanya bisa menangis histeris.

"Sssh tenanglah Sakura..." Lirih Sasuke. Pria raven itu meringis menahan segala nyeri yang menggerogoti tubuhnya. Tangannya terulur ke punggungnya, berusaha meraih pisau yang masih menancap di sana.

"Tahan Sasuke." Gumam Sai memberi aba-aba. Dia langsung menghampiri temannya itu setelah memastikan si pria merah bata tak sadarkan diri.

"Ugh!" Sasuke menggigit bibirnya menahan sakit saat Sai mencabut pisau sepanjang tak kurang dari tujuh inci itu.

"Sai... Sai... Sasuke... darahnya..."

"Ssshhhh, tenang Sakura. Kita memiliki peralatan pertolongan pertama diranselku." Sai menangkup wajah gadis yang masih panik itu. Dia menatap mata sembab Sakura, berusaha menenangkan gadis itu dan meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja.

Bola mata Sakura berkeliaran seperti mengebor manik Sai. seolah gadis itu mencari sedikit keyakinan jika mereka tak akan lebih mengenaskan dari ini. Setelah beberapa saat ragu-ragu Sakura mengangguk. Sai mendesah lega melihat Sakura lebih tenang.

"Bantu Naruto sementara aku mengambil ransel dan mencari Neji." Ucap Sai.

"Sai..." Sakura mencengkeram lengan Sai. Dia enggan untuk berpisah. Dia tak mau Sai tak kembali.

"Tolong. Aku janji kita akan baik-baik saja." Sai meyakinkan Sakura sekali lagi sebelum beralih pada Sasuke.

"Tunggulah Sasuke, aku akan mengambil ransel kita lebih dulu sebelum mencari Neji." Sai menatap Sasuke cemas.

"Kau pikir aku akan mati dengan mudah?" Sasuke mengeluarkan nada acuhnya seperti biasa. Tapi itu tetap tak bisa menyembunyikan desisan dan kernyitan kesakitannya. "Pergilah, kami akan baik-baik saja."

Sai mengangguk, lalu pergi.

Melihat Sai pergi, Sakura segera menghampiri Naruto. Pria pirang itu kelihatannya sudah lebih tenang. Meski kernyitan dan keringat dingin masih menghiasi dahinya.

"Naruto, kau dengar aku?" Tanya Sakura cemas sembari melepaskan ikatan Naruto. Dia berharap pria yang pandangannya kosong itu masih memiliki kewarasan.

"Sakura-chan, aku dengar..." Sahut Naruto lemah. Bahkan dia masih sempat memamerkan cengirannya. Tapi itu justru membuat Sakura makin cemas. Cengiran Naruto lebih terlihat seperti orang akan menangis.

"Kau bisa bergerak?" Sasuke mengulurkan pakaian Naruto.

"Sasuke... jangan banyak bergerak, darahmu akan semakin banyak keluar!" Cemas Sakura.

"Dia butuh pakaiannya atau akan mati membeku." Acuh Sasuke.

Mendengar ucapan Sasuke, Sakura baru menyadari jika Naruto hanya mengenakan dalamannya saja.

"Aku akan membantumu memakainya..."

"Aku bisa melakukannya sendiri, Sakura-chan, tolong lakukan sesuatu pada mereka."

Sakura mengangguk mengerti. Dia memeriksa ruangan dan menemukan tali. Meski ikatannya tidak sekencang karya pria setidaknya itu bisa menghambat pergerakan dua kanibal saat mereka terbangun. Sakura yang paling sehat disini, dia tak bisa membebani dua pria yang bersamanya untuk melakukan sesuatu.

Sedangkan Naruto, dia bisa memakai pakaiannya tanpa banyak hambatan. Untunglah ruangan ini memiliki perapian hingga suhunya tidak sampai membekukan udara.

Selain luka lebar dipahanya, Naruto hanya mengalami memar-memar karna terjatuh saat bersama Sai sebelum dia dibawa ke tempat ini oleh si Kanibal.

Sebelum Naruto memakai celananya, Sai datang. Pria itu segera merawat dan membalut luka Naruto sebelum membantu memakaikan celananya.

Setelah itu, Sai merawat luka Sasuke. Dia bertanya-tanya terbuat dari apa gigi si rambut merah hingga bisa menembus sarung tangan dan mengoyak pergelangan tangan Sasuke. Lukanya terlihat mengerikan.

"Bagaimana Neji?" Tanya Naruto. Nadanya terdengar sedih dan tertekan. Sebenarnya itu wajar jika mengingat dia baru saja menyaksikan hal mengerikan yang menimpa teman-temannya.

Sai menghela nafas berat dan menggeleng lemah.

"Aku menemukannya didalam peti disamping pintu masuk. Petinya penuh salju. Sepertinya itu cara mereka mengawetkan sesuatu." Gumam Sai tercekat.

Mereka berempat terdiam. Setelah beberapa saat, Sai berdiri dan mengajak mereka pergi dari tempat itu. Dia menopang lengan Naruto, membantu pria itu berjalan. Lalu Sakura memaksa mengambil alih ransel Sasuke.

Ketika berada diluar bangunan, mereka berempat menoleh ke dalam sana. Menatap tempat teman-teman mereka meregang nyawa. Janji pulang bersama sepertinya tak akan terwujud. Mereka tau itu.

"Aku ingin kanibal itu mati... hiks..." Sakura terisak. Tiga pria disisinya hanya bisa diam. Mereka sadar, sebenci apapun mereka pada dua kanibal itu, mereka tak akan mampu membunuh dua orang itu. Mereka bukan pembunuh seperti si Kanibal. Mental mereka tidak sebesar itu hingga sanggup membunuh. mereka tak ingin menanamkan trauma yang lebih besar dari ini pada diri mereka. Yang bisa mereka lakukan hanya pulang dan melaporkan hal ini pada polisi.

"Bagaimana dengan Shikamaru?" Gumam Sasuke.

"Kita akan mencarinya bersama polisi." Putus Sai.

Baik Sakura, Sasuke dan Naruto hanya diam. Meski terasa tidak adil, tapi itu adalah cara terbaik. Kemungkinan tidak ada satupun yang bisa pulang bisa terjadi jika mereka memaksakan diri mencari Shikamaru. Kondisi tubuh juga salju yang turun semakin deras tentu menjadi hambatan terbesar. Belum lagi kemungkinan adanya kanibal lain. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

Sai mengeluarkan Kompas dan membimbing mereka semua berjalan pulang.

Dilangkah ke sekian, Naruto menoleh ke arah bangunan itu lagi. Perlahan dia mengerjap dan menunduk sembari terus mengikuti langkah teman-temannya.

"Yang membawaku sepertinya bukan dua orang itu." Gumam Naruto khawatir. Tapi dia hanya menyimpan kekhawatiran itu untuk dirinya sendiri.

Disaat yang hampir bersamaan, Sakura juga menyempatkan menoleh ke arah bangunan. Pikirannya memiliki sedikit keyakinan jika bukan salah satu dari dua orang itu yang membawa Ino. Meski sebenarnya dia tak bisa melihat jelas sosok berpakaian hitam itu, tapi Sakura yakin jika dia bukan salah satu dari dua kanibal berambut merah yang terikat didalam bangunan.

Memikirkan itu, tubuh Sakura gemetar. Dia sedikit merapatkan jaraknya dengan teman-temannya. Pikirannya sekarang hanyalah berlari pulang.

.

.

Dari arah lain, sosok tinggi berpakaian hitam berjalan lambat ke arah bangunan yang baru ditinggalkan oleh Sakura dan lainnya sembari menyeret tubuh tak bernyawa. Darah yang keluar dari kepala tubuh itu meninggalkan jejak terseret yang semakin samar diatas salju. Ya, tubuh itu adalah Shikamaru.

.

.

End

.

.

Keyikarus

28 November 2017