Are we ?
by: penguntitbias
cast:
-Lee Jihoon (SVT);
-Kwon Soonyoung (SVT);
-and more
disclaimer: Cerita murni dari pikiran saya dan tidak meng-hak-milik karakter disini. Cast bukanlah milik saya, tapi milih Pledis Ent. dan pastinya Tuhan YME;
Warning! Lokal!AU; Bahasa full Indonesia; Bahasa non-baku; Ada misuh-misuhan;
Enjoy!
.
.
.
.
Jihoon membuka matanya pelan dan pusing menyerang kepalanya mendadak. Pupilnya ia arahkan ke penjuru ruangan yang sedang ia tempati saat ini.
'Lah kok gue udah di kamar aja? Kayaknya tadi masih di kampus, deh.'
"Udah bangun, Ji?" Suara halus terdengar dari luar ruangan dan menyusul suara pintu terbuka. Nampak Jeonghan yang memakai pakaian tidur berwarna biru sambil membawa nampan berisi segelas air putih dan semangkok bubur ayam.
"Udah. Nih gue udah melek."
"Gua taro makanan lu di atas meja belajar aja, ya?"
"Yaudah taro aja disitu. Eh, sini deh, gue mau nanya."
Jeonghan mengernyitkan dahinya lalu melangkah menghampiri Jihoon yang sedang berusaha untuk duduk. Lelaki cantik itu dengan sigap membantu Jihoon untuk bersandar di headboard kasur.
Jeonghan mendudukkan pantatnya di samping kasur. Ia taruh punggung tangannya di kening Jihoon, dan ia bertanya dengan nada khawatir, "Kepala lu masih pusing, Ji? Istira—"
Dengan cepat tangan Jeonghan ditepis oleh Jihoon hingga ia agak terkejut dengan sikap temannya itu. Alis Jihoon mengernyit agar ia terlihat garang. "Gausah basa-basi. Orang gila tadi siapa sebenernya? Lu tau, 'kan?" tanya Jihoon menginterogasi.
"G–gua beneran gak tau, Ji. Sumpah dah." Jeonghan membentuk tangannya menjadi bentuk silang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Boong lu. Cepetan cerita atau gue sentil biji lu."
"Kampang lu!"
"Makanya cerita, bodat!"
Jeonghan menghela napas dalam. Ia sedang berpikir bagaimana cara merangkai kata yang tepat untuk menyampaikan keadaan beberapa jam yang lalu. Tak butuh waktu lama ia mendapat kalimat yang pas, dan wajah Jeonghan berubah menjadi serius. Lalu ia mulai menjelaskan kronologinya dengan rinci.
"Jadi pas lu pingsan, gua beneran panik dan gebukin laki-laki sakaw yang nubruk lu tadi. Nah, abis itu, kita nganter lu kesini. Dan lu tau? Gua gak ngarahin jalan kerumah lu, tapi dia tau seluk-belik jalanan rumah lu. Padahal belokan rumah lu banyak, gua aja gak hapal. Tapi ngerinya dia hapal, lho. Btw, dia bawa mobil aja dikawal sama tiga mobil kalo gak salah. Keren gak, tuh?
"Nah terus, pas udah sampe dia gendong badan lu sampe kamar ini. Dan lu tau lagi? diA PUNYA KUNCI DUPLIKAT RUMAH INI! GILA GAK SIH? Astaga gua seketika langsung mau nelpon polisi saat itu juga tau gak, Ji."
Jihoon mematung saat itu juga; shock setelah menyimak cerita Jeonghan.
Dia berniat pindah rumah abis denger itu semua.
Beneran, dah.
"Ji, lu masih dengerin gua, 'kan?" Jeonghan melambaikan tangannya ke depan wajah Jihoon yang kini mirip lango.
Tau lango, 'kan? Lango itu laki-laki dongo.
Fyi aja, sih. hehe.
Jihoon membalas dengan anggukan dan mulut yang masih terbuka. Cukup lama ia terdiam; masih dalam kondisi shock. Setelah beberapa menit berlalu, kepalanya perlahan menengok ke Jeonghan.
"Gue gatau kudu kaget atau takut atau gimana. Otak gue macet, Han," ucap Jihoon lirih. Bibir tipisnya kini kering dan pucat.
Jeonghan menghela napas lagi dan mulai meledek Jihoon, "Gua belom kelar cerita aja lu udah sawan begini. Begimana kalo ampe selesai? Ayan kali ya."
"Gue udah lemes, serius. Tapi kalo abis ini lu cerita yang lebih bikin shock, gue tabok lu pake gitarnya kak Jisoo, Han. Sumpah." Jihoon udah bener-bener lemes sekarang. Badannya udah loyo dan otaknya udah penuh sama rencana buat pindah rumah.
"Gua yakin lu bakal kaget sekaget kagetnya, Ji."
"Yaudah apaan emangnya, koplak?"
"Lu tarik napas dulu gih. Kasian pucet gitu muka lu kayak abis liat oom Gong Yoo."
"Kok Gong Yoo, sih?"
"Lah yang jadi malaikat pencabut nyawa si oom Gong Yoo, 'kan?"
"Itu oom Dong Wook, blo'on!"
Jihoon melayangkan gebukan-gebukan pelan ke kepala Jeonghan yang kini malah tertawa ngakak.
Kesel Jihoon, tuh.
Jeonghan yang kepalanya udah mulai sakit akhirnya menahan tangan Jihoon yang malah makin bar-bar. Lalu Jeonghan berkata, "Udahan gebukin gua, oke? Gua mau lanjut cerita, nih."
"Yaudah lanjut," balas Jihoon sambil melipat tangannya di depan dada.
Jeonghan menarik napas dan melanjutkan ceritanya. "Jadi pas udah selesai naro badan lu di kasur, dia tiba-tiba bilang makasih ke gua karna udah jagain lu selama ini. Lah kan gua bingung ya ngapa dia malah makasih gitu, nah terus gua tanya tuh, eh dia malah ngasih kartu nama— eh tunggu dimana ya kartu namanya?"
Jihoon menatap heran ke Jeonghan yang sekarang sedang sibuk meraba-raba kantong celana tidurnya dan mengobrak-abrik meja nakas yang ada di samping kasur; mencari barang yang tadi disebutkan Jeonghan. Apa tadi katanya? Kartu nama?
Saat membuka laci paling atas meja tersebut, terdapat kartu tipis berwarna hitam legam dengan tulisan putih silver bertuliskan nama dan alamat sebuah perusahaan. Jeonghan mengambil secarik kertas tersebut lalu diberikan ke Jihoon.
Mata sipit Jihoon memicing ketika membaca kertas itu. Dan matanya berhenti pada satu nama disana,
Kwon Soonyoung.
"Hah?"
.
.
.
TBC
Hehe akhirnya dilanjut. Tangan gatel mau update, sumpah. Yaudah gitu aja. Hehe. Semoga suka, ya. Bye!
p.s : Chapter kemaren banyak typo huhu maapin ya TT
p.s.s : Bodat itu umpatan dari bahasa Batak. Kalo kampang, sih, itu bahasa hujatan dari sekolah aku hEHEHE
p.s.s.s : ini aku re-publish soalnya ada typo gitu hehe gatel mau benerin daritadi TT
