.

Beloved Ponyo (It's All About Fart)

('Brand New Music Trainee' Lim Young Min x 'Starship Entertainment' Jung Se Woon')

BlueBerry''s Sewoonie Fanfiction

Don't Like, Don't Read

warning : aku ngga tau ini bisa disebut humor atau bukan, tapi yang pasti ini gajelas.

.

Sewoon termasuk diantara orang yang memiliki popularitas karena penampilan yang diatas rata-rata, bisa disebut Sewoon dikenal karena nilai pelajaran yang baik dan kemampuan memainkan gitar juga menulis lagu. Selain itu, kepribadiannya juga menyenangkan, bukan orang terlampau baik hingga terkesan bodoh dan mudah dimanfaatkan oleh orang lain, juga bukan si menyebalkan yang senang memanfaatkan kebaikan atau keluangan orang lain. Tipe humornya bukan humor menyenangkan dengan ekspresi lucu yang membuat orang lain melontarkan tawa dengan senang hati, lebih sering orang lain tertawa karena sikap canggungnya setelah gagal melakukan sesuatu dengan percaya diri. Bagaimana pun Sewoon lebih dikenal dengan hal positif, walaupun bukan karakter sempurna yang membuat orang lain melihatnya dengan pandangan iri. Jadi, Sewoon tidak bisa menampilkan sisi kurang menyenangkan dari dirinya dengan leluasa saat berada di keramaian atau setidaknya beberapa mahasiswa lainnya, membuat Sewoon hanya memegang bagian dalam jaketnya dengan keras selagi mencari ruangan yang sekiranya kosong untuk melepaskan sisi kurang menyenangkan dari dirinya.

Pintu ruang perkumpulan Klub Dance tertutup, sementara ingatan Sewoon menemukan dirinya sempat bertemu dengan beberapa anggotanya di Kantin. Tangan Sewoon bergerak untuk membukanya dengan gerakan sebiasa mungkin, tidak ingin menimbulkan pandangan curiga dari mahasiswa lain yang berada di lorong sama dengannya . . .

"Ah, akhirnya" Sewoon memasuki ruangan dengan cepat, tangannya kembali bergerak untuk menutup pintu dan menyandarkan kepala pada bagian pintu

'BROOT' Perasaan lega sewaktu Sewoon melepaskan angin dari bagian belakang tubuhnya, menyebar aroma tidak sedap karena masalah pencernaan yang dia alami pada beberapa waktu terakhir. Entah dia sedang memiliki masalah pencernaan atau tidak, Sewoon memang selalu menghindari kegiatan membuang angin di depan orang lain, bahkan saat dia berada di lift atau ruang berdesakan lain yang memungkinkan dirinya melempar tuduhan pada orang lain

"Heol. Kau memasuki ruangan ini, hanya untuk buang angin?" Lontaran kata dari seseorang membuat Sewoon membuka matanya yang sempat terpejam, menikmati saat dia melepaskan tekanan dalam perutnya yang begitu mengganggu jalannya kembali ke kelas sedari tadi. Pandangan horor Sewoon mengarah pada Pemuda dengan rambut merah maroon yang berada di ruangan itu, memandang bingung padanya dan merubah ekspresinya menjadi tidak nyaman setelahnya

"Oh" Pemuda itu merubah ekspresi dan melontarkan tawa ringan, tawa yang menyenangkan untuk didengar kalau saja Sewoon tidak berada dalam kondisi seperti sekarang. Karena berada dalam posisi tidak menyenangkan, Sewoon berpikir bahwa Pemuda itu bermaksud mengejek dirinya

"Kau mengejekku?" Kesal Sewoon, tidak senang dengan tawa Pemuda itu yang sebenarnya sama sekali tidak terdengar seperti mengejek. Alasan Sewoon membiasakan diri untuk sebisa mungkin menghindari buang angin di hadapan orang lain karena orang lain akan menertawakan dan mengejek dirinya, atau mengatai dirinya jorok karena membuang angin di hadapan umum begitu saja

"Tidak, aku tidak memiliki maksud untuk mengejekmu" Pemuda itu berujar setelah menghentikan tawa ringannya, masih menyisakan lengkungan senyum lebar yang terkesan begitu mengejek pada pandangan Sewoon

"Kalau begitu, lupakan kejadian memalukan itu" Sewoon bukan orang yang senang memerintah orang lain atau meminta orang lain melakukan sesuatu, tapi masalah buang angin bukan hal yang bisa dia anggap remeh sedari dia menempati bangku kuliah. Dia menutupi masalah buang angin sembarang tempatnya dengan rapih selama beberapa bulan terakhir, hanya melepas angin sewaktu dirinya berada di toilet seperti seharusnya atau dalam ruangan kosong dimana tidak ada seorangpun

"Baiklah" Hembusan nafas tanda merasa lega terdengar dari Sewoon, ingin membuka pintu dan beranjak pergi sebelum mengingat satu hal

"Aku Jung Se Woon, mahasiswa jurusan musik semester satu. Aku minta maaf karena membuat kesan tidak menyenangkan pada pertemuan pertama denganmu, kuharap aku bisa membuat kesan yang lebih menyenangkan pada kesempatan lain" Tubuh Sewoon membungkuk rendah, menyembunyikan wajahnya yang nyaris tidak ada kalau mengingat bahwa dia berhadapan dengan seseorang yang melihat dirinya membuang angin

"Aku Lim Young Min, mahasiswa . . . " Hanya pengenalan nama orang itu yang sempat didengar oleh Sewoon, kembali merasa malu karena mengingat dirinya membuang angin di hadapan orang lain dan bicara pada seseorang –yang dia yakini adalah seniornya– dengan nada tidak menyenangkan. Sewoon pikir pertemuan pertama ini terlalu memalukan, dan dia tidak ingin memiliki kesempatan lain untuk kembali bertemu dengan orang itu.

.

Langkah Sewoon yang semula beriringan dengan teman-temannya menuju kantin mulai berubah haluan, hanya melemparkan senyum dan mengatakan 'ada barang yang tertinggal' sebagai jawaban dari pandangan bertanya teman-temannya. Sudut mata Sewoon menangkap rambut merah Youngmin di sisi lorong yang sibuk membicarakan entah apa dengan temannya, langkah Sewoon berlalu dengan ringan agar temannya tidak menyadari gelagat anehnya.

Tangan Sewoon berhenti menelusuri judul buku untuk mencari buku yang dia butuhkan sebagai contoh tugas, bahunya terangkat menjadi lebih tinggi hingga membuat Taedong yang menemaninya mencari buku merasa khawatir. Pemuda marga Kim itu menyamakan pandangan dengan Sewoon, hanya sempat melihat satu kepala berambut merah yang hendak menoleh ke arah mereka. Tidak sempat menanyakan apapun karena Sewoon mengatakan akan membelikan minum kalau dia tidak bertanya, jelas minuman di saat lelah berlari adalah pilihan yang diutamakan oleh Taedong.

Sewoon membalik tubuhnya dan berpura bicara dengan Gunhee yang tengah melamun karena tidak mendapatkan jatah makanan di tempat kosnya, mengerang sebal karena si Anak Ayam dengan nafsu makan setingkat Babi mengambil terlalu banyak bagian. Tawa kecil Sewoon berusaha menanggapi cerita Gunhee yang memang lucu, melirik cemas pada sekumpulan Pemuda jurusan lain dan melihat si pemilik rambut merah maroon tengah merespon lelucon dari teman satu jurusannya dengan senyuman tenang atau tawa kecil. Sewoon meminta maaf pada Gunhee, mengatakan bahwa dirinya teringat kalau dia memiliki kegiatan yang harus segera dilakukan, Gunhee berseru dengan kesal karena dia bahkan belum menceritakan bagian paling menyebalkan.

Pandangan Sewoon mengedar untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain dalam ruangan, sebelum dia melepas angin pada ruangan di sisi Kampus. Tidak ada orang lain yang menyahut atau balasan apapun di sekitarnya, namun Sewoon memikirkan Youngmin dengan rambut merahnya yang menangkap basah dirinya membuang angin di ruang perkumpulan Klub Dance dan melontarkan tawa halus yang sama sekali tidak terkesan mengejek dirinya. Sewoon tidak ingin memiliki kesempatan bertemu lagi dengan Youngmin, tapi alasan itu membuatnya lebih mudah menemukan dan memperhatikan Youngmin agar bisa menghindarinya. Sewoon tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

.

Kaki Sewoon melangkah tidak terburu di lingkungan Kampus yang mulai ramai, merespon sapaan mahasiswa sekedar kenal nama dan wajah yang berpapasan dengannya. Sewoon tidak mengedarkan pandangan dengan perasaan takut, walaupun dia bisa terlihat dengan mudah kalau berhadapan dengan Youngmin karena tidak berada diantara teman-temannya (bahkan menurut Sewoon lebih aman baginya untuk berjalan sendiri, karena teman-temannya senang melontarkan candaan dan bicara dengan nada suara yang keras). Sewoon memang pergi dengan terburu hingga tidak mendengar Youngmin berada pada jurusan apa, tapi si Jung tidak pernah melihat Youngmin pada kelas senior di jurusannya selama dua semester ini, jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun selama dirinya berada di jalan menuju kelasnya yang berbeda dengan Youngmin. Langkah Sewoon berhenti di depan lift dan mengangkat kepala untuk melihat dimana tepatnya lift berada, memperkirakan pilihan yang bisa memperhemat waktu antara segera menaiki tangga atau menunggu lift dengan santai. Pilihan Pemuda itu jatuh pada menunggu lift dengan santai, karena melihat angka dua dengan panah turun.

Sewoon memasuki lift yang sudah terisi oleh satu orang, Pemuda dengan rambut hitam yang sibuk dengan papan elektronik layar datar di tangannya. Hanya melintas sekilas karena dia segera memasuki ruangan sempit itu untuk menuju kelasnya, yang seharusnya dimulai tiga puluh menit lagi. Salahkan dirinya yang terlalu mengantuk hingga memasang alarm dua puluh menit lebih cepat dari seharusnya, dan lagi dia bukan tipe orang yang mudah tertidur setelah mulai terbangun . . .

'Pssh' Perhatian Sewoon berpindah dari tombol menutup pintu lift yang baru ditekannya, menoleh pada Pemuda rambut hitam yang baru saja membuang angin di sebelahnya

"Ah, maafkan aku" Pemuda rambut hitam itu membungkuk sopan selagi melontarkan permintaan maaf karena dia melepaskan angin di hadapan orang lain yang bisa saja merasa terganggu dengan hal itu, sementara Sewoon membuang nafas dengan berat

"Kau mengatakan, bahwa kau akan melupakan insiden hari itu, Senior" Ujar Sewoon, menyadari bahwa orang di sebelahnya adalah Youngmin yang menangkap basah sewaktu dirinya buang angin dalam ruangan Klub Dance

"Bukan keinginanku untuk membuang angin di hadapanmu, sama seperti kau tidak bermaksud buang angin di hadapanku saat itu" Respon Youngmin, melihat Sewoon membuka mulutnya seperti hendak melontarkan protes karena Youngmin membahas kejadian beberapa bulan lagi

"Kau sendiri mengatakan, bahwa kau ingin membuat kesan yang lebih baik saat kita bertemu di kesempatan lainnya. Tapi, kau selalu menghindari kesempatan untuk bertemu denganku dan memilih untuk berjalan memutar atau bersikap tidak tahu. Kau melanggar perkataanmu lebih dulu, jadi jangan melempar kesalahan hanya padaku" Youngmin ingin mengangkat tangannya dan menuding pada wajah dengan ekspresi setengah melamun di hadapannya, hanya menghela nafas dan menutup wajahnya dengan sebelah tangan pada akhirnya

"Tapi, Senior sudah mengatakan 'baiklah' pada saat itu" Ini pembicaraan yang sangat tidak menyenangkan bagi Sewoon, mempertahankan ekspresi biasa seolah tidak ada apapun yang terjadi adalah satu yang bisa dia lakukan agar dirinya merasa memiliki wajah di hadapan Youngmin

' . . . ' Youngmin bisa mendebatkan mengenai mainan bodoh yang dia anggap keren dengan temannya semasa kecil, atau membicarakan karakter kartun superhero dengan ekspresi berlebihan dan nada kagum khas anak kecil yang terkesan memalukan untuk diingat. Bagaimanapun bicara dan terlibat dengan orang lain karena membuang angin, bukan hal yang pernah Youngmin pikir bisa dia lakukan (dia bahkan tidak pernah memikirkan ini, bagaimana dia bisa berpikir kalau dia bisa melakukannya?)

'Ting!' Tungkai Sewoon tidak bergerak sekalipun pintu lift sudah terbuka, menunggu balasan dari Youngmin yang terdiam sedari hampir satu menit yang lalu. Atensi Sewoon mengarah pada pintu lift yang kembali tertutup, tidak berminat untuk mencegahnya dan kembali menghindari Youngmin

"Kupikir, aku memperhatikanmu" Ekspresi setengah melamun Sewoon berhadapan dengan ekspresi setengah bingung dari Youngmin, pandangan bertanya Sewoon mengalami benturan dengan pandangan tidak yakin Youngmin

"Aku mulai memperhatikanmu setelah kita bertemu di ruang . . . baik, aku tidak menyebutkannya. Tenang saja" Youngmin membuat gerakan kunci di depan mulutnya dan tersenyum geli, merespon pandangan tidak senang dan gerakan menggeleng dari Sewoon. Pembicaraan buang angin bagi Sewoon memiliki tingkat sensitif sama seperti dengan pembicaraan berat badan maupun usia bagi Bibinya atau sebagian Perempuan lainnya, jadi Youngmin harus lebih berhati-hati dalam ucapannya

"Aku menyadari kau dan teman-temanmu berjalan menuju Kantin, searah denganku dan temanku di sisi lorong. Aku melihatmu dan satu Laki-laki yang kupikir teman satu jurusanmu melewati pintu masuk Perpustakaan, dan aku sedang berada disana untuk menemani Kenta. Aku juga melihatmu bicara dengan Gunhee, pembicaraan yang sepertinya seru dan menyenangkan, tapi Gunhee berujar kesal dengan suara keras dan kau tidak terlihat lagi. Karena tiga saat itu, aku berpikir kau mengenali rambut merahku dan sengaja menghindar" Telunjuk Youngmin mengarah pada bagian kepalanya, seolah memberitahu warna rambutnya telah berubah menjadi hitam. Ekspresi setengah melamun Sewoon dengan mulut sedikit terbuka menjadi pemandangan lucu bagi Youngmin, membuat Youngmin melontar tawa ringan yang mengingatkan Sewoon dengan temu pertama mereka

"Tidakkah pertemuan pertama kita terlalu memalukan? Aku merasa aku tidak lagi memiliki wajah untuk berhadapan denganmu, Senior" Penjelasan Sewoon membuat Youngmin menarik sudut bibirnya, merasa bahwa Pemuda Jung ini sangat lucu

"Buang angin, mengeluarkan gas perut, atau entah bagaimana cara penyebutannya, aku tidak tahu apa yang terlalu memalukan dari buang angin. Maksudku, memang rasanya memalukan untuk membuang angin di tengah keramaian, tapi itu kebutuhan alami yang menyiksa tubuhmu kalau kau terlalu sering menahannya hingga waktu yang lama" Manik Youngmin mengarah pada tangan Sewoon yang mengepal, bukan karena merasa kesal menurut Youngmin. Sudut bibir Youngmin meninggi selagi dia meraih tangan Sewoon, membuat Pemuda Jung itu mengangkat pandangannya hingga bertemu dengan tatapan menenangkan dari Youngmin

"Aku tidak mempermasalahkannya, lakukan" Keraguan dalam pandangan Sewoon membuat Youngmin membuka mulut dan mengangguk ringan untuk meyakinkan

'Pssh' Aroma tidak sedap menyebar dengan cepat dalam ruangan sempit yang mereka tempati disusul dentingan pintu lift yang terbuka, Sewoon melihat Taedong yang berdiri di depan pintu lift bersama dengan Donghan. Taedong mengangkat tangan untuk menyapa, sementara Donghan mengernyit karena aroma tidak sedap yang menguar dari dalam lift

"Maaf, aku buang angin" Tangan Youngmin terangkat selagi dia mengakui 'gas beracun' Sewoon sebagai miliknya, membuat Sewoon melihat ke arahnya dan membuka mulut seperti merasa kagum. Sewoon selalu berpikir bahwa buang angin adalah sesuatu yang sangat memalukan, bahkan pelaku buang angin lebih senang melemparkan tuduhan pada orang lain saat dia melakukannya di tengah keramaian. Youngmin tidak membelanya di depan banyak orang, tapi Pemuda marga Lim itu tidak membuat dirinya merasa malu di hadapan dua teman dekatnya.

.

Tidak berbeda dari Youngmin yang tidak berpikir bahwa dia bisa bicara dan terlibat dengan orang lain karena buang angin, Sewoon juga tidak berpikir dirinya akan bermain 'petak-umpet' dengan orang lain karena dirinya pernah buang angin di hadapan orang itu. Sewoon lebih tidak berpikir mengenai dirinya yang merasa kagum karena Youngmin tidak mempermasalahkan sewaktu Sewoon ingin membuang angin, juga mengangkat tangan dan mengatakan 'gas beracun' Sewoon sebagai miliknya saat Donghan mencium aroma tidak sedap yang membuatnya mengernyit. Youngmin mengatakan dengan berani tanpa mempedulikan tatapan menilai dari Donghan, membuat Sewoon merasa bersalah pada Youngmin namun menarik sudut bibirnya karena senyuman Youngmin tidak terkesan mempermasalahkan hal tersebut.

Youngmin masih mengingat pertemuan pertama dengan Sewoon, begitupun Sewoon yang hanya melontarkan tawa canggung setiap kali orang menanyakan awal hubungan mereka. Kalau ada yang menanyakan hubungan mereka saat ini (sebenarnya tidak ada yang akan menanyakannya), Youngmin menatap Sewoon yang menatapnya dengan pandangan bertanya juga ekspresi setengah melamun yang menggemaskan. Ungkapan perasaan Youngmin di ruang kelas Sewoon sekitar satu pekan lalu bukan pernyataan romantis dengan rangkai bunga atau kotak cokelat, hanya pernyataan Youngmin mengenai perasaannya yang dibalas Sewoon dengan balas mengungkapkan perasaan. Yah, Youngmin maupun Sewoon tidak berpikir bagaimana hubungan mereka berawal dan bagaimana mungkin (semoga ini perkiraan buruk yang tidak akan terjadi) hubungan mereka akan berakhir. Youngmin hanya berharap hubungan mereka tidak berakhir karena hal yang sama dengan hal yang mengawali hubungan mereka, buang angin atau 'gas beracun'.

.~~~KKEUT~~~.

Ya Ampun, kok cerita PacaPonyo jadi kayak gini? Salahkan Egoist nya Roy Kim yang bikin aku addict ngedengernya dan ketawa sendiri nonton MV nya, anggep aja buat penghibur karena sampe sekarang aku masih baper kalo ngeliat foto Youngmin di episode final. Dari kemarin sibuk buat persiapan hari raya maupun kegiatan berkeliling pas hari raya (sampe sekarang masih, tapi ngga sesibuk kemarin), jadi ini baru bisa diposting hari ini. Aku tahu masih banyak kesalahan dan kekurangan, jadi silahkan review ^v^

(Kalo ada yang mau nge request fanfic Ponyo sama anggota Be Mine Team Dua, aku bakal update Beloved Ponyo. Tapi, kalo ngga ada request, ya udah)

Sekalian, mohon maaf, kalo selama ini ada kesalahan atau hal kurang berkenan. Intinya, selamat merayakan hari raya bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin ^v^