.
Beloved Ponyo (Awkward Attention)
('Brand New Music Trainee' Kim Dong Hyun x 'Starship Entertainment Trainee' Jung Se Woon)
BlueBerry's Sewoonie Fanfiction
Don't Like, Don't Read
.
Donghyun memang menyukai kegiatan bermain Gitar hingga bersikeras mempelajari sendiri melalui buku atau tayangan video yang ditemukannya, dan Donghyun pernah mencoba untuk menulis lirik bagi melodi gitar yang dibuatnya. Tapi, alasan Donghyun ingin bergabung dengan perkumpulan pemusik di Kampusnya tidak memiliki kaitan dengan Gitar Tersayang yang tidak dia ijinkan disentuh oleh sepupunya (sepupunya bahkan bisa merusak engsel pintu kamar juga pegangan pintu kulkas, jadi Donghyun pikir dirinya tidak salah melarang sepupunya menyentuh gitarnya walau hanya satu senar) atau alasan lain yang memiliki kesan musikal, Donghyun ingin bergabung karena seseorang yang menarik perhatiannya berada disini. Senior tanpa sikap senioritas yang membalas sapaan Donghyun dengan ramah, sering memperlihatkan ekspresi datar terkesan serius bagi orang lain namun menggemaskan juga terkesan bodoh dalam pandangan Donghyun, mempesona sewaktu bermain Gitar dan mengagumkan sewaktu bernyanyi. Donghyun sungguh bisa menghabiskan waktu satu jam hanya untuk membicarakan Sewoon, Pemuda marga Jung yang disebutnya mirip dengan karakter Ponyo.
Ekspresi setengah melamun Sewoon tertangkap jelas oleh pandangan Donghyun, menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih engsel pintu ruang perkumpulan dan mempersilakan Sewoon untuk memasuki ruang lebih dulu. Senyuman Donghyun mendapat balasan senyum tipis Sewoon, hanya senyum tipis tapi membuat perasaan Donghyun berantakan dan tidak ingat cara bernafas selama beberapa saat. Donghyun lebih sering menyibukkan diri dengan obrolan mengakrabkan diri pada sesama anggota perkumpulan, walaupun sesekali matanya mengedar untuk mencari Sewoon yang terkadang sibuk dengan Gitar namun melompat masuk pada perbincangan sesama anggota selagi meraih makanan ringan dari si anggota di saat berikutnya. Pemuda Kim itu menyibukkan diri dengan menggumamkan senandung sesuai petikan gitar setelah 'teman mengobrol' nya pulang lebih dulu, menghentikan gerakan jemarinya sewaktu mendengar senandung lain dan hanya menemukan Sewoon yang berada dalam ruangan itu selain dirinya. Tawaran jalan bersama ke Gerbang yang dilontarkan Sewoon tentu bukan hal yang ditolak oleh Donghyun, membuat Donghyun menyimpan Gitar pada tas khusus untuk alat musik tersebut.
Bunyi rintikan menghempas kasar pada tanah menyambut Donghyun yang bersisian dengan Sewoon, membuat si Kim melirik pada si Jung di sebelahnya yang menggunakan kemeja tipis. Donghyun juga tidak yakin Sewoon menyimpan jas hujan atau payung dalam tas gitar maupun tas selempangnya, membuat Donghyun merutuki dirinya yang lupa membeli payung dalam perjalanan menuju Kampus . . .
"Hujannya tidak deras, tapi ini tipe hujan yang tahan lama" Donghyun membuka suara, mencari pembicaraan yang membuatnya tidak begitu canggung untuk menawarkan payung pada Sewoon
"Iya" Balasan singkat Sewoon disambung hela nafas yang menimbulkan uap tipis, mengingat suhu udara yang begitu rendah saat ini. Donghyun melirik jaket yang digunakannya dan mengusap sisi kepala dengan canggung, melihat Sewoon yang menonton hujan selagi telapak tangan sibuk saling mengusap untuk mengurangi dingin
"Apakah Hyung tidak merasa kedinginan, hanya menggunakan kemeja seperti itu?" Pertanyaan bodoh Donghyun membuat Pemuda Kim itu merutuk dalam hati, sesaat setelah melontarkan tanya. Tatapan Sewoon mengarah pada Donghyun, sekedar ingin memberi atensi pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Donghyun tepatnya
"Cuaca memang sedang dingin" Sewoon memang tipe orang yang tidak banyak bicara selama Donghyun memperhatikannya, tapi juga bukan tipe orang yang membalas pertanyaan dengan sesingkat ini. Donghyun pernah melihat Sewoon saling melontarkan candaan dengan senior rambut merah yang mirip dengan karakter Alpaca Menari, tapi sekarang Sewoon tidak banyak bicara walau Donghyun berusaha memancing pembicaraan dengannya
"Hyung, kau kedinginan?" Donghyun melontarkan tanya sewaktu melihat Sewoon menempelkan telapak tangan pada sisi wajah, tangannya yang sempat terangkat untuk meraih wajah Sewoon beralih pada sisi baju seolah hendak membersihkan jaket yang dikenakannya dari debu. Hubungan mereka tidak akrab, rasanya canggung juga terkesan tidak sopan bagi Donghyun kalau dia sungguhan memegang sisi wajah Sewoon
"Tidak juga" Tangan Sewoon menjauh dari sisi wajah dan menekuk hingga berada dalam posisi bersedekap, posisi yang biasa Donghyun lakukan saat dia merasa kedinginan namun tidak bisa beranjak karena cuaca buruk atau terlibat obrolan seru juga berada dalam situasi formal (mendengar instruksi guru pada acara wisata sekolah di tempat terbuka, misalnya). Donghyun melepas jaket yang dikenakannya, hanya memegang pada satu tangan selagi memikirkan cara tepat untuk menawarkan jaketnya pada Sewoon
"Kalau kau tidak menggunakan jaketmu kembali, kau akan kedinginan" Lamunan Donghyun terpecah karena lontaran kalimat dari Sewoon, memikirkan kalimat itu sebagai bentuk perhatian selama beberapa saat. Lebih lanjut memikirkannya, Donghyun berpikir kalau itu memang bentuk perhatian, sekedar perhatian senior pada junior atau sebagai sesama anggota perkumpulan pemusik
"Hyung sendiri tidak menggunakan pakaian tebal. Ini musim dimana penyakit mudah datang, jadi seharusnya Hyung mengenakan pakaian yang lebih tebal" Pemikiran tentang Sewoon yang terkena flu karena cuaca dingin malam ini membuat Donghyun mengumpulkan keberanian untuk memakaikan jaket tebal miliknya pada Sewoon, tidak mendapat penolakan yang sempat dikhawatirkan olehnya
"Kau sendiri bisa terkena flu" Nada bicara Sewoon biasa dan cenderung santai, tapi Donghyun sempat berpikir dia mendengar nada khawatir pada bagian awal
"Aku tidak mudah terserang penyakit, ini bukan masalah" Donghyun memberi senyum pada Sewoon sewaktu Sewoon melihat padanya, hanya mendapat respon anggukan tanda mengerti sebelum Sewoon mengalihkan pandang dan menepuk sisi wajah yang kemerahan. Donghyun berpikir, mungkin warna kemerahan di wajah Sewoon dikarenakan suhu dingin. Tangan Donghyun mengusap bagian lengan untuk mengurangi dingin, bersikap seolah dirinya diganggu serangga sewaktu Sewoon melihat padanya.
Donghyun jujur saat mengatakan dirinya tidak mudah diserang penyakit, tapi kegiatan kuliah yang melelahkan mempengaruhi kondisi tubuh Donghyun. Hari berikutnya, Donghyun tidak melakukan kegiatan kuliah dan hanya menggulung diri dalam selimut di tempat tidur karena merasa pening. Tangan Donghyun terulur untuk membalas pesan dari Donghan, menjelaskan alasan dirinya tidak masuk dan meminta Donghan mengarang alasan kalau Sewoon mencarinya, alasan apapun selain dia tidak masuk karena sedang demam. Donghyun kembali menggulung diri dalam selimut, berusaha istirahat sebaik mungkin agar bisa kembali melakukan kegiatan kuliah. Donghan itu teman baiknya, tapi meminta catatan dari Donghan sama saja dengan menguras isi dompetnya. Dan lagi, Klub Pemusik Kampus memiliki pertemuan dua hari lagi dan Donghyun harus terlihat baik di hadapan Sewoon.
.
Sewoon menaruh tempat makanan cepat saji yang baru dihabiskannya pada kantung sampah di sisi ruang sempitnya, menunduk untuk memastikan tidak ada noda saus atau semacamnya yang mengotori pakaiannya. Tangan Sewoon meraih jaket yang dia sangkutkan pada gantungan di sisi pintu, menyimpan jaket yang dicucinya dengan biaya lebih mahal di binatu agar bisa segera dikembalikan. Waktu tiga hari itu terhitung cepat, kalau mengingat pakaian lainnya bisa menginap di binatu sampai lima hari dengan berbagai alasan (intinya, si pemilik binatu tentu lebih mengutamakan pakaian mereka yang membayar dengan mahal daripada pakaiannya yang membayar seadanya). Kantung plastik yang sebelumnya diisi dengan kue kering kiriman Ibunya menjadi tempat membawa jaket milik adik tingkatnya, Sewoon beralih memasuki kamar untuk mencari jaket miliknya sebagai antisipasi kalau saja hujan kembali turun pada larut malam yang membuatnya bisa saja terkena flu. Memikirkan tentang flu, pandangan Sewoon mengarah pada kotak obat di sisi meja belajar dan mengambil satu strip dari obat flu yang dimilikinya, menyimpan obat tersebut dalam kantung jaket milik sang adik tingkat.
Hari menjadi panjang karena kegiatan kuliah yang melelahkan, menjadi dua kali lipat lebih melelahkan dengan pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya mengenai isi kantung yang dibawanya juga mencandai kalau ada sesuatu antara dirinya dengan si pemilik jaket. Pandangan Sewoon mengedar untuk mencari Donghyun dalam ruangan Klub, menyibukkan diri dengan obrolan bersama anggota lain daripada menanyakan kehadiran mengenai Donghyun yang bisa saja membuatnya kembali dicandai bahwa dia memiliki hubungan istimewa dengan Donghyun. Bukan Sewoon tidak suka kalau dirinya memiliki hubungan dengan Donghyun, tapi sebelumnya dia sudah merasa canggung saat bersama dengan Donghyun, Sewoon tidak ingin menambah kecanggungan dengan candaan temannya yang bisa saja membuat Donghyun merasa tidak nyaman. Ekor mata Sewoon melihat Donghyun yang memasuki ruangan dengan menggunakan masker, beralasan dirinya baru memakan sesuatu yang membuat mulutnya memiliki aroma tidak menyenangkan. Fokus Sewoon kembali pada lawan bicaranya saat menyadari Donghyun melihat ke arahnya, berpikir untuk mengembalikan jaket Donghyun setelah kegiatan perkumpulan selesai.
Donghyun sibuk menarikan jemari pada senar gitar dan menggumamkan lirik yang tidak pernah didengar oleh Sewoon, terkesan romantis dengan 'lelehan keju' yang membuat Sewoon melengkungkan senyum tipis. Sewoon bukan gadis remaja yang tersipu karena seseorang menunggunya di depan pintu dengan bunga cantik, jadi Sewoon tidak tahu bagaimana memberi tanggapan terhadap lagu Donghyun . . .
"Ah, Sewoon-Hyung" Mata Donghyun menyipit, membuat Sewoon berpikir kalau Pemuda Kim itu tengah tersenyum dengan ramah di balik masker yang dikenakannya
"Maaf, aku mengganggu" Ujar Sewoon dengan ekspresi biasa, ekspresi datar terkesan dingin yang terlihat bodoh dan lucu dalam pandangan Donghyun. Tangannya yang tidak memegang kantung tas berada di sisi kepala, mengusap pipinya dengan kesan canggung yang kentara
"Tidak, aku bahkan tidak merasa terganggu. Kenapa, Hyung?" Pertanyaan Donghyun mendapat balasan Sewoon dengan mengulurkan kantung tas di tangannya, membuat Pemuda Kim itu meraihnya dan melihat isi kantung tersebut. Mulutnya membulat paham, saat menemukan jaket miliknya dalam kantung tas yang diberikan Sewoon
"Hyung menggunakan jaket, hari ini" Komentar Donghyun, merasa tidak biasa karena Sewoon seringnya hanya memakai kemeja polos ataupun kemeja dengan motif. Sewoon mengangguk selagi memperbaiki posisi jaket yang dikenakannya, sudut bibir Donghyun tergelitik karena Sewoon tidak cocok dengan gaya keren seperti itu
"Kau ingin jalan bersama hingga Gerbang Kampus?" Sewoon melontarkan tawaran seperti sebelumnya, mendapat anggukan menyetujui dari Donghyun yang menyimpan Gitar dalam tas khusus setelahnya. Kaki Sewoon bergerak lebih dulu menuju pintu ruangan, setelah melihat Donghyun mengambil jaket dalam kantung tas
"Apakah ini milikmu, Hyung?" Donghyun menyusul langkah Sewoon dengan terburu, tangannya memegang satu strip obat flu yang ditemukannya dalam saku jaketnya. Tatapan Sewoon mengarah pada strip tablet di tangan Donghyun, hanya diam dengan ekspresi setengah melamunnya selama beberapa saat
"Untukmu" Langkah Donghyun berhenti karena mendengar jawaban dari Sewoon, membuat si Pemuda Jung turut menghentikan langkahnya dan mengusap bagian belakang kepala dengan ekspresi datar
"Jangan salah sangka tentangku. Aku mendengar dari temanmu, bahwa kau sedang flu dan aku tidak ingin tertular flu. Aku bukan sungguh ingin memberikannya untukmu, hanya tidak sengaja menemukannya dan kesulitan mencari kotak obat" Sewoon tidak menyukai kegiatan berbohong, salah satu kegiatan yang begitu menguras otak dan membuat tubuhnya turut merasa lelah. Tapi, rasanya canggung baginya untuk mengatakan bahwa dia mengkhawatirkan Donghyun yang sempat tidak dilihatnya selama dua hari kemarin (Sewoon sama sekali tidak bertanya pada teman satu tingkat Donghyun, beralasan kalau situasi akan sangat canggung kalau dia melakukannya). Sewoon juga bukan orang dengan sikap sembarang yang menebar barang di berbagai tempat, dia yang mengambil strip obat flu dari kotak obat dan menyimpan kotak obat pada posisi sebelumnya dengan rapih
'Tap! Tap!' Langkah Donghyun berada di belakang Sewoon yang berjalan lebih dulu, mengimbangi hingga posisi mereka menjadi bersisian
"Oh, begitu. Kalau begitu, apa Hyung ingin mengambilnya kembali?" Suara Donghyun menjadi lebih jelas karena dia menurunkan masker yang dikenakannya, menunjukkan strip obat dari Sewoon yang berada di tangannya. Kepala Sewoon bergerak untuk memberi tanda penolakan
"Aku memberikannya padamu, jadi itu sudah menjadi milikmu. Terserah padamu, apa kau ingin meminumnya atau membuangnya" Bibir Sewoon mengatup selagi berpikir apa dia perlu mengatakan hal berikutnya atau tidak
"Aku tidak masalah kalau kau memang ingin membuangnya, tapi jangan sakit. Eum, sampai jumpa" Sewoon melontarkan kata secepat yang dia bisa dan mengambil langkah menuju rumah susun tempatnya tinggal, arah berbeda dengan yang ditempuh oleh Donghyun karena dia harus menuju Halte dan menaiki Bis Umum untuk pulang
"Baiklah, aku akan meminum obat dengan baik. Sampai jumpa, Sewoonie-Hyung" Mendengar nada bicara yang antusias membuat Sewoon membayangkan Donghyun tengah menarik sudut bibirnya, imbuhan '-ie' pada namanya memperparah keadaan rona merah di wajah Sewoon. Tidak melihat Donghyun yang tersenyum dan memandangi punggungnya hingga Sewoon menjadi terlihat begitu kecil dalam pandangannya, mengalihkan atensi pada strip obat di tangannya dengan senyum terlampau lebar seperti anak kecil mendapat kesempatan bertemu dengan karakter favoritnya dalam kartun superhero. Yah, tidak ada yang salah karena Sewoon memang karakter favorit dalam drama romansa miliknya, drama romansa picisan dengan segala kecanggungannya.
.~~~KKEUT~~~.
Aku suka 'I Just You' dan aku suka 'Don't Get Me Wrong', disambung jadi 'aku cinta DongPonyo'. Aku antusias banget nulis pasangan ini, tapi pekan ini aku masih sibuk buat keliling ke tempat sodara, jadi ngga banyak waktu buat nulis fanfic. Aku tahu masih banyak kesalahan dan kekurangan, jadi silahkan review ^v^
(V Live si Alpaca menggoyahkan konsentrasiku untuk fanfic DongPonyo atau fanfic couple lainnya, kenapa dia ngegemesin banget sih kan aku jadi susah fokus? Tolong, ingatkan aku kalo bias utamaku itu Sewoon)
