.
Beloved Ponyo (Jodoh Pasti Bertemu)
('Media Line Entertainment Trainee' Lee Woo Jin x 'Starship Entertainment Trainee' Jung Se Woon)
BlueBerry's Sewoonie Fanfiction
Don't Like, Don't Read
warning : ini bukan humor, bukan horor, aku sendiri ngga tahu ini apaan
.
Woojin hanya anak kecil beranjak remaja dengan lima panca indera yang berfungsi baik, dengan tambahan indera keenam yang membuatnya bisa melihat beberapa hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Salah satu sosok yang paling Woojin ingat adalah sosok wanita tua yang menghilang saat Woojin melewati gerbang Taman Kanak, wanita tua itu sudah menemaninya dari sejauh yang Woojin ingat dan mengusir sosok lain yang ingin mendekati Woojin sewaktu anak itu tengah serius bermain. Perasaan Woojin saat berada di dekat sosok itu berbeda dengan perasaan Woojin saat berdekatan atau sekedar melihat sosok lainnya, tidak membingungkan setelah Woojin melihat album foto dan menemukan sosok itu sebagai Neneknya yang meninggal beberapa pekan sebelum dia dilahirkan. Keinginan Neneknya adalah melihat Woojin lahir dan memastikan Woojin tidak kesepian seperti Ibu Woojin sewaktu kecil, menjelaskan kenapa sang Nenek menghilang setelah dia melewati gerbang Taman Kanak dan mendapat sapaan dari murid lain yang menjadi temannya hingga saat ini.
Pada dasarnya Woojin bukan orang dengan rasa ingin tahu terhadap permasalahan orang lain (terlebih sebagian besar sosok yang mengganggunya bukan orang yang dikenalnya secara dekat dan pribadi), jadi dia hanya memberi respon seadanya atau bahkan tidak memberi respon sama sekali terhadap celoteh maupun cerita sosok yang mendekatinya. Tapi, sosok yang mengganggunya saat ini berbeda dari kebanyakan sosok yang gemar mengganggunya dan berceloteh dengan berisik, bahkan Woojin lebih senang menyebut sosok ini 'menemaninya' daripada 'mengganggunya'. Sosok ini menemani Woojin yang belajar dengan ocehan ringan, menggumamkan lagu yang tidak pernah Woojin dengar dalam acara musik manapun, dan hanya menceritakan mengenai dirinya juga masalahnya (alasan dirinya menetap lebih lama) saat Woojin sendiri yang menanyakan. Namanya Jung Se Woon, biasa berada di depan lemari pendingin karena kebiasaannya semasa hidup adalah makan setelah bangun tidur, dan memiliki masalah mengenai cinta satu sisi sekaligus teman masa kecilnya.
Sewoon berdiri di depan Toko Peralatan Musik, tentu tidak mengganggu para pejalan karena sosoknya tidak terlihat oleh orang lain. Ekspresi setengah melamun yang lucu dan membuat Woojin ingin melontarkan tawa, kalau saja dia tidak ingat bahwa dia sedang berada diantara keramaian yang sibuk tanpa hal lucu yang menggelitik . . .
"Hyung bisa memainkan alat musik?" Pertanyaan Woojin hanya dilontarkan dengan suara kecil, bukan hal sulit untuk ditangkap oleh pendengaran Sewoon di sisinya
"Iya, aku pandai memainkan Gitar dan tidak buruk memainkan Piano" Telunjuk Sewoon menempel pada sisi kaca, menunjuk dua alat musik yang dia sebutkan tanpa meninggalkan noda pada kaca bening tersebut. Woojin mendekatkan wajahnya pada sisi tangan Sewoon, merasakan aura dingin dari tangan yang tidak bisa menyentuh atau disentuhnya (bukan Woojin berusaha menyentuh Sewoon, tapi Woojin mempelajari dari pengalamannya dengan sosok pemarah yang membutuhkan pelampiasan atau sosok pemurung yang membutuhkan pelukan). Sedikitnya ada sekitar tiga sosok yang dilihat oleh Woojin di dalam toko, memiliki orang lain yang bisa diganggu sehingga Woojin berani untuk bergerak dan mendorong pintu masuk toko tersebut
"Kau bahkan bisa memainkan alat musik, selain pandai dalam pelajaran Bahasa Asing. Orang yang menjadi Kekasihmu nantinya sangat beruntung" Sewoon mengambil kesimpulan selagi bayangannya mengimbangi langkah Woojin, merasa tidak perlu melontarkan pertanyaan yang tentu akan terabaikan karena Woojin tidak ingin dianggap aneh oleh orang lain
"Whoa, ini bagus" Langkah Woojin berhenti diantara gitar akustik, turut menyibukkan diri dengan memandangi salah satu gitar akustik dengan pandangan berpura meneliti. Pandangan Sewoon terarah pada gitar akustik di tangan Woojin, sudut bibirnya terangkat selagi jemarinya menelusuri badan gitar namun lengkungan itu segera menghilang saat tidak ada suara yang ditimbulkan dari tepukannya pada kotak resonansi
"Tidak mengganggu, kalau aku mengoceh saat ini kan?" Senyuman Sewoon bukan senyuman secerah matahari musim panas yang menyilaukan atau senyuman seolah menumbuhkan bunga musim semi, tipe senyuman tenang yang membuat Woojin merasa lebih baik setelah harinya terasa melelahkan dengan kegiatan sekolah juga sejumlah sosok yang mengganggunya (Sewoon lebih sering menjaga jarak saat Woojin didekati oleh sosok lain di luar rumah)
"Aku tidak merasa terganggu dengan Hyung" Balasan Woojin hanya diucapkan dengan menggumam, tidak ingin mendapat pandangan aneh dari pengunjung lainnya yang berjarak dua meter darinya. Tangan Woojin mengembalikan gitar pada posisi sebelumnya, melihat Sewoon tidak lagi menaruh minat pada alat musik di tangannya
"Sebelumnya aku senang memainkan Gitar, dan membuat beberapa lagu yang menggunakan gitar akustik sebagai melodinya" Woojin tidak begitu memahami hal menyenangkan dari memainkan gitar juga memiliki lagu sendiri, tapi Sewoon mengembangkan senyuman saat mengoceh mengenai beberapa lagu yang ditulisnya. Gigi Woojin menggigit bibir bawahnya, menahan lengkung senyum yang membuat orang di sekitarnya membisik bingung atau menuding dirinya aneh (walaupun Woojin mulai berpikir memang ada yang aneh dengan dirinya, karena sudut bibirnya tergelitik hanya dengan mendengar ocehan polos juga melihat perubahan ekspresi Sewoon saat bercerita).
.
Woojin benar-benar yakin ada yang salah dengan dirinya, hingga dia mencari kehadiran sosok Sewoon sewaktu sosok Pemuda Jung itu tidak berada dalam pandangannya untuk waktu yang lama. Sewoon juga bukan tipe orang yang senang mengoceh mengenai dirinya sendiri, menjadi lebih diam karena Woojin menggerutu tidak jelas dengan alasan para Seonsaengnim menyebalkan atau cara mengajar yang rumit dan membosankan (sama sekali tidak menyadari alasan Woojin menggerutu sebenarnya karena tidak melihatnya selama satu hari). Celoteh Donghyun –sosok yang mengganggunya setelah mereka bertemu di taman perumahan– mengenai dirinya yang menyukai Sewoon dengan cara romantis hanya mendapat respon cenderung datar, berpikir kalau Donghyun hanya memberi ocehan kosong seperti biasa dilontarkan sosok yang memiliki usia lebih dewasa darinya tersebut. Woojin mengakui kalau Sewoon memiliki penampilan yang menarik, tapi dia tidak yakin dia merasa tertarik pada Sewoon untuk alasan yang romantis.
Sosok lain mendekatinya dan meminta bantuannya, atau sekedar mencari teman mengobrol hingga keinginan mereka sudah terpenuhi. Sewoon termasuk diantara bagian dua, bukan teman mengobrol menyenangkan dengan topik pembicaraan yang kekinian dan mengasyikan, tapi juga bukan teman bicara menyebalkan yang terus melontarkan celoteh tanpa mempersilahkan Woojin untuk turut melontarkan ocehan. Pemikiran mengenai Sewoon yang pergi setelah mengetahui teman masa kecil –sekaligus orang yang disukainya secara sepihak– tentu menghampiri Woojin beberapa kali, menghilangkan nafsu makan yang membuatnya diomeli oleh Donghyun karena dia dianggap tidak menghargai makanan, menyurutkan keinginan berkegiatan yang membuat Sewoon bertanya karena tidak biasanya Woojin mengabaikan tugas dan hanya bermalasan di kasur. Tatapan Woojin beralih dari langit kamar pada Sewoon yang bercanda entah apa dengan Kenta, melontarkan tanya dalam hati mengenai bagaimana dirinya saat sosok Sewoon akhirnya beristirahat dengan nyaman.
Aura dingin di sisi wajahnya membuat Woojin mengerjap dan menoleh pada Sewoon, menyadari Bis Umum yang berlalu dan meninggalkan asap di wajahnya adalah bis searah dengan halte dekat rumah. Pandangan Woojin mengarah pada Sewoon yang melakukan gestur seolah menghela nafas dan merasa bersalah membuatnya melewatkan bis arah pulang, bahu yang lebih muda terangkat seolah mengatakan bukan masalah . . .
"Kau sering melamun, beberapa waktu terakhir" Sewoon membuka suara lebih dulu, menjadi hal yang biasa dalam beberapa hari ini. Woojin meninggikan sudut bibirnya dan melemparkan cengiran polos tanpa rasa bersalah pada sosok di sebelahnya, tidak khawatir mengenai pandangan aneh karena hanya ada sekelompok murid perempuan di depannya yang begitu sibuk membicarakan 'Pangeran Tampan' di sekolah mereka
"Eung" Dehaman Woojin menjadi jawaban ambigu bagi perkataan Sewoon, direspon anggukan seolah mengerti dari si Jung yang menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Tubuh Woojin menghempas pada kursi, mendapat lirikan sebentar dari kelompok murid perempuan yang kemudian kembali sibuk dengan topik pembicaraan lain entah apa
"Donghyun-Hyung bilang, kau melamun karena mengkhawatirkan bagaimana kalau aku pergi. Ah, yang benar saja, selera humor Donghyun-Hyung sangat buruk" Lengkungan bibir Sewoon meninggi, memikirkan ucapan Donghyun sebagai lelucon gagal. Bibir Woojin melengkung dengan canggung, dalam hati merutuki Donghyun yang mengatakan hal itu pada Sewoon
"Aku tidak boleh mengkhawatirkan bagaimana kalau Sewoon-Hyung pergi?" Pertanyaan Woojin membuat Sewoon melihatnya, memasang ekspresi berpikir sebelum tangannya bergerak diatas kepala Woojin seolah hendak mengusap puncak kepala murid sekolah menengah atas tersebut
"Kenapa kau harus mengkhawatirkan bagaimana kalau aku pergi? Aku pergi karena urusanku sudah selesai, keadaanku baik saja terlepas dari bagaimana teman masa kecilku. Kalau dia sudah menemukan penggantiku, orang yang bisa memperhatikannya dengan baik, itu bukan masalah" Mungkin itu memang satu diantara kekhawatiran Woojin, memikirkan raut wajah kecewa sebagai ekspresi terakhir Sewoon yang dilihatnya karena Sewoon melihat teman masa kecilnya itu sudah memiliki pengganti bagi dirinya
"Eung" Woojin tidak bisa mengatakan dia tidak ingin Sewoon pergi, permintaan egois yang tidak mungkin diwujudkan oleh sosok Sewoon. Deru Bis mengalihkan atensi Woojin dari Sewoon, melihat sekumpulan murid perempuan tadi melangkahi tangga bis tanpa menghentikan obrolan seru mereka yang tidak dimengerti oleh Woojin
"Kau terlalu banyak berpikir untuk anak seusiamu, Woojin-ah. Lakukan sesuatu dengan santai saja dan pikirkan apa yang berada di hadapanmu, katakan apa yang kau pikirkan dan memang ingin kau katakan" Tubuh Sewoon berubah posisi dan mengambil langkah hingga menjauhi halte, mengundang rasa penasaran Woojin yang bergerak mengikutinya
"Semoga beruntung dalam cerita cintamu yang lain" Hanya separuh wajah Sewoon yang terlihat oleh Woojin, langkah Woojin berhenti di sisi jalanan sementara sosok Sewoon melewati jalanan kecil yang sepi. Sosok lain dengan rambut merah marun dari seberang turut bergerak mendekati sosok Sewoon, memperlihatkan senyum pertanda lega
"Sewoon-ah" Pelukan sosok itu pada Sewoon terlihat begitu erat, seperti pelukan Bibi Woojin pada Woojin saat mereka tidak bertemu dalam waktu yang panjang. Dua sosok itu memudar dalam pandang Woojin, menyisakan memori mengenai sosok Sewoon yang mengkhawatirkan teman masa kecilnya dan pemikiran mengenai teman masa kecil Sewoon yang ingin memberi pelukan terakhir pada Sewoon
"Ah, halo" Woojin menyadari seseorang di seberang dan menyapanya, berusaha tidak terlihat aneh walau tingkah canggungnya tidak memperbaiki apapun
"Ha . . . " "Takada-san! Kau sudah selesai mengantar pesanan?" Seruan dari Kedai Makanan itu menyela balasan dari orang di seberang
"Iya, Sungwoo-Hyung" Orang itu membalas seruan siapapun-yang-disebut-Sungwoo-itu dengan suara keras, merutuk dengan suara pelan dan ekspresi masam. Pandangan kecewa orang itu bertemu dengan Woojin, Woojin pikir pandangannya tidak jauh berbeda dengan orang itu, berpikir bahwa teman Sewoon menghabiskan waktu menyenangkan bersamanya dan pergi bersama Sewoon setelah menyelesaikan urusan yang tertunda
"Sampai jumpa" Tangan Woojin terangkat, membalas lambaian maupun senyum tipis dari si pengantar pesanan. Sosok Donghyun berdiri menunggunya saat Woojin kembali ke halte, memberi senyuman yang terkesan menyebalkan. Woojin memilih untuk mengacuhkannya dan memasuki Bis menuju halte dekat rumahnya, memikirkan ekspresi melamun si pengantar pesanan daripada memikirkan sosok Sewoon yang tidak lagi menemaninya sekalipun tanpa suara. Woojin tahu mengenai perasaan suka bebas dimiliki oleh siapa saja dan bisa ditemukan kapan saja, tapi Woojin tidak mengerti tentang dirinya yang sebelumnya menyukai sosok Sewoon dan sekarang dia mengkhawatirkan seseorang sebelum tepat satu menit dia kehilangan Sewoon. Woojin berharap, dia cukup beruntung untuk cerita kali ini.
.~~~KKEUT~~~.
Mood aku berantakan pekan ini, aku juga ngga yakin aku nulis apaan diatas. Bagian Seme!Woojin nya ngga terlalu berasa, atau bahkan ngga berasa sama sekali, aku bakal berusaha lebih keras kalo nulis Woojin-Sewoon lagi nantinya. Makasih, buat yang mau baca. Aku tahu masih banyak kesalahan dan kekurangan, jadi silahkan review ^v^
(Aku masih sedih kalo ngeliat foto dari episode final maupun final concert dari P101 S2, dan bulan depan finalnya BOYS24. Aku tuh ngga bisa diginiin)
