.
Beloved Ponyo (Neighbor Across The House's Polite Stalker)
('HIM Entertainment' Park Sung Woo x 'Starship Entertainment' Jung Se Woon)
BlueBerry's Sewoonie Fnfiction
Don't Like, Don't Read
.
Sungwoo bukan penguntit, tepatnya dia tidak memiliki maksud awal untuk menguntit tetangga depan rumahnya. Waktu luang sebagai orang yang baru saja dipecat dan kesulitan mendapat pekerjaan baru membuat Sungwoo lebih sering memendam diri dalam ruang tinggalnya, tanpa sengaja menemukan ruang tinggal di rumah susun hadapannya yang tidak ditutupi tirai pembatas oleh sang pemilik hingga dia leluasa untuk melihat isi ruangan juga kegiatan harian yang dilakukan oleh sang pemilik. Ada tirai pembatas warna oranye di bingkai jendela, tapi entah si pemilik yang kurang teliti atau semacamnya, tirai itu lebih sering dibiarkan membuka sekalipun si pemilik ingin pergi keluar atau tidur di malam hari. Bukan salah Sungwoo untuk mulai mengetahui tentang 'tetangga depan rumahnya', seperti mengenai si tetangga yang berlangganan susu botol di pagi hari, si tetangga memiliki gitar akustik yang sering dibawanya saat pergi (mungkin dia memiliki pekerjaan sebagai musisi atau penulis lagu atau apapun yang berkaitan dengan musik), tapi diantara banyak hal diketahuinya Sungwoo tidak mengetahui siapa namanya, membuat Sungwoo memanggilnya dengan sebutan 'Ponyo' tanpa perijinan.
Pengamatan Sungwoo menemukan si Ponyo mulai bangun dari tidurnya, membuat Sungwoo menunda kegiatannya membaca hasil lamaran kerja yang dikirimkannya pada beberapa perusahaan, Sungwoo yakin kalau kebanyakan perusahaan menolaknya dengan alasan usianya tidak lagi begitu muda (walau tidak begitu tua juga). Melihat si Ponyo yang menghabiskan kimbap segitiga dan susu botol sebagai sarapan, melihat ruangan yang tidak rapi dan memasukkan barang yang diperlukan nya pada tas, dan mengambil satu set pakaian sebelum menuju kamar mandi. Merasa persiapannya sudah lengkap, si Ponyo mengambil tas selempang miliknya dan berlalu meninggalkan ruang tinggal. Sungwoo belum melepas pandangan dari ruang tinggal si Ponyo hingga tiga menit kemudian, hampir berpaling saat melihat si Ponyo terburu untuk mengambil tas gitar yang tertinggal. Bibir Sungwoo melengkungkan senyum selagi dia mengalihkan atensi pada hiasan jendela si Ponyo yang memiliki bentuk karakter Ponyo dan mengucap 'semoga harimu menyenangkan', sudut bibirnya semakin tinggi karena menemukan satu diantara beberapa perusahaan menerima lamaran kerjanya ingin melakukan proses wawancara.
Hanya warna oranye yang Sungwoo lihat dari ruang tinggal si Ponyo pagi ini, tersenyum tipis karena akhirnya si Ponyo menggunakan tirai pembatasnya dengan benar. Sungwoo memastikan tirai biru gelap miliknya sudah menutup dengan sempurna, sebelum dia meninggalkan ruang tinggalnya untuk melakukn wawancara di perusahaan yang menerima lamaran kerjanya . . .
"Aku datang terlalu cepat" Sungwoo menggumam saat kepalanya terangkat untuk melihat jam yang berada di sisi dinding stasiun, memutuskan untuk mendudukkan tubuhnya di bangku stasiun selagi dia mengusap tengkuknya dengan canggung. Hampir tiga tahun dari saat dia melakukan wawancara kerja dengan perusahaan sebelumnya, bukan waktu yang begitu lama sebenarnya tapi Sungwoo khawatir dia melupakan sesuatu dalam wawancara kerjanya kali ini
"Boleh aku duduk disini?" Pertanyaan yang terdengar begitu dekat membuat Sungwoo mengangkat kepalanya, menemukan seseorang yang tidak terlihat asing berdiri di sebelahnya dan menunjuk sisi kosong di sebelahnya
"Silahkan" Sungwoo memberi tempat luas pada sosok tidak asing tersebut, mencari ingatan dimana dia pernah bertemu dengan orang tersebut. Dengan cepat, mengingat sosok yang duduk bersisian dengannya sebagai tetangga depan rumah atau bisa dipanggilnya 'si Ponyo'. Sepertinya, bukan hanya dia yang bersiap terlalu awal pada pagi ini
"Anda terlihat gugup, seperti orang yang ingin melakukan kencan atau mungkin wawancara kerja" Tawa ringan dari si Ponyo menandakan bahwa dia baru melemparkan candaan untuk membuat suasana tidak terkesan kaku, membuat Sungwoo turut melontarkan tawa kecil walaupun seadanya dan mungkin terdengar dipaksakan
"Benar, aku memang ingin melakukan wawancara kerja" Perkataan Sungwoo membuatnya dan si Ponyo saling melihat dengan canggung selama beberapa saat
"Lagipula, usiaku sudah terlalu dewasa untuk merasa canggung karena ingin melakukan kencan" Sambung Sungwoo, membuat orang di sebelahnya membulatkan mulut sebagai tanda mengerti
"Kalau begitu, semangat untuk wawancara kerjanya, Paman" Kedua tangan si Ponyo terangkat dan mengepal sebagai simbolis dari ucapan 'semangat' yang dilontarkannya. Sudut bibir Sungwoo meninggi karena tingkah orang di sebelahnya yang sepertinya lebih muda darinya
"Usiamu memang semuda itu? Kupikir, kau sudah bekerja" Sungwoo lebih sering mengenakan pakaian semi formal dan berhadapan dengan tumpukan berkas, tapi dia tahu ada banyak pekerjaan lain yang tidak membutuhkan penampilan seresmi pakaian kantoran. Selama ini, dia berpikir si Ponyo memiliki pekerjaan berkaitan musik yang mengharuskan dirinya selalu membawa gitar
"Tidak, aku masih menyelesaikan kuliahku yang berkaitan dengan musik" Si Ponyo menepuk tas gitar yang disandarkan pada sisi bangku, kepala Sungwoo terangguk mengerti
"Itu alasanmu selalu membawa gitar?" Lagi, perkataan Sungwoo membuatnya dan si Ponyo terlibat dalam adu pandang yang terkesan begitu canggung. Sungwoo tidak sengaja untuk melontarkan kalimat seperti itu, membuatnya terlihat seperti penguntit yang gemar memperhatikan setiap gerakan si Ponyo
"Benar, aku belum memperkenalkan diri sebagai tetangga Paman. Namaku Jung Sewoon, mahasiswa di jurusan musik, tetangga dengan tirai oranye dan hiasan jendela bentuk Ponyo di depan jendela ruang tinggal Paman" Si Ponyo memperkenalkan diri dengan lengkungan senyum, tidak begitu terkejut dengan lontaran kalimat dari Sungwoo
"Kau tahu, bahwa ruang tinggalku berhadapan denganmu?" Tanya Sungwoo, dibalas gerak kepala tanda mengiyakan dari si Ponyo. Sungwoo terlalu sering menyebut Sewoon sebagai 'si Ponyo', rasanya dia memerlukan beberapa penyesuaian hingga bisa memanggilnya dengan nama sebenarnya, itupun kalau mereka bisa memiliki pertemuan dan mengobrol di kesempatan lain
"Tentu, aku biasa melihat Paman membuka tirai dan meminum . . . entahlah, aku pikir mungkin itu kopi, tapi mungkin juga itu teh dengan aroma menenangkan. Aku memperhatikan Paman karena sewaktu tiba di Seoul, aku tidak memiliki banyak kegiatan selain mengurus beberapa hal terkait kepindahan atau menyelesaikan urusan masuk Perguruan Tinggi. Aku minta maaf karena apa yang kulakukan terkesan tidak sopan, tapi itu bukan salahku karena Paman sendiri yang membiarkannya terbuka hingga larut malam" Kalimat panjang dari Sewoon membuat Sungwoo menarik sudut bibirnya, menertawai kondisi lucu diantara keduanya yang terkesan menjadi 'penguntit' bagi satu sama lain
"Kupikir, aku juga perlu meminta maaf karena memperhatikanmu selama dua bulan terakhir. Kau memang membuka tirai kamarmu, tapi seharusnya itu tidak menjadi alasan bagiku untuk melihatmu seperti penguntit yang tidak mengerti kesopanan" Balasan Sungwoo membuat Sewoon menarik sudut bibirnya, mengerti alasan Sungwoo tersenyum saat mendengar perkataannya sebelumnya
"Tidak ada penguntit yang meminta maaf untuk perbuatannya secara langsung dan bertemu wajah, setahuku. Kalaupun Paman mendapat sebutan 'penguntit', setidaknya Paman adalah penguntit paling sopan yang pernah ada" Ujaran Sewoon terdengar begitu ringan, membuat Sungwoo merasa tergelitik untuk melontarkan tawa ringan yang teredam kesibukan stasiun
"Kalau aku tidak salah, hari ini kau berangkat lebih awal dari waktu biasa kau berangkat ke Kampus, Po . . . Sewoon-ssi?" ada senyuman canggung di wajah Sungwoo saat dia hampir memanggil Sewoon dengan sebutan 'Ponyo'
"Iya, aku memiliki tugas kelompok yang harus diselesaikan hari ini, jadi aku dan rekan sekelompok sepakat untuk datang lebih awal dari biasanya" Sewoon tidak begitu mempermasalahkan panggilan Sungwoo yang sempat terpotong, fokus pada pertanyaan yang dilontarkan oleh tetangga depan rumah
"Ah, begitu. Semangat untuk tugas kelompokmu" Tangan Sungwoo mengepal untuk menyemangati, memberi senyum tipis sebagai tambahan. Lengkungan tipis dari Sewoon membalas senyuman Sungwoo, membuat Sungwoo mengalihkan pandangan dengan canggung. Hanya melihat Sewoon tersenyum karena entah apa dari ruang tinggalnya saja sudah membuat jantung Sungwoo berolahraga, dan melihat dari posisi sedekat ini membuat jantungnya berolahraga lebih keras daripada saat dia menaiki puluhan tangga karena dikejar jadwal rapat
"Semangat untuk wawancara kerjamu, Paman" Bibir Sewoon masih melengkungkan senyum tipis yang terlalu menyehatkan bagi jantung Sungwoo, memberi sakit tanpa luka fisik karena panggilan 'Paman' yang digunakan oleh si Jung. Panggilan untuk penumpang dengan tujuan tertentu membuat Sungwoo beranjak dari posisi duduknya, menoleh pada Sewoon yang berada di posisi berdiri dan tengah memperbaiki tali tas di bahunya
"Kantorku dan Kampusmu memiliki arah yang sama, sepertinya" Sungwoo berujar selagi dirinya dan Sewoon menunggu kedatangan kereta pada garis tanda aman, membuat Sewoon mengernyit karena suara Sungwoo sedikit teredam. Kepalanya terangguk membenarkan, setelah dia berhasil menangkap perkataan Pria yang lebih dewasa di sebelahnya
"Eung, seperti takdir" Kebisingan mesin kereta yang tiba di stasiun meredam suara Sewoon yang memang tidak diucapkan dengan keras, namun balasan samar yang sampai di pendengaran Sungwoo membuat Pria itu tersedak ludahnya sendiri tanpa gaya elit sedikitpun. Sewoon sempat memandang dengan pandang bertanya, sebelum dia kembali melanjutkan jalan karena gestur 'aku baik-baik saja' dari Sungwoo.
Karena mereka memulai hari terlalu awal dari hari biasa mereka juga jadwal orang-orang pada umumnya, masih banyak bangku kereta yang belum ditempati dan membuat Sewoon meletakkan gitar akustik secara nyaman pada bangku di sebelah Pemuda Jung itu. Sungwoo sendiri mengambil posisi yang tidak begitu jauh –terkesan menghindar– juga tidak begitu dekat –terangan memperhatikan– dari Sewoon, posisi yang membuat Sungwoo bisa mudah melihat apa yang dilakukan oleh Sewoon. Pandangan Sungwoo memperhatikan Sewoon yang sibuk dengan ponsel, mungkin memastikan waktu dan tempat berkumpul dengan teman satu kelompoknya. Sungwoo tidak memiliki maksud untuk terus memperhatikan Sewoon, hanya saja perubahan ekspresi sekecil apapun dari Sewoon terasa menarik dan sayang untuk dilewatkan. Dia akan meminta maaf saat mereka mengobrol di kesempatan lain, walaupun dia rasa bukan salahnya kalau berpikir Sewoon itu menarik untuk diperhatikan.
.~~~KKEUT~~~.
Mungkin ngga banyak yang suka sama couplean ini, aku sendiri ngga tahu kenapa aku suka masangin Ajusshi sama Ponyo setelah Be Mine Team Dua, padahal momen mereka selain disitu nyaris ngga ada. Aku suka nulis tema 'tetangga' semenjak ngikutin drama Flower Boys Next Door, dan judul webdrama Ajusshi bikin aku kepikiran nulis fanfic kayak gini. Aku tahu masih banyak kesalahan dan kekurangan, jadi silahkan review ^v^
(Aku berencana ngelanjutin 'Impression on First Day' di Wattpad, itu juga kalo dapet respon yang bagus disana)
