.

Beloved Ponyo (You're Mine)

('YMC Entertainment' Kim Jae Hwan x 'Starship Entertainment' Jung Se Woon)

BlueBerry's Sewoonie Fanfiction

Don't Like, Don't Read

.

Jaehwan bukan tipe orang yang gemar menghabiskan waktu untuk memperhatikan tingkah orang lain, tepatnya dia hanya memperhatikan sedikit hal yang dianggapnya penting dan acuh pada banyak hal lainnya. Pemuda Kim itu tahu siapa gadis populer yang disebut paling cantik di fakultasnya, tapi dia tidak menaruh atensi atau berusaha mencari perhatian saat gadis itu lewat di hadapannya. Dia menyukai seseorang yang merupakan adik tingkatnya dari sesama fakultas musik, ungkapan perasaannya diterima setelah dia terus memberi perhatian pada Sewoon (tepatnya, mengikuti Pemuda Jung selama di Kampus, menemaninya berangkat, juga mengantarkannya pulang). Temannya mengatakan kalau Jaehwan cinta mati pada Sewoon dengan nada bercanda, tapi Jaehwan pikir perkataan mereka memang benar.

Bisa dipastikan, Sewoon termasuk diantara sedikit hal yang dianggap penting oleh Jaehwan dan dia perhatikan dengan sungguh-sungguh. Karakter Sewoon memang bukan orang yang gemar berbicara seperti beberapa teman Jaehwan, tapi dia selalu antusias saat Jaehwan mengajaknya membicarakan program televisi yang menyenangkan juga lagu baru rilis dengan melodi menarik. Jaehwan menanyakan bagaimana Sewoon di kelas pada Donghyun, adik tingkat yang duduk bersebelahan dengan Sewoon dan sudah memiliki Kekasih (Jaehwan tidak menyukai teman Sewoon yang belum memiliki Kekasih, karena mereka cenderung memperlihatkan perhatian lebih pada Sewoon 'nya'). Donghyun mengatakan kalau Sewoon hanya bicara seperlunya di kelas, hal yang dianggap biasa oleh Pemuda itu namun membuat Jaehwan mengernyit.

Kepala Sewoon bersandar pada jendela bis dalam perjalanan pulang dari Kampus, jemari kurusnya mengetuk lapisan kaca yang berembun dan memantulkan wajahnya dengan samar. Pandangan ingin tahu Jaehwan mengarah pada sang Kekasih, terlihat melalui bayangan samar di jendela bis . . .

"Kau baik-baik saja?" Jaehwan melontarkan pertanyaan pada akhirnya, membuat Sewoon menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis

"Tentu, aku hanya lelah" Sewoon menjawab dengan senyum tipis, juga sorot mata yang lelah. Tangan Jaehwan berada di puncak kepala Sewoon dan mengusap rambutnya dengan lembut, ingin membuat kesayangannya merasa lebih baik

"Sungguh?" Jaehwan memperhatikan kelopak mata Sewoon yang menutup setelah menerima usapan lembutnya, Pemuda Kim itu merasa bersalah karena pertanyaan yang dia lontar membuat Sewoon kembali membuka kelopaknya dan memperlihatkan sorot lelah

"Iya, aku hanya lelah karena ada banyak sekali yang harus kutangani" Jawab Sewoon, sorot mata yang lelah perlahan ditutupi dengan kerjapan lamban seperti menandakan bahwa dia mengantuk. Bibir Sewoon menggantungkan senyuman tipis, juga memperlihatkan tanda kelelahan

"Kau seharusnya mengundurkan diri dari kegiatanmu, agar kau tidak menjadi selelah ini" Jaehwan ingat kalau Sewoon memiliki kegiatan mahasiswa seperti dirinya, ditambah dengan perkumpulan pemusik yang dibuat oleh teman-teman Sewoon atau kegiatan lain entah apa yang tentu membuat tubuh Sewoon harus bekerja dengan keras

"Iya, kupikir aku juga membutuhkan itu" Sewoon menjawab, setelah Pemuda Jung itu membuang nafas dengan helaan panjang. Jaehwan bukan orang yang senang mengikuti kegiatan tambahan atau perkumpulan entah apa, jadi dia tidak tahu seberapa melelahkannya menjadi Sewoon

"Aku sudah mengatakan padamu untuk istirahat dari perkumpulan pemusik kan?" Pandangan Jaehwan bertemu dengan tatapan lelah Sewoon, menerima gerakan mengangguk sebagai pembenaran dari perkataan yang lebih dewasa

"Iya, tapi aku tidak bisa mengundurkan diri sekarang. Kami memiliki jadwal penampilan pada acara kampus bulan depan" Entah Sewoon hanya mengarang alasan atau dia memang tugas yang tidak bisa ditinggalkan sebagai anggota utama dari perkumpulan pemusik, Jaehwan tidak sering membicarakan mengenai perkumpulan itu

"Baiklah, aku mengerti. Kau melakukan pekerjaanmu dengan baik" Jaehwan tersenyum untuk memberi tambahan meyakinkan bagi perkataannya, diterima dengan baik oleh Sewoon yang membalas dengan senyum tipis

"Aku sudah sampai di dekat apartemen. Sampai jumpa besok, Jaehwan-Hyung" Perkataan Sewoon membuat Jaehwan melihat jendela di sisi Sewoon untuk memastikan, belum ingin berpisah dari sang kesayangan tentunya. Gerakan Jaehwan mengikuti Sewoon yang beranjak berdiri dari bangkunya

"Kuantarkan hingga ruang tinggalmu, aku tidak ingin ada yang mengganggumu di pintu masuk atau lift" Telinga Jaehwan menangkap perkataan sekumpulan murid perempuan yang mengatakan bahwa dirinya adalah tipe pasangan idaman, membuat sudut bibir Jaehwan meninggi dan kepalanya terasa lebih besar

"Baiklah, kalau itu tidak merepotkanmu" Karakter Sewoon memang bukan orang yang bicara dengan nada kelewat antusias, jadi Jaehwan tidak mempermasalahkan nada datar dalam ucapannya

"Tidak, sama sekali tidak. Ayo" Jaehwan menuruni bis lebih dulu dan membantu Sewoon untuk menapaki tangga bis, walau sebenarnya dia tidak perlu melakukan hal tersebut. Jemari Sewoon yang mengisi sela jemari Jaehwan begitu menenangkan, hingga Jaehwan tidak ingin melepaskannya

"Kau memiliki masalah?" Jaehwan kembali membuka suara, saat dia dan Sewoon menunggu lift tiba

"Aku memiliki masalah?" Sewoon mengulangi perkataan Jaehwan, terkesan seperti berpura bodoh dan enggan menjawabnya

"Iya, masalah seperti aku yang kehilangan suara dan harus digantikan untuk penampilan wisuda itu mungkin" Memori Jaehwan kembali pada saat pertama dia menyukai sosok Sewoon, saat dimana sosok Sewoon datang dan mengatakan bahwa dia melihat latihan Jaehwan dengan baik. Jaehwan mulai memperhatikan Sewoon setelah itu, menyadari kalau Sewoon bersikap baik pada hampir setiap orang yang ditemuinya

"Apa aku seperti orang yang memiliki masalah?" Awalnya Jaehwan dengan percaya diri menduga Sewoon menyukainya dan biasa memperhatikannya, tapi Jaehwan terlanjur biasa memfokus atensinya pada Sewoon saat dia mengetahui sikap baik Sewoon pada hampir setiap orang

"Eung . . . iya, kupikir begitu" Jaehwan menjawab dengan ragu, melemparkan cengiran canggung yang membuatnya kelihatan bodoh. Sewoon melirik padanya dan tersenyum tipis, senyuman yang lebih lebar juga lebih bahagia dari sebelumnya

"Kau mengatakan padaku untuk mundur dari salah satu kegiatan agar aku tidak kelelahan" Ucapan Sewoon diakhiri dengan denting pintu lift yang terbuka, membuat Jaehwan menyahut dengan nada antusias

"Pintu liftnya sudah terbuka, Sewoon-ah" Sahutan Jaehwan, antara ingin menyela perkataan Sewoon atau tidak ingin mendengar kelanjutannya. Sebelumnya Sewoon mengatakan kalau dia tidak bisa mundur dari perkumpulan pemusik (seperti yang disarankan oleh Jaehwan), jadi tentu Sewoon akan mengundurkan diri dari kegiatan lain (tidak sesuai dengan saran darinya)

"Aku ingin mengundurkan diri dari kegiatan kencan denganmu, berangkat menuju Kampus atau pulang dari Kampus bersama. Aku ingin berhenti menjadi Kekasihmu" Tidak sesuai dengan keinginan Jaehwan, Sewoon melanjutkan perkataannya saat lift mulai bergerak naik. Kegiatan Jaehwan yang berpura memperbaiki letak sepatunya, tidak membuat Sewoon menunda perkataannya

"Kau sedang mengigau, Sewoon-ah? Kenapa ucapanmu menjadi tidak jelas?" Jaehwan melontarkan tawa dan bersikap bodoh, hanya mendengar hela nafas kelelahan juga hanya berani melihat ekspresi lelah Sewoon melalui pantulan di lift

"Iya, kupikir aku memang kelelahan. Pulanglah, Jaehwan-Hyung juga memerlukan istirahat" Bunyi dentingan lift membuat Sewoon mengambil langkah untuk keluar dari lift, tangan Jaehwan meraih tombol agar pintu lift tidak langsung menutup

"Kau harus makan dengan benar, jangan hanya memasak makanan instan. Kau mengerti?" Suasana sepi di lorong dari lantai tiga tempat Sewoon tinggal membuat suara Jaehwan terdengar jelas, meski Sewoon sudah melewati separuh dari keseluruhan lorong

"Tentu, aku mengerti. Kau seharusnya mengingatkan itu pada dirimu, Hyung" Sewoon membalas dengan ekspresi biasa, ekspresi melamun tapi bukan benar-benar melamun. Jaehwan tersenyum karena ekspresi Sewoon yang dianggapnya lucu, lebih menyenangkan daripada Sewoon membentuk senyum tipis yang kentara dipaksakan dengan sorot mata menggambarkan enggan

"Eo, aku akan makan dengan baik. Aku mencintaimu, Sewoon-ah" Jaehwan mengujar antusias dengan senyum kelewat bahagia, tangannya masih memegang tombol selagi menunggu balasan dari Sewoon. Tubuh Sewoon kelihatan tersentak, sebelum si Jung menarik sudut bibir dan membuat senyuman tipis

"Aku juga, Jaehwan-Hyung" Tangan Sewoon bergerak sebagai pengganti ucapan 'sampai jumpa', menerima balasan serupa dari Jaehwan yang membiarkan pintu lift menutup. Punggung Jaehwan bersandar pada dinding lift, memikirkan ekspresi Sewoon.

Jaehwan tidak mengerti apa yang membuat Sewoon begitu sering menghela nafas juga berbicara dengan terlampau tenang pada beberapa hari terakhir, tidak seperti pertemuan pertama mereka atau awal dirinya mendekati Sewoon. Sewoon sering mengoceh juga membuat lelucon saat menghabiskan waktu istirahat bersama teman-temannya, tapi dia hanya diam dan bicara seperlunya saat Jaehwan mengajaknya untuk makan siang dengannya di halaman belakang Kampus. Ekspresi riang yang biasa dilihat Jaehwan saat Sewoon mengobrol dengan teman sesama pemusiknya juga tidak lagi terlihat, padahal Jaehwan juga membicarakan mengenai musik atau instrumen petik dengan Sewoon. Kalau dipikirkan lebih lama, Jaehwan tahu dirinya hanya berpura tidak mengerti permasalahan Sewoon.

.

Sewoon memang bukan orang yang memiliki lingkaran pertemanan yang luas, dia mulai berteman dengan seseorang saat orang itu melempar sapaan padanya terlebih dahulu. Dia tidak berpayah menghafal siapa mahasiswa di Kampus, tapi dia mengetahui beberapa mahasiswa yang pandai bermain alat musik karena Donghyun mengajaknya dalam kumpulan pemusik. Pikir Sewoon dia sudah memiliki banyak teman di kelompok tersebut, tapi dia ingin tahu dengan mahasiswa yang dilihatnya di ruang musik, menduga kalau orang itu adalah senior yang berlatih untuk penampilan untuk kelulusan yang lebih senior pada pekan depan. Sewoon tidak tahu sedari kapan atau sampai jam berapa senior itu berlatih di ruang musik, tapi dia yakin sang senior menghabiskan banyak waktu di ruang musik. Dia mendengar pengumuman kelompok yang tampil di wisuda dari Donghyun, tidak menanyakan alasan sang senior menangis di sisi halaman dan melontarkan kalimat positif yang diketahuinya dari buku motivasi atau situs internet yang pernah dilihatnya.

Dia tidak menduga aksi sederhana yang biasa dia lakukan terhadap banyak orang diterima dengan makna besar bagi Jaehwan, dan lagi dia tidak memiliki alasan untuk menolak Jaehwan karena dia belum mengenalnya. Ucapan Jaehwan mengenai mereka bisa mengenal satu sama lain selagi menjalani hubungan, membuat Sewoon menerimanya walau dia tidak memiliki pengetahuan selain Jaehwan merupakan seniornya dan itu bukanlah pertemuan pertama mereka. Teman Jaehwan mengatakan kalau Jaehwan adalah sosok yang konyol, membuat Sewoon memaklumi tingkah memalukan sang Kekasih dan hanya menertawakannya. Tapi, tidak ada orang yang mengatakan padanya kalau Jaehwan merupakan tipe posesif yang membatasi pergerakan juga lingkar pertemanannya, beruntung Donghyun –teman terdekat Sewoon– sudah memiliki Kekasih hingga Jaehwan tidak melarang Sewoon bertemu dengan Donghyun. Sewoon pikir dia bisa memaklumi keposesifan Jaehwan, seperti dia maklum pada tingkah konyolnya, sayangnya dia tidak bisa.

Bunyi petikan gitar Jaehwan mengisi hening antara Pemuda Kim itu dengan Pemuda Jung di sebelahnya, menghiraukan angin yang ingin menggoyah kebersamaan mereka di balkon apartemen Jaehwan. Sewoon berpikir kalau semudah itu mereka digoyahkan angin, mungkin dia hanya berdiam diri dengan gitar juga catatan lirik lagu di ruangannya saat ini . . .

"Kau berpikir, kalau aku lucu?" Nada dari petikan terakhir Jaehwan di senar gitar masih menggantung, saat Sewoon menerima pertanyaan Jaehwan

"Hm? Iya, tapi kau terlalu sering bertingkah konyol hingga temanmu tidak bisa mengangkat kepala mereka" Kata Sewoon dengan ekspresi tenang

"Bagaimana denganmu?" Jaehwan bertanya, memindahkan tatapannya pada Sewoon yang membalas dengan ekspresi setengah melamun

"Aku pikir, kau lucu" Sewoon biasa menampilkan ekspresi itu sedari Jaehwan bertemu dengannya pertama kali, tapi Jaehwan tidak bisa berpikir dia lucu karena tatapannya yang redup

"Kau mengatakannya, pada akhirnya. Kau berpikir, aku ini lucu atau konyol?" Pertanyaan lain yang dilontarkan oleh Jaehwan masih direspon dengan raut bingung Sewoon

"Entahlah. Jaehwan-Hyung lucu, saat melakukan hal konyol. Jaehwan-Hyung bertingkah konyol, saat ingin menjadi lucu" Sewoon membalas, masih dengan ekspresi bingung yang membuatnya semakin menggemaskan bagi Pemuda Kim di sebelahnya

"Tidakkah aku membuatmu ingin tertawa dengan geli, karena aku mempertahankanmu juga bersikap seolah kau adalah milikku? Padahal, kau tidak setuju untuk menjalani hubungan denganku" Gitar di pangkuan Jaehwan tidak lagi menjadi objek menarik yang menjadi pengisi suasana diantara mereka, sang pemilik memutuskan untuk menyimpannya pada tas khusus gitar dekat posisi duduk mereka

"Orang mengatakan, cinta membuatmu tidak berpikir dengan benar" Sewoon merespon dengan kalimat murah yang pernah didengarnya dari televisi atau sosial media, tidak juga memiliki maksud untuk menyindir apalagi menghina Jaehwan sebagai pecinta dengan pikiran yang berantakan

"Ada kalimat yang lebih populer mengenai cinta menyedihkan, cinta tidak harus memiliki" Jaehwan melontar balasan yang menambah kebingungan dalam kepala Sewoon, pandang tidak mengerti Sewoon terabaikan oleh Jaehwan yang memandang lurus pada pembatas balkon

"Kau ingin melepaskan orang yang kau cintai?" Sewoon tahu dia menjadi Kekasih Jaehwan selama beberapa pekan terakhir, jadi seharusnya dia memikirkan perasaan Pemuda Kim itu dan turut merasa keberatan untuk berpisah dengannya

"Tidak, aku tidak melepaskan orang yang kucintai kalau kau sungguh menanyakannya padaku" Salah, seharusnya Sewoon merasa senang karena Kekasihnya bukanlah orang yang melepaskan dan membiarkan dirinya pergi dengan mudah. Kenapa Sewoon merasa berat juga terbebani?

"Ah, itu bagus" Siapapun yang mendengar tentu menyadari kalau Sewoon mengatakannya dengan nada enggan, tidak bisa menutupinya walau dia berusaha tersenyum lebar –yang kelihatan canggung–

"Sayangnya aku tidak memiliki alasan untuk terus mempertahankanmu, jadi aku memilih melepasmu. Tersenyum lah, seperti saat kau menyemangatiku di pertemuan pertama" Nafas Jaehwan kedengaran berat, saat Pemuda Kim itu menjeda perkataan dan mengambil nafas. Sebut Sewoon sebagai orang jahat, tapi dia menuruti ucapan Jaehwan dan tersenyum bahagia dengan perasaan yang ringan, tidak lagi merasa terbebani dengan seseorang yang melarangnya melakukan kegiatan kesukaan atau seseorang yang mengajaknya melakukan sesuatu saat tubuhnya butuh istirahat

"Aku pikir, aku selalu tersenyum seperti ini di hadapanmu" Kalimat Sewoon disambut dengan lirikan Jaehwan juga dengusan lelahnya

"Tidak, binar matamu saat ini menjadi lebih hidup dari biasanya" Perkataan Jaehwan membuat Sewoon melontarkan tawa kecil

"Entahlah, aku hanya merasa semuanya begitu terburu hingga aku kelelahan mengimbangi dan menyerah untuk mengikuti cara Jaehwan-Hyung" Ujar Sewoon, turut meluruskan pandangannya selagi menyandarkan punggung pada pintu yang membatasi balkon dengan ruang apartemen Jaehwan

"Bahkan, setelah kita menjadi Kekasih selama satu bulan?" Anggukan pasti dari Sewoon menjawab pertanyaan yang diberi Jaehwan, tidak melihat sorot kecewa dalam tatapan sang senior sekaligus mantan Kekasihnya

"Belum pernah ada yang menginginkanku berada di sisinya setiap saat selama dua puluh tahun ini, jadi aku tidak bisa membiasakan diri dalam waktu sebulan. Tidak ada orang yang melarangku untuk melakukan hal kesukaanku, jadi aku tidak menerima perkataan Jaehwan-Hyung dengan mudah. Aku sering mendengar mengenai cinta di pandangan pertama, tapi aku masih tidak mengerti bagaimana kau menyukai seseorang yang tidak kau kenal dengan baik" Sewoon mengoceh, menjadi kali pertama bagi Jaehwan untuk mendengar si Jung bicara mengenai perasaan, bukan hanya mengenai perawatan alat musik atau genre musik

"Kau adalah teman bicara yang cerewet, rupanya" Lagi, sebutlah Sewoon sebagai orang jahat karena dia ingin mengabaikan bagaimana Jaehwan kesulitan menyebut dirinya sebagai 'teman bicara', bukan lagi sebagai 'Kekasih' atau 'miliknya'

"Aku sering mendengar kalimat itu dari teman-temanku" Kali ini, Sewoon tidak ingin menjadi terlalu jahat dengan merincikan nama Donghyun juga Youngmin –Kekasih Donghyun– sebagai orang yang mengatakan kalau dia aktif bicara

"Mereka adalah orang yang baik dan beruntung, karena kau merasa nyaman dengan mereka hingga kau membicarakan mereka dengan senyum lebar" Jahat, Sewoon membiarkan tawa kecilnya terlempar ke udara sebagai balasan dari perkataan Jaehwan. Jaehwan tidak kebal terhadap rasa nyeri di hati, lebih jauh dia bukan masokis yang menikmati perih itu, tapi sudut bibirnya meninggi tanpa bisa dicegah oleh dirinya sendiri

"Iya, mereka memang baik. Jaehwan-Hyung juga orang baik, dan nantinya Jaehwan-Hyung pasti menemukan pasangan yang baik" Sewoon melontarkan perkataan yang dibalas anggukan Jaehwan, hanya gerakan samar yang tidak terlihat kalau saja Sewoon mengedip di saat itu

"Iya, mungkin saja aku akan kembali berpasangan denganmu setelah kau mengenalku lebih jauh" Sewoon tidak tahu bagaimana seharusnya dia memberi respon terhadap perkataan itu, tapi dia yakin sikapnya yang berpura menganggap itu sebagai candaan bukan balasan yang diharapkan oleh Jaehwan

"Kau lucu, Hyung" Pemuda Jung itu tidak memiliki pengetahuan mengenai apa yang bisa terjadi di hari lain, tapi saat ini dia tidak berpikir dirinya akan kembali menjalin hubungan dengan Jaehwan, dia juga hanya mengharapkan kalau Jaehwan bertemu pasangan baik yang bisa memahaminya.

Sewoon menerima ajakan berteman dari Jaehwan, namun menolak Jaehwan mengantarkanya pulang. Candaan Sewoon mengenai Jaehwan harus berhenti bersikap sebagai Kekasihnya, abai pada ekspresi kaku di wajah Jaehwan. Orang-orang mungkin ingin mengatai dirinya bodoh karena menyiakan perasaan besar yang diberikan Jaehwan padanya, tapi Sewoon tidak bisa mengatasi perasaan tertekan untuk membalas perasaan besar dari seseorang yang baru dikenalnya. Kalau ada kesempatan lain dimana dirinya memulai hubungan orang lain, Sewoon akan berusaha lebih baik untuk menaruh kalimat 'kita' diantara mereka, bukan meninggalkan Kekasihnya di luar area kesukaannya atau memaksa diri pada hal yang tidak disenanginya (menjauhi teman pemusik juga tidak berkumpul pada Klub Pemusik).

.~~~KKEUT~~~.

Udah lama mau nulisin Howons, tapi idenya berhenti di tengah cerita terus. Comeback KARD (You in Me + Trust Me) membuatku berpikir ide cerita gini kayaknya seru, lagunya juga enak buat aku dengerin selama pengerjaannya, walaupun mungkin ngga terlalu nyambung sih. Sekali lagi, makasih buat yang udah baca part ini juga part-part sebelumnya. Aku tahu masih banyak kesalahan dan kekurangan, jadi silahkan review ^v^

Thanks to : Guest, chikicinta, ririria, Guest [pisang sunrice], Michiyo Park, Sky Onix, BFYourPOV, najjeminna, Miss Heechul, Guest [ikan terbang], arschimchim, Iis899, juga siapapun yang nge follow atau favorite cerita ini.

.Bonus.

Getaran dari saku baju Sewoon menjeda kegiatannya untuk mengeringkan tangan, mengabaikannya hingga dia yakin kalau tangannya sudah benar-benar kering. Pesan masuk dari Jaehwan menanyakan dimana dirinya berada, Sewoon menjawab singkat juga mengingatkan Pemuda Kim itu untuk tidak bersikap begitu posesif padanya. Kaki Sewoon membuat bunyi langkah yang ringan selagi dia berjalan menuju tempat perkumpulan pemusik, sesekali melemparkan sapaan pada temannya atau membalas ucapan pamit dari beberapa senior yang dekat dengannya. Lengkung senyum sopan diberi Sewoon pada Senior marga Kim yang mengatakan padanya untuk tidak terlalu lelah dan segera pulang, sebelum dia memasuki ruang musik yang hampir kosong. Perkumpulan pemusik sudah selesai sedari puluhan menit lalu, si Jung masih ada di Kampus karena masalah perut yang mungkin disebabkan tantangan kekasih bodohnya mengenai makanan sangat pedas siang tadi.

Pemandangan Kekasihnya sedang mengobrol dengan Pemuda mirip karakter alpaca menjadi hal pertama yang dilihatnya, menemukan Mantan Kekasih Donghyun itu menatap Kekasihnya dengan tatapan antusias . . .

"Youngmin-Hyung, kau tidak mengatakan kalau kau akan datang?" Teguran Sewoon menghentikan obrolan si Pemuda dengan rambut pirang juga Kekasihnya, Youngmin melemparkan senyum canggung padanya

"Aku sudah terbiasa menjemput Donghyun" Youngmin memberi pembelaan, masih dengan senyum juga gestur canggung. Sewoon mengalihkan atensi pada Kekasihnya yang melempar cengiran terkesan bodoh padanya

"Perutmu sudah membaik?" Kekasihnya memberi tanya, masih dengan cengiran terkesan bodoh. Kepala Sewoon memberi jawaban dengan satu anggukan pasti

"Terima kasih, sudah mengkhawatirkanku" Perkataan kaku dengan ekspresi wajah seperti melamun, menimbulkan tawa ringan dari dua orang lainnya di ruangan itu

'Kreeet, BRUK!' Pintu ruang musik sempat terbuka, namun kembali ditutup dengan bantingan oleh seseorang dari luar. Posisi Sewoon yang belum jauh dari pintu membuatnya menyadari seseorang itu memberi celah kecil

"Ish, Youngmin-Hyung. Kita dilarang bertemu hingga hari pernikahan!" Teguran lucu Donghyun dari depan membuat Sewoon tertawa keras, bersamaan dengan tawa keras Kekasihnya juga Youngmin (mantan kekasih Donghyun, yang saat ini berstatus tunangan juga calon suami Donghyun)

"Maaf, aku terbiasa datang kesini setelah perkumpulan pemusik" Balas Youngmin dengan setengah berteriak, Pemuda Lim itu mengusap tengkuk dengan senyuman lucu di wajahnya

"Karena kau tidak mengantarkan Donghyun. Kau bisa mengantarku ke Toko Buku searah rumahmu, Youngmin-Hyung" Ujar Sewoon selagi meraih tas selempang juga tas khusus gitar miliknya

"Hei, hei, hei. Lalu, apa yang kulakukan disini?" Protes Kekasih Sewoon, Kim Jae Hwan, dengan suara keras. Sewoon melihat pandangan tidak setuju yang diberikan Jaehwan padanya, merasa lucu hingga dia meloloskan tawa kecil

"Kau mengantarkan Donghyun, Jaehwan-Hyung. Lagipula, tempat tinggal Donghyun lebih dekat dengan rumah Jaehwan-Hyung" Sewoon memberi saran yang direspon ekspresi menolak dari Jaehwan

"Aku tidak berpikir itu saran yang buruk" Donghyun memberi komentar, mempertahankan posisinya di balik pintu

"Aku berpikir itu saran yang bagus" Youngmin turut memberi komentar, memilih kata yang berbeda namun inti serupa dengan calon pasangan resmi dari teman dekat Sewoon itu. Keduanya adalah orang baik yang dikenal dekat oleh Sewoon, rasanya membahagiakan untuk melihat mereka berada di tahap yang serius dan sudah bersiap menuju tahapan lain yang lebih serius

"Peniru" Jaehwan membuka suara, tidak memberi tanda jika dia menyetujui usulan Sewoon. Sewoon berteman dengan Jaehwan selama hampir dua tahun, sering mengadakan busking dengan Jaehwan, dan melakukan beberapa kegiatan santai di hari libur. Mereka mengenal satu sama lain secara baik dan dekat, hingga Sewoon memiliki alasan untuk menerima Jaehwan saat ini ; kenyamanan

"Aku akan menghubungimu saat aku tiba di rumah, nanti malam" Perkataan Sewoon membuat Jaehwan berpikir sebentar, acuh pada ekspresi geli Youngmin juga tidak melihat ekspresi malas Donghyun. Jaehwan tidak lagi melarang Sewoon mengikuti kegiatan apapun yang ingin diikuti oleh si Jung, tapi dia sering mengikuti Sewoon di tempat berkegiatan juga menghubunginya untuk merekap kegiatan Sewoon selama sehari

"Oke, oke. Kau harus menghubungiku, nanti malam" Hanya anggukan pasti yang diberi Sewoon untuk membalas perkataan Jaehwan, tidak mempermasalahkan hal yang menjadi rutinitas hariannya setelah kembali menjadi Kekasih Jaehwan

"Youngmin-Hyung, kau harus menjaga Sewoon-ku dengan benar. Pastikan dia menemukan toko juga rak buku yang benar, sebelum kau meninggalkannya" Harusnya Jaehwan mengatakan itu pada diri sendiri, mengingat Laki-laki itu yang sering melupakan tujuan di toko dan berakhir di rak buku genre fiksi, fantasy, atau comedy

"Donghyun, ayo pulang" Singkat dan jelas, Jaehwan melangkah dengan lebar untuk keluar dari ruangan. Tidak lagi menolehkan pandangan pada Sewoon ataupun Youngmin, menahan dirinya dari seruan protes dengan kesan posesif yang tentu membuat Sewoon tidak nyaman. Jaehwan sudah bisa tersenyum saat Sewoon bertukar candaan dengan teman-temannya, tapi masih ada rasa tidak nyaman saat Sewoon jalan berdua dengan temannya, Jaehwan masih membutuhkan waktu

'Drap drap drap' Langkah lebar Jaehwan juga Donghyun menyisakan gema pada lorong, meninggal kan dua orang yang masih ada di ruang musik

"Jaehwan-Hyung mu" Ujar Youngmin dengan nada jahil, direspon senyum mengulum dari Sewoon yang alasannya bahkan tidak dimengerti oleh sang pemilik senyum

"Iya, Jaehwan-Hyung ku" ah, Sewoon mengerti alasan dirinya tersenyum. Kini bukan hanya Jaehwan yang memanggil Sewoon dengan 'miliknya', tapi Sewoon juga memanggil Jaehwan dengan 'milikku'. Perubahan yang sederhana dan kecil, tapi mempercerah senyum di wajah Sewoon hanya dengan memikirkannya.

.Bonus End.