Couple : HunHan

Main Cast :

Female (Luhan, Kyungsoo, Baekhyun, Shiraishi Mai, Itano Tomomi, Kojima Haruna, Takahashi Minami, Maeda Atsuko, Oshima Yuko, Shinoda Mariko, Watanabe Mayu, Matsui Jurina, Kashiwagi Yuki, Yoona, Krystal) - Member idol grup

Male (Sehun, Kris, Suho, Chanyeol, Hoya, Minho, Taeyong, Yonghwa, Minhyuk, Siwon, Yunho)

Five Year Later

"Nghh..." Sehun terusik karena seseorang menggangu tidurnya, sambil tetap memejamkan mata Sehun membalikan badanya ke arah berlawanan

"Appa... Ayo bangun" Sehan masih setia mencium wajah sang appa agar bangun, hari ini adalah hari minggu dan waktunya untuk jalan - jalan

"Nghh.. Sehan appa masih mengantuk" Sehun yang masih mengantuk berat tidak bisa membuka matanya untuk sebentar saja

"Hiks... Appa" Sehan yang kecewa karena tidak bisa membangunkan appanya harus berakhir dengan menangis

"Shh... Sehan jangan menangis, sini appa peluk" Sehun membalikkan badan kearah Sehan dan memeluk Sehan dengan lembut

"Appa..." Sehan yang berada dipelukan sang appa tetap masih sedih, dia ingin hari ini jalan - jalan dengan kedua orang tuanya

CLECK

"Sehan, kau kenapa sayang" Luhan yang baru saja memasuki kamar mereka langsung terkejut karena melihat Sehan menangis di dalam pelukan Sehun suaminya

"Eomma... Appa tidak mau bangun Hiks..." Sehan mengadu pada ibunya karena appanya tidak mau bangun, padahal yang menyuruh Sehan membangunkan appa adalah Luhan

"Ya sudah, kita saja yang jalan - jalan Sehan. Appa tinggal saja" Luhan menyapu air mata Sehan yang masih tersisa di wajah sang anak

"Hei, kalian tidak bisa meninggalkan appa begitu saja" Sehun yang mendengar akan ditinggalkan kedua orang yang dicintainya langsung bangun dan tidak terima dengan perkataan sang istri

"Makanya appa bangun" Sehan merangkak berjalan ke arah Luhan, sedangkan Sehun tidak mau anaknya beralih dari pelukannya

"Sehan sayang, ayo sama appa. Kita mandi setelah itu kita jalan - jalan" Sehun membujuk anaknya untuk mandi bersama

"Hm" Sehan yang masih kecil hanya mengangguk dan merangkak ke arah appanya, sedangkan Luhan membuang nafas kesal

"Tadi kau membuat dia nangis, awas saja kau buat dia nangis lagi" Luhan memukul pelan pantat Sehun karena kesal sudah membuat buah hatinya menangis karena hal yang tidak berguna

"Iya sayang" Sehun membawa Sehan ke dalam kamar mandi dan mandi bersama dengan tenang sedangkan Luhan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan

.

.

.

"EOMMA" Sehan berteriak nyaring setelah dia melihat eommanya di meja makan yang sedang sibuk menata makanan

"Aigoo, kenapa berteriak Sehan?" Luhan terkejut dengan teriakan Sehan tetapi dia tidak mungkin memarahi anaknya yang masih kecil dan polos

"Hehehe..." Sehan tersenyum ketika melihat respon berlebihan dari eommanya

"Aigoo.. Sehan eomma semakin tampan saja ketika tersenyum" Luhan untuk kesekian kalinya jatuh ke dalam pesona anaknya yang merupakan tiruan dari Sehun

"Lu, Sehan atau aku lebih tampan" Sehun yang baru saja tiba di ruang makan langsung bertanya pada Luhan, dia juga iri dengan Sehan yang manja kepada Luhannya

"Kalian sama - sama tampan" Luhan menjawab sekilas tetapi respon dari kedua pria tampan tersebut berbeda. Sehan mencium eommanya karena sudah memujinya sedangkan Sehun merengut karena Luhan dan Sehan sungguh kompak

"Oh" Sehun menjawab sekilas kemudian duduk di kursi untuk memulai sarapannya, sedangkan Luhan gelagapan karena Sehunnya ngambek. Luhan benar - benar pusing melihat Sehun, wajahnya saja yang datar dan terlihat dewasa tetapi sikapnya itu melebihi anak kecil mana pun

"Ayo makan" Luhan mendudukkan Sehan di kursi khusus anak - anak dan memberikan sarapan untuk anaknya sedangkan untuk Sehun Luhan memberikan kopi sebagai minuman kesukaan Sehun di pagi hari

"Hun, kau kenapa" Luhan bertnaya pada Sehun, biasanya Sehun lebih ceria daripada hari ini

"Tidak ada" Sehun menjawab dua kata saja, ini pertama kalinya Sehun ngambek padanya setelah pernikah mereka lima tahun yang lalu

"Sehan tunggu sebentar ya" Luhan menarik Sehun untuk masuk ke dalam kamar, dia tidak ingin anaknya mendengar pertengkaran mereka

"Iya eomma" Sehan yang lagi senang makan harus menunda sebentar untuk menjawab perintah eommanya dan kemudian Sehan melanjutkan sarapannya yang sungguh nikmat

.

.

.

"Apaan Lu, main tarik - tarik saja" Sehun kesal karena Luhan main tarik - tarik tangannya

"kau yang kenapa, hanya karena aku menduakanmu dari Sehan kau marah?" Luhan tak habis pikir karena Sehun bisa cemburu dengan anaknya sendiri

"..." Sehun tidak menjawab pertanyaan Luhan karena apa yang ditanya istrinya sungguh tepat menggambarkan perasaannya sekarang

"Sehun, kau adalah appanya. Untuk apa kau cemburu jika Sehan adalah tiruanmu sama persis" Luhan memeluk Sehun untuk memberikan ketenangan dan mengusap punggung Sehun

"Aku hanya cemburu moment kalian lebih banyak dibandingkan dengan moment kita berdua Lu" Sehun mengakui kecemburuannya pada anaknya sendiri

"Shhh... Hun, apa kau mau kalau kita hidup berdua sedangkan Sehan kita titip pada orang tua kita" Luhan berakting agar Sehun menjadi lebih dewasa, bukan kekanakan cemburu dengan anak sendiri

"Tidak Lu, Sehan adalah anak kita satu - satunya jadi kita harus mampu menjaganya dengan kemampuan kita" Sehun tidak terima dengan tawaran Luhan tentang Sehan yang aka di titipkan pada orang tua mereka

"Hahaha... Aku cuma bercanda Hun. Kau menyayangi Sehan tetapi kau hanya cemburu karena Sehan selalu manja padaku, padahal kau juga manja. Pantasan saja Sehan manja ternyata Sehun besar juga manja. Hahaha..." Luhan sungguh lucu dengan Sehun yang kekanakan tetapi dilihat dari jauh Sehun adalah pria yang tampan, sexy, dan dewasa

"Terus lahh ketawa" Sehun makin merajuk karena Luhan juga membullynya

"Mian sayang, ayo kita sarapan" Luhan mengajak Sehun untuk keluar dari kamar dan melanjutkan sarapan yang tertunda

Mereka berdua melangkah kakinya ke ruang makan dan terkejut dengan Sehan yang sudah selesai sarapan tinggal minum susunya saja.

"Woah, Sehan cepat sekali makannya" Sehun sungguh takjub dengan anaknya yang baru ditinggal sebentar tetapi sudah selesai makannya

"Sehan" Sehan membanggakan dirinya atas pujian yang diberikan appanya

"Sehan, kamu harus mengunyah dengan baik. Jika tidak ususmu akan bermasalah" Luhan tetap takut dengan kecepatan Sehan makan, dia takut Sehan kurang banyak mengunyah satu suapan sendok dan itu akan bermasalah pada ususnya

"Iya eomma" Sehan menurut saja, lagian dia mengunyah dengan baik dan teratur

"Appa, nanti kita mau kemana" Sehan yang sudah selesai minum susu bertanya pada appanya tentang tujuan mereka mau kemana

"Kita akan mengunjungi rumah Imo Kyungsoo dan Taeoh" Sehun membawa keluarganya kerumah Kyungsoo karena Kyungsoo baru saja melahirkan anak keduanya beberapa hari yang lalu

"Woah... Kita kerumah Taeoh appa?" Sehan ingin memastikan bahwa dia tidak salah mendengar mengenai tujuan mereka

"Iya sayang, dan juga ada dedek bayi nantinya. Sehan harus jadi hyung yang baik seperti Taeoh" Luhan yang menimpali pertanyaan Sehan

"Eoh.. Dedek bayi eomma" Sehan sungguh senang karena memiliki teman baru sedangkan kedua orang tuanya hanya tersenyum melihat Sehan sungguh gembira memiliki adik baru

"Kalau Sehan, apakah Sehan ingin adik baru" Sehun bertanya pada anaknya, jika anaknya menginginkan adik maka Sehun akan dengan senang hati membuatnya sedangkan Luhan kesal dengan perkataan sang suami dan meremas penis Sehun dari balik celana dan dibawah meja

"AKH... SAKIT LU" Sehun sungguh tersiksa ketika Luhan meremas penisnya yang masih tertutup celana

"Makanya jangan mesum jadi orang" Luhan berbisik agar anaknya tidak mendengar pembicaraan mereka

"Appa kenapa?" Sehan bertanya pada appanya, dia sungguh khawatir dengan appanya yang tiba - tiba berteriak kesakitan

"Appa tidak kenapa - kenapa, Sehan jawab apa? Apakah Sehan ingin memiliki adik baru" Sehun tidak memperhatikan tatapan mematikan Luhan sedangkan Sehan binggung mau menajwab apa pada appanya

"Hm... Sehan.. Tidak ingin punya adik baru" Sehan mulai sedih apabila dia memiliki adik baru

"Kenapa" Sehun heran dengan jawaban Sehan dan tiba - tiba menangis sedangkan Luhan mendekati sang anak untuk memberikan pelukan mesra untuk anaknya

"Hiks.. Sehan tidak mau adik baru. Jika Hiks... Sehan memiliki adik baru Hiks... Maka appa dan eomma Hiks... Akan lebih sayang dia daripada Sehan Hiks.." Sehan takut orang tuanya akan lebih sayang pada adiknya daripada dirinya

"Shh... Sehan tidak boleh seperti itu. Sehan juga akan mendapatkan kasih sayang sama seperti adik bayi" Luhan memberikan pengertian kepada anaknya

"Pokoknya Sehan tidak mau adik bayi" Sehan ngambek dan memukul sembarangan arah, sedangkan Luhan mengusap sayang punggung Sehan dan memberikan kata - kata penenang untuk anaknya

.

.

.

"Sudahlah Hun, jangan memaksa Sehan untuk memiliki adik baru" Luhan memberikan pengertian pada suaminya setelah Sehan tertidur sehabis menangis

"Hm" Sehun cemberut karena dia tidak akan mendapatkan Luhan untuk dijamah setelah memiliki anak

"Jangan Hm saja. Ingat Sehan masih kecil dan gampang menangis, jika kau ingin jatah tinggal minta saja" Luhan langsung meremas penis Sehun dari balik celana untuk memberikan sensasi baru dalam bercinta

"Lu.. Kumohon jangan menggodaku" Sehun tidak ingin menyerang istri tercintanya sekarang juga, lagian dia masih memiliki otak untuk tidak menggangu tidur Sehan yang kamarnya tepat disamping kamar mereka

"Aku ingin melayani suamiku bukan menggodanya" Luhan masih asyik meremas penis Sehun tidak memperhatikan wajah tersiksa suaminya

"Terserah" bersaman dengan sahutan Sehun maka Luhan dengan cepat membuka celana suaminya dan mengulum penis suaminya dengan sangat lihai

"Sh... Kau masih hebat Lu" Sehun memperkecil suaranya karena anak mereka tertidur di kamar sebelah

"AH... MORE LU"

"ARGH... AKU KELUAR" Sehun mengeluarkan semua spermanya di dalam mulut Luhan sedangkan Luhan hanya menjilat bersih semua sperma Sehun yang masuk kedalanm mulutnya dan membersihkan kepala penis Sehun

"Aku senang hidup bersamamu Lu" Sehun mengucapkannya sambil mencium bibir istrinya

"Aku juga"

"Seandainya aku jatuh cinta padamu, mungkin kisah cinta kita tidak serumit ini"

"Sudahlah, yang penting kita sekarang bersama. Terkadang cinta itu menjengkelkan, Love is uza" Luhan mencium bibir suaminya untuk memberikan semangat

~END~