Flash back...

"Hyung ayo kita pacaran!"Minjae berkata penuh semangat hingga sepasang matanya tenggelam dalam lengkungan indah bernama senyum. Sedangkan Taehyung yang baru saja mendapat pernyataan cinta ingin melemparkan dirinya ke dalam sungai Han.

"Apa-apaan bocah ini!"Heboh Taehyung dalam hati dengan wajah merona hebat.

.

.

.

The cast is belong to their family, agency and their themselves

BUT

The story is belong to me

...

Fiction ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan alur cerita atau apapun, itu hanyalah sebuah kebetulan dan tidak ada upaya plagiasi

.

.

.

Proudly present...

.

.

.

Episode: Blood, Sweat and Teras

...

Satu bulan sejak kejadian memalukan bagi Taehyung berlalu saat masa orientasi sekolah, sebenarnya bukan memalukan hanya saja Taehyung bukan tipe orang yang bisa tampil di depan orang banyak. Tepat setelah Naeun mendeklarasikan dirinya untuk menjadi perwakilan kelas dalam acara inagurasi hari itu suara speaker yang terdengar dipenjuru sekolah mengumumkan untuk menunjuk perwakilan kelas X F untuk segera naik ke panggung dan entah keberanian dari mana Taehyung melangkah ke arah panggung dibarengi teman-teman sekelasnya. Satu tarikan nafas Taehyung ambil untuk meredakan rasa gugupnya, tanpa melepas tudung hoodienya Taehyung mendekati seorang senior disana dan membisikkan sesuatu selanjutnya hanya ada suara keyboard pengiring yang melantunkan intro sebuah lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi wanita berkebangsaan Inggris yang sedang booming saatitu. Keramaian yang sebelumnya timbul karena candaan dari beberapa siswa berubah hening setelah suara berat yang tentu saja berasal dari pemuda dengan jaket abu-abu lusuh itu mengalihkan atensi setiap siswa yang ada disana.

...

I heard that you're settled down

That you found a girl and your married now

...

I heard that your dreams came true guess she gave you things i didn't give to you

.

.

.

Nevermind, i'll find someone like you

...

I wish nothing but the best for you two

...

Don't forget me, i beg, i remember you said: " Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead."

.

.

.

Tepat setelah suara keyboard pengiring berhenti suasana acara masih hening, dengan segenap tenaga yang masih Taehyung simpan ia memberanikan diri untuk melangkah pergi tidak lupa membungkukkan badannya sebentar sebagai rasa hormat dan terima kasih. Setelah cukup jauh dari jangkauan siswa lain yang masih terlihat bingung Taehyung mempercepat langkahnya dan mulai berlari. Langkah Taehyung berhenti disebuah lorong sepi dan mulai membuka pintunya, beruntung ia mengetahui tempat ini karena kebiasaannya berkeliling sekolah tidak sia-sia. Ruangan ini merupakan ruang musik lama yang tidak pernah dipakai lagi setelah renovasi gedung sekolah baru selesai beberapa bulan lalu. Beberapa laboratorium dan kelas-kelas praktek pindah ke gedung baru begitu juga dengan perpustakaan. Taehyung masih mengatur nafasnya yang pendek-pendek setelah lelah berlari, menuju sudut ruangan sambil mencengkeram dada kirinya yang terasa sesak sebelum air matanya pecah dengan isakan yang menggema keseluruh ruangan –Taehyung menangis. Bukan karena kesal ditunjuk sebagai perwakilan kelas namun mengingat lagu yang baru saja ia nyanyikan entah mengapa membuat hatinya begitu hancur. Pikirannya kembali terbang meninggalkan tatapan kosong yang lumer dengan air mata, hatinya terasa kosong namun juga sesak terlalu sulit untuk dijelaskan bahkan untuk bercerita dengan Seokjin hyungnya pun Taehyung tidak sanggup. Masih dengan suara serak yang lebih terdengar seperti raungan menyedihkan siapapun yang melewati lorong itu mungkin akan berlari ketakutan karena menganggap itu adalah sosok hantu penunggu gedung lama namun lain halnya dengan Jungkook yang terpaku di depan pintu kayu yang tertutup rapat itu. Ada nyeri yang ikut menjalar ketika sepasang telinganya menangkap raung keputus asaan pemuda hazel yang menarik perhatiannya beberapa menit lalu. Tangannya kaku begitu pula dengan langkahnya yang terkunci di tempat Jungkook berdiri, ingin rasanya Jungkook mendekap tubuh ringkih pemuda menyedihkan yang ada di balik pintu namun logika bertanya lantang apa posisi Jungkook saat ini dan beginilah akhirnya Jungkook hanya mampu menulikan telinganya dan memejamkan matanya ketika rintihan menyedihkan itu tak kunjung berhenti malah dilanjutkan dengan jerit histeris yang sarat akan luka yang sangat dalam.

...

Flash Back

Malam itu terasa sangat dingin, entah karena air conditioner yang dipasang Taehyung terlalu rendah suhunya atau karena mendung hatinya Taehyung juga tidak tahu. Terdengar suara pintu yang diketuk, Taehyung semakin merapatkan tubuhnya di dalam selimut.

"Eomma bilang kau akan pergi kencan, lalu kenapa kau masih disana bocah?"

Suara itu mengalihkan dunia Taehyung, hampir saja Taehyung menghambur dalam pelukan namja cantik itu namun yang ada hanya Taehyung yang mematung dengan selimut yang membalut tubuhnya dan jangan lupakan bening yang mengalir disudut matanya.

"H-hyung..." suara Taehyung terdengar sangat lirih.

Seokjin tahu adiknya menangis, membuat kedua tangannya refleks untuk memeluk tubuh ringkih adiknya. Malam itu lampu kamar Taehyung mati, hanya ada lampu tidur yang menyala redup pada nakas di samping ranjang berukuran medium milik Taehyung dan Seokjin hanya bisa menepuk punggung bergetar itu dengan serangkaian kalimat penenang. Nafas Taehyung mulai teratur dan Jin menghela nafas lega, melepas pelukan mereka dan menatap sepasang iris yang terlihat seperti senja karena lampu tidur Taehyung menghantarkan bias jingga.

"Sudah mau bercerita?" Jin yang pertama berkata setelah hening yang cukup panjang malam itu, pemuda yang diajak bicara hanya menatapnya kosong dengan air mata yang masih mengalir. Bibirnya mulai bergerak melafalkan beberapa huruf dan merangkainya menjadi sebuah kata dan berakhir dengan kalimat panjang penuh makna yang membuat dada Seokjin bergemuruh –marah dan menyesal.

"Kau benar Hyung...harusnya aku menyerah karena ini tak kan berhasil. Kau benar ketika Minjae mengucapkan perpisahan setelah ibunya memakiku. Kau benar saat Minjae mulai menjauh dan merahasiakan segalanya dariku, kau benar saat kau bilang kau melihat Minjae bersama seorang gadis cantik, oh namanya Jenny Hyung jika kau belum tahu." Taehyung tersenyum kecut di ujung kalimatnya dan Seokjin tahu kemana arah pembicaraan Taehyung tapi ia enggan menanggapi bocah bersurai madu di hadapannya hanya untuk membuat perasaannya membaik.

.

.

.

[Kantin Sekolah]

Siang ini Taehyung pergi ke kantin sekolah untuk mengisi perutnya yang lapar, menatap sekeliling tempat untuk menemukan meja Seokjin dengan nampan yang terisi penuh. Taehyung melangkahkan kakinya mendekati meja sang Hyung yang sibuk dengan beberapa temannya, mengangguk singkat untuk memberi hormat dan berakhir di sebelah Jin.

"Hmm... Tae, hari ini Hyung ada kegiatan dengan beberapa teman sekelas mungkin nanti kau bisa pulang duluan." Seokjin membuka percakapan siang itu, menatap sang dongsaeng dan menunggu jawaban dari Taehyung.

"Apa itu lama Hyung?" Merasa diajak bicara, Taehyung menghentikkan kegiatan makannya sebentar, memperhatikan sosok Hyung yang kini duduk di sebelahnya dan menunggu jawaban.

"Eomma dan Appa tidak ada dirumah, mereka memintaku pulang ke rumah mu. Tidak apa-apa jika aku harus menunggu." Jawab Taehyung final.

"Kau yakin?" Seokjin kembali memastikan dan dijawab dengan anggukan kecil dongsaeng yang sibuk mengunyah makanannya.

...

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, saatnya siswa sekolah pulang namun lain halnya dengan Taehyung yang terjebak diantara teman-teman kakak sepupunya. Urusan yang dimaksud Seokjin saat dikantin adalah rapat dewan kelas membahas lomba yang diadakan sekolahnya. Bukan lomba cerdas cermat melainkan lomba menghias kelas mirip dengan festival sekolah yang diadakan setahun sekali. Kepala sekolah menginginkan tema pendidikan dan mencakup nilai kerapian, kebersihan serta keindahan. Berbeda dengan anak-anak kelas Taehyung yang begitu cuek, anak-anak di kelas Hyungnya begitu bersemangat menyusun rencana "renovasi" kelas. Sebenarnya ada sedikit masalah ketika Taehyung mengikuti kakaknya, diskusi dilakukan tidak di kelas Seokjin melainkan di ruang club literatur, hal itu membuat Taehyung sedikit tidak nyaman bertemu dengan senior yang baru dikenalnya yang mayoritas laki-laki itu.

"Tae kau yakin tidak ingin pulang duluan?" Seokjin bertanya untuk memastikan keadaan adiknya yang hanya ditanggapi gelengan ringan Taehyung.

"Bersabarlah sebentar lagi ne, aku akan segera menyelesaikannya" lagi Seokjin memastikan mood adiknya baik-baik saja dan dijawab dengan anggukan serta senyuman tidak apa-apa dari Tehyung.

Sebenarnya bukan karena Seokjin hyungnya lama, Taehyung sangat tidak nyaman jika dirinya diperhatikan. Terlebih ada dua pasang lebih mata menuju padanya. Taehyung berpikir apakah ada yang salah dengan seragamnya, apakah bau badannya atau dandanannya Taehyung pikir segalanya normal sampai akhirnya kepalanya tertunduk makin dalam memaksa Seokjin ingin segera beranjak dari perdebatan tidak penting dari teman-teman kelasnya.

...

Waktu menunjukkan pukul 6 bahkan mendekati waktu makan malam sebelum Seokjin menghubungi ibunya untuk pulang terlambat karena kegiatan sekolah. Selama di bus sepasang saudara itu hanya terdiam, tenggelam dalam perasaan masing-masing sampai akhirnya Seokjin merasa gemas dengan situasinya.

"Tae apa kau marah? Maaf karena membuatmu menunggu, aku tidak menyangka akan begitu lama memakan waktu hanya untuk menentukan konsep yang bahkan hasilnya nihil."

Seokjin berujar frustasi karena ia sendiripun merasa sebal dengan teman-temannya yang justru saling bertengkar hanya karena warna pita yang akan mereka pakai.

"Anniya Hyung... aku tidak marah, justru kau yang terlihat uring-uringan...kkk" Suara kekehan Taehyung menggema di bus yang tampak lengang memaksa Seokjin ikut tersenyum geli dengan tingkah konyolnya. Taehyung tampak menyamankan kepalanya bersandar pada bahu lebar Hyungnya yang mengerti bahwa adiknya sangat lelah. Sebenarnya Taehyung adalah anak rumahan yang jarang bermain di luar. Kegiatan luarnya hanya sebatas sekolah, ekstrakurikuler dan sesuatu mendesak yang memaksanya keluar rumah. Taehyung lebih suka menghabiskan waktunya di rumah untuk membaca komik, menonton anime atau sekedar mendengarkan lagu random dari idolanya, sederhana dan menyenangkan menurut Taehyung.

...

"Minjae-ya kau dimana?"

"Apa kau sudah tidur?"

"Bagaimana sekolahmu yang baru?"

"Minjae-ya kau sudah makan?"

"Apa kau sibuk?"

"Setidaknya bacalah pesanku..."

...

Taehyung mengecek ponselnya beberapa kali sejak pulang dari sekolah namun hasilnya nihil, tak ada satupun pesan dari Minjae kekasihnya atau bahkan tanda-tanda pesannya dibaca. Seokjin memperhatikannya beberapa kali, anak itu hanya mengaduk aduk makanannya tanpa ada niatan untuk memakannya, sementara ayah dan ibu Seokjin mendadak mengunjungi neneknya di Gwacheon setelah mendapat telepon sore tadi.

"Tae kau tak apa? Apa kau sakit?" Seokjin benar-benar khawatir, rautnya sendu melihat mendung yang belakangan ini menyelubungi adik kesayangannya.

"Sebaiknya kau istirahat, biar aku yang membereskan peralatan makan."

"A-ah.. ada apa Hyung? Kau berbicara padaku?" Taehyung terkejut oleh denting sumpit stainless yang beradu dengan poselen, jangan lupakan tatapan datar kakaknya seperti menunggu jawaba.

"Istirahatlah... biar aku yang bereskan ini." Seokjin menghelas nafas, mengusak sedikit rambut adiknya dan mendorong masuk ke kamar tamu yang selalu digunakan Taehyung ketika menginap.

"T-tapi Hyung, aku akan membantumu.."

"Aniya, kau bisa memecahkan sesuatu atau melukai jarimu." Seokjin mendorong adiknya msuk ke dalam kamar dan menutupnya dari luar, menahannya sebentar sekaligus menata hatinya yang ikut terbakar mengingat kekasih brengsek adiknya.

Sementara di dalam kamar dengan lampu temaram, Taehyung berjalan gontai menuju ranjangnya. Berbaring sejenak dengan punggung tangan kanannya yang menutupi sebagian paras manisnya. Taehyung kembali terisak mengingat dua minggu lalu pertemuannya dengan Minjae.

...

Flash Back

Malam itu Minjae mengajak Taehyung kencan, mereka makan di cafe favorit mereka dan memesan beberapa cemilan sebelum makan malam. Keadaan cafe malam itu cukup ramai, riuh beberapa orang di sudut cafe mengisi jarak antara Minjae dan Taehyung. Ada yang aneh pikir Taehyung malam itu, Minjae menjemputnya ke rumah dengan senyum seperti biasa namun yang tak biasa adalah keheningan setelah duduk di cafe malam itu. Taehyung pikir dirinya telah berbuat sesuatu yang salah, atau mungkin mood Minjae yang kurang baik malam itu. Namun, hingga makanan mereka habispun tak ada sepatah maupun dua patah kata Minjae ucapkan. Taehyung pun enggan berbicara karena takut memperburuk suasana. Mobil sport itu melaju menuju taman kecil dekat komplek perumahan Taehyung yang lama, ya Taehyung sempat pindah rumah. Jemari Minjae menuntun Taehyung menuju ayunan yang sering mereka mainkan dulu, namun kali ini tak ada kehangatan bahkan jemari Minjae yang menggenggam penuh jemari Taehyung malam itu benar-benar dingin.

"Aku mau kita putus Hyung." Minjae yang pertama kali memecah keheningan setelah atmosfer bernama canggung menggelayuti keduanya.

Bagaikan disambar petir tenggorokan Taehyung terasa kering bahkan mencekik, tak merespon bahkan berkedip pun Taehyung lupa caranya. Bibirnya yang terbuka siap mengajukan pertanyaan namun pita suaranya mendadak lupa bergetar untuk bisa bersuara. Belum sempat Taehyung mebalas kata-katanya Minjae menlanjutkan alasannya berpisah, membuat Taehyung tak mampu membantah ataupun membela dirinya.

"Ibuku...ibuku yang memintaku memilih ini Hyung."

"Ibuku bilang kau berdampak buruk bagiku, lagipula kita sama-sama namja."

"Aku...aku tak bisa menolak permintaan ibuku, maafkan aku Hyung, ku harap kau baik-baik saja tanpaku."

Taehyung diam, Minjae mengatakannya begitu lancar tanpa memandangnya. Pegangannya begitu erat pada rantai ayunan yang menggantung, buku-buku jemarinya pucat sepucat wajahnya. Malam itu pertengahan musim semi namun hati Taehyung merasakan badai salju yang luar bisa dahsyat menghancurkannya berkeping-keping hingga tak bisa disusun kembali.

To be continue...

.

.

.

Well, Hi untuk yang kesekian kalinya, kali ini aku gamau curhat panjang but seneng banget bisa lanjutin nih FF, bangunin moodnya bener-bener make an effort semoga nggak mengecewakan karena jujur aja males baca lagi dari awal buat dapetin feel keburu ngantuk dan ambyar, semoga habis update kali ini makin banyak review dan masukannya see ya :*