HEART ATTACK
CHAPTER 2
PAIRING " AKASHI X FEM KUROKO
Aku hanya ingin tahun terakhir ku di SMA berjalan dengan damai tapi sepertinya semua itu hanya mimpi bagiku, bahkan di saat jam olahraga sekalipun aku di suguhi pemandangan yang tak ku inginkan. Kini di depanku Furihata dan Akashi tengah bercanda dengan bahagianya. Sejujurnya aku sangat ingin menangis.
"Kurokochi kau tak apa – apa ssu ?" tanya Kise dengan nada khawatir
Aku menolehkan pandanganku ke araha Kise " aku tak apa – apa " ucapku bohong.
Namaku pun di panggill oleh sensei. Hari ini adalah penilaian lari 100 meter. Peluit di bunyikan pertanda harus berlari. Tapi pikiranku entah melayang kemana terus menerus memikirkan kejadian yang aku alami. Sontak kakiku kensenggol sebuah batu yang lumayan besar membuat tubuhku limbung dengan mendaratkan kaki terlebih dahulu. Darah mengalir dari lutut kakiku sepertinya tatapanku terus tertuju pada darah yang mengalir itu.
" Kurokochi " teriak Kise yang bberlari menghampiriku. Kise menopang berat badanku dan membantuku ke ruangan kesehatan. Ruangan yang serba putih dengan bau obat yang angat menyengat di hidung.
" tak perlu sungkan Kurokochi " Kise kini tengah membantu mengobati luka di lututku.
" sebaiknya kau kekelas dulu hari ini ada ulangan bahasa inggris kan"
" tapi bagaimana dengan mu Kurokochi"
"aku ingin istirahat di sini, badanku lagi tidak baik hari ini" Kisemeninggalkkanku dengan raut yang khawatir. Aku tak mau lebih merepotkan Kise. Mataku terpejam dengan sendirinya aku tak perduli denga sinar matahari yang menyeruap kedalam ruangan yang menyilaukan pandanganku. Ku lihat sosok pemuda yang begitu familiar mendekatiku. Dengan menyibak tirai pembatas ruangan aku bisa melihat wajah tampanya. Pemuda itu berdiri tepat di sampingku.
" aku kecewa dengan mu Tetsuya "
" maksud Akashi- kun "
" kau tetap saja lemah seperti dulu kau tak pernah berubah kau hanya pecundang yang mengharap belas kasihan terhadap orang di sekitarmu dengan tubuhmu yang begitu lemah"
" maksud Akashi – kun apa ?"
" aku hanya kasian padamu mungkin keputusan ku untuk mengakhiri hubungan denganmu adalah hal yang tepat dan ku rasa Kouki adalah orang yang lebih baik dari mu"
Aku sungguh tak percaya apa yang telah di ucapkan oleh Akashi. Pemuda yang ada di hadapanku ku ini apa benar dia adalah Akashi Seijurou. Tanganku mengepal dan meremas selimut yang menutupi kakiku.
" terus apa arti kebersamaan yang sering kita lalui dulu ?"
" pfftttt... aku hanya ingin memanfaatkanmu Tetsuya untuk membawa club basket Teiko yang di segani tapi sekarang sudah ada Kouki yang lebih baik kemampuanya dari pada kamu ku yakin dengan adanya dia Teiko akan lebih maju lagi " Akashi menaikan alisnya tatapanya penuh dengan aura mengintimidasi.
Aku menunduk kaku padanganku terfokus dengan selimut yang setia menutupi tubuhku aku tak boleh menangis aku tak boleh seperti ini terus.
" aku tak akan lari Akashi – kun aku akan menjadi kuat "
" haahh ... kuat... buktikanlah Tetsuya " Akashi memutar balik tubuhnya dan pergi meninggalkanku. Rasanya sangat sakit ketika aku harus membenci apa yang aku cintai.
Bel pulang berbunyi aku tak membuang waktu segera ku bereskan buku – buku pelajaran dan memassukan ke dalam tas. Aku melangkah keluar kelas dengan jalan yang masih pincang walaupun sudah di obati tapi rasa nyeri pada lututku tidak tertahankan lagi. Tak kuhiraukan suara yang terus memanggilku.
" Kurokochi tunggu" suara Kise menghetikan langkah ku.
Aku hanya diam berdiri menunggu pemuda pirang itu mengampiruku dengan nafas yang terengah – engah. " Kurokochi kenapa diam saja saat aku panggil " protes Kise dengan air mata buayanya.
" maaf Kise-kun"
" apa kau tak mau menungguku sampai selesai latihan dan kita bisa pulang bersama" Kise sangat perhatian padaku bahkan kita juga sangat dekat walaupun dia sering usil terhadapku.
" iee.. tidak apa – apa aku bisa pulang sendiri ko " jawabku dengan penuh seluruh kebohonganku. Aku tak mau menambah Kise khawatir jika dia tau hatiku kini tengah terluka.
" baiklah " keluh Kise sambil mengacak rambutku. Kise pun berjalan mendahuluiku aku tau arah tujuan dia pasti ke gym tempat kami biasa berkumpul untuk latihan basket tapi sekarang itubukalah tempatku lagi.
Seorang wanita berparas cantik kini menghampiriku yang tengah siibuk membaca novel di pojok perpustakaan. Ketika aku ingin sendiri, perpustakaan adalah tempat yang paling nyaman untuk menghiburku. Aku bisa menghabiskan waktu dengan tenang disini tanpa ada gangguan siapapun. Dulu aku serng keperpustakaan bersama Akashi – kun kita membaca bersama disini, belajar bersama, bercerita tentang penulis favorite kita masing – masing tapi sekarang tinggal aku sendirian yang tetap tinggal di ruang penuh rak buku yang berdebu.
" Kuroko aku ingin meminta maaf " ucap Furihata dengan nada penyesalan.
" untuk apa "
" maaf untuk kejadian kemarin di toko buku dan maaf soal Akashi yang telah menjadi pacarku sekarang bahkan posisi manager basket pindah ke tanganku "
" tidak ada yang perlu di maafkan lagian Akashi – ku itu masa laluku, kalo masalah basket aku memang mengundurkan diri dari jabatan itu .Ku harap basket Teiko ini semakin maju di tangan mu"
Aku melihat wajah Furihata yang tersenyum bahagia bahkan aku belum pernah melihat senyuman itu selama dia berada disini. Furihata memeluku dengan sangat lembut.
" aku mau menjadi teman Kuroko" aku hanya bisa mengangguk atas permintaan sederhana Furihata. Walaupun sebenernya berat berteman dengan orang yang tengah menjalin hubungan dengan mantan pacarku. Tapi aku harus bahagia melihat temanku sendiri bahagia.
Hari – hari ku ini selalu di penuhi dengan Furihata dan para anggota Kiseki No Sedai. Makan siang bersama mereka, walau aku sering di suguhi pemandangan Akashi yang kerap bermesraan di depanku. Tapi aku memilih untuk berdamai dengan suasana. Bahkan aku tak segan untuk membantu Furihata dalam menangani tim baket. Akashi – pun kini sudah tak sedingin dulu terhadapku bahkan seiring berjalanya waktu dia selalu menyapaku walau tak sesering dulu.
" Tetsuya terima kasih kau mau membantu Kouki untuk menjadi manager kami" ujar Akasshi yang kini tengah mengambil bola basket yang menggelindig ke arahku.
" Furihata- kun adalah sahabatku jadi wajar jika aku membantunya"
Akashi tersenyum kepadaku walau bukan senyum yang biasanya ia tunjukan. Tapi itu cukup bagiku untuk membuat senang diriku sendiri. Para GOM yang sedari tadi melihat ku dan Akashi hanya menggeleng kepala setidaknya status menjadi teman Akashi sudah cukup lebih bagiku.
Kini waktu menunjukan pukul 8 malam. Kegiatan klub basket pun di akhiri. Kami bertuju pulang bersama – sama berjalan kaki. Bahkan canda tawa kerap menyelimuti perjalanan kami.
" oiii Tetsu kenapa kau tak bergabung lagi di club basket" Aomine berjalan mendekatiku dengan merangkul bahu kecilku.
" tidak Aomine- kun, lagian aku sudah bergabung dengan klub literatur aku ingin memngembangkan keahlianku dalam hal menulis"
" apapun itu keputusanmu ku harap itu yang terbaik nodayo" sambung Midorima yang tengah memegang boneka kodok berwarna hijau seperti rambutnya yang aku tau iyu adalah lucky itemnya hari ini.
Suasana kelas begitu risau. Ketika jam istirahat Furihata kehilangan dompetnya sehingga sensei tak mengizinka kami untuk keluar kelas bahkan menyuruh kami untuk diam di kelass sampai pemeriksaan di lakukan. Sensei mendekatiku untuk memeriksa isi tasku satu persatu resleting tasku di buka ketika itu mataku tertuju pada sebuah dompet berwarna cream dengan gambar boneka sebagai pengihias dompet . benda itu berada di dalam tasku.
" apa ini dompet mu Furihata ?" tanya sensei Kiyoshi.
" haii sensei " jawab Furihata dengan lantang.
Sontak seluruh isi kelas menatapku dengan aaura intimidasi. Bahkan Akashi menatapku dengan sangat tajam.
" kau ikut sensei ke kantor Kuroko"
Aku mengekor Kiyoshi sensei yang berjalan di depanku. Aku masih berfikir apa yang tengah terjadi bagaiman mungkin ini bisa terjadi.
" kenapa dompet itu berada di dalam tas mu Kuroko ?"
" aku tak tau sensei aku tak mengambilnya" kilahku
" kau salah satu murid terbaik dan kebanggaan kami Kuroko tapi sensei kecewa kau melakukan ini"
" tapi bukan aku yang mengambilnya sensei " aku tetap membela diriku karna memang bukan aku yang mengambil dompet itu.
" kali ini sensei memaafkan mu tapi lain kali sensei akan bertindak tegas "
" makasih sensei " aku pun keluar dari ruang kantor. Ketika aku berjalan di koridor ternyata berita itu sudah menyebar ke banyak siswa. Banyak murid – murid yang menggosipkanku dengan perkataan buruk mereka. Aku membuka pintu kelas dan menghampiri teman – teman ku.
" anoo ... Furihata – kun ini tidak_"
BRAKKKK suara Akashi menggebrak meja yang mengagetkan seluruh anggota GOM yang tengah asyik memakan bekalnya kini terhenti.
" mau apa lagi Tetsuya, aku kecewa terhadapmu " Akashi berdiri dari kursinya dan kini menggeret Furihata yang tengah menatap ke arahku untuk menjauhi ku.
" ternyata kau sangat menyedihkan nodayo " kata Midorima yang berjalan melewatiti.
" ternyata Kurochin seorang pencuri "
" aku kecewa terhadapmu Tetsu " Aomine – kun bahkan juga tak percaya dengan ku.
" Kurokochiiii" Kise pergi begitu saja tanpa mendengarkan semua penjelasanku.
Kini tak ada yang percaya terhadapku. Bahkan teman – teman yang biasa bermain bersamaku pergi meninggalkanku begitu saja.
" ehh aku dengar ayahnya Kuroko itu pegawai kantoran biasa loch, bahkan ibunya juga ibu rumah tangga biasa. Hidupnya juga sangat pass – pasan aku yakin kalo bukan beasiswa Kuroko itu tidak bisa sekolah di sekolahan ini. wajar lah kalo dia mencuri dompet Furihata mungkin orang tuanya kekurangan biaya"
BRAKKKKK
Aku segera menggebrak meja ketika berbagai perkataan buruk terdengar di telingaku.
" aku tau aku ini bukan anak orang kaya seperti kalian tapi setidaknya kalian jangan menghina orang tuaku " kesabaranku sudah habis air mataku tak bisa aku bendung lagi. Segera aku mengambil kotak bentoku dan berlari sekeras Kise dan Aomine tak mau membelaku lagi. Mereka semua menjauhi ku layaknya aku ini orang yang sangat menjijikan bagi mereka. Aku berlari menuju taman yang lumayan sepi menumpahkan kekesalanku dan kekecewaanku.
" ternyata ada seorang wanita manis sedang menangis " ledek pemuda yang lebih tinggi dariku.
" Ogiwara- kun "
Tangan putih dan kurus itu mendekati bahu ku pemuda itu memperpendek jarak di antara kita. Ogiwara mendekap tubuhku yang kecil ini.
" menangislah sepuasmu jangan di tahan "
Aku semakin dalam membenamkan wajahku ke dalam dada bidang milik Ogiwara. Suara tangisan yang berusaha aku tahan kini tak bisa bertahan. Tanganku mencenkrang tangan Ogiwara bahkan aku tak perduli dengan baju Ogiwara yang semakin basah karna ulah ku.
" aku percaya kau tidak mencuri dompet itu. Aku percaya kau orang yang baik kau berbeda dengan mereka semua Kuroko"
Aku merasakan ada air yang menetes di atas kepalaku. Ketika aku hendak menengadahkan kepalaku untuk melihat wajah orang yang memeluku tubuhku tertahan kepakaku semakin meringsuk kedalam pelukan Ogiwara. Aku tau Ogiwara sedang menangis tapi dia ingin menyembunyikanya dariku.
" Ogiwara – kun "
Ogiwara melepaskan pelukanya dan memandangi wajahku dengan tatapan sendu .Ogiwara menangkup wajahku dan menghapus air mata yang berjatuhan " jangan menagis lagi aku akan selalu percaya terhadapmu. Apapun yang terjadi aku akan selalu disampingmu da melindungimu walau tak ada seorangpun yang mempercayaimu"
Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum ketika mendengar semua pernyataan Ogiwara. Hanya satu – satunya Ogiwara yang ada disisiku. Bahkan Ogiwara sudah seperti kakak bagi ku dia selalu menjagaku dengan sangat baik bahkan mamah sudah sangat percaya terhadap Ogiwara –kun.
Akashi nampaknya sangat kesal hari ini suasananya sedang bad mood bahkan sebagai pelampiasanya para teman – temanya pun menjadi korban akan kesadisanya.
" ada apa dengan Akashi ?" tanya Midorima keheranan.
" Akashichi bersikap seperti itu sejak melihat Kurokochi berpelukan dengan Ogiwarachi tadi siang "
" pantesan saja mukanya kesal begitu" timpal Aomine – kun
" Daiki, Shintaro , Ryota cepat latian jangan mengobrol apa mau aku tambah jatah latihan kalian hari ini " suara Akashi membuat acara reuni ketiga pemuda pelangi itu di hentika.
Latihan hari ini bagaikan neraka tak ada waktu istirahat untuk meregangkan otot para pemain basket itu.
" ahhhhhh... aku kangen dengan Tetsu" erang Aomine yang tengah frustasi.
" apa benar Kurokochi yang mencuri dompet itu"
JDEEERRRRRRRRRRRRRRRRR
Suara lemparan gunting mengagetkan dua pemuda yang berjalan paling belakang.
" jadi kalian tak percaya pada Kouki " Akashi menhampiri Furihata yang tengah berjalan pelan sambil melamun.
Seperti biasanya aku hanya sendiri di kelaspun penuh dengan kesendirian. Bagiku satu orang bisa mempercayaiku itu lebih dari cukup. Aomine , Kise, Midorima,bahkan Musakibarapun acuh terhadapku bahkan sekarang menganggapku tak pernah ada.
Aku berjalan mendekati seekor anak anjing yang aku temukan beberapa hari lalu. Anak anjing yang selalu menghiburku setiap aku merasa kessepian.
" sepertinya nigou tumbuh dengan baik "
" iya Ogiwara-kun "
Ogiwara duduk di sampingku dengan mengelus – elus bulu halus milik nigou. Aku mengeluarkan dua kotak bento dari dalam tasku. Setiap hari aku habiskan waktu bersama Ogiwara dan Nigau di taman ini, dari mulai makan siang bahkan bercerita banyak hal walaupun banyak orang yang menjauhi ku tapi aku tak sepenuhnya merasa sendirian mungkin karna ada Ogiwara yang selalu menghiburku.
" Kuroko bagaimana kalo minggu kita jalan – jalan"
"emmmhhhhhhhhh baik lah "
" kalo begitu jam 10 besok aku kerumahmu "
" ok"
Sebenarnya hari ini aku ingin sekali bermalas – malasan dan bangun siang. Tapi aku sudah berjanji kepada Ogiwara-kun terpaksa aku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. Air yang begitu dingin merasuk kedalam tubuhku berendam di dalam bath up selalu bisa menjadi cara tersendiri untuk meredangkan tubuhku yang penat ini.
" Tet – chaannnnn ada Ogiwara"
Suara ibu mendenging di telingaku. Aku segera menuntaskan acara berendamku dan memilah milih baju yang akan aku kenakan hari ini. pilihanku tertuju pada dres berwarna merah muda dengan pita biru yang melingkas di pinggulku. Ku ikat rambutku setengah menggunakan pita berwarna biru muda.
" gitu donk anak mamah cantik kan kalo berdandan" ledek Kuroko Tetsumi yang menatapku tanpa berkedip.
" aku kan selalu cantik mah"
Ogiwara yang mendengar percakapan ku dengan mama hanya bisa tertawa.
" ayo Ogiwara – kun kita pergi " ajak ku dengan menggandeng tangan Ogiwara.
Kami berjalan beriringan dengan langkah di samakan. Seperti biasanya Tokyo selalu ramai pada hari weekend seperti ini. pusat berbelanjaan selalu ramai untuk di kunjungi.
" tumben kau memakai dress Kuroko " Ogiwara membuka percakapan.
" iya ini dress yang di belikan papah sayang kalo cuman jadi pajangan di lemari "
" kau tampak seperti wanita " kekeh Ogiwara yang asyik menggodaku.
" jadi selama ini aku bukan wanita gitu" protes ku sambil memanyunkan pipiku yang sudah merah.
Dari dulu sampai sekarang Ogiwara adalah orang yang sering mengusiliku. Kami berteman sejak umur lima tahun. Keluarga Ogiwara selalu menyayangiku seperti anak mereka sendiri.
Hari ini aku habiskan untuk bersama Ogiwara dari mulai ke toko buku favorite ku, nonton cost play, bahkan ke game center rasanya semua masalah yang sedang ku hadapi hilang dengan sekejab.
" Ogiwara – kun sebelum kita pulang aku ingin beli vanila shake "
" ya...ya... terserah kau saja"
" tapi kau yang traktir Ogiwara – kun "
Ogiwara hanya bisa menggeleng dengan sikapku yang fanatik ini terhadap minuman berwarna putih.
Langit cerah berganti dengan orage sungguh indah senja mulai beranjak dari persembunyianya sedangkan mentari kini kembali keperadapanya. Lampu yang tadi redup kini menyala dengan terang benderang menghiasi pusat kota. Aku dan Ogiwara memutuskan untuk segera kembali ke rumah sudah terlalu lama kita bermai aku juga tak mau membuat mamah khawatir.
-TBC-
