Langkah ku terhenti pada sebuah mini market di dekat taman kota, aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku beli.

" Ogiwara – kun kau tunggu di sana ya, aku mau ke mini market dulu ada yang harus aku beli" aku menunjukan sebuah bangku taman yang tengah kosong kepada Ogiwara.

" baik lah "

Tanpa membuang waktu ku langkahkan kakiku menuju rak berisi peralatan mandi kemudian aku mengambil beberapa shampo yang memang stocknya sudah tidak ada dirumah. Suara ramai di ujung meja kasir nampak seorang petugas kasir tengah marah – marah kepada pemuda yang umurnya sama sepertiku. Setelah semua barang yang aku butuhkan sudah berada di keranjang segera aku beranjak ke meja kassir.

" ano maaf ada apa ini ?" tanya ku kepada petugas kasir

" pemuda ini tak mampu untuk membayar semua belanjaanya dengan alasan dompetnya ketinggalan" jawab petugas kassir itu.

Ku ambil beberapa lembar uang di dalam dompetku " satuin aja dengan belanjaanku biar aku yang bayar semuanya"

" semuanya 2000 yen " kata petugas kasir itu.

Aku mengambil kantong belanjaanku dan segera berjalan menuju pintu keluar mini market tapi setibanya di depan pintu keluar sebuah tangan kekar menggenggam tanganku dengan erat.

" sakit" lirih ku dengan mengerutkan alis.

" kau telah mempermalukaku Tetsuya kenapa kau membayarkan semua belanjaanku. Apa kau pikir aku ini miskin aku hanya tak membawa dompet Tetsuya"

" seharusnya Akashi –kun berterima kasih terhadap orang yang menolongmu bukan malah menghina ku. Apa yang akan Akasshi – kun lakukan jika aku tak ada di situ ?"

" aku akan memanggil pelayanku untuk membawakan dompet ku kemari " geram Akashi dengan nada yang sangat marah.

" tak semuanya bisa berjalan sesuai dengan kemauanmu Akashi-kun, kau tak pernah berubah sombong, angkuh bahkan tak pernah menghargai kebaikan orang lain "

" apa kau bilang ! kau ini benar – benar menjijikan Tetsuya setelah kau putus dariku sekarang kau menjalin hubungan dengan orang yang sama menjijikanya dengan mu"

" setidaknya Ogiwara lebih baik dari mu" aku berusaha untuk membela diriku dan sahabat kecilku

" pfftft ... kau lucu lebih baik apanya kalian sama – sama miskin tapi belagu setidakya kalo cari pengganti diriku cari lah orang yang levelnya lebih tinggi dari mu"

Aku tak berani menatap mata orang di depan ku pandanganku tertuju pada lantai di bawahku tanganku mengepal dengan erat kenapa aku tak bisa membalass semua perkataan Akasshi yang sangat menyakitkan itu. kenapa aku begitu lemah dan kenapa aku begitu payah.

Aku hanya bisa menatap punggung bidang itu berjalan menjauh sangat sesak, sangat menyakitkan, aku tak sanggup untuk mendengar semua ucapanya. Aku ingin menangis tapi aku tak mau terlihat sangat menyedihkan. Tubuhku sudah tak bisa menopang berat badanku tangan ku menutupi telingaku. Apa aku benar wanita yang menjijikan. Yang aku hanya bisa dengar adalah suara Ogiwara yang terus menyebut namaku.

"eungg...mmhh"

" kau sudah sadar Tet- chan"

" apa yang terjadi mah ?"

" kau pingsan di depan mini market , Ogiwara yang membawamu kemari"

Aku baru ingat aku bertemu Akashi-kun di mini market tadi badanku terasa sangat lelah, kepalaku sangat pusing.

" lebih baik tetchan istirahat lagi "

Aku mengenggam tangan ibuku dan dia membalas nya. Ibu mendekati wajahku kemudian mencium keningku. Sungguh sangat nyaman dan tenang.

" mah temani aku tidur, aku ingin tidur dengan mamah" aku merengek kepada ibuku dengan memasang wajah memelas. Satu anggukan lolos dari wajah cantik ibuku. Aku tersenyum kecil melihat respon ibu.

Aku bangun kesiangan lagi hari ini aku berlari dengan menggendong tasku.

" kau mau kemana Tetchan" teriak ibu dari arah meja makan.

Aku berlari mengahampiri ibu yang massih memakai apron dan menyambet beberapa irisan sandwich . aku mencium pipi ibu dengan penuh agresive.

" aku berangkat ke sekolah dulu mah. Aku sudah sangat telat"

" tapi kamu masih belum sembuh"

Aku tak memperdulikan omelan ibu dan terus berlari agar aku tak terlambat untuk datang ke sekolah.

Huft sungguh menyebalkan aku harus membawa semua buku ke perpustakaan sebagai hukuman karna aku terlambat. Aku mendengar sebuah teriakan wanita yang minta tolong di dalam ruangan yang sudah tak terpakai lagi. Aku menghampiri perempuan itu. aku melihat Furihata tengah kesakitan dan memegang lengan yang mengeluarkan darah dengan dua orang siswi lainya yang berdiri tak jauh dari Furihata. Aku melihat ada pisau di dekat kaki Furihata aku dekati tubuh yang membungkuk dan meja sebagai sandaran beban beratnya aku memeluk tubuh Furihata dengan perlahan.

PRANG !

Suara pintu di buka dengan sangat kasar.

" Kouki " teriak Akashi yang menghampiri kami.

" tolong aku, Kuroko hendak membunuh ku"

Tubuh ku seketika kaku kenapa dia menuduhku begitu kejam, apa salahku terhadapnya.

Tangan Akashi mendorong tubuhku dengan kasar. Tubuhku terjatuh pada dinding berwarna putih.

" apa kau tak cukup terus menyakiti Kouki sekarang kau berusaha membunuhny Tetsuya " teriak Akashi tepat di telingaku. Aku tak pernah melihat Akashi semarah ini.

" kau harus bertanggung jawab atas tindakan mu itu"

" Tetsu aku benar – benar membenci mu. Kau seorang pembunuh" suara Aomine membuat dadaku sesak .

Akashi menopang tubuh Furihata dan berjalan keluar di ikuti dengan Musakibara, Midorima,Kise dan Aomine.

" tungguh tolong tunggu"

Hiks..hiks...hiks suara tangisku pecah. Langkah para GOM pun berhenti termasuk Akashi.

" kenapa ? kenapa ? kenapa kalian menjauhi ku kenapa kalian tak mempercayaiku ? bukankah kalian ini sahabat ku, apa arti persahabatan kita kalau tanpa kepercayaan. Kise- kun kenapa kau menjauh bukanya kau berjanji untuk selalu di sampingku tapi kenapa di saat tak ada orang lain di sisiku kau juga ikut pergi. Aomine – kun bukankah kau berjanji untuk selalu melindungiku tapi di saat semua orang menghakimi ku dengan tidak adil kau hanya diam saja seakan kau tak menganggapku tak ada. Midorima – kun kau selalu berkata bahwa kita adalah sahabat tapi kenapa kau tak bisa mempercayaiku. Musakibara – kun apa kau hilang ingatan kita selalu menghabiskan waktu bersama, memasak bersama bahkan makan bersama tapi kenapa kau sangat dingin terhadapku apa arti dari kebersamaan kita. Akashi –kun aku kenapa kau membenciku bahkan kau menghianatiku kau berselingkuh dengan Furihata, aku mencoba untuk menerima hal itu dan berdamai dengan suasana aku tau cinta itu tak harus memiliki yang terpenting bagiku kau bahagia dengan orang yang kau cinta. Kau selalu bilang kau mengerti diriku lebih dari siapapun tapi kenapa kau tak bisa percaya terhadapku sedikitpun bahkan kalian tak mau mendengarkan semua penjelasanku. Kalian pernah bilang bahwa aku tidak akan sendiri tapi sekarang aku benar – benar sendiri di saat aku utuh kalian sebagai penopang hidupku tapi kalian pergi begitu saja. Apa arti kebersamaan kita, apa arti persahabatan kita selama ini bukankah kita berteman sudah sangat lama tapi kenapa kalian masih belu bisa percaya terhadapku sebenernya arti diriku bagi kalian itu apa? Apa kalian tak pernah memikirkan perasaanku ini? apa aku benar – benar menjijikan di mata kalian? Aku menyanyangi kalian semua, tapi aku juga membenci kalian rasanya sangat sakit ketika kita membenci sesuatu yang kita sayangi aku tak punya siapa – siapa di sekolah ini kecuali kalian". Aku memeluk diriku yang sudah sangat kacau setidaknya aku bisa mengungkapkan semua isi hatiku.

" Kuroko " Ogiwara berlari dan memeluku dengan sangat erat.

Hiks hiks hiks hanya suara isak tangisku di barengi dengan sesegukan.

" aku percaya padamu kau tak akan tega melakukan hal sekeji itu" Ogiwara semakin erat memeluk tubuhku aku hanya bisa menangis sebisa mungkin.

Ayah dan ibuku mendapat surat panggilan dari sekolah aku tau konsekuensinya adalah aku di keluarkan dari sekolah. Semenjak kejadian itu aku tak datang ke sekolah.

KRIEEETTT

Suara seseorang memutar kenop pintu.

" mah , pah " aku melihat kedua orang tuaku menatapku dengan sendu. Aku sudah tak bisa menahan aliran air mata yang melonjak dari wajah ku. Aku sungguh mengecewakan aku sangat payah bahkan selalu merepotkan kedua orang tuaku.

" Tet-chan" ibu dan ayah ku memeluku yang tengah duduk di atas kasur.

" bukan aku yang melakukanya, aku tak mungkin melakukan hal yang sekeji itu" isak tangisku keluar dengan merdunya. Aku semakin membenamkan wajahku ke orang tuaku. Tangan ayah dan ibuku semakin erat mengenggamku seolah pertanda bahwa mereka akan selalu di sampingku.

" kita percaya sama Tet- chan akan selalu percaya sama Tet- chan"

Aku melihat kedua orang tuaku ikut menangis bersama.

" terima kasih mah, pah"

.

.

Hari ini mungkin hari terakhirku untuk berada di jepang. Aku di keluarkan dari sekolah secara tidak adil, di keluarkan dengan bukan kesalahanku lucunya hidup ini. aku mulai mempertanyakan dimana keadilan berada. Tapi aku tak boleh lari walau bagaimanapun aku harus mengucapkan salam perpisahan kepada teman – temanku. Dengan memakai jaket tebal berwarna hitam dan syal yang melilit di leherku membuat badanku menjadi lebih baik. Sudah beberapa hari ini kesehatanku memburuk. Aku berjalan menuju sebuah aula yang yang aku tau hari ini adalah acara pembukaan festival budaya di sekolahku. Kepala sekolah mempersilah kan ku untuk memberi salam perpisahan kepada sseluruh teman – teman ku.

" anoo selamat siang semuanya, aku harap kalian baik – baik saja hari ini. Aku Kuroko Tetsuya meminta maaf atas semua kejadian yang terjadi selama ini, terkadang aku berfikir kemana aku harus mencari keadilan tapi akhirnya aku menyerah tak ku temukan keadilan seperti yang aku inginkan bahkan di tempat ini juga. Tapi aku percaya setiap tindakan yang aku di torehkan akan mengumpan balik kepada si pelaku. Hari ini adalah hari terakhirku disini mungkin aku tak akan lagi bisa melihat kalian lagi seperti hari ini. aku senang bisa bermain bersama kalian dan bersekolah disini aku berharap kalian tak akan lupa terhadapku dan selalu mengenang diriku itu lebih dari cukup. Terima kasih untuk waktu nya" aku memutar arah dan melangkahkan kakiku pergi dari aula yang megah itu hari ini sangatlah panas tapi bagiku hari ini sangatlah dingin. Aku berdiri membisu melihat langit yang begitu birunya seakan berbicara kepadaku untuk selalu tersenyum, tiba – tiba ada sebuah bayang – bayang di wajahku bayangan yang membuatku pusing aku berusaha untuk tegap berdiri tapi aku tak visa tubuhku limbung, hanya suara mamah yang terengar dan suara para pengawalku dengan lantang menyebut namaku.

Kise berlari di koridor mengejar Kiyoshi sensei yang hendak masuk ke ruang guru.

" kenapa kau berlarian Kise ?"

" ano sensei ada yang aku mau tanyakan"

Kiyoshi mengajak Kise untuk duduk dibangku panjang yang terletak di ujung koridor sambil meletakkan buku di pangkuanya.

" ada apa Kise ?"

Perlahan tapi pasti Kise menghembuskan nafasnya " sebenarnya Kurokchi itu siapa sensei ?"

" dia teman mu kan sama seperti kalian dia juga murid ku"

" bukan itu maksud ku " erang Kise yang tengah frustasi agar bisa membuat guru di hadapanya ini mengerti akan pertanyaan yang telah ia ajukan.

Kiyoshi menghela nafas pelan " Kenapa kau ingin tau tentang Kuroko bukanya kamu ini temanya seharusnya kamu lebih tau tentang dirinya "

" aku tau sensei, setiap aku tanya Kurokochi hanya bilang dia anak dari pegawai kantoran biasa dan ibunya juga ibu rumah tangga seperti yang lain. Kurokochi juga tidak terlalu terbuka soal asal usul keluarganya yang aku heran kenapa saat salam perpisahan aku lihat banyak orang yang mengawalnya dan ada salah satu wanita disampingnya yang tidak asinng bagiku" Kise berusaha mengungkapkan keingintauanya terhadap sosok sahabatnya itu.

" Kuroko memang berbeda dari murid yang lain cara pandangnya pun berbeda dari kebanyakan orang"

" maksud sensei ?"

" sebenernya Kuroko adalah cucu dari Kuroko Mikoto. Kakek Kuroko ini adalah salah satu pengusaha besar dunia bahkan usahanya ini sudah mempuyai cabang di berbagai negara, kalo kamu tanya ibu Kuroko pasti kamu kenal dengan desainer dunia yang karyanya bahkan tak di ragukan lagi dia adalah Kuroko Tetsumi makanya kamu sangat familiar dengan orang itu "

Kise hanya bisa melongo mendengar jawaban dari gurunya itu " sensei tapi kenapa Kuroko masuk SMA ini lewat jalur baesiswa bukanya dia anak orang kaya dan kenapa dia bilang kalo dia anak orang biasa – biasa saja"

Kiyoshi mengenduskan nafasnya dengan perlahan " kalo beasiswa itu sensei kurang tau pastinya dia punya alasan tersendiri tapi untuk Kuroko tidak mau orang lain mengetahui identitasnya karna Kuroko ingin teman – temanya memandang dan mengenalnya sebagai Kuroko Tetsuya bukan Kuroko anak orang konglomerat. Kuroko juga bekerja sebagai waiter di salah satu restoran cepat saji setelah sensei tanya alasan Kuroko bekerja adalah karna dia ingin berdiri sendiri. Dia ingin meraih mimpinya seperti kedua orang tuanya dari nol, dia tak mau bergantung kepada orang lain bahkan dia ingin merasakan seperti apa yang orang lain rasakan sebuah kenikmatan perjuangan meraih mimpi"

" ano sensei apakah orang tua Kuroko tak melarang Kuroko bekerja sedangkan kondisi dia lemah ?"

" orang tuanya sudah berusaha keras melarangnya tapi Kuroko itu anak yang keras kepala menurutnya kelemahanya bukanlah alasan untuk berjalan maju kalo kita ingin sukses haruslah di mulai dari awal. Waktu gosip tentang pencurian dompet dan kecelakaan yang menimpa Furihata sensei sangat yakin bukan Kuroko pelakunya dia anak yang baik bahkan kalo di pikir tak ada untungnya Kuroko melakukanya"

" apa Kurokochi bisa kembali lagi kesini "

" tidak bisa keluarganya memutuskan Kuroko untuk kembali ke inggris bahkan tak akan lagi ke jepang. Kuroko itu murid yang sangat istimewa bagi sensei dari mulai cara padangnya terhadap orang lain, keperdulianya bahkan sikap hidupnya yang sederhana ini semua adalah sikap yang di tularkan dari ayah Kuroko yang memutuskan untuk pindah ke jepang dan memutuskan untuk hidup dengan sederhana"

Kise merasa sangat bersalah mendengar seemua penjelasan tentang sahabanya yang ternyata adalah orang yang sangat hebat. Kise sudah sangat jahat selalu berprasangka buruk terhadap sahabatnya sendiri air mata Kise mengalir tanpa di perintah bibirnya tak bisa bergerak rasanya ngilu sekali.

" kau harus minta maaf terhadapnya Kise" Kiyoshi mendekap tubuh muridnya yang tak ada tanda pergerakan apapun.

-TBC-