Aku membuka kelopak mataku mengeryitkan dahi dengan perlahan tak ku hiraukan silau cahaya yang menembus ruangan bercat putih memalui jendela. Sudah beberapa hari aku berada di rumah sakit. Tubuhku semakin melemah dan kesehatanku semakin memburuk aku tak tau sudah berapa banyak uang yang di habiskan orang tuaku untuk mengobati penyakit yang menggerogoti ku. Tak banyak orang yang tau akan penyakitku ini orang hanya mengetahui bahwa fisiku ini memang lemah. Usiaku seperti di ujung tanduk bahkan dokter sudah menyerah untuk menolongku.

" Tetchan makan dulu ya" Tetsumi membawa sebuah mangkuk bubur yang di letakan di nakas.

Aku menggenggam tangan ibuku seakan aku akan kehilanganya. Semenjak keberadaaanku di rumah sakit ini aku selalu melihat ada bekas air mata di pipi mulus ibu.

" apakah aku bisa sembuh mah ?" tanyaku ragu.

" Tetchan pasti akan sembuh" sela ayah yang sudah berdiri berdiri di ujung pintu.

" Tetchan pasti akan sembuh soalnya Tetchan anak yang kuat jadi Tetchan nggak boleh menyerah"

Aku hanya bisa tersenyum bahagia mendengar jawaban orang tuaku yang sangat begitu yakin akan kesembuhanku. Rasanya aku sangat bersyukur setidaknya masih ada orang yang begitu tulus menyanyangi ku di saat semuanya membenciku.

Aku menggenggam kedua tangan orang tua ku " mah , pah temani Tetchan tidur untuk hari ini aku sudah sangat lelah "

Pandanganku semakin sayu aku menutup kelopak mataku yang sudah tidak bisa aku tahan tubuhku terjatuh pada pelukan ibu yang aku tau adalah ibu dan ayah terus menangis tak hentinya.

Dua orang perempuan menghampiri para GOM dan Furihata yang sedang bermain basket. Nampak ada rasa gugup menyelimuti gadis itu sebuah raut kesedihan dan raut ketakutan akan apa yang terjadi setelah apa yang dia perbuat.

" anooo maaf aku ingin membuat pengakuan kepada kalian semua" kata Airi dengan menggenggam erat tangan sahabatnya yang berada di sampingnya.

" pengakuan apa nodayo "

" sebenernya aku yang mencelakakan Furihata dan Kuroko tidaklah bersalah sama sekali "

" Kenapa kau melakukan itu ssu !" geram Kise dengan sangat emosi.

" karena Furihata tidak kunjung menepati janji akan membayarkan semua hutang keluarga ku dan sebenernya yang mencuri dompet Furihata juga bukan Kuroko, itu adalah akal – akalan Furihata yang menyuruhku untuk menaruh dompet itu di tasnya Kuroko"

Suasana menjadi hening tatapan para GOM kini sangat mengitimidasi. Aura Akashi beberubah menjaddi hitam.

BLAMMMMMM

Suara pukulan keras pada dinding yang sudah tak kokoh membuat para GOM membisu Akashi mendekati Furihata degan sangat marah dan mengunci pergerakan tubuhnya.

" jelaskan semua ini pada ku kouki !" teriak Akashi dengan penuh ancaman.

" aku melakukan ini demi kamu. Aku selalu iri pada Kuroko walaupun kamu bersamaku tapi kamu selalu memikirkan Kuroko bahkan kamu selalu membanggakan Kuroko"

" apa kau tak sadar ulahmu itu sangatlah menjijikan bahkan orang yang tak bersalah menjadi korban tindakan kejimu" Akashi menggedor tembok yang tengah menjadi pusat sandaran Furihata.

Furihata sangat ketakutan melihat tingkah laku Akashi yang sudah tidak bisa di kontrol.

Akashi mencengkram bahu Furihata dengan sangat kuat " kau harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini"

Akashi pergi meninggalkan Furihata yang sudah terjatuh dengan kaki yang menekuk.

Kini Akashi dan para GOM sudah berada di depan rumah berlantai dua dengan cat berwarna biru. Rumah yang sederhana tapi nyaman untuk di tempati bertuliskan Kuroko di sisi kiri pager. Akashi menekan bel berulang – ulang supaya sang tuan rumah mau membuka pintu tetapi tak ada satupun respon dari pemilik rumah.

" sepertinya Kurochin tidak ada di rumah"

" apakah Kurokochi sudah ke inggris ?" tanya Kise dengan muka yang sangat kusut.

" arrrrrrrrrrrgggggggggg " Akashi hanya bisa mengacak rambutnya dengan sangat frustasi.

Seorang pemuda datang menghampiri dengan mata yang masih sembab " kalian mau bertemu Kuroko "

" dimana Tetsuya ?" tanya Akashi dengan sangat tidak sabar.

" ikuti aku " Ogiwara berjalan di depan dengan diikuti para GOM di belakangnya.

Kini mereka telah sampai tujuan tapi tak ada reaksi apapun yang di ungkapkan mereka hanya mematung dengan raut wajah yang berkaca – kaca seakan apa yang mereka lihat itu hanya mimpi buruk. Sebuah batu nisan bertuliskan Kuroko Tetsuya yang menjadi objek tatapan mereka.

Hiks hiks hiks Akashi sudah tidak bisa membendung pertahananya dia memeluk batu nisan sambll mengecupinya.

" kenapa kau pergi Tetsuya di saat aku belum meminta maaf . betapa bodohnya aku yang tak pernah percaya kepadamu aku sungguh kejam meninggalkanmu disaat masa – masa sulit yang kau lalui"

Kise menangis dengan kencengnya di pelukan Aomine. Midorima yang biasanya tsundarepun tak malu untuk mengeluarkan kesedihanya. Musakibara menangis sesegukan sambil memakan snack yang selalu dia bawa.

Ogiwara mendekati Akashi dan menyerahkan sebuah lukisan dan sebuah surat " Kuroko tak pernah membeci kalian dia selalu menyanyangi kalian bahkan di saat masa – masa terakhirnya dia selalu menanyakan keadaan kalian. Kuroko tak menceritakan penyakit yang di deritanya karna tak mau membuat kalian khawatir kepadanya dia sudah mengidap kanker otak sejak kecil. Tapi Kuroko tak pernah mengeluh akan hal itu dia selalu semangat untuk menjalani hari – hari nya".

Akashi duduk di atas rajang yang berukuran king size dengan di temani cahaya bulan di tengah malam. Akashi membuka sebuah surat berwarna merah dengan mata yang sembab.

Akashi – kun gimana kabarmu ? mungkin sewaktu kau membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. kau tau pematang sawah yag selalu kita lewati bersama sepulang sekolah di saat senja sungguh sangat indah aku berharap di masa akhirku akupun bisa melihat senja bersamamu, tapi kau tak kunjung datang. Aku merindukan mu Akashi-kun semua tentangmu senyuman indahmu, pelukan hangatmu, bahkan kebersamaan yang kita lalui. Tapi sekarang aku sudah tidak lagi biasa merasakan hal itu kita sudah berbeda aku hanya bisa berharap kau bahagia dengan pilihanmu itu sudah dari cukup buat ku. Lukisan ini adalah lukisan yang selalu ingin aku berikan kepadamu tapi mungkin aku tak bisa memberikanya sendiri karna kau selalu menjauhi ku. Aku mencintaimu Akashi Seijurou bahkan selalu mencintaimu.

Akashi memeluk erat sebuah lukisan yang sangat indah di mana dirinya dan Kuroko terlihat bahagia di saat senja. Akashi baru menyadari kalau dirinya benar – benar mencintai Kuroko Tetsuya.

END