歌うたいのバラッド :London Eye
Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini dan tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.
Summary: Kepercayaan penuh yang tak seharusnya Kagome berikan padanya. Karena malam itu dan sejak malam itu semuanya berubah.
Warn! Typo(s) ‖ OOC ‖ AU ‖ diksi tidak tepat ‖ dll.
Author: Emma Griselda
(Can I) call you my own, and can I call you my lover
Call you my one and only girl
(Can I) call you my everything, call you my baby
You're the only one who runs my world
Sudah dua hari Inuyasha dan Kikyō di Amerika, tapi tidak ada telpon dari mereka hanya untuk sekedar memberi Kagome kabar, apakah mereka sampai dengan selamat atau sekadar bercerita tentang keadaan di sana. Sejak kejadian yang terjadi siang itu di toko elektronik, Kagome mengurung dirinya di kamar, menutup rapat kamar apartemen milik Sesshōmaru yang dipinjamkannya padanya. Kagome tidak membiarkan ada celah cahaya yang berani untuk mengintipnya, suasana kamar itu benar-benar seperti suasana hatinya saat ini, suram. Hati Kagome yang pada awalnya terdapat cahaya terang yang bernama harapan itu akhirnya pupus hanya karena kalimat deklaratif yang dinyatakan oleh Sesshōmaru dalam sebuah acara. Gawainya bergetar, dengan cepat Kagome melihat siapa yang menghubunginya. Di layar ponselnya terlihat nama "Kikyō onee-san" dan ia segera menggeser layar yang berwarna hijau untuk mengangkat panggilan yang dilakukan oleh kakaknya itu.
"Kagome!" panggil Kikyō lantang terdengar dari telpon itu, "maafkan aku yang baru sempat meneleponmu. Aku sudah sampai dengan selamat di sini, semuanya baik-baik saja, bagaimana denganmu? Apakah kau sudah makan?"
"Belum," jawab Kagome lemah.
"Kenapa kau belum makan? Sudah kubilang jaga kesehatanmu saat aku pergi, jangan menyiksa dirimu. Setidaknya isilah perutmu, bukankah kau pernah bilang hanya untuk memikirkannya juga butuh energi, dan energi yang kau dapatkan itu dari mana kalau bukan dari makan? Kenapa kau justru tidak makan?" omel Kikyō pada Kagome, sejujurnya hal itulah yang selalu ia khawatirkan jika ia meninggalkan Kagome sendiri.
Kagome tidak menjawab apa yang dikatakan oleh kakaknya, ia hanya terdiam untuk beberapa waktu, tidak butuh waktu yang lama, tangisannya yang dengan susah payah ia tahan kembali pecah. Kikyō yang pada awalnya ingin mengomelinya dengan seribu satu alasan pada Kagome, ia mengurungkan niatnya setelah mendengar isakan adik kesayangannya. Rasa tertohok merayapi dadanya, pada akhirnya ia ikut menitikkan air matanya hanya dengan mendengar isakan kesakitan yang dialami oleh sang adik.
"Kagome, kau tak apa?" tanya Kikyō khawatir, ia menanyakan hal yang tidak seharusnya ia tanyakan, bukankah seharusnya ia tahu bahwa adiknya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja jika ia sedang terisak seperti itu?
Hanya terdengar isakan Kagome yang semakin dalam.
"Kagome ..." panggil Kikyō, "kau bisa menceritakannya padaku, hm?" bujuk Kikyō agar Kagome mau menceritakannya padanya.
"Ada apa? Apakah ini mengenai Sesshōmaru? Jika memang tentangnya, kau bisa menceritakannya pada kakak seperti biasa."
"Tidak seharusnya aku mempunyai rasa terpendam padanya, tak seharusnya aku merindukannya dan menunggunya seperti orang yang bodoh selama ini. Tak sepantasnya aku memiliki rasa pada seseorang yang sedetik pun tidak pernah berpikir tentangku. Apa yang kulakukan selama ini benar-benar percuma! Percuma aku menangisinya dan mengharapkan diriku untuk menjadi bagian dari dirinya. Percuma!" cerita Kagome dengan sesunggukan.
"Apa maksudmu, Kagome?" tanya Kikyō penasaran, "ceritakan padaku perlahan-lahan agar aku bisa mengerti."
"Sesshōmaru ..." Kagome menghentikan ucapannya setelah memanggil nama laki-laki yang membuat hatinya terasa tercabik-cabik.
"Dia kenapa?"
"Sesshōmaru ... dia sudah memiliki kekasih. Aku tak seharusnya melakukan hal bodoh seperti yang kulakukan empat tahun belakangan ini. Aku benar-benar bodoh!"
"Kau yakin? Dari mana kau tahu itu?" tanya Kikyō sedikit meragukan apa yang dikatakan oleh Kagome.
"Tidak. Aku yakin! Dia mengatakan itu beberapa hari yang lalu, tepat saat kalian berangkat ke Amerika, ia mengatakan semuanya itu dengan jelas di acara talkshow salah satu stasiun televisi di Amerika."
"Amerika?!"
Malam itu di langit Amerika dipenuhi oleh butir-butir salju yang menghiasi jalanan, hujan salju yang tidak parah, tapi cukup untuk membuat orang-orang malas keluar dari rumah maupun apartemen. Inuyasha dan Kikyō memutuskan untuk makan malam di luar, memilih sebuah restoran ternama untuk makan berdua karena buah hati mereka berada di rumah kakek serta neneknya, katanya melepas rasa rindu. Setelah menembus jalanan kota yang berselimut salju, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran, sebuah plakat restoran itu tertulis bahwa restoran itu sudah berdiri sejak tahun 1969, cukup tua. Perhatian Kikyō teralihkan ketika melihat sosok yang terlihat tidak asing di matanya, ia melihat sosok laki-laki yang keluar dari mobil mewah Mercedes-Benz diikuti oleh seorang laki-laki yang lebih tua. Laki-laki itu bertubuh gagah, mengenakan mantel hangat, syal, kacamata hitam, dan topi musim dingin. Postur tegap dan gagah itu mengingatkan Kikyō pada sosok Sesshōmaru yang sudah empat tahun lebih tidak bertemu, tapi ia yakin firasatnya tidak pernah salah.
Inuyasha terus menggandeng lengan istrinya untuk masuk ke dalam restoran, namun perhatian Kikyō bukanlah padanya atau pun topik pembicaraan yang sedang mereka lakukan, wanita itu mencuri-curi pandang pada sosok yang berjalan tidak jauh dari mereka, yang juga memasuki restoran tersebut.
"Ada apa?" tanya Inuyasha penasaran melihat istrinya yang terus mencuri pandang untuk melihat sosok yang menutupi wajahnya dengan syal, kacamata hitam, dan juga topi hangat.
"Aku sepertinya melihat Sesshōmaru, aku ingat kata Kagome tadi siang saat kutelpon, sepertinya memang benar itu Sesshōmaru," jawab Kikyō berbisik pada suaminya.
Inuyasha menoleh ke samping kanan untuk melihat kemungkinan atas apa yang dikatakan oleh Kikyō.
"Kau yakin itu Sesshōmaru? Bagaimana bisa ia ada di sini? Maksudku ada keperluan apa dia di Amerika?"
"Hm, Kagome tidak mungkin berbohong. Dia mengatakan padaku kalau Sesshōmaru hadir dalam acara talkshow di salah satu stasiun televisi Amerika."
"Sesshōmaru?" tanya Inuyasha dengan nada sedikit meningggi karena terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Kikyō, ia langsung menutup bibirnya, ia tidak bisa menahan keterkejutannya walaupun sudah menutupi bibirnya, matanya masih mendelik.
Sosok yang berada di samping Inuyasha itu menoleh, ia hanya berjarak beberapa meter saja dari Inuyasha terhalang sosok yang berada di sampingnya. Laki-laki itu menurunkan sedikit syal yang tadinya dengan sengaja ia tutupkan pada bibir dan juga hidungnya.
"Inuyasha?" panggil orang itu berhati-hati, takut keliru.
Inuyasha menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya, dan ia menoleh ke samping karena sosok itu menghentikan langkah kakinya, "Siapa?"
"Aku Sesshōmaru," jawabnya laki-laki itu dengan melepas kacamata hitam.
"Bagaimana bisa?" tanya Inuyasha keheranan.
"Apa kubilang, Kagome tidak mungkin salah," bisik Kikyō yang tidak bisa dikatakan pelan, ia sengaja menyebut nama Kagome di depan Sesshōmaru.
"Ceritanya panjang. Bagaimana kalau kita makan satu ruangan saja sambil bercerita? Kebetulan aku sudah melakukan reservasi sebelum ke sini, bagaimana?" tawar Sesshōmaru pada Inuyasha dan Kikyō, ia tersenyum.
"Baiklah, aku rasa aku juga perlu berbicara denganmu," jawab Kikyō mantap.
"Untuk berapa orang?" seorang pelayan menghampiri mereka.
"Tidak. Kami sudah melakukan reservasi atas nama Jaken," jawab seseorang yang berdiri di samping Sesshōmaru dari tadi.
"Oh, mari." Pelayan itu mengingat sebuah reservasi yang telah dibuat atas nama Jaken. Dia menunjukkan jalan kepada rombongan itu, dan semuanya mengekor di belakang pelayan itu dalam diam.
Pelayan itu menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan khusus, sebuah ruangan yang yang tempatnya tertutup, ruang VVIP yang biasa digunakan oleh para pejabat atau para selebriti untuk makan di restoran tersebut.
"Silakan," ujar sang pelayan dengan ramah.
"Menunya sesuai di reservasi, tapi jumlahnya empat ya," jawab Jaken.
"Terima kasih," jawab Inuyasha dengan tersenyum.
Mereka masuk ke dalam ruangan, langsung memposisikan tempat duduk dengan berhadapan. Sesshōmaru berada di hadapan Kikyō tepat, sedangkan Inuyasha berhadapan dengan sosok yang terus berada di samping Sesshōmaru —Jaken.
"Bagaimana kabar kalian? Sudah lama tak bersua," ujar Sesshōmaru dengan tersenyum, ia melepaskan syal, kacamata hitam, dan juga topi hangatnya.
"Seperti yang kau lihat," jawab Inuyasha dengan menganggukkan kepala, mengamati sosok Sesshōmaru yang terlihat berbeda.
"Ya begitulah, aku dari tadi memikirkan Kagome, aku menjadi tidak tenang," jawab Kikyō gelisah.
"Oh iya, perkenalkan dia Jaken. Manajer sekaligus asistenku," ujar Sesshōmaru memperkenalkan sosok yang dari tadi seolah menempel padanya, ia langsung mengalihkan topik seakan-akan ia tidak ingin makan malam ini membahas mengenai Kagome.
"Aku Inuyasha, dan ini istriku, Kikyō."
Tok ... tok ... tok ...
Pintu terbuka dan seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka, pelayan itu menyajikan wiski serta makanan yang sudah mereka pesan, dan langsung menatanya dengan rapi di meja. Setelah menyajikan itu semua, pelayan itu langsung pergi dengan membawa troli untuk mengantarkan makanan.
"Kalian kapan akan kembali ke London?" tanya Sesshōmaru menuangkan wiski di gelas Inuyasha.
"Lusa."
Sesshōmaru berniat menuangkan wiski di gelas yang tersedia di depan Kikyō, tapi Kikyō menolaknya.
"Aku tidak minum wiski, aku sedang hamil."
"Oh maaf," ujar Sesshōmaru langsung mengurungkan niatnya, kemudian ia mengisi gelas kosong miliknya dan milik Jaken dengan wiski tersebut.
"Sesshōmaru ..." panggil Kikyō pelan.
"Ya?"
"Kudengar kau tidak memberi kabar pada Kagome selama empat tahun belakangan ini. Padahal selama ini ia terus menantikan kepulanganmu," cerita Kikyō pada akhirnya dengan menyinggung topik yang cukup sensitif bagi Sesshōmaru.
"Benarkah?" tanya Sesshōmaru dengan santai, ia mengalihkan pandangannya pada Kikyō dan tersenyum acuh.
"Hm ... dia kacau sekali setelah kau pergi. Aku merasa bersalah padanya, akulah orang yang mulai menghancurkannya perlahan." Kikyō menundukkan kepala, menyembunyikan air matanya yang mulai menitik dari Inuyasha maupun Sesshōmaru, tapi usahanya gagal.
Sesshōmaru mengulurkan sapu tangan pada Kikyō, "Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Tapi, apa yang kukatakan itu benar! Bahkan kemarin ia meneleponku sambil menangis tersedu-sedu, mengatakan bahwa kau sudah mempunyai kekasih. Kagome begitu terpukul, suaranya terdengar lemah, aku takut terjadi apa-apa padanya. Ia mengatakan padaku bahwa terasa sia-sia baginya untuk merindukanmu, menunggu, bahkan memikirkanmu setiap saat. Dia benar-benar mencintaimu, Sesshōmaru!" cerita Kikyō panjang lebar, tak kuasa untuk menahan gejolak hatinya hanya memikirkan nama adiknya.
"Aku tahu. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah mempunyai kekasih dan sebentar lagi kami akan menikah," jawab Sesshōmaru enteng.
"Kau bajingan sekali!" umpat Inuyasha, ia beranjak dari tempat duduknya dan meletakkan tangannya di meja guna menopang tubuhnya, "Bagaimana bisa kau memberikan harapan palsu pada Kagome? Setelah ia terlihat tidak berguna lagi, kau menghempaskannya begitu saja. Setidaknya kau bertanggung jawab, jangan membuatnya seperti itu jika pada akhirnya kau tidak ingin bertanggung jawab!" gertak Inuyasha dengan penuh emosi pada Sesshōmaru.
"Bukankah kita tidak jauh berbeda?" tanya Sesshōmaru mendongakkan kepala dan menatap lekat Inuyasha, ia mengembuskan napas perlahan, "maukah kalian membantuku?"
Sesampainya di rumah setelah pulang dari restoran, Kikyō langsung menghempaskan dirinya di ranjang tanpa melepas sepatu dan beganti pakaian dengan piyama. Ia langsung mencari gawainya yang tadinya ia letakkan pada tas jinjingnya, memencet nomor yang sudah begitu ia hapal di luar kepala, kemudian melakukan panggilan.
Tidak ada jawaban dari seseorang yang menjadi tujuan ia menelepon, ia tidak mau menyerah begitu saja. Kikyō kembali mengulang hal yang sama untuk melakukan sebuah panggilan, tapi Kagome tak kunjung mengangkat telponnya, ia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada adiknya.
"Ada apa?" tanya Inuyasha memasuki kamar, ia menutup pintu kamar sambil membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Kagome tidak menjawab panggilanku, aku khawatir."
Inuyasha duduk di samping istrinya, "Dia akan baik-baik saja," ujarnya mencoba untuk menenangkan Kikyō.
Kikyō kembali melakukan panggilan pada Kagome untuk kesekian kalinya, berharap Kagome akan mengangkat teleponnya. Akhirnya, Kagome mengangkat panggilan itu.
Kikyō menghembuskan napas lega, "Kagome ... kau tak apa?"
"Hm, aku baik-baik saja," jawab Kagome pelan, "maaf baru mengangkatnya, aku baru selesai makan," lanjut Kagome.
"Kenapa suaramu ... kau mabuk?!"
"Tidak, aku hanya minum tujuh kaleng bir karena aku sedang lembur," jawab Kagome santai.
"Hei! Sudah kubilang buang kebiasaan burukmu minum bir itu, itu tidak baik untuk kesehatanmu! Jangan merusak dirimu hanya karena dia! Tak bisakah kau menyayangi dirimu seperti kau menyayangi dia, hm? Lakukanlah untukku."
Hening. Tak ada jawaban dari Kagome.
"Kagome ..." panggil Kikyō pelan.
"Hm, akan kulakukan."
"Kagome ..." panggil Kikyō kembali.
Kagome mendesah, "Hm, ada apa?" tanyanya lesu.
"Bisakah kau menjemputku di bandara lusa?" tanya Kikyō ragu-ragu.
"Kau tidak pulang dengan Inuyasha? Kenapa? Kau bertengkar dengannya?" Kagome meresponnya dengan balik bertanya, ia membeo panik.
"Tentu saja dengan Inuyasha dan juga Rin."
"Oh kukira ... pukul berapa aku harus menjemputmu?"
"Kemungkinan pukul dua siang kita sudah mendarat," jawab Kikyō mengira-ngira.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti."
Tidur nyenyak yang baru saja dirasakan Kagome terasa benar-benar singkat setelah bunyi alarm yang memekakkan telinga itu terus berdering, dengan malas ia mengambil gawainya yang berada di samping bantal, dan memencet salah satu perintah di layar benda canggih itu kemudian melempar asal. Hanya berjarak lima menit, alarm kembali berbunyi yang tak kalah nyaring dari sebelumnya, Kagome menyerah, mengerjapkan matanya beberapa kali dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Rambutnya benar-benar terlihat seperti sarang burung setelah ia memutuskan untuk bangun, ia duduk sebentar dalam beberapa detik sebelum memutuskan untuk bangkit guna membersihkan diri, ketika ia menoleh ke arah meja kecil yang ada di samping ranjang, ia kaget bukan kepalang. Jam kecil berbentuk lingkaran berwarna merah muda polos itu telah menunjukkan pukul dua belas siang waktu setempat, ia harus segera membersihkan diri dan bergegas ke bandara untuk menjemput kakaknya atau ia akan benar-benar padanya.
"Sialan! Kenapa tidak ada yang beres sedikit pun!" rutuk Kagome kesal, ia langsung meloncat dari kasur, berlarian menuju kamar mandi.
Butuh hampir setengah jam bagi Kagome untuk membersihkan diri serta persiapan lainnya menuju bandara, sedangkan dari apartemen menuju ke bandara cukup memakan waktu empat puluh lima menit. Benar-benar tidak ada yang benar untuk Kagome! Setidaknya jalanan lebih bersahabat dengannya dibandingkan apa yang ia alami sebelum ke bandara tadi, parkiran bandara kali ini terlihat ramai —tidak ada perbedaannya saat ia mengantar kakaknya untuk berangkat ke Amerika waktu itu. Lagipula, sejak kapan bandara bertaraf internasional sepi dari pengunjung? Bukankah itu terasa mustahil? Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang masih tersedia, Kagome langsung berlari menuju terminal kedatangan dari internasional.
Kagome hanya bisa melongo melihat pemandangan yang tidak biasa di depan pintu kedatangan itu, banyak kerumunan orang yang berdiri di situ —menantikan kehadiran seseorang. Pengunjung itu didominasi oleh para wanita berusia 20-30 tahunan sambil membawa banner bertuliskan nama seseorang, keadaan yang benar-benar ramai. Sepertinya keadaan ini juga tidak bisa bersahabat dengan Kagome.
"Kenapa ramai sekali? Apa seorang selebriti akan lewat sini?" tanya Kagome bergumam, ia menatap kebingungan pada para wanita yang terus berteriak tidak jelas itu.
Tubuh mungil Kagome terus terdesak setiap kali ia ingin maju ke depan hanya untuk mencari keberadaan kakaknya, ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul dua siang tepat, ia harus segera berada di depan untuk menjemput kakaknya, tapi jika keadaannya seperti ini bagaimana bisa ia maju ke depan?
"Permisi," ujar Kagome mencoba untuk membelah kerumunan seolah ia adalah Nabi Musa yang membelah Laut Merah.
Tidak ada jawaban dari para kerumunan itu, tubuh Kagome terdesak maju perlahan, namun rasa nyeri itu dirasakannya perlahan. Ia terus terdesak dalam kerumunan itu, terombang-ambing dalam gelombang kerumunan wanita itu, ketika Kagome sudah mendapatkan tempat yang sesuai di baris paling depan, ia merasakan seseorang mendesaknya dari belakang dengan keras hingga membuatnya tersungkur di lantai bandara.
"Uwaaa!" teriak para wanita begitu memekakkan telinga saat melihat seseorang yang mereka puja mendekati sosok Kagome.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya seorang laki-laki mendekat dan berjongkok di depan Kagome, mencoba membantu Kagome untuk bangkit.
"Suara itu," batin Kagome setelah mendengar pertanyaan seseorang yang berusaha menolongnya, ia pasti tidak salah. Suara serak yang begitu ia rindukan selama empat tahun belakangan ini terdengar begitu nyaring di telinganya saat ini.
Kagome mendongakkan kepala untuk melihat siapakah orang tersebut. Suara jepretan kamera menyambutnya ketika ia mulai sadar bahwa sosok yang ada di hadapannya itu kini adalah seorang selebriti.
"Sesshōmaru! I love you!" teriak para fans berulang kali.
Kagome menitikkan air matanya ketika orang yang ia lihat benar-benar sosok yang begitu ia rindukan selama ini, kemudian ia memperbaiki tampilannya, dan bangkit, "A-aku baik-baik saja," jawabnya gugup tak percaya dengan apa yang dilihatnya, "lama tidak berjumpa, Sesshōmaru," lanjutnya canggung.
"Hm, sudah empat tahun berlalu," jawab Sesshōmaru dingin.
Deg!
Benar apa yang dikatakan oleh Sesshōmaru, sudah empat tahun berlalu, tapi kenapa Kagome masih seperti itu? Hatinya begitu lemah untuk berhadapan langsung dengan Sesshōmaru setelah ia mengetahui bahwa Sesshōmaru sudah memiliki kekasih, tidak seharusnya Kagome masih menyimpan rasa itu untuk Sesshōmaru.
"Apa? Mereka saling kenal?"
"Gila! Bagaimana bisa mereka kenal?"
"Apa dia kekasih Sesshōmaru? Kurasa dia bukan tipe yang disuka oleh Sesshōmaru."
Kagome mulai mendengar bisik-bisik dari kerumunan para wanita yang nampaknya memang menantikan kedatangan Sesshōmaru. Air matanya kembali menetes setelah mendengar itu semua, bahkan orang yang mendengar itu akan tahu bahwa Kagome bukanlah sosok yang pantas untuk Sesshōmaru, lantas kenapa ia masih mengharapkan Sesshōmaru?
"Kau harus segera pergi Kagome! Kau harus menghindari Sesshōmaru dan segera menghubungi kakakmu!" batin Kagome.
Kagome menghapus air matanya dengan kasar, "Kurasa aku harus pergi," ujar Kagome memaksa untuk tersenyum di hadapan Sesshōmaru, "kita bisa melanjutkannya nanti, aku senang bertemu denganmu lagi, Sesshōmaru." Kagome berjalan meninggalkan Sesshōmaru, tapi apa yang diharapkannya adalah lebih dari sekedar bertatap muka dan berbasa-basi seperti itu, ingin rasanya ia menghambur ke dalam pelukan Sesshōmaru, menangis sepuas yang ia ingin, dan mengatakan semua rasa yang dipendamnya selama ini, tidak bisakah ia melakukan itu? Air mata yang ditahannya akhirnya menganak sungai. Sejak kapan Kagome menjadi sangat rapuh seperti ini?
Sesshōmaru mematung ketika sosok Kagome pergi dari hadapannya. Tidak ingin momen itu berlalu begitu saja, Sesshōmaru menarik lengan Kagome, menahan wanita itu untuk tidak pergi darinya. Ada suatu hal yang harus ia katakan pada Kagome secara jujur.
"Kata siapa kau boleh pergi?" tanya Sesshōmaru bergumam, ia melirik Kagome yang kini berada di sampingnya, "apa kau kira aku akan mengizinkanmu untuk pergi begitu saja?" lanjut Sesshōmaru menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Inuyasha dan Kikyō keluar dikawal oleh beberapa orang melewati lorong jalur VVIP bandara, Rin kecil berada di tengah-tengah Kikyō dan Inyasha sambil berpegangan tangan dengan keduanya.
Kikyō menatap suaminya dengan tersenyum bahagia, "Semoga pilihanku tepat untukmu, Kagome. Kau berhak untuk mendapatkannya."
Air matanya menitik setetes demi setetes di pipinya.
"Ada apa?" tanya Inuyasha kebingungan.
"Tidak apa-apa, aku berharap pilihanku tidaklah salah."
"Kagome maksudmu?"
Kikyō mengangguk.
"Kata siapa kau boleh pergi?" tanya Sesshōmaru bergumam, ia melirik Kagome yang kini berada di sampingnya, "apa kau kira aku akan mengizinkanmu untuk pergi begitu saja?" lanjut Sesshōmaru menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Apa maksudmu? Lepaskan aku!" Kagome meronta ketika Sesshōmaru semakin mengeratkan genggamannya di pergelangan tangan kirinya.
"Apa kau pikir aku membiarkanmu pergi?" tanya Sesshōmaru dengan tatapan yang tajam dan menekan setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya.
"Tidak! Lepaskan aku!" ronta Kagome dan air matanya kembali membasahi pipinya.
"Ikut aku!" ujar Sesshōmaru langsung menarik Kagome pergi dari lautan manusia itu.
Sayup-sayup Kagome tidak mendengar suara dari kerumunan para wanita yang begitu menakutkan bagi Kagome. Ia tidak mempedulikan dirinya yang ditarik oleh Sesshōmaru, ia hanya bisa menangis dalam diam sambil terus memperhatikan sosok yang begitu ia rindukan selama ini. Mereka dikawal oleh pihak pengamanan bandara menuju parkiran serta satu orang yang selalu mengekor Sesshōmaru, Jaken. Kesadaran Kagome terasa terhempas begitu saja setelah melihat sosok gagah bertato Nihilism itu, ia baru tersadar dari fantasinya sejenak atas kekaguman dirinya pada Sesshōmaru ketika laki-laki itu merampas kunci mobilnya dari genggamannya.
"Kita pulang," ujar Sesshōmaru pada manajernya, Jaken.
"Sebentar, apa maksudmu dengan pulang?" tanya Kagome panik.
"Kita pulang ke rumahku," jawab Sesshōmaru santai.
"Tidak. Aku harus menjemput kakakku," tukas Kagome panik.
Kagome berniat meninggalkan Sesshōmaru untuk kembali ke bandara demi menjemput kakaknya, tapi pikirannya saat ini kacau, benar-benar kacau. Di sisi lain ia harus menjemput mereka, tapi hati kecilnya mendamba Sesshōmaru lebih. Seolah mengerti atas apa yang ia rasakan, laki-laki di hadapannya itu langsung menariknya ke dalam pelukan hangat, pelukan yang begitu dia rindukan. Kagome begitu lemah hanya karena pelukan yang diberikan oleh Sesshōmaru, kepanikan yang dialaminya tadi rasanya langsung hilang begitu saja. Tak berselang lama, gawai milik Kagome berdering, Kagome kembali gugup mencari gawainya ketika ia masih berada dalam pelukan hangat Sesshōmaru.
"Halo?" jawab Kagome ketika akhirya ia bisa menemukan gawainya dan menjawab panggilan dari Kikyō, "Onee-san, gomen ..."
"Untuk apa kau meminta maaf padaku?" tanya Kikyō santai, nadanya terdengar begitu bahagia, "apa kau sudah bertemu dengannya?"
"Apa maksudmu?" tanya Kagome kebingungan.
"Sesshōmaru, apa kau sudah bertemu dengannya?" teriak Kikyō lantang.
"Dia sedang kupeluk, dia begitu panik ketika kuajak pulang," sahut Sesshōmaru.
"Apa maksud kalian?" Kagome mendongak, "ini rencana kalian?"
"Kau berhak mendapatkanya, Kagome," ujar Kikyō mengakhiri panggilannya siang itu.
Kagome melepaskan pelukan Sesshōmaru dan air matanya kembali tumpah, ia berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dari Sesshōmaru.
"Kenapa justru menangis?" tanya Sesshōmaru kebingungan, "ayo kita pulang."
"Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu, tapi terasa susah untuk mengatakannya di hadapanmu saat ini," jawab Kagome dengan terisak.
Sesshōmaru membuka perlahan tangan yang menutupi paras cantik Kagome, menghapus air mata Kagome dengan lembut, "Kita bisa membahasnya di rumah. Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu juga."
Di dalam mobil, Kagome mengalihkan padangannya ke samping, mengabaikan sosok Sesshōmaru yang berada di sampingnya, tatapannya kosong, sedangkan pikirannya terus berkutat pada sosok yang duduk di sampingnya. Sesekali Jaken yang mengemudikan mobil itu melihat tingkah keduanya melalui spion, tidak ada interaksi di antara keduanya, mereka sama-sama memilih untuk diam, berkutat pada pemikirannya sendiri. Sesshōmaru terus memperhatikan Kagome yang sejak masuk ke dalam mobil, ia hanya memandang apa yang terjadi di luar jendela, padahal ia berharap Kagome hanya akan memperhatikannya.
Kagome menghapus air matanya dan mengalihkan pandangannya pada Sesshōmaru yang sudah memperhatikannya sejak tadi.
"Ada apa?" tanya Kagome masih terisak.
"Apa yang membuatmu menangis seperti itu?" tanya Sesshōmaru penasaran, menangkupkan kedua tangannya di wajah Kagome.
"Sudah sampai," ujar Jaken memecah konsentrasi keduanya.
"Hm, arigatōgozaimasu," jawab Kagome pelan dengan suara yang masih serak akibat menangis, kemudian ia melepaskan tangan Sesshōmaru.
Sesshōmaru menarik tangan Kagome hingga membuat keduanya saling berhadapan, menatap wajah Kagome lekat. Namun, wanita itu justru menjauh, membuat jarak darinya dan memilih turun dari mobil. Di teras, Kagome melihat sosok ibu Sesshōmaru yang tidak ia lihat selama empat tahun belakangan ini, sama seperti apa yang ia rasakan pada Sesshōmaru, ia juga merindukan kedua orang tua Sesshōmaru. Rasanya sudah benar-benar lama Kagome tidak melihat kedua orang tua Sesshōmaru yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri itu.
"Sesshōmaru!" teriak Inu Kimi melihat anak kesayangannya yang baru pulang itu keluar dari mobil, anak tunggal keluarga Taishō itu langsung menghambur ke pelukan sang ibu, mereka berpelukan cukup lama.
Kagome mengekor di belakang Sesshōmaru, mengamati keduanya yang saling berpelukan mesra menumpahkan segala rasa atas nama rindu yang terpendam. Ia ikut bahagia melihat keduanya berpelukan mesra, seolah merasakan dirinya berada dalam pelukan keduanya, menyadari air matanya akan jatuh kembali untuk kesekian kalinya, Kagome langsung mendongak mencegah agar air mata itu tidak jatuh membasahi pipinya dan menyebabkan matanya bengkak. Dari pelupuk matanya, ia bisa melihat Inu Kimi membisikkan sesuatu ke telinga anak kesayangannya, bahkan Kagome yang berdiri tidak jauh dari Sesshōmaru tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan.
Inu Kimi melepaskan pelukannya dari Sesshōmaru, "Oh iya kekasihmu sudah datang dari tadi," ujarnya cukup membuat Kagome tersadar di mana ia sekarang berada.
"Apakah kau mengajakku kemari untuk memperkenalkanku pada kekasihmu itu, sekaligus memberitahuku di mana posisiku seharusnya saat ini? Aku tahu kau melakukan ini agar aku tidak bergantung padamu, setidaknya bukankah aku harus terlihat baik di hadapan kekasihmu dan mengucapkan selamat untuk kalian sebagai sahabat yang baik?" batin Kagome menatap Sesshōmaru dan Inu Kimi.
"Kagome ..." panggil Inu Kimi mendekat ke arah Kagome, memegangi tubuh Kagome untuk memastikan bahwa Kagome baik-baik saja, "bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak bertemu, kau baik-baik saja, 'kan?" lanjutnya memberondongi Kagome dengan berbagai pertanyaan.
Kagome mengangguk dalam diam, memeluk sosok seorang ibu yang sudah dirindukannya, tangisnya kembali pecah dalam pelukan hangat Inu Kimi. Kagome sudah tidak bisa membendungnya kembali.
"Kagome, ada apa?" tanya Inu Kimi pelan, suaranya bergetar. Ia mencoba untuk melepas pelukan Kagome, tapi yang terjadi justru sebaliknya, Kagome semakin mengeratkan pelukannya.
"Kumohon, jangan lepaskan," pinta Kagome terisak, tubuhnya bergetar dalam pelukan Inu Kimi.
Sesshōmaru hanya bisa mengamati dua sosok wanita itu saling menangis hanya dalam sebuah pelukan, tanpa ia sadari, air matanya mulai menitik di pipinya. Tidak pernah terpikirkan oleh Sesshōmaru sebelumnya, bahwa pilihan yang ia ambil akan begitu menyakiti Kagome. Ia baru bisa melihatnya kini, saat wanita itu terisak dalam pelukan ibunya, hatinya terasa tercabik-cabik hanya melihat Kagome menangis, bahkan tangisan Kagome lebih parah menyedihkannya dari apa yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Kagome, maafkan aku," ujar Inu Kimi menenangkan Kagome dengan mengelus-elus punggungnya, "tidak seharusnya aku menyanggupi rencana konyol yang pada akhirnya akan menyakiti kita," lanjutnya, Kagome makin terisak dalam pelukannya. Butuh beberapa waktu untuk menenangkan Kagome yang terus terisak dalam pelukan Inu Kimi.
"Kagome, bisa kita bicara?" tanya Sesshōmaru pelan sesaat Kagome sudah kembali tenang.
"Oh, hanya berdua?" tanya Kagome polos.
Sesshōmaru menganggukkan kepala, "Iya."
Sesshōmaru berjalan mendahului Kagome untuk masuk ke dalam rumahnya, Kagome mengikutinya dari belakang berjarak sekitar dua langkah dari Sesshōmaru, mengamati tiap sudut rumah Sesshōmaru itu dengan detail. Seolah tidak ingin terlewat satu inci pun dari pandangannya, Sesshōmaru langsung menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat Kagome menabraknya.
"Ayo! Kenapa lama sekali?" Sesshōmaru mengomel pada Kagome yang dari tadi terus mengamati semua dekorasi rumahnya seolah ia baru pertama kali masuk ke rumahnya.
Kagome mendongak, "Hm, maaf."
Sesshōmaru tidak mau lagi mendengar apa pun alasan Kagome, ia langsung menarik lengan Kagome menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh Kagome. Laki-laki berpostur tubuh tinggi itu terus menarik Kagome untuk mengikutinya, melewati ruang keluarga dan juga taman.
Saat menyadari dirinya sudah melewati taman, Kagome melepaskan tangannya dari genggaman Sesshōmaru, ia menoleh ke kiri area taman yang merupakan kamar tamu yang pernah ditidurinya beberapa tahun silam, "Kau mau membawaku ke mana?"
"Kamarku," jawab Sesshōmaru tanpa beban.
"Apa maksudmu dengan kamar?" tanya Kagome panik.
"Tenanglah."
"Bagaimana aku bisa tenang?" tanya Kagome dengan nada meninggi.
"Kita sudah dewasa, jika sesuatu terjadi padamu, aku akan tanggung jawab," jawab Sesshōmaru tersenyum, namun Kagome hanya menatap Sesshōmaru dalam diam, "ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, tidak bisa di sembarang tempat, aku butuh privasiku terjaga."
Mendengar penjelasan dari Sesshōmaru tersebut, Kagome pasrah akan dirinya yang dibawa Sesshōmaru ke dalam kamar untuk membicarakan suatu hal yang dianggap privasi oleh Sesshōmaru. Laki-laki itu memilih untuk belok ke kiri setelah sampai di ujung taman, melewati jalan setapak untuk menuju kamar yang terpisah dari rumah utama. Di sisi kiri dan kanan, jalan setapak itu terlihat berbagai jenis bunga-bunga serta tanaman lainnya ditata dengan rapi untuk menghiasi sekelilingnya.
Selama ia bersahabat dengan Sesshōmaru, ia tidak pernah masuk ke dalam kamar laki-laki itu. Mungkin benar jika ada orang yang berkata bahwa kamar adalah ruangan yang menyimpan berjuta rahasia pemiliknya, satu-satunya tempat yang membuat penghuninya nyaman untuk berlama-lama di kamar. Layaknya mereka berada di sebuah apartemen, pengamanan kamar Sesshōmaru sama seperti dengan apartemen yang terdapat kode rahasia untuk masuk ke dalamnya, setelah memencet beberapa tombol angka, pintu itu akhirnya dapat dibuka oleh Sesshōmaru.
"Masuklah," perintah Sesshōmaru pada Kagome.
Kagome masuk ke kamar Sesshōmaru, mengamati bagaimana keadaan kamar Sesshōmaru. Dari jendela yang berada di sisi kiri, ia bisa melihat bahwa kamar Sesshōmaru ini langsung menghadap ke arah kolam renang dan juga taman, bahkan dari jendela itu ia bisa melihat daerah kamar tamu, ia kembali teringat momen ketika ia hampir berciuman dengan Sesshōmaru di dalam kamar itu. Tepatnya, di sisi jendela yang terlihat dari kamar laki-laki yang nyaris diciumnya empat tahun silam.
"Duduklah, kau akan lelah jika terus berdiri," ujar Sesshōmaru menoleh singkat pada Kagome.
Kagome duduk di sofa yang tersedia, "Sesshōmaru ..." panggilnya.
Sesshōmaru menoleh ke arahnya, "Ya?"
"Tidak, lupakan saja." Kagome langsung menggelengkan kepalanya, sepertinya tidak pantas bagi dirinya untuk mengatakan hal yang ingin dikatakan olehnya.
Sesshōmaru melempar asal pakaiannya di ranjang, "Katakanlah, tak apa. Kau tadi bilang banyak yang ingin kau katakan padaku."
Hening.
Tidak ada jawaban dari wanita yang sudah berulang kali menangis untuk siang ini saja atas apa yang dilakukan oleh Sesshōmaru. Ia terus menundukkan kepala bahkan saat Sesshōmaru duduk di hadapannya tepat.
"Sesshōmaru ..." Kagome menggigit bibir bawahnya, "aku tahu kalau ini sebenarnya tidak pantas aku katakan padamu, tapi kurasa aku harus mengatakannya padamu ..."
"Katakanlah." Sesshōmaru memperbaiki posisi duduknya dan beralih memperhatikan sosok yang ada di hadapannya itu dengan lebih intens.
"Apa begitu susah untuk menghubungiku? Tidak, maksudku selama empat tahun ini kau tidak memberiku kabar sama sekali, kita kehilangan kontak. Aku selalu menghubungimu lewat pesan singkat maupun pos elektronik, tapi tak ada jawaban darimu, apa begitu susah hanya untuk bertanya kabar?"
"Kenapa kau begitu ingin mengetahui tentangku?"
"Karena aku menyayangimu! Karena aku begitu mengkhawatirkanmu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri apakah kau baik-baik saja, apakah kau sakit, apakah kau sudah makan? Apa kau tidur nyenyak? Apa kau tidak bermimpi buruk? Apa kau juga merindukanku seperti aku merindukanmu? Kau bilang padaku saat itu bahwa kau hanya akan pergi sebentar dan setelah itu akan kembali, apa empat tahun itu begitu singkat untukmu?"
"Ya, itu singkat. Apa begitu lama untukmu?"
"Ya! Semuanya terasa begitu lama. Jam sepertinya ikut bersekongkol denganmu, karena aku begitu menyayangimu, rasa rinduku padamu begitu terasa menyakitkan dan menyiksa diriku."
"Kau tidak harus melakukannya," sanggah Sesshōmaru.
"Jika aku bisa, aku juga tidak ingin melakukannya. Kenapa aku harus melakukannya setiap hari hanya untuk menangisi dan merindukanmu? Tapi, setelah sekian lama aku menunggumu, aku rasa aku harus melakukannya!" jawab Kagome dengan nada meninggi.
"Kenapa kau harus melakukannya? Kenapa kau harus menyakiti dirimu sendiri?"
"Sesshōmaru! Kekasihmu sudah datang, cepat!" teriak Inu Kimi di taman.
"Baiklah," jawab Sesshōmaru berteriak tak kalah lantang dari ibunya.
"Kurasa aku harus pergi, kekasihmu sudah datang. Jika ia melihatku di sini, ia akan salah paham padaku," tukas Kagome bangkit dari sofa.
Kagome beranjak dari sofa, berjalan meninggalkan Sesshōmaru yang masih terduduk di sofa. Saat dirinya akan keluar dari kamar, Sesshōmaru kembali memanggil dirinya.
"Kagome ..." panggil Sesshōmaru, suaranya terdengar melemah di akhir.
Kagome menghentikan langkahnya, tangannya sudah berada di engsel pintu kamar Sesshōmaru, bersiap untuk keluar dari kamar laki-laki itu.
Grep.
Sesshōmaru memeluk Kagome dengan erat, sepasang iris berwarna hazel itu membulat tatkala pelukan itu kian mengerat di pinggangnya. Semakin ia berusaha untuk melepaskan pelukan itu, Sesshōmaru semakin mengeratkan pelukannya, dan membiarkan kepalanya berada di bahu wanita yang sudah siap pergi dari kamarnya.
"Sesshōmaru, lepaskan aku," pinta Kagome lirih. Ia benar-benar rapuh dengan perlakuan yang diberikan Sesshōmaru kepadanya, ia harus pergi karena tidak ingin kekasih sahabat karibnya bersalah paham padanya, "kumohon ..."
"Tidak akan! Cukup melepaskanmu sekali saja, tidak untuk kedua kalinya," ujar Sesshōmaru menghirup aroma khas Kagome.
"Sesshōmaru ..." panggil Kagome lemah, air matanya menetes kembali, "jangan seperti ini, kekasihmu akan salah sangka padaku."
"Maafkan aku, Kagome. Cukup bagiku untuk menyakitimu sekali saja, aku tidak akan mengulanginya lagi. Cukup membuat pilihan konyol yang begitu menyiksa diriku dan juga dirimu, melihatmu menangis terisak dalam dekapan haha-ue, aku tidak sanggup. Itu adalah tangisan yang paling menyakitkan yang pernah kulihat, saat dua orang yang kusayang menangis dalam pelukan. Aku tidak ingin melihat hal itu, aku hanya ingin melihatmu tersenyum," ujar Sesshōmaru mengabaikan apa yang dikatakan oleh Kagome.
"Sesshōmaru, kumohon jangan seperti ini? Kekasihmu bisa salah paham terhadapaku. Aku tidak ingin pertemuan pertamaku dengannya buruk karena kesalahpahaman ini, aku tidak ingin mempunyai masalah dengan orang yang baru pertama aku temui," terang Kagome panjang lebar pada Sesshōmaru.
"Dia sudah ada di sini sejak tadi," kata Sesshōmaru dengan santainya, kemudian ia membalikkan badan Kagome agar langsung saling berhadapan.
"Oh tidak, bagaimana ini? Jadi, dia sudah ada di sini sejak tadi? Bagaimana kalau ia melihat dan mendengar semuanya?" Kagome panik, melihat sekelilingnya.
Sesshōmaru memegang pundak Kagome, menenangkan Kagome yang sudah mulai panik, "Jika kekasihku adalah seorang yang ada di hadapanku bagaimana?" Kagome terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Sesshōmaru, "jika aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat bagaimana?"
"Maksudmu bagaimana? Jangan membuatku bingung," jawab Kagome masih kebingungan.
"Kagome, dengarkan aku!" Sesshōmaru menatap lekat Kagome, "Kekasihku bernama Kagome Higurashi yang saat ini ada di hadapanku, apa kau keberatan?"
"Sudah, jangan bercanda!"
"Aku serius," ujar Sesshōmaru meyakinkan Kagome.
"Aku tak mengerti dengan apa yang kau bicarakan. Mereka mengatakan kekasihmu sudah datang, bahkan kau mengatakan bahwa dia sudah ada di sini, bagaimana bisa aku?"
"Benar. Tapi, apa kau melihat orang lain selain aku di kamar ini? Di dalam kamar ini, hanya ada aku dan kau, tidak ada orang lain. Kekasihku adalah seseorang yang bernama Kagome Higurashi, apa kau keberatan dengan hal itu?" ujar Sesshōmaru mantap, tanpa ada keraguan.
Kagome terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sesshōmaru, laki-laki yang sudah membuatnya menangis itu mengatakan bahwa dirinya adalah kekasihnya. Perasaan campur aduk itu bersemayam di dalam dada Kagome, semuanya ingin meluap secara bersama-sama. Namun, semua kegelisahan yang dirasakan oleh Kagome semuanya sirna begitu saja tatkala sosok yang ada di hadapannya itu menyebut namanya, sebuah harapan yang diinginkan selama empat tahun belakangan ini benar-benar terjadi.
"Kenapa justru diam?" tanya Sesshōmaru membuyarkan lamunannya.
"Tidak, maksudku ..." belum sempat Kagome menyelesaikan apa yang ingin dikatakan olehnya, Sesshōmaru langsung menutup mulut wanita itu dengan ciuman seringan bulu, yang membuatnya mendamba lebih selama ini. Ia memeluk pinggang Kagome dengan kedua tangannya, sementara jantung Kagome berhenti berdebar, rupanya ia tak ingin kalah dengan laki-laki itu, dengan sigap ia meletakkan kedua tangannya di leher Sesshōmaru. Ciuman yang mereka lakukan nampak seperti ciuman yang tidak ingin saling terpisah satu sama lain lagi. Air mata Kagome kembali membasahi pipinya, alih-alih karena sedih, air mata yang kini menganak sungai itu adalah luapan rasa bahagia yang tidak bisa dikatakan oleh keduanya melalui kata-kata, lisan sudah tak mampu untuk membungkus semuanya hanya untuk menyuarakan apa yang dirasakan oleh dua insan anak adam itu.
Sesshōmaru melepaskan ciuman itu dan menghapus air mata Kagome dengan pelan.
"Kau mengatakan di sebuah acara bahwa kau sudah berpacaran selama empat tahun, kau tahu bagaimana diriku saat mendengarnya? Aku benar-benar hancur saat itu juga," ujar Kagome nanar.
"Aku sudah tahu, maafkan aku ... apa kau keberatan jika aku mengatakan kita sudah berpacaran selama empat tahun pada media?"
"Tidak bisakah kau meminta izin terlebih dahulu padaku?"
"Akan kupikirkan ulang." Sesshōmaru tersenyum, "Kagome ..."
"Hm ..."
"Mari kita bertunangan lusa, saat Hari Natal?" ujar Sesshōmaru meminta persetujuan dari kekasihnya itu.
Kagome melepaskan tangannya dari leher Sesshōmaru, "Apa itu tidak terlalu cepat?"
"Tidak. Aku sudah menantikan ini lama, kau juga tahu bahwa aku tidak akan lama untuk berada di London. Awal tahun depan aku harus kembali ke USA, aku ingin kau ikut denganku."
"Tapi, itu terlalu mendadak untukku ..."
"Jika kita bertunangan lusa, aku bisa membawamu ke USA. Februari kita bisa menikah," jawab Sesshōmaru menambahkan.
"Tidak, kenapa kau membuat keputusan ini sendirian? Bagaimana dengan pekerjaanku? Kikyō onee-san juga sedang hamil aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
"Aku hanya tidak ingin mengikatmu dalam status pacaran saja, aku ingin mengikatmu dengan status resmi, apa kau tidak takut jika aku pergi darimu lagi? Soal pekerjaanmu, aku sudah membahasnya dengan mereka saat di Amerika kemarin, tidak perlu ada yang kau cemaskan. Mereka mengatakan bahwa jika kau ikut denganku ke Amerika, kemungkinan besar mereka juga akan ke Amerika di rumah Inuyasha. Apa kau keberatan?"
"Lalu bagaimana dengan perusahaan jika Inuyasha pergi ke Amerika?"
"Apa bekerja begitu mengasyikkan hingga kau mengabaikanku? Selama ini bukan hanya kau saja yang tersiksa, tapi aku juga tersiksa."
"Semuanya begitu mendadak, Sesshōmaru ..." Sesshōmaru langsung menutup kembali mulut Kagome dengan ciumannya, wanita itu memejamkan matanya, membiarkan sensasi kenikmatan itu menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Tidak bisakah kau melakukannya untukku?" bisik Sesshōmaru di sela-sela ciumannya, "aku tidak bisa pergi lagi darimu, cukup untuk waktu itu saja aku pergi darimu selama empat tahun, aku tidak ingin ada penyiksaan lain untuk kita. Kita bisa mempersiapkan bersama-sama untuk masa depan kita, tanpa harus terpisah lagi," lanjutnya menyudahi ciumannya.
Kagome kini memberikan ciuman singkat pada Sesshōmaru, "Aku tak sabar menantikannya."
Sesshōmaru membalas ciuman singkat itu dengan menghujani Kagome ciuman-ciuman kecil, "Kau bisa tidur denganku malam ini, kita bisa membicarakan semuanya sampai kita tertidur."
"Haruskah seperti itu?"
"Kau menolakku? Aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu."
"Aku percaya padamu, hanya saja ..."
"Apa?" tanya Sesshōmaru bingung.
"Bagaimana dengan papa dan mamasoal ini?"
"Wow!"
"Ada apa?"
"Tak kusangka kau sudah berani memanggilnya papa dan mama," ujar Sesshōmaru menjahili Kagome dengan senyuman nakal.
Kagome tersenyum, "Jangan menatapku seperti itu!"
"Sepertinya kau sudah benar-benar siap ..."
"Kau tidak harus membahasnya, kita baru saja memulainya beberapa saat yang lalu," sanggah Kagome, kini pipinya sudah bersemu merah muda.
"Kau lupa, kita sudah empat tahun berpacaran," sahut Sesshōmaru.
Kagome mendekatkan hidungnya dengan hidung Sesshōmaru, "Kata siapa?"
"Jadi, kau sedang bermain-main denganku? Sepertinya aku harus membuatmu ham ..." belum sempat Sesshōmaru melanjutkan apa yang ingin dikatakannya, Kagome langsung menutup mulut kekasihnya itu dengan telapak tangannya.
"Aku akan tidur di sini jika papa dan mama mengizinkanku, mengerti?"
"Mereka akan mendukungku," jawab Sesshōmaru dengan percaya diri.
"Kau begitu percaya diri sekali," ejek Kagome.
"Sesshōmaru, sudah hampir waktunya makan malam," teriak Inu Kimi di taman yang suaranya terdengar dengan jelas sampai ke dalam kamar Sesshōmaru.
"Ya!" jawab Sesshōmaru sedikit lantang.
"Aku harus membantunya," jawab Kagome melepaskan pelukan Sesshōmaru.
"Kenapa? Ada pembantu yang bertugas," protes Sesshōmaru kesal dengan keputusan Kagome.
"Kita bisa mengobrol nanti setelah makan malam."
"Tidak, aku masih ingin bersamamu," rengek Sesshōmaru manja.
"Sesshōmaru, jangan seperti anak kecil, hm? Aku akan menginap," jawab Kagome dengan mengancam agar ia tidak melarang apa yang ingin dilakukan olehnya.
"Baiklah ... kalau begitu aku ikut."
"Untuk apa? Aku tidak yakin kau akan membantu," jawab Kagome keluar dari kamar, diikuti oleh Sesshōmaru.
Sebagai calon anggota keluarga baru, Kagome mulai membantu Inu Kimi yang sibuk menyiapkan makan malam di dapur, bersama seorang pelayan yang pernah melayaninya empat tahun lalu. Sesekali Kagome meliriknya, seakan seperti sebuah film, kenangannya akan kejadian di empat tahun lalu bersama Sesshōmaru di dalam kamar tamu terputar dengan otomatis. Seulas senyum terukir di wajah cantiknya.
"Ada apa?" bisik Inu Kimi mendekat pada Kagome.
Kagome menggeleng pelan, "Hanya teringat empat tahun yang lalu, mama." Untuk pertama kalinya, ia memberanikan diri untuk memanggil calon ibu mertuanya dengan panggilan "mama". Di sisi lain, Kagome ingin mengisyaratkan bahwa ia menyetujui lamaran Sesshōmaru.
Mendengar apa yang terlontar, Inu Kimi menolehkan wajahnya pada Kagome. Tatapan matanya berbinar, menandakan bahwa wanita paruh baya itu bahagia dan cukup terkejut, mulutnya menganga. Tak ada sepatah kata keluar dari bibirnya, dengan gerakan yang cukup cepat ia langsung memeluk Kagome erat dan memejamkan matanya.
"Arigatō, Kagome," bisik Inu Kimi berulang kali dalam pelukannya sambil mengelus punggung Kagome pelan.
"Ada apa ini? Apa sesuatu yang membahagiakan sedang terjadi dan aku tidak mengetahuinya?" tanya Inu no Taishō memasuki area meja makan, ia ikut tersenyum sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada Sesshōmaru yang duduk tidak jauh dari situ.
Sesshōmaru hanya tersenyum dalam diam, mengabaikan ayahnya yang penasaran dengan apa yang terjadi. Butuh beberapa menit bagi Inu no Taishō untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ia terus melirik anak semata wayangnya dan juga istrinya secara bergantian, dan kemudian ia tersenyum.
"Jadi, semuanya sesuai rencanamu?" tanya Inu no Taishō pada Sesshōmaru.
Lagi, anak kesayangannya itu hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata. Diam sejenak, Sesshōmaru menarik napas dalam-dalam, "Natal kita bertunangan," ujarnya santai, nadanya terdengar mantap.
"Akhirnya," ujar Inu no Taishō lega, ia menarik kursi di meja makan untuk duduk, "lalu, bagaimana dengan keluarga Kagome? Apa mereka sudah tahu?"
Sesshōmaru bangkit, melangkahkan kakinya menuju meja makan, menarik kursi itu kemudian duduk di dekat ayahnya.
"Hn. Mereka sudah tahu."
Kagome dan Inu Kimi menyusul ke meja makan, menarik kursi kemudian duduk sementara para pelayan yang melanjutkan pekerjaan yang tersisa.
"Berarti hanya tinggal besok waktu yang tersisa untuk berbelanja. Aku akan belanja dengan Kagome besok," celetuk Inu Kimi.
"Biar aku saja dengan Kagome," sahut Sesshōmaru cepat.
"Jangan! Yang ada nantinya justru kalian terjebak dan tidak bisa keluar dari kerumunan fansmu. Biar aku dan Kagome saja," pungkas Inu Kimi.
Sesshōmaru menggeleng.
"Papa ... mama," panggil Kagome pelan, orang yang dipanggil pun langsung menoleh ke arahnya, "apakah malam ini aku boleh menginap di sini?" lanjutnya, sebelum pertanyaan itu terlontar, Kagome menggigit bibir bawahnya karena ragu.
Tawa mereka yang ada di meja makan langsung pecah, kecuali Kagome yang masih kebingungan dengan maksud mereka.
"Jadi, tidak boleh ya ..." ujar Kagome lesu.
"Tentu saja boleh. Kenapa tidak?" tanya Inu Kimi menepuk bahu Kagome.
"Benarkah?" tanya Kagome antusias.
"Ya. Kau bisa tidur dengan Sesshōmaru," ujar Inu no Taishō yang langsung membuat pipi Kagome merona.
"Biarkan dia tidur denganku, ada banyak hal yang ingin kubahas dengannya." Inu Kimi tak rela begitu saja ketika mengetahui Kagome akan tidur dengan Sesshōmaru.
"Kenapa? Jika ada sesuatu yang terjadi pada Kagome, Sesshōmaru akan bertanggung jawab. Kau tak perlu melarangnya. Bukankah semakin cepat justru lebih baik?"
Mendengar itu, Inu Kimi terdiam beberapa waktu. "Kau benar," ucap Inu Kimi menyetujui usulan suaminya.
Sesshōmaru dan Kagome berbaring di ranjang kamar dalam posisi yang saling berhadapan satu sama lain, menangkupkan selimut untuk menutupi tubuh kedua insan yang tidak puas untuk meluapkan rasa rindu yang sudah tersimpan selama empat tahun.
"Sesshōmaru ..." panggil Kagome lirih, tatapannya tertuju pada netra sang kekasih yang berbaring di hadapannya.
"Hn." Hanya sebuah gumaman yang keluar dari bibir Sesshōmaru, tak berselang lama ia mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang sudah mencuri hatinya sejak lama.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Kagome akhirnya, pertanyaan yang tadinya terasa sulit untuk dilontarkan, kini meluncur tanpa ada hambatan yang tercipta sedikit pun.
Senyap. Tak ada jawaban dari Sesshōmaru. Laki-laki itu justru sibuk menyibakkn beberapa jumput rambut Kagome yang berusaha menutupi netra hazel sang kekasih.
"Dulu kau suka pada Inuyasha yang memiliki pekerjaan, sedangkan aku? Aku dulu hanyalah pengangguran yang mengamati perkembangan saham chichi-ue di depan komputer sambil memantau perusahaan, tak memiliki pekerjaan yang jelas. Jadi, kupikir akan lebih baik jika aku mengejar cita-citaku yang sempat terkubur, dan dari situ aku berpikir kalau kau akan berpaling padaku. Apakah cukup jawabanku?"
"Bagaimana kau yakin bahwa aku akan mencintaimu?" tanya Kagome penasaran sambil menelisik detail wajah kekasihnya itu.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin karena takdir?"
Kagome mendaratkan kecupan singkat di bibir Sesshōmaru. Hening. Deru napas keduanya saling merayap di kulit tubuhnya.
"Apakah menghilang begitu saja sangat menyakitkan?" tanya Sesshōmaru menatap lekat sosok wanita yang berbaring di hadapannya.
"Tentu saja. Tapi, hal itu membuatku makin mencintaimu. Karena setiap saat yang kita habiskan bersama bisa saja menjadi detik terakhir kita. Dan itulah membuatnya makin menjadi berharga," jawab Kagome dengan mengumbar senyuman pada sosok yang kini telah menjadi kekasihnya.
Sesshōmaru menarik tubuh Kagome mendekat dan menutup kembali mulut wanita itu dengan ciumannya. Kagome memejamkan mata, sensasi kenikmatan menjalari sekujur tubuhnya hingga ke jari kaki. Sesshōmaru terus menghujani Kagome dengan ciuman-ciuman lembutnya, Kagome memeluk leher Sesshōmaru dan meminta sesuatu yang lebih, sementara ia menggerakkan mulutnya, bibirnya, di mulut Kagome. Napas mereka saling beradu satu sama lain. Napasnya bersatu. Rasa hangat yang tercipta, lambat laun membuat keduanya jatuh ke dalam mimpi panjang yang enggan berakhir malam itu.
Tak terasa, hari yang begitu dinantikan oleh Sesshōmaru dan juga Kagome akhirnya datang juga, tepat di malam yang kudus itu, Sesshōmaru mengambil selangkah lebih dekat untuk hubungannya dengan Kagome. Tak ingin melepaskan Kagome dan membuatnya menangis lagi, ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan senantiasa untuk membahagiakan Kagome. Tak ada wajah yang tidak bahagia malam itu, semuanya terlihat berbinar-binar karena ikut merasakan kebahagiaan atas Sesshōmaru dan juga Kagome, sebuah acara yang hanya mengundang keluarga dan kolega terdekat itu terasa sangat sakral dari kata "pertunangan biasa".
Pertunangan tersebut menandakan sebuah ikatan resmi di antara Kagome dan juga Sesshōmaru sebelum keduanya melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius.
Sesshōmaru bersandar pada sofa yang letaknya tak jauh dari ranjangnya, atensi tunangannya sedang terfokus pada apa yang tertampil di layar, sedangkan dirinya begitu terpukau karena kekagumannya pada makhluk yang Tuhan ciptakan dan kini berada di sampingnya. Kagome bersandar di bahu kokoh sang pria. Ia bingung saat menyadari bahwa Sesshōmaru tidak fokus dengan film yang terputar di layar, seperti yang ia harapkan, tapi laki-laki itu hanya fokus pada dirinya. Sesshōmaru memandanganya dengan serius. Ia meraih Kagome dan menyentuhnya dengan ringan dan begitu sederhana. Padahal, ia hanya menyentuh dagu sang tunangan dengan ujung jari telunjuknya. "Kau menggodaku malam ini," katanya sangat lembut.
Ini dia. Saat di mana seharusnya Kagome berdiri dan berkata bahwa ia tidak menggoda sang pewaris tunggal Taishō Grup tersebut. Namun, ia tidak melakukannya hingga ia menyadari bahwa Sesshōmaru melorot dari lengan sofa, tepat di sebelahnya. Aroma mint khas milik Sesshōmaru menguar, memancarkan kekuatan dari setiap pori, dan Kagome sama sekali tidak bergerak. Ia menunggu.
Iris Sesshōmaru terlihat seperti madu, semisterius jurang yang dalam, dan ia mempelajari diri Kagome, lama dan saksama. Sekali lagi, Kagome berpikir ini waktunya untuk mundur, karena kemudian Sesshōmaru pun berdiri dan momen ini akan padam dengan sendirinya. Akan tetapi, ia tidak beranjak, jemari Sesshōmaru menyelip ke rambutnya dan membelai kepalanya. Awalnya seperti tidak lebih dari desahan udara yang panas dan menggoda; lalu seluruh mulut Sesshōmaru menekan mulutnya. Kagome tidak menghindar, tidak memprotes; ia terkatung-katung di hamparan ombak dan penemuan, lengannya terangkat, tangannya terjatuh di pundak Sesshōmaru, ujung-ujung jemari tergugah oleh rasa yang begitu sederhana darii kulit. Sesshōmaru menciumnya dengan kuat dan dalam, dan ia merasakan kehangatan dan getaran menjalar.
Sesshōmaru-lah yang menyudahi ciuman itu, melepaskan diri dengan perlahan dan suaranya terdengar parau saat berkata, "Aku akan melahapmu."
Kagome mengangguk, "Kau seharusnya memberitahuku bahwa kau menginginkannya."
Sesshōmaru balas mengangguk, "Kita harus pergi."
"Pasti. Sekarang."
"Aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku benar-benar akan melahapmu malam ini dan aku sudah memberimu peringatan untuk kabur dariku."
Kagome menggelengkan kepalanya, memperhatikan mata Sesshōmaru, "Seharusnya aku memang kabur. Tapi, aku tidak melakukannya. Maksudku, ya. Tapi, tidak."
"Kau benar."
Namun tak satu pun dari mereka beranjak, dan saat Sesshōmaru menciumnya lagi, ia membiarkan jemarinya membelai punggungnya, dan merasakan tangannya ada di tubuhnya. Lalu, ia berhenti lagi.
Kagome tersenyum, perasaannya sudah menyesuaikan diri dengan sempurna, pikirannya tiba-tiba mengarahkan jalannya. Ia membasahi bibirnya perlahan, senyumannya mengembang, "Kau ingin aku mengatakan bahwa aku seharusnya pergi? Seharusnya. Apakah aku ingin pergi? Tidak. apakah aku berkeinginan untuk pergi? Menurutku tidak, tapi sekali lagi, semua terserah padamu sekarang."
Erangan Sesshōmaru dalam dan gemetar, lalu ia berdiri tib-tiba hingga mengejutkan Kagome dan menarik tangan Kagome.
"Kita seharusnya tidak melakukan ini," kata Sesshōmaru dengan suara sedikit menggoda.
"Seharusnya tidak." Kagome menyetujui pelan saat melingkarkan lengannya di leher Sesshōmaru. Matanya terkunci oleh mata Sesshōmaru, ia sama sekali tidak sadar bahwa ia sedang menuju kamar utama yang elegan dengan perlahan. Ranjangnya besar. Saat pria itu menidurkannya di ranjang, Sesshōmaru segera berbaring di sampingnya.
Mereka bertemu dalam ciuman penjelajahan penuh gairah, bibir melebur, lidah bertaut, mulut terkunci. Tangannya kuat, jari-jarinya lembut, sentuhannya seperti magnet. Bibirnya jatuh di tengah lehernya, lalu semakin turun, ujung lidahnya menggoda tulang selangkanya naik turun, lalu masih terus turun. Jemarinya menyelip di rambut Sesshōmaru, merasai tekturnya yang kaya. Kagome merasakan tubuh Sesshōmaru. Dengan pinggang dan kaki yang menekannya, ia merasakan gairahnya membuncah, menegang di balik pakaiannya. Lalu tangan Sesshōmaru, dengan mahir, melepas dress yang dikenakannya dan juga kaitan bra miliknya, diikuti oleh bibirnya, tegang di atas payudaranya, dan tangannya membelai serta membuai. Bibirnya menggoda dalam setiap sentuhan, bergerak di sekitar putingnya, puncak payudaranya, lalu naik ke lekuk lehernya lagi. Kegilaan belaian yang dingin dan panas, seakan mengirimkan letupan-letupan api dalam aliran darahnya dan menyerbu dengan kegairahan yang pas menusuk masuk ke jantung berahinya yang terdalam.
Sesshōmaru berhenti, matanya menatap Kagome, senyumannya sungguh menawan, "Ini gila."
"Kita sepakat tentang hal itu."
Bibir Sesshōmaru menyentuh bibir Kagome lagi. Beberapa saat mereka mendesah. Lalu ciuman itu semakin dalam dan kaki mereka berbelit saat tubuh mereka bersatu dan melebut. Dada Sesshōmaru yang entah sejak kapan sudah bertelanjang itu nampak bidang, desah napasnya memenuhi naluri Kagome, seiring dengan debur jantung mereka. Tubuhnya serasa matahari dan laut; lembut, licin, panas. Sesshōmaru bergerak erotis di atasnya, payudara Kagome menempel di dadanya.
Kagome melekat pada Sesshōmaru, menggerakkan jemarinya di punggung Sesshōmaru, sepanjang tulang punggungnya, turun ke karet pinggang celana pendek Sesshōmaru, lalu ke depan menuju pengaitnya. Jari-jari Kagome tidak selincah jari-jari Sesshōmaru, tangan Sesshōmaru menangkap Kagome, tanpa melepaskan ciumannya. Kagome samar-samar sadar bahwa celana itu sudah terlepas, sangat sadar saat tubuh telanjang Sesshōmaru menekan tubuhnya. Ia merasakan jemari Sesshōmaru menyelip di balik satu-satunya kain penghalang yang menutupi area sensitif miliknya, ketika ia berusaha melepaskan penghalang terakhir di antara mereka, semuanya seperti kesenangan yang eksotis. Kagome melekatkan tubuhnya pada Sesshōmaru dan jari-jari Sesshōmaru meluncur di sepanjang tulang punggungnya, lalu menangkup bokongnya, membawa panas tubuhnya ke tubuh Sesshōmaru yang menegang. Bibir Sesshōmaru terus membelai dan menjelajah. Lalu ia bergerak, licin, tangkas, beralih di atas Kagome, bibirnya menekan lekuk tubuhnya, meregangkan pahanya. Kagome merasakan sentakan sentuhannya, lalu permainan lidahnya; serasa terbakar, terperangkap dalam pusaran air. Kenikmatan sensual murni memujanya bahkan ketika keintiman yang meledak-ledak menemaskannya, meski hanya untuk berapa detik dalam gejolak sensasi.
Sesshōmaru adalah pecinta yang luar biasa. Halus dan berani. Gigi, lidah, bibir, sentuhan, semuanya terangkum dalam tarian penuh gairah yang membuatnya kehabisan napas, bergemuruh, bergetar di antara getaran kenikmatan dan nikmat yang mematikan. Kagome melengkung, meliuk, tersentak, dan memekik saat ia benar-benar ... terhubung. Ya, ia terhubung, masuk lebih dalam dan ia merasa hidupnya berada dalam kulit Sesshōmaru. Ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia memiliki naluri dan logika dan tahu apa yang ia lakukan, tapi ini ... sangat terhubung.
Sesshōmaru paham benar rasa sakit yang akan dirasakan oleh Kagome, ketika miliknya menembus dinding kokoh itu. sebelum wanitanya memekik lebih keras, ia menutup mulut wanita itu dengan ciuman yang memikat, membuat wanita itu terbuai dengan belaiannya. Kali ini mereka lebih terhubung daripada sebelumnya. Lebih tersentuh, begitu menggembirakan, tersengat, terseret, terbawa ... Kagome menangis di rambut Sesshōmaru, meraih Sesshōmaru ke arahnya, dan sebelum bibir Sesshōmaru kembali bertaut dengan bibirnya, ia gemetar dengan sensasi baru dari nafsu yang menyenangkan saat desakan tubuh Sesshōmaru menyerbu tubuhnya.
Demi apapun, Sesshōmaru tahu caranya memaksa dengan geraan yang paling lambat dan lembut, lalu untuk menerjang dan mendorong dengan desakan kekuatan badai hebat di lautan. Kagome tahu ada saat-saat di mana ia melupakan segalanya kecuali kebutuhan yang membara untuk bersama dengannya, bersatu dengannya, merasakan gemetar dan getaran, kekuatan dan kekuasaannya, panas tubuh yang lembap dan licin, gerakan itu, dan kerinduan itu ... Kagome seharusnya sudah menjerit dan berteriak cukup keras untuk membangunkan seisi rumah. Ia tahu bahwa Sesshōmaru pasti bisa merasakan ledakan klimaksnya yang dengan begitu saja menyeruak dan memeluk dirinya, begitu bahagianya Kagome hingga ia akhirnya tahu apa yang orang-orang maksud dengan istilah 'kenikmatan surga'.
Pastinya Sesshōmaru bisa merasakannya, Sesshōmaru tahu ... Lalu menunggu, Sesshōmaru mencapai klimaks beberapa detik kemudian atau beberapa jam, Kagome tidak tahu, ia sendiri terbaring bermandikan peluh sampai-sampai ia sendiri tidak yakin apakah dirinya masih bernapas atau jantungnya masih berdetak.
Kagome berpikir bisa saja ia melarikan diri dan pergi. Memberi selamat pada dirinya karena telah terlibat hubungan percintaan yang dewasa. Membiarkan dirinya merasakan kesenangan orang dewasa, mengingkari emosi sebenarnya yang bercampur aduk. Tapi, segala sesuatu pasti ada akibatnya dan Kagome tahu itu. Ia sudah mengatakan pada dirinya sendiri agar tidak melakukannya ... Sangat terlambat. Ini sudah terhubung. Sesshōmaru beringsut ke sisi Kagome, memeluknya, lalu mengusap rambutnya. Kagome membayangkan dengan gelisah apa yang akan mereka bicarakan setelah apa yang mereka lakukan. Saat Sesshōmaru memutar tubuhnya untuk menghadapnya, matanya begitu gelap dan hangat, senyum tulus melengkung di bibirnya. Sekali lagi, Sesshōmaru menyentuh rambutnya dan Kagome membayangkan apa yang laki-laki itu lihat di matanya, seberapa banyak yang dapat ia baca dari wajahnya. Namun, selang beberapa detik kemudian, Sesshōmaru mendaratkan ciuman yang cukup lama di keningnya sambil berbisik, "Selamat malam, Kagome-ku."
Malam itu, entah karena apa, Sesshōmaru mengajak Kagome untuk berjalan-jalan dengan dalih sebagai penebusan rasa bersalah yang pernah ia lakukan. Awalnya, Kagome menolak mengingat status Sesshōmaru kini adalah seorang selebriti yang sedang naik daun, ia yakin akan dengan sangat mudah hanya untuk mengenali laki-laki yang kini menjadi tunangannya. Tapi, bukan Sesshōmaru namanya jika ia tidak memiliki seribu satu macam cara untuk membujuk wanitanya, kalimat sanggahan yang tadinya terus dilontarkan oleh Kagome rasanya tak bertuan. Kagome luluh dengan apa yang dikatakan oleh apa yang dikatakan oleh Sesshōmaru.
Di perjalanan, sambil mengendarai mobil, Sesshōmaru terus bercerita tentang masa lalu yang mereka lalui bersama. Tentang janji yang pernah mereka buat di bawah hujan salju yang turun pertama kali saat itu, kenangan yang memalukan, sedih, dan berkesan. Semuanya Sesshōmaru ceritakan dengan detail, untuk memastikan bahwa ia masih mengingat kenangannya bersama Kagome, membuktikan bahwa tidak ada kenangan yang ia lupakan. Tak jarang, Kagome memotong perkataan Sesshōmaru ketika ia mulai menceritakannya secara hiperbola tentang dirinya, seperti ia dengan mudah dibujuk kala marah hanya dengan membelikan makanan kesukaannya. Banyak menceritakan tentang kenangan masa lalu bersama orang yang ingin kau ajak berbagi bukanlah pilihan yang salah, ada banyak momen yang akan selalu kau kenang, pikir Kagome. Dan saat itu pulalah, ia berjanji bahwa ia akan selalu berada di samping Sesshōmaru tak peduli seberapa berat permasalahan yang akan mereka hadapi bersama.
Mobil berhenti dan Kagome baru menyadari ke mana tujuan mereka. Seketika ia baru menyadari bahwa tempat yang mereka kunjungi bukanlah tempat yang bisa dikatakn privasi, ini justru sebaliknya. Sesshōmaru membawanya ke London Eye tepat di malam pergantian tahun baru, ia langsung mengalihkan pandangannya pada Sesshōmaru yang telah usai melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.
"Sesshōmaru ..." panggil Kagome lemah.
"Hn?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya, "ada apa?"
"Kau yakin mengajakku ke tempat seperti ini ... yang terbuka dan dengan mudah untuk diamati oleh publik?"
Sesshōmaru mengangguk, "Itulah tujuanku." Seulas senyuman manis tergambar dengan jelas di raut wajahnya.
"Kau gila ya? Bagaimana kalau fansmu menyerbu kit ..." Belum sempat Kagome menyelesaikan kalimatnya, Sesshōmaru menutup mulutnya dengan kecupan singkat yang manis.
Pria itu menyeringai, "Tenanglah, aku sudah menyiapkan semuanya," jawab Sesshōmaru mantap, tak berselang lama, ia mengeluarkan tangan kanannya dari saku mantel, sebuah masker dan kacamata sudah ada di genggamannya.
Kagome bernapas lega, "Seharusnya kau mengatakannya." Kemudian wanita berambut cokelat gelap itu merampas masker dan juga kacamata dari genggaman lelakinya, memasangkannya dengan tepat.
"Aku ingin membuat kejutan untukmu —tidak. Lebih tepatnya aku ingin membuatmu terlihat panik, dan ternyata kau begitu menggemaskan kala panik. Anggap saja malam ini adalah sebuah kencan antara kita berdua. Kau tidak keberatan, 'kan?"
Kagome menggeleng dan mendaratkan kecupan singkat di pipi pasangannya seraya berseru, "Ayo!"
Setelah Sesshōmaru membukakan pintu mobil hanya untuknya, Kagome berinisiatif untuk menggamit lengan laki-laki yang berpostur tubuh lebih tinggi darinya itu. Sesshōmaru tersenyum lebar sebagai tanda kepuasan dirinya mengingat kekasihnya berinisiatif melakukan hal-hal yang awalnya begitu dihindari Kagome untuk dilakukan di depan publik. Kali ini berbeda, wanita itu secara terang-terangan melakukannya dan terus menempelkan dirinya pada tunangannya.
Pada awalnya semuanya baik-baik saja, namun ketika langkah kaki mereka semakin mendekat ke arah London Eye, beberapa kelompok orang yang Kagome pikir hanyalah orang biasa yang memiliki tujuan ke tempat yang sama itu, semakin mendekat ke arahnya, samar-samar Kagome mulai mendengar apa yang mereka perbincangkan.
"Bukankah itu Sesshōmaru?"
"Kau yakin itu Sesshōmaru?"
"Hm, sangat yakin. Tapi, siapa wanita yang di sampingnya itu?"
"Kekasihnya?"
"Kau gila!"
"Tidak. Aku tidak gila! Lagi pula Sesshōmaru pernah menyinggungnya di wawancara."
"Baiklah kita anggap saja kalau wanita itu kekasihnya, tapi, kenapa mereaka harus kencan di tempat seperti ini?"
"Itu hak mereka!"
"Aku penasaran dengan wajah kekasihnya!"
"Kau benar, aku juga penasaran!"
Kagome mendongak pada sang kekasih yang wajahnya tertutupi oleh masker. Dengan cepat, laki-laki itu mengalihkan pandangannya, "Ada apa?"
Seolah memberikan minyak di atas kobaran api, seringaian manis terlihat di pelupuk mata wanita bermarga Higurashi itu, senyuman yang tidak bisa diartikan itu juga terlukis sempurna di wajahnya, "Aku ingin menanyakan suatu hal padamu. Bolehkah?"
Laki-laki yang memiliki postur seperti pemain basket itu menghadap kekasihnya dengan sempurna, "Hm, katakanlah."
"Seberapa banyak kau mencintaiku?" tanya Kagome dengan manja.
"Kenapa kau menanyakan suatu hal yang sudah pasti jawabannya?"
"Hm ... aku tidak bermaksud untuk meragukanmu, hanya saja ... aku begitu penasaran, karena malam itu kau mengatakan bahwa kau sudah lama mencintaiku, aku hanya penasaran. Jika kau malu untuk menjawabnya, tidak perlu dijawab," jawab Kagome, senyum simpul terukir di kedua bibirnya.
"Apa kau begitu penasaran? Apa kau begitu ingin mengetahuinya?" tanya sang lelaki dengan sedikit menggoda wanitanya.
Kagome hanya mengangguk ketika Sesshōmaru bertanya, pipinya merona.
Semua orang yang berada di dekat pasangan kekasih ini mengalihkan pandangannya pada mereka, seolah menjadikannya objek yang harus mereka abadikan momen langka tersebut. Yang pertama kali dilakukan oleh Sesshōmaru adalah melepaskan topi hangat sang kekasih, tak lama berselang, ia melepas kacamata yang sontak menimbulkan teriakan di kalangan wanita yang mampu mengenali sosoknya. Masker yang telah menjadi topeng penyamarannya pun ia lepas, Sesshōmaru juga membenahi syal yang hendak menutupi wajahnya agar wajahnya terlihat dengan jelas. Kini semua mata tertuju pada mereka berdua, mengabaikan tarian bunga salju yang mulai turun, wajah Sesshōmaru mendekat perlahan pada Kagome disambut dengan teriakan para wanita yang melihatnya secara langsung.
Mengabaikan teriakan itu, Sesshōmaru berbisik pada wanita kesayangannya seolah menjadi penghalang di antara teriakan yang mampu memecahkan gendang telinga sang pemikat hati, "Ingatlah ini selamanya, Ka-go-me-ku." Ia sengaja mengucapkan nama wanita itu terpenggal-penggal —ingin 'menandai' bahwa wanita itu telah menjadi miliknya.
Kagome mengangguk patuh dengan apa yang diucapkan oleh Sesshōmaru. Tak butuh waktu yang lama untuk tahu apa yang selanjutnya terjadi, dengan pelan Sesshōmaru memagut bibir Kagome, menyesapi apa yang dirasakannya, membiarkan sensasi menjalar ke semua tubuhnya. Tangannya terulur memeluk pinggang Kagome, ketika jantung Kagome berdentum lebih kencang, rasanya ingin melompat dari tulang yang telah memasungnya selama ini. Entah pikiran apa yang berani merayapi dirinya, Kagome meletakkan kedua tangannya di leher laki-laki yang kini sudah berstatus sebagai tunangannya itu dengan mesra, mengabaikan berapa banyak kamera yang tengah mengabadikan momen romantis. Tak perlu sebuah bahasa untuk mendeskripsikan apa yang terjadi, kata-kata tak pernah cukup untuk mengungkapkan cinta keduanya yang begitu dalam akan syarat kepemilikan. Tahun ini, di malam pergantian tahun baru, Kagome tidak pernah membayangkan bahwa akan menjadi malam spesial, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kagome telah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu mengingat apa yang telah terjadi, sebuah peristiwa yang berbeda ketika bangunan ikonik tersebut —London Eye— telah menjadi saksi bisu yang tak akan pernah berbohong hanya karena ditelan waktu, bahwa deskripsi cinta yang sesungguhnya adalah Sesshōmaru dan Kagome. Pun Kagome sadar, bahwa Sesshōmaru adalah anugerah Tuhan yang paling indah yang dihadiahkan untuknya.
"Jangan pergi lagi, Sesshōmaru," bisik Kagome menggelitik leher Sesshōmaru disela ciumannya yang disaksikan oleh publik.
"Tidak akan." Sesshōmaru menjawabnya dengan mantap, tanpa ada keraguan yang terlihat dari sorot matanya.
—終わり—
Pojok Penulis:
Ada beberapa adegan bahkan line yang sengaja saya ambil dari film tetralogi Twilight serta beberapa novel terjemahan dengan tujuan tertentu dan saya tidak akan berpura-pura mengatakan bahwa saya merupakan pembuatnya. Saya minta maaf jika akhir cerita ini apabila kurang berkesan, tidak memuaskan, feel yang tidak terasa, tidak sesuai ekspektasi bahkan alur yang terkesan dipaksa. Sejujurnya ada beberapa adegan yang terpaksa saya potong, namun tidak mengurangi esensi cerita ini.
Jujur, saya senang sekali ketika tulisan ini akhirnya selesai, setidaknya beban saya berkurang sedikit demi sedikit dan bisa mengerjakan yang lainnya. Tapi, di sisi lain, ketika saya nulis cerita ini saya nangis dan baper dari chapter satu hingga ending, walaupun terdengar konyol tapi itu nyata. Sebenarnya, ini adalah OS yang terpaksa saya potong, mungkin jika dijadikan satu kurang lebih panjangnya 21 ribu wkwk xD
Tak ada kata yang cukup untuk kalian, kecuali terima kasih, untuk yang sudah meluangkan waktunya demi mengapresiasi tulisan saya dengan membaca, memberikan review, fav, and follow.
Sampai berjumpa di proyek tulisan yang lainnya!
Salam hangat,
Emma Griselda
Surakarta, 4 April 2018.
