Main Cast : Chanyeol X Baekhyun

Other Cast : Kejutan di dalam nyaa :)

Disclaimer : Cerita ini milik author pervert (Gloomy Rosemary)

perhatian: Dalam fic ini mengandung konten dewasa,harap waspada.


Blood On A White Rose

by. Gloomy Rosemary

Chapter 2

Langit Seoul kian berangsur pekat, tak banyak yang tau...angin di malam itu kian berhembus kencang menyeret awan tebal di atas sana.

Bulan yang seharusnya bersinar terang, kini bias itu pudar dalam sekejap...seolah kekuatan yang lain memang tengah mengendalikannya.

Ya...samar-samar, terlihat beberapa siluet hitam melompat, lalu melesat cepat...melampaui gedung-gedung pencakar langit.

Acap kali terdengar jeritan, kala salah satu dari mereka menyelinap ke dalam sudut ruangan gedung itu. Entahlah apa yang terjadi...

Namun yang pasti, tapis udara di puncak gedung itu membawa aroma anyir yang menguar begitu tajam.

.

.

"Kau sudah mendengarnya?"

'Jae Hyo' Seorang berpawakan tinggi itu sedikit melirik dan terkekeh sinis melihat pria di sisinya masih mendesis menikmati sisa darah di sudut bibirnya. Ya... darah milik perawan ke empat yang ia bunuh di malam ini.

"..."

Namun bukan jawaban yang terdengar, melainkan sebuah seringai yang tersungging tajam di sudut bibirnya.

'Zico' membentangkan kedua tangannya di puncak gedung itu, dengan mata terpejam Ia mulai menikmati deru angin yang perlahan semakin intens menerpa tubuhnya. "Park Chanyeol.." Gumamnya sambil menengadah dan tertawa lepas.

Masih jelas dalam ingatannya,bagaimana Chanyeol...meninggalkan guratan panjang di wajahnya hingga mata sebelah kanan itu, kehilangan kemampuan visualnya.

"Dia telah menemukannya" Jae Hyo, kembali memperjelas arah pembicaraannya. "Kau terlalu banyak mengulur waktu, jika—

"Biarkan keparat itu bermain, sebelum aku melenyapkannya" Sergah Zico, masih dengan mata terpejam. Sesekali Ia mengayunkan kedua tangannya, seakan-akan gemuruh petir dan deru angin adalah suatu paduan suara yang indah untuknya.

Jae Hyo terdiam. Bagaimana mungkin Zico masih bisa setenang ini. Park Chanyeol lawan yang patut Zico perhitungkan, terlebih setelah Chanyeol berhasil menemukan manusia itu. Ia bisa kapanpun merampas dan mewarisi tahta dari klan-nya.

Sial, Ia tak akan bisa mengambil keuntungan apapun dari Zico. Tentu dirinya tak ingin selamanya menjadi pengikut tak berguna seperti ini.

"Tch! rupanya kau masih meragukanku"

Jae Hyo stagnan, Ia benar-benar melupakan satu hal. Zico mampu membaca pikiran siapapun. Tak seharusnya dirinya bertindak seceroboh ini. Zico bisa kapanpun membabat nyawanya

"Cobalah berkhianat..." Gumam Zico seraya melirik Jae Hyo dengan tenang.

"Setelah keparat itu...kau yang akan kulenyapkan" Lanjutnya dengan senyum dingin tersirat.

Raut wajah Jae Hyo semakin menengang,menandakan suatu keresahan dalam benaknya. Jae Hyo terkekeh, berusaha menyembunyikan pikiran apapun yang bisa terbaca oleh sosok gelap di sisinya.

"Haha... Aku memang sengaja memancing amarahmu, untuk membuatmu menghabisi saudara tiri mu itu secepatnya"

Zico berdecih pelan merasa alasan yang Jae Hyo lontarkan, cukup konyol untuk menutupi nyali yang menciut itu.

"Cepat atau lambat...akulah yang akan menjadi penguasa dua alam ini" Desisnya seraya meraba bekas luka gores di wajah kananya lalu tertawa lantang, seolah puas dengan luka yang membuat dirinya makin terlihat bengis.

.

.

.


ChanBaek

Baekhyun makin menggeliat gelisah di bawah kungkungan pria bertubuh kokoh itu, sesekali lenguhan kecilnya lepas begitu saja tiap kali, Chanyeol memberikan hisapan-hisapan lembut disekitar dadanya.

"Aghh!" Namja mungil itu menggeleng kasar, kepalanya terasa pening dengan rasa panas yang makin menjalar di sekujur tubuhnya. Membuatnya tak sadar, seorang pemuda asing tengah menjamah dan meruam setiap jengkal tubuhhnya.

"Le—phas" Rengeknya, dengan kaki bergerak resah. Jeratan sulur yang nampak seperti semak mawar itu, benar-benar membatasi pergerakannya.

Sementara namja vampir di atasnya, tak pernah berhenti menggeram... dan mencengkeram kuat-kuat kedua tangannya sendiri saat mencumbu Baekhyun. Pikirannya serasa kosong, seolah hanya desiran-desiran penuh birahi yang memenuhinya.

Namja tampan itu mati-matian menahan dirinya sendiri. Kala menyaksikan, peluh yang merembas, membuat tubuh ramping Baekhyun semakin terlihat molek di matanya.

"Ghhh" Chanyeol merunduk. Masih berusaha menahan nafsunya. Oh sial! Aroma tubuh Baekhyun semakin kuat, dan membuatnya menggila. Sungguh! Ia tak ingin lepas kendali detik itu juga.

"Nnh~...hiks, sa—kith!" Baekhyun kembali merengek, dua mata bulat yang selalu mengerjap lucu itu, kini benar-benar terlihat rapuh karna air mata. Berulang kali Baekhyun membentur-benturkan kepalanya di ranjang, frustasi dengan nyeri yang kian berdenyut parah di ujung genital dan perutnya.

"Hiks!...akk~..je—balhh!"

"Shit!" Chanyeol mengumpat lirih, sebelum akhirnya menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Baekhyun lalu mencumbunya kasar. Tak ayal namja mungil itu memekik dan menggelinjang karenanya.

Persetan dengan menahan diri. Aroma tubuh Baekhyun jauh lebih memabukkan dan terlalu bodoh jika Ia menyiakannya begitu saja. Hingga tanpa disadarinya, dua taring tajam mencuat dari sela bibirnya.

Semua tergerak tanpa disadarinya, seolah lenguhan dan desahan Baekhyun makin memecut birahinya untuk berbuat lebih, hingga namja vampir itu menyeringai dan siap menusukkan dua taring itu tepat di pangkal leher Baekhyun. Ya...ini yang akan selalu para vampir lakukan, sebelum bercinta.

Menghisap darah pendampingnya, sebelum memulai ritual kopulasi mereka.

"Manusia itu akan terbunuh jika kau melakukannya"

Chanyeol terbelalak lebar, kala mendengar gema suara yang dikenalnya. Cepat-cepat Ia bangkit dan menjauhi tubuh Baekhyun. Sebelum dirinya benar-benar menggigit manusia mungil di ranjangnya itu.

"A-ayah" Ucapnya terbata, dua taring tajam itu pun berangsur-angsur lenyap dari sela bibirnya..

Kendati raga ayahnya tak tampak, tapi Chanyeol tau...sosok penguasa itu memang tengah mengawasi gerak-geriknya dari kediamannya.

"Dia memang yang terpilih...tapi pertimbangkan keselamatannya, sebelum menjadikan anak manusia itu sebagai pendampingmu...Putraku"

Lagi, suara berat itu kembali menggema...namun lenyap dalam sekejap.

Chanyeol yang masih mengendalikan dirinya itu, terlihat terengah-engah menstabilkan nafasnya. Benar...

Baekhyun saat ini hanya seorang manusia lemah. Anak itu akan tewas jika dirinya tak bisa mengendalikan birahinya dan menyetubuhi Baekhyun detik itu juga.

Chanyeol kembali melangkah mendekati Baekhyun, begitu meyakini kehadiran Ayahnya tak lagi dirasakannya lagi.

Dan Baekhyun masih menggigil lemah akibat sesuatu yang bereaksi hebat dalam tubuhnya. Ia mengambil nafas dalam sebelum akhirnya membuka kedua kaki Baekhyun hingga memperlihatkan rektum kecil yang tampak memerah.

"Ahn!" Baekhyun menegang, ketika namja tampan itu meraba lapisan luar rektumnya

"AAHH!" Dan terlonjak saat Tuan vampir itu menusukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang analnya, untuk beberapa saat Chanyeol menunggu Baekhyun tenang dan membiasakan diri dengan kehadiran jemarinya.

Sebelum akhirnya, Ia memejamkan mata... Perlahan tampak bias redup mengalir dari jari panjang miliknya dan menjalar ke dalam perut Baekhyun.

Sontak, namja mungil itu makin menggigil dan merintih saat merasaka aliran hangat yang begitu asing seakan berdesir dari bawah perutnya lalu melebur bersama aliran darahnya.

.

"A-aaaghhhhhh!"

Namun...dadanya tiba-tiba membusung tinggi, begitu sesuatu yang panas mulai merasuk tubuhnya. Dan membuat sesuatu makin berkedut liar di dalam sana, Baekhyun kembali menjerit...dan mengejang hebat. Entahlah...sesuatu seakan mencengkeram titik kejutnya dari dalam.

Jeritan Baekhyun pun makin hebat dan terdengar parau, begitu merasakan isi tubuhnya seakan ditarik keluar, seiring dengan gerakan Chanyeol menarik cepat dua jari itu dari rektumnya.

"AAAAHHHH!" Baekhyun membelalak lebar, kedua tangan lentiknyapun terlihat pasi akibat terlalu kuat meremas sulur yang membelitnya.

Membuatnya meraskan pening yang hebat dan sesak...lalu lunglai tak sadarkan diri.

.

.

Pemuda tampan itu hanya menghela nafas pelan melihatnya, Ia mendekat dan mengelus kepala Baekhyun dengan lembut dan berakhir di wajahnya yang dingin.

"Maafkan aku..." Bisiknya getir.

"Aku hanya ingin membebaskanmu" Lanjutnya lagi, kali ini dengan melepaskan jeratan di pergelangan tangan lentik itu.

Chanyeol beralih menyingkirkan anak rambut di dahi Baekhyun, lalu mengecup keningnya lama. Ia tau, apa yang dilakukannya tentu sangat menyakiti Baekhyun. Tapi selebihnya, dirinya hanya ingin mengeluarkan efek obat itu dari tubuh namja cantiknya, dan mengakhiri rintihannya.

.

.

Lama...pemuda vampir itu memandang paras cantik yang terlelap itu. rautnya tak lagi pasi seperti beberapa saat lalu. Bahkan, Chanyeol dapat melihat dengan jelas...semburat merah tampak di kedua pipi putih itu.

"Yeppeoh..." gumamya sambil menangkup kedua pipi Baekhyun,

Ah! dengan melihatnya seperti ini...benar-benar membuatnya berhasrat untuk segera mungkin meninggalkan tandanya dan menjadikan namja cantik itu sebagai mate-nya.

.

'Chup'


Flash Back On

"Maaf Tuan ...demi keselamatan istri anda, janin itu harus segera digugurkan. Nyonya Byun terlalu lemah untuk mengandung anak pertama kalian"

Penjelasan dokter itu, terlalu lugas meremukkan batinnya.

Tak taukah Dokter itu, betapa bahagia Ia dan istrinya kala harapan menimang bayi mungil telah di depan mata. Dan setelah janin itu memasukki usia 4 bulan, Dokter baru mengatakan hal bodoh seperti itu?!

"A—apa?" Yunho masih terbelalak nanar, berharap Pak Tua itu hanya bercanda dengannya.

"ANDWAE! KAU TAK BISA MEMBUNUH ANAKKU!"

Tiba-tiba saja seorang wanita cantik, merangsak keluar dari ruang pemriksaan dan menatap geram dua pria yang tengah duduk berhadapan itu. setelah tanpa sengaja mendengar pembicaraan keduanya.

Masih dengan mendekap perutnya, Ia kembali menjerit dan berteriak tak terima. "DIA MILIKKU! DIA ANAKKU!"

"Sayang..." Yunho cepat-cepat berdiri, dan merengkuh istrinya cantiknya itu – Byun Jaejong

"Tapi Nyonya...itu terlalu berbahaya untuk keselamatan—

"AKU TAK PEDULI! MESKIPUN AKU MATI! ANAK INI HARUS TETAP LAHIR~arghhh

"Jaee? YAK! Apa yang terjadi Dok?!" Yunho berteriak kalap, begitu melihat Jaejong tiba-tiba saja mendekap erat perutnya dan memekik kesakitan.

"Suster...siapkan ruang—

"T-tidak! Ngh! Y-yunnie...ku mohon jangan membunuh anak ini. A-aku lebih baik mati saat ini juga j-jika kau m-membunuh anak ki—ta" Jaejong memohon dengan terbata-bata, dan meremas kuat lengan suaminya.

Yunho semakin goyah,tak tau kemana harus memegang pendiriannya. Ia begitu mencintai Jaejong dan melihat istrinya memohon demikian, benar-benar membuatnya sesak.

Ia pun menginginkan bayi itu, tapi...

Baginya keselamatan Jaejong lebih penting dari apapun untuk saat ini. Pria itu menarik nafas sesal dan memandang wanita itu teduh.

Namun Jaejong tau, itu bukanlah tatapan yang diinginkannya. Ia tau benar...Yunho sejalan dengan ide gila Dokter itu.

.

.

"A—ndwae!"Jaejong memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit dan merampas sebuah pisau kecil, peralatan medis milik sang Dokter.

"S-sayang...turunkan pisau itu" Panik Yunho.

"Tidak! Kalian ingin mem—bunuh bayiku! Biarkan a—ku mati bersamanya!" kekeuh Jaejong seraya meletakkan ujung pisau tajam itu di lehernya. Ia tau ancaman ini akan banyak mempengaruhi Yunho.

"Jae...ku mohon—

"ANDWAE!" Jerit Jaejong.

Yunho tampak putus asa, Ia tak mampu melihat Jaejong seperti ini. Yunho beralih menatap sang Dokter, memberi isyarat pada Pria paruh baya itu untuk membatalkan aborsi tersebut, bagaimanapun kebahagiaan Jaejong ...harga mati untuknya.

.

.

.

.

Empat bulan berlalu

Yeojja cantik itu masih tetap menjalani harinya, dengan perut yang makin membesar. Ia tampak begitu bahagia kala mendengar penjelasan Dokter Ia akan dikarunai seorang putra, walau nyatanya kini Jaejong kian terlihat ringkih dan memucat. Meskipun Ia tau...hal terburuk macam apa yang akan terjadi padanya. Jaejong tetap yakin...bayi dan dirinya akan tetap bersama-sama.

.

.

Senja itu, Jaejong berjalan menyusuri taman mawar putih miliknya, Ia memang selalu betah berlama-lama di tempat favoritnya ini, untuk menunggu kedatangan suaminya.

Senyum cantik itu pun terulas di bibir tipisnya, menyadari 1 bulan lagi...bayinya akan lahir.

"Sayang...cepatlah lahir dan temani Eomma melihat semua mawar putih ini. lihat...apa kau akan secantik mereka?" bisik Jaejong lembut seraya mengelus perut besarnya.

Namun Jaejong tak pernah sadar, seseorang sedari tadi mengawasinya dan tampak terpikat pada aroma tubuhnya.

"Tunggu Appamu datang, arra—

"Kau memiliki aroma tubuh yang berbeda"

Jaejong tersentak, cepat-cepat Ia memutar tubuh dan membulatkan mata terkejut begitu melihat sosok tinggi berdiri tepat di hadappannya.

"N—Nuguya?!"

Pemuda asing itu hanya tersenyum, dan melangkah lebih dekat. Membuat Jaejong begitu panik melangkah kebelakang demi menghindar.

"Benar-benar harum" gumam pemuda itu lagi kali ini dengan menyeringai memperlihatkan taring tajamnya. Ia tau, aroma ranum yang memikat itu bukan mengalir dari tubuh Jaejong melainkan dari detak jantung di dalam perut Jaejong. Dan itu, yang menariknya kemari.

Sontak Jaejong menjerit melihatnya, sosok macam apa yang tengah dilihatnya saat ini.

"AAAAHHHH!"

"Tapi kau akan mati" Sosok itu menghentikan langkahnya lalu memandang Jaejong redup. "Dan—

"Bayi itupun akan mati"

Gumamnya, membuat wanita itu tersedak jeritannya. Ia memandang pemuda itu nanar...dan kembali mengingat ucapan Dokter akan hal terburuk yang kelak terjadi padanya, bila Ia tetap kekeuh mempertahankan kandungan itu.

"BOHONG! Kau seperti Dokter Tua itu! BOHONG! Anakku akan tetap hidup bersamaku!"

Pemuda tinggi itu terkekeh pelan. "Aku tak bohong dan sepertinya dirimu tau akan hal itu nona"

Jaejong terduduk, air matanyapun pun jatuh begitu saja. Entahlah...mengapa Ia merasa begitu percaya dengan ucapan sosok itu. Jaejong tau...Dia bukan pemuda biasa.

"Kau hanya menunggu kematianmu, lebih baik –

Pemuda tampan itu kembali mendekat. "Biarkan aku menghisap darah ranum milik—

"Tuan!"

Pemuda itu berjengit, begitu Jaejong meraih kaki jenjangnya dan memeluknya erat.

"Aku tau kau bisa menyelamatkan kami"

"..."

"Apapun akan kulakukan, akan kuberikan jika kau menyelamatkan bayi ini dan membuatnya terlahir dengan selamat"

Pemuda itu memperlihatkan smirk khas miliknya. "Apapun?"

"Y-ya! Apapun itu...akan kuberikan, kau bisa menggigit dan menghisap darahku jika kau mau... asal kau membuat bayiku terlahir di dunia ini"

"Kau tak akan menyesali apapun?"

"Tidak! Tidak! Aku tak akan menyesalinya selama aku bisa melihat Dia terlahir! Ku mohon!"

Pemuda itu -Park Chanyeol- kembali menyeringai tipis, mendengar yeojja itu begitu memelas memohon padanya.

"Aku bisa saja melakukannya. Tapi—

Chanyol merunduk, mendekati wajah pias Jaejong. "Serahkan anakmu padaku, saat Dia menginjak usia remaja. Aku tak akan menghisap darahmu...tapi aku tertarik pada aroma ranum dari bayi dalam perutmu" Ucap Chanyeol seraya mengelus pipi Jaejong, menghapus sedikit air matanya. Namja tampan itu tau, bayi yang semestinya mati itu. Memiliki takdir yang spesial dengannya.

"Bagaimana Nona?" Tawar Chanyeol, masih dengan smirk memikat

Jaejong kembali menatap tak tentu. Ia benar-benar merasa pedih, seolah belati tengah menusuk ulu hatinya kala mendengar ucapan pemuda itu. Sebagai Ibu, tentu dirinya akan sangat bahagia melihat bayinya terlahir, dan meski mati sekalipun...Ia akan tetap membawa rasa bahagia itu. Tapi dengan menyerahkan putranya pada sosok mengerikan itu?

Tidak! Tidak!

Yang terpenting adalah bayinya lahir, dan Ia bisa melihat putra kecilnya. Mengenai imbalan yang diinginkan pemuda vampir itu, bisa Ia pikirkan nanti.

Tidakkah dirinya memiliki banyak waktu untuk memikirkan cara menyelamatkan Putranya dari sosok mengerikan itu, Ya! Pasti akan ada cara untuk mengelabuinya kelak.

"B-baiklah" Gumam Jaejong terbata.

Pemuda tinggi itu menegakkan tubuh, dan menatap Jaejong dengan senyum terpatri di bibir merahnya.

"Penuhi janjimu Nona..." Gumamnya, sebelum akhirnya melenyapkan diri dalam sekejap.

.

.

.

Hari yang dinantikan itu pun tiba, dan disinilah Jaejong terbaring lemah di ruangan penuh dengan bau obat yang tajam dengan beberapa orang dokter berdiri mengelilinginya. Beberapa darinya berteriak kalut, terlebih untuk seorang pria yang makin tak terkendali, mengetahui situasi berjalan tak sesuai rencana.

"Detak jantungnya semakin melemah Dok!"

"APA YANG KALIAN KERJAKAN HAH?!" Yunho kembali berteriak

"Tenangkan diri anda Tuan"

"D-dok! Jantungnya berhenti berdetak...kondisi bayinya semakin melemah"

"YACK! SELAMATKAN ISTRIKU!" Yunho semakin dipenuhi emosi.

"Tuan Byun...anda tidak bisa memberikan tekanan pada Dokter Kami, kami mohon kendalikan diri anda atau kami akan memaksa anda kluar dari—

PIIIIP...PIIIP...PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP

"J-Jaee?" Yunho berhenti berontak, demi melihat Jaejong dengan tatapan kosongnya. Petir serasa menyambar dirinya kala itu, mendengar mesin itu berdengung bodoh.

Ia tau...seorang bayi merah berada dalam rengkuhan seorang suster, tapi—

Tak terdengar isakan atau jerit tangis sedikitpun...dan tak terdengar pula detak jantung dari Jaejong.

"JAE?! BUKA MATAMU JAEE?!"

"Tuan...bayi dan istri anda—

"Menyingkir" Seorang pemuda tiba-tiba muncul, dan memaksa beberapa orang berkostum hijau itu menyingkir...dan memberi sekat untuknya mendekati Jaejong

"S-siapa Dia?! Yack! Mengapa kau biarkan orang asing masuk?!" Teriak Dokter Han

Namun tak satupun menyahut, semua mata tercengang begitu melihat pada apa yang dilakukan pemuda berpakaian hitam pekat itu.

Ya...Ia tampak membuka alat pernafasan Jaejong, menyentuh bibir wanita itu dengan ibu jarinya hingga sedikit terbuka. Dan perlahan terlihat cahaya redup mengalir lembut ke dalam mulut Jaejong.

Dan tak lama berselang, mesin di sudut ruangan itu kembali berbunyi intens...menampilkan grafik random di layarnya.

PIP...PIP...PIP

"Dok! Detak jantungnya kembali normal" Pekik salah seorang Dokter.

"Cepat pastikan tekanan darahnya!"

.

.

Pemuda itu –Park Chanyeol- tersenyum tipis, setidaknya...Jaejong akan mampu melalui masa kritisnya. Ia beralih melihat bayi dalam gendongan seorang suster yang masih terhenyak melihatnya. Bahkan hingga Chanyeol memaksa mengambil alih bayi yang sudah terkulai itu, Ia tetap terbelalak dengan tangan gemetar.

Begitupun halnya dengan Yunho, Ia sama sekali tak bersuara melihat dengan mata dan kepalanya sendiri sosok itu menyelamatkan istrinya. Dirinya selalu berpikir rasional...dan tak pernah menganggap magis itu ada.

Tapi dengan apa yang disaksikannya kali ini...benar-benar mematahkan semua logikanya.

"Kau terlalu lemah" Bisik Chanyeol sebelum akhirnya mendekati wajah bayi itu, lalu mengecup bibir mungilnya yang dingin.

Samar-samar terlihat bias cahaya redup mengalir dari bibirnya dan merasuk ke dalam tubuh bayi Jaejong. Seketika itu pula...tangisan bayi mungil pecah memenuhi ruangan tersebut.

Semua orang kembali terbelalak tak percaya, menyaksikan keajaiban demi keajaiban terjadi dalam ruangan itu.

Bayi...yang sudah dipastikan tak akan mampu bertahan dan nyaris mati itu, kini menjeritkan tangisannya selayaknya bayi yang sehat.

"S-siapa kau?" gumam Yunho, menatap mustahil pada sosok tinggi yang kini menyerahkan bayinya yang masih menangis ke dalam dekapannya.

"Siapapun diriku, aku telah memenuhi janjiku... menyelamatkan istri dan putramu"

Yunho tertegun mendengarnya, lalu melihat putra kecilnya dengan penuh haru. "T-terima kasih...Terima kasih" Ucapnya sambil menyeka sisa darah di kening bayinya.

Chanyeol menyeringai tipis saat melihat kebahagiaan kecil itu, benar-benar membuatnya tak sampai hati jika harus merampasnya detik itu juga.

Tapi...

Janji tetaplah janji.

"Aku akan mengambilnya bila waktunya tiba"

Yunho mengernyit mendengarnya, apa maksud pemuda yang telah berbaik hati menolongnya itu?

"Tepati janji...yang telah istrimu buat kepadaku" Lanjut Chanyeol sambil melangkah pelan ke belakang, lalu hilang dalam sekejap.

Membuat Yunho nyaris terjengkang karna terkejut, dan beberapa suster di dalamnya menjerit ketakutan.

.

.

.

Flash Back Off


"Ngh.." Lenguh Baekhyun tak nyaman, begitu merasakan hawa dingin mulai mengusiknya. Ia mencoba mencari kehangatan, dengan menggeliat kecil dan semakin menyusupkan dirinya kedalam rengkuhan seorang pria yang kini memeluknya.

Dengan senang hati pula, Chanyeol semakin membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Membuat Baekhyun tersenyum dalam tidurnya. Ya...terlalu nyaman...terlalu hangat.

'hangat?'

Tunggu!

Tidakkah beberapa orang namja memberinya obat perangsang, membuatnya terkapar di lantai yang dingin dan ingin mencelakainya di ruang kelas?

Bagaimana mungkin bisa hangat?

Baekhyun cepat-cepat membuka kedua matanya dan mengerjap cepat begitu menyadari hal yang salah.

Benar-benar salah!

Hal pertama yang Ia lihat adalah dada polos yang bidang nan kokoh milik seorang pria tak dikenal.

'Yoochun?' pekiknya dalam hati seraya mendongak cepat ke atas

Namun detik itu pula jeritannya pecah, begitu melihat pemilik bibir tebal dan rahang tegas itu. Baekhyun sama sekali tak mengenalnya!

"AAAHHHHH!" Jerit Baekhyun histeris, dan masih dalam dekapan pria itu Ia spontan menarik selimutnya untuk menutupi dadanya. Bahkan bocah mungil itu, kini mulai rusuh beringsut-ingsut ke belakang...berusaha menghindari pemuda asing yang masih memejamkan mata itu.

.

Suara berisik itu benar-benar terdengar menyebalkan, membuat Chanyeol mengernyitkan kening sebelum akhirnya membuka kedua mata amber miliknya.

Namun betapa terkejutnya Ia, kala mendapati lengannya kosong. Tak mendapati Baekhyun dimanapun.

Sial! Dimana anak itu...apa vampir yang lain menculik Baekhyun darinya.

"Shit!" umpatnya seraya bangkit dari ranjang.

Namun pandangannya mendadak tersita, begitu melihat sesuatu bergerak-gerak kecil di sisi ranjangnya. Membuatnya penasaran untuk melihat ke bawah,

"Baekhyun?" panggilnya kemudian, begitu tau...namja mungil yang dicarinya tengah meringkuk di bawah selimut miliknya.

Sontak Baekhyun mengintip dari dalam selimut lalu kembali mendongak ke atas dan—

"AAAAAAAAHHHHHHHH!" Jeritan anak itu kembali pecah, bahkan lebih melengking dari sebelumnya. Saat melihat wajah asing itu benar-benar nyata dan kini memanggil namanya pula.

Chanyeol berdecak pelan, merasa geli sekaligus gemas melihat wajah jenaka itu terlihat ketakutan melihatnya.

Ia mengabaikan lengkingan itu, dan beralih menyusupkan kedua tangannya di lipatan lengan Baekhyun, lalu mengangkat namja bertubuh mungil itu ke atas ranjang tanpa perlawanan.

"Mengapa kau bersembunyi di bawah seperti itu? apa kau ingin bermain denganku?" Ujar Chanyeol lembut, seraya mengais surai coklat Baekhyun yang terlihat acak-acakkan.

Bukannya menjawab, Baekhyun yang sedari tadi membuka bibir mungilnya siap untuk kembali menjerit itu. Hanya menggeleng ke kanan dan ke kiri lalu—

"AAAHHH~Mpfthhhhh! Mmm!"

Baekhyun membulatkan mata lebar, begitu pria asing itu membekap bibirnya dengan jemari besar itu.

"Sssh!" Desis Chanyeol, masih dengan membekap bibir namja cantiknya, tak peduli Baekhyun begitu kekeuh mencakar bahkan menggigit telapak tangannya.

"Kau bukan anak perempuan, mengapa menjerit seperti itu hn?"

"Mmm!" Baekhyun menggeram kesal, masih berusaha mencakar dan memukul tangan Chanyeol agar menyingkir dari bibirnya.

"Aku tak akan melepasnya sebelum kau berjanji...berhenti berteriak"

Baekhyun mengangguk kecil.

"Berhenti berteriak jika aku melepasnya?"

"Mmm!" Baekhyun kembali menganggukkan kepalanya cepat.

"Janji?"

"MMMM!" Namja mungil itu mulai menatap Chanyeol tajam, yang entah mengapa itu terlihat menggemaskan untuknya.

"Baiklah aku melepasnya" Chanyeol membawa kedua tangannya di kedua sisi kepalanya, seolah tengah menyerah pada Baekhyun.

Sementara namja mungil itu, masih menatap tajam dengan meremas-remas jarinya. Siapa pria menyebalkan di hadapannya itu?

'Teman Yoochun yang lain?'

'Mereka menculiknya?'

'Di mana tempat ini?'

Batin namja kecil itu seraya mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kamar berukuran besar penuh dengan ornamen yang mewah itu.

Lalu cepat-cepat Baekhyun menunduk ke bawah, melihat pada tubuhnya. Dan di sanalah ia mendapati tubuhnya mengenakan sebuah kemeja putih besar. Ia semakin menunduk lebih dalam, sedikit menyingkap ujung kemejanya ...sedikit mengintip dan—tak ada celana dalam sama sekali?

Membuatnya menegakkan wajah lalu menatap horor, pada pria tampan di depannya.

"Kenapa? Apa ada yang salah?" Ucap Chanyeol turut melirik ke dalam sela paha Baekhyun.

Membuat namja mungil itu cepat-cepat mengatupkan pahanya, dan berusaha menarik turun ujung kemejanya, meski nyatanya itu hanya sukses menutupi setengah pahanya.

"K-kemeja.."

"Kemeja ?"

"I-ini kemeja.."

"Hn...kemejaku?"

Baekhyun meneguk ludah payah...jika ini kemeja pria itu, berarti—

"D-di mana pakaianku?" lirih Baekhyun dengan kepala tertunduk.

Chanyeol hanya tersenyum geli. "Ah! apa maksudmu ..kau ingin bertanya siapa yang mengganti pakaianmu?"

Baekhyun mengangguk pelan.

"Aku yang membuka dan menggantinya "

Baekhyun meremas tangannya.

"Tubuhmu penuh dengan keringat semalam"

Namja mungil itu mengangkat kepala, dan menatap Chanyeol dengan mata membulat lebar.

"Tapi maaf...aku tak sengaja merobek pakaianmu"

Baekhyun kembali menatap penuh horror mendengarnya. Sebringas itukah namja itu semalam?

"K-kau melakukannya?!" Pekik Baekhyun tak terima. "Kau memperkosaku!"

Pekikkan kecil itu, kembali membuat Chanyeol terkekeh pelan

"Benarkah? Ini pengalaman pertama untukmu bukan? apa kau merasa sakit di bagian—

Chanyeol tiba-tiba saja menarik sebelah kaki Baekhyun, lalu menyentuh rektum mungil itu tanpa peringatan. "Ini?"

"HAH!" Pekik Baekhyun sambil menarik kembali kakinya. Namja kecil itu tiba-tiba melompat dari ranjang, lalu berlari mendekati pintu utama kamar itu.

Membuat Pemuda itu, menghela nafas pelan dengan senyum terkulum. Tak habis pikir...Baekhyun akan seberisik dan serusuh ini. yang Ia tau sejauh ini, Baekhyun adalah pribadi yang cukup pendiam.

.

.

"Mau kemana hm?"

"Keluarkan aku dari sini!" Teriak Baekhyun , masih berusaha membuka pintu besar itu. namun nihil...jangankan terbuka, berdecit saja tidak

"Aku ingin pulang!"

"Kau yakin...dengan penampilan seperti itu?" Goda Chanyeol dengan tangan bersidekap di dada. Tampaknya, namja kecil itu memang belum menyadari..makhluk apa yang sedang bersamanya dan di mana ia berpijak saat ini.

"..." Namja mungil itu hanya mempoutkan bibir, dan kembali melanjutkan usahanya menarik pintu . dirasa gagal...Ia mulai menendang-nendang pintu itu dengan brutal. "Yack! Terbukalah pintu pabbo!"

seolah tak puas, Baekhyun kini beralih mendekati tralis jendela, berjinjit-jinjit untuk melihat keluar. Dan sempat berpikir heran begitu melihat pepohonan pinus menjulang di luar, burung hitam dan kelelawar berkeliaran di mana-mana. Itu benar-benar malam yang sangat gelap, dimana sebenarnya dirinya...ini bukan Seoul!

Ya! mana ada tempat seperti itu di Seoul!

Gerutu Baekhyun dalam hati.

Sementara pemuda tampan yang sedari tadi memandangnya hanya mengacak surai hitamnya frustasi. Baekhyun berjinjit membuat kakinya makin terlihat menggoda, belum lagi dengan kemeja putih yang semakin terangkat ke atas, memperlihatkan paha dan belahan butt nya.

Apa bocah itu memang sengaja menggodanya?

"YACK! SESEORANG DI SANA? KELUARKAN AKU DARI SINI!" Teriak Baekhyun sambil mencoba memanjat tralis jendela berlapis emas itu, tak peduli tangan dan kakinya mulai tergores.

Namun apa yang dilakukan namja berparas cantik itu, menarik rasa cemas Chanyeol.

Chanyeol secepat mungkin, menahan diri Baekhyun sebelum bocah itu benar-benar menyakiti dirinya sendiri.

"Hentikan...kau bisa melukai dirimu sendiri"

Baekhyun mengelak, sama sekali tak ingin menghiraukan pemuda yang tak ia ketahui namanya itu. bahkan kini semakin liar mengoyak tralis besi itu...berharap tralis itu bisa Ia remukkan dalam sekejap.

"Baekhyun!"

"Berhenti memanggil namaku! orang asing!"

Chanyeol menatap lama namja kecil itu, Baekhyun rupanya sama sekali tak mengingat dirinya di malam itu.

"Hiks.." Baekhyun mulai terisak, tubuh mungilnya pun merosot dan terduduk dengan kedua tangan menutupi kepalanya.

"Aku tak tau kau siapa! Aku tak tau...tempat macam apa ini! Hiks...mengapa semua orang membenciku dan menjebakku seperti ini?"

Chanyeol merunduk, memaksa mengangkat tubuh mungil itu. Tapi Baekhyun menolaknya dan tetap kekeuh memukul-mukul dinding di belakangnya agar Chanyeol mau membuka pintu keluar untuknya. "Buka pintunya!"

"Buka—

Baekhyun berhenti meronta, begitu Chanyeol menangkup kedua pipinya dan menatapnya lekat. "Aku akan membawamu pulang, berhentilah menangis"

Baekhyun terdiam, meski sesekali terdengar senggukan kecil dari bibirnya.

"Tapi berjanjilah... kau tidak akan takut padaku?"

Baekhyun mengerjap tak mengerti, tapi kemudian mengangguk cepat.. mengiyakan.

Namun teriakan protesnya kembali lolos, begitu...pemuda itu menyusupkan lengan kekarnya ke bawah pahanya. "Apa yang kau lakukan?!"

"Bukankah kau ingin pulang hn?" Jawab Chanyeol tenang, seraya mengangkat tubuh mungil itu secara bridal.

Spontan...Baekhyun mengalungkan kedua lengannya di leher Chanyeol untuk berpegang erat.

Baekhyun hanya menarik nafas sesaat begitu pria asing itu membawanya untuk melangkah. Sebetulnya Ia bisa berjalan sendiri tanpa harus secara bridal seperti ini. Ia benar-benar taki mengerti jalan pikir orang asing itu.

Baekhyun pun tak berniat sedikitpun untuk bertanya, siapa pria itu. karna memang Ia sama sekali tak mengenalnya...

Baginya...

Baekhyun hanya ingin pulang.

Tapi sesaat kemudian Baekhyun mengerjap,begitu merasa pria itu berhenti dan menatapnya intens. Ia benar-benar tak nyaman ditatap demikian.

"J-jangan melihatku!"

Chanyeol menghela nafas. "Perlu kau ketahui...aku bukan salah satu dari sekelompok pecundang itu. Dan aku tak pernah membencimu...Baekhyun"

Namja mungil itu tertegun, merasa ucapan sosok itu adalah jawaban dari racauannya beberapa saat lalu. Ia mengangkat wajahnya ingin melihat ke atas,

Namun belum sempat ia menatap namja tampan itu. Tubuhnya tiba-tiba serasa di bawa terhempas...semuanya terlihat putih dan menyilaukan.

.

.

.

.


"Kita sampai"

Baekhyun yang sedari tadi menutup wajah dengan kesepuluh jarinya itu, perlahan mengintip lalu membuka lebar kedua matanya dengan tatapan tak percaya. Ia benar-benar berada di dalam kamarnya.

Jantungnya berdegup kencang, apa yang sebenarnya terjadi? Apa dirinya baru saja teleportasi?

Hanya monster yang bisa melakukanya!

Baekhyun tiba-tiba gemetar, dan begitu panik ingin turun dari gendongan bridal itu. "T-turunkan aku!"

Chanyeol mengernyit, perubahan sikap itu kontras sekali dengan sikapnya beberapa saat lalu...mungkinkah Baekhyun menyimpan rasa takut untuknya.

"Baekhyun?"

"TURUNKAN AKU!" Baekhyun meronta turun, lalu merangkak ketakutan menjauhi Chanyeol.

"Aku tak menyakiti—

"PERGI!" Namja mungil itu, semakin kalut beringsut-ingsut menghindar, air matanya mengalir begitu saja. Siapapun yang melihat rautnya tentu tau... anak itu benar-benar menyimpan rasa takut yang besar.

"Bukankah kau berjani tak akan takut padaku, jika aku membawamu kembali?" Chanyeol masih gigih meraih tubuh mungil itu,berusaha mendekapnya.

Namun sepertinya apa yang dilakukannya salah, ketika bocah manis itu melihat dengan jelas...dua taring di sela bibirnya. Membuat dirinya lebih terlihat seperti monster di mata Baekhyun, bocah itu pun kembali menjerit histeris dengan tubuh menggigil ketakutan.

"A-AAAAAAAHHHHHHHHH!"

Hingga lunglai begitu saja karna lemas..

"B-baekhyun.."

.

.

.

.

.

.

.

.

Next Chap

"Ahhaha...kau memberiku nilai uang yang cukup fantastis Tuan" Seorang pria bertubuh tambun, tampak tertawa lepas saat berbicara dengan seseorang dalam sambungan teleponya. Kedua matanya terlihat mendelik penuh tamak, kala mengibas-ngibaskan puluhan lembar uang di wajahnya, dan masih banyak lagi yang tersimpan di kopernya.

"kau tak mengecewakanku?"

"Tenang saja...anak itu akan sangat memuaskanmu Tuan, bukankah kau sudah melihat fotonya? saat melihatnya langsung kau akan langsung tergila-gila" Ujar Shindong meyakinkan

"Siapa nama anak itu?"

"Ohoooh...Byun Baekhyun"

.

.

.

.

.

.

..

TBC

Annyeong saya datang dengan chap 2 nya. bagaimana Chingu? apa masih layak untuk dilanjutkan Fic ini?

Thanks to:

Park RinHyun-Uchiha , EyiLy , chanbaekmama, KuroNaShiro, myungie OX Wind , Lussia Archery , SFA30 , Vhe Flicka, Cupid'Kyumin, light195, scorcap65, Hyo luv ChanBaek , Ika. ohbyun, FlashMrB , bbhrealpcy , Park Beichan,

terima kasih sudah review di chapter 1. (Huuuggg)

Mohon review dan dukungannya...biar semangat dan cepat updatee :)

Saranghaeeeeeeee