Main Cast : Chanyeol X Baekhyun
Other Cast : Kejutan di dalam nyaa :)
Disclaimer : Cerita ini pure milik Gloomy dan Cupid
perhatian: Dalam fic ini mengandung konten dewasa,harap waspada.
.
.
.
Previous Chapter
"M-mengapa Shindong Ahjjusi membuangku?" Lolos sudah air mata yang sebelumnya begitu payah Ia tahan, membuat pemuda yang merengkuhnya itu kian menatapnya getir. jika saja Baekhyun tau...hanya ada satu pria yang tak pernah sekalipun meninggalkannya.
Ya...Jika saja Baekhyun menyadarinya
"Aku—
"Bunuh aku Tuan! B-biar aku bersama kedua orang tuaku...BUNUH AKU!"
.
.
.
.
Blood on A White Rose
Chapter 4
.
.
Sempat terlintas keinginan untuk meraup bibir mungil itu, membungkam setiap racau yang terbisik sesak untuknya.
Membunuhnya?
Yang benar saja?
Lantas apa buah dari penantiannya selama ini, jika dirinya harus membunuh Baekhyun?
Jangankan melukainya, menyentuh ujung jaripun Chanyeol merasa riskan...seakan namja mungil dalam rengkuhannya itu adalah sosok yang terlalu berharga untuk disentuhnya.
Enggan untuk bicara, selain menatap redup kedua manik pias di bawahnya. Ia sadar, ucapan apapun tak akan menghentikan isakkan itu. ya! seseorang telah menyakiti Baekhyun hingga membuatnya kembali rapuh seperti ini. Dan tak seharusnya dirinya membiarkan keparat itu, masih bernafas leluasa di sini.
"Aku akan membunuhnya, berhentilah menangis" Bisik Chanyeol, membuat namja kecil dalam rengkuhannnya itu tersentak begitu mendengar kata 'bunuh'
"Berhentilah menangis Baekhyun"
Pangeran Sulung itu beralih memutar tubuh, menatap picik pada seorang pria yang masih terkapar, dan berusaha menghubungi seseorang dalam sambungan telponnya.
"S-selamatkan ak—
SRAKK
Smart phone hitam itu terbanting keras bahkan nyaris remuk, begitu Chanyeol menendang tangannya. tak ayal pria itu pun mengeras dan melirik ke atas, meski nyatanya Ia tak mampu menyembunyikan ngilu di wajahnya.
"K-Kau!"
"Aku berubah pikiran" Gumam Chanyeol seraya menampilkan seringai tajamnya, tak peduli sebuah tangan mungil, kini tengah menggapai ke atas berusaha meremas pakaiannya.
"T-Tidak" Gumam pemilik tangan mungil itu, mulai gemetar melihat kedua mata amber Chanyeol makin berkilat geram.
dan tak berselang lama pemuda tinggi itu,menginjak leher Top membuat pria kekar itu makin mengglepar di bawahnya.
Chanyeol terkekeh picik. "Kau membuatnya menangis" Desis Chanyeol, memperkuat tekanan kakinya.
"AGHH!" Top erbelalak lebar ...menggelepar sia-sia kala pijakkan kaki itu kian menyiksa mencekik lehernya, kedua mata yang memutih sarat menunjukkan, Pria itu makin di ujung nafasnya.
"Kkhh~ Arggg! Arkkk!"
"J-jangan membunuhnya! Andwaee—
'CRACK'
Baekhyun membisu, terbelenggu dalam rasa ciut kala mendengar bunyi tulang leher retak bahkan mungkin patah. Dan di sanalah ia melihat, pria yang yang nyaris memperkosanya itu terbujur tanpa sengal nafas.
"Berhentilah menangis...aku telah membunuhnya"
Lagi...Bisikkan itu semakin membuat tubuhnya meremang, meringkuk tanpa nyali untuk bersuara. Baekhyun tak ingin mempercayainya, namun pemuda itu benar-benar membunuh mafia itu tepat di depan matanya.
Namja mungil itu makin tergugu...sadar, sosok yang kini merengkuh tubuhnya, tak pernah bermain dengan ucapannya. Dan lebih dari itu, sikap bengis yang Chanyeol tunjukkan...benar-benar membuat anak manusia itu gemetar ketakutan.
"Haruskah aku membunuh Pamanmu? Agar kau berhenti menangis?"
Baekhyun terlonjak dan memandang wajah stoic itu dengan tatapan nanarnya. Masih dengan bibir terkatup rapat, Baekhyun menggeleng kasar. Berharap, pemuda itu tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dibandingkan dengan Pamannya, Baekhyun lebih memilih pemuda bertaring itu membunuhnya detik itu juga.
"Dia yang membuat Baekhyun-ku menangis"
"Ja—ngan membunuhnya Tuan, a-aku mohon j-jangan –
"Pergilah bersamaku"
Baekhyun terdiam,salah ucapan mungkin akan berakibat fatal. Ia mengangguk lemah, terjebak dalam depresi dan rasa takut yang hebat.
Tak ada opsi lain, Pamannya sendiri telah membuangnya. tidakkah dirinya sebatang kara kini?
Ia tak memiliki tujuan atau bahkan semangat untuk hidup. biarlah pria itu membawanya entah kemana.
Karna yang Ia tau pasti, sosok bertaring itu akan segera membunuhnya bukan?
Ya...Baekhyun hanya ingin mati.
Dengan begitu, Ia bisa meninggalkan penderitaan dan bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Ne.."
Kepulan asap hitam tiba-tiba berpusar merangsak apapun dalam ruangan itu, Baekhyun terkejut namun tak sempat memekik karna detik itu pula tubuh keduanya lenyap dalam sekejap.
.
.
.
.
Skip Time
"Buka matamu"
Mata yang semula terpejam erat kini perlahan terbuka, Baekhyun menggigit bibir bawahnya, berusaha menyembunyikan tatapan penuh cekat kala melihat ke sekitar.
Langit berpendar kelam bahkan nyaris tak ada bias mentari meski sebenarnya itu adalah siang.
"Apa kau mengingat tempat ini?"
Suara berat sosok itu mulai menyapa , Baekhyun tak berucap apapun selain menenguk ludah dalam diam. Masih merasa tegang dengan suasana asing yang dirasakannya kini, memang benar sepertinya Ia pernah melihat tempat ini, paska dirinya nyaris celaka di tangan Yoochun dan tiba-tiba saja terbangun di sebuah kamar megah yang sangat tak biasa. Tapi...Ia hanya melihatnya dari dalam kamar,bukan melihatnya secara langsung seperti ini.
"Ini—
Baekhyun mengernyit, begitu sepoi angin mulai menerpa surai hazelnya...membawa udara lembab dan aroma pinus yang begitu khas.
"Cobalah berpijak di alam ini"
Namja mungil itu mengerjap cepat, begitu Chanyeol menurunkan tubuhnya secara perlahan. Banyak pertanyaan terbesit dalam benaknya, untuk apa pria itu membawanya kemari. Namun Baekhyun sama sekali tak bernyali dan hanya menundukkan kepalanya. Membuat vampire di belakangnya itu tersenyum tipis dan mulai mendekati telinganya.
"Alam ini akan menjadi rumahmu" Bisik pemuda vampire itu seraya meremas kedua pundak Baekhyun dari belakang. Dan Ia bisa merasakan, tubuh mungil Baekhyun berjengit bahkan sempat menoleh padanya, meski pada akhirnya...manusia cantik itu kembali menundukkan kepala.
Chanyeol beralih menggenggam jemari mungil itu, namun Baekhyun reflek menyentaknya. "S-siapa k-kau sebenarnya?" Gagap Baekhyun lirih, mencoba memberanikan diri mengangkat wajah demi menatap pemuda tinggi itu.
Harapannya mungkin tersambut, detik di mana Baekhyun bersedia menatap dan membuka suara padanya itu akan terjadi. Ia tersenyum tipis. "Kau akan mengetahuinya setelah mengenalku" Ujarnya, sembari mengulurkan tangan hendak membelai wajah tirus itu. Namun terhenti..
Begitu Baekhyun kembali menundukkan kepala, sebelum jemari panjang itu berhasil menyentuhnya.
Chanyeol tersenyum kecut melihatnya, dan tetap melangkah mendekat tak peduli namja mungil itu kini semakin kalut menghindarinya.
'GREB'
Tak butuh lama untuk merengkuhnya, Baekhyun kembali terjebak dalam dekapannya. "Siapapun bisa mengincarmu, tetaplah bersamaku " Bisik Pangeran sulung itu sebelum akhirnya membawa tubuh keduanya melesat ke atas, membuat Baekhyun spontan merangkul erat lehernya.
.
.
.
"T-turunkan aku...turunkan aku!" racau Baekhyun masih dengan mata terpejam, bahkan rangkulan di leher kokoh itu pun makin menguat. Oh sungguh...Ia benar-benar membenci ketinggian, persetan dengan energi magis yang dimiliki sosok bertaring itu dan keinginannya untuk mati, tapi Baekhyun tak ingin mati dengan cara terjatuh. sekali lagi...Ia benci ketinggian.
"Hn..." Gumam Chanyeol sedikit mengernyit,
"T-turunkan aku Tuan! Jangan membunuhku dengan cara seperti ini!" Baekhyun makin menggila dalam racauannya, kedua tangan ramping yang sebelumnya menggelayut di leher Chanyeol kini muali beralih mencakar-cakar punggung kekar itu.
Membuat Chanyeol mengulum senyum geli melihatnya, tak taukah Baekhyun keduanya kini telah berpijak di sebuah kamar megah, milik Pangeran Sulung itu.
"Baekhyun—
"K-kau akan menjatuhkanku? a-ani...anniya—
Chup
Kedua mata bulat itu mendadak terbuka dan mengerjap cepat. Begitu sebuah kecupan kecil mendarat di kening dan menghentikan racauan rusuhnya.
"Lihat sekitarmu.." Ujar Chanyeol pelan seraya meniup anak rambut yang menjuntai menutupi sebagian mata Baekhyun.
Namja mungil itupun mendelik kikuk, tapi tetap meronta...memaksa Chanyeol lekas menurunkan tubuhnya.
"T-turun!"
"Okay..."
Baekhyun melompat ke atas ranjang, begitu Pria itu menepati janjinya. Ia merangkak cepat...lalu meringkuk di sudut kepala ranjang. Entahlah...Baekhyun merasa tak asing dengan ranjang itu, seakan ranjang berukuran king size tersebut adalah tempat paling nyaman dan aman untuknya.
Kali ini, Chanyeol tak akan memaksa untuk mendekat. Ia tau...Manusia kecilnya membutuhkan waktu terbiasa dengan hadirnya. Dan memilih untuk menduduki sebuah sofa merah marun di seberang ranjangnya.
Namun rasanya, Ia harus kembali menelan senyum getir, begitu melihat Baekhyun hanya meringkuk dan menenggelamkan wajah di antara lengan dan lututnya.
"Kau masih takut denganku?"
"..." Tak ada sahutan, namja kecil itu sempat melirik sesaat lalu kembali menyembunyikan wajahnya. seolah benar-benar menutup diri darinya.
Jika sudah seperti ini, Ia tak bisa berbuat apapun dan memaksa jika tak ingin menyulut jeritan Baekhyun. Ya...
Pangeran Sulung itu begitu berhati-hati mengawasi gerakannya, menunggu...dan memandangi sosok mungilnya dalam diam. Membiarkan waktu terus berlalu, hingga namja cantik itu terlelap dengan sendirinya di atas ranjangnya.
Chanyeol beralih bangkit, lalu melangkah mendekati Baekhyun yang masih meringkuk. Sedikit mengangkat tubuh mungil itu dan membaringkannya dengan posisi senyaman mungkin.
"Berapa lama lagi... untuk menunggumu?"
.
.
.
.
.
Esoknya
"Unh~"
Baekhyun mulai menggeliat kecil dan merentangkan kedua tangannya ke atas, Namun secepat kilat dua manik caramel itu terbuka lebar, begitu sadar Ia terlelap di ranjang seseorang. Ya Pria itu!
Cepat-cepat Baekhyun bangkit terduduk untuk melihat ke arah sofa, darahnya seketika berdesir hebat. Melihat pria asing itu masih di sana dan sedang memandangnya lekat.
Mungkinkah Dia tidur di sofa itu? gumam Baekhyun dalam hati
"Kau menikmati tidurmu?"
Baekhyun menunduk tersipu, merasa malu...dirinya yang tertidur begitu saja di ranjang seorang yang tak dikenalnya,
Membuat pemuda vampire itu semakin antusias menatapnya. Ah entahlah, Baekhyun dengan tatanan rambut acak tak beraturan seperti itu benar-benar terlihat mempesona untuknya.
Tanpa tau, Baekhyun mulai terusik dipandang selekat itu, oleh seorang pria.
.
.
setengah jam berlalu
Dan Baekhyun semakin jengah dengan sikap pria asing itu yang tak pernah jemu memandangnya, bahkan berkedippun rasanya tidak pernah.
Ia mulai memberanikan diri balas menatap, sambil sesekali meremas blanket yang membungkus tubuh polosnya
"Jangan melihatku seperti itu!" Sentaknya tak suka
Dan sesuai perintah, Chanyeol hanya mengulas smirk tipis seraya memalingkan tatapannya ke samping sambil menopang dagu. Ah sungguh! ini sangat menyenangkan...menghabiskan waktu seperti ini bersama namja mungilnya.
.
.
Semua kembali hening, pria itu tak lagi mengajaknya bicara dan menatapnya seperti beberapa saat lalu. Meski sesuai keinginannya, tapi Baekhyun benci terjebak dalam suasana canggung seperti ini.
Ia mulai menekan egonya, dan memaksa melihat ke depan, tepat pada pria asing yang tak beranjak dari posisinya sedari tadi.
Namun...detik itu pula Baekhyun tertegun.
Menyadari sesuatu yang salah sepertinya telah menyita debaran halus dalam dadanya.
Matanya yang salah, atau Ia yang baru menyadari pria itu memiliki pahatan wajah yang menawan.
surai keperakan, bibir merah yang begitu kontras dengan kulit pucatnya, hidung mancung dan rahang kokoh itu membuatnya terlihat sempurna, belum lagi dengan tatapan mata tajam yang makin mempertegas raut tampan sosok tinggi itu. Bak seorang pangeran. Batinnya dalam diam
baekhyun kembali mengerjap...merenung seorang diri. Kali pertama Ia melihatnya, sama sekali tak terlihat gerak-gerik pria itu ingin menyakitinya.
Dia selalu datang, tepat di saat dirinya terancam. Mungkinkah pria itu memang menyelamatkannya?
Tapi untuk apa? dan mengapa harus dirinya?
"K-kau bukan manusia?" Lirih Baekhyun, membuat pria yang sedari tadi menatap keluar jendela itu beralih memandangnya.
Pertanyaan polos Baekhyun benar-benar membujuknya untuk mengulas senyum tipis " Apa kau mulai tertarik untuk mengenalku?"
"..." Baekhyun mempoutkan bibir, Pria itu sama sekali tak menjawab rasa ingin tahunya. Namun kedua matanya membulat lebar begitu melihat Chanyeol bangkit berdiri dan berjalan mendekati ranjang.
"J-jangan mendekat! K-kau belum menjawabnya!"
Sejenak, pemuda tinggi itu hanya diam, seolah enggan untuk menjawabnya. Tapi...Ia tak mungkin menyembunyikannya dan semakin membuat sekat antara dirinya dan Baekhyun. Bagaimanapun, Baekhyun memang harus tau jati dirinya. "Ya...aku memang bukan manusia"
Baekhyun terkesiap, dan mulai panik meraba-raba sisi ranjang. Namun dengan sigap Ia menangkap kedua kaki Baekhyun hingga terhempas di ranjang,menariknya lalu menindih tubuh mungil itu dengan mudahnya.
"AHH! L-LEPAS—
"Apa kau akan selalu berteriak saat melihatku?"
"KAU MONSTER! B-BUKAN MANUSIA!"
Chanyeol tersenyum pahit. "Hn, kurasa kau sudah mengetahuinya sejak pertama kali kita bertemu"
Baekhyun masih meronta di bawah kungkungan tubuh kokoh itu. Berusaha melepaskan diri. Jeritannyapun makin pecah terdengar, begitu blanket yang membungkus tubuh dibuka paksa hingga memperlihatkan tubuh polosnya.
"Hks...A-andwae! apa yang ingin kau lakukan!"
"Sssh..."
Baekhyun memejam erat, kala tiupan nafas menyapu hangat kedua matanya. "Aku belum mengganti pakaianmu sejak kemarin, Malam semakin menjelang, tubuhmu akan mengigil jika hanya seperti ini" Ujarnya, seraya menarik blanket itu, dan membuangnya asal.
Pemuda vampire itu, memejamkan mata sesaat...merasa suatu hasrat yang lain mulai berontak kala melihat tubuh polos Baekhyun. Dan membuka mata...begitu Ia berhasil menahan diri.
"AH!" Baekhyun terlonjak saat kedua tangannya ditarik, hingga membuatnya terduduk. Ia ingn berteriak detik itu juga, namun seketika luruh...ketika melihat sebuah kemeja putih besar merengkuh punggungnya.
"Aku tak menyakitimu...percayalah" Bisik pemuda berwajah stoic itu, seraya mengenakan kemeja besar miliknya ditubuh mungil Baekhyun. Senyum menawannya kembali terulas, kala menyadari Baekhyun tak lagi meronta...dan hanya menunduk diam.
.
.
"Apa kau lapar?"
"..." Baekhyun hanya menggeleng lemah dan kembali meremas-remas kedua tangannya sendiri. ya! Ia lapar, tapi mustahil meminta makanan pada seorang monster.
"Di sisimu.."
Baekhyun melirik ke samping, tepat pada sebuah meja kecil di sisi ranjangnya. Ia membulatkan mata takjub, melihat berbagai macam buah dan hidangan di atasnya.
"Aku menyiapkannya untukmu, makanlah"
Baekhyun terlihat antusias ingin meraih makanan itu, namun mendadak menarik tangannya kembali. dan menggeleng kasar.
Bukankah pria itu monster! makanan macam apa yang akan monster berikan untuknya?! Tidak! Ia tak akan pernah mengambilnya.
"Kenapa?" Chanyeol mengernyit, begitu melihat Baekhyun terlihat memalingkan wajah dari makanannya. Ia tau anak itu belum menyantap apapun semenjak pagi.
"..."
Tak ada jawaban, selain kepala menggeleng mengibaskan surai lembut itu ke kanan dan ke kiri. Chanyeol terkekeh, dari semburat di wajah putih itu. Ia tau benar...Baekhyun memang lapar, namun tak ingin mengakuinya. ah! sepertinya anak itu mulai menduga sesuatu yang berlebih tentangnya.
Ia beralih beringsut mendekat, lalu meraih sebuah cake strawberry.
"Tenanglah...semua makanan ini, kubawa dari alammu" Ujarnya seraya mengambil potongan kecil cake itu dan menyuapkannya untuk Baekhyun.
Tapi Baekhyun mengelak dan memalingkan wajahya ke samping. Kedua tangan mungilnya tampak saling bertaut resah, seakan memberi isyarat. Tak menginginkan Pria itu mendekatinya lebih dari ini
Chanyeol menatapnya getir, rasanya Ia kembali melihat penolakan dengan sikap diam itu. Tatapannya berangsur redup, Chanyeol beralih meletakkan piring kecil berisi cake manis itu di paha Baekhyun. Lalu mengambil langkah menjauh.
"Nikmati waktu makanmu...aku tak akan mengusikmu... Baekhyun" Ujarnya sebelum akhirnya melenyapkan dirinya tepat di hadapan Baekhyun. membuat namja mungil itu terlonjak hebat...hingga pring kecil itu terlempar dan pecah seketika.
.
.
.
.
Sementara itu...
'PRANK'
Sebuah keramik berornamen emas itu terhempas dan pecah seketika, menyisakan serpihan tak berarti di bawah kaki seorang wanita,
kendati Ia melangkah anggun, namun tak cukup lihai menyembunyikan kilat geram dari manik amethyst miliknya.
"Aku merasakan kehadirannya!" Wanita itu mulai mengibas ujung gaunnya, menatap picik pada setiap pasang mata yang tertunduk di ruangan remang itu, kecuali seorang pria muda dengan bekas luka permanen di sebelah matanya. "Dia membawa manusia itu ke alam ini!"
"Tak berguna!" Pekiknya geram
"Kalian semua tak berguna!" Amarahnya kian memuncak melihat tak satupun dari pria kekar itu becus memenuhi keinginannya. Ia seorang Ratu...apapun yang diinginkannya harus terampas ditangannya
"Aku tak ingin anak itu menjadi Raja! AHHHHH!" Jeritnya melengking, membuat siapapun di ruangan itu menutup telinga kesakitan.
"Ibu...Tenanglah" Pria muda bernama Zico itu mulai bangkit berdiri, mencoba menenangkan Ratu yang masih di ambang murkanya.
"Dia hanya membawa manusia biasa, sangat mudah membunuhnya" Ujar Zico, sambil memainkan darah ranum di dalam gelasnya.
"Jaga ucapanmu! Berhenti meremehkannya! Terakhir kau bermain dengan waktu...lihat apa yang terjadi pada mata kananmu!"
Zico mengeras mendengarnya, merasa...Ibunya tengah meragukan kemampuannya. Kala itu ia hanya lengah...hingga Chanyeol menebas mata kanannya dengan mudahnya.
"Dia hanya beruntung! Percayalah Ibu...kali ini aku tak akan lengah. Kurasa Chanyeol terlalu bodoh dengan membawa manusia itu kemari"
"Victoria...apa yang dikatakan Putramu memang benar. Pangeran Chanyeol, hanya mengumpan mangsa...jika membawa manusia itu ke alam ini " Terdengar langkah seorang pria mulai mendekat, dan muncul di balik dinding puri. Pria itu meraih tangan Victoria, sedikit merunduk dan mengecup punggung tangan lentik itu. Sebelum akhirnya mengulas seringai di wajah berlesung pipit miliknya.
"Tch! Lama tak jumpa... Choi Siwon" Ucap Victoria sinis
"Ya...aku kembali untuk menjadi sekutumu" Kekeh Siwon, seraya meraih segelas darah segar...sesaat bersulang dengan Zico, sebelum akhirnya meneguk habis cairan beraroma karat itu.
"Bagus...pastikan Putraku yang akan menjadi satu-satunya Raja di alam ini"
.
.
~ChanBaek~
Lima belas hari terlampaui, dan selama itu pula Baekhyun menjalani harinya di dalam puri megah milk seorang pria yang hingga detik ini tak Ia ketahui namanya bahkan jati diri pria itupun, Baekhyun sama sekali tak mengetahuinya.
Yang Ia tau...Dia seorang 'Monster baik hati'
.
.
.
"T-tuan.."
Chanyeol terhenyak mendengar gumaman lirih itu, membuatnya sedikit merunduk demi mendengar Baekhyun lebih jelas. Sesungguhnya dirinya bukanlah pribadi yang mampu menahan kesabarannya, namun berbeda jika itu dengan Baekhyun. Selama dan selambat apapun waktu bergulir di sekitarnya, Ia akan tetap antusias menunggunya.
Dan lihat...Baekhyun sepertinya mulai sedikit terbiasa dengannya, tak lagi menjerit saat Ia dekati atau bahkan menggigil ketakutan ketika melihat taringnya.
"B-benarkah kau seorang monster?" Tanya Baekhyun ragu, berkalipun dirinya meyakinkan diri bahwa pria di hadapannya kini adalah sosok yang menakutkan, dengan taring tajam dan kemampuan magis yang mengerikan. Namun sisi lain dari hatinya, sempat menyangkalnya.
Dan semua karna sikap lembut yang Ia lihat dari pria itu selama beberapa hari ini.
"Menurutmu?" balas Chanyeol tenang, mencoba memahami pemikiran manusia mungil yang kini sedikit berani menatap padanya. Itu bukanlah pertanyaan asing untuknya, dalam setiap kesempatan pun Ia kerap mendengar Baekhyun bertanya hal yang sama. Dan jawabannya tentu kembali pada pemikiran Baekhhyun sendiri.
Ya...Ia memang akan membiarkan namja mungil itu, mengetahuinya seorang diri.
"..." Seolah tersedak keraguannya, Baekhyun diam dan hanya memandang wajah chanyeol sekilas. Entahlah...Ia merasa tak mampu menatap kedua mata tajam itu.
"Pe-penampilanmu sa-ngat tak biasa... d-dan kau terbang...menghilang...la-lalu kau—
"Seperti monster hn?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, tersemat rasa bersalah kala sosok itu menyebut dirinya sendiri seperti makhluk menakutkan yang kerap dipanggilnya. tapi dirinya benar bukan?
"..."
Keduanya kembali diam, hanya terdengar keratan pisau kecil menyayat kulit buah di tangan Chanyeol, dan namja mungil di hadapannya hanya mengerjap mengamatinya. seolah takjub melihat, kedua tangan panjang itu begitu lihai memainkan pisaunya.
"Tanganmu sangat pucat" Gumam Baekhyun masih antusias mengamati gerakan tangan Chanyeol, bahkan jemari mungilnya reflek terulur ingin menyentuh pahatan indah itu.
Namun Baekhyun lekas tersadar lalu menarik tangannya kembali.
Chanyeol yang menyadarinya hanya mengulas senyum tipis, beralih menyimpan buah peach dan pisau itu di atas nakas demi menatap Baekhyun.
"Kau ingin menyentuhnya?"
Baekhyun mengerjap gugup, tapi tetap memaksa diri mengulurkan jemarinya dan menyentuh punggung tangan Chanyeol.
Keningnya bertaut kala merasakan suhu yang berbeda dari lapisan kulit itu."D-dingin, tanganmu sangat dingin" Ucap Baekhyun heran, masih dengan meraba-raba telapak tangan Chanyeol. "Apa kau kedinginan?" Sahut Baekhyun lagi, terdengar polos. Kali ini memberanikan diri menggenggam telapak tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menggosok dan meniupnya pelan, berharap bisa sedikit menghangatkannya
Chanyeol terhenyak... Apa ini?
Apa Dirinya tengah bermimpi? jikapun itu benar mimpi...Ia benar-benar tak ingin terbangun dan menyentak semuanya. Baekhyun yang bersikap seperti ini, benar-benar terlalu indah untuknya.
"Otteyo? Apa kau sudah merasa hangat?"
Chanyeol lekas tersadar mendengarnya. Namun cukup enggan memalingkan tatapannya dari paras baby face di hadapannya. "Ya...sangat hangat"
.
.
.
Beberapa Saat kemudian
"Whoaa..." Takjub Baekhyun dengan bibir membulat lucu, begitu melihat potongan buah segar tersaji di hadapannya. Ia tak pernah menduga, pria itu melakukan semua ini untuknya.
"Kau menyukainya bukan? Makanlah" Ujar Chanyeol seraya mengelus pelan kepala namja mungil yang kini mulai berani menggelayut menja di atas pahanya.
"Uhm! Mashitta!" Pekik Baekhyun, seraya mengambil potongan strawberry dan melahapnya riang.
Chanyeol terkekeh, ini sangat manis. Bahkan terlampau manis. Ia berniat ingin mengangkat tubuh mungil yang masih tengkurap di atas pahanya itu untuk duduk. Tapi Baekhyun menolak, dan lebih memilh memutar tubuh telentang...menjadikan paha pria itu sebagai bantalnya.
"Kau akan tersedak jika cara makanmu—
"Hmm... ani!" sergah Baekhyun masih dengan melahap potongan buah miliknya.
Pangeran sulung itu tak akan melarangnya, biarlah Baekhyun melakukan apapun yang diinginkannya selama anak itu antusias dan tersenyum cerah seperti ini. dan melupakan keinginannya untuk mati.
"Kau benar-benar tak ingin mengetahui namaku?" Tawar Chanyeol dan hanya dibalas dengan gelengan kepala namja mungil itu.
"Aku akan tetap memanggilmu Tuan Monster" Jawab Baekhyun santai,
.
.
.
"Aku tak pernah melihatmu makan" Celoteh Baekhyun, sambil melirik ke atas. "Apa yang kau makan?" Lanjut Baekhyun lagi, begitu dirasa pria itu terlalu lama menjawab.
Membuat Chanyeol menyimpul senyum yang tersamar dalam sikap diamnya, benar-benar tak pernah menduga Baekhyun akan banyak bicara bahkan semakin dekat dengannya.
"Sama sepertimu, aku pun makan untuk tetap hidup"
Baekhyun mengerjap "Benarkah? lalu makanan seperti apa yang kau makan?"
"Sesuatu yang tak ingin kau ketahui" Bisiknya pelan, seraya menyentuh pipi tirus itu dengan telunjuknya. Baekhyun mendadak gugup, bangkit terduduk lalu melahap potongan demi potongan buah itu dengan cepat. Berusaha mengalihkan rasa takutnya.
Pangeran sulung itu terkekeh pelan melihatnya, dan menahan tangan kurus itu untuk berhenti mengambil potongan buah yang lain, sebelum Baekhyun benar-benar tersedak karenannya.
"Tenanglah...aku tak mungkin memangsamu"
Masih dengan mulut terisi penuh dengan makanan, namja mungil itu mengerjap dan menatap Chanyeol tajam. seakan tengah menuntut jawab, pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya, karna bagaimanapun kata 'monster 'masih melekat erat dalam benak Baekhyun tiap saat melihat pria itu.
"Hn..."
Cepat-cepat Baekhyun menelan lumatannya, meski nyaris tersedak. "Jjeongmalyo?" Namja mungil itu kembali mengambil potongan buah, membuat pria di hadappannya mengangkat sebelah alis heran.
"M-makan ini, lalu aku akan mempercayainya" Ucapnya kemudian, sembari menyodorkan potongan buah itu di depan bibir Chanyeol. Tak peduli pria itu, terbelalak lebar dibuatnya.
Tapi Chanyeol tak bisa mengelak kerjapan mata polos itu, Ia mencintai tatapan itu...bahkan kelewat mencintainya.
Pangeran Vampire itu menatap Baekhyun sesaat sebelum akhirnya menerima suapan namja mungilnya dan—
"Urgh!"
Chanyeol tersedak, dengan raut masam menahan mual.
"W-waeyo?gwaenchanna?" Panik Baekhyun seraya memegangi lengan kokoh pria itu.
Sebelah tangannya terangkat, menenangkan Baekhyun. Ia menelan nafas menahan sedak yang kian menjadi, satu detik...dua detik...tiga detik berlalu...hingga empat detik—
BRAKK
Chanyeol tak tahan, dan merangsak keluar meninggalkan Baekhyun yang mulai menggigiti kukunya merasa bersalah. "T-tuan gwaenchanaaa?" Teriaknya dari dalam jendela, Baekhyun ingin mengejarnya. tapi apa daya...tak ada akses untuk keluar. dan hanya menghela nafas...menunggu pria itu kembali dengan selamat. pikirnya
.
.
.
Beberapa saat kemudian
"Gwaenchannayo?" Baekhyun menghambur cepat, begitu melihat Pangeran sulung itu telah kembali, Ia begitu panik memandangi Chanyeol. Takut kalau—kalau dirinya baru saja meracuni pria tinggi itu.
"M-mianhae" Gumamnya lirih, seharusnya Ia tak perlu bersikap berlebih dan selancang itu, tapi bagaimana lagi...pria itu membuatnya nyaman dan Ia hanya ingin berccanda, itu saja.
Chanyeol hanya terkekeh dan menyentuh dagu lancip Baekhyun, menatap bocah yang memiliki ego yang kerap pasang surut. Kadang kala menciut takut , kadang begitu rusuh dengan kenakalannya. kekanakan memang, tapi Ia terlanjur mencintai setiap pribadi itu.
"Tak masalah...cukup menyenangkan bercanda denganmu" Ujarnya seraya merunduk, mendekati wajah baby face itu. "Jadi...apa kau sudah percaya padaku?" Lanjutnya kemudian, membuat namja mungil itu berdeham kikuk dan menggeser cepat tubuhnya.
"B-Baiklah" sahut Baekhyun, sambil sesekali melirik Chanyeol gugup. Ia beralih memalingkan wajah ke teralis jendela, ada sesuatu yang menyita perhatiannya kini. rumput ilalang panjang...tampak melambai dengan kuncup putih di ujungnya
"Bisakah aku keluar?" Gumam Baekhyun
"Aku berjanji tak akan membuat ulah" lanjutnya lagi seraya menatap sosok tinggi itu penuh harap, oh ayolah...terkurung di dalam ruangan ini tentu membuatnya jenuh, terlebih berminggu-minggu lamanya. Namun tatapan redup itu membuatnya menghela nafas dengan bibir terpout kesal, ia tau jaawaban macam apa yang akan di dengarnya setelah ini.
"Untuk saat ini,aku tak bisa membawamu keluar. Siapapun—
"Bisa mengincar dan mengancam di luar sana. Dan hanya tempat ini yang paling aman" Sergah Baekhyun menirukan cara bicara Chanyeol, lalu mendengus sebal.
Bukan karna membaca pikiran tapi karna memang Baekhyun terbiasa mendengar jawaban yang sama tiap kali dirinya merengek ingin keluar. Tentu saja Baekhyun hafal di luar kepala.
Chanyeol terkekeh mendengarnya, ah menggemaskan sekali. Jika saja Ia bisa memeluk tubuh mungil itu saat ini juga, mungkin tawanya tak akan cukup sampai disini.
"Aku menyesal tak bisa memenuhi keinginanmu kali ini" Sesal Chanyeol sambil merunduk, menyamakan tingginya dengan makhluk mungil di hadapannya itu.
"Adakah hal lain yang kau inginkan selain keluar dari puri ini?" Bujuk Chanyeol, mencoba peruntungan barang kali...bisa melihat senyum merekah di bibir manis itu.
Sejenak, Baekhyun terlihat memutar bola matanya. seakan menimang sesuatu yang tak pasti...rasanya tak ada yang diinginkan selalin menyentak bosan dalam dirinya. sebenarnya memang ada yang diinginkannya kali ini, tapi mustahil pria itu mewujudkannya.
Kedua orang tuanya...
baekhyun sangat merindukannya.
Hingga tiba-tiba saja, kedua caramel eyes itu mengerjap penuh binar begitu mengingat sesuatu.
'Mawar putih'
satu-satunya bunga yang teramat dicintai oleh Ibunya, bahkan dengan hanya melihatnya saja mampu mengobati perasaan rindu Baekhyun, akan sosok Ibunya.
"Aku ingin melihat mawar putih, bisakah kau membawanya kemari Tuan?"
Chanyeol menatapnya lekat, kedua tangannya tampak terkepal menahan hasrat ingin mendekap tubuh mungil itu. "Ya...Dengan senang hati Baekhyun~ah" Ujarnya, sebelum akhirnya melesat...menyentak teleportasi miliknya.
.
.
.
.
.
Baekhyun bersenandung lirih, sambil sesekali memainkan air dalam kolam kecil di dalam kamar megah itu. Apalagi yang bisa dilakukannya selain menunggu pria yang kerap dipanggilnya Tuan monster itu, ia tak berteman selain dengan Pria itu.
.
.
"Tampaknya, kau memang hidup bahagia di alam ini huh?"
Baekhyun terlonjak hebat, menoleh kasar ke kanan dan ke kiri begitu mendengar suara asing. Itu bukanlah suara milik Chanyeol.
"Aku di sini" Gumam Sosok itu, seraya menyeringai lebar.
Baekhyun terperanjat kala menengadah ke atas dan melihat seorang berpawakan tinggi kekar, tampak melayang di atas langit-langit kamar itu, menyeringai lebar dengan kedua mata berpendar merah terang.
"S-siapa kau?!" Baekhyun reflek beringsut-ingsut menyudutkan diri di sudut ruangan, menyulut tawa renyah pemuda tinggi yang kini telah berpijak di lantai dan mendekatinya dengan tatapan tajam.
"Siapa aku? pertanyaan bodoh macam apa yang kau tujukan untuk vampire sepertiku?! "
"V-vampire"Gagap Baekhyun seraya meremas erat kepala ranjang di sisinya.
"Chanyeol menjagamu dengan sangat baik rupanya. Tak pernah meninggalkanmu barang sedikitpun...dan memanjakanmu dengan semua hal bodoh ini!" Pemuda itu –Sehun—melirik tak suka pada makanan manusia di seberangnya. Lalu menghempas nya kasar, membuat namja mungil itu reflek menuntup kepala dengan kedua tangannya.
"Aku telah menduganya, manusia sepertimu hanya akan membuatnya lemah!" Gertak Sehun keras, tak peduli manusia mungil itu makin menciut dan menggigil ketakutan.
"Pangeran Sulung itu memang memilihmu, tapi ketahuilah...kami hanya memanfaatkanmu di sini"
DEG
Baekhyun menatap nanar pemuda asing itu, ingin menyentak namun tubuhnya seakan terpasung oleh tatapan berkilat tajam itu, seolah memang tersirat rapalan mantera di dalamnya.
"Manusia lemah sepertimu tak ubahnya seperti inang, kau akan terbuang dan lenyap setelah tujuan itu tercapai" kekeh Sehun, semakin puas melihat air mata ketakutan itu melebur bersama rasa kecewanya.
"Ugh!" Baekhyun ingin berontak, namun percuma...tubuhnya tetap mematung tanpa gerak. Memaksa dirinya mendengar kalimat demi kalimat pria itu.
Baekhyun tak ingin percaya, tapi semua terdengar nyata dan membuat air matanya kian merembas di sudut pelupuknya.
"Kau hanyalah inang...Byun Baekhyun" Pungkas Sehun seraya menyungging seringai tajam, sebelum akhirnya lenyap menyisakan isakkan lemah, namja mungil yang kini telah lepas dari belenggu mantra itu.
Baekhyun beringsut payah...meraba-raba dan berpegang erat pada tepian ranjang, kedua mata pias itu tak pernah berhenti menatap nyalang ke sekitar.
inang?
Baekhyun memejamkan mata erat...Meski tak sepenuhnya tau apa maksud dengan ungkapan inang itu, tapi Baekhyun sadar dirinya tengah terancam.
Betapa bodoh dirinya kali ini, jika apa yang diucapkan pria asing itu benar adanya. tapi semua semakin nyata, begitu melihat dirinya. tertawan di ruangan megah ini tanpa bisa meloloskan diri, mungkin benar...Dirinya hanya inang untuk seorang monster.
Dalam keputus asaan itu, Ia bertemu dengannya...sosok yang perlahan mendekatinya dengan semua sikap penuh kasih itu, bahkan hingga membuatnya percaya dan bergantung padanya.
Tapi semua seolah terhempas begitu saja, hidupnya tetaplah menyedihkan.
Seharusnya Ia tau...di dunia ini, tak ada satupun yang menginginkannya. dan seharusnya ia tau...tak ada satupun yang sudi berbaik hati pada manusia menyedihkan sepertinya.
.
.
Baekhyun melangkah gontai mendekati meja nakas, terjerat pada semua pemikiran sesaknya. Hingga tanpa tersadar, namja mungil itu mulai mengambil sebilah pisau yang tergeletak di lantai.
Ia tersenyum miris, mengenang...Ia sempat diperlakukan manis di ruangan ini, tapi...
untuk apa berlama-lama terlarut dalam kebahagiaan kecil itu, jika pada akhirnya semua akan membuatnya tercekik dengan penderitaan itu, dan mati secara perlahan.
Akan lebih baik jika ia mengakhiri hidupnya saat ini juga bukan?
.
.
TAP
Senyum menawannya kembali terulas sempurna, kala memandang sebuket mawar putih segar di tangannya. rasa percaya dirinya semakin memuncak, kala membayangkan...Baekhyun tentu akan tersenyum riang saat melihat semua bunga mawar itu.
"Baekhyun—
Namun dadanya tiba-tiba berdebar gila, begitu melihat Baekhyun menghunuskan sebuah pisau tepat di perutnya. "Apa yang kau lakukan!" Seru Chanyeol melesat mendekat secepat yang ia bisa.
namun rasanya kesempatan tak berpihak padanya
Baekhyun tetap menatap kosong, tak ingin menaruh hirau pada namja yang makin panik mendekatinya. "Buang pisau itu! B-Baekhyun dengar—
Baekhyun melirik sesaat, sebelum akhirnya menikam dirinya sendiri dengan pisau itu. 'JLEB'
"Ughh~ "
"Shit! Mengapa kau tak mendengarku!" Seru Chanyeol kala menangkap tubuh Baekhyun.
"Ngh~ hks" Baekhyun tesengal, masih memegang erat pisau yang menghujam perutnya. Sesekali Ia menengadah... Baekhyun benar-benar berharap kesadarannya lenyap detik itu pula. Namun yang terlihat, ia tetap tersadar dan tersiksa dengan denyut perih yang hebat itu.
.
.
Aroma karat kian menguar, mengacaukan nafasnya yang mulai berhembus berat. Chanyeol menggeram...menahan perubahan yang mungkin saja terjadi pada tubuhnya akibat aroma ranum itu. Tapi rasanya Ia tak mampu menahan diri lebih dari ini. Bahkan samar-samar, dua taring itu semakin memanjang di sela-sela bibirnya.
Ia menatap namja mungil yang nyaris tak sadarkan diri itu, mengendus bringas wajah pasi itu sebelum akhirnya menghempas tubuh Baekhyun di ranjang. hingga membuat ratusan petal mawar putih itu berserakan di bawah tubuh keduanya.
Namja mungil itu semakin lunglai...namun cukup sadar, seseorang tengah mencumbunya di tengah rasa sakit itu.
"Uhnn~" Lenguhnya terpejam erat, begitu Chanyeol menjilat brutal garis lehernya. Melepas satu-persatu kemeja putih penuh dengan rembasan darah itu, dan berhenti begitu sebuah pisau menahan gerakannya. Semua tergerak karna instingnya, sekuat apapun Ia menahan diri. Tapi ia tetap seorang vampire yang haus akan darah.
Chanyeol mendesis, aroma darah itu semakin kuat merasuk indranya. membuatnya menyeringai nikmat, tak peduli Baekhyun semakin merintih lemah akibat pisau yang masih menikam perutnya.
"Akh!" Baekhyun terlonjak lemah, begitu lidah Chanyeol menjilati luka itu. bibirnya bergetar hebat...Ia tak mampu menahan rasa sakit itu lebih lama lagi, tatapannya semakin mengabur. Perlahan menutup sayu...hingga—
SRAT
"AAARGHH!" Jeritannya melengking begitu saja, dengan tubuh melengkung hebat begitu Chanyeol mencabut cepat pisau itu dari perutnya. Membuat darah kental menciprat di setiap petal mawar putih itu.
Baekhyun merintih, namun seseorang yang masih mencumbu perutnya itu seakan tak peduli. Bahkan kini beralih merengkuh punggungnya, menariknya ke atas...hingga tubuh mungil itu kembali melengkung dengan kepala menengadah di bawah.
Baekhyun terlalu lemas untuk menyadari semuanya, hingga tiba-tiba saja Ia mengejang hebat...begitu Pangeran sulung itu...menghisap kuat perutnya. Menyesap darah yang mulai merembas deras dari luka tusukkan itu.
"A-AHHH!"
.
.
.
.
.
"Sssshh..." Chanyeol mendesis, mencecap penuh nikmat setiap tetes darah yang mengalir dalam mulutnya. Ia menyeringai...siap menghisap darah manis itu lebih banyak lagi, namun dadanya tercekat sebelum akhirnya seringaian itu pupus. kala melihat Baekhyun terkulai di bawahnya.
"B—baekhyun" gagapnya, dua taring yang semula mencuat itu pun perlahan lenyap.
.
.
Ia merengkuh kalut tubuh mungil itu, meraih tangan dinginnya...dan kembali mendekapnya erat begitu merasakan nadi yang masih berdenyut halus.
"Maafkan aku" Bisiknya penuh sesal, sungguh...Ia benar-benar tak berharap semua ini akan terjadi. Hampir dirinya mengubah manusia kecil itu, menjadi salah satu dari dirinya.
Tidak! Chanyeol tak akan melakukannya! Selama Baekhyun tak menginginkannya.
Baekhyun terlalu berharga untuknya, tak seharusnya ia lepas kendali seperti itu.
Masih dalam rasa paniknya, pemuda tampan itu beralih membaringkan tubuh Baekhyun. menyentuh lukai perutnya, hingga perlahan terlihat bias samar mulai mengalir...dan menyusup masuk. ..membuat jaringan baru hingga luka itu benar-benar pulih tanpa bekas.
.
.
Tatapannya kian meredup, tak habis pikir dengan apa yang dilakukannya. Chanyeol menekan dagu Baekhyun, membuat bibir pucat itu sedikit terbuka.
Ia merunduk perlahan, menyatukan bibir keduanya...dan membagi sedikit energinya untuk Baekhyun.
"Mmh~..."
.
.
.
TBC
.
.
Next Chapter
"Tsk! Kau melewatkan kesempatanmu mengubahnya menjadi bagian dari kita! apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu! Atau—
Sehun menyeringai sinis. "Haruskah aku yang mengubahnya?!"
Pangeran sulung itu meradang, dan nyaris menerjang Sehun. "Berani kau menyentuhnya, ku bunuh kau!"
.
.
.
"Aku?" Baekhyun bangkit berdiri dengan mata membulat lebar. Tak percaya akan bualan namja yang memiliki tubuh sama kurus dengannya itu.
"Uhum.."
"Pendamping?!"
"Cepat atau lambat, kau memang akan menjadi pendampingya"
"MWOORAGO?!"
.
.
.
"Karena kau satu-satunya yang bisa membuatnya menjadi seorag Penguasa" Ujar Vampire mungil itu sembari memainkan surai ikalnya. Tak peduli, Baekhyun makin menghentak kesal akan sikapnya.
.
.
.
Hoho Annyeong chingu sayang
Chap Empat Hadiiiiirrr...
NC nya nanti dulu yaaa hehe
Terima kasih sudah membaca fic ini, review ne...bakalan (Fast update) :)
Dan Untuk;
lily kurniati 77 , LyWoo, Dya Kim, Incandescence7, restikadena90, babybaekhyunee7, leeminoznurhayati, SHINeexo , istiqomahpark01, Hyo luv ChanBaek , Byunsilb, metroxylon , daebaektaeluv ,vkeyzia23 , Dian Rizky226, Ayu672, Park RinHyun-Uchiha , Ikakaaaaaaaa, Whitetan , mintseujeyii27 , Chanyeoltidakmesum , FlashMrB , dwi yuliantipcy, Siti409 , ByunJaehyunee, sintalovedei , dan All Guest
Gomawoooooo sudah review,
Saraaaanghaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaeeeeeeee
