Main Cast : Chanyeol X Baekhyun

Other Cast : Kejutan di dalam nyaa :) Hayoo temukan

Disclaimer : Cerita ini pure milik Gloomy Rosemary/ Cupid'KMS

.

.

.

Previous Chapter

Tatapannya kian meredup, tak habis pikir dengan apa yang dilakukannya. Chanyeol menekan dagu Baekhyun, membuat bibir pucat itu sedikit terbuka.

Ia merunduk perlahan, menyatukan bibir keduanya...dan membagi sedikit energinya untuk Baekhyun.

"Mmh~..."

.

.

.


Blood On A White Rose

(Chapter 5)

.

.

Seseorang di atas pucuk pinus itu beranjak, memaksa ranting tempatnya berpijak mulai berderak serak

"Bodoh" Desisnya.

Namja tinggi itu kembali menatap remeh pada dua sosok di dalam puri. Sedari tadi Ia memang terjaga, mengamati bahkan mengawasi gerak-gerik seseorang. Merasa yakin, bahwa semua akan berjalan sesuai rencananya.

Namun, persis seperti busur yang meleset.

Sikap lunak Pangeran Sulung itu, mengacaukan semuanya. Terlalu bodoh memuja perasaan terdalamnya untuk manusia itu, hingga lupa tujuan awalnya. Seharusnya,Chanyeol bisa mengubah manusia itu menjadi salah satu darinya tanpa harus mengulur waktu,

Dirinya telah mengatur semua situasi yang ada, membodohi manusia itu dan memberi umpan pada Chanyeol. Ah! tapi semuanya hanya berbuah nyaris...

Pangeran Sulung itu hanya melewatkan kesempatannya.

Ia memutuskan melenyapkan diri, merasa muak dengan perlakuan lembut Chanyeol kepada inangnya itu.

.

.

.

.

Tiga Jam berlalu,

Nafas yang semula terdengar tenang itu,kini berangsur gelisah. Ia tau, tak lama lagi kedua kelopak mata indah itu akan terbuka.

"Ugh~

Dan benar saja...

Baekhyun sedikit mengernyit, meredam pening yang tiba-tiba menjalar. Hingga aroma pinus yang kuat mulai membujuknya untuk membuka mata.

"Maaf"

Baekhyun berjengit, kala membuka mata dan seorang pria telah duduk di sisi ranjangnya, memandangnya dengan tatapan tajam namun terlihat redup itu.

Kali ini, tak ada teriakan atau bahkan jeritan histeris yang kerap terdengar saat Baekhyun membuka mata. Karna memang, Ia mulai terbiasa dengan Pria vampire itu, hidup di sarangnya lebih dari dua pekan lamanya tentu membuatnya sedikit demi sedikit mulai menerima sosok stoic itu,

Namun satu hal yang terlihat dari paras cantik itu, depresi yang hebat...tak mampu Baekhyun sembunyikan dari rautnya.

"Apa kau—

"Alamku!" Bakhyun mendadak panik, Ia beralih bangkit dan meremas erat pakaian depan Chanyeol.

"Kembalikan aku ke alamku! Mengapa kau menyelamatkanku?! Seharusnya kau biarkan aku mati saja!" Tekannya lagi dengan mata terbelalak nanar, oh sungguh! setiap kalimat yang didengarnya dari sosok asing itu masih begitu lekat dibenaknya. Inang yang dimaksud, tentu bukanlah suatu yang baik untuk manusia lemah sepertinya. Baekhyun pun mulai menduga, hal mengerikan dan di luar akal sehatnya akan menghantuinya kelak.

Vampire itu terkesiap, mulai menerka ada yang berbeda bahkan mungkin salah dari sosok mungil di hadapannya.

Tapi sorot mata itu, menunjukkan...Baekhyun tengah menyimpan rasa takut yang lain.

Ataukah...Baekhyun melihat dirinya nyaris menghisap habis darahnya?

Mustahil!

Baekhyun tengah tak sadarkan diri kala itu. Bocah itu tak menyadari kehadirannya pula.

"Baekhyun—

"Andwaeyo! aku tidak ingin di sini! kembalikan aku...kumohon!"

"Baekhyun dengar—

"K-kau hanya m-memanfaatkanku! Lepaskan aku! Aku tak ingin tempat ini"

Chanyeol mengeras, semakin merasa sesuatu benar-benar berjalan salah begitu Baekhyun meracau demikian.

"Kau hanya berpura-pura! Hentikan!...Hentikan Tuan! Aku—

"BAEKHYUN!"

Namja mungil itu terlonjak hebat, menciut dan meremas kuat ujung kemejanya kala melihat kilat amarah dari kedua amber itu.

Pandangannya mengabur.

Terhalang bulir bening yang kian penuh di sudut pelupuknya.

"Apa yang kau lakukan saat aku pergi?!" Sentak Chanyeol seraya memenjarakan tubuh mungil itu di kepala ranjang.

Lebih dari rasa takutnya, Baekhyun benar-benar merasa terancam melihat mata amber itu semakin menghunus tajam. Membuatnya tercekat, hingga tak mampu mengucap sepatah katapun.

"Seseorang bicara denganmu?!" Chanyeol semakin kalap melihat sikap diam itu. "SIAPA?!"

"Ugh~"

Baekhyun reflek, menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Bulir bening yang sedari tadi tertahan, kini lolos cepat dari pelupuknya. Membuat Chanyeol luruh melihatnya, sadar..

Tak seharusnya Ia membiarkan amarah itu menguasainya dan berakhir dengan membuat Baekhyun kembali merasa ciut padanya, bahkan lebih fatal lagi.

Tapi dibalik itu semua, Chanyeol tau...seseorang tengah mengusiknya.

Vampire itu beralih, menyentuh pipi Baekhyun tak peduli namja mungil itu menggeleng ingin menghindar. Chanyeol tetap bersikukuh menangkup pipi tirus itu, hingga membuat Baekhyun menatap padanya.

'Chup'

Baekhyun kembali terlonjak, dan terlihat shock begitu pria itu mengecup pelan bibir basahnya.

"Lupakan keinginan untuk kembali ke alammu, karna selamanya—

Chanyeol menggantungkan kalimatnya, untuk mengelus pipi Baekhyun."Kau akan hidup di sini" pungkasnya.

Sebelum akhirnya, melenyapkan diri meninggalkan Baekhyun yang masih terdiam dengan tatapan nanar itu.

,

,

Hening...

Hingga tatapan kosong itu berubah menjadi teriakan memekakkan dalam puri itu.

"AAAAAAHHHHHHH!"

Baekhyun terus berteriak, menghempas apapun di sisinya. Tak pernah sekalipun Ia merasa seputus asa ini, hidup tanpa tujuan dan terjebak dalam keputusan yang sama sekali tak pernah dibuatnya.

Baginya, Ia memang hidup...tapi mati.

Ucapan sosok bertaring itu, semakin melugaskan...hidup selamanya di sini memang berarti. cepat atau lambat, dirinya akan dimanfaatkan sebagai inang.

ya...itu yang diyakini Baekhyun saat kali ini.


Sementara itu...

Kedua matanya makin membulat, bergulir ke kanan dan ke kiri...kala dirinya berhasil menyelinap ke balik dinding puri. Sepertinya memang, Pangeran sulung tak mengawasi purinya.

Sangat bagus!

dengan begitu, Ia bisa leluasa berkeliaran di tempat itu bukan?

Ah! tapi sebenarnya, Ia bernyali mengendap seperti ini karna satu alasan.

"Tck, yang benar saja Chanyeol Hyung mengurungnya seperti itu" Gumam sosok itu –Kai- , merasa heran dengan sulur mawar berduri yang mengepung puri megah di hadapannya.

"Manusia itu mana mungkin betah di dalamnya"

"Manusia?"

Kai terlonjak mndengar suara asing itu, Ia menoleh ke samping dan berdecak keras begitu melihat sesosok vampire mungil, meniru dirinya. Mengintip puri Chanyeol dari balik dinding bersemak lebat itu.

"Yya! kau mengejutkanku bodoh!"

Sosok mungil itu berdengus. "Yang benar saja vampire terkejut" ucapnya seraya mengais surai merah muda miliknya. sesaat kemudian Ia kembali melirik kai, tertarik pada topik pembicaraan sebelumnya.

"Kau bilang manusia, jadi...Dia benar-benar membawa manusia itu kemari?"

"Ya, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri" Ujar Kai yakin.

"Kuakui, manusia itu sangat manis" Lanjutnya sembari mengingat wajah Baekhyun.

"Hm"

"Cantik"

"Hmmmm"

"Dia memiliki aroma darah yang lezat! sangat harum!"

"Hmmmmmmmmm" Vampire mungil itu, mulai membayangkan sesosok gadis manis, berleher jenjang. Dengan darah segar yang mengalir di dalamnya. Dan tanpa peringatan, Ia bangkit berdiri...lalu melesat cepat ingin masuk ke dalam puri. Tak ayal, Kai dibuat kelabakan melihatnya. Ah sial! akan benar-benar celaka jika Pangeran sulung mengetahui gerak-gerik kedua sepupunya.

"YACK! Luhan!" Tak ada pilihan lain, selain turut melesat mengejarnya. Sebelum vampire mungil itu berbuat sesuatu yang fatal.

.

.

.

"Di mana kamarnya? Hmm aku mulai mencium aromanya" Gumam Luhan begitu menapaki, balkon puri itu.

Cat eyesnya makin mengerjap antusias, tak sabar ingin melihat penampakan manusia milik Chanyeol. Barang kali hari ini Ia beruntung, bisa mencicipi sedikit darah manusia terpilih itu.

"Keras kepala!"

Namun seseorang tiba-tiba menarik lengannya, dan berbisik jengkel.

"Jangan mengikutiku!" Sentak Luhan.

"Kau yang mencuri start ku!"

"Tck! Aku hanya ingin melihat manusia itu!"

"Aku tau niat busukmu!" Decih Kai

"Tch! Kau juga menyimpan niat yang sama Tuan Kai!"

PRANKK...

Keduanya terdiam, dan mengerjap cepat begitu mendengar suara gaduh dari balik dindingnya.

"C-chanyeol?" gagap Luhan.

"Ku rasa bukan, aku tak mencium aromanya" Kai mulai melesat menembus dinding, tepat pada kamar dimana Baekhyun berada. Diikuti Luhan di belakangnya.

.

.

.

'PRANK' PRANK

satu persatu benda keramik itu terhempas, semakin lama...semakin kacau semua remukkan tajam di lantai berlapis berlian dan emas itu.

Seremuk batin sosok kurus yang kini tak pernah berhenti, melempar dan membanting apapun di sekitarnya.

"KELUARKAN AKU DARI SINI!" Baekhyun kembali menjerit, bertekad menghancurkan apapun milik makhluk bertaring itu. Hingga keinginannya benar-benar di dengar.

"Guci mahal yang malang"

Namun jeritannya tersedak begitu saja, saat sosok semungil dirinya tiba-tiba muncul dan memunguti satu persatu pecahan keramik itu.

Sontak, Baekhyun melangkah mundur. Seolah reflek menghindari sosok tak di kenal itu. Siapa lagi sekarang?

Mungkinkah vampire yang sama yang ingin mencelakainya?

"Ahh~ Jangan takut melihatku" Luhan tersenyum, melangkah cepat mendekati Baekhyun lalu menangkap jemari lentiknya. Membuat manusia itu terkejut bukan kepalang, bahkan nyaris berteriak jika saja kerjapan mata polos Luhan tak menyihirnya untuk tenang.

"Nnn—

"Sssh..." Desis Luhan, mengunci bibirnya sendiri dengan telunjuknya.

"Sudah kukatakan, jangan takut melihatku— Luhan menghentikan ucapannya, untuk menarik tangan Baekhyun lebih dekat, lalu mengecup punggung tangan lentik itu. "Nona..." Ucapnya kemudian.

Membuat Baekhyun mengerjap, diantara perasaan takut dan bingung itu.

Lama...Ia bertahan dalam posisi itu. Dari punggung tangannya saja, Luhan bisa mencium...betapa ranum darah yang menguar dari desiran nadi itu. Bagaimana nikmatnya, jika darah itu menetes di lidahnya. Ia bisa membayangkan semua itu.

Namun, fantasi itu hanya berlangsung sesaat. Matanya memang menatap lurus ke depan, tapi kerjapannya tak bisa menipu. Vampire itu tengah menyadari satu hal ganjal.

"Umm...Maaf, tapi izinkan aku memegangnya" sempat mengucap permisi, sebelum akhirnya tangan mungil itu terulur dan memegang dada kiri Baekhyun. Memastikan rasa was-wasnya.

"HAH!" Baekhyun reflek terlonjak kebelakang seraya menyilangkan kedua lengan di dadanya. Dan mendelik kesal pada sosok manis itu.

Sementara Luhan, masih menatap kosong dengan sebelah tangan terangkat. seolah tengah melakukan gerakan meremas. "Ra—ta?" lirihnya.

"KAAAIII!" Jeritnya melengking.

Membuat namja yang sedari tadi mengawasinya di langit-langit atap itu tampak terbahak. Lalu beranjak turun.

"Namja! Dada Rata! Dia Namjaa! Bukan Yeojja?!"

Kai mengangguk, sembari menahan senyum gelinya. Ah..sejujurnya Ia tau, sepupunya yang maniak darah perawan itu terlanjur terkecoh dengan wajah Baekhyun.

"Oh Shiiiittt!" Luhan mengacak surai pinknya seraya menghentak kaki kesal.

tapi setelahnya, Ia mendelik tajam ke arah Baekhyun. "Mengapa Chanyeol Hyung harus memilihnya?! Aku tak suka darah namja!" Sungutnya, mengadu rasa tak puasnya pada namja tinggi di hadapannya.

"Tck.." Sementara kai hanya berdecak, dan memilih memalingkan wajah ke arah lain. Mengawasi jika Pangeran Sulung tiba-tiba muncul.

"Kau lihat wajahku! Aku tak ingin kulitku menjadi kering! Aku butuh asupan darah perawan KAI!" Lagi...vampire mungil itu kembali menggerutu kesal. Mereka identik dengan keindahan, tentu rupa adalah segalanya untuk Luhan.

Tanpa tau, manusia kecil di seberang mereka tampak gemetar menghindar bahkan kini begitu kalut mencari celah ingin keluar dari tempat itu.

"Tch! dibandingkan dengan darah yeojja, darahnya jauh lebih berharga...kurasa" celetuk Kai.

Luhan mengerjap, menimang sisi lain dari ucapan Kai. Memang ada benarnya, Pangeran Sulung tentu tak sembarang memilih pendamping bukan?

Pasti ada sesuatu yang menarik dari manusia bernama Baekhyun itu, lebih lagi...Ia bisa mencium aroma memabukkan dari sosok yang terlihat rapuh itu.

Luhan mulai menyeringai, berjalan mengendap seraya memasang gerakan ingin menerkam dari jemari mungilnya. Sesekali Ia terkikik ketika melihat Baekhyun semakin ketakutan melihatnya, bahkan anak itu hampir menangis.

Sangat menyenangkan sekali,membuatnya terbujuk ingin menggoda manusia manis itu lagi dan lagi.

"P-pergi!" Sentak Baekhyun seraya memegang leher dengan kedua tangannya sendiri.

"Makhluk asing! Monster!" Lanjutnya sambil melempar apapun ke arah Luhan.

"Aku vampire! Bukan makhluk asing! dan—apa maksudmu Monster? Heii...kami lebih rupawan dibandingkan mereka!" Protes Luhan tak terima.

Baekhyun menegeuk ludah payah, tak ada sekat lagi untuk menghindar. sementara ...vampire itu masih begitu antusias mendekatinya dengan tatapan mengerikan itu.

"Pergi! Vampire jelek!" Baekhyun berbohong.

Tapi sepertinya Ia salah, Baekhyun seharusnya tak mengucapkan kata itu, mengingat...penampilan adalah segalanya untuk Luhan. Dan kata 'Jelek'

tentu suatu yang terlarang untuk di dengar Luhan.

"APA?! YACK! BERANI KAU MENYEBUTKU—"

Luhan berhenti melengking emosi, dan beralih memandang Baekhyun tajam. "Harus dari bagian mana aku mulai mencicipi darahmu hmm?" Vampire itu menyeringai, Ia memang terlihat ceria, tapi tidak dimata Baekhyun. taring tajam yang mencuat di sela bibir mungilnya,benar-benar membuatnya bergidik. Tak sebanding dengan paras menggemaskan milik makhluk asing itu.

"Kai, kau ingin mengambil bagian yang mana?"

Kai yang semula masih mengawasi sekitar, kini mulai terpancing dengan candaan itu. Dan di sanalah ia melihat Baekhyun semakin panik , ketakutan, bahkan tubuh mungilnya merosot terduduk di sisi dinding. Oh sungguh! dibandingkan iba...Ia lebih merasa gemas melihat Baekhyun meringkuk seperti itu.

"Kakinya?" Tawar Luhan. Membuat Baekhyun, reflek memeluk cepat kedua kakinya.

"..."

"Tangannya? Ah! atau kepalanya saja?"

"..." kai tetap diam, antusias melihat Baekhyun bertingkah sepolos itu. Dan membiarkan sepupunya semakin menggoda rasa takut Baekhyun.

"Aku ingin lehernya" Desis Luhan, seraya mengulurkan tangannya ke depan, berjalan gontai dan menggapai-gapai Baekhyun.

"Hentikan, kau membuatnya takut" Bujur Kai, merasa iba pada calon pendamping kakak sepupunya itu.

Luhan mencibir, tetap memaksa ingin menggoda Baekhyun. "Kupatahkan setiap potongan tubuhnya, meremas, mencabiknya dan—

"ANDWAE! AAAAAAHHHH!" Jerit Baekhyun, semakin kebingungan melindungi setiap bagian dari tubuhnya. Dibandingkan dengan Vampire, namja mungil berambut pink itu lebih terlihat seperti Zombie.

Hingga tiba-tiba,sosok tinggi yang dikenalnya muncul tepat di sisinya.

Baekhyun spontan merangkak mendekat,dan memeluk erat pria tinggi itu tanpa pikir panjang.

"T-Tuan! Mereka ingin memangsaku! M-mereka ingin menggigitku!" Baekhyun semakin kalut memeluk pria itu.

Bahkan kini beringsut-ingsut ke belakang, menggelayut di punggung lebar itu layaknya koala besar. Demi bersembunyi dan berlindung.

Kai meneguk ludah payah, Ia tau...dari tatapan tajam itu. Pangeran Sulung itu tengah murka. "H-hyung K-kami bisa jelaskan, apa yang sebenarnya—

"Kau yang mengatakan semua itu padanya?" Desis Chanyeol, dengan tatapan berkilat tajam. sementara manusia mungil di belakangnya masih memeluk erat lehernya.

Kai mengerjap tak mengerti,' mengatakan' apa yang dimaksud oleh Chanyeol sebenarnya?

"K-kami hanya bercanda...dengannya" Jelas Kai berusaha memberi pengertian.

"B—benar, aku hanya ingin mengajaknya bercanda!" Timpal Luhan dari balik punggung Kai.

"Benarkan... Baekhyun—ssi?" Sahut Luhan lagi, kali ini dengan melongokkan kepala, mengerjap dan tersenyum manis ke arah Baekhyun.

"ANIYO! Kau ingin mematahkan leherku! meremas dan mencabik-cabiknya!" Jerit Baekhyun tak terima. "Tuan! Dia ingin menerkamku! Jangan dengarkan anak itu!" Adu Baekhyun lagi, seraya menunjuk-nunjuk Luhan dengan kesal. Seolah memang tak sadar...dirinya yang sebelumnya kecewa bahkan takut akan Chanyeol. Kini malah menggelayut erat di gendongan Vampire tampan itu.

Chanyeol terdiam,

apa ini?

Ia memang marah mengetahui seseorang membuat Baekhyun ketakutan, tapi—

Semua sikap dan tingkah yang Baekhyun tunjukkan saat ini, benar-benar memicu desiran halus dalam dirinya. Dan Chanyeol tak memungkiri, bahwa dirinya cukup senang melihat manusia kecil itu berinteraksi cukup dekat padanya, bahkan Ia nyaris tak percaya...Baekhyun meminta perlindungan darinya.

"Yya! Aku hanya bercanda denganmu! Lagipula aku sama sekali tak bernafsu dengan darah namja!" Elak Luhan, masih kekeuh membela diri. Sejujurnya ia benar-benar ciut, jika Chanyeol sampai murka dan menghajarnya detik itu juga.

"Sssh! hentikan...kau hanya akan menyulut amarahnya" Bisik Kai, berusaha menenangkan sepupu cantiknya itu.

Luhan berontak, tetap tak ingin merasa kalah dengan pendatang baru itu.

"Geottjimal! (Bohong!) Aku melihat taringmu memanjang! aku tau kau sangat bernafsu denganku!"

Luhan mengeras mendengarnya, berdecak melihat Baekhyun mendadak menjadi banyak bicara dan menjengkelkan seperti ini.

"Muka dua! Yack! Kau ingin memanfaatkan situasi karna Chanyeol Hyung ada di sini huh?!"Seru Luhan seraya berjalan menghentak ingin menghajar kepalan manusia kecil itu, Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti begitu Chanyeol mengangkat sebelah tangannya.

"Berhenti di sana... Luhan!" Gertak Chanyeol pelan, namun terdengar mengerikan begitu tatapan kedua manik amber itu turut menghunusnya tajam.

"Aku tak pernah mengizinkanmu menyentuhnya! Menjauh darinya"

Luhan tertunduk, dengan tangan terkepal erat. pelan namun pasti...vampire kecil itu mulai mengambil langkah mundur. Ia tak akan pernah bisa mengelak ucapan Chanyeol, lebih lagi melawannya. Jika pangeran Sulung sudah menunjukkan sikap dinginnya seperti ini.

"Tck... Berlebihan sekali, menggertak Luhan...hanya untuk melindungi inang sepeti Dia"

Tiba-tiba saja, sosok yang lain muncul tepat di depan Luhan, dan menghadang tatapan tajam Chanyeol.

Tak ayal...Baekhyun terbelalak nanar melihatnya. Bahkan kini raut wajahnya berangsur pasi, seolah memang kembali teringat akan setiap ucapan pemuda tinggi itu. Baekhyun berontak, namun Chanyeol menahannya.

"T-turunkan aku" Lirih Baekhyun

Membuat Pangeran sulung itu mengeras, melihat sikap ciut Baekhyun. sejak di awal Ia memang telah menduga...Sehun di balik semua ini.

"Rupanya memang kau, seorang yang meracuni pikirannya!"

Sehun menyeringai remeh, melirik pada manusia mungil yang masih meringkuk takut di balik punggung Chanyeol. "Tsk! Kau melewatkan kesempatanmu mengubahnya menjadi bagian dari kita! apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu! Atau—

Sehun menyeringai sinis. "Haruskah aku yang mengubahnya?!"

Pangeran sulung itu meradang, dan nyaris menerjang Sehun. "Berani kau menyentuhnya, ku bunuh kau!"

Sementara, Kai dan Luhan di belakangnya hanya salling melempar pandang. Tak mengerti dengan suasana tegang di antara kakak beradik itu. Tapi, sepertinya memang keduanya kini aman dari amukkan Chanyeol karna kedatangan Pangeran Bungsu itu.

"Terserah, jika kau ingin mencoba membunuhku. Kuperingatkan...Kau tak memiliki waktu lebih untuk merubahnya menjadi inangmu. Zico kapanpun bisa mengambilnya darimu dan merebut tahta itu. Dan saat itu terjadi, Kau akan menyesal...mengabaikan semua ucapanku" Desis Sehun, masih dengan menyeringai.

Tapi setelahnya, pemuda itu terkekeh pelan...lalu melenyapkan diri dalam sekejap. Diikuti dua vampire lain di belakangnya. Hingga...kini hanya menyisakan Baekhyun dan Pangeran Sulung di ruangan itu.

"Brengsek" Gumam Chanyeol lirih, namun masih dapat didengar oleh sosok mungil di belakangnya

.

.

.

seketika semuaya terasa begitu hening,

Hingga Baekhyun sadar...dirinya kini masih berada di atas punggung sosok yang hingga saat ini belum ia ketahui namanya.

"M-mianhae" Lirihnya, seraya bergerak kecil ingin turun.

Chanyeol, sedikit melirik...sebelum akhirnya mengizinkan tubuh mungil itu lepas dari rengkuhannya.

Sebuah senyuman tersimpul tipis di sudut bibirnya, kala mengingat racauan Baekhyun beberapa saat lalu. Sempat ia merasakan kehangatan itu, saat...manusia mungilnya menjerit jengkel dan mengadu padanya. Tak ada paksaan...tak ada raut takut pula. Semua mengalir begitu lepas.

Tapi rupanya, itu hanya berlangsung sesaat. Dadanya kembali sesak...melihat Baekhyun kembali tertunduk di hadapannya.

"Baekhyun..." Panggilnya seraya mengulurkan tangan ingin menyentuh paras manis itu.

Tapi Baekhyun menghindar dan lebih memilih memalingkan wajah,

Membuat vampire tampan itu tersenyum kecut. Tapi Ia tetap memaksa mendekat dan menangkup erat kedua pipi tirus itu, tak peduli Baekhyun berontak.

"L-lepaskan ak—

"Dengar.." Chanyeol merunduk, membuat namja mungil itu terkesiap melihat wajah pria itu berada cukup dekat dengannya.

"Apapun yang kau dengar di alam ini...jangan pernah menghiraukannya. Kecuali diriku...karena aku yang melindungimu di sini" Ucapnya pelan, tak yakin...manusia itu akan percaya padanya atau tidak. Sesunggunya Ia telah menyerah membuat Baekhyun percaya padanya, Pangeran sulung itu merasa, segala cara telah ia lakukan untuk mengusir rasa takut Baekhyun. Dari menahan diri hingga menjadi pribadi yang bukan seperti dirinya.

"..."

Tak ada sahutan, Baekhyun terlihat diam dan hanya menatap lekat-lekat ke dalam manik amber di hadapannya. Samar, Ia mulai bicara dalam batinnya sendiri.

Baekhyun tau, pria di hadapannya itu tak pernah sekalipun melukainya. Sebelum bertemu dengan Vampire itu dirinya selalu menerima perlakuan kasar dari pamannya hingga berbuah luka lebam di sekujur tubuhnya, tapi hebatnya...keesokn harinya, Ia mendapati semua luka itu lenyap dalam satu malam saja. Bahkan, kerap kali Ia melihat setiap orang yang mengusiknya, tiba-tiba meraung kesakitan tanpa sebab...tak terkecuali pamannya.

Semua terus berulang, hingga sedikit demi sedikit ia mulai menyadari setiap hal janggal yang terjadi pada dirinya.

Tapi semua terjawab sudah, begitu melihat sosok tinggi tegap di hadapannya kini. Baekhyun sepenuhnya meyakini, bahwa Dia yang melakukan semua itu.

"Irreumi...mwoyeyo?"(Siapa...namamu?). Gumam Baekhyun tiba-tiba, membuat Chanyeol terhenyak...tak menduga Baekhyun akan bertanya demikan padanya.

Baekhyun mengerjap, merasa gugup...pria itu tak kunjung memberinya jawaban. Ia menghela nafas dalam dan kembali menatap wajah tegas itu.

"I-irreumi mwo

"Apa kau ingin mengenalku?" Sergah Chanyeol, seraya mengelus pipi yang masih ditangkupnya itu.

Baekhyun mengangguk pelan, dan sedikit menyimpul senyum tipis. Membuat Pangeran sulung itu tertegun...benar-benar tak percaya atas apa yang dilihatnya kini.

Apa dirinya sedang bermimpi, Baekhyun tersenyum padanya?

"Park Chanyeol..."

"Chanyeol?" Ulang Baekhyun seraya mengerjap.

Vampire itu tersenyum. "Hn...kau bisa memanggilku seperti itu"

"Channie?"

Chanyeol terkekeh. "Apapun, panggil diriku sesukamu" Ujarnya pelan, ah sungguh...betapa ingin ia meraup bibir merah itu, dan memeluk erat tubuh mungilnya. Tapi mustahil Ia lakukan, jika tak ingin merusak detik paling berharga ini.

"Bisakah aku mempercayaimu?"

Seakan tak jemu, memberi jawaban untuk manusia mungil itu. Chanyeol mengangguk pelan. "Tentu.."

"Uhm..kau tau, p-posisi kita sepertinya—mm, aku t-tidak terbiasa seperti ini" Gumam Baekhyun kacau, masih begitu tak biasa dengan cara Chanyeol menangkup pipinya bahkan menatapnya begitu lekat.

Chanyeol menangkap cepat maksud itu, Ia beralih melepas tangannya dari wajah Baekhyun.

"Seperti ini lebih baik" Ucap Baekhyun kikuk, lalu berlari kecil untuk duduk di sebuah sofa merah marun di sebrangnya. Berusaha menghindari Chanyeol

entahlah terjebak dalam satu ruangan dengan pria pendiam itu, membuatnya bingung untuk bersikap. kali ini dibandingkan dengan rasa takut, Ia jauh lebih merasa gugup.

.

.

"Jadi kau tak akan menjadikanku sebagai inang, bukan?" Baekhyun memberanikan diri untuk bertanya, berusaha memastikan jawaban untuk mengusir rasa takut itu.

Sejenak, Pangeran Sulung itu terlihat diam...memandang Baekhyun dengan tatapan yang sepenuhnya teduh. "Tidak..." Gumamnya kemudian.

"Jangan pernah mendengar omong kosong itu. Kau akan selalu aman bersamaku" Lanjutnya lagi, mencoba meyakinkan.

Dan tampaknya, senyuman riang di bibir tipis itu. Mengisyaratkan, Baekhyun cukup puas dengan jawabannya.

Ah! lebih dari apapun miliknya. Hanya senyuman makhluk kecil itu...yang membuatnya jatuh semakin terpana.

"Baiklah Tuan! Aku sepertinya akan mempercayaimu. Dari semua makhluk di tempat ini, hanya kau yang baik padaku" Tukas Baekhyun sembari mengangkat kedua kakinya di sofa, lalu meringkuk nyaman di sana. Sontak pangeran sulung itu, mengernyit heran melihatnya.

"Apa yang—

"Aku ingin tidur di sini. Kau bisa tidur di ranjangmu, mianhae...selama ini aku selalu tidur di tempat itu" Sergah baekhyun seraya menunjuk ranjang King Size milik Chanyeol.

Chanyeol hanya meliriknya sekilas, ada apa dengan perubahan sikap namja yang kelewat cantik itu.

"Tak apa...kau bisa tidur di sana Baek—

"Anniyo! aku ingin tidur di sini. Mmhh.." Baekhyun mulai menguap kecil. "Jam berapa sekarang? aku tak tau waktu malam di tempat ini, aku sangat mengantuk" Ucapnya cepat, sebelum akhirnya menyusupkan kepala di antara lengan dan lututnya lalu memejamkan kedua matanya.

Chanyeol hanya menyimpul senyum, melihat sikap yang kembali aktif itu. Lebih baik, dibandingkan melihat Baekhyun menggigil takut atau bahkan memaksa ingin mengakhiri hidupnya. Ia beralih berjalan mendekat,

namun lagi-lagi Ia di buat terkesiap, begitu tiba-tiba saja...baekhyun menegkakkan kepala dan menatapnya tajam. "Jangan sekalipun memindahkanku dari sofa ini, aku ingin tidur di sini" Ucapnya penuh perhitungan. Lalu kembali memejamkan mata dan meringkuk nyaman.

Chanyeol memilih untuk mengalah, Ia tak akan memaksa...

Melihat Baekhyun sedikit bersikap lepas dengannya, sudah lebih dari cukup untuknya.

Pria tampan itu, beralih duduk dan bersandar di kepala ranjangnya. Mengamati sosok mungil yang telah jatuh tetidur di atas sofanya itu.

Hembusan nafas Baekhyun, terdengar begitu menenangkan untuknya. Hingga membuatnya memejamkan mata.

.

.

.

Beberapa Hari kemudian

"Kau belum menyentuh makananmu?"

"Uhm...nanti saja" Sahut Baekhyun cepat, seraya menggelengkan kepala. Ia mendadak menggeser tubuh begitu sadar, pangeran sulung itu hendak mendekatinya.

"Kenapa? Apa kau sedang kesal?"

Baekhyun kembali menggeleng. dan memilih memandang...pemnandangan berkabut di luar teralis jendela. "Aniyo.."

"Bosan?"

Baekhyun meneguk ludah payah. Sejujurnya Ia sedang berdebar saat ini, tapi ia tak tau apa sebabnya. "T-tidak" Sahutnya cepat. Lalu beralih berlari kecil untuk duduk di sebuah sofa di seberangnya,

"Umm...bocah berambut pink itu, tak pernah kemari lagi?" Tanyanya kemudian, berusaha mengalihkan pembicaraan. Mencoba selihai mungkin, menyembunyikan wajah gugupnya.

Chanyeol hanya diam, mengamati gerak-gerik manusia mungilnya. Ia beranjak ingin mendekati sofa, berniat turut duduk di sebelah Baekhyun. Namun...belum sempat dirinya mengambil langkah. Baekhyun telah lebih dulu bangkit berdiri...dan terlihat ingin berlari kembali.

"Ah, gerah! Mengapa di sini sangat panas eoh?" Ucap baekhyun seraya merentangkan tangannya.

Tentu sikap itu membuat Pangeran Sulung mengernyit heran melihatnya. Ia memang tak melihat raut takut dari Baekhyun, namun sikapnya yang mendadak aneh...membuatnya cemas kali ini.

"Panas?...Tak ada sinar mata hari di alam ini. Apa kau demam?" Chanyeol melangkah mendekat.

Detik itu pula, Baekhyun kembali berdiri terkesiap...bersiap untuk kembali lari. Entahlah...Ia merasa aneh dengan debaran bodoh dalam dadanya. Bahkan tak henti-hentinya, ia merutuk pada jantungnya sendiri.

"Ahhaha...aku merasa ingin bertemu dengan bocah berambut pink itu" Celetuk Baekhyun, semakin membuat tingkahnya kian aneh di mata Chanyeol.

"katakan, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Chanyeol menarik cepat pinggang Baekhyun, hingga membuat tubuh keduanya menempel erat.

DEG

Baekhyun reflek meremas dada kirinya sendiri. Bahkan begitu kalut memukul-mukulnya...seolah ingin menghentikan debaran hebat di dalamnya.

"Dadamu? Katakan Baekhyun...di mana yang sakit?" Chanyeol berusaha menyentuh dada Baekhyun, namun detik itu pula...Baekhyun mendadak berseru keras dan mengacak surai coklatnya frustasi.

"J-Jangan menyentuhku! Aku bisa gila!"

"Apa?"

"A-ahahahaa...Molla... bicara apa aku ini" Baekhyun tertawa kikuk, sambil memalingkan wajahnya ke lain arah. Asal tak bertatapan dengan wajah pria itu. Namun sesaat kemudian, Baekhyun mengerjap tak mengerti begitu tiba-tiba saja, Chanyeol melepas rengkuhan di pinggangnya.

"Arghh~" Pangeran Sulung itu mengerang dan mencekik lehernya sendiri. Seakan kerongkongannya tengah terbakar.

"W-wae?..Gwaenchan—

Baekhyun menggantungkan kalimatnya, dan terbelalak lebar...melihat urat membiru di pelipis Chanyeol. Rasa paniknya pun semakin memuncak, melihat Pria itu semakin mencekik lehernya sendiri. "T-tuan, kau baik-baik saja? Kau mendengarku? Apa yang harus kulakukan?" Racau Baekhyun panik, seraya memeluk vampire itu. Berusaha menenangkannya. Oh sungguh! apa yang sebenarnya terjadi pada makhluk itu, hingga mendadak mengerang kesakitan seperti ini.

"Bertahanlah Tuan...aku akan—

"M-menjauh dari arghtt~ Hakk!"

"N-ne? Kau bicara apa?" Baekhyun semakin mendekatkan wajahnya, namun detik itu pula ia berjengit hebat...begitu Chanyeol mendekapnya semakin erat. Bahkan mulai mengendus-endus lehernya. Menggeseknya dengan sesuatu yang tajam.

"Mnh~ a-apa yang kau lakukan?" Lirih Baekhyun, menggeliat geli. Seraya meremas dadanya, jantungnya semakin berdentum liar dengan sentuhan semacam itu.

"Men—jauh dari ku...Krhh" Bisik Chanyeol, dengan nafas berhembus berat. Pikirannya tak sejalan lagi dengan tubuhnya, dahaga yang membakar itu...membuat insting menguasai tubuhnya dalam waktu kilat.

Akan tetapi makhluk mungil di depannya,hanya mengerjap, benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya. Dan bukannya berlari, Baekhyun lebih memilih balas memeluk Chanyeol. Yakin...cara ini akan membantu menenangkannya.

Pangeran Sulung itu menggeram frustasi. Ia tak mampu bertahan dengan rasa sakit itu lebih dari ini. Ia menghempas tubuh mungil itu, berusaha menjauhkannya darinya. 'BRAKKK'

lalu menerjang teralis jendela, dan melesat sejauh mungkin. Meninggalkan remukan kaca di sisi balkon puri itu.

"Ughh~" Baekhyun yang sebelumnya terpental itu, mulai bangkit dan merintih nyeri di pinggangnya. "kau bilang..tak akan melukaiku, tapi apa—

Baekhyun mendadak mengerjap, begitu melihat Chanyeol telah lenyap dari ruangannya. "YACK! TUAN VAMPIRE!" Jeritnya kesal.

Masih dengan bibir terpout. Baekhyun mulai beranjak, dan berjalan menghentak kesal mendekati jendela yang telah remuk itu. sedikit berjinjit untuk melongok keluar, namun tiba-tiba saja

"Yohooo"

"GYAAHHH!"

Baekhyun terperanjat, dan melompat ke belakang...begitu melihat sebuah kepala muncul dari bawah.

"Waee? Kau masih takut rupanya...melihatku, hahahaha" Sosok mungil itu, perlahan melayang dan berdiri di tepi jendela dengan tangan berkacak.

Baekhyun mendelik. "Siapapun akan melakukan hal yang sama, jika kepala tiba-tiba muncul seperti itu!" gerutunya jengkel. "Mau apa kau kemari, Kepala Pink?"

Vampire mungil itu hanya berdecih, dan beralih melayang turun mendekati Baekhyun. "Aku punya nama! jangan memanggilku kepala Pink!"Sentaknya tak suka. "Panggil aku Luhan!" Jelasnya kemudian.

Baekhyun hanya mencibir tak peduli.

Membuat Vampire itu tersulut dan kini beralih menghadangnya."Oh! sekarang kau mulai bernyali huh?"

"Aku tak mendengarmu" Ucap Baekhyun cepat seraya memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua tangannya.

"Yack! berani kau mengabaikanku!"

Baekhyun mendadak membuka lebar kedua matanya,lalu beralih meremas pundak Luhan. Begitu mengingat sesuatu.

"Aisshh! Sakit! Apa yang kau—

"Luhan! Apa yang terjadi pada Tuan Vampire?"

"Ha? Apa maksudmu?"

Baekhyun menarik nafas dalam-salam. "Dia tiba-tiba saja berteriak, mencekik lehernya sendiri. Sangat kesakitan! aku melihat sesuatu yang membiru di keningnya, Dia mengendus leherku, membantingku...kaca pecah, lalu terakhir Dia pergi entah kemana" Jelasnya panjang lebar hanya dalam satu kali hembusan nafas.

Luhan mengerjap mendengarnya. Tapi setelahnya, Ia beralih memandang keluar jendela...yang telah remuk. "Dia benar-benar bodoh, sangat bodoh"

"Mwo? Mworrago?" Baekhyun semakin memiringkan kepala mendekat, mencoba mendengar lebih jelas.

"Aishh manusia ini" Gumam Luhan kesal, seraya mendorong bahu Baekhyun untuk menjauh.

"Yyaaa! Kau tau sesuatu bukan?! Apa yang terjadi pada—

"Selama beberapa hari ini, Chanyeol Hyung sepertinya tidak meminum darah" Ujar Luhan menyela, seraya melesat ke ranjang, dan duduk di tepi ranjang dengan kaki bersila.

"Kami—Para Vampire, akan merasakan dahaga yang luar biasa. Jika sehari tanpa meneguk darah segar. Serasa terbakar! aku pernah merasakannya"

Baekhyun hanya mengangguk-angguk mendengarnya. "Lalu...Mengapa Dia tidak minum darah hari ini? Apa kalian kehabisan stock darah huh?"

Luhan berdecak kesal mendengarnya. "Yya! jangan pikir kami miskin! Keluarga Vampire sangat kaya! Lihat saja ruangan ini. Darah tersedia banyak di alammu! asal kau tau kami sangat lihai dalam berburu!" Aku Luhan, tak ingin diremehkan.

"Lalu...mengapa Dia tidak berburu hm? Hm?" Tanya Baekhyun lagi, tak akan puas sebelum mendapatkan jawaban.

"Untuk Vampire seperti dirinya yang memilih pendamping seorang manusia dan telah membawanya ke alam ini, tak akan menghisap darah dari manusia manapun. Selain darah pendampingnya. Dia telah terikat! Itu hukum alam ini!" Jelas Luhan panjang, seraya menatap Baekhyun berharap, manusia banyak bicara itu lekas mengerti. "Jikapun sebagai gantinya, hanya darah rusa...itupun tak akan bertahan lama. Dia tetap harus meminum darah pendampingnya. Sebagai penawar rasa sakitnya"

"Lalu...mengapa Dia tidak menghisap darah pendampingnya, dan memilih kesakitan seperti itu?" Celoteh Baekhyun lagi, membuat vampire mungil di sisinya mengacak surai pinknya frustasi.

"Aisshhh!" Luhan mulai meremas kedua pundak Baekhyun, lalu mengguncangnya keras. "Karena Dia bodoh telah memilih manusia bodoh sepertimu! Apa kau mengerti sekarang?!"

"Aku?" Baekhyun mengerjap seraya menunjuk dirinya.

"ya! Kau pendampingnya! Seharusnya Dia meminum darahmu! Tapi Dia terlalu bodoh menahan diri!"

"Hahahaha...Aku kau bilang?" Baekhyun mulai tertawa keras, seraya menepuk-nepuk lengan Luhan. Menganggap lelucon itu sangatlah menghibur.

"Tsk! Dia tertawa. Ya! Memang kau manusia bodoh itu! kau pendamping Pangeran Sulung Baekhyun-ssi!"

"Aku?! MWOOOO?!" Baekhyun bangkit berdiri dengan mata membulat lebar. Tak percaya akan bualan namja yang memiliki tubuh sama kurus dengannya itu.

"Uhum.."

"Pendamping?!"

"Cepat atau lambat, kau memang akan menjadi pendamping seutuhnya. Tubuh kalian akan menyatu hahaha...itu sangat sakit sepertinya"

"MWOORAGO?!" Baekhyun masih berteriak, dengan kaki menghentak ranjang. Tak terima dengan keputusan sepihak itu, sejak kapan Ia setuju untuk menikah. Dilamar saja belum!

Dan lagi—

"Y-yyaa...kau dengar? Aku namja...kaupun tau itu bukan?! aku namja! Mustahil dia memilihku!"

Luhan mencibir. "Memang kenyataannya seperti itu" Sahutnya santai.

"Aku tak memiliki rahim, jadi—

"Jangan salah! Kelak kau akan bisa hamil" Sergah Luhan cepat, membuat namja manis itu menatapnya horor.

"Apa? mengapa menatapku seperti itu? memeng itu kenyataannya" Celetuk Luhan santai.

"Hamil?! Kau gila! Kalian pasti gila! Dia salah memilih! Aku tak akan menjadi pendampingnya! Kau menipuku! "

"Whatever! Karena kau satu-satunya yang bisa membuatnya menjadi seorag Penguasa" Ujar Vampire mungil itu sembari memainkan surai ikalnya. Tak peduli, Baekhyun makin menghentak kesal akan sikapnya.

Sesaat kemudian, Luhan mulai beranjak berdiri. Baginya...Ia hanya membuang waktu bicara besama manusia itu. Lihat saja...Baekhyun sepertinya sama sekali tak percaya. Sia-sia Ia berbaik hati padanya.

"Tck! teruslah menggila seperti itu. Aku pergi! Bye"

.

.

.

.

.

Sesaat Kemudian

Baekhyun terlihat meremas-remas ujung kemejanya sendiri, menatap kesal keluar jendela...menunggu seseorang—Ah! lebih tepatnya vampire yang dinantinya sedari tadi lekas datang. Banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya kali ini. Dan Ia benar-benar tak sabar, ingin melontarkan semua protesnya pada sosok yang kerap di panggilnya Tuan Vampire itu.

Hingga...

TAP

Baekhyun menyeringai, yakin kali ini Chanyeol kembali ke purinya. "Mengapa kau pergi sangat lama!" Protes pertamanya mulai keluar.

Baekhyun beralih memutar tubuh cepat,

"Kau membuatku menung—

Baekhyun terhenyak. Urung melanjutkan semua protes kesalnya. Begitu melihat Chanyeol membaringkan tubuhnya di ranjang,dan memejamkan mata dengan kepala menengadah. Terlihat seperti berusaha menahan nyeri yang masih berdenyut hebat di sekujur tubuhnya.

"Yya—Gwaenchanayo?" Baekhyun mulai melangkah, beringsut ke atas ranjang lalu merangkak mendekati Chanyeol.

Chanyeol memaksa untuk membuka mata, dan tersenyum tipis. Kala melihat manusia kecil itu, tampak panik menatapnya.

"Apa kau tak meminum darah apapun hari ini?"

Vampire itu sedikit terhenyak mendengarnya, Baekhyun mulai bertanya sesuatu yang tak terduga. Selama ini, Ia selalu menghindari perbincangan mengenai...hal macam apa yang dimakannya.

Hanya untuk menjaga, manusia kecil itu tak takut padanya.

Tapi kini yang terlihat, Baekhyun begitu frontal menanyakan hal tersebut...tanpa beban...bahkan tak terbesit raut takut sedikitpun. Mungkinkah...Karna anak itu telah terbiasa bersamanya?

"Mh~ sudah" Singkat Chanyeol, berusaha menekan rasa sakitnya dan bersikap sewajar mungkin di hadapan Baekhyun.

Baekhyun mengernyit. Ia tau sesuatu yang salah dari sosok vampire itu. Menahan sakit..dan pura-pura memasang senyum seperti itu.

"Kau masih kesakitan! Hanya darah rusa bukan? Dan itu tak akan bertahan lama" Cerca Baekhyun, tak pelak, membuat Chanyeol semakin terhenyak. Mengapa, anak itu tau akan hal ini.

"D-dari mana kau—

"Ini..." Baekhyun membuka sedikit kancing kemejanya, lalu memiringkan kepala...menunjukkan leher putihnya. Entahlah apa yang terjadi, tapi Baekhyun sepertinya telah berubah pikiran.

"..."Pangeran sulung itu, terbelalak lebar. Tak percaya...bahkan memungkiri apa yang dilihatnya dari sikap namja mungilnya itu.

"Aku tak ingin menjadi pendampingmu! Tapi—

Baekhyun beralih menatap, pria yang masih membulatkan mata tak percaya itu.

"Aku tak ingin melihatmu kesakitan lagi. Jika kau sakit seperti ini...mana bisa melindungiku dari semua vampire jahat di luar sana" Celotehnya, seraya menyingkap kemeja, hingga menampilkan pundak mulusnya.

"Cepat! hisap darahku! Bukankah kau hanya meminum darahku saja?"

Sejenak, Pangeran sulung itu memang tak mengambil gerakan apapun. Hanya diam memandang sosok mungil itu dengan senyum terpatri. Hingga akhirnya, chanyeol lebih memilih menarik lengan Baekhyun untuk lebih memdekat. Lalu mengancingkan kemeja itu satu-persatu.

"Itu akan menyakitimu. A—ku bisa menahan—

"Tidak!" Seru Baekhyun tiba-tiba, seraya menyentak tangan Chanyeol. Lalu kembali menyingkap kemeja...demi menunjukkan lehernya.

"Ini keinginanku! Cepat hisap darahku!" Kekeuhnya lagi, sambil menarik-narik tangan Chanyeol agar lekas bangkit.

"..."

"Aishh! Waeyooo? apa kau tak suka darahku?! Menjijikkan? Lalu mengapa kau memilih—

Baekhyun seketika terkesiap, begitu Chanyeol tiba-tiba saja bangkit, merangkul pinggangya. hingga membuat lehernya terpampang tepat di bibir vampire itu.

"Mmh~" Baekhyun memejamkan mata erat, begitu merasakan hembusan nafas berat itu di sekitar tengkuknya.

Kedua tangan mungilnya beralih meremas pakaian belakang Chanyeol. sadar Sesuatu yang tajam mulai menempel di permukaan kulitnya.

Hingga—

"A-AHHTTT" Erangannya pecah begitu saja,Baekhyun mencakar-cakar punggung Chanyeol. Begitu taring tajam itu secara perlahan menusuk telak lehernya. Menyisakan ngilu yang luar biasa perih.

"NN~ ACKH! Arghhhtt~" Kedua manik caramelnya, sesekali terbelalak lalu kembali terpejam. Kala merasakan, hisapan kuat yang terasa membakar lehernya. Baekhyun tau...Vampire itu mulai meneguk darahnya, bahkan Ia bisa merasakan...sebagian dari darahnya meleleh turun ke dadanya.

"SShh..." Pangeran Sulung itu mendesis nikmat di sela-sela hisapannya. Darah Baekhyun terlalu memabukkan, membuatnya begitu bernafsu menghisap kuat setiap darah yang mengucur dan mengalir ke dalam mulutnya. Tak peduli, namja mungil itu semakin pasi...dan lemas dalam rengkuhannya.

"Ark~" Baekhyun memekik lirih, begitu Chanyeol mencabut cepat taringnya.

Masih dengan bibir penuh dengan lumuran darah, Ia memalingkan wajah Baekhyun menghadapnya lalu melumat bibir mungil itu. "Uhmph~ Mmphh!"

Baekhyun kembali terbelalak. Bisa Ia rasakan dengan jelas, betapa tajam rasa anyir yang tercecap di lidahnya. Ia mengerang, dan berusaha melepas pagutan keduanya, meski darahnya sendiri...tapi Baekhyun merasa jijik dengan aroma karat itu.

"Mmmh! Angh...Ahmmph!" Namun, pria itu semakin menekan tengkuknya. dan memaksa bibir mungil itu terbuka lebih lebar.

Baekhyun tak mampu melawan lebih, tenaganya habis terkuras akibat darah yang banyak menyusut. Ia hanya bisa mengerang lemah, saat vampire itu menghempas tubuhnya keranjang, menindihnya tanpa melepas lumatan dalam berasa darah itu.

"A-anghhhh" Perutnya menegang, merasakan sesuatu yang kenyal mulai menerobos masuk dan membelai setiap isi mulutnya. Terlalu membuai, hingga denyut perih di lehernya tersamar begitu saja.

"Mm~ahh" Baekhyun melenguh, dengan bibir terbuka...kala,Pangeran Sulung itu melepas pagutannya dan kini menggigit leher Baekhyun. Kembali menghisap darah ranum itu, dan mengabaikan jerit memekakkan namja mungil di bawahnya.

"A-AAAHHHHTT! B-Berhentiih!" Pinta Baekhyun. Kakinya terlihat meronta payah. Tapi semua hanya berbuah sia, taring itu tetap menusuk lehernya...mengiringi hisapan kuat di pangkal lehernya.

"A—aaahhh...Hhhhh" Namja mungil itu begitu tersengal, nyaris tak mampu mengimbangi hisapan kuat Vampire itu. Satu hisapan lagi...ia akan benar-benar kehilangan kesadarannya.

Tapi sepertinya,Pangeran Sulung itu memang...lihai dalam memperhitungkan waktu. Ia melepas leher Baekhyun, sebelum namja mungil itu jatuh tak sadarkan diri.

Ia, mendesis nikmat ...lalu kembali memagut cepat bibir merah Baekhyun. Seperti yang telah digariskan, darah Baekhyun memang menjadi penawar untuknya. Hanya beberapa saat saja, Ia menghisapnya...tenaganya telah kembali pulih.

"Ahmph~" Baekhyun terlonjak, ketika Pangeran Vampire itu melumat rakus, belahan bibirnya...hingga membuat darah yang sempat terhisap itu meleleh dari sela-sela bibir keduanya.

Baekhyun terpejam, membiarkan sosok di atasnya terus mencumbunya. ia terlalu lemah untuk melihat kondisinya. Yang jelas...kemeja putihnya telah penuh dengan bercak darahnya sendiri.

"Uhmpp~...Mhha...ah!...Ahn!"

.

.

.

.

Te~Be~Cehh~

.

.

.

.

.

Next chapter

"Pastikan kau menemukannya! dan bunuh anak itu..maka tahta itu akan segera jatuh di tanganku" Bisik Zico, menatap angkuh ke atas.

.

"Aku menemukanmu..."

"Menjauh darinya!" Luhan berteriak kalut. "Yack! lari dari tempat ini bodoh!"

"Tch! ikat bedebah kecil itu"

.

.

.

"Hks.."

"Mengapa menangis hm? Cukup mengejutkan, Dia menahan diri...tak mengubahmu menjadi Vampire" Zico membelai, pipi tirus itu dengan kuku tajamnya. Membuat isakan ketakutan itu semakin jelas terdengar.

"Pertama...aku akan menikmati tubuhmu" Tangan Jaehyo terulur untuk menyentuh wajah Luhan.

"Brengsek! Enyah saja kau! LEPASKAN AKU!" Luhan, kembali berontak payah...namun jeratan magis itu. Membuat tenaganya terbuang sia-sia.

"Lalu setelahnya, aku akan menyingkirkan manusia kecil ini" Ia beralih melirik Baekhyun. "Ah! tak ada salahnya jika aku juga menikmati tubuhnya sebelum membunuhnya bukan?" Desisnya seraya menatap intens, dua namja mungil yang masih terikat di sudut ruangan itu.

.

.

.

Hai Hai Hai ... Annyeooong.

Gloomy hadiiir bawa chap 5 nyaaa...

*akhirnya mereka kisseu kaan... Na ena nya, sabaaar hihihi

Untuk chapter ini, Review jusseyooo...

biar semangat lanjut chap 6 nya.

*Love of Fallen Leaves Chapter 4 menyusul yaaa

Untuk:

ChanBaek22, Shengmin137, OX Wind , LittleJasmine2 , restikadena90 , 90Rahmayani, bbhyn92 , Byunsilb , kiyasita , Siti409 , Park RinHyun-Uchiha , LyWoo , LUDLUD , lily kurniati 77 , Happines Chanhyun, SHINeexo, gloriadelafenni, babybaekhyunee7 , daebaektaeluv , Incandescence7 , Hyo luv ChanBaek , Rinarosiana13 , foxesbitch, chanbaekmama, LavenderCB , dwi yuliantipcy , seseoh , phantom d'esprit , Eun810 , Guest137 , Jewika, anakprawanchanbaek , panci bolong uco , whiteshades , sintalovedei, dan All Guest

Terima kasih atas reviewnya, Jgn lupa review lagiiii..

Sampai jumpa Chap Depan...

Saraaaanghaaaaaaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee