Main Cast : Chanyeol X Baekhyun

Other Cast : Kejutan di dalam nyaa :) Hayoo temukan

Disclaimer : Cerita ini pure milik Gloomy Rosemary

.

.

.

.

Previous Chapter

Ia, mendesis nikmat ...lalu kembali memagut cepat bibir merah Baekhyun. Seperti yang telah digariskan, darah Baekhyun memang menjadi penawar untuknya. Hanya beberapa saat saja, Ia menghisapnya...tenaganya telah kembali pulih.

"Ahmph~" Baekhyun terlonjak, ketika Pangeran Vampire itu melumat rakus, belahan bibirnya...hingga membuat darah yang sempat terhisap itu meleleh dari sela-sela bibir keduanya.

Baekhyun terpejam, membiarkan sosok di atasnya terus mencumbunya. ia terlalu lemah untuk melihat kondisinya. Yang jelas...kemeja putihnya telah penuh dengan bercak darahnya sendiri.

"Uhmpp~...Mhha...ah!...Ahn!"


Chapter 6

Blood On A White Rose

.

.

.

Kecipak saliva semakin menggema memenuhi ruangan megah miliknya, setiap hembus nafas yang terdengar berat, seakan menunjukkan betapa hebat birahi yang kini menguasai tubuh vampire itu.

Semua kian beralasan, kala sosok mungil di bawahnya terlihat begitu pasif dan lemas tanpa perlawanan, hingga membuatnya leluasa menjamah setiap jengkal tubuh mungil itu.

Aroma karat..mungkin memang masih menguar tajam di setiap sudut ruangan, namun tak semerta membuat pemuda tampan itu berhenti, sebaliknya...aroma anyir itu seakan menjadi pecut untuknya mencumbu Baekhyun.

"Mhaa~ ah!" Baekhyun masih mendesah lirih. Bukan—

Bukan karna sentuhan nikmat layaknya tengah bercinta. Namun...sentuhan lain, yang tak bisa Baekhyun lugaskan sendiri. Bekas tusukan taring itu, masih menyisakan rasa pedih di pangkal lehernya, namun tak sepenuhnya menyiksa. Karna memang...jilatan dan hisapan lembut di sepanjang garis lehernya...membuatnya sedikit terlena dan lupa...bagaimana mengerikannya kondisinya kali ini.

Siapapun akan tercekat...melihat darah merembas cukup banyak, namun sosok mungil itu tetap hidup dan menyadari pergerakan di atasnya dalam diam.

"Uhnn~"

Caramel eyes itu kembali terpejam, tangan yang semula terangkat mencengkeram punggung Chanyeol kini lunglai di kedua sisi kepalanya. Baekhyun tidak pingsan...hanya saja, anemia hebat itu membuatnya lemas, ...

Terlalu lemas.

"Dear..."

Ia mengernyit, merasakan usapan halus...di pipi kanannya. Siapa yang dipanggil?

Tak hanya sekali...Ia mendengar panggilan sayang itu. Mungkinkah hanya delusi?

"A-ackhh" Baekhyun mendongak, dengan bibir terbuka... begitu sesuatu yang basah serasa menyentuh dada kirinya dan mengisap lapisan nipplenya dengan lembut.

Tak sempat untuk menerka siapa yang memanggil.

Rangsangan mendadak itu, sedikit banyak telah mengacaukan pikirannya.

"Nnn~..."

Lengan kurusnya kembali terangkat lemah, menangkup rahang kokoh itu dan berusaha mendorongnya menjauh.

"K-kau berjanji...Nnh"Baekhyun begitu terbata, tapi Ia tetap bersi kukuh menyentuh wajah tegas itu. Meski nyatanya...kepalanya semakin berdenyut pening, tiap kali ia memaksa untuk bergerak lebih.

"T-tidak, men—jadikanku...inang—mu" Lanjutnya lagi, sebelum akhirnya kembali memejamkan mata. karna tak tahan.

Gumaman lirih itu lekas menyentaknya, seolah baru tersadar. Chanyeol cepat-cepat menjauhkan wajahnya. Dan menatap nanar...sosok mungil yang telah kebas dengan darahnya sendiri itu.

Chanyeol tergagap, dan membekap cepat bekas gigitan di leher Baekhyun. Nyaris...Ia lepas kendali mengikuti instingnya. Dan nyaris pula...Ia mengalirkan bisa vampirenya ke dalam tubuh manusia itu.

Tidak!

Ia tak akan melakukannya...selama bukan dari keinginan dan ketulusan Baekhyun sendiri. Atau...ia akan memendam rasa sesal itu untuk selamanya.

"Inang?" Chanyeol berbisik, seraya menyeka darah di sudut bibir Baekhyun.

"Tak serendah itu. Kau milikku yang berharga" Bisiknya lagi, seraya menghisap lembut belahan bibir atas Baekhyun.

"Mmhh" Baekhyun hanya mampu melenguh dengan mata tertutup. Ia sadar...pria itu kembali menciumnya, bahkan sebelumnya lebih dari sekedar ciuman. Tapi saat ini, Ia bisa apa dengan tubuh sepayah itu?

Hanya bisa terpejam...hingga lumatan lembut di bibirnya, perlahan membuatnya terhanyut lalu jatuh terlelap begitu saja.

.

.

Tatapannya kian meredup. Ia tak pernah merasa segila ini sebelumnya. Mungkin Sehun benar...Dirinya telah dibodohi oleh perasaan yang semakin tumbuh itu. Tapi semua tak akan menjadi masalah untuknya, jika itu Baekhyun.

Karna memang...

Chanyeol telah menanti semua detik ini, hanya demi...manusia itu terbaring di sisinya seperti saat ini.

Senyuman tipisnya mulai tersimpul di bibir merahnya. Meski terlihat bercak darah yang mulai mengering, namun sama sekali tak menyurutkan betapa menawan pemilik wajah tegas itu.

Chanyeol menggenggam jemari mungil Baekhyun, menarik punggungnya mendekat...lalu mendekapnya. Membiarkan makhluk mungil itu melewatkan malam, dalam pelukannya.

.

.

.

.

Sementara itu di tempat lain...

'PRANK'

Gelas kaca itu terburai begitu saja...membuang sia, darah pekat di dalamnya. Namun...sosok anggun yang telah melemparnya itu hanya tersenyum sinis, dan mendelik tak suka pada darah yang menggnang di lantai.

"Manusia itu.." Desisnya.

"Apapun caranya...bawa manusia itu padaku" Lanjut wanita itu seraya melirik pemuda di sisinya.

"Untuk apa? Lebih baik bunuh—

"Tidak!. Aku sendiri yang akan memastikan kematiannya! Bawa anak itu padaku! Aku masih mencium darah manusia itu" Ucap Victoria, seraya memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya.

"Sepertinya Anak itu terlalu berharga untuknya, ahahahahaha..." Lengkingan tawa itu pecah begitu saja, merasa remeh pada keputusan Chanyeol, yang tak semestinya membiarkan seorang manusia hidup di alam vampire ini. "Cepatlah...rebut manusia itu darinya sebelum Chanyeol berubah pikiran, Putraku tak pernah mengecewakanku bukan?"

Sementara Pemuda itu-Zico- hanya diam, dengan seringai tersimpul. Lalu lenyap seketika dari hadapan Ibunya.

.

.

.

.

"A—arghhtt! Agh!"

Pria itu semakin bringas menghisap habis darah wanita yang di bawanya, hingga tubuh pasi dengan tulang yang telah dipatahkan itu. Menggelepar dan tewas seketika.

"Ssshh..." Desisnya seraya mendongak, meresapi sisa darah di sudut bibirnya.

"Tsk! Kau kehilangan kemampuan berburumu? hingga menculik manusia itu kemari?"

Namun kehadiran seseorang, membuatnya terkesiap...dan membuatnya membuang cepat mayat wanita itu ke semak belukar di sisinya.

Ia menoleh cepat ke belakang, dan terkekeh pelan."Haha...aku hanya ingin menikmati mangsaku di tempat yang tenang" Sangkalnya, seraya menyeka bercak darah di bibir dengan lengannya.

"Kau akan mendapatkannya" Zico mulai mendelik penuh perhitungan, "Semua manusia itu. Kau bebas menerkamnya sesuka hatimu. Tapi setelah aku menguasai dua alam ini" Desisnya lagi seraya menyeringai tajam.
"Pastikan kau menemukannya! dan bunuh anak itu..maka tahta itu akan segera jatuh di tanganku" Bisik Zico, menatap angkuh ke atas.

Jaehyo membisu. menerka...sosok yang dimaksud Zico. Mungkinkah pendamping Pangeran Sulung – Park Chanyeol?

Tapi mustahil menangkapnya seorang diri. Siapapun tau...Chanyeol sosok penguasa tak terkalahkan di alam ini.

"Tch! Buang pikirani bodohmu itu"Desis zico,begitu membaca pikiran vampire di sisinya. "Aku akan mengatur semuanya"

.

.

.

.


Kedua mata amber itu terbuka cepat, begitu merasakan adanya pergerakan kecil dalam dekapannya. Dan benar saja,...Baekhyun terlihat mengernyit gelisah. Bahkan tak berhenti mencengkeram pakaian depannya.

Chanyeol sedikit menggeser tubuh demi melihat wajah pasi itu lebih jelas dan menyentuh pipinya.

"Baekhyun?" Panggilnya pelan.

Detik itu pula, Baekhyun membuka mata...menatap pias, terkesan begitu kosong. membuat pria itu was-was menunggu reaksi macam apa yang kelak Baekhyun tunjukkan, selepas...tau. Makhluk seperti Dirinya telah menghisap darahnya.

"Ha—us" Bisik Baekhyun lirih. Namun dapat didengar dengan baik oleh vampire itu. Ah! tentu Baekhyun merasa haus. Ia terlalu banyak menjerit, belum lagi...banyak darah yang berkurang dari tubuhnya.

Chanyeol menjentikkan jarinya, dan secepat kilat. Segelas air putih berada dalam genggamannya.

Bukan darah

Ya...gelas itu berisi air putih, karna memang. Baekhyun masih seorang manusia saat ini.

"Minumlah" Bisik Chanyeol seraya merengkuh tubuh Baekhyun untuk terduduk, dan membimbing sosok mungil itu menegak minumannya.

Lama Ia menunggu...hingga Baekhyun mulai mengangkat wajah, menatap padanya. Tak ada kerjapan yang kerap Ia lihat, melainkan tatapan yang sepenuhnya tajam.

"Aku tak menyukainya!" Protesnya tiba-tiba, masih dengan bersandar di lengan Chanyeol.

Pria itu pun tampak terdiam, tak siap... jika setelah ini. Baekhyun beralih membencinya.

"Gigitanmu sangat sakit! lihat luka di leherku!" Gerutu Baekhyun seraya meraba lehernya sendiri, namun detik itu pula Ia mengerjap saat menyadari lehernya utuh tak ada gores atau bahkan bekas tusukan apapun. "Ah! kau pasti yang menyembuhkannya!" Elaknya tak ingin merasa salah.

Chanyeol hanya diam, mengamati lekat...sosok mungil itu mulai aktif dengan pekikkan rusuhnya.

Baekhyun kembali mengerjap kala tak mendapat jawaban apapun selain tatapan teduh itu, membuatnya memutar otak...mencari alasan lain yang bisa digunakannya untuk menggerutu kesal.

"M-mengapa ha-harus dengan c-ciuman?" Tanyanya tersendat, entahlah...Baekhyun merasa berdebar saat mengingat Vampire itu menciumya bahkan memasukkan lidahnya ke dalam.

Chanyeol mengernyit heran, melihat wajah namja mungil itu mendadak bersemu merah.

"Pipimu memerah, apa—

"Aissh! Jangan mengalihkan pembicaraan!" Sungut Bakhyun, seraya menjejak kaki kesal...hingga membuat coverbed di bawahnya kusut.

Vampire itu mengulum senyum. Sepertinya, kondisi Baekhyun telah kembali pulih. Dan lebih melegakan lagi, tak ada raut takut dari paras cantik itu.

"Kenapa?" Ujarnya kemudian, membuat Baekhyun semakin menatapnya kesal. Tapi sejujurnya, manusia kecil itu tengah berusaha menyembunyikan debaran tak menentu dalam dadanya.

"Kau bertanya kenapa?! aku yang seharusnya bertanya!"

"Hn..." Gumam Chanyeol

"M-mengapa harus berciuman?!"

"Ya...aku menciummu"

"Wae?!"

"Karena aku merasa harus menciummu"

"Aku namja!" Kekeuh Baekhyun

"Aku tau..."

"Geundae wae? (Tapi kenapa?) kau menciumku?! d-dan Li—lidah itu—

"Lidah apa?"

"M-masuk...Ciuman, Kau mencium—

"Benar aku memang menciumu"

"Tapi itu—

"Hn?"

"T-tapi, lidah masuk itu—

"Kenapa?"

"Y—ya itu, aku—

"Kau tak suka?

"Suka!"

"..."

(Blush) Baekhyun menutup cepat bibirnya dengan sepuluh jarinya, begitu sadar ia telah lepas bicara.

Ia mengerjap, tak tau harus menyembunyikan wajahnya di mana...sementara pria itu masih menatapnya intens, bahkan terlihat tersenyum misterius.

Wajahnya bak semerah tomat, tak ada opsi lain. Baekhyun lebih memilih beringsut cepat ke dalam blanket, lalu meringkuk di dalamnya. Menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memanas itu. Dan merutuk kesal pada dirinya sendiri. Oh sial! tidakkah dirinya benar-benar memalukan kali ini.

"Baekhyun?"

"Jangan memanggilku!"

Chanyeol hanya tersenyum mendengarnya, dan beralih mengelus gundukan blanket di depannya.

"Terima kasih" Ujarnya kemudian.

Membuat bocah yang masih bersembunyi di dalam selimut tebal itu, diam dan mengerjap cepat.

"Dan maaf...jika itu terasa sakit"

Kali ini namja mungil itu terlihat menarik turun blanketnya hingga hanya sebagian wajah Baekhyun saja yang terlihat. "L-lain kali, buat tidak terasa sakit. itu sangat sakit! sampai mati rasanyai" Cicitnya lirih, tanpa menatap lawan bicaranya.

sepoi angin di luar tralis jendela, seakan menunjukkan perasaan yang mulai tersambut hangat dari manusia mungil itu. Chanyeol tak memungkiri, Ia tersenyum penuh arti saat ini.

Chanyeol beralih ingin menarik turun kain tebal itu, namun Baekhyun menggeleng, dan makin meremas kuat blanketnya. Apapun itu...Ia benar-benar tak ingin Chanyeol melihat wajah merahnya.

"Baekhyun?"

"Ugh! Jangan menariknya!" rengeknya kesal.

"Mengapa bersembunyi dariku?"

"Tck! Pergilah! Tinggalkan aku sendiri! dan jangan menarik selimutku!" Pekik bocah itu lagi, semakin kepayahan menahan wajah tersipunya.

"..." Chanyeol diam, dan mengernyit heran melihat tingkah Baekhyun.

"Baiklah..." Gumamnya kemudian, membuat Baekhyun yang masih bersembunyi di dalam blanket itu mulai mengerjap panik. Oh ayolah...ia hanya bercanda mengucap kata pergi itu! sejujurnya...Baekhyun tak pernah menginginkan Tuan vampirenya benar-benar pergi kali ini.

"Jika kau tak mengingnkannya, aku tak akan memaksa menghisap darahmu"

Baekhyun membulatkan mata lebar, sempat merasa bersalah...namun juga tak rela.

"Aku pergi—" Pungkas Chanyeol.

Detik itu pula, Baekhyun menyingkap selimut tebalnya...terduduk lalu—

"K-Kajima! (D-don't go!) Hisap darahku!" Pekiknya keras.

"Hn..."

DEG

Baekhyun mendadak tertunduk, jantungnya berdebar berkali-kali lipat lebih kencang. Kala menyadari...Chanyeol rupanya masih berdiri di sisi ranjangnya.

"Aku tidak pergi kemanapun" Gumam Chanyeol seraya merunduk mendekati, wajah yang semakin tertunduk itu. Senyum tipisnya mulai terukir, menyadari Baekhyun begitu gelisah meremas-remas kedua tangannya sendiri. Meski tak sepnuhnya yakin, tapi Ia menyadari...Baekhyun sepertinya telah membuka diri padanya.

"Dan—" Chanyeol beralih menyentuh dagu Baekhyun.

"Apa maksud, dengan' hisap darahku' hn?"

"..." Baekhyun menggigit bibir bawahnya sendiri. Merasa malu dan mungkin panik meredam detak jantungnya, berada sedekat ini dengan pria bertaring itu.

"Jangan menggigit bibirmu seperti ini, kau bisa melukainya"

Chupp

Baekhyun membulatkan mata lebar, begitu pria itu tiba-tiba saja mengecup pelan bibir yang masih tergigit itu.

Tak bisa dicegah, debaran itu semakin menggila...membuat Baekhyun pening dan—

"Nnh~"

Bocah mungil itu tiba-tiba colapse, telentang di ranjang tanpa gerak sedikitpun.
"B-baekhyun?" Tak ayal, vampire itupun mendadak cemas melihatnya. Masih menduga...Baekhyun sepertinya masih lemas akibat kurang darah

Ah...tak ada pilihan lain, selain membiarkan Baekhyun terlelap hingga kondisinya kembali pulih. Lagipula..waktu masih terbilang petang untuk manusia seperti Baekhyun.

"Dear..."

.

.


Flash Back On

"Eomma~"

Derap langkah mungilnya kian mengayun antusias, begitu dua mata bulat berwarna cokelat terang itu melihat siluet seorang wanita. ia telah lama menantinya.

"Baby~yaa" Sosok cantik itu mulai memanggilnya, sedikit merunduk lalu mengulurkan kedua tangan dengan tulus...berharap bocah mungil yang tengah berlari ke arahnya itu lekas menghambur ke dalam dekapannya.

Brugh

"Ahahaha..." Tawa renyah Jaejong mulai terdengar, begitu putra kecilnya melompat dan memeluk erat lehernya. "Uri Baekkie ...sepertinya sangat bersemangat sekali hari ini eum"Ujarnya seraya mengelus punggung sempit itu.

"Uhm...untuk Eomma" Baekhyun sedikit merenggangkan pelukan itu lalu menyerahkan setangkai mawar putih untuk Ibunya.

Sontak, wanita itu membulatkan mata takjub sekaligus senang melihat putranya yang kini menginjak usia 5 tahun itu, menunjukkan sikap semanis ini padanya.

"Jinjjayo? untuk Eomma eum?"

"Neh" Baekhyun menganggukkan kepala cepat.

Namun baik Baekhyun maupun Jaejong tak menyadarinya, jika tangkai mawar itu memiliki duri yang tajam. Hingga tanpa sengaja duri itu menusuk ujung jari Baekhyun saat Jaejongmencoba mengambil mawar putih tersebut.

"Unh! Hks"

"W-waeyo Baby?"

"Sa—kit eomma, hks" Isak Baekhyun seraya menunjukkan ujung jari mungilnya.

Jaejong terbelalak nanar, Ia membekap erat ujung telunjuk itu dan meracau panik. "Tidak! Jangan ada darah! Kau tak boleh terluka Baekhyun! Jangan sampai Dia melihatnya! Tidak! TIDAK!"

Jaejong mendekap erat Baekhyun tak peduli bocah itu mulai menangis ketakutan, wanita itu terus berlari ke dalam rumahnya sendiri. Seakan menghindari, sosok lain yang memang tengah mengawasi keduanya. Ia menutup rapat semua pintu dan jendela,menyisakan setangkai mawar putih yang telah terinjak di setapak taman itu.

.

.

TAP

Seorang berpawakan tinggi, melangkah mendekat...

Mengambil setangkai mawar yang tampak layu, tatapan dinginnya terllihat redup kala melihat bercak darah di salah satu petal mawar putih itu. "Apa kau—

Sosok itu mulai memnghirup dalam-dalam aroma darah dari mawar putihnya

"Berniat menjauhkannya dariku?" Mata amber itu berkilat, menatap tajam ke depan...tepat pada sebuah bangunan besar di depannya.

"Darah yang mengalir dalam tubuh anak itu, adalah milikku" Desisnya, sebelum akhirnya lenyap dalam sekejap.

.

.

.

"Eomma"

Wanita itu, tak ingin menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada jari telunjuk Baekhyun...melilitkan plester luka itu penuh hati-hati di jari putranya.

"Sudah tidak sakit" Cicit Baekhyun, berharap Ibunya tak lagi bersikap panik seperti sebelumnya. "Baekhyun tidak menangis" Bujuk Baekhyun lagi. Namun betapa terkejutnya bocah mungil itu begitu melihat, ibunya tiba-tiba saja menangis.

"Eomma?"

"..."

Jaejong kembali tak menjawab, selain memeluk putra kecilnya itu...dan mengecupi puncak kepalanya. Seakan merasa takut, tubuh mungil itu tak bisa lagi dipeluknya seperti ini.

"Ngh~ hks, j-jangan tinggalkan Eomma" Isaknya sesak.

Baekhyun mengerjap tak mengerti, mengapa Ibunya bicara demikian. Apa dirinya telah berbuat sesuatu yang salah hingga membuat ibunya sedih seperti ini?

Akan tetapi,perhatian bocah mungil itu tersita cepat. Kala caramel eyesnya melihat sosok berbusana hitam di sudut ruangan. Sempat menduga,bahwa itu Ayahnya. Tapi semakin pria itu mendekat, semakin Baekhyun yakin. Itu bukan Ayahnya.

"Eomma, Ahjjusi itu siapa?" Gumam Baekhyun seraya menunjuk pria asing itu.

Jaejong terkesiap. Ia menoleh cepat kebelakang dan menjerit kalap begitu tau sosok pria itu.

"P-PERGIIII!"

Seakan tak cukup dengan reaksi itu, Jaejong kini beralih mendekap Baekhyun. Menyembunyikan putra kecilnya dalam pelukannya sendiri. "Eomma, mengapa Eomma berteriak? Ahjjusi itu—

"Tidak Baekhyun! Jangan melihatnya!"

Baekhyun mengerjap, dan memaksa mengangkat kepala ingin melihat ke depan. "Eomma, siapa Ahjussi—

"EOMMA BILANG JANGAN MELIHATNYA!" Gertak Jaejong, spontan...

Membuat tangisan bocah mungil itu pecah seketika.

"Anak itu telah melihatku" Ujar pria itu tiba-tiba.

Jaejong terhenyak, masih dengan mendekap putranya yang masih menangis...Ia melangkah mundur. Berusaha menghindar sejauh mungkin.

"J-jangan mengambilnya! Jangan mengambil Putraku! C-cari anak lain di luar sana!"

pria itu- Park Chanyeol- hanya terkekeh pelan melihatnya. "Jangan mematahkan janji yang telah kau buat padaku, Byun Jaejong"

Jaejong gemetar, tubuhnya merosot lemah di lantai yang dingin.

"Anak itu telah terlahir. Dia telah melihatku. Dan saatnya nanti...Dia akan menjadi milikku"

"ANDWAEEE!"

"Kau seharusnya tau, bayimu yang semestinya mati itu. Tak memiliki takdir di alam manusia ini"

"PERGI! PERGIIIIIIIII!"

Langkingan Jaejong terus menggema, berbaur dengan tangisan Baekhyun di dalam ruangan itu. Semua kian tak terkendali, namun sosok pria itu telah lenyap entah kemana.

Hingga hadirnya Yunho...mampu sedikit meredam semua jeritan itu.

"Y-yeobo...Wea irrae?"

"Y-yunnie...Bunuh makhluk itu! Jauhkan Dia dari Baekhyun!"

"Makhluk apa maksudmu? Sssshh...tenangkan dirimu, lihat Baekhyun ketakutan melihatmu seperti ini"

.

.

.

Flash Back Off

.

"Eomma! Appa! Hhhh...Hhhh" Baekhyun mendadak bangkit terduduk dan terengah-engah. Selepas bangun dari tidurnya. Bulir bening pun tampak, terbekas di sudut matanya.

"Yooo...Nightmare huh?"

Sosok mungil itu mulai merangkak ke atas ranjang, dan mendekati Baekhyun dengan kerjapan polosnya.

Tapi sepertinya, Baekhyun tak menghiraukan kehadirannya, dan terlihat sibuk mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kamar itu...seolah tengah mencari seseorang.

Namja mungil itu mencibir, tau siapa yang dicari Baekhyun. "Chanyeol Hyung tak ada di sini" Celetuknya.

"Kemana Dia?" Sahut Baekhyun cepat.

"Tch! Kau benar-benar mencarinya rupanya"

Baekhyun mempoutkan bibir, dan lebih memiliih bersila seraya mengais surai acak, khas bangun tidur itu. "Mau apa kau kemari, kepala pink?" Gumam Baekhyun, kali ini sembari mengucek matanya.

"Yack! Sudah kubilang aku punya nama!" Pekik Luhan kesal sambil mengacak rambut Baekhyun, hingga membuat tatanannya semakin kusut. "Panggil aku luhan! LU-HAN!" Ejanya penuh penekanan.

Baekhyun hanya menghela nafas pendek, merasa malas menangapi vampire mungil itu. Ia kembali menghempas tubuhnya ke ranjang, lalu menarik selimut, menutup sampai ujung kepalanya.

"Apa aku sebentar lagi akan mati Lu—han?" Gumam Baekhyun.

Luhan mengernyit. bicara apa manusia itu kali ini...

"Kau masih mengigau huh?"

Baekhyun menggeleng. "Ada yang salah dengan jantungku" Ia menyentuh dada kirinya.

"Jika aku bersamanya, seperti... sesuatu sedang memukul—mukul jantungku di dalam" Ratap Baekhyun, masih dengan mengelus dada kirinya sendiri. "Apa aku sakit?"

Luhan menyeringai, tak perlu dilugaskanpun. Ia tau...apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun. Tapi Ia tak ingin membuka suara, merasa apa yang terjadi pada makhluk beda dunia itu. bukanlah menjadi haknya untuk campur tangan.

Ia beralih mengendap-endap mendekati Baekhyun, menyeringai lebar dengan kedua tangan siap menerkam.

"Luhan—

Baekhyun stagnan, begitu membuka bkanket. dan dua taring mencuat ,terpampang jelas di atasnya.

"A-AAAA~Mphhh"

"Ssst! Jangan berteriak! Aku hanya bercanda" Bisik Luhan, masih dengan menutup bibir Baekhyun dengan tangannya. Ia mengerjap polos,berharap manusia itu luruh.

"Aku hanya bercanda, ayolaah. Chanyeol Hyung bisa membunuhku jika mendengarmu"

"Kemana Dia?" Sahut Baekhyun cepat. Begitu Luhan melepas bekapannya

Luhan kembali memutar mata jengah "Tck! Menyebalkan sekali, untuk apa memintaku menjaga manusia ini" Gerutu Luhan sembari memalingkan wajahnya

"Yya! Aku bisa mendengarmu!"Baekhyun mendelik seraya menarik ujung pakaian belakang Luhan. "Dimana Tuan Vampire?" Lanjutnya lagi memaksa

"Menemui Raja! Puas sekarang? Lepaskan tanganmu!"

"Raja?" Baekhyun mengerjap tak mengerti. "Alam ini ada Rajanya? Seperti apa? Dia tua? Bertaring?" Tanya Baekhyun bertubi-tubi.

"Tentu saja, kami memiliki Raja! Ayah Chanyeol Hyung adalah Raja di sini. Jangan memanggilnya Tua! Dia sama sekali tak menua bodoh!"

Baekhyun membulatkan bibir. "Jadi Tuan Vampire, seorang pangeran?"

Membuat Luhan melotot mendengarnya. "Kau baru mengetahuinya?"

"Uhum" Sahut Baekhyun cepat.

"Ouuuhhh! Manusia macam apa yang kau bawa kemari huh?!"" Teriak Luhan frustasi seraya menghentak kaki. Seakan melempar protes kesalnya pada Pangeran Sulung itu.

Dibandingkan dengan menjaga, dirinya lebih seperti pengasuh Baekhyun. Mengajari dan memberi tau semua hal yang tak Baekhyun ketahui.

"Bukankah sudah kukatakan! Kau pendamping Pangeran Sulung!" Luhan menghempas blanket Baekhyun, memaksa bocah mungil itu lekas bangkit dari ranjangnya. Lalu menarik Baekhyun untuk berdiri di depan sebuah cermin besar dalam ruangan megah itu.

"Park Chanyeol!Tuan Vampire mu itu, Dia pangeranmu" Lanjutnya kemudian, seraya memandang Baekhyun dari pantulan cermin.

"..."

Ah!sejak kapan ada cermin sebesar itu dalam ruangan ini?.
Sejenak, Baekhyun tampak tertegun, melihat pantulan dirinya. Merasa ada yang berbeda dari penampilannya kini.

Kemana kaca mata tebalnya? Pakaian serba tertutup dan kebesaran itu? dan...kemana perginya wajah yang selalu tertunduk itu?

"Itu aku?" Gumam Baekhyun tiba-tiba, tak bermaksud mengalihkan pembicaraan Luhan. Tapi penampilan dirinya kali ini dengan hanya berbekalkan kemeja putih besar itu, benar-benar membuatnya terhenyak, tak habis pikir.

"Why?" Luhan turut penasaran mendengar pertanyaan itu..

"Kaca mataku...a-aku bisa melihat dengan normal, tanpa kaca mataku?" ujar Baekhyun seakan memang baru menyadari semua perubahan itu.

Luhan tersenyum manis mendengarnya. Berjalan selangkah lebih dekat lalu berbisik. "Yya...apa kalian sudah berciuman?"

'Blush'

Baekhyun membekap cepat wajah dengan kesepuluh jarinya. pertanyaan macam apa itu? sangat frontal untuk di dengarnya.

"A-aniyo!"

Luhan mencibir. "Jangan bohong padaku. Pasti Chanyeol hyung sudah menciummu! Baik kau sadar atau tidak, Dia pasti menciummu!" yakin Luhan, menekan kata cium berulang-ulang.

Tak peduli bocah mungil di depannya tampak kepayahan bak kepiting rebus.

"Ciuman vampire memiliki efek penyembuh untuk manusia sepertimu, tak heran jika kau menanggalkan kaca mata itu. Ahahahaha...Chanyeol Hyung pasti menciummu!" Pekik Luhan kesenangan, melihat Baekhyun tampak tertekuk kusut dengan wajah kemerah-merahan itu.

"Lebih lagi, kau akan benar-benar terlihat mempesona setelah kalian melakukan—

Luhan kembali mendekati telinga Baekhyun. "Sex.."

"YACK! BICARA APA KAU!" Seru Baekhyun seraya melempari Luhan dengan buah-buahan segar di sisinya.

"Fakta!" Sahut Luhan sambil menjulurkan lidahnya, lalu melompat kesana kemari menghindari serangan Baekhyun dan terkikik senang.

"Aku tidak akan pernah melakukan itu!"

"Ahahaha...Kau harus melakukannya, karna kau pendampingnya"

"Aku tak ingin menjadi pendampingnya! Kau dengar itu!"

Raut jenaka itu berangsur sirna tergantikan dengan wajah serius. Luhan beralih melayang turun, lalu memegang kedua bahu Baekhyun.

"Kau sudah memberikan darahmu secara suka rela, tak menutup kemungkinan...jika saat ini kau—

Luhan menatap wajah tegang itu dengan antusias, bahkan menahan geli. "Kau menyukainya bukan?"

"A-ANIYO!

"Akui saja, kau memang menyukai Chanyeol Hyung"

Baekhyun menghentak kaki mendengarnya."A-aku tak mendengarmu!" Serunya seraya memutar tubuh dan—

Brugh

Baekhyun jatuh terjengkang, begitu menabrak seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Dear...kau baik-baik saja?"

Baekhyun membulatkan mata lebar. Panggilan itu nyata ditujukan untuknya.

"D-dear kau bi-bilang?" Baekhyun menggeleng panik. Wajahnya kembali memerah...dan sialnya, jantungnya kembali berdebar parah di dalam.

"B-berhenti" Gumam Baekhyun seraya meremas dadanya. "Berhenti bergerak kubilang!" Pekiknya lagi , berharap jantungnya benar-benar berhenti berdetak kali ini.

Chanyeol kembali mengernyit cemas, melihat Baekhyun kembali bersikap aneh seperti ini. sementara vampire mungil di sebrangnya hanya terbahak geli.

"Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" Tekan Chanyeol sembari memaksa menatap kedua mata indah itu. "Katakan jika memang kau merasa sakit"

hingga...

GREB

Tiba-tiba saja,Baekhyun meraih kerah kemejanya dan meremasnya. "A-aku juga tidak tau! Mengapa Dia berdebar gila seperti ini, s-setiap kali kau menyentuhku! Apa yang terjadi padaku huh?!"

Keduanya terdiam. Saling menatap lekat, dengan satu diantaranya penuh dengan semburat merah memenuhi wajah tirusnya.

Sementara Luhan, hanya melirik ke atas seraya bersenandung kecil. berlaga seolah tak mendengar apapun dalam ruangan itu.

"Luhan, tinggalkan kami sendiri" Ujar Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Baekhyun.

"M-mwo? Anniya!" Baekhyun menoleh ke arah Luhan, dan menggeleng panik.

Vampire mungil itupun tampak terkikik, Ia mengangkat sebelah alisnya lalu berjinjit-jinjit seolah ingin terbang. "Dengan senang hati Hyung"

"Y-Yack! Jangan pergi! Lu-Luhan!"

Terlambat...

Ssosok mungil berparas cantik itu, lenyap begitu saja hingga menyisakan keduanya di ruangan yang sepenuhnya senyap itu. Hanya debaran jantung Baekhyun yang sedari tadi terdengar, seakan memantul-mantul tanpa henti.

"Aku bisa mendengar detak jantungmu"Chanyeol mengulas smirk khas miliknya, tatapannyapun semakin intens. Membuat namja mungil itu semakin kelabakan, walau hanya sekedar untuk bernafas saja.

"..."

Baekhyun meneguk ludah payah. Apa artinya rasa paniknya kali ini, jika Ia sudah tertangkap basah seperti ini. Ia menggeliat ingin lepas dari rengkuhan itu, namun seolah menggodanya...

Chanyeol terlihat semakin menarik pinggangnya mendekat.

"Aku tau ini bukan debaran ketakutanmu" Chanyeol mengecup punggung tangan Baekhyun, lalu kembali menatap namja cantik itu.

Habis sudah...

Baekhyun semakin kewalahan menahan rasa gugupnya diperlakukan demikian. Ia melonjak cepat...lalu merangkak demi menghindar.

GREB

Namun naas, vampire itu menarik tangan kanannya, mendorongnya cepat...hingga ia terperangkap di dinding.

"Sentak tubuhku, jika kau tak menyukainya" Bisik Chanyeol, seraya menaikkan dagu Baekhyun.

Baekhyun mengerjap cepat, begitu pria itu memiringkan wajahnya. Baekhyun tau apa yang akan terjadi setelah ini, namun tubuhnya masih bergeming. Tak ingin mendorong Chanyeol ataupun menyentaknya, ia malah terpejam...saat Pria itu benar-benar menyatukan bibir keduanya.

"Mnh~"

Baekhyun melenguh kecil, kala hisapan lembut itu semakin kuat meraup belahan bibirnya. jemari lentiknya meraba-raba dinding berusaha mencari pegangan, hingga Ia kembali dibuat terkesiap kala Chanyeol menangkapnya dan menggenggamnya erat. Bahkan membuatnya saling bertaut pas.

"Mmh~mpfth"

Tak ada protes atau bahkan penolakan dari manusia mungil itu, membujuknya untuk melakukan cumbuan lebih dengan menyusupkan sebelah tanganna ke dalam kemeja Baekhyun dan meraba perut datarnya.

"Ahn~ ahh"

Baekhyun berjengit dengan bibir terbuka, detik itu pula...Chanyeol tak menyiakan kesempatan untuk melesakkan lidahnya di sela-sela pagutan itu.

"Ahmp~ anghh...mmh" Tubuh mungilnya semakin merosot mengikuti cumbuan itu. Membuatnya perlahan terbaring di atas lantai, sementara sosok pria di atasnya masih memagut bibirnya begitu intens.

Sesekali Baekhyun terlihat mengerjap, dan membuka bibirnya demi mencuri udara. Namun yang terlihat...pria itu semakin dalam menjulurkan lidahnya, membuat Baekhyun mengerang tertahan. Tak siap dengan cumbuan sebasah itu, bahkan tak sedikit saliva yang telah bercampur meleleh dari sudut bibirnya.

"Mmhah! Mph! Mmph" Baekhyun mendadak panik, memukul-mukul lengan Chanyeol begitu merasakan pasokan udara dalam parunya kian menipis. Cumbuan itu terlalu menuntut, membuat Baekhyun lupa...bagaimana cara untuk bernafas.

'Chup'

Chanyeol mengecup lama, bibir manis itu sebelum akhirnya mengakhiri pagutan itu. Dan membiarkan namja mungilnya terengah-engah di bawahnya.

"Bernafaslah dengan benar" Bisiknya tepat di depan bibir Baekhyun.

"Nnhh~ hhh...hhh"

Baekhyun menatap sayu, Ia tak tau apa yang terjadi pada dirinya. Pria itu menciumya bahkan dengan sengaja memainkan lidahnya. Tapi entah mengapa tubuhnya seakan takluk, dan menerima semua cumbuan itu begitu pasrah.

Segalanya tersasa berdesir hangat dalam tubuhnya yang dingin. Chanyeol tau penantiannya sedikit demi sedikit mulai tertebus. Baekhyun mungkin belum menyadarinya...

namun ciuman itu, membuatnya yakin...Baekhyun telah menerimanya.

"Kau tak menyentakku?" Lirih Chanyeol, seraya menyeka lelehan saliva di sudut bibir Baekhyun. Menyentuhnya selembut mungkin, seolah...namja mungil itu benar-benar miliknya yang paling berharga.

"..." Baekhyun hanya diam, dan memalingkan wajah ke kanan. Berapa kali harus dilugaskan, ia masih tak mengerti bagaimana mungkin dirinya bisa seperti ini.

Chanyeol berlih mengangkat bridal tubuh mungil itu, mengulas senyum terkulum kala membawa Baekhyun ke atas ranjangnya. Tak peduli jika saat ini, Baekhyun masih menerka-nerka perasaannya, tapi satu yang pasti. Ia cukup tenang mendapat kepastian itu dari manusia mungilnya.

.

.

.

"Jangan diam saja...bicaralah" Ujar Chanyeol seraya mengais surai coklat, dari namja yang masih berbaring membelakanginya itu.

"Ugh! Kau menciumku lagi!" Sungut Baekhyun seraya menjejak kaki.

"Dan kau tak menyentakku"

Baekhyun bedecak, merutuk pada dirinya sendiri. Ah...saat itu Ia tak bisa berpikir rasional. semua terhanyut begitu saja, dan membuatnya bersikap sebodoh itu. Batin Baekhyun.

"..."

"Kau marah?"

"Aniyo!"

"Lalu?"

"..." Baekhyun kembali diam dan lebih memilih memeluk erat bantalnya sendiri.

Chanyeol menatap punggung sempit itu lekat, Ia beranjak mendekat...lalu mengecup pelan pelipis kanan Baekhyun. Membuat pemiliknya berjengit, dan spontan menyentuh bagian yang dikecup itu.

"Tunggulah di sini, aku hanya pergi untuk sementara waktu"

Baekhyun memutar tubuh, dan menangkap cepat pergelangan tangan Chanyeol. "Kau ingin pergi kemana lagi?"

Chanyeol hanya tersenyum, tak memberikan jawaban apapun lalu melenyapkan diri dalam sekejap. Membuat Baekhyun menggerutu kesal.

Merasa...akhir-akhir ini Chanyeol kerap meninggalkannya sendiri. Ah tak taukah tuan vampire itu, ada suatu tempat yang ingin di datanginya kali ini

.

.

.


Baekhyun menghela nafas panjang, kala mengamati pemandangan di luar. Sampai kapan dirinya terkurung seperti ini? Ia memang tau...semua memang demi keselamatannya. Tapi ia pun memiliki rasa jenuh.

Berkali-kali ia mendesah bosan, Baekhyun ingin keluar. Tapi mustahil vampire itu mengizinkannya...ingin meminta pada Luhan, Ah! bocah itu mana bernyali dengan Chanyeol.

Hingga tanpa sengaja tangan mungilnya mendorong teralis jendela puri itu. dan—

"ommo! tidak terkunci?" Pekiknya terkejut kala jendela itu terbuka, karna memang pangeran sulung tak menguncinya kali ini... yakin Baekhyun tak akan pergi kemanapun, magisnya di luar puri sudah cukup melindungi Baekhyun dari vampire lain kecuali keluarganya sendiri

.

Baekhyun tersenyum lebar, kala mencoba menapakkan kaki ke balkon...

ah! sudah lama rasanya Ia tak menghirup udara di luar, meski lembab ...tapi setidaknya Ia bisa merasakan semilir angin dingin dari tempat itu.

Baekhyun mengedarkan pandangan keluar puri, perhatiannya tertuju pada celah di sudut pagar penuh dengan sulur mawar berduri itu. Ia mengerjap , mencoba berpikir cepat.

Hingga rasa penasaran itu, membujuknya untuk menapaki satu-persatu anak tangga penghubung balkon dengan halaman puri.

.

.

"Whoaaa...daebaak" Takjub Baekhyun, begitu melihat...betapa besar puri yang ditinggailinya saat ini.

Baekhyun tau, ia tak memiliki waktu lebih. Namja mungil itu beralih beringsut ke celah dinding...lalu menyusup keluar pekarangan puri itu.

kedua matanyapun kembali membulat penuh takjub, melihat bunga mawar putih tumbuh dan mekar di bawah pepohonan pinus yang menjulang tinggi.

Ia berlari di tengah hamparan mawar itu, dan melompat-lompat antusias. Bermain sebentar tak ada salahnya bukan? Terlebih, Ia merasa seperti merasakan kehadiran Ibunya dengan aroma mawar seperti ini.

.

.

.


Menit berganti jam, Baekhyun nampaknya terlalu tergiur dengan visual tempatnya berpijak kali ini. rangkaian mawar putihpun terlihat melingkar di kepalanya, terlihat jelas...Baekhyun benar-benar menikmati waktu sendirinya kali ini. Hingga tak sadar, Ia terlalu jauh memasuki hutan.

SRAT

Baekhyun terhenyak, dan berhenti memetik tangkai mawar itu. Begitu menyadari sekelebat bayanganan. Ia mengedarkan mata panik, bahkan terlalu kalut. Sadar...tempatnya kali ini. Bukanlah sesuatu yang aman untuknya, berkeliaran seperti ini.

"E-eotohkkae?" Gumam Baekhyun seraya berlari menjauhi tempat itu. Pemikiran akan datangnya sosok vampire mengerikan mulai memenuhi benaknya. Ia terlalu ceroboh! dan Baekhyun sadar itu.

SRAKK

"A-aaaahh!"

"Yack! Kau di sini rupanya!"

"L-luhan" Baekhyun menghambur cepat, dan memeluk perut vampire mungil itu erat-erat. bersyukur, Luhan yang datang.

"Apa kau gila! keluar dari puri! Vampire lain bisa mengincarmu bodoh!" Gerutu Luhan, seraya memaksa Baekhyun untuk lekas berdiri. Beruntung, beberapa saat yang lalu Luhan memang sengaja mengunjungi puri pangeran Sulung, setelah mendengar kabar sang Raja kembali ingin bertemu dengan kedua puteranya. Namun betapa terkejutnya Ia saat mendapati Baekhyun tak berada di purinya.

Dan di sinilah bocah itu, memetik mawar sesuka hatinya tanpa tau bahaya macam apa yang kelak mengincar.

"Bagaimana jika Chanyeol hyung tau huh!" Omel Luhan lagi, seraya menuntun Baekhyun untuk mengikutinya.

"Aku—aku hanya ingin melihat tempat ini sebentar" Baekhyun tertunduk.

SRAKK

Keduanya terkesiap, kala mendengar suara semak itu. Luhan menatap awas ke sekitar, Ia tau sosok yang lain berada di tempat yang sama dengannya. Sementara Baekhyun terlihat menciut dan meremas kuat-kuat pakaian belakang Luhan.

"S-siapa?"Cicit Baekhyun

"Sshhh...diamlah" desis luhan , masih memasang tatapan awas ke sekitar.

,,,,,,

kedua namja mungil itu di buat terbelalak lebar, begitu beberapa sosok berpawakan tinggi kekar tiba-tiba meluncur turun dari atas pinus. Menghentak tanah...membuat debaman keras, hingga Luhan dan Baekhyun terpental.

"Aku menemukanmu..." Seorang pria yang lebih tinggi bernama Jaehyo, terlihat menyeringai...dan melesat mendekati Baekhyun. Tak pelak, Baekhyun yang memang sedari tadi ketakutan itu, beringsut-ingsut kebelakang hingga membuat sikunya lecet.

"Rupanya memang benar, aroma ini bersaal dari tubuhnya. Tch!..tak kusangka menemukanmu di tempat seperti ini. Dimana Pangeranmu hmm?" Zico mulai berdecih

"Menjauh darinya!" Luhan berteriak kalut. "Yack! lari dari tempat ini bodoh!" Teriak luhan lagi, meski Ia tau...itu tak akan berpengaruh apapun. Sekuat apapun Baekhyun berlari, namun tenaga manusianya tak akan sebanding dengan vampire itu.

Luhan memaksa melesat dan menerjang tubuh Zico, memang berhasil membuatnya terjengkang, tapi tak berlangsung lama...begitu pria itu kembali bangkit dan menatapnya tajam.

"Tch! ikat bedebah kecil itu" Titah Zico.

Dan benar saja, beberapa pria itu bergerak cepat memasung tangannya. Luhan sempat berteriak dan melawan, namun tubuh mungilnya tak sebanding dengan tenaga semua vampire besar itu, terlebih jerat tak kasat mata,...kini benar-benar memasung kuat kedua pergelangan tangannya.

"AGH! LEPASKAN AK~MPHHH!" Luhan berontak kasar, Ia semakin tak berkutik begitu bibirnya turut di bekap.

"Haha...berteriaklah sepuasmu" Kekeh Jaehyo usai melumpuhkan Luhan.

Baekhyun, tercekat...Ia tak bisa berbuat apapun dan hanya terisak dalam bisu. Melihat semua orang itu mengikat Luhan.

Ketakutannya semakin memuncak, melihat beberapa sosok bertaring itu mulai beralih mendekatinya.

Tidak!

Mungkinkah mereka akan memangsanya beramai-ramai di sini?

Baekhyun menggeleng kasar, merangkak payah di atas semak penuh dengan duri mawar yang telah mengering itu...hingga membesat, dan membuat kulitnya semakin tergores.

"Hks! C—CHANYEOL!"

"Ah...kau mulai memanggil pangeranmu hm?" Zico kembali terkekeh, merasa puas melihat calon pendamping itu terlihat menggigil ketakutan.

"CHAN—nnhh~"

Jeritannnya tersedak begitu saja, mengiringi tubuhnya yang lungai, ketika Zico menghempas magis mengenai tengkuknya.

"Tsk...semudah ini menghancurkanmu, Park Chanyeol" Desis Zico seraya memanggul tubuh tak sadarkan diri itu,

Ia melenyapkan diri dalam sekejap. tak peduli sorang vampire mungil masih berontak payah dalam cekalan Jaehyo.

.

.

.


Beberapa Jam Kemudian

Kedua mata itu perlahan terbuka, Baekhyun mengernyit menyadari hal pertama yang ia lihat lantai lembab dengan aroma jamur yang menusuk.

"Byun Baekhyun...itu namamu bukan?"

Baekhyun tersentak, Ia memaksa untuk melihat ke atas...namun terlalu sulit. Karna tangannya yang terikat di belakang tubuhnya, hingga Baekhyun hanya pasrah terbaring meringkuk. dan mendengar jeritan seseorang yang dikenalnya.

"Apa kau masih ingin memanggilnya?" Tawar zico seraya menyentuh wajah Baekhyun hingga mendongak kearahnya.

"Panggil saja, Panggil sekeras mungkin...hingga aku bisa menghabisinya di sini"

"Hks.."

"Mengapa menangis hm? Cukup mengejutkan, Dia menahan diri...tak mengubahmu menjadi Vampire" Zico membelai, pipi tirus itu dengan kuku tajamnya. Membuat isakan ketakutan itu semakin jelas terdengar.

Zico terbahak keras. semakin yakin, kemenangan dan tahta itu akan segera jatuh di tangannya.

Ia beralih bangkit berdiri, dan melirik pada seorang pria di seberangnya.

"Awasi mereka...karna Ratu harus tau tentang semua ini" Desis Zico, lalu melesat pergi menembus pepohonan pinus itu, demi menemui Victoria.

.

.

.

Jeritan memekakan Luhan masih menggema memenuhi ruang bawah tanah itu. Tapi semua tak semata membuat, pria bernama Jaehyo itu ciut. Malah...pria itu semakin menatap penuh nyalang pada tubuh ramping di depannya.

"Tck! Simpan tenagamu itu" Jaehyo mulai melangkah, dan berjongkok di depan Luhan.

"Ku bunuh kau!" Sentak Luhan geram.

Jaehyo tertawa keras mendengarya. Menganggap gertakan dan umpatan sosok mungil itu, terlalu manis untuk di dengarnya

"Pertama...aku akan menikmati tubuhmu" Tangan Jaehyo terulur untuk menyentuh wajah Luhan.

"Brengsek! Enyah saja kau! LEPASKAN AKU!" Luhan, kembali berontak payah...namun jeratan magis itu. Membuat tenaganya terbuang sia-sia.

"Lalu setelahnya, aku akan menyingkirkan manusia kecil ini" Ia beralih melirik Baekhyun. "Ah! tak ada salahnya jika aku juga menikmati tubuhnya sebelum membunuhnya bukan?" Desisnya seraya menatap intens, dua namja mungil yang masih terikat di sudut ruangan itu.

Luhan kembali berteriak geram, seseorang seperti Jaehyo hendak menyentuh Baekhyun.

Mungkin seharusnya ia tak perlu terlibat terlalu jauh, tapi Ia merasa...memiliki ikatan lain dengan manusia kecil itu.

Luhan memaksa berontak sekuat tenaga, hingga jeratan magis itu berhasil ia sentak. tak peduli...tangannya kini mulai terkoyak.

"Mati saja Huh!" Teriak Luhan seraya mendorong tubuh Jaehyo hingga tersungkur

BRUGHH

Vampire itu terkekeh pelan, "Kau tau? kekuatanmu tak sebanding dengan wajah manismu" Jaheyo bangkit berdiri. "ah...sejujurnya, telah lama...aku mengincarmu Luhan" Desisnya sebelum akhirnya melesat cepat menerjang Luhan, hingga membuat vampire mungil itu tertindih di lantai. "AHH!"

Baekhyun terbelalak nanar, semakin ia meronta...rasanya semakin kuat pula jeratan magis itu menyerap tenaganya.

Ia merutuk diri, tak mampu berbuat apapun sementara sosok asing itu ingin mencelakai Luhan. Bahkan...Pria itu telah berhasil melucuti semua pakaian Luhan, tepat di hadapannya sendiri.

"Hks...And—wae! Lu—hann!" Lirih Baekhyun payah.

Jaehyo, melirik sekilas mendengar isakan manusia itu.

masih dengan membekap bibir Luhan...Ia mulai mengangkat sebelah kaki vampire mungil itu. "Tenang saja manis...setelah Dia, kaupun akan kumanjakan hahahaha"

.

.

'Tuan...apa kau mendengarku? Ku mohon"

.

.

.

T. Be . Ceeeeee


Next Chapter

"Ku bunuh, manusia itu...jika sesuatu terjadi pada Luhan!" Desis Sehun seraya mencengkeram kerah Chanyeol.

"Singkirkan TANGANMU!"

.

.

.

"A-andwae! Kau berjanji padaku! J-jangan lakukan ini...ku mohon! AHHTT!"

.

.

Jemari mungil itu semakin memutih pasi, kala Baekhyun mencengkeram kuat cover bed di bawahnya, Ia mendongak dan menjerit hebat, begitu sesuatu yang keras serasa mengoyak rektumnya.

"A—AHHHHTT! ANDWAEHH!"

.

.

.

Annyeooooooong

Halloooo...Gloomy datang lagi, bawa chapter enam nyaaaa (Review jusseyooo)

Hayoo gimana dengan chap ini?

Yang nunggu Naena...Chap depan okkay.

Hehe hayo kenapa CY belum ngerubah Baekkie jd vampire?

* Semakin banyak yang respon, semakin cepat Gloomy updatenya

Eh iyaa, sekedar inpoo..(Jaehyo juga anggota Block B) hihihi

Dan untuk:

Tiara696 , gloriadelafenni , Shengmin137 , restikadena90, kiyasita , daebaektaeluv, lily kurniati 77 , YuRhachan, SHINeexo , Incandescence7, babybaekhyunee7 , chanbaek-kuu , mphi , LyWoo , LUDLUD, LittleJasmine2 , chanbaekmama, Park RinHyun-Uchiha , Byunsilb , Eun810, dwi yuliantipcy , deymel9090, n3208007 , yousee , neniFanadicky , Baekbooty , yehet98, guest137 , LittleOoh, Michiyo88, rida, dan All Guest

Terima kasih sudah mereview di chap 5 kemarin.

Review lagi neee...

Annyeoooooooooooooong

Saraanghhaaaaeeeeeee...