Main Cast : Chanyeol X Baekhyun
Other Cast : Kejutan di dalam nyaa :) Hayoo temukan
Disclaimer : Cerita ini pure milik Gloomy Rosemary aka Cupid Kms
.
.
.
.
Previous Chapter
"AARGGHHH!" Victoria menggebrak meja. Tak habis pikir...mangsa yang hanya tinggal diterkam itu bisa lolos begitu saja.
"Aku tak peduli! Baik Zico ataupun kau! Hancurkan mereka! apapun caranya!"
.
.
.
.
Chapter 8
Blood on A white Rose
.
.
.
Dipertengahan malam yang pekat itu, sesosok pria tengah memejamkan mata di atas singgasananya. Ia tidak tidur, meski kelopak mata itu terpejam...namun sejatinya Ia tengah menerawang di balik asanya.
Menilik jauh pada kesalahan masa lalunya, dimana keputusan yang telah ia buat berakibat fatal pada keseimbangan alam ini.
Semestinya ia tak tergiur, dan semestinya Ia tak merajut dusta pada pendampingnya sendiri . Akan tetapi...bujuk rayu wanita itu, seakan menjadi buih racun yang melumpuhkan kuasa dan akal sehatnya.
.
.
"Ayah..."
Pria itu –Kyuhyun- mulai membuka matanya, dan menatap tajam ke depan. Begitu sosok yang dinantinya kini benar-benar berdiri gagah di hadapannya. Sejenak Ia hanya diam, mengamati dengan lekat visual Putranya sendiri.
Tak kurang apapun.
Perawakan tinggi kekar yang menawan, melengkapi pahatan tegas dari wajahnya. Chanyeol sudah lebih dari sempurna untuk merengkuh tahtanya. selangkah lagi...saat dimana tubuh inang itu mengandung janinnya. Maka Chanyeol tak akan diragukan lagi, menjadi penguasa alam ini seutuhnya.
"Bersiaplah untuk bulan purnama kali ini"
Chanyeol terbelalak, menduga suatu yang pelik dari cara bicara itu.
"Karena upacara penyatuan untukmu, akan segera dilangsungkan"
Pangeran Sulung itu terlihat mengeras, kedua tangannya terkepal erat...seakan ingin mengelak semua pernyataan Raja Vampire itu.
"Tidak Ayah, beri waktu hingga bulan purnama ketiga, karena Baekhyun—
"Kau tak akan menunggu hingga inangmu siap. Tahtamu jauh lebih penting dibandingkan manusia itu...Putraku. Atau—
Pria itu beralih menatap lebih tajam ke depan, memperhitungkan keputusannya yang mutlak sebagai Raja Vampire. "Aku yang akan memilih pendamping untukmu, demi menjadikanmu Raja alam ini" Pungkasnya.
"Ayah benar, seharusnya Pangeran Sulung memilih pendamping dari klan vampire. Tak akan menghabiskan banyak waktu seperti ini" Tiba-tiba saja, sosok yang lain turut menyela. Ia tersenyum tipis, sebelum akhirnya memandang saudaranya itu dengan tatapan menuntut.
Chanyeol menyeringai. Menahan dalam-dalam semua amarah itu. Ia bagai melawan arus... bertahan pada pendiriannya, meski nyatanya keluarganya tak berpihak pada pilihannya kali ini.
"Hanya Baekhyun" Gumamnya dengan mata berkilat penuh emosi.
"HANYA DIA SATU-SATUNYA PENDAMPINGKU DI ALAM INI!" Sentaknya lagi, sebelum akhirnya melenyapkan diri, menyisakan kepulan asap pekat di dalam ruangan megah bergaya eropa klasik itu.
"Ayah, jangan biarkan Dia—
Ucapan Sehun terhenti, begitu Ayahnya mengangkat jemari panjangnya. Mengisyaratkannya untuk tetap diam. "Aku mengenal pribadi kakakmu...setidaknya sedikit ancaman yang kukatakan. Akan membuatnya kembali dengan pembuktian, manusia itu layak untuk menjadi pendampingnya" Ujar Kyuhyun setelahnya.
Sehun hanya mengepalkan tangan, tak menduga...Ayahnya hanya bermain dengan ucapannya saja.
Semestinya Ia tak membiarkan Pangeran Sulung itu dimanjakan dengan perasaan sesaat itu.
.
.
Kedua kaki jenjang itu melangkah ringan mendekati ranjang, tepat pada seorang namja mungil yang terlelap begitu nyenyak di atasnya.
Senyum tipisnya tersimpul begitu saja, kala melihat sebelah selimut itu tersingkap memperlihatkan paha putih dengan beberapa kissmark di atasnya.
Chanyeol merunduk, membelai surai Baekhyun ke atas sebelum akhirnya mengecup keningnya mesra.
"Dear.." Gumamnya kemudian, begitu menyentuh wajah Baekhyun.
Ia tak pernah menduga, sedikit bisa nya bisa membuat perubahan sedemikian mempesonanya. Surai yang semula berwarna cokelat gelap itu...kini berubah menjadi pirang kecokelatan. Melengkapi kulit putih yang kian memucat bak porselain. Ah! sangat cantik. Tentu tak ada alasan lain baginya, selain berdecak penuh takjub melihat Baekhyun saat ini.
"Nh~"
Hingga tiba-tiba saja Ia terhenyak, begitu menyadari Baekhyun mulai mengernyit tak nyaman di bawahnya.
"Ha—us! ugh" Baekhyun mendadak bangkit dengan tubuh gemetar, kedua matanya terbelalak. Merasa panas yang hebat serasa membakar kerongkongannya. "AH! hk..HAUS!" jeritnya tiba-tiba,semakin histeris mencakari lehernya sendiri.
Tak pelak membuat Pangeran Sulung itu bergerak cepat menahan kedua tangan Baekhyun, sebelum namja cantik itu benar-benar menyakiti dirinya sendiri.
"HAUS! AKKH!" Baekhyun beralih meraih lengan Chanyeol dan diremasnya kuat-kuat sekan memang tak mampu menahan dahaga yang luar biasa menyiksa itu.
Mungkin terlihat mustahil, namun itu benar adanya... kala sebuah gelas bening berisi cairan pekat telah berada di tangannya secara magis.
Tak butuh lama untuk menerka gerakannya, Pangeran Sulung itu begitu sigap meminumkan darah itu untuk Baekhyun.
"Urmphh!"
Baekhyun menyergapnya cepat saat menghirup aroma darah yang begitu memikat untuknya. Namun karna terengah dan tak sabaran membuat semua darah terbuang percuma, alih-alih terminum...semua terlihat tumpah dan mengalir mengotori leher dan dadanya.
Chanyeol berdecak melihat namja cantik itu tak terbiasa dengan perubahan tubuh dan instingnya. Tak ada opsi lain, Ia beralih menegak sisa darah dalam gelas itu.
Lalu—
"Mpphft~"
Ia menyatukan bibir keduanya, memaksa Baekhyun membuka bibir dan menegak semua darah dalam mulutnya. Semula Baekhyun terlihat meronta dan mengerang, namun rembasan darah yang mengalir menyentuh lidahnya, membuatnya terbelalak lebar dan menyedot kuat-kuat semua darah bercampur dengan saliva di dalam bibir Chanyeol.
"Mrhhh! Mmmmphh" Erang Baekhyun nikmat, kala memperdalam pagutan dan hisapannya. Tak peduli, sebagian darah itu meleleh dari sela bibir keduanya.
Chanyeol hanya tersenyum tipis dan membelai lembut surai pirang Baekhyun, membiarkan namja cantik itu menikmati penawar dari dahaganya.
'Chupp'
Chanyeol mengecup lama bibir kissable itu, begitu Baekhyun telah menegak habis darah dalam mulutnya dan terlihat sedikit lebih tenang.
Bak semilir angin semi, senyum itu terulas begitu saja di bibir tebalnya. Chanyeol kembali merunduk dan menyeka sisa darah di bibir Baekhyun dengan ibu jarinya.
Tak ada gumaman atau bahkan decak yang terdengar, namja cantik itu hanya menatapnya sayu dan perlahan menyandarkan kepalanya di dada bidang Chanyeol.
Terlihat lemas, namun semakin mempesona dengan semburat merah di wajah pucat pasinya. Baekhyun tak sepenuhnya sadar...semua perubahan itu masih membuat pandangannya serasa berbayang.
Dan Ia hanya meyakini, dirinya saat ini tengah bermimpi.
"Lelah hn?" Bisik Chanyeol seraya memberi usapan lembut di pipi kanan Baekhyun.
"..."
Masih saja tak terdengar jawaban apapun, namja cantik itu terlihat pasif dan lebih memilih memejamkan matanya. entahlah...Ia merasa nyaman saat ini, hingga tanpa tersadar kembali jatuh tertidur dalam pelukan pangeran kegelapan itu.
Chanyeol hanya diam bergeming, membiarkan senyum itu tetap terulas menawan di bibirnya. Adakah yang lebih menenangkan selain ini?
Ia rasa tidak!
Hanya dengan merengkuh dan mendengar setiap hembusan nafas Baekhyun yang bisa membuatnya setenang ini.
.
.
.
.
Skip Time
"Apa dia benar-benar menjadi seperti kita?"
"Sssh..pelankan suaramu Kai!" Bisik sosok berambut pink, kesal. Namun tetap mengayunkan kedua kakinya di atas tralis jendela besar itu. Mengamati dengan antusias namja cantik yang kini masih terpejam nyaman di atas ranjang besarnya. Ah! lebih tepatnya ranjang milik Pangeran Sulung.
Kai berdecak, lalu kembali melihat kedepan, mengikuti arah pandang vampire mungil di sisinya.
"Tapi aku masih mencium aroma darah manusia dalam tubuhnya" Gumam Kai, heran.
Luhan melirik sepupunya sekilas, lalu terkikik kecil. "Karna dia memang setengah manusia"
"M-mwoo?"
Kedua manik ruby itu terlihat mengerjap sendu. "Entahlah,kurasa karna Chanyeol Hyung terlalu mencintai anak itu. Dia tak ingin menghapus semua ingatan Baekhyun saat menjadi manusia"
Kai semakin menganga lebar mendengarnya, merasa takjub...Chanyeol mampu melakukannya, oh sungguh! tidakkah Chanyeol harus menahan diri mati-matian, untuk merubah Baekhyun menjadi demikian.
"Daeeebakk! Chanyeol Hyu—
"Nhh~"
Keduanya mendadak terkesiap saat mendengar lenguhan kecil itu, dan begitu menoleh ke depan...keduanya saling bertukar pandang begitu Baekhyun telah bangkit duduk dengan tatapan sepenuhnya datar.
"Baekhyunee!" Pekik Kai antusias seraya melayang turun ingin menghambur cepat.
Namun seketika itu pula—
"AHHH!"
Baekhyun menjerit keras seraya meremas kepalanya, membuat dua vampire muda di dekatnya mendadak panik melihatnya.
"Ada apa?" Tanya Luhan sembari memegangi lengan Baekhyun yang masih gemetar itu.
"M-mataku! Ahh! Apa yang terjadi padaku?!" Racau Baekhyun panik, semakin kalut memegangi kepala dan matanya. entahlah...Baekhyun merasa pandangannya menajam. Setiap fraksi yang dilihatnya begitu detail dan jelas, sungguh Ia benar-benar tak terbiasa dengan penglihatannya kali ini.
"M-musseowoo (Aku takut!)Ahh! Apa ini?!"
"Baekhyun!"Panggil Luhan seraya mengguncang lengannya, berusaha menyadarkan namja mungil itu
"A-ANDWAEEE! AKU—
"BAEKHYUN!" Gertak Luhan sekali lagi. Membuat namja cantik itu terdiam dan menatapnya begitu nanar.
"L-luhan...m-musseowo (Aku takut)" Ratap Baekhyun lirih
Vampire berparas cantik itu menghela nafas pelan, dan beralih menangkup sebelah wajah Baekhyun. "Semua baik-baik saja, tenanglah" Bisik Luhan menenangkan.
Baekhyun hanya menggeleng, apanya yang baik-baik saja. Ia yakin pasti ada yang salah dengan penglihatannya kali ini. Setiap gerakan kecil, bahkan tebaran debu mampu Ia sadari dengan sangat jelas. Dan itu membuatnya pening.
"T-tidak...i-ini mengerikan! M-mataku—
"Dengarkan aku" Tekan Luhan seraya memegang kedua lengan Baekhyun, hingga membuatnya teduduk dengan benar.
Sebelah tangan lentiknya terangkat untuk membelai surai pirang kecoklatan Baekhyun "Lihat dirimu..."
Luhan tersenyum begitu Baekhyun terlihat diam, meski nyatanya anak itu tetap meremas kuat pakaian depannya
"Mata sapphire..." Gumam Luhan sambil menatap lekat kedua mata Baekhyun. "Bibir merah dan kulit putih pucatmu..."
Luhan kembali mengulas senyum "Kau benar-benar memukau...Baekhyun" Lanjutnya lagi, menyadari dengan jelas semua perubahan mempesona dari anak manusia di hadapannya itu.
Baekhyun bak intan terindah di alam ini, sungguh Ia tak pernah melihat makhluk secantik ini sebelumnya. Bahkan Ia merasa,akan banyak vampire alpha yang kelak mengincar setelah melihatnya.
"Chanyeol Hyung harus semakin berhati-hati setelah ini" Kikiknya bercanda. Sementara pemuda tinggi yang lain, masih berdiri kaku di belakang keduanya. Memandang penuh takjub dengan wajah bersemu merah, dan terlihat tak jemu menatap Baekhyun.
"Yeppeoh..." Gumamnya lirih, dan semakin tak tahan melihat kerjapan mata Baekhyun.
"Kai! Singkirkan mata mesummu itu!" Sentak Luhan begitu menyadari gelagat sepupunya.
Seakan tak ingin mendengar, Baekhyun kembali menggeleng, berusaha menuntut jawab.
"A-apa yang kau katakan! Omong kosong apa yang kau katakan?!"
Luhan hanya meneguk ludah payah mendengarnya, sepertinya akan sangat rumit menjelaskan kondisi sebenarnya pada Baekhyun. Jika anak itu sudah menunjukkan sikap yang kontra seperti ini. Ah! mengapa Chanyeol tak kunjung kembali saja. Batin Luhan
"Dia terlalu menyayangimu, tenanglah...kau tak sepenuhnya –
"Menyingkirlah, jika kau tak ingin menyerahkan ragamu untuk alam ini" Tiba-tiba sosok yang lain muncul, membuat ketiganya tersentak terlebih untuk Baekhyun. Ia merasa terancam, dan lebih memilih meremas kuat tangan Luhan.
"SEHUN!" Teriak Luhan, berharap Pangeran Bungsu itu mengerti Baekhyun belum terbiasa dengan fisiknya saat ini.
"Apa kau belum menyadarinya? Setengah dari tubuhmu adalah vampire" Ujar Sehun sarkatis. Membuat Baekhyun tercengang, dan reflek melepas remasan tangannya.
"A—pa mak—sudmu?" Lirih Baekhyun terbata, Ia memang memahami dengan jelas ucapan Sehun. Tapi sungguh! Ia berharap dirinya mendadak dungu, hingga tak mengerti apapun semua kalimat pria itu.
"KAU TAK HARUS MENGATAKAN SEMUA ITU PADA AYAH!"
Seorang yang lain mendadak merangsak masuk, menatap penuh amarah pada pria tinggi dalam ruangan megah miliknya itu.
Tak ada raut terkejut darinya, Sehun terkekeh sinis lalu menatap Baekhyun. "Kau ingin tau? Lebih baik kau bertanya pada pria yang telah bertekuk lutut padamu bukan?" Desisnya dingin seraya melirik Chanyeol di belakangnya.
Suasana mendadak kaku, hanya Sehun yang terlihat bersemangat menggenggam tangan Luhan, menariknya lalu memaksanya lekas pergi meninggalkan ruangan itu. "S-sehun! Tunggu —
"Kau lebih memilihnya?"
"..." Luhan tertunduk, dan terlihat patuh saat Sehun melenyapkan tubuh keduanya
Membiarkan Pangeran sulung itu berkecamuk dengan perasaannya sendiri.
"A—Uhm, s-sebaiknya aku pergi Hyung" Gagap Kai, lalu lenyap begitu saja.
.
.
.
Sejenak hanya hening yang terasa mencekik. Chanyeol tau...dari tatapan itu, Baekhyun sepertinya menyadari sesuatu yang tengah ditentangnya sendiri.
"Apa kau merasa lebih baik?" Chanyeol mulai membuka suara, menatap hangat pada sosok yang kini telah menekuk kedua kakinya.
"..." Tapi Baekhyun tak menjawab dan lebih memilih mengalihkan pandangannya ke sebuah cermin besar di seberang ranjangnya. Tubuhnya gemetar, Ia tau perubahannya sendiri. "B-bukan aku" Gumamnya sangat lirih.
Chanyeol yang melihat tubuh mungill itu kembali bergetar, melesat cepat ingin mendekat...merasa, tubuh Baekhyun sepertinya membutuhkan asupan darah.
Hingga tak butuh waktu lama, sebuah gelas bening berisi darah berada di tangannya.
"Minumlah..."
PRANNKK
Baekhyun menyentak kasar tangan Chanyeol...hingga membuat gelas berisi darah segar itu terlempar begitu saja di bawahnya.
"AKU BUKAN MAKHLUK SEPERTIMU!"
Ia kembali menekuk kaki, dan menyembunyikan wajahnya...
Tak ingin dan tak sudi, melihat dirinya kali ini.
Pangeran Sulung itu hanya diam memandangnya, sejujurnya...Ia merasa sesak. Seakan pecahan beling di bawahnya itu turut menyayat batinnya kala melihat sikap Baekhyun yang kembali menolaknya.
Ia lebih memilih mendudukan dirinya di sisi lain ranjang itu, dan memijit pelipisnya
"Kau membenciku?" Ucapnya getir
"..." Baekhyun tak menjawab, masih kekeuh menyembunyikan wajah di balik lututnya.
"Aku tak peduli jika kau membenciku. Tak akan menghapus kenyataan bahwa kau pendampingku...Baekhyun~ah" Bisiknya pelan
Baekhyun tersentak. "P-pergi" Lirihnya serak
Dan benar saja, Chanyeol melenyapkan dirinya detik itu juga. Meninggalkan Baekhyun yang kini menggigil...bahkan mulai terisak frustasi.
.
.
.
Petang mulai menjelang.
Sosok mungil yang sedari tadi memandangi rembulan dari balik jendelanya itu mulai menghela nafas pelan. Bertanya-tanya mungkinkah pamannya mencarinya? ataukah dirinya dianggap mati dan dilupakan begitu saja?
Ia kembali memandang langit dan tersenyum getir, seakan melihat siluet Ayah dan Ibunya di atas sana
"Jika kematian lebih baik, mengapa aku harus hidup di alam ini?" Gumamnya
Sesaat kemudian Ia melirik sebilah pisau kecil di atas ranjang buah, Baekhyun ingat betul...Chanyeol kerap menggunakannya untuk mengupas semua buah yang diinginkannya . Spontan, Baekhyun terkikik kecil kala mengingat bagaimana dirinya merengek dan menggelayut kekanakan pada sosok vampire itu. Tapi setelahnya Baekhyun menggeleng cepat, merasa tak seharusnya mengingatnya. Dan lebih memilih meraih pisau itu.
Baekhyun memandang kosong kala mengarahkan mata pisau itu di pergelangan tangannya. Bukan kali ini saja ia mencoba mengakhiri hidupnya. Tapi ini terlalu berlebih untuknya, Baekhyun tak bisa terima dengan kenyataan tubuhnya kali ini. Meski benar...Ia terlihat mempesona, tapi bagi Baekhyun itu bukan dirinya.
Ia menggigit bibir bawahnya, sebelum akhirnya—
CRASHHH
Mata pisau itu berhasil menyayat pergelangan tangannya, membuat darah merembas deras dan sebagian menetes mengotori ranjangnya.
Baekhyun mendesis, lalu menghempas tubuhnya diranjang...Sesaat Ia tersengal. Namun tetap memejamkan mata...membiarkan darah terus merembas dari tangan yang telah melunglai di sisi ranjang itu.
"Mppfthh!"
Namun tiba-tiba saja Ia berjengit begitu sesuatu yang berat menindihnya dan membekap bibirnya dengan basah. Baekhyun membuka mata, dan betapa terkejutnya Ia begitu melihat Chanyeol yang melakukan semua itu.
menciumnya bringas, tanpa memberinya kesempatan untuk menarik nafas."Mppfh! Mghh! Nghh"
Baekhyun meronta, berusaha mendorong kasar tubuh pria itu.
Dan begitu terlepas,
PLAKKK
Ia menampar telak wajah pria itu dengan nafas tersengal, hingga membuat Chanyeol memalingkan wajah ke kanan. "B-beraninya Kau—
Baekhyun terdiam begitu melihat tatapan pria itu. Ada yang berbeda dari manik amber itu...seakan-akan Ia bisa melihat sorot getir terbias darinya.
Chanyeol meraih cepat tangan yang telah penuh dengan lumuran darah itu, membuat Baekhyun kembali meronta namun stagnan begitu Pangeran Sulung itu menjilat lukanya dan menghisap darah yang merembas
"NNH!" Pekik Baekhyun ngilu
"Hentikan keinginan untuk mengakhiri hidupmu" Bisik Chanyeol di sela-sela hisapannya. "Kau pendampingku, Kau tak akan bisa mati begitu saja" Tekan Chanyeol seraya menatap lekat kedua mata biru itu.
Baekhyun terbelalak, dan kembali ingin menyentak. Tapi Vampire itu terlalu kuat menahan tangannya di ranjang. "AKU TAK AKAN PERNAH MENJADI PENDAMPING—
"Aku mencintaimu..."
DEG
Baekhyun terbelalak lebar. Bahkan hingga Chanyeol menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya Ia masih terhenyak.
"Aku benar-benar mencintaimu..." Bisik Chanyeol lagi, terdengar frustasi seakan Ia benar-benar menyerah pada namja cantik itu.
"..." Tak ada jawaban, Baekhyun tetap diam...membiarkan pria itu menyandarkan kepalanya di perpotongan lehernya, dan beberapa kali mencium lehernya pelan.
"Ku mohon, tetaplah bersamaku meski kau membenciku ... Baekhyun"
Kedua mata sapphire itu mengerjap dan melirik pada tangannya, ia nyaris memekik begitu melihat luka sayat itu benar-benar telah lenyap tanpa bekas.
Pangeran vampire itu beralih mengangkat tubuhnya, mencoba mengamati lebih lekat wajah namja yang sedari tadi terdiam itu.
Namun nyatanya, Baekhyun lebih memilih memalingkan wajahnya dan memejamkan mata membuat Chanyeol kembali tersenyum getir melihatnya.
"Panggil aku jika kau menginginkan sesuatu" Bisiknya seraya membelai wajah Baekhyun.
"..." Masih saja sikap itu terpaut dingin. Chanyeol tak ingin meregang rasa sesaknya lebih lama lagi, Ia mencium pelan pelipis Baekhyun sebelum akhirnya melenyapkan diri.
.
.
.
Baekhyun membuka cepat kedua matanya selepas kepergian pria itu, Ia mengangkat sebelah tangannya...mengamati dengan seksama pergelangan tangan yang sebelumnya disayatnya itu.
"Benarkah aku tidak bisa mati?" Gumamnya sembari mengerjap. Lalu setelahnya bangkit duduk dan meraba-raba tangannya. Tanpa sadar...Chanyeol sebenarnya tengah mengamatinya dari dahan pinus tak jauh dari purinya.
"Jadi aku makhluk abadi? Jinjja?" Racaunya sambil melompat dari ranjang untuk mendekati cermin besar di dekatnya. Meski berulang kali nyaris terjatuh karna tak terbiasa dengan penglihatannya.
Beberapa kali Baekhyun mengerjap, merasa takjub dengan warna matanya kali ini. Lalu menusuk-nusuk kedua pipinya sendiri. Ia tak bermimpi, visual itu benar-benar dirinya saat ini.
"Ommo!" Pekiknya seraya mematut diri dicermin. Dan melompat-lompat
Entahlah apa yang terjadi...Perasaan tertekan dan takut itu seakan lebur dalam batinnya setelah mendengar ucapan Chanyeol. Dan disinilah namja mungil itu, begitu antusias mengamati dengan detail setiap perubahan dirinya. Meski beberapa kali terdengar menggerutu kesal, menyadari Chanyeol tak memberinya pakaian dalam.
Pangeran Sulung di atas dahan pinus itupun terkekeh pelan, melihat setiap tingkah kekanaknnya.
.
.
.
Esoknya...
Baekhyun menendang angin kosong di depannya. menyadari kesendiriannya benar-benar sangat menyebalkan untuknya. Ia bosan! Jengah! terlalu suntuk!
Berulangkali memanggil Luhan! tapi hanya berbuah nihil!
Ia benci sendiri...dan menggerutu apapun hanya seorang diri. Ah sungguh! itu benar-benar menyebalkan.
Memanggil Chanyeol?
Tentu saja pantang Baekhyun lakukan, serumit dan segenting apapun situasi yang mengepungnya. ia tak akan sudi memanggil pria vampire itu. Gerutu Baekhyun dalam hati
"Hell No!" Pekik Baekhyun seraya bersedekap. Lalu menghempas pantatnya dengan kesal di sofa merah marun.
Tapi Baekhyun masih tak menyadari, Chanyeol mengawasinya dan selalu mengamatinya dari dahan pinus itu.
Kedua mata birunya menelisik ke sekitar, dan pandangannya mulai tersita pada pepohonan rimbun di luar sana.
Baekhyun ingat betul, terakhir kali memijakkan kaki di luar. ia berakhir dengan diculik bahkan ingin di bunuh oleh vampire lain.
Tapi pada akhirnya, hanya Chanyeol yang seharusnya diwaspadai. Namja itu lah yang telah merenggut apapun darinya. Bahkan hingga harga dirinyapun sebagai namja serasa terbanting olehnya.
"Aku tak bisa selamanya terkurung di sini" Gumam Baekhyun sambil mengayun-ayunkan kakinya.
Tiba-tiba saja, Ia tersenyum lebar. "Bukankah aku vampire sekarang?" Pekiknya seraya melompat dari ranjang.
Baekhyun selalu mengingatnya, bagaimana cara Luhan muncul dengan menembus dinding puri ini. Jika Luhan bisa, tentu saja dirinya juga bisa bukan? Jika demikian, Ia bisa memiliki cara lain untuk kembali ke alamnya sendiri.
Baekhyun menarik nafas dalam-dalam, menatap penuh percaya diri pada dinding kokoh di hadapannya. Tentu apa yang dilakukannya membuat Chanyeol mengernyit melihatnya.
"Lihat saja! aku pasti bisa keluar dari sini" Gumam Baekhyun sebelum mengambil ancang-ancang.
Berlari kencang dan—
BUAGHHH
Baekhyun pikir, Ia bisa menembus dinding dengan mudahnya. Tapi nyatanya...tubuh kurusnya terpental dan terkapar di lantai, dengan kening melebam biru.
"A-AAHHHH! APPOO!" Jeritnya seraya menggosok kasar keningnya.
"Tck! Apa yang sebenarnya kau lakukan huh?" Seorang pria tiba-tiba datang, menangkup wajahnya...dan menyingkirkkan rambut yang menutupi kening Baekhyun. Ia semakin berdecak keras, melihat luka lebam di jidat anak itu.
"A-apooo" Adu Baekhyun nyaris terisak, tak sadar...Chanyeol yang kini mengelus kepalanya.
"Berhentilah bersikap bodoh"
Baekhyun tersinggung mendengarnya, Ia membuka mata lebih lebar dan terkesiap begitu menyadari itu Chanyeol.
"Mau apa kau kemari?! Pergi!" Sentak Baekhyun tak suka, Ia memilih merangkak menjauhi pria itu. Namun Chanyeol menyergap cepat tubuhnya di dinding, kembali menangkup wajah tirusnya lalu menjilat pelan, luka lebam itu.
"Nh~"
Spontan, Baekhyun melenguh kerenanya. namun cepat-cepat Ia menutup bibirnya sendiri dengan kesepuluh jarinya. Merasa tak seharsunya ia mengeluarkan suara semacam itu.
"J-Jangan menyentuhku!" Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol lalu bangkit berdiri untuk menjauh.
"Jangan melakukan apapun yang bisa melukai dirimu sendiri"
Baekhyun mendelik. "Mengapa kau mengaturku?! Apa kau tak puas mengambil kehidupan manusiaku?!"
Chanyeol hanya memandangnya redup. Ia tau namja cantik itu masih tak bisa menerima kenyataan dirinya telah menjadi setengah vampire.
"Dengar... Aku hanya ingin melindungi—
"Apa kau pikir aku senang, meminum darah menjijikkan itu?! Tidak! Aku membencinya!" Sentak Baekhyun semakin meninggi.
"Tak perlu melindungiku! Hidup dan matiku, aku tak peduli! Biarkan aku pergi, aku ingin kembali ke alamku!"
DEG
Chanyeol mengepalkan tangan kuat. Sikap namja cantik itu...seakan menunjukkan semua jerihnya hanya berbuah percuma. Tak taukah Baekhyun, hanya dirinya tempat untuk kembali. Ia berusaha meredam ego dan mementingkan semuanya untuk Baekhyun. Tapi nyatanya...semakin Ia mencoba mendekat, semakin tinggi pula emosi namja cantik itu.
"Jangan mengikatku! BIARKAN AKU PERGI!"
"Baiklah...lakukan semaumu" Lirih Chanyeol seraya memutar tubuh membelakangi Baekhyun.
Baekhyun sedikit tersentak mendengarnya, meski samar...Ia merasa kehilangan dengan jawaban itu.
Tanpa berucap apapun, Baekhyun berlari menuju balkon puri. lalu melompat kebawah..dan berlari kencang keluar. Mengikuti jalan setapak penghubung hutan itu.
Sementara Chanyeol hanya memandangnya sendu, terlalu sesak melihat siluet mungil itu semakin jauh meninggalkannya. Meski demikian, Ia tetap beranjak dan melesat mengikuti jejak Baekhyun.
.
.
.
Siluet hitam itu begitu lihai melesat dan menembus pepohonan pinus yang menjulang tinggi di sekitarnya. Kedua matanya menajam. Mangawasi penuh pada pergerakan namja mungil yang masih berlari mengejar keyakinannya itu.
Biarlah kali ini membiarkan Baekhyun mengikuti keinginannya, akan Ia tunjukkan seberapa piciknya alam manusia yang diharapkannya itu.
.
.
"Dimana ini?" Gumam Baekhyun seraya mengedarkan pandangan kesekitar. Ah! Ia merasa buntu dengan semua semak belukar di sekitarnya.
Chanyeol menggerakkan magisnya, hingga sebuah lubang besar yang silau tiba-tiba muncul di balik semak itu. Baekhyun semula terkejut, tapi Ia tetap melangkah mendekat. Yakin...lubang itu pintu dua dimensi. Seperti yang kerap dilihatnya dalam film fiksi.
Baekhyun benar-benar memijakkan kakinya ke dalam lubang itu. Hingga...tubuh mungil itu lenyap dalam sekejap.
.
.
.
"Ugh!"
Jerit klakson dan paraunya lalu lalang kota, mulai bergemuruh memenuhi kepalanya. Membuatnya reflek menutup telinga dengan kedua tangannya. Baekhyun benar-benar tak terbiasa dengan suasana ini. Setelah sebelumnya selama berbulan-bulan lamanya berada di tempat yang sepenuhnya senyap dan tenang.
Tapi sesaat kemudian, ia mulai membuka mata dan perlahan menurunkan tangannya.
Senyum manisnya terlulas begitu saja, kala melihat lalu lalang di hadapannya. Dirinya benar-benar berpijak tepat di sebuah pusat perbelanjaan besar. Baekhyun melangkah cepat mendekat, berlarian ke sana kemari, tak peduli beberapa kali menabrak pengunjung . ah! Ia benar-benar merindukan semua suasana ini.
Namun, jauh di belakangnya. Seorang pria tinggi masih mengawasinya, Ia berpakaian sangat sempurna...balutan mantel dan topi hitam di kepalanya membuat penyamarannya semakin menawan di antara hiruk pikuk pusat perbelanjaan itu.
Baekhyun mengerjap begitu melihat begitu banyak sajian ice cream di sebuah stand perbelanjaan itu. Tanpa pikir panjang, anak itu berlari mendekat memekik pesanannya.
"Ahjjussiii...aku ingin rasa strawberry!"
"Ah ne..ne tunggu sebentar nak" Ujar Penjual itu seraya menyiapkan pesanan Baekhyun
"Ahahaha...kau tampak bersemangat sekali nak, ini pesananmu"
Baekhyun meraihnya dengan sangat antusias, merasa takjub dengan warna kesukaan yang begitu memikatnya itu.
"Kau memiliki mata yang sangat indah" Ujar penjual itu lagi dan Baekhyun hanya tersenyum manis mendengarnya. "Sekarang...bayar ice cream itu nak" Bujuk Penjual itu ramah.
Baekhyun terhenyak. Sadar...Ia kemari tanpa berbekal apapun. "A-ahjjusi...a-aku tak m-memiliki uang"
Pria paruh baya itu mendadak mengeras mendengarya. "Apa?! Jika kau tak memiliki uang, mengapa kau memesannya?! Aku menjual! bukan untuk memberi secara cuma-cuma seperti ini!"
Baekhyun menunduk, mengamati dengan penuh sesal pada ice cream yang belum sempat dicicipinya itu. dan membiarkan setiap creamnya meleleh dan menetes ke bawah mengotori tangannya.
"M-mianhae Ahjjusi"
"Aiiissshh! Orang-orang sepertimu hanya membuat bangkrut saja! Tck! Lihat anak ini...tak memakai alas kaki apapun! argh! Seharusnya aku tau dari penampilannya Dia hanya seorang—
"Berapa harganya?" Baekhyun terhenyak begitu seorang pria mendekat, dan membayar ice cream itu untuknya.
Baekhyun mengerjap, merasa asing dengan pria itu. Karna Ia benar-benar tak mengenalnya.
"Cha...aku sudah membayarnya. Tak perlu mencemaskan apapun" Ujar Pria itu seraya melingkarkan tangannya di pundak Baekhyun.
Anak itu masih mengerjap kebingungan, tapi Ia tetap berjalan mengikuti langkah pria itu.
"T-terima kasih" Lirih Baekhyun tertunduk,
"Siapa namamu?" Bisik Pria itu, sesekali Ia mencuri pandang pada paha Baekhyun. Karna memang...Baekhyun hanya mengenakan selapis kemeja putih besar, dan itu milik Chanyeol
"B-baekhyun" Gagap Baekhyun
"Hm, nama yang bagus. Aku Yong Guk"
Baekhyun hanya mengangguk mendengarnya, dan tetap berjalan tanpa sadar Ia telah digiring menuju tempat yang sepi.
"Mengapa kau hanya membiarkannya saja? Lihat ice cream itu semakin meleleh mengotori tanganmu Baekhyun" Ujar Yong Guk, kini ia mulai berani menggerakkan tangannya turun meraba pinggang Baekhyun.
Baekhyun yang sadar, cepat-cepat menggeser tubuh untuk menjauh dan membungkuk sungkan.
"N-ne, aku akan memakannnya Yong Guk-ssi" Ucapnya seraya menjilat cream itu, namun tiba-tiba—
"Umph!" Baekhyun membekap bibirnya sendiri, begitu merasakan mual yang hebat dan membanting asal ice creamnya. Apa yang terjadi? mungkinkah ice cream itu mengandung racun
"W-wae? Apa kau sakit?"
"Umph! Uhukk!" Baekhyun muntah begitu saja, dan begitu payah menekan perutnya sendiri.
"Ne...ne...ne, kau benar-benar sakit rupanya...manis" Gumam Yong Guk, seraya memijit tengkuk Baekhyun. Namun dibalik sikapnya, Ia mulai menyeringai. dan melihat kesekitar...mencari-cari tempat yang lebih sepi.
"Ah! sebaiknya kita beralih tempat, untuk membuatmu lebih baik" Gumam Yong Guk seraya membopong Baekhyun, dan membawanya ke tempat asing.
.
.
Baekhyun mendadak panik, begitu sadar gerak gerik mencurigakan pria itu. Ia meronta ingin turun dengan memukul-mukul lengan Yong Guk.
"M-mau apa kau?! Turun! Turunkan aku!"
"Oh Shit! Beraninya kau memukulku!" Gertak Yong Guk seraya menghempas tubuh Baekhyun, lalu menindihnya cepat.
"A-ah! Lepaskan aku!"
"Tch! kau berpakaian seperti ini bukankah memang untuk menggoda hm?"
"T-tidak! Ku mohon ...lepaskan aku!"
Yong Guk berdecak, merasa...Baekhyun tengah jual mahal dengannya. Ia menahan kedua tangan Baekhyun...lalu menyerang perpotongan lehernya. Menjilat dan menciuminya begitu bringas.
Baekhyun menjerit keras, dan berusaha mendorong tubuh kekar itu. Tapi sesuatu yang lain terjadi...aroma karat mulai menusuk indranya. Dengan jarak sedekat ini, Baekhyun bisa menghirup desiran darah dari manusia itu. Ia menyeringai ...lalu—
"A-ARGGHHHHH!"
Pria itu meraung parau, begitu taring tajam itu benar-benar menusuk telak pusat nadi di lehernya. Dan semakin parah menggelinjang, kala Baekhyun menghisap kuat darahnya...seakan tak ingin menyisakan setetespun darah dalam tubuh pria kekar itu.
"AAAAAHHHHH! VAMPIREEE! VAMPIIIIIIREEE!"
Tapi jeritan seorang wanita membuatnya berjengit, dan melepas paksa gigitannya. Ia bangkit terduduk...namun betapa terkejutnya Ia kala melihat, puluhan orang telah berdiri mengelilinginya.
"Dia menerkam Pria itu!"
Baekhyun melihat ke bawah, tepat pada Yong Guk yang terkapar dengan luka lebar di lehernya. Baekhyun terperanjat, Ia mengusap bibirnya sendiri dan makin tercengang melihat darah itu benar-benar nyata.
"T-tidak! Aku tidak menggigitnya!" Panik Baekhyun seraya menggelengkan kepala.
"Dia berbahaya! Tangkap! dan bunuh saja!"
Seru pengunjung yang lain, membuat Baekhyun semakin panik dan ketakutan melihat ratusan orang kini mengepungnya, dan sebagian membawa senjata tajam.
Apa yang terjadi di sini?
Mengapa semua mendadak seperti ini?
Bukankah Ia yang semestinya ditolong. Pria itu yang menyerangnya, pria itu ingin mencelakainya...tapi mengapa semua orang itu melempar semua prasangka itu tanpa mendengarkannya barang sedikitpun?
"Tembak! Tembak Vampire itu! Cepat!"
"Hks!A-andwae" Baekhyun semakin memucat pasi, Ia benar-benar ketakutan...tak tau dan harus kemana Ia melindungi dirinya sendiri.
SRATTT
Seorang pria berbusana hitam tiba-tiba menghadang, mengibaskan mantelnya di antara manusia-manusia itu. Lalu mengangkat bridal Baekhyun dan membawanya melesat pergi.
"Kemana?! Kemana makhluk itu?!"
"Dia menghilang?!"
"H-hantu!...Vampire!"
"Tempat ini tidak aman! Cepat pergi dari sini!"
.
.
.
.
.
"M-musseowo! (A-aku takut!)" Baekhyun semakin erat merangkul leher pria yang masih menggendongnya bridal. Keduanya kini tengah melesat, melampaui gedung-gedung pencakar langit di tengah kota Seoul itu.
"Hks! Mereka ingin membunuhku! M-musseowo!"
Pria itu- Chanyeol- Hanya memejamkan mata sesaat, dan mengecup sayang puncak kepala Baekhyun. Membiarkan namja mungil itu meracau, dan merangkul kuat dirinya...berusaha mencari perlindungan.
"Kau bersamaku Baekhyun" Bisiknya menenangkan.
Baekhyun menggeleng kasar, seakan tak ingin mendengar. "M-mengapa kau meninggalkanku?! M-mengapa kau membiarkanku sendiri?!"
Chanyeol terdiam.'Kaulah yang melangkah ingin meninggalkanku ...Dear' Gumamnya dalam hati, seraya mengeratkan pelukannya. Mendekap tubuh mungil itu penuh perlindungan.
"Ketahuilah...hanya aku, satu-satunya tempatmu kembali...Baekhyun"
.
.
.
.
TAP
Kaki jenjang itu melangkah perlahan menapaki satu-persatu anak tangga berkarpet merah di dalam purinya. Ia tersenyum tipis, menyadari namja yang sedari tadi meracau ketakutan itu...kini telah terlelap pulas dalam rengkuhannya.
Beberapa pelayan terlihat menawarkan diri ingin membantu, tapi Chanyeol menolaknya secara tersirat. Dan kembali melangkah pasti, membawa tubuh mungil itu ke dalam kamarnya.
.
.
"Alam itu...terlalu kejam untukmu" Bisiknya, saat membaringkan tubuh ramping itu di ranjangnya.
"Takdirmu, hanya di sini...bersamaku" Lanjutnya lagi, sembari melumat lembut bibir tipis itu
"Mnh~"
.
.
Lima hari berselang
Tak ada perubahan apapun yang terlihat. Sikap itu sejatinya tetaplah dingin, Baekhyun kerap menghindar seakan tak tersentuh. Namun...Pangeran Sulung itu tak menyerah menekan perasaannya, dan menganggap sikap dingin itu hanya lelucon Baekhyun kecilnya. Oh demi apapun itu. Baekhyun benar-benar membuatnya bukan menjadi pribadinya sendiri. Karna ia tak pernah sesabar ini sebelumnya.
"Ugh!" Baekhyun terlihat menggeser tubuhnya, dan menekuk kakinya diranjang begitu Chanyeol beringsut naik ke atas ranjangnya.
"Aku kemari hanya untuk tidur" Ujar Chanyeol sambil terkekeh dan mencoba menyentuh wajah Baekhyun. Tapi anak itu mengelak, dan tetap berusaha memunggungi pria itu.
"Kau masih tak ingin bicara denganku?"
Baekhyun menghempas tubuhnya diranjang, lalu menarik selimut hingga sebatas kepalanya.
"..."
Suasana kembali hening, tak ada satupun yang membuka suara dan itu membuat Baekhyun mengernyitkan dahi kesal, meski sebenarnya Ia tau...seharusnya dirinya tak bersikap penuh ego seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia masih tak terima kenyataan Pria itu merubahnya menjadi makhluk setengah vampire seperti ini.
"Aku tak menghisap darah dari manapun kecuali pendampingku" Gumam Chanyeol tiba-tiba. Membuat Baekhyun di balik selimut itu membulatkan mata lebar, takut kalau-kalau Chanyeol menyerangnya setelah ini.
"Bisakah aku menghisap darahmu malam ini?"
"..."
Chanyeol mengernyit melihat Baekhyun tak menjawab dan lebih memilih menggelung selimut lalu beringsut-ingsut menjauh, bak seekor ulat. Hingga—
BRUGHH
"Urghh!"
Ia terjatuh begitu saja dari ranjangnya, membuat Chanyeol terbelalak panik dan melesat turun menghampirinya.
"Kau baik-baik saja? Dimana—
"S-sangat baik!" Sahut Baekhyun, seraya bengkit dan menyudutkan dirinya di dinding...seakan tak ingin disentuh oleh pria vampire itu, lalu memalingkan wajah ke kanan.
Chanyeol berdecak melihatnya, ia memaksa mendekat dan mengangkat bridal tubuh mungil itu tanpa peringatan
"A-AHH! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Ronta Baekhyun, begitu pria itu membawanya kembali ke ranjang dan menghempasnya.
"Unn! Le—pas! Mau apa—
"Dengar" Sergah Chanyeol, dan Baekhyun terdiam...bukan karna takut. Melainkan sesuatu kembali berdebar di dalam dadanya kala melihat tatapan tajam itu.
"Tenang dan tidurlah...aku akan tidur di sana" Lanjut Chanyeol seraya menunjuk sofa merah marun di sebrang ranjangnya.
Baekhyun mengerjap, tapi kemudian memalingkan tubuh selepas Chanyeol melangkah meninggalkannya dan menduduki sofa itu, mencoba untuk memejamkan kedua mata tegasnya.
.
.
Baekhyun meliriknya sekilas...dan mendengus lirih begitu merasa pria itu sepertinya telah tertidur.
"Jangan mendekatiku!" Gumamnya seraya menarik selimut.
Chanyeol membuka matanya, lalu tersenyum tipis. Ia beralih memandang langit di luar...tepat pada bulan yang masih bersinar terang. Tatapanya seketika meredup menyadari purnama akan berlangsung 1 bulan ke depan.
"Aku tak ingin menyakitinya...Ayah" Gumamnya sembari memejamkan matanya kembali
.
.
.
.
.
Beberapa Jam Kemudian
"Ngh!"
Baekhyun terbangun, sambil memegangi lehernya, Ia mengernyit merasakan dahaga yang berbeda kembali menyergap.
Beberapa kali Baekhyun mencoba mengedarkan pandangan ke sekitar, terasa putus asa kala tak menemukan apa yang di carinya.
Baekhyun nyaris terisak. Namun ia lekas bangkit begitu melihat Chanyeol yang masih terlelap di sofanya.
Namja mungil itu berjalan gontai untuk mendekat, lalu merangkak naik ke atas pangkuan Chanyeol dan menyandarkan kepalanya di dada Pria itu.
"Mmh.."
Chanyeol mengernyit begitu merasakan sesuatu menekan dadanya, Ia membuka matanya perlahan..dan terbelalak melihat Baekhyun meringkuk di atas pangkuannya dengan nafas tersengal.
"Baekhyun?" Panggilnya, seraya menyentuh punggung sempit itu.
"Ha—us" Lirih Baekhyun.
Pria itu beralih menangkup wajahnya, dan menatapnya lebih lekat. Dadanya kembali berdesir melihat Baekhyun memandangnya dengan tatapan pias. Membuatnya tak tahan untuk mengecup bibir mungil itu
'Chupp'
"Nnh! hks!" Baekhyun merajuk sambil memukul dada Chanyeol. Bukan kecupan itu yang diinginkannya, melainkan sesuatu yang lain untuk melenyapkan rasa hausnya. Chanyeol terkekeh melihatnya, Ia membelai surai Baekhyun ke atas, sebelum akhirnya menjentikkan jari...dan sebuah gelas berisi darah muncul secara magis dalam genggamannya
"Apapun untukmu ... Dear" Bisiknya, seraya meminumkan darah itu untuk Baekhyun.
Tak dipungkri, Baekhyun memaksa mengambil alih gelas itu, dan menegak rakus cairan beraroma karat itu.
"Pelan-pelan saja" Bisik Chanyeol sambil mencium mesra pipi Baekhyun.
PRANKK
Baekhyun menjatuhkan gelas itu, begitu menegak habis semua isinya. Ia tak peduli dengan serakan beling yang dibuatnya, dan lebih memilih kembali menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol. Membiarkan pria itu memberinya usapan-usapan lembut di kepalanya.
"Mengapa kau tak membiarkanku mati saja?"
Chanyeol tertegun mendengarnya. Apa Baekhyun tengah mengigau...atau memang sebenarnya ingin membuatnya melugaskan perasaannya di sini?
"Bukankah sudah jelas...karna aku menginginkanmu hidup bersamaku" Jawabnya seraya memainkan jemari Baekhyun. "Jangan bermain dengan pisau itu lagi, Kau bukan anak kecil, berapa kali aku melihatmu—
"Berisik sekali! Apa kau ibuku?!" Gerutu Baekhyun, merasa kesal dengan ucapan yang terdengar seperti omelan itu.
"Bukan..." Bisik Chanyeol sambil menaikkan dagu Baekhyun hingga menatap padanya.
"Tapi aku hanya pria yang mencintaimu" Lanjutnya seraya mengecup jemari lentik Baekhyun. Tak ayal...membuat wajah manis itu bersemu merah mendengarnya.
Cepat-cepat Baekhyun memalingkan wajah, bahkan menenggelamkannya di dada Chanyeol. "A-apa yang kau katakan?! I-itu terdengar me-memalukan!" Gerutunya tergagap, merasa panik dengan deguppan keras dalam dadanya.
Pangeran Sulung itu mengerjap, apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Sebentar Ia melihat Baekhyun membencinya, sebentar bersikap dingin padanya...dan kini Ia melihat semua kembali tersambut hangat dengan rengekkan dan sikap kekanakannya. Seakan, Baekhyun memang telah menerima dan terbiasa padanya.
"Apa kau menyukaiku?" Tanya Chanyeol mencoba peluang.
Baekhyun meneguk ludah payah mendengarnya, cepat-cepat Ia bangkit ingin beringsut turun dari pangkuan Chanyeol "A-aku ingin kembali tidur saja"
Tapi sayang, gerakannya kalah cepat dengan rengkuhan Chanyeol di pinggangnya.
Pangeran Sulung itu menyeringai, saat menarik tubuh Baekhyun lebih dekat.
"Kau..." Chanyeol menatap lekat wajah baby face itu, menyusuri setiap pahatannya dari mata, hidung...hingga bibir merah merekahnya. Semuanya benar-benar sempurna di matanya. "Cantik..." Bisik Chanyeol sembari mendekatkan bibir keduanya. Baekhyun mengerjap panik menyadari gerak-gerik itu, Ia berusaha menunduk, namun—
Chupp
"Mnh~ Mpfthh..." Ia hanya bisa melenguh pasrah, kala bibir tebal itu memagut lembut bibirnya. Memberinya hisapan dan lumatan-lumatan kecil yang terasa berbeda.
Semula Baekhyun ingin meronta, tapi entahlah...kedua tangan ramping itu reflek terangkat dan merangkul leher Chanyeol. Merelakan, Pangeran Sulung itu mengklaim penuh bibir tipisnya.
Sepertinya terlalu lama Ia tak merasakan cumbuan ini, dan kini rasanya...Ciuman Chanyeol terlalu membuai.
"Mhmm ...ahnn~"
Baekhyun berusaha membuka mata, namun belaian panas di langit-langit mulutnya membuatnya menggigil dan kembali terpejam erat. Berkalipun Ia mencoba untuk mengais nafas...hanya berakhir tersedak oleh desahannya sendiri.
"Ughnn~..Ah!" Pekik Baekhyun, ketika menyadari tangan dingin Chanyeol menyusup masuk kedalam kemejanya dan menyentuh nipplenya. Tapi Ia tak bisa melihat ke bawah, begitu Chanyeol merengkuh tengkuknya dan makin memperdalam cumbuan lidahnya.
"Mnh! Nnnn~" Jerit Baekhyun tertahan, kedua mata sapphirenya kembali membulat lebih lebar...saat tangan nakal itu kini beralih memelintir nipplenya tanpa bisa dicegah. Baekhyun mengerjap panik, ia tak terbiasa menerima sentuhan ini. Membuai memang, tapi perutnya mengeras tegang dan Ia tak tau bagaima cara meredam desahannya sendiri.
"Mpfahh! ahh...hahh" engah Baekhyun kala pagutan itu terlepas, Ia menggenggam tangan kanan Chanyol yang masih memijit-mijit nipplenya, berusaha untuk menghentikannya. Tapi sialnya, tangan itu mulai bergerak turun kebawah...menelisik celana dalamnya dan mengeluarkan sesuatu yang telah tegang sedari tadi dan mengocoknya naik turun.
"A—ahh! Noo!..Mhhh! C-chann!"
"Sshh...nikmati saja" Bisik Chanyeol seraya menjilati leher Baekhyun. Sementara lidah dan tangan kanannya memanjakan namja cantik itu.
Tangan kirinya begitu lihai melepas satu-persatu kancing kemeja Baekhyun, dan menarik turun underwearnya. Membuat Baekhyun nyaris naked total kecuali kemeja putih yang melorot memperlihatkan punggung dan pundak mulusnya.
"Dear..." Desah Chanyeol seraya menyesap daun telinga Baekhyun, tak pelak Baekhyun menjerit nikmat di atas pangkuannya.
"Ahhh! Mmmmm"
.
.
Setiap sengal nafas berbaur bersama kecipak saliva. Begitu panas...begitu penuh gairah, seakan mampu meleburkan suhu beku di luar sana.
Desahan Baekhyun masih saja menggema, terdengar binal...kala namja tampan itu beralih menggerakkan jemari panjangnya, meraba rektum Baekhyun di bawah sana.
"Nnhh~ ahh!"
"Rileks.." Bisik Chanyeol, seraya mengangkat kaki yang menjuntai dari pangkuannya itu. Menekuknya ke atas...hingga kaki Baekhyun benar-benar merangkul pinggangnya.
"A—aa" Baekhyun menahan nafas, saat satu jari panjang itu bergerak perlahan menusuk anusnya, pandangannya meredup sayu...dengan bibir basah setengah terbuka. Seakan menunjukkan, namja cantik itu beanr-benar dibuai kenikmatan.
"shit!" Chanyeol menggeram pelan, ah sial! ekspresi macam apa yang dibuat Baekhyunnya kali ini, membuatnya terangsang hebat. Dan kembali meraup bibir itu dengan tak sabaran, jemari panjangnya pun kembali melesak lebih dalam. Bahkan menambah tiga jarinya sekaligus. Memaksa lengkingan Baekhyun kembali vokal memenuhi kamar megah itu.
"Ahhh! Mmp~Aaahhh!"
Chanyeol tak menduga, malam akan berpihak padanya seperti ini. Ah sungguh! tak pernah sedikitpun telintas dalam benaknya, Baekhyun akan datang padanya, merengek dan membuka semua sekat itu untuknya.
Setiap desah dan remasan tangan mungil itu, membuatnya yakin... tubuh itu telah menyambutnya bahkan mungkin tak bisa lepas darinya. Dan betapa besar harapannya, Ia bisa memiliki hati namja cantik itu seutuhnya.
"Nhhah! ahhh!..ackkkh!" Baekhyun merangkul kuat-kuat leher Chanyeol, berulang kali Ia mencoba mengangkat pinggulnya...berusaha menjauhkan rektumnya dari jari-jari panjang itu, Tapi selalu saja gagal dan berakhir dengan desahan keras, begitu Channyeol menekan pahanya...memaksanya tetap terduduk di atas pangkuan namja tampan itu. dan menerima tusukan demi tusukan tiga jari yang sedari tadi bersarang di lubang analnya.
"Ahnn! Ahh...a-aku! Nhh! Ti—dak bisaah! Ahh! ACKKH!" Baekhyun menggigil dengan dada membusung ke depan, saat klimaks itu menyentak mengotori perut dan dada keduanya.
Baekhyun melunglai lemas, dan jatuh begitu saja dalam pelukan Chanyeol. tak peduli.. cairan orgasme itu semakin membuat tubuh keduanya lengket. "L-lelah...Cu—kuph...hhh...hhh" Gumam Baekhyun sembari memegang tangan Chanyeol, berusaha menarik keluar tiga jari itu dari rektumnya.
Tapi tiba-tiba saja Ia terperanjat hebat, begitu pria itu menukar posisi keduanya. Hingga dirinya yang kini terbaring si sofa dengan Chanyeol di atasnya.
Baekhyun meraba-raba pegangan sofa dengan panik, berniat untuk bangkit. tapi naas...tubuh mungilnya kembali terseret begitu Chanyeol menarik kedua kakinya dan mengalungkannya di pinggangnya.
"Kau menyukaiku?" Tanya Chanyeol untuk kesekian kalinya, senyum menawannya kembali terulas kala melihat paras cantik itu penuh dengan semburat merah. Tanda...
Baekhyun benar-benar tersipu olehnya.
Tak sempat untuk menunggu jawaban namja cantik itu, Chanyeol lebih memilih mengeluarkan penisnya dan menggesekkan ujung kepalanya di bibir rektum yang telah berkedut itu.
"Mmh! Apa yang kau lakukan ?! Nn~ ahh!"
"Menikmati, apa yang menjadi milikku" Bisik Chanyeol sensual di telinga Baekhyun...Ia menjilat leher putih itu sekilas, sebelum akhirnya mendorong penuh pinggulnya hingga-
JLEBB
"ARRHTTT!" Baekhyun menjerit, dan mencakar kuat-kuat lengan Chanyeol begitu genital besar itu melesak masuk hanya dalam sekali dorong. "AHHH! AHTTT"
Terlalu sakit...tapi tak sempat untuk kembali menjerit, kala penis itu bergerak kuat...keluar masuk. Membuat tubuh mungilnya terhentak-hentak ke atas, Baekhyun meremas surai pirangnya sendiri...sesekali ia menekan perutnya. Merasa sesuatu yang lain semakin berdesir di dalamnya
"Hhhah! Ahh!...AHHH!"
"Ught! Ke—tat sekali" Gumam Chanyeol, memberi jeda untuk Baekhyun membiasakan diri dengan ukuran genitalnya.
"Rileks...Dear" Bisik Chanyeol seraya memberi kecupan-kecupan lembut di wajah Baekhyun, berusaha menenangkan namja cantik itu.
"N-noo! Uhnn...Ahhh! H-hanya AH! I-ini terasa nik—math! Uhhh"
Chanyeol stagnan, Kalimat macam apa yang baru saja di dengarnya dari namja cantik itu?
"Kau—" Chanyeol menunduk, membiarkan surai ikal keperakan itu menutupi tatapan tajamnya
Baekhyun terbelalak lebar, menyadarii penis itu semakin menegang bahkan serasa bertambah volume di dalam rektumnya
"AHH! B-Bukan itu maksudku!" Jeritnya panik, seraya menepuk-nepuk lengan Chanyeol.
Tapi terlambat, pria itu dibawah libidonya. Ia semakin bergairah melihat Baekhyun menjerit panik seperti itu, membuatnya kembali menggerakkan miliknya keluar masuk.
Tak peduli Baekhyun menjerit melengking, memanggil-manggil namanya.
"ACKH!...AH! Hahh!...AH!"
.
.
.
"Uhmpfth...Mphh!...Mhmmm"
Kecipak saliva kembali terdengar, menyertai gerakan tubuh yang masih menghentak-hentak namja mungil itu. Sofa merah itu bukan lagi menjadi peraduannya. Tapi keduanya kini telah beralih di ranjang kingsize itu.
Baekhyun telah melunglai lemas, berulang kali Ia menyentak klimaks. Namun pria yang masih mengagahi tubuhnya itu seakan tak puas, menghujam dirinya dengan penis besar itu. Tak peduli decitan ranjang, dan desahan berat nafas keduanya mulai memenuhi setiap sudut kamar megah itu.
"Nnnggh!" Baekhyun mengerang tertahan, begitu perutnya kembali mengeras.
Ia menggeleng panik, dan mencoba mendorong tubuh Chanyeol untuk melepas pagutannya.
Namun yang terlihat...
Pria itu memang melepas ciumannya, tapi Baekhyun kembali menggelinjang liar di bawah kungkungannya begitu Chanyeol menekan perut namja cantik itu. Merasakan miliknya yang keras..bergerak kuat keluar masuk di dalam perut datar itu.
"NNN! AH! A-andwae! ...Le—lephasss!" Pekik Baekhyun berusaha menyingkirkan tangan itu dari perutnya, oh sungguh! Ia benar-benar merasa penuh jika seperti ini.
Chanyeol menyeringai melihatnya, seakan tak puas menggoda namja cantiknya Ia beralih mengangkat sebelah kaki Baekhyun lalu memutarnya hingga namja cantik itu menungging lalu menyetubuhinya dari belakang , membuat sosok mungil itu kembali menjerit...merasakan perutnya seraya dipelintir dan diperas dari dalam dengan gerakan mendadak itu.
"AHT!...AH!...hhahhh!"
"Kau hebat...sayang" Puji Chanyeol disela-sela tusukkan genitalnya, ia mengecupi punggung Baekhyun dan sesekali meninggalkan kissmarknya, meninggalkan spot-spot merah matang dan banyak tersebar di pundak Baekhyun.
"H—Hhh! AHH! ...C-Cukuph! AHT! B-berhentihh!"
"Bukankah kau menyukainya?" Bisik Chanyeol tak ingin berhenti menghentak miliknya semakin brutal.
"Uhnn! AHHH!" Baekhyun menggeleng frustasi, ia tidak bisa menahannya...gerakan Chanyeol terlalu berlebih memanjakan sweetspot dalam tubuhnya.
"Hks! AHHH! C-Channie! C-Cumh..! L—lepass!"
Chanyeol mencumbu telinga Baekhyun, menjilat lubang telinga itu penuh sensual. "Keluarkan saja...Sayang"
Dan benar saja, Baekhyun terlihat melengkungkan tubuhnya...dan men gejang hebat. Begitu cairan klimaks itu menciprat mengotori coverbed dan sebagian tangan Chanyeol.
Pria itu menyeringai lebar, Ia menjilat jemarinya yang penuh dengan lumuran sperma Baekhyun lalu memalingkan wajah namja cantik itu, menciumnya penuh gairah...dan membagi sebagian cairan cinta miliknya.
"Mmhh! Mnh~" Baekhyun yang lemas, hanya pasrah dicumbu seperti itu, bahkan hingga saat pria itu kembali menghentak tubuhnya, ia hanya melenguh lirih
Hingga tiba-tiba saja jeritannya kembali pecah, begitu Chanyeol membenamkan penisnya terlalu dalam dan menyentak klimaksnya berkali-kali dalam perut namja mungil itu.
"AHH! AAAHH"
Baekhyun menggigil, merasakan sperma panas itu serasa memenuhi rongga perutnya.
ia mendongak hebat, kala pria itu menarik keluar penisnya...dan membiarkan sperma kental itu meleleh keluar dari bibir rektumnya.
"Uhnn..."
Baekhyun jatuh lunglai begitu saja, dan terpejam erat...merasakan tubuhnya benar-benar lelah dan payah.
"Aku mencintaimu..." Bisik Chanyeol saat merengkuh tubuh mungil itu, dan memeluknya dari belakang. Berulang kali Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di tengkuk Baekhyun, membuat namja cantik itu merengek padanya.
"Hentikan...Nhh! Biarkan aku tidur!"
Chanyeol semakin mendekapnya gemas, dan meraba perut datar itu dengan antusias.
"Suatu saat...kehidupan kecil akan bersemayam dalam perut ini"
Baekhyun mendadak membuka kembali kedua mata sapphire nya. Menerka-nerka maksud dari ucapan pria itu.
"Apa maksudmu?"
"Kelak...Kau akan mengandung...Dear"
Baekhyun terbelalak lebar, dan memaksa memutar tubuh menghadap Chanyeol. "Aku namja! hentikan! aku tak suka leluconmu...Tuan"
Pangeran Sulung itu hanya mengulas senyum, seraya mencium lama jemari lentik Baekhyun.
Tapi setelahnya, tatapan itu berubah tajam. Membuat Baekhyun meremang seketika.
"Aku tak pernah bercanda..." Desisnya seraya mendekatkan wajahnya, menyelami dalam-dalam manik berwarna biru itu
"Karna Aku—yang akan menanamkan rahim itu ke dalam perutmu"
.
.
.
.
Tbc
.
.
Next Chap
Kedua matanya kembali terbelalak lebar, seakan dipaksa melihat sesuatu di luar akal sehatnya.
jemari penuh dengan kuku tajam itu benar-benar menyayat perutnya. Belum lagi semua bola api yang mengitari keduanya dengan kekuatan magis itu.
Baekhyun ingin menjerit. tapi Ia hanya terbelenggu bisu...melihat detik demi detik Pangeran Sulung itu menanamkan organ asing ke dalam perutnya.
.
.
.
.
Annyeoooong
Gloomy datang lagi, kali ini update yang Blood on A white Rose
Mian jika banyak typo :) hehehe
Bagaimana untuk chapter ini chinguyaa?
Terima kasih bagi yang sudah membaca :)
Untuk update selanjutnya Love of Fallen Leaves ataukah melanjutkan FF yang ini dulu.
Vote yaaa ;)
Seperti biasa, Gloomy akan mencantumkan nama reviewer di setiap Chapternya, untuk:
Tiara696, gloriadelafenni , Byunsilb , Shengmin137 , Eun810 , restikadena90 , 90Rahmayani , babybaekhyunee7 , chanbaek-kuu , chanbaekmama , SHINeexo , chanbaekssi , Incandescence7 , neniFanadicky ,daebaektaeluv, lightblue lemonade , lily kurniati 77 , Bbyunbee614 , LUDLUD, LyWoo , baekkumaa, LittleJasmine2 , Chel VL, dwi yuliantipcy , Ryuuki621 , PRISNA CHO , Baeka, leeminoznurhayati , deamelatis , yousee , Viukookie, jeyjong, sherli898, n3208007 , guest137 , parkbyundie, mochi baek , baekkieaerii , chanbaekaegi, Michiyo88, mphi , myliveyou , auliaMRQ, selepy , LittleOoh, n3208007 , dan All Guest
Gomawooo sudah review, jgn lupa review lagi neee
Saranghaaaaaaaaaaeeeeeeeeee
SAAARAAANGHAAAAEEEEEEEE
