Gadis itu mengedipkan matanya, dan menatap kembali deretan kalimat yang tidak sepenuhnya dirinya pahami. Dia tertarik --Tidak! Dia sangat tertarik dengan pengetahuan yang tertulis disana. Namun terima kasih pada cahaya lampu temaram di atas kepalanya, dia tidak dapat melanjutkan penjelajahan ini. Dia melihat tulisan itu tampak kabur dan berbayang. Sangat tergoda untuk menyalakan lampu senternya yang luar biasa terang.
Kedua iris gelap itu tertutup kala dirinya menahan kikikan nyaris jatuh dari mulutnya. Oh, my, my, dear! Pekikan ibu rasanya mengaum dalam ruangan itu. Perhatikan sikapmu! Dia bisa melihat bayangan wanita itu berkacak pinggang di depannya. "Orang tidak hidup sendiri, jadi kau harus menghormati orang lain!" rasanya seperti menjadi ibu, dia berpikir jenaka.
Tangannya yang bebas meraba kasar langit-langit kabin. Tersenyum kecil kala jarinya menyentuh sesuatu dan klik, lampu kuning di atasnya menghilang. Lantas ia beralih pada bocah yang tertidur di sisinya, rambut panjangnya menutupi kening hingga matanya. Gadis itu tak dapat menahan senyumnya saat mendapati bocah dalam pelukan ibunya itu, mengalir air liur dari sudut bibirnya. Lagi-lagi ia tertawa tanpa suara.
Ia menutup buku kecil pelan, memasukkan kedalam saku dengan gerakan halus. Matanya berkeliaran di kegelapan yang aneh, rasanya ini tidak berwarna hitam pekat bak tinta ballpoint di tasnya, lebih seperti warna navy atau ungu gelap transparan, cukup untuk membuat seseorang berpikir ia sudah berada di perbatasan antar orang mati atau hidup.
Pandangannya terjatuh pada kursi di sisi kanan pesawat, barisan ketiga dari depan, berbeda dua deret dari posisinya. Disana terduduk seorang pria paruh baya, dengan rambut kriting yang tidak terawat, dan baju Hawai berbunga-bunga dengan lengan pendek. Keningnya berkerut bingung, mengapa pria berpakaian pendek norak mengenakan sarung tangan?
Ia tidak dapat melihat wajahnya, dia berusaha melihat melalui jendela di deretan pria tersebut, tetapi hanya mencerminkan rupa penumpang di sebelah si pria misterius, wanita bersanggul dengan kalung mutiara. Sungguh posisi yang tidak menguntungkan. Dia melirik curiga, pria berperawakan kecil itu merenggangkan jari-jarinya hingga berbunyi nyaring, dan suaranya memantul mengerikan.
Kreekk
Jantungnya berdetak hebat, seperti berlari tanpa henti, berpacu dengan gila. Meski AC di ruangan itu non-stop, ia dapat merasakan peluh membasahi surai platinanya, membuatnya lepek mengerikan. Iris coklat gelapnya menatap horor pisau jagal di tangan pria tersebut. Pisau itu mengkilap saat ia menebas udara kosong, cukup tajam untuk menebas kepala seseorang.
Gadis itu mengambil nafas tajam. Menyadari tubuhnya tidak dapat bergerak, beku --lumpuh. Matanya terfokus pada kursi biru tadi, tempat pria kecil dengan pisau jagalnya. Merasa iritasi merambatinya.
Otaknya berpikir cepat: pria itu mengenakan sarung tangan, merenggangkan jari-jarinya, kemudian menggenggam pisau. Sarung tangan--perenggangan--pisau--
Gadis itu tersentak. Kepalanya berputar-putar, darahnya mendesis, kala rasanya oksigen merembes keluar dari tubuhnya, jantungnya berdetak sangat kencang. Ia berteriak, tidak ada suara yang keluar. Seperti berteriak di dalam air, paru-parunya terbakar. Pandangannya mengabur, matanya menangkap sesuatu, sebelum semuanya gelap gulita. 379--
•••
Sky Waltz
Maharani_Chiara
Chapter 1:
Malaikat
"Kau ada disini, untuk kami. Jelas takdir memilihmu. Kau perlu tahu bahwa aku sangat bersyukur."
•••
Pendengarannya menangkap sesuatu --banyak hal, lebih tepatnya. Ia mendengar suara roda yang menggelinding dan langkah kaki pendek, terbentuk gambaran koper besar di kepalanya, diseret bergegas si Tuan secara terburu-buru. Suara percakapan, wanita muda cerewet dan seorang security.
Lelah dengan kebutaan yang gelap, ia membuka matanya, hanya untuk mendapat sinar sinis surya, lantas dengan tergesa-gesa menutupkan matanya lagi. Tangannya tergerak menutupi matanya, melirik disela-sela jari, ia melihat pesawat udara lepas landas dengan sombongnya. Ah, right. I'm here, alone.
Matanya terjatuh kebawah, menghitung singkat. Dia mengelus dadanya saat mendapati dua buah koper besarnya meringkuk di kakinya. Benar, aku tidak di rumah. Dia memasang senyum kecil. Setidaknya tidak akan ada yang mencuri milikku dari belakang.
Dia merogoh sakunya, mengeluarkan buku kecil bersampul hitam, dan membukanya. Tangannya meraih kertas yang dipotong rapi, terselip di halaman kertas kuning tersebut. Tiketnya!
Beranjak dari posisinya, gadis itu menarik dua koper besarnya, masing-masing koper berada di kedua tangan. Plus, tiket masa depan di sela jari lentiknya. Sempat berpikir untuk memegangnya di bibirnya, tapi mengingat tindakan tersebut sangat tidak etis, ia segera menelannya mentah-mentah.
Kakinya mengarah pada seorang pria dengan sesuatu seperti troli penuh beraneka koper. "Excuse me, Sir!" Hampir berteriak frustasi saat pria itu tetap berjalan acuh, jadi dia berhenti di depannya. "Excuse me, Sir-- senyumnya melebar, kala perhatian si pria jatuh padanya-- Dapatkah Anda memberitahu saya kemana koper-koper ini akan pergi?"
Pria itu menatapnya lama, ada kerutan bingung di dahinya. Wajah itu seperti menunggunya menyelesaikan kalimatnya. Dia menawarkan. "Musutafu?"
Air mukanya menjadi cerah, dan mengangguk antusias. Begitu pula si gadis, dia lantas memberikan beban kedua tangannya dan diangkut bersama koper-koper lainnya.
Gadis tanpa koper mengangguk pelan. "Sir,"
Setengah berlari, menuju pramugari yang berdiri di depan lorong, tak jauh dari posisi si pria. Melempar senyum ramah padanya, gadis itu ikut tersenyum saat matanya menangkap, tulisan digital merah 'Musutafu' yang berlarian.
Saat meraih tiketnya, ia berkata riang. "Oh, sayang, bukankah kau terlalu muda untuk berpergian sendiri?" Dia melirik kebelakang bahunya, dan tak menemukan seseorang yang dapat dikira keluarga si gadis.
Tapi ia hanya merapikan kepangnya. "Almost everyone who talk to me said something like that," Tawa renyah keluar dengan lancar jaya. "But I will say, isn't wise to jugde people by their looks,"
Ma'am Susan, tertulis dinametagnya, mengedipkan matanya dan bergumam sesuatu seperti 'I see' atau 'anak-anak' tapi ia hanya mengangkat bahu.
"Baris keenam, sebelah kanan, Miss. Nomor 388. Hope you enjoy your flight,"
"Thank you, Ma'am --memutuskan untuk tidak menyebutkan namanya-- Have a beautiful day," tak lupa mengangguk.
Dia menyusuri lorong, kembali mengangguk saat bertemu dengan pramugari lainnya. Matanya jatuh pada pakaian Hawaii kuning norak, dengan bunga-bunga merah besar dan pegunungan. Ia menyipit kala pria itu mengenakan sunglasses dan membaca majalah.
Ia melenggang santai, dan berjalan ke kursinya. Sudah ada seorang wanita dengan surai blonde dan bocah berusia sekitar tiga tahunan. Gadis itu menghitung hingga sepuluh.
Berjalan kembali mendekati si pria berbaju norak, meminta tuk bertukar kursi dengan wanita berkalung mutiara dengan alasan 'tidak dapat berurusan baik dengan anak-anak', tangannya mengepal dibelakang punggungnya saat si wanita bersanggul itu bergumam tentang ketidakmampuannya, dan pergi, sementara dirinya mengucapkan terimakasih dengan nada tulus yang terlalu banyak. Jelas kesal.
Gadis berjaket hijau lumut itu menjatuhkan dirinya di bangku samping jendela --setelah memastikannya bernomor 381-- dengan gerak tubuh lega, dan kemudian mencair menjadi sangat santai dan cenderung terlihat tidak berhati-hati.
Pria berkemeja Hawaii itu melepas majalahnya, kacamata hitam itu bersarang di rambutnya, berucap sesuatu dengan cepat, senyum tipis menempel di wajahnya.
Gadis itu terdiam saat kata 'anak-anak' dan 'benci' mencapai telinganya dalam bahasa Jepang yang kental.
Ia segera memasang senyum malu. "Saya tidak membenci anak-anak, hanya saja, kami sepertinya tidak dapat berhubungan dengan baik,"
Pria itu tertawa renyah, rambut keritingnya yang tampak mengkilap jatuh ke dahinya. Sang gadis bersyukur dapat menangkap perkataannya kali ini. "Saya sangat mencintai anak-anak, mereka indah," dia mendengar si Kuning Hawaii mengatakan 'tenshi', dan menahan kerutan di dahinya. Jadi ia tersenyum dan mengangguk manis.
Percakapan mereka berlanjut, dengan ucapan pria-dengan-rambut-berminyak --dia memutuskan panggilan itu karena menurutnya hanya itu yang pantas-- memenuhi udara mereka dan sang gadis yang berusaha melakukan pengejaran tragis. Dia memikirkan kata 'tidak sportif' tapi segera menepisnya. Dia sesekali berkata "Menakjubkan," atau "Anda benar," untuk menjaga perasaannya.
Ketika pesawat mulai menyeimbangkan diri di angkasa, ia memohon undur diri. Matanya beralih pada kapas mengambang yang berwarna abu-abu dari luar jendela, dan gelap sejauh mata memandang. Bintang tidak terlihat, padahal mereka sedang melayang di langit, mendekati sang Penjaga Malam. Dia bertanya-tanya. Kemana gerangan mereka?
Membuka buku dan membaca dengan pikiran yang terbagi dua. Merasa terlalu gelap dengan cahaya kuning familiar, dia mengambil senternya. Menyorot selidik khas detektif pada kata-kata di kertas itu, garis melingkar meringkuk di bibir tipisnya.
Berselang beberapa menit, saat ia terjebak diantara kata 'calamity', iris coklatnya menangkap pergerakan kecil di ujung matanya. Sarung tangan kulit. "Apakah Anda kedinginan, Pak? Saya dapat mematikan AC untuk Anda,"
"Ah, anak baik. Tidak apa-apa," dia memasang sarung tangan di tangan kirinya. Ucapannya menggantung di udara yang tipis. Terlalu tipis, sebenarnya, sehingga seakan-akan mencekiknya.
Keheningan yang mendadak itu membuat jantungnya berdetak cepat, dan ia merasa tangannya licin oleh keringat. Udara beku mengirim gigil di tulang punggungnya, membuatnya ketakutan. Intuisinya menyuruh gadis itu untuk lari, atau apapun agar dirinya aman, jauh dari masalah. Tapi apa kata takdir?
Pria Jepang itu menautkan jari-jari kurusnya, seakan tersenyum pada anjing. "Anak baik," mendorongnya, dan berbunyi.
Kreekk
Atmosfer menjadi lebih berat, seperti ditekan dengan sadis. Badai berkecamuk di luar, dengan Zeus melempar abstrak semua halilintar membutakan itu ke Bumi, seakan mengutuk semua yang berusaha melengserkannya dari Olympus. Dia tidak dapat menelan ludahnya, yang justru membuatnya semakin gemetar.
Matanya membulat sempurna. Topeng itu, wajah tirus-ramah-penyayang-anak jatuh ke lantai, terganti seringai kemenangan. "Nah, anak manis, jadilah anak yang baik," suaranya riang gembira, menghasilkan peluh mengucur deras dari lawan bicaranya yang pasif dan tidak responsif.
Entah bagaimana pisau bermata tajam bertengger di tangannya. Perasaan familiar yang menegangkan menggugahnya. Pegangan pada pisau itu besi murni, sama halnya dengan pisau daging itu.
"Nah, nak, wajah dan rambut mu akan sangat indah di rumahku," Bayangan akan ciuman maut dari besi pada kepalanya membuatnya meringis dan gentar.
Tangan bersarung yang bebas terulur untuk menyentuhnya, dengan pisau menyusul di belakang. Iris kembar hanzel itu melotot pada mata pisau yang mengkilap laksana petir yang merobek angkasa luar. Kekehan cabul bergema di kabin kedap udara. Gadis berambut salju merasakan kemarahan melonjak dari dalam dirinya, hingga ia merasakan rasa logam di mulutnya.
Tangannya menangkap gagang licin pisau. Satunya, mencekik pergelangan tangan si kuning. Dengan tangkas memutarnya hingga pisau itu jatuh tanpa suara klontang di karpet, menendangnya jauh-jauh. Mata itu merah berkabut, balas melotot, seakan-akan dapat membunuhnya.
Mereka berhadap-hadapan, dengan kemarahan dicampur kebencian yang nyata, dia tampak menjulang dengan tubuh kurusnya. Mengintimidasi gadis mecil.
Melihat situasi, gadis itu semakin mengencangkan pegangannya. Bersiap akan serangan. Tepat saat kening pria itu menghantam kepalanya. Ia terhuyung mundur. Melihat kunang-kunang mengaburkan pandangannya, matanya terpejam, menahan kegelapan yang ingin memakannya.
Pegangan pada tangan kirinya lepas, ia tersentak dan refleks menukik cepat ke kanan, semakin banyak ruang untuk bergerak, sebuah keuntungan. Membelakangi si pria yang masih pusing akibat benturan. Dia mengayun keras kaki kanannya pada belakang lutut si pria, nyaris membuatnya tertelungkup.
Sebelum ia sempat menyeimbangkan tubuhnya, gadis itu meraih senternya. Percikan putih muncul dari belakang punggungnya dengan jutaan kejutan berkekuatan ratusan volt. Menyambarnya, dan mengalir di sepanjang tubuhnya, menggeliat frustasi seperti ikan tanpa air. Pria itu menjerit dan melolong diantara kesakitan dan amarah saat kejutan listrik menamparnya, bergetar gila dengan aliran listrik menari di pembuluh darahnya. Mirip pohon kelapa yang disambar petir.
Cahaya mengerikan itu hilang saat kontak terputus dan tubuh tinggi itu jatuh dengan bunyi bedebug ringan. Bau gosong berbaur bersama oksigen, menyumbat paru-paru dengan aroma kejahatan dan kekejian yang memuakkan. Selesai sudah.
Gadis itu merosot di lantai berkarpet merah, peluh bercucuran dari rambutnya dan mengalir hingga dahinya, membuat mahkotanya terasa begitu rusak. Dia tidak peduli.
Sedetik kemudian dia menyadari dirinya merinding, gadis itu mulai merasakan banyak mata melayang padanya. Efeknya sudah hilang. Dia memasang senyum, tahu itu hanya senyum lemah.
"Lakukan pendaratan darurat di bandara terdekat,"
Satu pramugari berlari hati-hati dengan sepatu highils, kearah kop pilot yang berada jauh di depan. Beberapa orang berseragam serupa meminta para penumpang menggunakan kantong oksigen. Beberapa orang tua mendekat padanya, bertanya dengan khawatir.
Dia hanya mengangguk, masih memasang senyum. "Ya, saya baik. Terima kasih."
Seorang mendekatinya, menyampirkan lengan kirinya, dan membawanya ke bangku tak jauh dari onggokan daging setengah hangus itu. Dia melihat seragam berwarna biru, dan mendapati wajah hangat Ma'am Susan menawarkan.
"Saya lihat, Anda tentu sudah cukup dewasa untuk melakukan perjalanan melintasi benua,"
Gadis itu mengukir garis tipis di wajahnya. Memasang kantong oksigen, tidak dapat bertahan dengan aroma menyengat, dan perutnya tampaknya tidak dapat diajak berkerjasama.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda. Kami mohon untuk tetap menggunakan sabuk pengaman dan kantong oksigen Anda, karena sebentar lagi, kita akan melakukan pendaratan darurat di Bandara Udara Hosu City. Terima kasih."
Kelelahan, punggunya terasa lengket oleh keringat. Ia mengistirahatkan dua iris kembarnya. Kilas balik berlarian di belakang bola matanya. Warna-warni mulai membentuk gambaran di sana.
Dia melihat bayangan, sepasang telapak tangan dan sepucuk surat bersegel. Pandangannya menjadi buram, sesuatu jatuh di atas permukaan kertas putih itu, tampaknya zat cair yang bening, dan pegangan itu mengkhawatirkan, seolah terguncang menahan isak tangis, atau sudah menangis, entahlah.
Menjadi kabur, dan kemudian hitam, hilang seperti embun di pagi hari. Ia tidak ingat apa itu, namun perasaan yang akrab membungkusnya, kemudian meninggalkannya. Gambar-gambar itu lepas, pergi, dan mungkin, tidak akan pernah kembali. Dia merasakan pusaran hitam yang familiar lagi, dan kesadarannya menguap seiring redanya kemarahan Zeus.
Dia mengedipkan kelopak matanya, pupilnya mengecil saat pertama kali yang ia lihat adalah lampu neon putih, dikelilingi binatang kecil yang berdengung tidak stabil.
Gadis itu menyadari, dirinya telah berpindah tempat. Ruang itu berwarna suram seperti rumah sakit, ubinnya tampak dingin dan kotor seperti es di jalanan bulan Desember, dan meja dan kursi tempatnya diculik --asumsinya, karena ia belum ingat apapun-- lebih mirip tiang listrik jalanan. Berkarat dan beku.
Pandangannya teralih pada pria di hadapannya, merasakan gelitik familiar di otaknya. Sebelum ia mengucapkan sesuatu, pria berotot itu membelah keheningan.
"Nak, tahukah kau siapa yang kau lawan?" to the point.
Ia menggeleng, anak rambutnya yang lepas dari kekang ikut berterbangan. Suaranya menggelegar di ruang yang dicurigai kedap suara.
"Rocky," iris itu biru terang, seakan menusuk mata hanzelnya dan membuatnya merasa iritasi. "Seorang Villain yang dapat membuat orang kaku seperti batu. Hanya dengan mendengar perenggangan jarinya,"
Dia membuka-buka file dengan cap merah di meja. Kemudian, melotot pada apa yang tertulis di sana dan bayangan jijik belum meninggalkan matanya. "Lebih terkenal sebagai Predator Anak, banyak kasus anak hilang yang di kaitkan dengannya,"
"Licin, seperti ular, tidak meninggalkan bukti,"
"Dia mengenakan sarung tangan kulit," ucapnya tenang. "Tapi, tidak cukup pintar,"
Gadis itu mengambil jeda, dan ruangan itu hening, hanya terdengar desahan sedih penyejuk udara yang sudah renta. Pria itu melipat kedua tangannya yang berbentuk di depan dadanya.
"Seseorang dapat lolos dari quirk nya jika mereka dapat menjaga kesadaran Anda,"
Gadis itu menjulurkan lidahnya, di ujung sana tampak garis melingkar yang membelahnya berwarna kemerahan. Lidahnya sesekali bergetar.
Pria itu menyempitkan matanya. "Memang betul menggigit lidah dapat menjaga kesadaran seseorang, tapi itu jelas menyebabkan luka fisik,"
"Saya tidak ingin semakin banyak korban,"
"Siapa yang ingin?"
Dia menggerakkan kepalanya kanan-kiri, mengatur pernapasannya yang tersengal-sengal. Gadis itu melanjutkan. "Saya melihatnya,"
"Dan saya tidak dapat membiarkan kejahatan terjadi di depan hidung saya,"
Dia mendapati pria besar itu tampak berapi-api. Baik secara harfiah maupun kiasan, dan Pro Hero itu tampak tidak keberatan dengan tubuhnya yang terbakar. Jadi ia melempar senyum kecil sedikit gugupnya.
"Siapa namamu, nak?"
"[Surname] [Name,"
-To Be Continued-
Yeay! Chapter 1 kelar juga!
Gimana? Aneh? Jelek? Kepanjangan? Ngebosenin?Ga dapat feel actionnya?
Sorry TT
Daku baru pertama kali nyoba bikin yang action, dan beginilah jadinya...
Btw~
Reader-chan baru ketemu sama Todoroki a.k.a Bang Soto /dilempar kursi :v nanti chapter 2, cieee yang bentar lagi ketemu ama jodohnya /blush
Tapi--
"eh, kok tapi?" *Readers
Diem dulu napa sih
*lempargolok
*keselekgolok
Uhuk--uhuk *melotot
*Innocent face
Tapi, Todorokinya biasa aja sama Reader-chan :p
*ngeluarin hawa pembunuh minjem piso punya bang Rocky
Eh, eh, canda deng ;;
Emmm...
Mohon bersabar ya reader-chan~
Jangan lupa kasih saran dan komentar yang membangun~
"Loh kok, beda topik?"
Makasih udah baca chapter yang super gaje ini~ /terharu
See you next chapter~!*Sambil lari
