Pria itu hanya memandang langit dari jendela. Membiru dan cerah, tanpa arakan awan. Setengah berharap musim dingin akan datang lebih cepat tahun ini, sehingga ia tidak perlu merasa kepanasan, yang justru mengingatkannya pada api yang mengalir dalam darahnya.
Tidak. Ini tidak berarti ia membenci quirknya. Ini, hanya, seperti ia belum menerimanya sepenuhnya.
Ia mengakui, saat melawan Stain di distrik Hosu City, Sang Pembunuh Pahlawan, quirk apinya cukup membantu mereka.
Dan tidak stabil, pikirnya.
Tangannya terasa keram. Sedari tadi ia menompang wajahnya dengan tangan kanannya, dan itu sudah cukup lama. Jadi ia terpaksa meluruskan tangannya, dan beralih dari canvas biru di dunia luar ke jam di atas papan tulis.
08:30
Pintu itu bergerak.
Sky Waltz
Maharani_Chiara
Chapter 2:
He Who is Missing
The Winter
"Pertama kali melihatmu, aku mengetahui kau berbeda. Istimewa."
Tidakkah ini terlalu cepat? Todoroki ingat pelajaran bahasa Jepang mulai pukul delapan lewat empat puluh menit. Ini jelas sebuah kemajuan. Mungkin gurunya mendapat pencerahan?
Aizawa-sensei menyambut pagi dengan langkah ringan tanpa beban khasnya, tegap namun santai. Berbeda dengan sang guru, kelas justru senyap seketika dan agak kaku. Sangat sunyi.
"Selamat pagi kelas," suaranya pelan dan jauh, seperti biasa.
"Selamat pagi, Aizawa-sensei," beranekaragam warna suara menyapu kelas bagai tsunami. Dia juga menjadi salah satu penyumbang, meski sama pelannya dengan si guru sendiri.
Todoroki melihat dari sudut matanya, pria berambut ombak hitam itu melirik tidak senang kearah pintu secara terang-terangan. Ia memikirkan hari ini akan menjadi lebih menarik lagi saat gurunya berkata dengan nada dingin, "Aku tidak pernah menyuruhmu untuk berdiri di depan pintu,"
Dia mendengar kasak-kusuk di sekelilingnya;
"Murid baru?"
Itu menjelaskan mengapa loker kecil mereka berpindah tempat, dan keberadaan satu set tempat duduk dibelakang meja Uraraka-san.
"Eh? Murid baru sebelum musim panas?"
"Aku berharap ini cewek,"
Apapun, selama itu bisa menjadi batu loncatannya, dia tidak masalah. Selama dia bisa mengalahkannya.
"Benar, kelas ini kekurangan sisi feminim," itu suara Yaoyorozu.
"Cewek super cantik,"
"Plus, dada be--"
"Mohon tenang semuanya!" Nah, ini baru suara Iida.
Keajaiban terjadi, pintu itu terbuka setelah Iida menghembuskan perkataan terakhirnya. Melahirkan seorang perempuan --dia tahu karena hampir semua orang dalam kelas itu menghirup nafas secara bersamaan. Jelas ini adalah siswi.
Saat iris heterochromenya sampai padanya, ia tersentak di kursi. Pria itu ingat. Hari ini, salah satu Senin di musim panas menyengat, langit begitu bersih, membuatnya merindukan musim dingin yang dominan putih.
Todoroki menarik nafas tajam. Tangannya terangkat rendah, menyentuh rambutnya di sisi kanan. Kedua maniknya membulat saat menangkap surai platina yang memancarkan sinar perak diterpa cahaya mentari hangat.
#
Dia membeku, tidak dapat bergerak, --ralat, dia masih dapat bernafas-- serasa kaku seperti potongan kayu, atau batu nisan, tapi tidak berlumut, tidak pula jabuk dan berayap. Hanya kaku. Di depan pintu putih super tinggi.
Wali kelasnya telah mencampakkan dirinya, dan ia memiliki cukup sopan santun untuk tidak menyela gurunya atau mengekorinya seperti anak ayam. Alhasil inilah yang [Name] dapatkan, sendirian di lorong, saat jam pelajaran --mulai-- berlangsung.
Baru saja di pikirkan, suara dingin gurunya melewati pintu itu, sampai padanya mengirim peluh gugup ke jiwanya. Disusul suara bisikan atau lebih mirip obrolan? Dia menjadi semakin gugup!
Oh, Tuhanku.
Tuhanku.
Bantu aku.
Jadi ia membuka pintu itu pelan, berusaha meminimalkan suara yang dapat ditimbulkan, dan berjalan kearah gurunya. Berusaha rileks dibawah silau si guru yang tidak empati dan puluhan orang asing di depannya.
Astaga, Tuhan, batinnya memekik.
Dia melirik gurunya lagi, dengan senyum kecil dan kikuk, merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan keheningan yang sakit ini. Aizawa-sensei yang baru setengah memasang sleeping bag kuningnya, berdecak nyaring.
"Hari ini kalian mendapatkan murid baru, aku akan memberikan kalian waktu untuk bertanya padanya sebelum memulai pelajaran," dan ia sudah berguling dalam kantung kepompong itu.
Sungguh, terima kasih. Hampir ikut berdecak.
[Name] lagi-lagi memasang senyum mungilnya nan tipis --Oh, Tuhan. sungguh aku tidak menginginkan ini-- tak lupa gugup yang tidak dapat di usir, kala matanya memindai kelas itu.
Kau bisa melakukannya, hanya berbicara, kau pandai berbicara.
"Namaku [Surname] [Name, ini hari pertama aku masuk sekolah," mengambil jeda agak canggung, merasa tidak enak. "Sedikit terlambat, tapi semoga kita dapat berkerjasama dengan baik," dia membungkuk sedikit, dia merasa agak panas di pipinya.
Saat ia kembali tegap, pertanyaan melesat kearahnya seperti peluru. "Apakah kau orang sini?" Itu wanita-- serba pink, menatapnya penasaran.
"Tidak, tapi aku tinggal di sekitar sini," [Name] tahu ia memiliki nilai yang tinggi untuk Bahasa Jepang, tapi ia tidak cukup percaya diri saat ini yang membuatnya menjawab seadanya.
"Nee, [Name]-chan, Apakah kau punya pacar?"
"Tidak," tanpa sadar memiringkan kepala, "aku belum memikirkannya hingga kau bertanya,"
Dia dapat mendengar sorakan 'yes' entah dari mana, karena suara itu memantul riang di dalam sini. Bagaimana bisa Aizawa-sensei dapat tidur? Sepintas memasuki pikirannya.
Kali ini seorang pria yang lebih kaku darinya berdiri dengan tangan terangkat. "Mengapa Anda ingin menjadi Pro Hero?"
Diam mendadak, seperti ini saat-saat ujian. Benar, ini ujian hidup, katanya lelah tak terucap. Suara berisik entah berantah itu hilang, seperti menguap di udara yang panas. Dan gugupnya level up. Bukan untuk menyombongkan diri.
"Aku ingin membuat dunia menjadi lebih baik,"
Matanya menatap sepatunya, mencari-cari debu tak kasat mata.
Bukankah ini alasan ia disini?
"Tempat, dimana semua orang dapat merasakan keadilan,"
Saat ia mendongak pada si pria berkacamata, ia malah melebarkan senyumnya. Pasalnya siswa formal itu tengah menatapnya dengan kekaguman dan --apa itu? Kebanggaan?-- yang terbayang di senyumnya.
Dia mulai merasakan kepercayaannya mulai kembali, memenuhinya dengan segala hal yang positif, dan menyenangkan, seperti sinar matahari hangat di bulan Mei. Ketegangan mulai mencair, dan semua orang terlihat lebih bersemangat.
"[Surname]-san, kero," menoleh kearahnya, wanita itu balas tersenyum. "Namamu tidak terdengar familiar, apa kamu orang asing, kero?" logatnya sangat unik, dia berpikir wanita itu memiliki quirks yang berkaitan dengan katak.
Sambil tersipu-sipu dia menjawab. "Benar, tapi aku dapat berbicara Bahasa Jepang, sedikit,"
"Tenang saja, [Name]-chan! Kami akan membantumu!"
"Ya! Serahkan saja pada kami!"
"Kita dapat mengajarkannya di rumahku, ibuku akan sangat senang,"
Dia menyengir, "Terima kasih," terharu.
Diantara lautan percakapan para gadis, sebuah tangan mengacung di udara, bergetar tidak nyaman. Pria itu kecil dan berambut hijau acak-acakan.
"Umm.., [Surname]-san, apakah kau memiliki hubungan Todoroki-kun?"
#
"--Todoroki-kun?"
Huh?
Menengok sekeliling, dan mendapati puluhan pasang mata menatapnya tertarik. Ia baru saja bangun dari lamunan --atau shock?-- saat namanya disebut-sebut, dan banyak mata memandangnya. Lantas ia memasang foker face tanpa tahu-menahu apa yang terjadi.
"Emm... Maksudku," dia melihat Midoriya gugup, dan memainkan kedua tangannya di depan dadanya, menepuk udara. "Rambut kalian, terlihat sama, dan... Aku penasaran, apakah... Kau tahukan... Kalian berkeluarga?"
Senyum lebarnya memudar, gadis itu diam sejenak, kemudian matanya mencari-cari sesuatu. Ia dapat menebak dengan akurat, bahwa yang ia cari adalah dirinya. Dan benar saja.
Matanya menjelahi Todoroki. Tangan kirinya memainkan rambutnya yang menjadi topik pembicaraan, tergerai dan berombak seperti pedang yang telah diasah, suaranya lebih jernih dari yang ia bayangkan. "Saya pikir tidak,"
Pria itu sedikit terkejut dengan ucapannya, terdengar sangat formal. Dia seharusnya mendengar 'aku' tapi yang sampai pada telinganya adalah 'saya', seakan dia membacanya di kamus, atau dia hidup dalam lingkungan yang menuntutnya seperti itu?
Todoroki benar-benar tidak tahu apa-apa, membuatnya merasa tidak senang. Dengan cepat, dia memutuskan gadis itu tidak cukup pantas untuk diperhatikan --kecuali rambutnya-- hanya membuang waktumu saat kau sangat sibuk untuk menjadi Hero nomor satu.
"Sensei kira kalian sudah selesai?" Rambut hitam kian kusut, bak surai singa terbangun di tengah malam. "[Surname] duduk di bangku yang kosong, dan satu jam pertama kita akan memulai materi,"
Sekarang dia tahu namanya, dan ia tidak ingat memiliki keluarga bernama [Surname]. Gadis itu benar, mereka tidak berkeluarga.
Setelah menerima pemecatannya, [Surname] berjalan cepat ke bangkunya. Sangat pelan, tanpa suara, ditambah dengan sosoknya yang bermahkota salju, tidak heran seseorang akan segera memanggilnya 'hantu'.
Todoroki memperbaiki duduknya, punggunya lurus menghadap ke depan. Sensei mulai menulis di papan tulis. Sisa pelajaran itu berjalan seperti biasa, dengan Bakugo yang meledak-ledak disana, Iida kaku disini, dan Aizawa-sensei melotot di depan. Tidak ada yang berbeda.
Kecuali, eksistensi di belakang sebelah kanannya. Saat Todoroki melirik dari sudut matanya, surai perak tergantung bebas menyentuh punggung tegaknya, sedikit berombak dibagian bawahnya. Tapi mereka bersinar terang, tidak cukup terang untuk membutakan mata, tapi lembut seperti kelopak sakura putih. Todoroki tidak dapat berpaling dari warna tersebut. Baginya familiar, seperti kepingan salju. Itu warna ibunya, warnanya.
Ia melihat gadis itu duduk fokus. Dia akan berpikir gadis itu rajin, jika saja ia melihatnya menggerakkan pulpen diatasi buku. Tapi tidak! Dia bahkan tidak mengeluarkan alat tulisnya. Di atas mejanya hanya ada sebuah alat berwarna hitam, apa itu voice recorder?
Jadi dia telah menguasai materi? Lebih pintar? Atau, metode belajar yang lebih efektif? Dia sangat menyangsikan pikiran yang terakhir, karena itu nyaris mustahil. Mungkin dia malas menulis? Rasanya itu lebih masuk akal. Dia mengangguk pelan.
Kembali terfokus pada pelajaran. Todoroki membaca tulisan di papan tulis itu. Baik, dia sedikit ketinggalan ocehan Aizawa-sensei, lantas ia membuat catatan untuk itu, berniat mempelajarinya di rumah.
Sepanjang menit menuju jam pelajaran itu, dia hanya memperhatikan sang guru, mencatat beberapa hal, dan termenung. Pikirannya terbagi, 10% pelajarannya, 20% latihan dan 30% untuk quirksnya. 35% adalah milik ibunya. Satu-satunya, wanita yang paling berarti dalam hidupnya.
Todoroki ingat, saat ia berkunjung kemarin malam, saat bintang bertaburan dan saling melempar cahaya. Bagian dari waktu yang abadi.
Bagaimana wanita itu mengulas senyum saat ia membuka pintu, seperti soba yang menghangatkan jiwa dalam realitas kejam. Dia mengakui, dirinya adalah seorang putra, yang merindukan masakan lezat ibunya dalam rumah mereka, terlindung dari dunia luar.
Masih segar dalam memorinya, seperti berada dipinggir hutan tak terjamah, bagaimana tawa yang keluar dari bibir sang ibu saat Todoroki bercerita tentang sekolah dengan segala keanehan di dalamnya. Dia merasakan perasaan hangat dari masa lalu memeluknya, tanpa sadar ia memahat seutas garis melengkung kecil di wajah.
Suaranya melintas, "Kau tersenyum, Shoto." Lembut, dan penuh kasih, itu ibunya.
"Benarkah? Aku hanya menggerakkan bibirku,"
Tawa keluar darinya. "Ibu penasaran, apakah kau sering tersenyum?"
Dia menatap kotak susu di tangannya, dan menggoyangkannya. Pertanyaan itu mengelilingi benaknya, "Mungkin," masih ada setengah.
Hangat,
Ada kehangatan.
Jari-jari kurus ibunya menggenggam tangannya, tidak seluruhnya karena tangan itu lebih kecil dari miliknya sehingga terkesan ambigu. Tetap saja, hangat.
"Shoto, apa yang membuat manusia bahagia?"
"Kekuasaan, untuk beberapa orang."
"Dan, untuk kebanyakkan orang?"
"[Surname]-san,"
Todoroki tersentak --lagi untuk hari ini-- syukurlah hanya membuat suara kecil. Dia menengok kedepan, Aizawa-sensei bertransformasi menjadi Pro Hero, Midnight di depan tengah menatap kearahnya. Tidak, bukan dia, tapi [Surname]-san, dia menyadari.
"Ya, [Surname]-san?"
Mendengar namanya dipanggil, [Surname]-san melompat dari kursinya, berdiri dengan ekspresi serius bercampur senang menatap sang guru.
"Ernst Gombrich berpendapat bahwa cabang ilmu sejarah seni sangat mirip dengan Gaul*. Pada masa Julius Caesar dibagi menjadi tiga yang setiap daerahnya dihuni oleh tiga suku yang berbeda."
Dia melipat jarinya, menghitung. "Connoisseurs, kritikus seni, dan sejarawan seni dari kalangan akademis."
Dia menatap sisi wajah kirinya, bersemu merah dan terlihat bulir-bulir keringat kecil di pelipisnya. Ah, dia gugup, Todoroki memperhatikan. Kemudian dia menyadari sesuatu, sebuah garis yang tidak lurus, senyum sembunyi-sembunyi [Surname]-san.
Dia menyadari kelas sedari tadi memperhatikan [Surname]. Ada yang terbengong, seperti Kaminari, dan beberapa lebih tampak terpukau dalam kasus ini Midoriya dan Iida masuk dalam hitungan.
Ada suara berbisik disebelahnya, "Aku penasaran apakah [Surname]-san mendapat rangking 1 di sekolah lamanya,"
Todoroki melihat guru art history mereka sambil menjawab perkataan Yaoyorozu. "Mungkin,"
Dia menantikan ekspresinya. Pasalnya, [Surname] telah mencuri perhatian seisi ruangan, padahal sang guru sendiri adalah tipe pencari perhatian --hanya sekedar asumsi, tapi tidak mustahil.
Tapi Midnight-sensei malah memamerkan deretan giginya. Telunjuknya mengarah pada gadis itu. "Benar sekali, [Surname]-san!" Melanjutkan. "Apakah kau sudah membahas materi ini?" Rambut sehitam malamnya berayun-ayun riang.
"Yes, Miss. Hanya sekilas diterangkan di kelas, dan saya tertarik dengan topik ini, jadi saya melakukan sedikit research," wajahnya semakin merah padam seperti tomat segar di kebun.
"Ya, itu sangat bagus! Aku harap kalian semua dapat mencontoh hobi [Surname]-san."
Sebelum dia berbalik, dia sempat melempar kedipan genit untuk teman baru mereka. "Jadi, mari kita lanjutkan..." Entah kenapa Todoroki melirik pada Mineta di depan Yaoyorozu, dia kejang-kejang?
Bukannya mendengar kuliah sensei, pria berambut dwi warna itu malah menangkap kata-kata yang berterbangan dari sisi kanan kelas.
"Seperti yang diduga dari [Surname]-san!"
"Terima kasih, Iida-kun." Cengengesan --dia tau dari suaranya. "Saya kebetulan mengetahuinya, saya pikir akan lebih baik jika membagikan informasi tersebut,"
Tunggu, bukannya ada Uraraka-san diantara mereka? Todoroki merasa gadis itu sedang berpikir bahwa ia menjadi obat nyamuk atau malah nyamuknya sendiri.
Dia lanjut menulis, dengan pikiran yang melayang-layang. Apa menu latihannya hari ini? Dia akan melatih apinya, menjinakkan api yang liar tentu perlu usaha, apalagi saat kau jarang menggunakannya. Kemudian, saat pulang sekolah, dia akan pergi ke toko buku. Mencari buku reaksi kimia mengenai api dan es. Itu brilian! Itu akan menjadi kartu AS nya untuk setingkat lebih tinggi. Todoroki mengangguk puas.
Saat matanya terfokus pada dentang jarum jam, bayangan aroma dingin yang lezat membuyarkan pikiran dan inderanya.
"Cukup sampai disini," Midnight-sensei yang bukannya merapikan bawaannya, dia justru seperti berpose di depan kelas. "Selamat siang,"
Peduli apa.
Dan salam berkumandang seiring dengan denting bel makan siang berdengung diantara langkah kaki cepat gerombolan anak manusia.
Pria Heterochromia itu meninggalkan kelas dengan gaya biasanya, dan ketika ia sudah di luar ruang kelas, dia bergegas ke kantin. Takut kehabisan sobanya.
Todoroki memutuskan bahwa ini adalah hari keberuntungannya, pasalnya dia adalah pria terakhir yang membeli soba dingin hari ini. Dewa sedang berpihak padanya, dan dia membuat catatan dalam benaknya untuk sering-sering mengunjungi kuil. Agar selalu beruntung, jika dia benar-benar ada.
Tentu saja.
Jadi dia berjalan kearah mejanya yang biasa dengan langkah kaki lebih ceria --tidak benar-benar menunjukkannya, sebab dia masih memiliki harga diri-- aroma soba itu benar-benar menggodanya, apa jadinya bila soba itu habis? Dia merasakan tulanganya bergetar ngeri.
"Ah, Todoroki-kun, Soba lagi?" Midoriya menengok isi nampannya. Ia mengangguk dan mengambil tempat disebelah pria hijau itu.
Di depan mereka ada Uraraka-san, dan Fuyumi-san. Meja ini untuk enam orang, dia memang biasa makan siang disini dengan mereka, dan...
"Dimana Iida?"
Ochako-san menoleh dari dagingnya. "Hmmm... Kalo gak salah, Iida-kun bilang mau mengajak [Surname]-san berkeliling."
Dia malah senyum-senyum. Tangannya terlipat di depan wajahnya, memasang ekspresi sok serius. Ketika ia menengok ke samping, Midoriya juga melakukan hal yang sama, tapi ia tidak dapat menyembunyikan senyum gelinya. Baiklah, ada yang bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?
Fuyumi-san yang notabene merupakan salah satu orang yang sangat peka, dan melihat muka Todoroki yang seperti itu, ia lantas berkata. "Uraraka-chan dan Midoriya-kun berpikir Iida-kun sedang melakukan pendekatan dengan [Surname]-san, kero."
Gadis berambut pendek itu menyambar seperti kilat. "Habisnya, Iida sepertinya tertarik dengan [Surname," tersenyum lebar, "dia sering melirik kebelakang dari bahunya,"
"Heee...serius?"
"Iya, aku jadi lucu aja saat menggodanya."
"Umm..., Sebaiknya kau tidak usah menggodanya, Uraraka-san, dia akan merasa tidak nyaman." Midoriya tetap tersenyum geli, berbanding jauh dengan perkataannya.
"Mereka mirip, kero."
"Bener! Bener! Fuyumi-chan, mereka sepertinya berada di lingkungan yang sama."
Bayangan Iida dan [Surname]-san yang saling berhadapan dengan tuksedo dan long dress hitam dewasa terbentuk dibenak mereka. Dengan surai platina memukau yang disanggul tinggi, dan mungkin jika dihiasi sebuah Tiara bertakhtakan batu sapphire akan menakjubkan...
Tunggu,
Apa yang kau pikirkan?!
"Dari cara [Surname]-san bicara..., Memang mirip Iida-kun..., Sangat formal...," Dia merasakan sesuatu, kemudian Midoriya cepat-cepat menambahkan. "M-maksudku, bukan dalam arti yang buruk!" Wajahnya merah.
"Apa yang buruk, Midoriya-kun?"
"Oh! Iida-kun!"
Benar saja, Iida berdiri dengan nampan besi berisi makan siangnya, tampak kaku di ujung meja. Todoroki menggeser tempat duduknya, memberi ruang dengan rendah hati untuk orang yang baru saja dibicarakan.
"Ngomong-ngomong, Iida, dimana siswi baru itu?"
Ini tidak berarti aku merindukan rambutnya atau apapun.
Uraraka-san dan Midoriya mencondongkan tubuh mereka. Menatap Iida penasaran.
Pria berkacamata itu malah mengerutkan keningnya, seperti dia telah melakukan sesuatu yang tidak biasa. Todoroki bahkan melihat peluh dipelipisnya. Tapi ia tetap menjawab.
"[Surname]-san berkata dia akan pergi, jika memungkinkan, dia akan menyempatkan diri kemari."
"Kemana dia pergi?"
"Dia pergi ke...,"
Krak
"Kemana dia pergi?!"
Todoroki mengatupkan kedua tangannya, Terimakasih atas makanannya. Kemudian melenggang pergi, kembali ke kelas. Tidak peduli dengan murid baru yang hilang.
Sebelum ia beranjak dari posisinya, anak Endeavor itu menyelipkan sumpit cadangannya di dekat mangkok panas Iida.
#
Gadis itu hampir saja berteriak saking semangatnya. Dari rona mukanya, orang-orang akan berpikir dia baru saja memenangkan undian berhadiah. Tapi bukan itu yang membuatnya bahagia luar biasa.
[Name] melompat kecil menuju kelasnya, dengan wajahnya sangat cerah, ditambah rambut panjang yang berkilauan. Dia sebelas-dua belas saja dengan matahari di luar sekolah. Silau.
Setelah menyelesaikan urusannya, dia langsung balik ke kelas. Gadis itu ingin istirahat ini segera berakhir. Karena ia tidak sabar --sangat-sangat tidak sabar-- akan sesuatu yang menantinya. Astaga! Membayangkannya saja sudah membuatku panas-dingin! Merasa warna merah mulai membaur di wajahnya --lagi.
Ketika sampai di kelas, yang ia lakukan adalah melompat ke kursinya --benar-benar melompat, seperti kelinci-- dan menggerakkan tangannya di udara, setelah beberapa saat ia membentur-benturkan kepala ke meja --tidak cukup keras untuk membuat suara berisik-- seperti anak kecil yang ngambek.
Dia tidak tau harus berbuat apa.
[Name] adalah tipe orang yang cukup sulit mengekspresikan dirinya sendiri, sehingga ia cenderung menyimpan apa yang ia rasakan. Alhasil, dia kadang dapat menjadi sedikit kekanakan. Tapi, syukurlah kadar malu ku masih tinggi. Jadi ia tidak menampilkan sisi childish ini di depan publik.
Bosan dengan aktivitasnya, gadis salju itu mulai berpikir untuk guling-guling, tapi saat ia memantau lantai ruang kelas yang memiki ukuran cukup kecil dan perabotan yang tidak sedikit, hal menyenangkan itu mulai terlihat tidak memungkinkan. Dia tidak akan menggunakan kata 'mustahil' karena menurutnya tidak ada yang mustahil, selama ada kemauan, pasti ada jalan! Salah satu petuah dari negerinya.
Ia mulai menyiapkan untuk pelajaran nanti. Di depannya sudah ada buku pelajaran, dan tangannya sudah gatal untuk menyentuhnya, seperti kesemutan dia berpikir, dia lagi-lagi memikirkan hal aneh. Mungkin aku bisa mengikat tanganku dengan tali?
"[Surname]-san!"
Dia menoleh sembari tersenyum lega, "Iida-kun, selamat datang." Rasa kesemutan itu sedikit mereda, Terimakasih Tuhan! Hampir bersujud ditempat.
"Aku pikir kau menghilang, tapi syukurlah, sepertinya kau baik-baik saja,"
Gadis itu mengangguk, "Maaf sudah membuat Anda cemas."
"Tidak masalah [Surname]-san, sebentar lagi pelajaran akan dimulai." Iida mendongak untuk melihat jam, perempuan itu baru menyadari sedari tadi laki-laki berambut bluish black itu agak menunduk untuk menatapnya.
"Right," [Name] mengambil jeda, ragu-ragu. "Sebaiknya Anda segera kembali ke tempat Anda, aku tidak ingin membuat Iida-kun dalam masalah."
Perasaan bersalah mulai merambatinya saat Iida tertegun di sisinya.
Apa kata-kataku tergolong kasar? Astaga Tuhan, aku tidak melihatnya termasuk dalam kata yang terlarang diucapkan disini!
"Moushi--"
"Terimakasih, itu sangat baik darimu," Iida berjalan ke kursinya.
Eh?
Berarti aku gak salah kan?
Reflek [Name] mengelus-elus dadanya yang sudah sedari tadi dag-dig-dug tak karuan. Nah, mukanya? Mungkin sudah pucat pasi.
"Hello eeeeeeverrrrryyyyyooonnnnee!"
"Yeay!" Dia melompat. "Good afternoon, Sir!"
Pria eksentrik itu mengangguk-angguk, kedua tangannya di pinggang, namun ekspresinya sangat menyenangkan.
I love it!
Yeaaaaay!
"Ohoho! What did I heard? Is that our new student!?"
"Yes, sir!"
Rambut blondenya terlihat sangat menjulang dari belakang sini. [Name] tersenyum sumringah membalas cenggiran sensei-nya. Guru bahasa Inggrisnya, Present Mic!
This is the best day ever!
"Sir..."
Itu gumaman. Terlalu kecil dan pelan untuk didengar. Namun dia mendengarnya, atau melihatnya
--Kurang lebih seperti itu.
Dipojok kelas, Todoroki menemukan [Surname] yang berusaha menarik perhatian guru mereka. Dia melihat bagaimana gadis itu bimbang dengan kedua tangannya. Todoroki memperhatikan bahwa dia adalah kidal --saat gadis itu menggulung anak rambutnya di depan kelas, dan --mungkin, ia beranggapan mengangkat tangan kiri bukanlah hal terpuji. Alhasil dia hanya mencicit seperti tikus terjepit pintu.
Sekarang dia mengalihkan perhatian pada Present Mic, dia berdiri di sisi kanan kelas, menjelaskan sesuatu pada Aoyama. Entah ilusi optik apa, disekeliling mereka ada bintang berwarna soft yang berkilau. Dia masih normal,
N.O.R.M.A.L,
sekedar memberitahu.
Perasaan ganjil mengisi relung pikirannya. Hanya sekilas, tapi tetap saja aneh. Dia mengibas rambut yang menutupi wajahnya. Perasaan itu memudar.
Dia mencari sesuatu yang mungkin menjadi penyebabnya. Ah, mungkin itu. Ini salah satu hari terik, dan sore itu hujan mengguyur kota mereka. Dimulai dari tetesan besar air hujan, dan menghantam jendela dan pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil. Pria berpostur tegap itu ingat, dia tidak membawa payung, lagi pula siapa sih yang membawa payung di awal musim panas?
Todoroki melirik [Surname] dari sudut matanya. Gadis berkulit madu itu tetap setia melakukan kegiatannya, bergumam. Apakah dia tidak sadar bahwa diluar hujan? Suara hujan cukup mengganggu, dan kau? Tidak ada peningkatan volume.
"Yessss?"
Dia sengaja mengijinkan tangannya terangkat, dan disahut, padahal ia belum memanggil sensei-nya. Todoroki memasang fokerface.
"Saya pikir, [Surname]-san memiliki sesuatu untuk dikatakan."
Itu senja yang basah padahal matahari sangat sengit. Suaranya dengan lihai melewati titikan kecil hujan, terasa bergema di telinganya. Mungkin, dia harus menunda kunjungannya ke toko buku. Saat ini, dia ingin pergi, ke rumah sakit.
"Katakan padanya: rasa penasaran tidak dapat membunuh manusia. Itu hanya kiasan."
To Be Continued
Connoisseurs:orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang sejarah seni.
Gaul (Berasal dari bahasa Latin, Galia): adalah kawasanEropa Barat yang saat ini adalah negaraItalia bagian utara,Perancil,Belgia,Swiss bagian barat, serta bagian wilayahBelanda danJerman baratSungai Rhein.
Gauljuga merujuk pada orang Keltik yang dulu menghuni kawasan tersebut. Menurut kesaksian dariJulius Caesar Gaul dibagi menjadi tiga bagian, Galliani Celtica, Belgica dan Aquitania.
Owowowowowowooo!!!
Chap 2 kelar juga~~~~
Abang Shoto dah keluar mba ;) masih cold-cool gituh sih, ga mungkin juga kan kalian langsung akrab hanya karena rambut kalian sama *mainin rambut *arrogantsmile ehehehehehe
Btw, ini chapter lebih panjang dari chapter 1, ini sampe 3600 word!
Yeay! :'3
Ada yang sakit mata bacanya? :' saya juga kok, makanya typo bertebaran kek jamur liar ;;;
Eh, kalian suka cerita yang gimana?
Yang pendek dan kadang ngegantungin?
Ato...
Yang panjang dan kadang bisa bikin bosan?
Daku sih, sering digantungin TT makanya suka yang panjang-panjang :v lmao
See you next chapter!
