Just Moved

.

.

.

~enjoy~

--

Malam sebelum mereka (LV) pindah

Empat orang pria terlihat masuk kedalam sebuah rumah. Mereka masuk dan menyalakan lampu untuk pencahayaan.

Melihat lihat semua sudut ruangan, mereka masuk ke salah satu kamar, "Hmm... Whoaa.. Ini keren. Aku--

--Hn. Kamarku." Sebelum Sasori menyelesaikan perkataannya Sasuke sudah memotongnya.

Mereka kembali melihat lihat kamar yang ada dirumah itu. "Whoaa... Ini lebih bagus. Aku--

--kamar Sasori."dan kembali, sebelum Naruto menyelesaikan perkataannya Sasuke kembali memotongnya. Menentukan siapa yang menempati kamar tersebut.

"Kamar yang bagus," sahut Sasori.

Mereka kembali mengelilingi rumah tersebut, masuk kedalam ruang istirahat atau ruang keluarga. "Woww.. Tempat ini sejuk." ucap Naruto

"Sasuke, kau yakin ini rumah kakekmu? Rumah ini terlihat terlalu bagus dan baru."tanya Sai.

"Hn. Ini sudah direnovasi orang tuaku karena sebelumnya rusak." jawab Sasuke.

"Ini perumahan yang tenang, tempat sempurna untuk tinggal sementara waktu,"ujar Sasori.

"Hn."

"Kita punya masalah disini,"ucap Sai dengan senyum palsunya yang menyebalkan.

"Apa?" tanya Sasori

"Tidak ada kasur. Bagaimana ini?"

Sasori terkekeh, "kita bisa mendapatkan kasur besok. Tahan saja dulu, Sai."

"Maaf saja aku tak sanggup." Sai berjalan menuju sofa.

"Tinggal tidur saja, bocah tengik." Naruto berkata sembari melempar bola basket yang entah bagaimana didapatnya pada Sai.

Malam dirumah baru -sementara- anggota LV itu terasa sunyi. Naruto dan Sasori tidur di sofa, sementara Sai tidur di futon. Dan Sasuke? Dia terlihat masih terjaga dan masih mengelilingi rumah kakeknya itu.

Keesokan harinya

Sasuke dan Sasori terlihat membawa barang mereka, meletakannya ditempatnya. Berjalan ke tempat Naruto dan Sai tidur, Sasori memukuli mereka dengan bantal, " Oii, tukang tidur. Bangun!"

"Hoaamm..." Naruto dan Sai bangun dan langsung menguap.

Mungkin karena penciumannya yang tajam(?) Naruto langsung terperanjat dan mengendus - ngendus, " Hei... Aku rasa aku mencium sesuatu..."

"Mungkin manajer membawakan kita sesuatu."ujar Sasori. "Aku lapar. Sangat lapar." Sai langsung bangun dan berjalan kearah dapur, disusul yang lainnya.

Mereka berjalan berjajar rapi menuju dapur, namun saat akan masuk kedapur, langkah mereka terhenti.

"Hei. Seseorang memakan kue beras." Naruto berbicara pada temannya bisik - bisik.

Mereka menengokan kepalanya secara sembunyi - sembunyi, melihat siapa orang yang sedang memakan kue beras itu.

Saat orang itu mulai tersedak kue beras, dan berjalan kearah lemari es mereka, Sasuke maju. Diikuti yang lainnya .

"Kau siapa?" tanya Sasuke.

Byuurr

Bukannya menjawab pertanyaan Sasuke, perempuan itu malah menyemburkan air yang ada di mulutnya. Melihat kejadian langka itu, Sasori, Sai, dan Naruto hanya melongo melihatnya. Sakura pun hanya tertegun melihat apa yang telah dilakukannya.

"Pfftt... Hahaha... Lihat apa ini? Seorang perempuan melakukan hal ini pada teme . Ohh... Ini sungguh kejadian yang langka," Naruto langsung menertawakan Sasuke.

Blush

Pipi Sakura kembali memerah, 'apa yang terjadi, mengapa LV bisa disini? Dan mengapa aku meludahi mereka? Apa yang aku lakukan?' teriak inner Sakura.

Sasuke hanya terdiam mematung dengan temannya yang berusaha menenangkannya.

"A-ano... "

"Cih, apa yang kau lakukan hah?" Oh tidak, Sasuke mulai marah.

"R-rumah s-sebelah... Ibuku menyuruhku untuk membawa..."

"Keluar!"

"E-eh, t-tapi..."

"Kubilang keluar!"bentak Sasuke.

Sakura yang mendengarnya langsung lari keluar dengan terbirit-birit. Masuk kedalam rumahnya dengan terburu - buru, dan langsung mencari Lee.

"Hei, k-kau. Tahukah kau siapa yang pindah ke sebelah?" tanya Sakura, sambil mencengkram bahu Lee.

"Ya. Sekumpulan orang-orang jelek." jawab Lee.

Sakura meringis mendengarnya. Melepas cengkramannya, Sakura pergi ke kamarnya.

[ LV ]

"Tidak mungkin! Mereka tidak mungkin LV!" seru Sakura.

"Bintang universal, LV ,tinggal dirumah sebelah? Ishh... Bagaimana ini? Wajahku begitu memerah sampai mau meledak."

"Ah iya! Pig." Sakura menelpon temannya, Yamanaka Ino.

"Pig, apa kau sibuk hari ini?" tanya Sakura.

"Ya, ada yang harus kulakukan. Memangnya ada apa?"tanya Ino diseberang sana.

"Masalahnya... Tetanggaku... Itu LV."

"Ibumu pasti memperlakukanmu sangat buruk sampai kau menjadi aneh." Ino terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Sakura.

"Itu benar! Aku bilang beberapa orang pindah ke sebelah. Itu LV." seru Sakura.

Ino tersentak mendengarnya. Menghentikan sebuah taksi dan mematikan teleponnya. Tujuan Ino sekarang adalah rumah Sakura.

"Halo? Kau keterlaluan." Sakura yang kesal teleponnya dimatikan secara sepihak kesal terhadap Ino.

~oOOo~

Malam harinya

Ino baru sampai kerumah Sakura dengan membawa dua teropong. "Ini. Tanda persahabatan sepuluh tahun kita. Ambil!"Ino menyerahkan salah satu teropongnya pada Sakura.

"Hehe... Sebenarnya aku sudah punya."Sakura menunjukan teropong berwarna pink nya pada Ino.

"Lihatlah! Raut wajah mereka sangat tajam. Mereka bisa merobek kertas."ucap Ino

"Bagaimana dengan hidung itu? Juga ukuran wajah yang tidak relistis itu. Mereka pasti dari luar angkasa, kan?"sahut Sakura.

"Proporsi yang sempurnya dan jari-jari yang ramping... Mereka adalah Mahakarya."ujar Ino.

"Mata mereka sangat dalam... Seperti lubang hitam. Hahhh.."ucap Sakura. Tiba-tiba Sakura teringat akan dirinya yang meludahi Sasuke.

"Tidakkk! Aku mengacaukan semuanya... Bagaimana ini?" ujar Sakura sambil menjambak rambutnya sendiri.

To be Continued

Maaf kalau masih kurang;)