Just Moved
.
~enjoy~
DLDR
.
.
--
"Bukan begitu. Kapan kau menyiapkan semua makanan ini?"tanya Sai.
Meja di rumah sementara para anggota LV itu sungguh penuh dengan makanan untuk sarapan.
"Sai jangan meninggalkan sisa makananmu." seru Sasori.
"Hmm. Bawel."
"Hei, apakah kalian pikir gadis itu akan berlari dan memberitahu semua orang? Haruskah kita mengadu pada manager?" Naruto memulai pembicaraan tentang Sakura.
"Jika dia sampai membocorkannya, tempat ini takkan aman lagi." ucap Sasori.
"Benar juga." sahut Naruto.
"Hn. Dia tidak cukup berani untuk membocorkannya. Tidak setelah perbuatannya." ucap Sasuke.
"Kau mengenalnya teme?" tanya Naruto. Semua orang melihat kearah Sasuke.
"Tidak."
"Oh ya... Aku baru ingat, manajer kita mengirim seseorang untuk membersihkan rumah kita." ucap Sasori.
"Hn."
"Berapa usianya?" tanya Naruto.
"Enak saja!" seru Sakura.
"Hati-hati dengan apa yang kau sentuh dan telitilah." ucap Mebuki.
Sakura disuruh oleh Mebuki untuk pergi ke kantor tempat kerjanya.
"Maka dari itu... Kenapa aku harus membersihkan rumah mereka dan mencuci baju mereka? Kenapa buu...?" Sakura protes pada ibunya karena dia disuruh untuk membersihkan rumah tetangganya.
"Ini perintah." ucap Mebuki
"Ini perintah yang keterlaluan." sentak Sakura.
"Aku putrimu satu-satunya, tapi Ibu ingin aku menjadi pembantu?!"
"Ini tidak gratis tau! Kau akan mendapat upah"
"Ibuuu!"
"Apa kau tahu bayarannya berapa? Standar dunia pun lebih ti..."
Ehhh
"... Di atas standar dunia. Maksudku."
"Tidak mau! Aku tidak peduli dengan apapun yang Ibu katakan. Aku takkan melakukannya. Kau tak bisa memaksaku." Sakura tetap keukeuh pada pendiriannya.
"Lihat kesana!" Mebuki menunjuk sesuatu yang menempel di dinding.
[ Biaya sewa per kamar ¥52.535(yen)]
Tulisan di dinding itu membuat Sakura tersentak.
"Kau tahu berapa yang bisa kudapatkan jika aku menyewakan kamarmu?" tanya Mebuki.
"Aku tak punya alasan untuk membiarkan kau hidup dengan gratis." ucap Mebuki. Ohhh Mebuki, kau sungguh sadis pada anak gadismu.
"Kau sungguh jahat Nyonya Haruno." ucap Sakura. Sakura terdiam lalu tiba-tiba tersenyum.
"Nyonya Haruno... maksudku, Ibu. Apa yang bisa kulakukan agar tidak pergi ke rumah itu?" Sakura mencoba bernegosiasi(?) dengan Ibunya.
"Sederhana saja. Cari orang tua baru. Hahahahaha..."
Mebuki berhenti tertawa, lalu ia mengambil sesuatu dilaci mejanya. Menyodorkan sebuah kunci pada Sakura.
"Ini. Tidak ada siapapun disana seharian. Dan juga, jangan bicara pada pria-pria itu. Berpura-puralah seolah mereka tidak terlihat. Ruang paling kanan di lantai dua, kau tidak boleh masuk kedalamnya." ingat Mebuki.
"Aku takkan melakukannya. Arghhh.. Aku takkan masuk kerumah itu. Takkan pernah!"
~oOOo~
Setelah berdebat dengan sengit bersama ibunya, Sakura kembali kerumah, lalu menghubungi Ino untuk datang kerumahnya.
Dikamar Sakura, Ino datang membawa berbagai macam accesories milik LV sampai-sampai ranjang Sakura penuh oleh accesories LV.
"Kenapa kau membawa semua ini?" tanya Sakura
"Ini agar kau punya kesempatan membersihkan barang-barang LV menggunakan accesories LV.
Bisakah kau bayangkan? Mencuci baju LV menggunakan sarung tangan karet bergambar LV? Ini adalah kesempatan yang suci. Kenapa kau ragu? Forehead aku sungguh tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu." ujar Ino.
"Bukankah sudah kubilang? Aku pernah meludahi salah satu dari mereka." ucap Sakura
"Tapi ini demi mereka. Jika kau menyesal, bekerjalah lebih keras. Bersihkan dan gosok. Singkirkan debu bersalahmu jauh-jauh." Ino berkata sambil memperagakan kegiatan bersih-bersih.
Sai berjalan - jalan disekitar perumahannya. Memakai pakaian serta jaket serba hitam dan sebuah kacamata hitam.
Melihat Lee yang sedang latihan kungfu(?) di belakang rumahnya. Sai berinisiatif untuk bertanya pada Lee dimana tempat kedai kopi.
"Permisi. Boleh tumpang tanya?" Sai menepuk bahu Lee.
"Apa?" tanya Lee ketus. 'Aku tidak percaya seseorang meminta bantuanku' batin Lee berujar.
"Dimana aku bisa menemukan sebuah kedai kopi? Aku mencari coffe drips.( drips=menetes)?" tanya Sai.
'Drips? Tetesan? Penetes? Menetes?' batin Lee bertanya-tanya maksud Sai.
"Kau tidak tahu? Kau menggiling biji kopi dan kopinya menetes, menetes, menetes." jelas Sai.
"Tidak tahu" Lee menjawab dengan ketus, mencueki Sai dan kembali melanjutkan latihannya.
"Hahh," Sai menghela nafas panjang. Berbalik dan kembali berjalan kearah rumahnya.
Tingg
Tiba-tiba Lee teringat sesuatu,"Tunggu! Apa tidak apa-apa jika di pekarangan ini?" tanya Lee.
~oOOO~
Lee melambaikan tangan nya pada Sai agar menghampirinya.
"Masuklah." Mereka masuk kedalam sebuah tenda di pekarangan rumah Lee.
Mereka masuk kedalam, dan Lee langsung membuat sebuah kopi dengan cara tradisional. Pertama biji kopi digiling menggunakan sebuah penggiling dari batu, kemudian bubuk kopi di beri air lalu diperas menggunakan sebuah kain. Hasil perasan tersebut bisa langsung diminum.
"Ini cobalah" Lee memberikan sebuah gelas yang telah berisi kopi pada Sai untuk dicoba.
Sai meminumnya dengan perlahan, tersenyum ketika merasakan rasa dari kopi buatan Lee.
"Teman. Aku harap kita bisa menjadi teman baik." Ujar Sai, memegang tangan Lee untuk berjabatan.
[ Perjanjian Persahabatan Disahkan]
To be Continued
a/n:
maaf klo pendek, saya masih newbie disini. Arigatou gozaimasu
Nanami Sachii
