Just Moved
.
.
.
~enjoy~
_
[Dokumentasi Kehidupan Sang Pertapa]
Nama: Nyonya Tua Haruno Sakura
Umur: Tidak diketahui
"Nenek, sejak kapan kau tinggal disini?"
"Sudah lama, semenjak saya difitnah... Hey, hey, hey, jangan semakin mendekat!"
"Bisakah kau memberitahu kami apa yang terjadi padamu?"
"Apakah ada kecoak di rumahmu?"
"Kecoak?"
"Begini, ada tiga hal yang harus kau waspadai dalam hidupmu. Teropong, kecoak, dan selebriti universal."
"Selebriti universal? Maksudmu siapa?"
Kamera semakin mendekat, memperbesar pengambilan ekspresi nenek tersebut.
"Berhenti mengambil gambar! Pergi dari sini! Pergi!"
'Sayangnya, itu adalah akhir dari wawancara kami dengan Nyonya Tua Haruno Sakura.'
'Sampai kapan musim dingin baginya berlangsung? Ia si nenek tua yang tinggal sendiri di sebuah rumah dari kardus di kolong jembatan. Akankah musim semi datang kepadanya?'
"Kenapa kau tidak makan?" sentak Mebuki.
Dengan termometer yang berada dimulutnya, Sakura tersentak dari lamunannya dan langsung melihat ibunya.
Mebuki mengambil termometer yang berada dimulut Sakura dan mengecek suhu yang tertera pada benda itu. "Hm, panasmu sudah turun."
"Orang bilang anjing saja tidak pilek saat musim panas." ucap Lee
Saat ini Lee, Sakura, dan Mebuki sedang berada dimeja makan dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh Sakura.
"Apa aku bodoh? Ini kan bulan Januari, huacihh" ucap Sakura
"Kau gadis bodoh yang membiarkan jendela kamar terbuka sepanjang malam." ucap Mebuki cepat.
"Aku frustasi dan butuh udara segar."
"Frustasi tentang apa?" tanya Mebuki.
Sakura hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
Menghela napas, "tetaplah makan meskipun kau tidak lapar. Kau harus minum obat,"ucap Mebuki.
"Bahkan anjing pun harus merasakan kedamaian saat mereka makan. Biarkan saja dia bu," kata Lee.
"Hah.. Pergi ke kamarmu, aku akan membuatkanmu bubur."
Meletakan sumpit yang ada ditangannya, Sakura segera beranjak dari tempatnya duduk dan langsung pergi ke kamarnya, tidak lupa dengan selimut tebal yang masih membungkus tubuhnya.
"Aku rasa dia benar-benar sakit." ucap Lee
Tempat LV
Naruto, Sai, dan Sasuke duduk mengelilingi meja. Sementara Sasori? Entah kenapa sedari tadi ia terus mondar-mandir seperti setrika. Sedangkan Sasuke, pria Uchiha itu terus saja melihat kearah jendela kamar Sakura.
"Kenapa gadis itu belum kesini?" ucap Sai.
"Mungkin dia ketakutan," sahut Sasori sembari melihat kearah Sasuke.
Naruto datang menghampiri Sasori dan menjentikkan jarinya tepat di depan muka Sasori. "Hei, apa yang kau khawatirkan? Aku bisa membantumu, katakan padaku."
"Tidak ada apa-apa," jawab Sasori.
"Ckckck, kau ingin kita mempercayainya?" tanya Sai.
"Lalu Sasuke, kenapa kau terus memandangi rumah itu hm?" lanjut Sai.
"Hn, aku tidak memandanginya." jawab Sasuke dengan tatapan dinginnya.
"Ahh, aku mengerti. Ini akibat dari ucapanmu, 'keluar! Aku bilang keluar!' Benar?"
"Cih."
"Ah benar," sahut Naruto
"Itu sebabnya dia tidak datang?" tanya Sasori.
"Jika itu mengganggumu, aku akan menelponnya dan bertanya." ucap Naruto, dan seluruh perhatian langsung terfokus padanya.
"Hehe, sebenarnya aku tidak punya nomor ponselnya," lanjut Naruto.
"Aku punya," ucap Sai tiba-tiba. Dan sekarang seluruh perhatian terfokus pada Sai.
"Maksudku, aku tidak tahu, tapi aku berteman dengan adiknya. Aku bisa bertanya padanya mengenai hal ini. Bagaimana?" lanjutnya.
"Gadis itu sakit parah," ucap Lee.
Saat ini Sai dan Lee berada didalam tenda yang menjadi saksi bisu persahabatan keduanya. Dengan posisi Lee yang membelakangi Sai.
"Apa? Dia benar-benar sakit?" tanya Sai.
"Ya, bung. Dia dalam skala kritis--
Sai menahan napasnya.
--Masuk angin."
Hahh, Lee kau membuat Sai tegang.
"Hahhh. Bung, ada yang ingin kutanyakan padamu. Apa kau selalu berbicara seperti orang tua? Dan kenapa kau tidak melihatku?" Tanya Sai gemas.
"Aku tidak duduk berhadapan dengan teman yang kutemui di luar sekolah. Hati-hati dengan sikapmu." jawab Lee cepat.
"Berapa usiamu?"
"Sudah kubilang hati-hati dengan sikapmu. Satu hal lagi, kau telah salah paham. Kakakku menganggapmu sebagai seorang pria yang jelek," ucap Lee.
"Apa?"
"Dia bilang kalian sangat jelek. Dan jika kau punya pikiran kotor tentang kakakku, buanglah jauh-jauh."
~oOOo~
"Sakit masuk anginnya gadis tetangga sungguh parah. Dia sampai bingung dan berpikir bahwa kita jelek. Tetapi menurut pendapatku adik laki-lakinya jauh lebih sakit," ucap Sai. Sasori dan yang lainnya menyimak dengan sungguh-sungguh.
"Hei, mungkin dia sakit karena Teme," ucap Naruto sembari menunjuk Sasuke.
"Hn? Jangan menyalahkanku, Dobe," ucap Sasuke.
Di kamar Sakura
'deg-deg-deg-deg'
Jantung Sakura berdegup kencang mengingat kejadian yang terjadi kemarin. Saat pipinya diusap oleh Sasori, dan degupan jantungnya semakin cepat saat mengingat pertemuan awkwardnya dengan Sasuke.
'Kau sungguh tidak tahu siapa aku?' tanya Sasuke
'LV? Oh, Sasuke yang bersinar-sinar?'
'Ck, sudahlah.'
"Dia ingin aku bilang apa sih?"
Jantungnya kembali berdegup kencang.
"Berhenti berdegup kencang! Apa kau tidak lelah?" ucap Sakura pada jantungnya(?).
Keesokan harinya
"Kak ini ada kiriman, "ucap Lee.
"Keluar. Aku lelah."
"Siapa pria celemek? Ini dari pria celemek?"
Sakura langsung bangkit dari tidurnya.
"Apa?"
Sakura mengambil note yang ada pada cup yang dipegang Lee.
'Madu dan jeruk sangat Bagus untuk mengobati masuk angin. Minumlah ini ddan cepatlah baikan. Aku berharap kau sehat saat kita bertemu lagi nanti.'
NB: Katakan padaku namamu saat itu ȏ.̮ȏ
Cowok celemek -Sasori- tetangga sebelah.
Sakura terkikik pelan saat membacanya dan wajahnya pun mulai memerah.
"Oi kak, wajahmu terbakar lagi." ucap Lee sembari mengibaskan tangannya di depan muka Sakura.
Sakura kembali bangun dengan segar keesokan paginya dan kembali memulai aktivitasnya.
Tapi mungkin hanya Sakura, orang yang memulai aktifitas dengan memikirkan sesuatu. Ia memikirkan pekerjaannya sebagai pembantu sementara di rumah LV.
'Meludah, mengintip, menggeledah. Pengacau yang sempurna, kan?'
Sakura jadi teringat dengan perkataan Ino saat itu. "Aku tidak boleh membiarkan mereka berpikir aku orang aneh."
Rumah LV
Sakura kembali memulai rutinitasnya sebagai pembantu sementara di rumah LV. Diawali dengan membersihkan kamar Sasuke.
Sasuke tiba-tiba saja masuk kedalam kamarnya. Melipat kedua tangannya didada dan menyender ke pintu.
Sakura hanya melihat Sasuke sekilas. Merasa malas dan canggung karena keberadaan Sasuke, Sakura berniat keluar dari ruangan tersebut.
Namun sebelum Sakura berhasil menggapai gagang pintu, lengan Sasuke mencegahnya.
"Maaf," ucap Sasuke.
Hei, apakah Uchiha Sasuke baru saja meminta maaf???
To be Continued
