Disclaimer: I own nothing but the story
"A-Aku menyukaimu, Kakak Senior!"
Dunianya berhenti. Chanyeol menoleh ke belakang dan melihat seorang lelaki berpenampilan berantakan—ini menurut anggapannya saja. Ia kenal siapa lelaki itu. Adik kelasnya. Seorang siswa yang sudah membuat heboh dengan gaya yang mencolok. Belum lagi rambut yang dicat padahal peraturan sekolah tertera jelas melarangnya.
Chanyeol memperhatikannya dari ujung rambut sampai kaki, seperti menganalisa. Ditatap sedemikian rupa malah membuahkan rona kemerahan di wajah adik kelas. Beberapa murid di sekitar mereka—yang menjadi penonton dadakan—menahan gemas melihat si biang onar memalu.
"Sudah?" tanya Chanyeol dengan intonasi datar. Mengabaikan bisik-bisik yang tertangkap oleh telinganya.
Kerjapan lucu diberikan, "Ha? Apanya yang sudah?"
"Itu saja kan permainannya? Bilang pada temanmu kalau taruhan di antara kalian sudah tuntas. Aku mau pergi."
Lalu Chanyeol meninggalkan tempat itu tanpa rasa bersalah. Si adik kelas melongo di tempat, tidak percaya pernyataan yang disiapkannya berhari-hari karena gugup setengah mati dianggap candaan oleh doi.
"Baekhyun, kubilang juga apa. Dia itu sangat ketus, kau tidak usah mendekatinya."
Baekhyun masih melihat punggung Chanyeol sampai kakak kelasnya itu menghilang di tikungan ujung lorong. Lalu ia berpaling pada sahabatnya, "Jongdae, aku baru saja memulai. Masa langsung mundur?"
Jongdae menunjuk tempat Chanyeol, "Kau tidak lihat responnya tadi? Kau tidak punya harapan."
Baekhyun menepis tangan yang terangkat itu. "Diam dan saksikan saja. Aku tidak akan menyerah semudah itu!" ikrarnya penuh tekad.
"Hoooi, Byunbee! Mau membolos ke minimarket bersama kami?"
Kepala menoleh, ia berjingkrak senang. "Aku ikut!" lalu berlari menyusul sekelompok siswa bermasalah yang siap menerobos keluar sekolah di jam pelajaran.
Jongdae menggelengkan kepala di tempat, ia tidak mau dan tidak akan pernah ikut-ikutan. "Kelakuanmu saja sudah membuat Park Chanyeol iritasi mata, Baekhyun." katanya seorang diri lalu berjalan kembali ke kelas.
Tanpa menotis keberadaan seseorang yang bersandar di balik dinding.
Chanyeol menghela napas di tempatnya lalu melanjutkan langkah yang sengaja ditunda. Tangan masuk saku, kepala menggeleng dramatis, "Dasar bocah."
.
.
.
Up and Down Like A Rollercoaster
Chanbaek pairing
WARN: Sho-ai, BL, Yaoi
Sorry for typo(s)
.
.
.
"Chanyeol!"
BRAK!
Pensil terpeleset, membentuk goresan panjang hangul terakhir sampai melewati ujung kertas, lalu bahan grafit berlapis kayu itu menggelinding jatuh ke lantai. Chanyeol mengusap-usap dengkul yang refleks menabrak kolong meja karena terlonjak kaget, nyeri sekali.
Byun Baekhyun memang biadab sopan santun.
Si pengganggu ketenangan sekaligus orang yang bertanggung jawab atas serangan jantung ringan Chanyeol mendekat dengan langkah santai tanpa dosa. Ia bertumpu pada lutut, agak membungkuk untuk mensejajarkan kepala. Wajahnya terpampang senyum manis yang menambah parah serangan jantung si penulis.
"Ayo jalan-jalan!" serunya bersemangat. Seratus persen wajib dituruti.
"Wahai Yang Mulia Editor, hamba dengan berat hati harus menolak ajakan spesial itu. Tugas hamba begitu banyak karena tidak ada yang membantu menyumbang ide—Demi Tuhan, Byun! Tenggat waktu tinggal lima hari! Kenapa malah memintaku untuk keluar?!"
Baekhyun mengerucutkan bibir. Agak-agak minta dicium sepertinya—ehem. Kembali ke topik.
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya Baekhyun seolah tidak melihat kertas-kertas di atas meja.
Chanyeol jadi curiga kalau mantannya itu punya masalah mata yang lebih serius dibandingkan dirinya sendiri. Ia bernafsu sekali mendorong punggung editornya sampai terjerembab ke depan—sekalian mengambilkan pensilnya yang masih tergeletak di lantai.
"Aku sedang menulis beberapa inspirasi tapi gagal karena seseorang tak tahu tata krama menjeblak pintu ruang kerja dengan tenaga dalam." Telunjuknya mengacu pada ujung kertas berhias coretan panjang.
Baekhyun haha-hehe tanpa rasa bersalah. "Setidaknya aku mengenakan pakaian dengan baik dan benar. Tidak seperti orang yang menyambut tamu hanya berlapis kaos dan bokser—"
"Jangan bahas itu terus, astaga!"
Chanyeol mengusap wajah dengan kasar, merasa dipermainkan. Baekhyun mengulurkan tangan, menarik kacamata berbingkai tebal yang bertengger di hidung pria itu. Chanyeol hanya terdiam, menatap dengan kerjapan bingung sementara alat bacanya diletakkan di samping monitor.
"Kau terlalu lama menggunakan kacamata. Itu tidak baik. Ayo pergi keluar dan jernihkan kepalamu." Ajaknya sekali lagi.
Chanyeol menggeleng cepat. Dalam hati berdecih atas keras kepala editornya. Sudah tahu pasti ditolak masih saja bebal. "Di luar banyak orang."
"Yaiyalah, namanya juga dunia. Kalau tidak ada orang, itu artinya mereka semua pergi ke luar kota untuk merayakan hari tanpa Chanyeol."
Chanyeol mengernyit. Merasa familiar dengan adegan itu. Kerutan di dahi bertambah dalam lalu menoleh cepat ketika sadar. "Kau menyamakanku dengan Spongebob?!" ia menuding mukanya sendiri.
"Tadinya iya…" Baekhyun menjawab dengan wajah kelewat datar, "..ah, tidak. Ternyata kau lebih mirip Squidward."
"Sialan."
Chanyeol bahkan tidak tahu kenapa ia mengumpat. Apa buruknya Spongebob dan apa buruknya Squidward? Ia merasa tersinggung untuk suatu hal yang berada di luar nalarnya.
Baekhyun menutup mulut dengan telapak tangannya, "Sebentar, sebentar. Aku bahkan bisa membayangkan ketika kau mengatakan 'aku benci kalian semua'. Ya ampun… sangat terealisasi dalam pikiranku! Kau cocok memerankan makhluk bertentakel itu! Kurang dua kaki dan tinta saja, pfffttt!"
Chanyeol mendelik. Tidak ada yang lucu, untuk apa editornya tertawa. "Apa-apaan dengan tentakel. Aku juga tidak menyemprotkan cairan hitam—"
Baekhyun mengatur napasnya usai tertawa.
"—kalau menyemprotkan cairan yang lain beda lagi ceritanya."
"Uhuk!"
Mulutnya yang terbuka megap-megap seperti ikan ditarik pancingan mendadak menghirup oksigen melebihi kapasitas, membuatnya tersedak udara. Chanyeol tidak kasihan sama sekali. Malah tersenyum puas melihatnya terbatuk-batuk.
"C-Chanyeol!" ia berseru memperingati dengan wajah merah.
Chanyeol menaikan alis, "Apa? Aku kenapa?" godanya.
Baekhyun menghalau wajah dengan punggung tangan, satu langkah ke belakang diambil. "Kau itu—penulis tak bermartabat. Kalimatmu bermakna ganda! Ambigu!" cecarnya.
Chanyeol memutar mata, berusaha terlihat sangat menyebalkan. "Bisa saja yang kumaksud itu cairan ketika pilek, bukan? Kau yang mengada-ada. Berpikirnya yang kotor-kotor saja nih."
Boleh tidak Baekhyun menoyor kepala Chanyeol? Di dalam kontrak tidak ada peraturan untuk larangan penggunaan kekerasan omong-omong.
"Sudahlah, keluar sana. Pelangi di kepalaku tiba-tiba hilang karena keberisikanmu." Kibasan tangan bergerak mengusir.
Baekhyun mendengus. Ia mendekat lagi, memaksa kursi berputar agar menghadap padanya. Kedua tangan memenjarakan kepala Chanyeol. Loh, loh, loh. Ada apa ini. Chanyeol tertegun di tempat, bahkan kakinya ditahan juga. Baekhyun sedang menginjak satu kakinya di bawah sana.
Ia kalap, "B-Baekhyun, aku butuh spasi—"
"Bukan." Baekhyun memotong dengan tegas. "Yang kau butuhkan adalah ganti pemandangan untuk menyegarkan otak. Kepalamu tidak menghasilkan pelangi, tapi asap karena geriginya lelah bekerja."
Chanyeol tidak yakin apa ia fokus mendengarkan Baekhyun atau memerhatikan bibir merah dan pandangan menusuk langsung jiwanya. Letupan gila dalam dadanya perlu diminimalisir atau suaranya akan terdengar sampai ke telinga si editor. Ah, salahkan hujan deras dua hari yang lalu—berakibat jantungnya semakin tak bisa dikontrol.
Satu tangan turun dari kepala kursi, berakhir di atas bahu pria itu. "Makanya terima ajakanku. Hanya di sekitar sini saja, ada taman yang bagus. Kujamin, inspirasi datang sendiri jika situasinya menenangkan."
Hampir satu menit dan tidak ada persetujuan yang terucap. Chanyeol sedang sibuk mengagumi keindahan paras Baekhyun yang semakin dewasa dan menantang.
Baekhyun menelengkan kepala—jatuhnya imut sekali, image menusuknya lenyap. Mulai cemas apakah ia sudah merusak Chanyeol yang kini membatu tak bergerak. "Chanyeol, kau di sana?" panggilnya.
Pria itu mengangguk sangat kaku.
Baekhyun menarik diri. "Kalau begitu ganti pakaianmu. Aku tunggu di ruang depan." Melangkah keluar lalu berhenti ketika memegangi daun pintu, ia menoleh lagi sambil tersenyum miring, "Ah, kecuali kalau kau suka memakai celana pendek yang mempertontonkan setengah pahamu."
Pintu ditutup sementara Chanyeol tersentak. Menunduk dan menemukan apa yang dikatakan Baekhyun itu benar. Sialan. Kenapa rasanya déjà vu.
"Matamu yang jelalatan, Byun!" ia berseru sambil menghentak berdiri dari kursi.
"Kata Tuhan, rejeki tidak boleh ditolak!" balas Baekhyun yang pecah dalam tawa.
"Aiissh, anak itu!" dengusan terdengar kasar. Chanyeol cepat-cepat menyelinap menuju kamarnya.
Byun Baekhyun memang tidak banyak berubah. Masih phobia petir. Masih menyebalkan dan banyak bicara. Juga masih suka menggoda meski praktek langsungnya amatir luar biasa. Chanyeol jadi ingat ekspresi lucu anak itu ketika pertama kali berciuman. Sungguh pasrah di bawah kendali, bertolak belakang dengan sikap berandalnya. Duh kenapa pembicaraan jadi ke sini.
Seharusnya ia tidak perlu seheboh itu karena mereka sesama pria. Masalahnya adalah mereka sama-sama menyimpang. Juga sama-sama seorang pria dewasa berstatus lajang. Kalau perlu diingatkan, mereka mantan kekasih. Hmm, triple kill sudah rasa malunya.
Kepala dan satu tangan baru masuk ke hoodie, tiba-tiba Chanyeol merasa disengat.
Tunggu sebentar.
Baekhyun benar masih lajang, kan…?
Gerakan memakai hoodie mendadak terhenti. Sesuatu menghantam dadanya dengan keras bagai tersiram air dingin. Sesuatu terasa merayapi tulang belakang sampai selangka, perasaan kalut. Dari hari pertama resmi menjadi rekan kerja, Baekhyun tidak pernah menceritakan apa-apa tentang dirinya. Apa karena tak pernah menunjukkan makanya Chanyeol menganggap Baekhyun tak pernah berubah?
Oke, Park Chanyeol, kau tidak tahu itu dan penasaran tentang hal itu.
Berharap sesuatu, eh?
…
Penampilan Baekhyun lebih menyegarkan lagi hari ini. Fantasi Chanyeol tentang kaos ngepas hampir terkabul. Lelaki yang lebih muda setuju untuk mengalungkan jaket denim di leher, membuat kaos biru dongker polos terpampang dan mencetak lingkar pinggulnya jelas. Bahkan ikat pinggang yang menahan celana jeans hitam itu sesekali mengintip ketika melangkah.
Kalau sudah begini, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?
Chanyeol pasang mata saja, toh Baekhyun nyaman-nyaman saja dengan bajunya. Kalau lelaki itu risih, salahkan diri sendiri kenapa memilih berpenampilan mengundang.
Itu sih memang otakmu saja, Park.
Hitung-hitung Chanyeol tidak perlu gelisah memandang sekitar kalau atensi di sampingnya sudah menarik perhatian. Ia sadar betul banyak orang-orang menghabiskan sore hari di taman seperti ini. Beberapa anak lelaki bermain skateboard, ada anak kecil kejar-kejaran dengan sepatu roda, pecinta hewan menggenggam leash menyusuri semak penuh bunga, dan sisanya pasangan muda lupa dunia.
Chanyeol lupa kapan terakhir kali mengunjungi taman ini. Semenjak apartemennya diatasnamakan Park empat tahun lalu, ia sudah jarang sekali menapak di jalan. Pernah sekali mencari inspirasi untuk buku keduanya di sini, tapi ia merasa sangat gelisah karena datang sendirian.
"Kau tidak bisa menulis adegan romansa antara dua tokoh utama, bukan?"
Chanyeol bergumam ya sedangkan mata masih mengikuti pergerakan si editor. Baekhyun berjalan dua langkah di depannya, kelihatan bersemangat menelusuri taman sampai ke sudut-sudutnya. Menambah keuntungan bagi pria itu tanpa takut kepergok matanya juga jelalatan.
"Kau perlu referensi."
"Aku sudah mencarinya—"
"Lupakan Wikipedia atau situs norak yang memberi tips-tips menyenangkan pasangan."
Chanyeol menghirup udara dan menghembuskannya pelan-pelan. Antara mengatur emosi atau mempersiapkan kesenangan karena pertunjukan di depannya. Sebenarnya Baekhyun cuma memainkan langkah sambil bersenandung, tapi efeknya sudah luar biasa bagi sang mantan.
"Lihat kejadian langsung kurasa lebih efektif. Contohnya orang-orang pacaran di sekelilingmu."
Dipraktekan langsung juga hayuk kalau denganmu.
Chanyeol mencubit lengan bawah keras-keras, menghilangkan pikiran yang tidak-tidak. Ia jadi lebih blak-blakan dan sulit mengatur diri. Kenapa hormonnya seperti remaja jatuh cinta?
Seandainya Baekhyun tahu bahwa mantannya itu tak punya harga diri karena masih berharap, pasti ceplakan lima jari membekas di wajah tampan Chanyeol.
Baekhyun menoleh ke belakang, mengira Chanyeol sibuk mengikuti sarannya. Tapi pria itu bahkan masih mengenakan kupluk hoodie dengan rapat. Tak ada minat untuk lirik kanan lirik kiri. Tinggal menambah earphone di telinga maka Park Chanyeol seperti orang yang melakukan jogging sore hari.
Sayang sekali ia sedang tidak fokus untuk tahu kemana arah pandangan Chanyeol.
"Selama ini aku baik-baik saja menggunakan imajinasi. Kenapa harus melihat adegan langsung?" akhirnya Chanyeol bicara setelah sadar dari lamunan tak berujung.
"Karena kau kurang pengalaman."
Uhuk!
Kalau Chanyeol sedang minum, ia pasti sudah batuk-batuk parah dan menyemburkannya lagi keluar mulut lalu mengeluh kesakitan bagai tersedak kuah pempek beserta potongan timun. Pedihnya minta ampun. Tapi karena sekarang tidak melakukan itu, dia hanya tersandung ujung sandal dan tertohok dalam hati.
"Memakai imajinasi untuk menjabarkan kondisi saling suka itu mudah, tapi kalau sudah naik tingkat menjadi saling suka dan saling mengetahui, lebih susah. Kau tidak tahu harus membuat keadaan bagaimana, terlalu canggung terasa nanggung, terlalu romantis dikira settingan, pura-pura bodoh lalu menghindar terlalu picisan dan terakhir… biasa-biasa saja membuat kecewa pembaca."
Baekhyun sedang dalam mode bicara menggurui rupanya.
Chanyeol bersyukur lelaki itu tidak melancarkan mulutnya dalam satu tarikan napas. Yah, dua tarikan napas sebenarnya. Itu bisa disebut kemajuan yang signifikan.
"Jadi kau secara halus menyuruhku memelototi para pasangan di bawah pohon itu dan mengusik momen mereka sampai risih? Aku bisa dikira penguntit gila." Jari telunjuk mengarah bergantian pada diri sendiri dan objek pembicaraan.
Baekhyun memutar mata jengah, "Aku bilang amati bukan potret kelakuan mereka lalu diekspos ke Dispatch. Aku menyuruhmu menjadi pengamat bukan reporter bayaran."
Chanyeol jadi penasaran Baekhyun melanjutkan pendidikan kuliahnya dimana dan berapa nilai debat yang diraihnya. Byun Baekhyun tahu sekali cara membungkam seseorang.
Tuk
Sebuah bola oranye bergaris hitam menyenggol sol sepatu berleher rendah milik Baekhyun. Chanyeol ikut menoleh bersamaan ketika suara laki-laki terdengar.
"Hai, Kakak cantik~ ayo main basket bersama kami!"
Nada genitnya membuat Chanyeol mual.
Beda pribadi, beda pula reaksi. Baekhyun terkekeh pelan lalu membungkuk, membawa bola basket di tangkupan tangannya. Chanyeol yang paham bahwa lelaki itu bermaksud menyanggupi ajakan orang asing, langsung menahan bahunya.
"Tunggu, Baekhyun, kau mau-mau saja digoda bocah ingusan itu?" lirikan tajamnya mengarah pada laki-laki di balik dinding kawat yang memagari lapangan kecil khusus basket. Belum lagi konco-konconya yang menyeringai seram menunggu bolanya kembali. Chanyeol seratus persen yakin, bahkan berani mempertaruhkan celana trainingnya untuk dilepas saat ini juga, kalau mereka mau main licik dengan editornya.
Maksud dari main licik di sini bukan senggol bahu, tarik baju, dan kekerasan fisik berakibat memar lainnya untuk menggagalkan permainan basket. Oh, God, lihat saja mulut mereka yang siap bersiul-siul jika Baekhyun benar datang. Mereka tengah menggoda.
Apa semua remaja hobi catcalling seperti ini?
Chanyeol khawatir dengan masa depan bangsa. Katakan itu pada penulis novel yang tidak berkontribusi apa-apa dalam perkembangan Negara, hati kecilnya menyiksa. Terkadang suka masokis, memang.
"Aku cuma mau mencetak satu angka, setelah itu selesai."
Chanyeol tidak sempat bereaksi. Tahu-tahu Baekhyun melenggang pergi setelah melempar jaket denimnya ke muka Chanyeol. Sesuai dugaan, sekelompok geng street basket berseru kesenangan melihat mangsa mau bergabung. Bahkan Baekhyun terlihat tidak peduli apa yang akan terjadi padanya. Senyum ramah ditunjukkan secara gratis.
Chanyeol menarik turun jaket dari wajahnya dengan kasar, "Serius? Kau benar-benar serius, Baekhyun?" ia menganga di tempat memandangi punggung Baekhyun yang sudah jauh dari jangkauannya.
Ia menceracau, "Ini buruk. Baekhyun sungguhan memiliki mata yang bermasalah. Dia gila. Ya, dunia sudah gila."
Alih-alih menyeret Baekhyun kembali, Chanyeol tetap berdiri di sana. Bersedekap dengan wajah khawatir didukung kakinya yang selalu berubah posisi. Bukannya khawatir bohongan lalu tidak melakukan apa-apa, dia hanya tidak bisa memikirkan cara apa lagi supaya si keras kepala Byun mau mendengarkan peringatan.
Kalau sudah begini lebih baik ditonton saja dan menunggu si pelaku terkena batunya, kan? Itu zlebih efektif supaya jera.
Mereka terlihat bercakap sebentar. Kuping Chanyeol sudah gatal ingin mencuri dengar. Juga matanya mungkin terlihat seram karena terus memelototi tubuh pendek Baekhyun yang tenggelam dikelilingi laki-laki jangkung. Kalau punya keberanian, Chanyeol siap melayangkan bogem mentah kepada mereka semua. Sayang sekali dia ini sendirian plus kerempeng karena kurang olahraga, pasti ilmu jotos-jotosannya sudah karatan. Mana sanggup menghadapi enam orang sekaligus—geng itu sedang three on three tadi.
Ia perlu membuat catatan untuk mengunjungi gym sebagai rutinitas barunya. Kalau perlu mencari inspirasi menulis di sana. Siapa tahu ada adegan romansa antara pemandu dengan pelanggan. Atau wanita cantik bohai yang menggunakan treadmill sebagai niat terselubung diam-diam melirik pria gagah perkasa mengangkat barbel.
Terdengar menggelikan. Otak Chanyeol perlu diservis sepertinya. Intinya, dia benar-benar cemas kalau ada tangan jahil yang berani menyentuh Baekhyun di titik-titik tertentu. Seperti mencuri kesempatan meremas pinggang saat berlari mendribble basket misalnya.
Uhuk, masih peduli?
Chanyeol mengelus dada seperti menjinakkan kata hati yang selalu berbalik menyerangnya. Peduli? Tentu saja peduli. Byun Baekhyun itu editornya, kalau kenapa-kenapa nanti Chanyeol yang repot.
Kalau Baekhyun sampai trauma di tempat ini lalu tidak mau datang lagi ke apartemennya bagaimana? Naskahnya bisa menjamur sia-sia karena tidak diulas.
"Ah, tidak, tidak. Masih ada Yixing yang bisa membantuku. Ah, tapi kalau aku dicap tidak bertanggung jawab bagaimana. Bisa-bisa aku ditandai sebagai penulis bereputasi buruk. Aaarh, ini bencana." Tangannya sudah mengacak-acak rambut dan beberapa kali menutup muka karena terlampau frustasi.
Sudah dibilang kalau Park Chanyeol itu berlebihan.
Kemudian ia tersadar sudah membuang waktu bermenit-menit bercokol dengan imajinasi paranoidnya sampai lupa sedang mengawasi siapa. Punggungnya segera menegak dan hitam kelam maniknya mencari-cari objek.
Kali ini matanya benar-benar seperti ingin keluar dari tempatnya. Bukan. Bukannya ia menemukan adegan pelecehan yang sudah dibayangkan. Baekhyun masih baik-baik saja, tidak tersentuh di bagian manapun.
Justru di sana lah yang membuat Chanyeol kaget setengah hidup. Baekhyun terlalu lincah membawa bola oranye di tangannya. Melesat mewati tubuh-tubuh jangkung yang berusaha menghadangnya mendekati ring. Boro-boro meremas pinggang si manis, menyentuh bahu saja mereka tak sampai. Chanyeol bisa menangkap kilatan jahil di manik Baekhyun. Pasti editornya itu kesenangan karena melampaui ekspetasi anak geng itu.
Ah, lihatlah bagaimana tubuh ramping itu meliuk melintasi celah sempit pertahanan.
Selain mata, rupanya Chanyeol juga perlu mengkhawatirkan rahangnya. Mulut itu tidak tertutup karena sibuk menggumamkan wow di setiap pergerakan Baekhyun. Lihat siapa yang sedang terpesona di sini.
Yang Chanyeol ingat, dulu Baekhyun sangat amatir terhadap olahraga kecuali senam lantai dan hapkido—kalau masuk hitungan. Baekhyun tidak jago dalam sepak bola, voli, basket serta olahraga lainnya yang melibatkan bola besar dan bola kecil. Berbeda dengan Chanyeol yang iseng mengikuti klub basket semasa SMA.
"Aku tidak tahu kalau kau tertarik dengan basket."
"Kan Kak Chanyeol suka basket, jadi aku mencoba menyukainya juga."
Ah, kenangan lama. Memori penyimpanan jangka panjang dengan kurang ajarnya memutar kilas balik itu. Dimana Baekhyun selalu datang merecoki latihan basketnya sepulang sekolah. Chanyeol tahu itu akal-akalan saja. Tapi ia tidak pernah berhasil mengusir Baekhyun. Justru Baekhyun tiba-tiba saja bisa melakukan under ring dengan benar di pertemuan mereka yang kelima kali di lapangan indoor. Kejadian kecil itu yang membuatnya… sedikit melunak.
Chanyeol mencubit lengannya lagi. Ia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri. Tidak baik jika sudah terlalu jauh.
Di satu posisi, Baekhyun akhirnya sampai pada titik vital dimana ia bisa menembak target. Ia menekan langkah yang terakhir untuk melompat tinggi dan memasukkan bola ke ring dengan semangat empat lima. Lay up yang sempurna.
Omong-omong perut bawahnya mengintip karena kaos tersingkap. Uhuk.
Tiba-tiba terdengar sorakan heboh. Mengejutkan Chanyeol sampai sadar untuk merapikan wajahnya. Sorak sorai itu berasal dari beberapa orang yang menonton di luar pagar kawat. Anak-anak kecil yang memakai sepatu roda, pecinta hewan yang menahan anjing mereka karena terlampaui bergairah menekan pagar—rupanya hewan menggonggong ini antusias juga, komunitas bersepeda, minus para pasangan yang masih asik berduaan di bawah pohon. Abaikan saja.
Tiga orang yang melawan Baekhyun—dengan liciknya one on three—bertumpu di lutut. Terengah sehabis berlari mengejar gesitnya mangsa. Tiga sisanya melongo di luar garis lapangan. Baekhyun seperti memberikan tamparan keras bagi mereka. Situasi dijungkir balikkan dengan mudah.
Baekhyun berdiri tegap dengan dagu sengaja diangkat, menunjukkan senyum kemenangan. Lalu geng street basket itu mendekat, memberi selamat, pujian, high five, tepukan di bahu dan segalanya. Kata orang, sehabis berkompetisi itu lebih baik berteman.
Biarkan Baekhyun menjadi Ratu sehari.
Meskipun keringat seharusnya membuat tubuh orang menjadi kucel, Baekhyun justru terlihat bersinar dengan bulan sabit di matanya.
Lagi-lagi, Chanyeol teringat bagaimana hubungan mereka dulu. Ia tidak pernah suka pergi ke tempat umum bersama Baekhyun. Karena itu mendorongnya, menyudutkannya, menepikannya ke dinding untuk melihat realita begitu banyak laki-laki tebar pesona di hadapan kesayangannya. Begitu banyak yang terpesona.
Gerombolan kecil yang menonton akhirnya menghilang, kembali pada rutinitas masing-masing. Baekhyun tersenyum lebar dengan langkah ringan menghampiri Chanyeol yang masih tak bergerak.
"Ah, tunggu! Kakak cantik!"
Jalannya terpaksa dihentikan. Ia menoleh ke belakang dan tahu-tahu menerima lemparan kaleng jus, "W-Whoa!" serunya refleks. Beruntung masih bisa menangkap. Kalau tidak, bisa ungu matanya karena tercolok kaleng. Kan tidak lucu.
"Permainan Kakak bagus sekali! Sering-sering main kemari, ya~"
Baekhyun melambaikan tangan, "Kalau sempat aku bakal mampir!"
Si pelempar kaleng disikut dari samping oleh temannya yang memakai bandana keren bergambar pusaran angin puting beliung. Empunya merintih sakit memegangi perut.
"Sialan! Sikumu tajam sekali seperti tikungan!" hardiknya.
"Justru kau yang bertingkah bagai penikung ulung. Berhenti menggodanya. Kau tidak lihat pacarnya di sana sudah bermuram durja?"
Tiga pasang mata melihat arah tunjukan si laki-laki bandana. Baekhyun menutup mulutnya yang siap tertawa kesetanan karena yang dituduh adalah Chanyeol.
Chanyeol mendengar sangat jelas apa yang mereka bicarakan. Ia tahu dirinya baru saja dituduh yang bukan-bukan. Cobaan apa lagi ini ya Gusti—keluhnya sembari mengusap dada. Entah meredakan emosi karena salah diduga sebagai pacar atau meredakan emosi karena Baekhyun sudah begitu akrab dengan mereka.
Dasar hati sialan!—makinya imajiner.
"Wah, maaf ya Kakak tinggi! Pacarnya kupinjam sebentar tadi!"
Telinga Chanyeol memerah, beruntung sekali kupluk menyembunyikannya. Baekhyun tertawa-tawa saja mendengar itu. Mereka saling melambaikan tangan lagi lalu benar-benar berbalik arah.
"Lihat? Aku tidak apa-apa, bukan?" Baekhyun berkacak pinggang dengan senyum bangga yang terlihat disombong-sombongkan.
Chanyeol menahan diri untuk memutar mata. "Yah, kau beruntung. Sangat beruntung." balasnya dengan lirikan karena tidak mau bertatap muka. Baekhyun diam tak merespon, namun tangannya terkulai di sisi tubuh.
"Kau benar-benar buruk dalam memuji."
Oh. Chanyeol harus memotong lidahnya sendiri karena sudah membuat Baekhyun berekspresi terluka seperti itu. Dasar tidak peka!
"Itu benar, tahu. Kau hampir saja diraba-raba oleh mereka. Kenapa mau saja menerima ajakan orang asing?"
Baekhyun mengangkat kaleng di tangannya, "Namanya ajakan perkenalan. Selama kau tahu apa yang harus dilakukan, mereka akan memperlakukanmu sebagaimana mestinya. Buktinya aku mendapat jus gratis." ucapnya sambil berusaha membuka tutup kaleng.
Seandainya Baekhyun tahu, Chanyeol bersikap ketus begitu karena sangat cemas. Panas dingin menunggu di pinggir jalan dengan mata was-was bagai burung hantu mencari mangsa di malam hari. Hanya saja Chanyeol masih menampik dengan agak ragu dalam konteks apa dia secemas itu. Duh, besarnya gengsi.
"Omong-omong kau terima saja disebut sebagai pacarku?" tanya Baekhyun tiba-tiba.
Chanyeol sampai lupa bernapas dan ia merasa bodoh ketika sadar akan hal itu. Ya… gimana ya. Putar otakmu dan rangkai kalimat menipu, Park—hati kecilnya dalam kubu gengsi berbisik. Omong-omong dia lupa masih dijadikan babu karena jaket denim bukan miliknya masih dibawakan.
"Kalau aku menyanggah, bocah ingusan itu akan bakal tambah gencar mendekatimu. Kurasa lebih baik membiarkan dia berpikir kalau kau sudah ada yang punya."
Baekhyun meremat kaleng dengan kedutan di sudut bibir—sayangnya luput dari si tinggi. "Ohhh begitu. Terima kasih." ucapnya dengan nada bersahabat. Riang yang kentara.
"Kenapa berterima kasih?" Chanyeol malah bingung. Ini anak maunya apa sih.
Sekali lagi, dasar tidak peka!
"Menyelamatkanku dari bocah ingusan." Jawab Baekhyun seadanya. Mulai lelah menghadapi kebodohan Chanyeol di waktu tak tepat.
Chanyeol memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Tangannya menyelundup dalam saku celana training. Ia jadi lupa tujuan utamanya ke taman untuk apa. Baekhyun selalu berhasil mengejutkannya, membuatnya melupakan segala hal.
Baekhyun menoleh, "Pikiranmu sudah lebih jernih?"
Chanyeol mengangguk, "… Tidak tahu."
Baekhyun melempar kaleng kosong bekas minumnya ke tubuh kerempeng Chanyeol. Ditimpuk dadakan, Chanyeol tidak menyiapkan diri. Ia meringis selagi mendekap perutnya yang tertohok. Mengaduh dengan dramatis seolah saluran usus halusnya terputus karena hantaman.
"Aku tidak akan bisa makan dengan damai lagi." katanya dengan sudut mata yang basah menahan nyeri.
Baekhyun menudingnya dengan galak, "Tidak sinkron! Jawaban yang benar apa?"
"Tidak bisakah kau bilang maaf dulu baru menyambung pertanyaan tadi?" sinisnya dengan lirikan sengit.
Baekhyun berdecak, "Merepotkan, jangan mengaturku. Editornya kan aku."
Chanyeol semakin mendidih, "Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kita!"
"Makanya jawab saja!"
"Aku tidak ikhlas. Minta maaf dulu!"
"Kau batu sekali, sih!"
"Kau yang batu!"
"Dasar batu granit!"
"Batu kali!"
"Kau batu dari segala batu!"
"Kau nenek moyang batu!"
"EHEM!"
Dua pria dewasa itu cepat-cepat menutup mulut. Saling melempar tatapan seolah pemikiran mereka sama. Merasa familiar dengan situasi ini. Tinggal hitung mundur. Tiga. Dua setengah. Dua. Sa—
"Maaf, Kak. Kata sepupuku, kalau sedang bertengkar, harusnya pihak laki-laki itu mengalah." Seorang gadis kucir dua memakai helm, pelindung lutut, pelindung siku dan sepatu roda melintas di samping mereka. Omong-omong main sepatu roda saja kok levelnya sudah seperti atlet—oh ya, safety first kawan-kawan.
"Maaf ya, dek. Kakak tersinggung lho, kakak juga laki-laki." Balas Baekhyun agak merengut.
Dia masih terima kalau dipanggil cantik asal gendernya tidak disalahpahami. Hah, susahnya dilahirkan dengan paras ditengah-tengah begini. Dibilang laki-laki tapi cantik. Dibilang wanita tapi berkelamin gantung plus dada rata. Makan hati tau nggak.
Seorang anak laki-laki yang masih menduduki sepeda di belakang gadis itu ikut menceletuk, "Kakak bilang juga apa. Jangan sok tahu menengahi orang pacaran, makanya."
Si gadis kucir dua menoleh dengan wajah tersengit sepanjang masa, "Kakak menyebalkan!" serunya lalu meluncur dengan roda-roda itu. Menjauhi mereka.
Helaan napas dikeluarkan, "Maaf ya, kakak-kakak sekalian. Adikku suka ikut campur."
Chanyeol mengangguk canggung sementara Baekhyun ingin memeluk bocah itu karena tahu sopan santun.
"Kalau saranku, nih, yang seharusnya mengalah itu pihak dominan. Lagipula kakak cantik terlihat seperti perempuan. Oke, sampai jumpa!" sepeda dikayuh cepat-cepat menyusul adiknya. Dalam artian melarikan diri.
Dua pria bermarga beda itu ditinggalkan dalam keheningan. Chanyeol menarik tudung hoodienya semakin menutupi mata. Baekhyun bersiap menendang kaleng jus yang tergeletak di dekat kaki Chanyeol pada sepeda itu. Biar saja ban bocah itu terkena lemparan, kalau bisa nyusruk sekalian!
Mereka memang tidak tahu apa itu pengalaman, sepertinya.
Belum sempat merealisasikan rencana jahatnya, Chanyeol sudah lebih dulu menarik tangan Baekhyun untuk pergi. Oh, sebelumnya menutupi kepala Baekhyun dengan jaket denimnya—agar pengelihatannya terhalangi. Si tinggi memahami aura ganas di sekeliling editornya. Mencegah lebih baik daripada membereskan akibatnya, kawan.
"Ayo menepi sebentar. Aku lelah berjalan." bujuk Chanyeol sebelum Baekhyun berubah menjadi singa betina yang mengaum dan berbuat anarkis karena singa jantan tidak membawakan daging rusa. Tidak nyambung? Memang.
Baekhyun mengikat jaket di lehernya lagi lalu mengangguk dengan wajah masam. "Kakak adik itu, benar-benar!'
Mereka berjalan menepi ke kolam air mancur yang jernih. Banyak kursi taman yang berjejer di lingkarnya. Baekhyun menarik lengan Chanyeol dengan heboh ketika melihat stan penjual es krim. Terlihat seperti orang pacaran yang minta ditraktir.
Tapi tidak tentu saja. Baekhyun anak mandiri yang pegang dompet tak kalah tebal dari seniornya di kantor penerbit. Selain karena gajinya yang mengalir lancar, ia sering mendapat bonus karena mengambil tugas selingan.
Baekhyun sibuk menghabiskan es krim bungeoppang yang sudah lama tidak dicobanya sementara Chanyeol berusaha menguliti kentang tornado supaya bisa melahap sosisnya. Mereka mengecap makanan masing-masing sampai habis tanpa percakapan. Chanyeol terkekeh dalam hati melihat keantusiasan Baekhyun memakan makanan dingin itu. Binar matanya tidak berubah.
Menggemaskan sekali.
Chanyeol menggigit sosis dengan barbar sampai tak sengaja sticknya juga. Bermaksud mengalihkan hatinya yang sering asal ceplos tanpa peringatan. Ia meringis imajiner—mempertahankan wajah datarnya supaya tidak ditatap aneh. Giginya jadi ngilu karena kecerobohannya.
"Sudah dapat inspirasi?" Baekhyun mengelap jari-jari lentiknya dengan tisu yang entah didapatkan dari mana. Barangkali dikantongi di saku.
"Entahlah… kurasa sedikit."
"Tidak usah terburu-buru, biasanya ide itu muncul tiba-tiba."
Chanyeol mengernyit, "Lalu kenapa kau mengajakku keluar?" tanyanya bingung.
"Goa kekinianmu itu sumpek, kualitas udara yang bagus bisa menjernihkan otak." Jelas Baekhyun yang lagi-lagi nampak seperti ingin diakui kepintarannya. "Juga aku khawatir dengan kesehatan kulitmu. Sinar matahari itu bagus lho."
"Bukannya pagi saja, ya? Ini sore kalau kau lupa." koreksi Chanyeol dengan jengah.
Cengiran tanpa dosa dikeluarkan. "Menyeretmu keluar pagi-pagi sama saja seperti menggembala kerbau. Kecuali kau mau dicocok hidungnya, pasti lebih mudah."
Seorang Park Chanyeol disamakan dengan kerbau. Catat, disamakan. Ini pencemaran nama baik namanya. Uh, dia sakit hati. Chanyeol butuh merencanakan tuntutan untuk editornya sendiri jika hal itu benar dilakukan.
"Yakin kau bisa menyeret badan bongsorku? Tinggimu bahkan tidak sampai hidungku." sinisnya.
Baekhyun melirik pedas, "Mau coba kubanting di sini sekarang juga?"
Sekelebat ingatan saat Baekhyun membantingnya ke lantai dulu menggetarkan sum-sum tulang belakang. Chanyeol bergidik. Itu sakit. Sangat sakit. Bahkan Baekhyun selalu mengancam akan mendobrak pintu apartemen jika tidak dibukakan setiap pagi. Itu artinya dia memang tidak main-main dengan ucapannya.
Pandangan dialihkan, "Err.. kurasa tidak. Lain kali saja."
Ia belum siap reuni dengan sikap barbar mantannya omong-omong. Punggung bersandar, kepala mendongak. Langit cukup teduh untuk dilihat dengan mata telanjang. Sesekali angin berhembus, meniup dedaunan pohon sampai gugur.
Ia baru sadar betapa lembutnya angin membelai wajah, seperti mengusir warna suram dari sana. Berbeda dengan udara pendingin ruangan yang selalu dirasakannya setiap hari. Rambut yang berantakan biasanya karena diacak frustasi tak kunjung berhasil merangkai kalimat untuk naskahnya. Kali ini helai rambut hitam ikalnya mengikuti arah angin, dibiarkan berantakan alami.
Chanyeol tidak pernah menyadari kalau dunia luar bisa setenang, sedamai dan senyaman ini.
Ia menoleh ke samping, mendapati Baekhyun menunduk bermain dengan ponsel. Benar juga. Semua kenyamanan ini didapatkan karena keberadaan Baekhyun di sampingnya. Lelaki itu yang menariknya keluar dari ruang isolasi tanpa peduli seberapa banyak penolakan didapatkan.
Ah, apa jadinya Chanyeol kalau Baekhyun tidak menjadi editor penggantinya?
.
…
.
Kerutan di dahi begitu dalam ketika kakinya menapak di ambang pintu. Keadaan ruang utamanya cukup berantakan. Mungkin suara gaduh yang didengarnya dari ruang kerja lah yang mengakibatkan kekacauan ini. Chanyeol berjalan mendekat, mulutnya menggumamkan audibel aiiihh dalam konteks buruk. Padahal ini masih pagi, tapi otaknya sudah dibuat frustasi.
"Baekhyun kenapa kakimu naik ke meja begitu."
Baekhyun menoleh cepat mendengar namanya disebut. Posisinya saat ini jauh dari kata sopan. Kakinya diangkat ke atas meja, bungkus snack berbaring miring dan sisanya tumpah di meja, bantal sofa bercecer seperti habis dilempar, remot televisi pun tergeletak di lantai. Biadab sopan santun, memang.
"A-Aku bisa jelaskan." Ucapnya dengan tegukan ludah. Seperti kepergok mencuri dalaman wanita.
Chanyeol menggeleng tegas, "Seharusnya kau membantuku mengoreksi naskah. Tersisa empat hari lagi, Baekhyun, kau tahu itu." Rasanya galakan si penulis dibanding editor. Dunia sudah terbalik, kawan.
"Aku punya penjelasan!" Baekhyun membela diri.
Chanyeol menautkan alis semakin tajam, "Kau habis mengamuk karena plot twist drama lagi?" diliriknya televisi yang kini menampilkan iklan shampoo.
"Bukan! Aku bukan pecinta drama!" sanggah Baekhyun.
"Lalu apa? Acara komedi hari ini terlalu konyol sampai kau membanting bantal dan remot ke lantai lalu menyenggol meja sampai snack tumpah karena tertawa kesetanan?" tuduhnya menyudutkan. Tidak tahan dengan ruangannya yang menjadi kapal pecah.
Mata almond teduh memicing. "Tunggu sebentar. Memangnya kau mendengar aku tertawa dari ruanganmu?"
Chanyeol bungkam. Ia tidak mendengar apapun kecuali kegaduhan benda-benda jatuh. Bukan suara tawa menggelegar. Menggeleng pelan selanjutnya, "Tidak juga, sih…"
Baekhyun mendengus, "Makanya jangan asal tuduh."
"Terus kekacauan ini semua diakibatkan siapa? Kau satu-satunya yang duduk di sofa ini."
Baekhyun memindahkan kakinya dari atas meja untuk ditekuk di sofa. Masih di atas juga rupanya. Biadab sopan santun, dasar.
"Aku melihat sesuatu—"
"Imajinasimu?"
"—sesuatu yang kecoklatan—"
"Nutella favoritmu di iklan TV?"
"—dia bergerak cepat—"
"Kismis berseluncur dengan skateboard?"
Sebuah bantal mendarat di kepala Chanyeol. Menghantam wajah cukup keras.
"Nggak nyambung! Rasional sedikit, dong." Seru Baekhyun dengan tudingan mengarah pada si penulis.
Kalau saja Chanyeol orangnya tegaan, ia sudah membanting bantal ke wajah Baekhyun lalu dibekapnya sampai kehabisan napas. "Makanya kalau bicara jangan setengah-setengah."
"Kau saja yang memotong kalimatku terus!"
Oke. Perdebatan ini tidak akan ada habisnya. Ah, kenapa disaat Chanyeol sadar situasi mereka sedang tidak berada di tempat umum? Tapi setidaknya ini kemajuan signifikan. Baguslah. Untuk latihan supaya mereka tidak dikira sedang fase kekerasan dalam rumah tangga.
"Baiklah, jadi kau melihat sesuatu berwarna kecoklatan melesat cepat—ah tunggu…"
Chanyeol merasa ujung lidahnya siap menyemburkan sebuah kata. Tapi rasanya sulit sekali. Baekhyun semakin merapatkan kaki ke dadanya, menunggu kalimat Chanyeol selanjutnya dengan was-was. Pelipis berkedut, Chanyeol agak ragu untuk bertanya.
"… kau melihat kecoa?"
"… Y-Ya.. begitulah—AH AWAS ITU DI DEKAT KAKIMU!"
Ruangan kembali gaduh dengan jeritan itu. Chanyeol melonjak terkejut—bukan jijik dengan kecoa, tapi teriakan Baekhyun menyetrum saraf telinganya. Well, Baekhyun itu memang benci sekali dengan serangga. Melihat kumbang saja dia sudah berteriak lalu menjaga jarak radius dua meter. Omong-omong si kecoa menghilang ke tumpukan bantal sampai tak terlihat.
Chanyeol mengelus dada, menetralkan jantungan dadakannya. "Bisa kah kau tidak usah berteriak begitu?"
"Kecoa itu menjijikan. Dia binatang kotor yang menyelip dimana saja—arrhh kenapa aku membayangkannya!"
Chanyeol mendengus geli memandangi Baekhyun mengacak rambutnya frustasi sambil merinding. Baekhyun benar-benar lucu jika dihadapkan dengan segala hal yang membuatnya tidak nyaman. Satu, Baekhyun takut petir. Dua, Baekhyun benci gendernya disalahpahami. Tiga, Baekhyun anti serangga. Lelaki itu memang tidak banyak berubah, Chanyeol yakin.
"Haaah, kau ini." Tangan kiri melipat ke punggung sementara tangan kanan diletakkan di atas jantung. Kepala menunduk hormat selagi Chanyeol bicara, "Biarkan ksatriamu yang mengatasi hal ini, Tuan Putri."
Belum sempat Baekhyun mencecar dan melemparinya lagi dengan bantal sofa, Chanyeol lebih dulu mengambil langkah seribu menuju dapur. Padahal tujuh langkah saja. Ia meraih sapu di sudut ruangan dan kembali lagi ke ruang utama dengan Baekhyun merengut di atas sofa. Sok membuang muka karena kesal.
Chanyeol memperingati, "Sebaiknya kau bereskan kudapan itu sebelum semut mengambil alih apartemenku."
Baekhyun mencibir, "Semut tidak suka dengan makanan asin."
Chanyeol merotasikan mata. "Ya, ya, terserah apa katamu. Kecoanya pergi lagi tidak?"
"Masih di bawah bantal sepertinya."
Chanyeol menyodok permukaan bantal dengan gagang sapu, memastikan apakah kecoa ada di sana atau tidak. Sampai pada bantal ketiga, ada pergerakan gesit keluar dari tempat persembunyian.
"Nah, itu dia!"
Sapu dibanting sedemikian rupa, menabrak kecoa sekencang mungkin berharap kena. Baekhyun sampai menyudut di sofa karena tidak mau kenapa-kenapa. Lama dalam posisi itu, Chanyeol tidak mengangkat sapunya sama sekali. Tunggu, kenapa kedua mata pria itu terpejam rapat?
"Chanyeol, mau sampai kapan diam di sana begitu?" tanya Baekhyun.
Chanyeol mengintip dengan satu mata, "Oh? Oh ya sebentar…" ia terkekeh sendiri merasa konyol. Alasannya jelas, karena ia juga anti serangga namun tak separno Baekhyun. Chanyeol adalah tipe pembasmi serangga meski merasa geli juga.
"Apa dia mati?" kedua mata Baekhyun memicing. Tidak mau melewatkan satu detik pun dengan kelengahan.
Chanyeol mengangkat bahu, "Entah. Kita akan tahu sebentar lagi—" kalimat terasa direnggut dari lidahnya. Sesuatu terasa merayap di punggung tangannya. Jangan bilang… Baekhyun menatap horror. Bahkan sebelum lelaki itu heboh berteriak lagi, Chanyeol tahu setelah ini ia perlu mencuci tangannya lima kali.
"Di tanganmu!"
Sapu dihempas, kaki menendang bantal, tangan menyabet makhluk kecil itu dengan barbar lalu Chanyeol mundur dan jatuh ke sofa. Si kecoa terbang entah kemana. Dasar makhluk sialan, jantung Chanyeol dipertaruhkan kesehatannya.
"Ah tidak, kurasa aku harus mencuci tangan sampai sepuluh kali." gumamnya sangat pelan.
Baekhyun masih duduk di sudut sofa. Bukannya ikutan tegang karena melihat kejadian menjijikan itu, ia menyembur tawa, "Pfft! Kau takut juga kan sebenarnya? Ahahahaha—rasakan!" lalu tergelak sampai rahangnya sakit.
Chanyeol kesal sekesal kesalnya orang kesal. Ia menumpu lutut pada sofa lalu tangannya terulur membekap mulut Baekhyun. "Berhenti tertawa, kau berisik—yah! Jangan digigit!" tangannya ditarik kembali secepat kilat. Baekhyun membalasnya dengan wajah mengejek.
"Chanyeol..?"
Chanyeol mengusap tangannya dramatis seolah kulit robek karena ketajaman gigi. Ia membalas sengit, "Apa panggil-panggil? Tanggung jawab nih tanganku sakit."
Baekhyun mengerutkan dahi bingung, "Loh aku tidak memanggil."
"Ck, kau itu suka alasan."
"Tapi aku memang tidak memanggil."
Keduanya saling pandang dalam diam. Jantung berdegup kencang. Tidak mungkin kan seekor kecoa yang bicara. "Lalu siapa yang manggil kalau cuma ada kau di sampingku…" suaranya menciut di ujung kata.
"… Apartemenmu tidak angker, kan?" tiba-tiba Baekhyun sulit meneguk ludah.
Chanyeol masih mengusap-usap tangannya. Sudah dihinggapi kecoa, digigit Baekhyun pula. Kira-kira dia bisa terkena rabies, tidak ya? Ah, apakah editor itu tidak sadar kalau ia menggigit tangan yang sama dengan sumber ketakutannya? Kalau tahu, Baekhyun pasti menyikat gigi sampai pasta giginya habis dan tangan pegal terus-terusan menggosok.
"Ya ampun! Apa itu kau, Baekhyun?!"
Pekikan wanita menyambar telinga, dua anak adam mengalihkan wajah ke sumber suara. Paperbag jatuh dari dekapan wanita itu, sebuah apel menggelinding ke lantai—menambah kekacauan yang belum dibereskan.
Identitas familiar itu seketika memeras kerja otaknya lalu membayangi pikiran Baekhyun. Sementara Chanyeol seperti siap melonjak dari tempat duduknya.
Keduanya berseru serempak;
"Kak Yoora?!"
Kakak kandung Chanyeol itu tiba-tiba menjatuhkan tas selempang dengan gaduh dan mendekati sofa dengan langkah cepat. Chanyeol lagi-lagi mengeluh dalam hati melihat barang tambahan tergeletak di atas lantai. Baekhyun berjengit ketika tangannya diraih Yoora dalam genggaman kelewat erat.
"Baekhyun… kau benar-benar Byun Baekhyun, kan?"
Matanya mengerjap beberapa kali, "E-Eh… iya, Kak."
Binar di wajah Yoora begitu menyilaukan sampai Baekhyun kaku. Wanita itu bahkan tidak repot-repot duduk terlebih dahulu. "Aku tidak percaya kau sungguhan berada di sini… Di apartemen ini, bersama Chanyeol. Apa kalian balikan?"
Satu kata krusial itu menyentak Chanyeol. Ia melirik Baekhyun yang sama terkejutnya dengan ucapan blak-blakan Yoora. Gawat, sesuatu perlu diluruskan sebelum Yoora mulai bicara yang tidak-tidak. Ia menegakkan tubuh dengan cepat, berusaha menghentikan aksi kakaknya.
"Chanyeol kenapa kau tidak bilang kalau berpacaran lagi dengan Baekhyun?!" sembur Yoora sambil menoleh. Memperlihatkan ekspresi marah.
Chanyeol membersihkan kerongkongan. Yoora cukup seram jika membentak seperti itu. "Kak, tunggu sebentar—"
"Baekhyun, aku tidak tahu apa yang membuatmu mau bersama si idiot ini lagi." Yoora kembali menatap Baekhyun, ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat, sangat lembut seperti menyalurkan kelegaan. Baekhyun sampai tidak tahu harus bicara apa. Ia sibuk melirik kakak-adik Park itu bergantian. Chanyeol terlihat panik.
"Kak, dengar dulu—"
"Chanyeol memang bodoh—ah tidak, lebih dari itu. Dia sinting. Tapi kau mau menerimanya kembali seperti ini, bahkan setelah sepuluh tahun berlalu. Aku tidak tahu harus memaki Chanyeol seperti apa lagi karena berani masuk ke kehidupanmu untuk yang kedua kali. Tapi kalau kau bahagia bersamanya, aku ikut bahagia." Kedua mata Yoora berkaca-kaca, tangan Baekhyun semakin erat digenggamnya.
Chanyeol semakin kelabakan. Ini gawat, ini gawat, ini gawat. "Kak Yoora! Kami tidak—"
"Terima kasih sudah memaafkannya. Chanyeol menyiksa dirinya sendiri karena kehilanganmu. Aku benar-benar lega melihatmu kembali."
Lalu hening menyesakkan.
Chanyeol kehabisan waktu untuk mencegah kakaknya sementara Baekhyun blank seperti komputer yang tidak kuat bekerja produktif. Baekhyun tanpa sadar menahan napasnya sedari tadi. Logika dan perasaannya terasa dipermainkan akibat kata-kata Yoora. Topik sensitif tentang masa lalu yang tidak pernah diungkit mereka berdua seperti dipaksa membuka. Padahal masing-masing pihak seperti membuat perjanjian kasat mata untuk menjaga privasi dan profesional selama bekerja. Pekerjaan tidak boleh dicampur dengan urusan pribadi.
Ketika Baekhyun berhasil memaksa tubuhnya bereaksi, menghembuskan napas kelewat berat bak semburan naga, hanya sebuah gumaman yang sanggup diucapkan.
"H-Hah?"
.
.
.
.
tbc
a/n: Ini lebih panjang dari kemarin yeay. Bagian yang kalian tunggu-tunggu bakal terungkap sebentar lagi. Chapter 2 kan saya nyebutnya Chanyeol yang berpaling duluan, bukan mutusin. Soal siapa yang mutusin, lihat saja nanti xD
Big thanks to you all~!
shorennn, gomdori, byunsuci25, almaepark(saking gregetan kepencet caps ya wkwk), Chanyeoltidakmesum, MadeDyahD, Narin . s, ChanBaek09, joruri, GreenTea6104(ngakak, saya ga bisa makan wedus wkwk), nura0929, Yui Hisoka, Guest-gia, hunniehan, creamy . latte, sehyun579, Cocoa Pie, yayahunnie, khakikira, Chanbaekishalal, kickykeklikler, Juni654, Chanbaekseyo (yaampun saya digombalin wkwk), pupibekyuni61, LovelyPark 61, Nurfadillah
untuk kickykeklikler, oke ini bocoran. Niat awal mau diselip-selipin doang per chapter, tapi saya berubah pikiran. Jadi siap-siap, chapter depan didominasi flashback~!
Tenang gaes, saya bukan penganut cerita angst, jadi kalo bikin adegan hurt pasti gagal gitu—soalnya ga kuat ngetiknya QAQ btw besok saya ke GJUI di Depok (naik kereta uhuy) makanya nyelesein ini cepet-cepet, takutnya ga sempet update, kalian ada yang suka sama event itu juga nggak? hehe /malah kepo/
Terima kasih sudah membaca~!
Gimana perasaan kalian habis chapter ini?
