"Apa yang kaubutuhkan? Tak cukup aku saja. Apa yang kubutuhkan? Hanya cintamu." (Gilme ft. Outsider – Love is War)

trigger warning: rape!


Memenuhi janji pada dirinya sendiri tempo hari, Aphrodite turun ke dunia manusia, tepatnya sebuah daerah dekat tempat lahirnya, Cythera. Setelah menyelubungi aura dewinya dengan wujud mortal, Aphrodite mendaratkan kaki di atas pasir pantai pulau itu yang masih amat lembut. Aroma laut yang segar merekahkan senyum di bibirnya. Aku pulang, batinnya sembari membentangkan kedua lengan lebar-lebar, sejenak meresapi suasana damai sebelum berbalik dan melangkah menuju bagian kota di mana kultusnya pertama muncul.

Umat-umat Aphrodite di sini adalah yang paling terjaga, paling setia, berhubung Cythera berada langsung di bawah pengawasannya sepanjang hari dalam setahun. Tentu saja penduduk Cythera juga menyembah dewa-dewi lain, tetapi bahkan kultus Zeus tidak terlalu mekar di sini. Tak ada yang sebanding dengan kultus Aphrodite dan penghuni Olympus untungnya tidak pernah protes, sama seperti Aphrodite yang tidak ambil pusing soal pengikutnya yang sedikit di kota atau pulau suci milik dewa lain.

Satu hal yang dapat dipastikan: di Cythera tidak ada kuil Ares.

Aktivitas sehari-hari di jalan utama Cythera mendadak melambat begitu Aphrodite melintas di antara orang-orang yang bekerja, apalagi kalau bukan akibat kecantikan tiada tandingnya. Wujud manusia boleh saja menutupi cahaya abadi, tetapi paras jelitanya tidak bisa disembunyikan. Jadilah orang-orang melongo, terpaku, atau tiba-tiba menjatuhkan barang gara-gara terlalu kagum pada Aphrodite. Menjadi sosok yang ramah seperti biasanya jika berada di dunia manusia, ia menghadiahkan senyum untuk setiap orang yang menatap, menikmati rasa takjub dan kegembiraan yang tercermin dalam setiap pasang mata. Orang-orang lantas bekerja kembali, lebih semangat dari sebelumnya, meski sesekali mereka masih mencuri pandang ke arah sang dewi.

Aku tidak merasakan kebencian yang berarti. Lihat, aku menjaga Cythera dengan baik. Ares bodoh, dia tidak memikirkan apa yang dia u—

Pujian Aphrodite pada dirinya sendiri tak tuntas lantaran kegelapan itu datang lagi. Kegelapan yang menghantuinya beberapa malam ini, menorehkan noda yang tak dapat dihapus ... sekarang tengah berjalan ke arahnya dalam bentuk seorang pria muda berwajah kusut masai. Aphrodite berhenti melangkah, menghayati warna kegelapan yang agak aneh pada si pria muda. Ada cinta dalam kegelapan itu, tetapi warnanya ganjil, beriring getir dan bau amis yang hampir selalu menguar dari tubuh Ares. Pemuda itu tidak dapat melihat kecantikan Aphrodite; ia berjalan melewati sang dewi tanpa menengok sama sekali.

Debaran dalam dada Aphrodite tak wajar dan pemuda itulah penyebabnya, maka Aphrodite mengikutinya. Dari benak si pemuda, Aphrodite mendengar beragam kata manis untuk sang kekasih—sepertinya suara itu berasal dari bilik kenangan. Kalimat-kalimat madu itu sayangnya mengalir deras bersama suara lain, suara pria lain, dan desah pekat hasrat dari wanitanya yang terpancing oleh tokoh baru dalam kenangan pemuda tadi.

Kecemburuankah?

Aphrodite sering merasakan cemburu sebab kekasih-kekasihnya tidak cuma memuja dirinya seorang. Dewa maupun manusia, mereka menjadikan Aphrodite yang pertama dan menyimpan puluhan perempuan lain di belakang. Karena dirinya juga menyukai cinta yang bersemi antara kekasih-kekasihnya dan sekian banyak wanita itu, Aphrodite jadi terbiasa menghadapi kecemburuan, tidak lagi tersakiti olehnya. Lagi pula, kekasih-kekasih Aphrodite memang rupawan; tentu saja berhak punya banyak 'penggemar'.

Namun, kecemburuan yang Aphrodite temukan pada pemuda ini berbeda. Alih-alih menyerupai perasaan sang dewi cinta, apa yang ia dapatkan adalah emosi mirip kedengkian Ares.

Astaga.

Tahu-tahu saja, lengan mulus Aphrodite melingkar pada lengan kekar si pemuda tak dikenal.

"Jangan lakukan. Kumohon."

Sebelum menengok, terlebih dahulu si pemuda menepis tangan Aphrodite, merasa terusik. Ekspresi terganggunya makin kentara begitu maniknya bersirobok dengan penjelmaan sang dewi.

"Kau siapa, dan apanya yang 'jangan lakukan'?! Orang aneh!"

Begitu kasar dan terburu-buru. Perilaku pemuda itu banyak mengingatkan Aphrodite pada anak Zeus dan Hera yang pemarah—kekasih gelapnya. Akan lebih baik andai kemarahan itu muncul tanpa teman, tetapi masalahnya, ia disertai cinta. Emosi yang Aphrodite kuasai bersanding dengan emosi yang Ares rajai, tidak masuk akal!

"K-kau akan membunuh seseorang, aku tahu!" Aphrodite berujar tanpa berpikir. "Hentikanlah. Kau hanya akan melukai orang yang kausayang jika melakukannya."

"'Melukai orang yang kausayang'? Heh. Kau sok tahu, tetapi tebakanmu benar."

Pemuda itu berbalik lagi. Satu tangannya tiba-tiba menggores kulit pohon di dekatnya dengan belati yang begitu tajam hingga berkilatan ditimpa sinar mentari. Aphrodite menelan ludahnya sulit.

"Aku akan melukai jalang itu juga orang yang berusaha merebutnya dariku!"

"KAU MENCINTAINYA, KAU TAK AKAN MELAKUKAN ITU!" paksa Aphrodite, merasa sangat tidak berguna dalam tubuh manusia tanpa anugerah dewa. Ia yang sekarang hanya bisa berteriak putus asa, berharap sedikit saja keputusasaannya sanggup memadamkan api dalam jiwa si pemuda.

"Tentu aku mencintainya. Justru karena itulah, aku akan membunuhnya—secepat mungkin. Perempuan itu memuakkan."

Loloslah satu tawa rendah dari si pemuda sebelum ia berlari sangat kencang hingga Aphrodite, yang bersikeras mempertahankan wujud mortalnya, tidak bisa menyusul. Aroma kebencian yang kental mendorong Aphrodite untuk terus memacu langkah, tidak peduli paru-paru manusianya yang serasa mengerut.

Cinta dan kemurkaan tidak akan bercampur sedikit pun!

"Ke mana dia pergi?" Tersengal, Aphrodite berhenti sejenak, menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari rumah yang si pemuda tuju. Tubuh manusia ini benar-benar tidak berguna; dalam wujud dewinya, Aphrodite pasti akan langsung tahu di mana pemuda itu. Sekarang, Aphrodite hanya tahu si pemuda lari ke arah ini, lain tidak.

Tiba-tiba, Aphrodite mendengar jerit teredam seorang gadis dari rumah di ujung penglihatannya. Tanpa buang tempo, dilajukannya tungkai menuju pondok kecil tersebut. Batinnya refleks menyebut nama Zeus selagi berdoa agar ia masih mampu menyelamatkan si gadis malang, terlepas dari gelar dewi yang disematkan pada namanya. Aphrodite tak pernah merasa begini tidak berdaya ...

... dan apakah ini pertanda Ares, sebagai antinominya, akan berjaya?

Aphrodite membuka pintu rumah si gadis dengan tergesa dan terpaku di depan pintu. Pemuda yang dikejarnya tidak ada di sana, tetapi di lantai tergeletak dua tubuh, satu pria satu wanita, kaku berlumur darah. Selain itu, ada jejak kaki merah yang mengarah ke jendela; sepertinya ke sanalah si pemuda melarikan diri.

"Tidak. Tidak, tidak! Kumohon, sadarlah!"

Seperti orang bodoh, Aphrodite mencoba membangunkan dua korban si pemuda—sia-sia saja. Dalam sekejap, telapak Aphrodite basah oleh cairan anyir dari tubuh mereka, baunya tajam menjijikkan, mengingatkan Aphrodite pada malam di mana ia tercipta. Uranus, Cronus, saling serang, saling melukai, dan Aphrodite adalah manifestasi dari emosi yang saat itu mereka rasakan, muncul dari sejumlah besar darah beserta dendam.

Sejak awal, menjadi dewi cinta sebenarnya bukan takdir Aphrodite.

"AAAH!"

Bulir demi bulir air mata jatuh ke lengan Aphrodite yang merah lengket, tetapi air mata saja tak cukup menghapus noda tersebut. Ia tak mampu memungkiri keberadaannya sebagai buah dari kemurkaan dewa lain, padahal selama ini, Aphrodite dipuja karena menguasai cinta. Bodoh. Masih bisakah ia menjaga cinta jika ada yang tewas karena perasaan itu? Masih pantaskah ia dipuja ketika sebetulnya, dia terlalu kotor untuk tersentuh cinta sejati, cinta yang belum ternoda hasrat? Masihkah dia seorang dewi cinta setelah ia menemukan pangkal dirinya yang asli: kebencian?

Jerit Aphrodite sebelum ini mengundang kehadiran sesosok dewa yang, kini, menggunakan jemarinya yang kokoh kasar akibat pertarungan-pertarungan tiada akhir, mengangkat dagu sang dewi jelita.

"Sekarang kau percaya padaku, bukan?"

Berat nan mencemooh, suara Ares meracuni rungu Aphrodite, betapapun kerasnya usaha Aphrodite menggeser suara itu dengan isaknya sendiri. Keras kepala, Aphrodite menggeleng, masih tak mau menerima kehadiran Ares dalam inti ritusnya.

"Astaga. Dasar pelacur. Sudah pelacur, bodoh pula."

"Singkirkan tanganmu dariku!" Aphrodite menyingkirkan tangan Ares kasar, lantas menarik diri sejauh mungkin dari kekasihnya. "Cinta dan amarah tidak seharusnya bersama, kau dan aku pun sama. Kita mesti mengakhiri ini—akh!"

"Diam, Pelacur." Ares merenggut pergelangan Aphrodite geram. "Berhentilah bersikap seolah-olah kau dapat bertahan dengan cinta yang bersih. Emosi yang kaukuasai itu sesungguhnya kotor."

Tidak. Cinta antara lawan jenis boleh jadi kotor oleh hasrat, tetapi Aphrodite menguasai beberapa bentuk cinta lainnya, bukan? Cinta orang tua kepada anak, cinta dalam persahabatan, cinta pemimpin pada rakyatnya ...

... ah.

Pada kenyataannya, Aphrodite jarang bersentuhan dengan itu semua. Ia terlalu sibuk memuja kekasih-kekasihnya yang indah, merusak hubungan yang sebelumnya baik-baik, dan memamerkan kecantikannya, di Olympus maupun di Bumi. Hera-lah yang menguasai cinta orang tua kepada anak, cinta seorang ibu lebih tepatnya. Hermes memiliki banyak sahabat, maka dalam persahabatan, cintanya lebih bersemi ketimbang punya Aphrodite. Zeus, di luar beberapa kesalahannya sebagai raja para dewa, memimpin dengan baik, maka dialah yang menjadi penyemai cinta dalam sebuah pemerintahan.

Apa yang Aphrodite kendalikan? Cinta pada lawan jenis? Hephaestus, suami sahnya, bahkan tidak ia tengok sama sekali sebab ada dewa lain yang lebih perkasa, lebih sempurna.

Dan, itu Ares. Sialnya, itu Ares.

Pikiran Aphrodite kosong ketika Ares mengimpit tubuhnya ke sudut ruangan, mengurungnya dalam wangi kebencian yang entah mengapa berubah memabukkan, melumpuhkan. Sang dewi tidak mampu melawan ketika bibirnya bertemu dengan milik Ares, tetapi kenikmatan yang biasa disuguhkan bibir itu tidak lagi Aphrodite temukan. Ciuman itu justru membangkitkan rasa bersalah dari dasar nurani Aphrodite, melayangkan ingatannya sekali lagi pada Hephaestus. Sayang, ingatan itu cepat pula hilangnya lantaran sekarang, Ares tengah mencengkeram kain yang menutupi bahu Aphrodite.

Apa yang akan terjadi berikutnya telah tertebak.

"Menyerahlah."


Setibanya di istana Olympus, Ares mengempaskan tubuh Aphrodite kasar ke ranjang; tak sempat ia melarikan diri sebab Ares duluan memerangkapnya di antara kedua lengan. Napas panas sang dewa perang menerpa wajah cantik yang memucat, cukup untuk memahamkan Aphrodite betapa muak Ares pada sifat keras kepalanya. Ares menahan kedua lengan wanitanya di atas kepala, mencengkeramnya kuat hingga sang dewi, tak peduli seberapa kerasnya memberontak, tidak bisa bergerak.

"Kumohon, ja—"

Melanjutkan apa yang ia mulai di dunia manusia, Ares melumat bibir Aphrodite, melampiaskan kejengkelannya dan tidak membiarkan kekasihnya buka suara. Sungguh, tidak ada secerat pun cinta dalam ciuman itu hingga Aphrodite merasa sesak, terjejali emosi. Dua pergelangan ramping itu kemudian dicengkeram dengan satu telapak selagi telapak lain Ares mengoyak pakaian Aphrodite di bagian atas. Raga Aphrodite menjadi setengah polos; dari leher ke perut terbuka sepenuhnya, tetapi di bawah itu masih terlindung walau tidak sempurna. Manik merah darah Ares berkilatan, tatapannya jatuh pada setiap garis yang menyusun tubuh menggiurkan di bawahnya.

"Ares, aku—ngh, hen—aaah—hentikan ..."

Tak terkendali. Desah itu lolos di luar keinginan Aphrodite manakala Ares menempelkan bibirnya tepat pada denyut di lehernya, menghisap daerah itu kuat-kuat. Belum puas di satu titik, Ares menanamkan tanda kepemilikannya pada beberapa tempat di leher jenjang itu, sementara tangannya yang bebas meremas payudara kekasihnya. Gelenyar yang menyerang Aphrodite meningkat, biasanya sangat ia nikmati, tetapi sekarang lain. Bersama kehangatan yang mulai menjalar ke tubuh bawahnya, pandangannya yang mengabur menangkap selintas bayangan medan perang.

Hasrat bisa menyalakan sesuatu lagi selain berahi, yaitu dendam. Rasa haus darah.

"Hng, ah ..."

Lidah Ares menyapu lingkaran merah pucat pada puncak payudara Aphrodite, memainkan satu sisi dan menganggurkan sisi yang lain sampai pemiliknya gila. Ares melepaskan cengkeraman, tetapi Aphrodite tetap tak berkutik karena lengan kekar itu menariknya mendekat. Sebagian besar bukit lembut yang berangsur merona telah terlingkupi mulut Ares. Panas. Panas. Lalu berganti nyeri. Puting Aphrodite yang tegang akibat rangsangan terus-menerus dari lidah lihai Ares mengirimkan lecutan listrik ke sekujur tubuhnya ketika digigit kecil. Jeritan singkat meluncur dari bibir Aphrodite, payudaranya yang lain sama membengkak dengan puting tegak.

Bayangan medan perang dalam pandangan Aphrodite berubah menjadi sepasang pecinta, di bawah hangat senja Cythera, memadu kasih, tetapi pemandangan itu rusak oleh warna merah yang tahu-tahu menutup seluruh penglihatan Aphrodite.

"Jangan ... Hah, hah, ng—tidak, Ares ..."

Darah. Sepasang kekasih itu tenggelam dalam lautan merah. Ketakutan, Aphrodite berusaha mendorong Ares sekuat mungkin. Berdecak kesal, dewa yang kasar itu segera mengunci dua lengan sang kekasih dalam telapaknya yang mengapal.

"Diam dan mendesahlah seperti biasa, Jalang! Jangan banyak bergerak!"

Bibir Aphrodite membuka lebar, suara parau dari kerongkongannya merupakan campuran tangis dan gairah. Ares memelintir putingnya yang belum tersentuh selagi masih mengulum sisi yang lain, merambatkan gelenyar ganda sekaligus menambah buruk bayangan dalam benaknya. Aphrodite tak sanggup bernapas, tubuhnya seolah memberat, dan kepalanya pusing tidak karuan.

'Diam dan mendesah', kata Ares? Sehina itukah Aphrodite di mata sang kesatria?

Selanjutnya, bibir, gigi, dan lidah Ares menyapa perut Aphrodite. Sang dewi menggelinjang, merespon tindakan Ares dalam hasrat dan kesakitan. Bercak merah yang menghias perut Aphrodite tidak berasal dari ciuman saja, tetapi juga gigitan yang membuat kuncup-kuncup sarafnya kian peka. Teriakan Uranus saat dibunuh Cronus melintas tanpa izin, menyakiti rungu Aphrodite saking kerasnya, padahal segala tentang Uranus dan Cronus sudah dipenjara dalam masa lalu. Tubuh Aphrodite yang licin dan permukaan ranjang yang selembut pasir pantai Cythera mengingatkannya, untuk entah yang keberapa kali, pada masa penciptaannya; rasanya sangat nyata. Aphrodite panik. Jika berlama-lama bercinta dengan Ares, bisa jadi kenangan buruk itu akan membenamkan dirinya seluruhnya.

Dan, Ares tidak peduli.

"AH! Ha—nn, hah ... Cukup, cukup ..."

Mustahil permohonan Aphrodite didengar. Ares sudah melebarkan jarak antara paha kekasihnya, menemukan gelambir-gelambir basah yang menguarkan wangi memabukkan. Jemari Ares mengusap lipatan kewanitaan Aphrodite sejenak sebelum memasukkan dua jari dalam liang yang berkedut-kedut penuh antisipasi. Punggung Aphrodite melengkung, tidak siap diterjang sensasi akut ini. Kesadarannya terombang-ambing begitu dahsyat, terlebih saat Ares mencicip bagian dalam paha Aphrodite yang gemetar, terus hingga hidungnya amat dekat dengan kemaluan Aphrodite. Dinding-dinding hangat lengas menjepit kuat dua jari Ares, membuat si empunya jari mengerang tertahan sebelum terkekeh puas. Aphrodite memekik; dirasakannya jari Ares maju-mundur dengan tempo kacau, brutal mengoyaknya, menyentuh semua titik sensitifnya. Sang dewi memekik, menggeliat, mendesis, dan di antara itu, bibirnya kerap terbuka lebar, hendak meraup udara sebanyak mungkin. Stimulasi intens yang Ares berikan secara bertahap membuatnya kebas sampai-sampai tak menyadari segaris jalur liur menuruni bibir merahnya.

"Lemah dan murahan, kau itu."

Ares menarik jarinya dari kewanitaan Aphrodite tepat sebelum sang dewi tiba pada puncak kenikmatan. Aphrodite mengerang, napasnya berubah jadi deguk, dan tubuhnya bermandi keringat. Telunjuk dan jari tengah Ares masih lengket akibat cairan kewanitaan sang dewi cinta, tetapi itu tidak menghentikannya dari membelai bibir Aphrodite, membiarkan Aphrodite merasakan tetes-tetes gairahnya sendiri.

"Pantaskah kau berkuasa atas sesuatu? Kau lebih pantas dikuasai daripada menguasai." Ares memasukkan jari ke mulut Aphrodite, membuatnya tersedak. "Hisap ini."

Benar, aku lemah dan amat rendah.

Pasrah, Aphrodite menyesap jari Ares, meresapi pahitnya kekalahan, juga betapa buruk rasa sari yang mengalir keluar liang senggamanya. Itukah 'sari cinta' yang dipuja-puja dewa dan manusia, yang mempertahankannya di singgasana utama Olympus bahkan setelah Hestia si perawan penjaga perapian turun takhta? Jika ia tidak lagi menguasai cinta, itukah satu-satunya hal yang istimewa darinya?

Mengapa pula singgasana itu dulu dibangun untukku? Apa mereka sekadar mencari sosok untuk dipermainkan, untuk memuaskan binatang liar di balik jubah agung mereka masing-masing?

Siksaan Ares berlanjut; isapan bibir mungil Aphrodite telah membangkitkan nafsunya juga, ujungnya. Ia lemparkan kain lembab yang menutup kaki sang dewi ke sembarang arah, melepaskan jarinya dari bibir Aphrodite agar dapat menahan kedua lengan Aphrodite kembali, kemudian menyerang semaunya. Menggigit kecil telinga Aphrodite, menjilat bibirnya, mengulum putingnya, menggelitik pusarnya, mencubit kelentitnya, hingga terakhir, tubuh mereka bersatu. Ares melesakkan dirinya ke dalam Aphrodite, tanpa ampun menghunjamkan miliknya dengan kecepatan yang terus bertambah, memancing lenguh Aphrodite yang tersisipi rintihan. Aneh. Ini pertama kalinya Aphrodite berada dalam situasi di mana cinta dan gairah menjadi sangat bertolak belakang, padahal sudah berabad-abad Aphrodite berurusan dengan dua perkara tersebut.

Pergumulan yang sebelum-sebelumnya mungkin bisa dibilang bukti cinta, tetapi apa yang Ares lakukan padanya sekarang, detik ini, jelas bukan salah satunya.

Menyaksikan Aphrodite yang terbaring tak berdaya, hasrat Ares kian tersulut secara tak lazim. Debar yang menggemuruh dalam dadanya di atas ranjang ini—entah bagaimana—mirip dengan apa yang ia rasakan di medan perang. Kemurkaan. Keinginan menang. Keinginan menyakiti. Telapaknya tahu-tahu menjambak seikat rambut Aphrodite hingga Aphrodite menjerit dan mendongak tanpa perlawanan. Di leher jenjang Aphrodite, ia tanamkan bekas-bekas gigitan yang ngilu bukan main, mengucurkan darah. Seiring tekanan yang meninggi 'di bawah sana', manik Ares menggelap dan apa yang ia lihat tidak diterjemahkan seperti seharusnya oleh otaknya.

"Uhuk! Ukh ... ukh ..."

Leher Aphrodite dicekik. Tenaganya besar sekali hingga Aphrodite yakin kebencianlah pengendali tindakan itu, tetapi mengapa? Apa kesalahan Aphrodite yang dapat memicu kemarahan Ares demikian hebat? Penyangkalannya terhadap pernyataan Ares tentang cinta dan amarah? Statusnya yang bukan milik Ares secara sah? Atau bukan keduanya?

Ares tidak mengungkap apa alasannya hingga beberapa luka yang sembuh sangat lambat tercetak di tubuh Aphrodite.

"Akhirnya," Ares menyeringai, "AKU MENGALAHKANMU, ATHENA!"


Athena?


Nama sang dewi strategi timbul tenggelam di pendengaran Aphrodite. Klimaks menghantamnya bagai badai, membenamkannya dalam warna merah dan bau anyir.

Athena?

Jadi, buat Ares, Aphrodite adalah pengganti Athena yang tak pernah bisa dikalahkannya? Pagi, siang, dan malam yang mereka habiskan bersama semata pelampiasan keputusasaannya terhadap Athena? Setiap Ares melumpuhkan Aphrodite di ranjang, ternyata Athena yang ada di bayangannya?

"Sudah selesai?"

Dalam sisa-sisa kesadarannya yang tipis, Aphrodite mendapati suara Hephaestus yang dingin dan bunyi kaki besinya yang menggesek lantai kamar.

Dia memergoki kami. Dia melihatku dalam keadaan kaki terbentang dan tubuh basah seperti ini.

Aku memang pecundang.

Beruntung, Aphrodite terpejam setelah itu sehingga ia tidak perlu terkoyak oleh tatapan Hephaestus yang tajam menusuk.