Author : Fafasoo202
Title : Life with Babbo Kim
Genre : Romance, Frindship, Humor, YAOI
Rated : T+ (?)
Lenght : Chaptered
Pairing : My Lovely Kaisoo
Support Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, etc..
Disclaimer: Cerita murni dari pemikiran saya, tidak plagiat atau sejenisnya. Para pemeran milik kedua orang tuanya juga Tuhan YME. Kalau bisa, sayang ingin memiliki satu diantara mereka :3
Note : Huruf 'italic' menunjukkan kata hati, dan flashback. Jadi, perhatikan tiap kata dan kondisi dalam cerita. Bagi yang tidak menyukai YAOI, tolong segera menutup halaman. Terima kasih^^
.
.
.
Copyright © 2016 Fafasoo202 Present
.- Life with Babbo Kim -.
.
.
.
.
.
Chapter 3
Seminggu berlalu. Kyungsoo benar-benar merasa seperti sedang berada di pemakaman. Hening. Sunyi. Senyap. Hanya angin yang berlalu lalang. Ia hampir saja gila. Kyungsoo merutuk karena mulutnya dengan lancang mengucapkan kata-kata itu.
'Tidak saling mengenal?'
Kyungsoo terkekeh seorang diri di kamarnya. Kalimat macam apa itu? Tidak kah dia terlihat seperti orang yang sangat kejam? Dewi batinnya mengangguk setuju. Kyungsoo merengut dan segera melempar buku tebal miliknya ke sambarang arah. Demi Tuhan, Kyungsoo hanya ingin fokus untuk mempersiapkan Tes minggu depan. Tapi semuanya buyar dikarenakan kata-kata yang ia lontarkan pada Kai seminggu yang lalu.
Kyungsoo menghela nafas panjang, ia harus melakukan sesuatu agar suasana flatnya tidak menyeramkan seperti sekarang. Jadi Kyungsoo memutuskan untuk membuat makan malam, sebagai permintaan maafnya pada Kai. Ia berharap, Kai akan memakan masakannya dan melupakan perkataanya itu.
Kyungsoo bangkit dari kasurnya dan berlari kecil menuju dapur. Saat tiba di pintu dapur, Kyungsoo menemukan Kai sedang menuang telur ke pan yang sudah panas di atas kompor.
'Ahh,, dia sedang membuat omlet? Ku pikir Kim satu ini tidak bisa melakukan hal yang berguna selain memerintah, kekekek' Kyungsoo terkekeh halus sambil terus menatap gerak-gerik Kai yang belum menyadari kehadirannya.
Kemudian Kai menjauh dari kompor dan meraih ponselnya. Kyungsoo mengernyit. Kai harus menjaga telurnya supaya tidak gosong. Tapi hingga tiga menit berlalu...
Kai buru-buru melepas smartphonenya lalu mematikan kompor dengan terburu-buru. Kai terdiam di tempatnya sambil mengangkat telur itu ke hadapan wajahnya.
Kyungsoo membelalak, dan guncangan di perutnya kini berubah menjadi lilitan yang menggelikan hingga nyaris saja ia mengeluarkan tawanya.
'Itu bukan telur, tidak ada telur yang berwarna hitam seperti itu. HAHAHA... Astaga, Kim bodoh' Ujar Kyungsoo dalam hati sambil memegangi perutnya. Tawa Kyungsoo terhenti ketika Kai menyuapkan telur itu ke mulutnya sendiri, Kyungsoo menggeleng panik. "Tidak. Jangan dimakan!" gummanya lirih.
Tapi Kai sudah memasukkan sesuap telur kemulutnya. Dan berakhir dengan terbatuk-batuk.
Kyungsoo tidak bisa menanhannya lagi, jadi dia melepaskan gelak tawanya yang sedari tadi ia tahan.
Kai tersentak kaget ketika mendengar suara tawa dari arah pintu dapur. Kyungsoo disana. Sejak kapan?
Keningnya mengerut kesal karena Kai yakin Kyungsoo pasti sedang menertawakannya. Ia dengan cepat membuka almari pendingin dan meraih sebotol air mineral lalu meminumnya hingga sisa setengah. Ohh, telinganya mulai panas karena suara tawa itu masih belum juga berhenti.
Kai memutar bola matanya, kemudian ia berjalan melewati Kyungsoo begitu saja. Tapi langkahnya terhenti ketika Kyungsoo meraih pergelangan tangannya. Kai melirik si mata bulat itu sejenak sebelum menepis tangannya.
"Ups, maaf" gumam Kyungsoo pelan dengan rasa gelinya yang belum menghilang. Lalu melanjutkan, "Kau lapar? Aku bisa membuatkanmu sesuatu".
Suara dengusan kasar dari Kai mengalihkan atensinya penuh pada lelaki tan itu. Lalu kalimat selanjutnya, hampir membuat Kyungsoo tersedak liurnya sendiri.
"Kupikir kita tidak saling mengenal?"
Kyungsoo tertawa kikuk sambil memukul pelan lengan Kai, "Haha.. Hey, ayolah.. aku hanya sedang lelah semalam, makanya kalimat itu keluar begitu saja. Aku bukan bermaksud seperti itu" Demi Dewa Zeus, aku tidak akan memohon seperti ini lagi padanya.
"Tidak perlu menyusahkan dirimu sendiri, Do Kyungsoo. Aku tidak lapar"
Kyungsoo tertawa sinis, dan membiarkan Kai pergi dari hadapannya. "Baiklah, aku akan membuat kimbab dengan isi ayam yang banyak dan menghabiskannya seorang diri. Aku tidak akan menyisakannya barang sedikit untuk kucing sekalipun~" ujar Kyungsoo dengan keras sambil berlalu menuju dapur.
Selagi ia menyiapkan bahan dan alat masak, Kyungsoo mendengar tarikan kursi meja makan di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Kai yang duduk dengan wajah datar sambil memainkan ponselnya.
"Lihat? Semuanya akan berjalan mudah, jika kau menuruti kata-kata ku" kata Kyungsoo setelah terkekeh kecil.
"Diam kau! Masak saja sana!", mendapati jawaban yang lebih sinis dari kata-katanya, Kyungsoo tak lagi bersuara selama ia memasak.
Detik hingga menit terlewati,
Kyungsoo sudah siap dengan kimbab ayam di dua buah piring saji. Ia melangkah mendekati meja makan dan menyodorkan sepiring untuk Kai. Tanpa ucapan terima kasih, Kai melepas ponsel pintarnya begitu saja dan mulai melahap kimbab dihadapannya.
Kyungsoo menarik nafasnya sepelan mungkin dan mendengus kecil karena reaksi Kai yang begitu datar.
"Ekhem... kau mau minum apa?" Kyungsoo mengalihkan pandangannya ketika mendapati sebuah lirikan dari ujung mata elang itu.
"Apa saja".
Setelah mendapat jawaban dari Kai, Kyungsoo lanngsung beranjak menuju counter dan menyeduh dua gelas lemon tea hangat untuk dirinya dan Kai.
Malam itu berlalu dengan Kai yang menghabiskan kimbab dan teh nya tanpa sisa sedikitpun.
.
-Life With Babbo Kim-
.
Matahari pada minggu pagi menghiasi sudut kota Seoul.
Kyungsoo terusik dengan secercah cahaya yang menembus gorden kamarnya. Ia lelah karena semalam ia baru kembali dari kampusnya saat tengah malam sebab Tes hari itu berlangsung sangat lama dengan banyaknya kendala, mulai dari rapat dosen yang mengharuskan Tes tersebut tertunda hingga berjam-jam. Dan sekarang Kyungsoo ingin menikmati masa bebasnya dari kegiatan kampus, tapi sepertinya Tuhan tak memberikan izin karena ketika Kyungsoo baru saja menarik selimutnya, benda pipih di meja nakas berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
Kyungsoo menggeram dan meraih ponselnya. Tanpa ingin tahu siapa yang menelpon, Kyungsoo langsung menggeser layarnya kearah ikon hijau di kanan.
"Yeoboseyo?" sapa Kyungsoo dengan suara serak.
"Kyungsoo-ya, kau baik-baik saja nak?"
Kyungsoo terduduk setelah mendengar suara dari seberang sana. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap nomor siapa yang yang sekarang tengah menghubunginya. Mata Kyungsoo melebar ketika nama 'Kim Ahjumma' tertera di layar itu.
"Ahh,, Jeosonghamnida. Ya, aku baik eommonim"
"Syukurlah, lalu bagaimana dengan Jongin? Dia tidak merepotkanmu kan?"
Lelaki bermata bulat itu tertawa sumbang dengan hati yang merutuk, 'Jongin sangat menyebalkan Ahjumma'. Astaga haruskah Kyungsoo mengatakan yang sebenarnya?
"Dia baik eommonim, dan... banyak membantuku" BULLSHIT!
"Eomma pikir sikapnya akan sama seperti dulu" suara tawa terdengar dari seberang sana, sementara Kyungsoo hanya menyunggingkan senyum kecut di sudut bibirnya.
"Ah ya, Kyungsoo. Mulai besok Kai akan mulai kuliah di Universitas yang sama denganmu. Jadi tolong bantu Jongin mencari seragam untuknya, heum? Kau mau kan?"
Mata Kyungsoo membelalak kaget, "Engg.. eommonim. Tapi kenapa Universitasnya sama denganku?, ku pikir masih banyak tempat kuliah lain yang lebih baik dari pada kampusku".
"Yahh,, aku tahu nak. Tapi Jongin Appa bilang, akan lebih baik jika kalian kuliah di Universitas yang sama".
"Ah,, jadi Abeonim yang memilihkan kampusnya" lirih Kyungsoo dengan wajah sedih. Jika ayah Jongin sudah berkata begitu, mau apa lagi. Kyungsoo menghela nafasnya sebelum berkata, "Baiklah eommonim, aku akan mengajak Jongin membeli seragamnya hari ini"
"Terima kasih sayang, kau yang terbaik. Eomma titipkan Jongin padamu ya~ sampaikan salam eomma pada si hitam itu".
"Ya, aku akan menyampaikannya eomma, sampai jumpa~".
BRUK!
Kyungsoo langsung merebahkan dirinya dengan kasar. Tidakkah cukup penyiksaannya karena Kai yang kini serumah dengannya? Dan apa lagi ini? Kenapa mereka harus satu kampus?
Kyungsoo memejamkan matanya sejenak, kemudian beranjak ke kamar mandi dan membasahi kepalanya dengan guyuran air dingin dari shower.
Kyungsoo memandang datar pada pintu di sebelah kamarnya, sementara dewi batinnya sedang duduk manis di sudut ruangan itu sambil memandangi kukunya yang kini bercat merah.
Tok Tok Tok~
Tok Tok Tok~
Tok Tok Tok~
Tok Tok Bugh! Bugh! Bugh!
Cklek~
Brugh!
"Akhh!"
Kyungsoo membuka matanya ketika merasakan sakit di sekujur tubuh bagian depan. Dewi batinnya terbahak-bahak melihat kecerobohannya. Kyungsoo merengut dan segera bangkit dari posisi telungkupnya di lantai. Baru saja mulutnya bersiap mengeluarkan sumpah serapah pada si pemilik kamar, Kyungsoo malah dibuat terkejut dengan tampilan seorang pria yang hanya menggunakan boxer putih dengan handuk yang menggantung dilehernya.
Kyungsoo menyadari jika dewi batinnya sama terkejut dengan dirinya. Tawa yang menggema dari bibir merah itu lenyap seketika dan berganti dengan gumaman kagum ketika melihat Kai di hadapan Kyungsoo.
"K-kenapa tidak mengenakan celana dan bajumu?!" ujar Kyungsoo setengah memekik.
"Siapa yang menggedor pintuku dengan tidak sabaran sampai-sampai aku tidak sempat mengenakan pakaianku, eoh?!" Boom! Kyungsoo terdiam ditempat karena Kai malah menyudutkannya.
"Seharusnya kau bisa memberitahuku dari dalam sebelum membuka pintunya" bela Kyungsoo tanpa mau mengalah.
Kai mendengus dan berkecak pinggang didapannya. "Ada perlu apa menemuiku?" tanyanya datar.
Ketika Kyungsoo mencoba menghindari mata Kai, tanpa sengaja manik hitamnya melihat otot perut Kai yang terbentuk begitu sempurna. YA TUHAN! Kyungsoo menahan nafasnya, dan dewi batinnya berbinar senang sambil meloncat-loncat kesana kemari.
'Aku tidak melihatnya' ucap Kyungsoo berulang kali dalam hati.
"A... aku.. Ibu mu bilang kalau kau akan kuliah mulai besok, beliau memintaku untuk menemanimu membeli seragam. Yahh,, begitulah!" ujar Kyungsoo susah payah.
Hening beberapa saat.
"Keluar!"
Kyungsoo mendongak setelah mendengar ucapan Kai barusan. Ia memandang Kai bingung dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Keluar dan biarkan aku memakai pakaianku!" lelaki bermata bulat itu menggumamkan huruf 'O' yang panjang dari bibirnya, sambil melangkah mundur dengan teratur.
Kai mulai menutup pintunya setelah Kyungsoo berada di luar, tapi kemudian Kai membuka daun pintunya lebar-lebar dan melotot pada Kyungsoo.
"Apa?!" jawab Kyungsoo sinis karena dipandangi seperti itu. "Kau betanya 'Apa?' padaku?" balas Kai balik bertanya dengan kekehan yang menyebalkan, "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Bilang saja kalau kau mau masuk dan melihatku berpakaian dihadapanmu!" serbu Kai dengan matanya yang memicing ke arah bawah dimana sebelah kakinya menghalangi pintu kamar Kai agar tidak tertutup.
Apa? Tunggu!
Sejak kapan aku meletakkan kakiku disana?!
Perasaan malu yang luar biasa menembus jantung Kyungsoo sehingga menghasilkan detakan yang kacau. Kyungsoo berani bersumpah kalau ia tidak melakukan itu dengan sengaja, sungguh.
Kyungsoo berbalik dengan cepat, sebelum ia benar-benar melangkah meninggalkan kamar itu, Kai memanggilnya. Ia menoleh dan menemukan Kai yang memandang aneh padanya.
"Wajahmu... memerah"
Diameter mata Kyungsoo bertambah besar. Dengan refleks ia menangkup kedua pipinya dan mengambil napas dengan rakus. "Aaaa itu... karna.. disini sangat panas" jawab Kyungsoo sekenanya.
"Kau baru menyadarinya? Aku sudah pernah mengatakan rumahmu ini seperti neraka. Dan kau baru menyadarinya sekarang, Bodoh!"
"Yak!"
Brak!
Kyungsoo tersentak karena teriakannya malah di balas dengan debaman pintu yang nyaring. Ia merengut kesal sambil berjalan menuju dapur. Ia membutuhkan sesuatu yang dingin untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan sakit.
Dasar si brengsek Kim Jongin!
"Cepat sedikit! Kau membuang waktuku!"
Kyungsoo mempercepat langkahnya hingga kini ia sejajar dengan Kai. "Langkah kakimu saja yang terlalu lebar!" balas Kyungsoo sambil terengah.
Kai mendelik pada Kyungsoo melalui ujung matanya, "Dasar pendek!".
Darah tiba-tiba naik menuju kepalanya. Beraninya si hitam ini menghina tinggi badannya! Kyungsoo berhenti melangkah dan menatap sengit pada Kai yang berada di sampingnya.
"Apa?!" tanya Kai dengan alis terangkat sebelah. Kyungsoo mendengus, kemudian geraman rendah terdengar dari bibir tebal Kai setelah Kyungsoo berhasil menginjak kaki kiri si hitam itu dengan sepatu Nike-nya.
Hahaha... rasakan itu!
Kai memandang malas pada Kyungsoo yang sejak tadi hanya mondar mandir kesana kemari kemudian kembali kehdapannya lagi untuk mencocokkan baju seragam ke tubuhnya.
"Berhenti melakukan itu, kau membuatku pusing"
Dengan sekejap, Kyungsoo berhenti. Oh astaga, Kai dengan susah payah menahan tawanya karena mendapati mata Kyungsoo yang tengah membulat sempurna.
Ia berdiri dan mengambil alih semua pakaian di tangan Kyungsoo. Kemudian ia menarik tangan si mungil dan membawanya ke meja kasir.
"Totalnya 473.000 W, Tuan"
Kai terdiam sesaat sebelum berbalik pada Kyungsoo yang berada di belakangnya. Si mungil mengerjap beberapa kali.
"Kau membawa uang?" tanya Kai. Kyungsoo mengangguk sekali dengan tatapan waswas.
"Bagus! Bayar ini, dompetku tertinggal di kamar"
"Ck! Kau berhutang padaku!" ujar Kyungsoo sarkasme.
Setelah membayar semua itu. Kyungsoo berjalan mendahului Kai. Matahari sudah berada tepat di atas sana, dan Kyungsoo mulai kelaparan.
"Sebelum pulang, ayo makan sesuatu" Ajak Kyungsoo sembari memasuki kedai.
Kai mengedarkan pandangannya setelah mereka memesan Jjangmyeon dan dua botol soda. Matanya memicing ke arah pintu masuk. Seseorang tengah berdiri disana.
Kyungsoo yang sejak tadi mengamati gerak gerik lelaki dengan rambut hitam berponi di depannya, ikut memandang suatu objek yang menjadi perhatian lelaki itu sejak tadi.
Ketika Kyungsoo menoleh, ia menemukan satu lagi seorang pria yang sama bad boy-nya dengan Kai. Nakamoto Yuta. Sahabat mereka yang berasal dari Jepang. Rambut dengan cat ungu, pierching di kedua telinganya, baju kaos abu-abu tak berlengan dan celana jeans yang sobek-sobek sepanjang kakinya.
"YUTA!"
Kyungsoo terkejut karena ia tak bisa menahan teriakkannya. Sudah lima tahun berlalu, demi apapun.. Kyungsoo hanya merindukan sahabatnya itu.
Ketika lelaki disana menoleh, senyuman yang lebar sama-sama tercipta di bibir keduanya. Kyungsoo bediri dan bersiap menyambut pelukan dari Yuta.
"Astagaaaa! Sudah berapa lama kita berpisah?" tanya Yuta, dan Kyungsoo hanya bisa tertawa di balik punggung lelaki itu, sambil sesekali menepuk-nepuk tanda ia menanggapi ucapan Yuta.
"Kenapa kau bisa disini?" tanya Kyungsoo setelah pelukan mereka terlepas.
"Entahlah, sebenarnya aku sedang melarikan diri" jawab Yuta sekenanya. Kyungsoo memcingkan mata sambil mengulas senyum geli, "Ayahmu masih suka menjodoh-jodohkanmu ya?" tanya nya dengan tawa.
Yuta mengangguk lemah, kemudian matanya bergulir pada pria yang sejak tadi diam dan hanya memandangi mereka dari tempat duduknya. Lalu dengan senyuman riang, Yuta merentangkan kedua tangannya dan membuat Kai mengerutkan dahi.
"Apa?" tanya Kai tak ramah.
"Oh ayolah,, aku tahu kau juga merindukan pelukan dari ku"
"Kau membuatku mual"
Dan Yuta hanya mampu mendengus kasar setelahnya. Tapi kemudian ia mendekati Kai dan tersenyum menggoda pada temannya itu.
"Kau sudah berhasil menemuinya disini kan, aku tau kau sangat senang. Selamat Bro!" Kai melebarkan matanya ke arah Yuta, dan memberinya tanda untuk diam. Oh Tuhan, Yuta terlalu banyak bicara.
Kai melirik Kyungsoo dan menemukan lelaki mungil itu memandang bingung pada Yuta dan dirinya. Kai hanya berharap si mata bulat itu tidak terlalu penasaran dengan apa yang barusan dikatakan Yuta padanya.
.
-Life With Babbo Kim-
.
Kai melempar paperbagnya dan menjatuhkan diri di kasur. Tolong, ia sedang kesal. Kyungsoo dengan santai menyuruhnya pulang seorang diri, sementara dia dan Yuta akan berjalan-jalan. Oh? Siapa yang mengajaknya keluar tadi?
Oke, Kai memaklumi rasa rindu diantara Yuta dan Kyungsoo. Tapi, kenapa dirinya yang harus pulang? Kenapa mereka tidak mengajaknya jalan-jalan juga? Ya ampun! Rasanya Kai ingin meledak sekarang juga. Kai menghela nafas, kemudian menutupi mata dengan lengannya.
Beberapa detik berlalu, kemudian sebuah asumsi melintas di kepalanya membuat Kai tersentak dan terduduk tiba-tiba.
Bagaimana jika Kyungsoo menanyakan sesuatu pada Yuta mengenai apa yang ia dengar di kedai tadi?
Kai meloncat dan berlari menuju ruang tengah dimana ponselnya berada. Jarinya dengan lihai mencari nama kontak seseorang disana. Tak lama kemudian nada sambung terdengar dan sapaan halo menjawab di dering ketiga.
"Yuta, kau masih bersama Kyungsoo?" tanya Kai terburu-buru. Yuta membalasnya dengan gumaman.
"Apa kau berada di dekatnya?"
"Tidak juga, dia sedang membeli es krim dan aku sedang menunggunya di bangku taman"
Diam-diam Kai menghela nafasnya, "Baguslah. Yuta, jika dia bertanya sesuatu tentang itu... kau tau kan, berbohong."
"Ahh,, aku tidak bisa menjanjikan hal itu padamu. Kau sendiri juga tau kan kalau aku tidak bisa berbohong pada uri Kyungie"
"Astaga, Yuta! Bantu aku sekali ini saja" Orang diseberang sana terkekeh sinis.
"Aku sudah sering membantumu. Bodoh!"
"Oke, ku jamin ini yang terakhir."
"Tidak tau! Tidak janji!"
Sambungan telepon kemudian terputus begitu saja. Kai masih memanggil-manggil Yuta dengan teriakannya yang begitu nyaring.
"Sialan! Dia ingin mati ditanganku apa?" geramnya sambil menatap emosi pada benda pipih persegi digenggamannya.
Kai melepas bajunya dengan kasar, kemudian kembali memasuki kamarnya dan melesat di balik pintu kamar mandi. Ia perlu mendinginkan kepalanya saai ini.
Kyungsoo terekejut bukan main ketika tangannya ditarik menuju dapur oleh Kai disaat ia baru membuka pintu rumah.
Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Dan dewi batinnya bersumpah jika Kai dengan rambut basahnya yang ditata kebelakang dan mata hitamnya tanpa soft lens adalah tampilan paling sempurna dari lelaki itu. Seperti sekarang. Dan apa itu, Kai mengenakan kaos hitam lengan pendek yang sialnya sangat membentuk tubuh kekar itu. Dewi batinnya menggigit bibir bawahnya sendiri, dan paha kirinya memangku paha kanannya sambil menekan sekuat tenaga gairah yang memuncak.
Kyungsoo menggeleng dan mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
"K-kenapa menyeretku kesini?" Kyungsoo bertanya sambil menurunkan pandangannya.
"Buatkan aku sesuatu. Aku lapar"
Kyungsoo yakin ia mendengar nada kikuk pada ucapan Kai tadi. Tapi pada akhirnya ia hanya dapat mengangguk dan menyibukkan diri dengan bahan makanan. Sementara Kai menunggunya dalam diam.
Ketika ia selesai dengan peralatan dapur, Kyungsoo mendekati Kai dengan sepiring sandwich, dan Kai langsung memakannya tanpa sepatah katapun. Melihat Kai yang berlaku aneh, membuatnya tidak betah berada di depan lelaki tan itu. Jadi, Kyungsoo berniat untuk mencuci tumpukkan piring kotor yang tidak sempat ia cuci saat sarapan tadi.
"Kyungsoo.."
Lelaki bermata bulat itu menghentikan kegiatannya, dan menoleh pada Kai yang kini sudah berada di sampingnya seraya meletakkan piring di westafel.
"Apa?"
"Engg,, kau bicara apa saja dengan Yuta?"
Kyungsoo memiringkan kepalanya, ia benar-benar bingung dengan sikap Kai sekarang. "Kami... bicara banyak hal."
Masih dengan nada ragu dan penuh kehati-hatian, Kai kembali bertanya "Apa ada sesuatu yang penting?... yang dikatakan oleh Yuta". Kyungsoo memandangi Kai sejenak, ia mengelap tangannya yang basah setelah selesai mencuci. Lalu langkahnya membawa Kyungsoo menuju ruang tengah, dengan Kai mengekor di belakang.
"Sesuatu yang peting seperti apa tepatnya? Dan... kenapa kau mengikutiku sih?!" ujar Kyungsoo setengah berteriak.
"Sesuatu yang membuatmu... terkejut. Mungkin" kata Kai sambil ikut mendudukkan diri di samping Kyungsoo yang terlihat takut pada tingkahnya.
Kyungsoo menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, dan mengangguk kecil pada Kai. Kyungsoo terlonjak ketika Kai menggeram dengan keras di sampingnya.
"Apa?! Apa yang dia katakan?"
Lelaki bermata bulat itu menemukan sebuah kekhawatiran, ketakukan, dan kecemasan di mata Kai. Selintas pikiran untuk mengerjai Kai adalah hal yang bagus, mengingat Kai yang selalu menindasnya selama ini.
"Sesuatu yang kau sembunyikan dariku!" jawab Kyungsoo seraya mengangkat dagunya.
"Oh God! Damn!" geram Kai pelan. "Apa katanya?" tanya Kai dengan kehati-hatian lagi.
"Kau pasti sudah tahu apa yang dia katakan padaku. Jadi jangan bertanya lagi. Kau tahu, aku sangat terkejut. Dan aku kesal sekarang, kenapa kau harus menyembunyikan semuanya dariku! Apa susahnya sih untuk berterus terang? Sudahlah! Aku muak" Kyungsoo bangkit dari sofa tua itu dan melangkah cepat memasuki kamarnya.
Setibanya ia di kamar, Kyungsoo mendengar Kai yang berteriak menyebut nama Yuta. Kemudian pecahlah tawa yang sedari tadi ia tahan. Demi apapun, wajah Kai yang gugup dan ketakutan seperti tadi itu sangat membuatnya terhibur. Setelah seumur hidupnya mengenal Kai, baru tadi ia melihat ekspresi wajah Kai yang sangat langka. Lalu dengan bodohnya, lelaki tan sexy itu mempercayai semua perkataannya yang mengalir begitu saja. Padahal Kyungsoo tadi berucap tanpa berpikir.
Berpikir
Kyungsoo tiba-tiba menghentikan tawanya. Benar. Kenapa Kai berpikir jika semua perkataannya adalah kebenaran. Dan Kyungsoo juga berpikir, hal apa yang memang Kai dan Yuta sembunyikan darinya sampai-sampai Kai terlihat sangat konyol tadi.
Jika memang benar ada satu hal yang tidak diketahuinya, maka Kyungsoo akan mencari tahu.
.
.
.
.
To Be Continued (^^/)
Replies Review
Cherry blossom 8812: '-' engg okay, slow down:v situ buat fafa takut dengan caps lock jebolnya hihihi~ becanda kok,, tenang aja.. kita lihat gimana cerita mereka kedepannya ;) / taufikunn9: Emm,, makasih karna sudah mengeri kalo fafa gk bisa fast update Y_Y / nnkaisoo: wkwkwk:v perlu nih fafa kasih clue biar inget kata dewi batin fafa ambil dari novel apa? :D duhhh entar kalo kepanjangan bikin bosen / kim gongju: fafa gk mau iyain ah ka:v dan tentang Because od Rahee,, fafa bahkan gk ada buka folder itu lagi... feelnya tenggelamY_Y but, liat nanti deh ya:') / sehunboo17: karna fafa suka tom and Jerry, jadi begitulah :v / dinadokyungsoo1: okay, ini udh masuk kategori fast update belum? '-' Mianhae... / Park RinHyun-Uchiha: Ayookkk! Fafa juga pengen nimpuk Kai tapi ngeliat dia yang makin bangsadh fafa jadi gk tega *tear* / kyungni sarang: huaaaaaaa:" I'am so sorry.. tapi seriusan kendala terbesar pada saat ingin menulis chapter 2 itu adalah feel yang hilang, bener-bener lost feel.. sorry / Wulan439: Sudah lanjuuuuut~ ^^ / ChocoSoo: ini udh ada manis-manisnya belum? :v / hkysg: sudah next:* / didadida: kkkk~ sudah lanjut ini :D / aryntipMh: udah next:D / Black Aster: semoga lanjutannya gk membosankan ya :") / tarifebrianti88: sudah mbeb:v
Annyeong:") So, I'm late again? Ada yang masih ingat dengan ff yang semakin gaje ini? '-' dan maaf karna gak bisa memenuhi, fast update T_T fafa udh berusaha keras untuk cepat selesai dengan chapter 3 ini, tapi apalah daya... maaf lagi untuk banyaknya thypo, seriusan fafa males banget ngedit, hehehe~ yang masih penasaran sama hubungan KaixKyungsoo kita lihat kedepannya yaa..
Last, kalian semua berhasil mempengaruhi fafa untuk membuat FF ini Chaptered. Gk jadi Threeshoot :v Yeayyy! Tapi jangan salahin fafa ya karna makin kesini, alurnya acak-acakan, kenapa? karna fafa hanya seorang amatiran:) Oke, bye and see u:*
Mind to Review?
