Author : Fafasoo202
Title : Life with Babbo Kim
Genre : Romance, Friendship, Humor, YAOI
Rated : T+ (?)
Lenght : Chaptered
Pairing : My Lovely KaiSoo
Support Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, etc..

Disclaimer : Cerita murni dari pemikiran saya, tidak plagiat atau sejenisnya. Para pemeran, milik kedua orang tuanya juga Tuhan YME. Kalau bisa, saya ingin memiliki satu diantara merdeka :3

Note : Huruf 'italic' menunjukkan kata hati dan flashback. Jadi, perhatikan tiap kata dan kondisi dalam cerita. Bagi yang tidak menyukai YAOI, tolong segera menutup halaman. Terima Kasih ^^

.

.

.

Copyright © 2016 Fafasoo202 Present

.- Life with Babbo Kim -.

.

.

.

.

.

Chapter 6

Pintu putih itu bergeser pelan, dan ia mendapat sebuah senyuman dari sahabatnya.

Baekhyun mendekat sambil melayangkan tatapan sedihnya pada Kyungsoo. Setelah meletakkan beberapa makanan yang bisa Kyungsoo makan, ia mendudukkan diri di sofa kecil. Kyungsoo meringis ketika perawat yang sedang mengobatinya, menyapukan alkohol di sekitar luka itu.

Hening beberapa saat.

Mata bulatnya beralih memandangi Baekhyun yang tampak lesu di seberang sana. "Aku yang sedang terbaring disini tapi kenapa kau yang lesu?" ujar Kyungsoo pelan. Pria cerewet itu mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Ia memandangi Kyungsoo lama, tanpa menjawab pertanyaan yang baru saja terlontar.

"Seharusnya aku tidak meninggalkanmu tadi malam" lirih Baekhyun, sementara Kyungsoo hanya menghela nafasnya. "Sudahlah.. aku baik-baik saja" ucap Kyungsoo dengan senyumannya.

Ketukan pintu terdengar, tak berapa lama Kyungsoo dan Baekhyun mendapati Chanyeol dengan deratan giginya yang nampak sementara perawat wanita yang mengobatinya meminta izin untuk pergi setelah semua lukanya tertutup. Kyungsoo menggumamkan terima kasih begitu juga dengan Baekhyun, dan Chanyeol menundukkan kepalanya ketika berpapasan dengan si perawat.

"Kenapa kau datang kemari?"

Lelaki tinggi itu memutar bola matanya seraya mendekat, "Tentu saja aku sedang mengkhawatirkan kekasihku yang terlihat panik luar biasa beberapa jam yang lalu." Jawab Chanyeol, lalu pandangannya beralih pada Baekhyun, sang kekasih, "Kau baik-baik saja kan sayang?" tanyanya penuh kekhawatiran.

"Yak! Aku yang terluka disini!" seru Kyungsoo tidak terima.

"Apa! Kau baik-baik saja selama masih bisa melayangkan protes"

Kyungsoo melebarkan matanya, skak mat. Sementara dirinya masih terkejut dengan perkataan Chanyeol, Baekhyun malah memukul lengan kekasihnya dan di balas dengan gumaman "Apa?" seolah si dobi itu tidak bersalah.

Lalu Baekhyun bangkit, membuat 2 pasang mata memandangnya. "Aku akan menghubungi dan meminta Min Hyuk untuk mengepak barang-barang kita disana" setelahnya Baekhyun berlalu meninggalkan mereka berdua di ruangan serba putih itu.

Menghela nafas lagi, Kyungsoo kembali memandangi langit-langit kamar rumah sakit yang ia tempati.

"Chanyeol, maaf. Liburan kalian jadi berantakan karenaku. Padahal Baekhyun sangat bersemangat, dan aku... aku malah menghancurkan kesenangannya. Aku benar-benar minta maaf. Ku mohonn maafkan aku" Kyungsoo sudah bersiap untuk mengeluarkan air matanya ketika kemudian Chanyeol bersuara, "Yah, ada apa denganmu? Kau harusnya bersyukur memiliki aku dan Baekhyun yang peduli padamu. Jadi jangan meminta maaf, eoh?".

"Aku sudah merepotkan banyak orang" gumam Kyungsoo sambil berusaha untuk mengendalikan emosinya.

"Ayolah,,, kita bisa membuat rencana camping sendiri dengan hanya berempat"

Kerutan di keningnya mulai nampak, Kyungsoo memandang bingung pada Chanyeol, "Berempat? Satu lagi siapa?"

"Kai."

"Hah?! Aku tidak salah dengar? Sejak kapan kau dekat dengannya jadi berencana untuk membawanya juga?"

Chanyeol mengedikkan bahunya, kaki panjang itu berjalan mendekati bungkusan plastik yang tadi di bawa Baekhyun. "Sejak tadi" jawabnya santai.

Ya ampun, kepalanya mendadak pening. "Kau menemuinya?!" Kyungsoo bertanya seolah itu adalah kejadian yang mustahil terjadi.

"Euheum... dan dia tidak buruk. Permbicaraan kami sangat lancar, dan dia ternyata penyuka game juga" tawa Chanyeol menggema. Dan Kyungsoo semakin dibuat bingung, kenapa orang itu bisa menerima baik Chanyeol sementara dirinya tidak? Heol.. ia juga penyuka game.. Yahh.. game,,, eum, memasak.

Kyungsoo mengerjab, ia ingin bertanya sesuatu. Tapi, Chanyeol tidak akan menertawakannya kan?

Dengan suara serak, Kyungsoo membuka suaranya. "Apa dia baik-baik saja?",

"Yaaaa,,, setidaknya dia bisa berjalan dengan baik, tidak seperti kau" kata Chanyeol sambil melirik kaki kanan Kyungsoo. Si mata bulat mendengus, Chanyeol dan Baekhyun itu sama-sama menjengkelkan di suatu waktu.

Obrolan mereka berakhir bersamaan dengan kembalinya Baekhyun yang tersenyum pada mereka. Mata bereyeliner itu menatap Chanyeol, "Bisa bantu aku untuk megambil barang-barang kita?". Setelah mendapati anggukan dari Chanyeol, Baekhyun bergerak menghampiri dirinya. "Kau istirahatlah, aku tidak akan lama. Ah iya, tadi bibi mengubungiku dan menanyakan kabarmu, tapi aku bilang kau baik-baik saja. Aku tahu kau tidak akan memberitahu mengenai kondisimu saat ini pada paman dan bibi".

Kyungsoo tersentuh, Baekhyun mengetahui dirinya dengan baik.

"Terima Kasih! Baekhyun.. Chanyeol sudah berjanji akan membuat rencana camping kita sendiri. Aku tidak lagi akan mengacaukannya. Janji!" Kyungsoo berucap dengan terburu-buru sambil menggenggam sebelah tangan sahabatnya. Baekhyun melirik sejenak pada Chanyeol, lalu beralih pada Kyungsoo lagi dan mengangguk semangat, "Tentu saja!" jawabnya ceria. Mereka kemudian terkikik bersama.

"Ah,, ya. Sebelumnya... eum... boleh aku tahu kamar rawat Kai dimana? Aku... ingin menemuinya" lirih Kyungsoo amat pelan.

Chanyeol dan Baekhyun saling pandang sebelum mereka beranjak pergi setelah memberi tahu Kyungsoo.


== Life with Babbo Kim ==


Tok.. Tok.. Tok...

Aku mengernyit ketika ketukan pintu itu terdengar untuk kesekian kalinya. Aku sedang tidak ingin diganggu, sungguh.

Berjalan pelan, setengah kesal ketika aku harus mencapai kenop pintu dengan kepala yang berdenyut.

Saat daun pintu terbuka, mataku langsung mendapati sosok yang tak lebih tinggi dari bahuku dengan rambut hitam yang jatuh menutupi dahi, pakaian biru khas pasien rumah sakit yang juga sedang aku kenakan, dan kruk yang menyangga tubuhnya. Pandanganku turun, saat itu pula aku mengerti kenapa orang dihapanku memakai kruk. Kaki dengan balutan perban itu sudah menjelaskan semuanya.

"Kau yang mengetuk sejak tadi?"

Dia mengangguk sambil sesekali melihat mataku. "Sebenarnya aku... aku tadi berniat pergi, tapi ternyata kau membuka pintunya."

Aku mendengus, tak berniat untuk membalas perkataannya.

"Eung.. apa aku mengganggumu?"

Dia meminta maaf ketika aku hanya mengangkat sebelah alis dengan kekehan sinis sebagai jawaban dari pertanyaannya.

"Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja" cicitnya begitu halus.

Mataku menyipit mendengar perkataan itu, "Aku tidak baik-baik saja. Kepalaku terbentur batu dengan keras, dan aku kehilangan banyak darah. Bahkan sampai sekarang, kepalakuu masih berdenyut hebat. Jika kau ingin tahu itu."

Kemudian hening yang begitu lama...

Aku hendak menyuruhnya pergi tapi sebelum aku angkat bicara, dia lebih dulu membuka suaranya.

"Kai... Jika kau memang tidak berniat menyelamatkanku,

... seharusnya kau biarkan saja aku terjatuh. Jadi kau tidak akan terluka seperti ini. Maaf"

Nafasku tiba-tiba menghilang. Aku masih terdiam ketika dia berbalik dan melenggang pergi dengan susah payah bersama kruk itu.

Ada sebuah alasan yang tidak ku ketahui dengan pasti kenapa aku berusaha menyelamatkannya.

Saat itu..

... aku hanya merasa, sesak yang begitu dalam.


== Life with Babbo Kim ==


Kehidupannya berjalan cukup baik setelah kecelakaan itu terjadi. Maksudnya, bukan berarti kyungsoo bersyukur atas peristiwa mengerikan itu, hanya saja.. hey! Baekhyun menjadi lebih pengertian, dan banyak menghabiskan waktu bersamanya dari pada bersama pacarnya yang jangkung itu. Dan.. Kai,

entah kenapa Kyungsoo merasa, pria tan itu sesekali memberi perhatian padanya. Jujur saja, itu terasa aneh, namun dapat membuat hatinya senang. Kai juga berubah menjadi orang yang,,, eum,, tidak bossy lagi(?). Ini serius.. dia bahkan membuatkan sarapan untuknya tanpa diminta. Walau hanya sekali.

Ketika itu, disuatu pagi di awal minggu bulan Desember.

Kyungsoo menemukan hal menakjubkan di meja makan, setangkup roti dengan selai peanut kesukaannya, juga segelas susu dan sebutir vitamin di sampingnya.

Ia tertegun, mengira-ngira siapa yang menyiapkan ini jika itu bukanlah seorang Kai? Hantu? Baiklah, mari tertawa, itu pemikiran yang sangat konyol.

Lalu, ketika festival musim semi di universitasnya. Ya ampun, Kyungsoo sangat mengingat hal ini.

Caritanya bermula ketika ia tidak sengaja menjatuhkan kruknya cukup jauh di depan ruang ganti, sebab ia memiliki penampilan solo menyanyi sebagai penutup acara. Saat Kyungsoo hendak berjalan demi meraih tongkat penyangga itu, tiba-tiba saja kruknya bergeser mendekati Kyungsoo, seseorang sengaja menyepaknya.

Ia mengangkat kepala, dan mendapati Kai yang baru saja berlalu tanpa suara.

Itu tadi, benar-benar sebuah kesengajaan kan?

.

.

Pagi ini, Kyungsoo berjalan pelan memasuki kawasan kampusnya. Ia begitu senang karna dokter bilang, Kyungsoo bisa meninggalkan kruk dan membuka perban di kakinya. Meski begitu ia harus berhati-hati karna jalannya masih setengah pincang.

Suara Bakehyun dan beberapa temannya menyambut kedatangan Kyungsoo, ketika kakinya memasuki kelas.

"Wahh,,, diamana kruk itu? kau melepas perbannya? Apa tidak apa-apa?"

Kikikan geli Kyungsoo membuat Baekhyun mengerutkan keningnya, apa pertanyaannya adalah sebuah lelucon?

"Dokter bilang, aku sudah bisa berjalan tanpa bantuan kruk" mata Baekhyun membola, lalu detik berikutnya kecemasan menderanya. "Kau kerumah sakit seorang diri? Kau bisa menghubungiku, dan kita akan pergi bersama-sama".

"Berhenti mengomel di pagi hari, Baekhyun. Aku baik-baik saja, tidak perlu berlebihan seperti itu." Kyungsoo merengut dan Baekhyun hanya tersenyum kecut menanggapinya.

Demi Tuhan, Baekhyun hanya mengalami sedikit trauma atas kejadian 3 bulan lalu.

Mereka memasuki kantin ketika jam kuliah telah selesai. Baekhyun bilang, dia akan membayar makanan Kyungsoo, hitung-hitung sebagai ucapan selamat karna kakinya mulai membaik. Kyungsoo senang bukan main. Baekhyun itu termasuk orang yang pelit, bahkan pada sahabatnya sendiri. Kesempatan seperti ini sangatlah langka, dan Kyungsoo tidak akan menyia-nyiakan itu.

"Yayaya! Cepat kesana Baekhyun, aku tidak ingin kehabisan seperti waktu itu" Kyungsoo mendorong Baekhyun, dan menyuruhnya untuk lebih dulu memesan nachos beef favoritenya. Baekhyun mendengus sebelum berlari meninggalkan Kyungsoo di pintu masuk kantin.

Kyungsoo tersenyum geli, dan mulai melanjutkan langkahnya perlahan. Kakinya hampir mancapai tampat favorite dirinya dan Baekhyun.

Tapi, pandangan di depan sana membuat langkahnya terhenti, dan senyumnya perlahan memudar. Bahkan, Dewi Batinnya ikut terpaku, dengan wajah pias dan napas yang perlahan mengilang.

Kai sedang menatap Taemin. Begitu lembut dan nampak penuh perhatian. Jelas sekali bahwa lelaki itu menyayangi Taemin.

Kyungsoo segera berbalik dan ingin beranjak pergi saat mata Kai hampir mendapati keberadaannya

Sementara ia berusaha untuk meninggalkan kantin dan Baekhyun di belakang sana, Dewi Batinnya tersadar dan segera mendesaknya dengan ribuan pertanyaan; Ada apa sebenarnya antara Kai dan Taemin? Apa mereka tengah menjalin hubungan? Kenapa Kai selalu memperhatikan dan menjaga Taemin seolah orang itu adalah seorang yang rapuh jika Kai sebentar saja tak ada dihadapannya? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa—?

Ia diam sejenak ketika tangga lantai dua menjulang di hadapannya. Dewi batinnya memandang bingung karena Kyungsoo tidak menjawab semua pertanyaannya.

Demi Tuhan,,

,,,, jika Kyungsoo tau jawabannya mungkin dirinya tidak akan merasa sesak seperti ini.

Tanpa sadar, air asin yang begitu Kyungsoo benci mengalir pelan dari sudut matanya, dan Dewi batinnya terjatuh, terduduk dalam ruangan yang gelap, sunyi, dan dingin yang begitu menusuk. Ohh,, dia mengerti kesedihan Kyungsoo.

Sebuah perasaan sakit yang begitu dalam. Demi Tuhan, Kyungsoo tidak pernah menunjukkan rasa sukanya barang sedikit saja pada lelaki tan itu. Salahkah? Alasan terbesar dari pindahnya ia ke korea adalah mengenai sebuah perasaan. Oleh karena itu ia menjauh, karena Kyungsoo tau..

... dirinya tidak akan bisa mengungkap rasa itu. Tidak pada Kai. Kyungsoo terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa dirinya akan ditolak begitu perasaannya tersampaikan.

Namun sayang, Kyungsoo tidak tahu jika rasa suka dalam diam membuatnya lemah seperti sekarang. Terlalu menyakitkan.

Ketika matanya masih sibuk mengalirkan bulir asin itu,

"S-sunbae?" begitu pelan. Suara itu menyapanya, dan Kyungsoo melihat kesakitan yang sama di mata sipit itu. Seperti ini kah yang kau rasakan padaku Dokyeom?

"Dokyeom-ah.." suaranya berhasil keluar namun hanya sebatas bisik. Lelaki yang lebih muda mengangkat kedua sudut bibirnya pelan, dan tangannya mengusap bahu kanan Kyungsoo beberapa kali.

"Aku mengerti...".

.

.

.

Kyungsoo mulai menjalani hidupnya seperti biasa. Dia akan menyelesaikan skripsinya dengan cepat.

Flatnya tak lagi seperti hawa neraka, sebulan yang lalu ia memasang pengatur suhu ruangan, agar rumahnya terasa lebih dingin di musim panas atau terasa hangat di musim dingin.

Almari esnya selalu penuh dengan bahan makanan dan pintunya penuh dengan resep makanan simple. Agar seseorang bisa membuatnya dengan mudah tanpa harus membutuhkan bantuan Kyungsoo.

Aktivitasnya baik-baik saja.

Kyungsoo akan berangkat sebelum dia terbangun dari tidurnya. Lalu pulang ketika malam begitu larut, tidak, sebenarnya ia lebih sering bermalam dirumah Baekhyun. Dengan begitu Kyungsoo dan dia tak akan saling megusik satu sama lain. Bukankah itu bagus?

Kehidupannya berjalan normal namun terkesan monoton dan hambar.

Dewi batinnya tidak beranjak sama sekali dari kursi merah menyala itu, matanya menatap lurus pada satu-satunya jendela di ruangan usang yang ia tempati, berharap sesuatu yang cerah akan menembus kaca jendelanya dan menerangi ruangan itu, sayangnya... ia tidak tahu kapan hal itu akan datang.


== Life With Babbo Kim ==


Tapi dibalik itu semua, Kyungsoo masih selalu memperhatikan diam-diam. Kepalanya tidak lagi terbalut perban, dan Kyungsoo bersyukur mendapati kenyataan bahwa dia makan dengan baik. Tubuhnya terlihat lebih berisi sekarang.

Ia terlonjak ketika akan membuka pintu. Matanya menangkap sosok tan yang baru saja melesat cepat dengan napas tersengal.

Dewi bantinnya perlahan berdiri, tangannya bertumpu pada lengan sofa merah itu. Ada apa? Tanyanya dengan sirat mata yang seolah menerka bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi.

Kyungsoo baru membuka lebar daun pintu kamarnya ketika Kai benar-benar hilang di balik pintu utama. Bersamaan dengan itu, ponsel hitam di tangannya bergetar. Kyungsoo tida pernah tertarik dengan percapakan group kampusnya, tapi kali ini...

... Ahh,, jadi ini sebabnya mengapa kau begitu terburu-buru?

Kyungsoo bergegas menutup kamarnya kembali dan berganti pakaian. Baekhyun bilang dia akan tiba 15 menit lagi.

.

.

Min Hyuk : Teman-teman tolong baca ini. Lee Taemin, mahasiswa tahun terakhir dari kelas Sosiologi sedang mengalami masa kritis sebab penyakit Jantung yang selama ini di deritanya. Aku juga baru mengetahui kabar ini dari Ahn Saem, yang saat ini sedang berada di rumah sakit tempat Taemin Sunbae di rawat. Aku juga akan menyusul, ada yang ingin ikut denganku?

Johnnyyyy: Oh God! Aku bahkan baru mengenalnya beberapa minggu yang lalu.

DK: Min Hyuk sunbaenim aku ikut denganmuuu!

Sungjae: Tolong doakan yang terbaik untuk Taeminie, dia teman terbaik yang pernah kupunya.

Jaebum: Aku sungguh minta maaf karena tidak bisa ikut bersama kalian, aku sedang berada di Jeju. Semoga Taemin sunbaenim cepat melalui masa kritisnya.

Baekiee: ksooya,,, bersiaplah! Kita harus menjenguknya juga. 15 menit lagi aku akan tiba di rumahmu.

Real_pcy: Baekiee ksooya biar aku yang mengantar kalian.

.

.

Kyungsoo terdiam. Sementara Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol dengan erat. Mereka baru saja tiba. Dan raungan tangis dari wanita paruh baya itu terdengar begitu menyiksa. Kyungsoo melihat semuanya, bagaimana Min Hyuk dan Dokyeom mencoba menenangkan ibu Taemin, bagaimana Ahn Saem yang terlihat begitu pucat saat mendorong katil yang ditempati Taemin, dan bagaimana Kai yang menangis begitu hebat sambil terus menggumamkan kata 'Taemin Hyung' di bangku tunggu paling ujung.

Kyungsoo tidak pernah mengenal Taemin dengan baik. Mereka hanya tahu nama satu sama lain. Tapi ia mengerti, Taemin adalah orang yang baik selama masa hidupnya. Kyungsoo berdoa, dan berharap Taemin akan mendapatkan tempat terbaik di alam sana.

Tuhan, kumohon kasihi Taemin Sunbae disana.

Sore harinya, kami semua berkumpul mengelilingi pusara Taemin. Kyungsoo memandang sedih pada Ny. Lee yang tak henti-hentinya menangis. Tidak ada seorangpun Ibu yang ingin kehilangan anaknya. Sementara itu, Kyungsoo benar-benar menjadi saksi bagaimana seorang Kim Jongin saat ini begitu kosong, matanya tak menajam seperti saat menatapnya, wajahnya pucat dengan mata yang sembab.

Kim Jongin saat ini...

... serupa senja yang kehilangan warnanya.


Dewi batinnya mulai bertanya lagi, seberapa berartinya Lee Taemin untuk Kim Jongin?

Kyungsoo kembali dari lamunannya ketika Baekhyun menepuk bahunya dan mengajaknya untuk pulang, sebab hari sudah mulai gelap. Ia tertegun lalu kembali menatap Kai yang masih setia duduk terdiam disana.

Akankan dia pulang? Jika tidak siapa yang akan menemaninya?

Tanpa sadar Kyungsoo melangkah dan ikut bersimpuh disamping Kai.

"Aku tau kau begitu hancur saat ini, tapi tolong pedulikan dirimu juga. Kai, mari kita pulang" lelaki tan itu menggeleng lemah dan menepis tangan Kyungsoo yang ingin menggenggamnya.

"Kau tidak tau, Kyungsoo. Kau tidak tau betapa berharganya Taemin bagiku. Kau pulang saja!"

"Kai, tapi..." Kyungsoo segera mengatup mulutnya ketika mata itu menatapnya begitu tajam bahkan sampai menembus jantungnya. "Maaf.." dengan begitu, Kyungsoo kemudian berdiri dan meninggalkan Kai seorang diri disana.

Kyungsoo harusnya tau, saat hatinya mulai mengakui rasa itu, maka disaat bersamaan ia juga akan merasa sakit yang teramat. Iya, seharusnya Kyungsoo sudah mengetahui hal itu.


== Life With Babbo Kim ==


Kyungsoo ingin sekali bersikap tidak perduli tapi nyatanya, ia malah menyipkan sepotong sandwich, jus apel dan sebutir vitamin di atas meja makan sebelum ia berangkat menuju kampusnya.

Ada satu hal yang begitu mengganggu, dan ia hendak memastikan sesuatu. Dan kuncinya adalah...

... Yuta.

.

.

Oh Tuhan! Ini pertama kalinya untuk Kyungsoo mengorbankan waktu kuliahnya demi menemui seseorang. Orang didepannya ini,,, tidak tahu kah dia, bahwa Kyungsoo baru saja di ceramahi habis-habisan oleh Baekhyun. Ya ampun, siapa peduli?!

"Aigoo~ seharusnya aku tidak menemuimu jika tahu seperti ini."

Lelaki itu tertawa di tengah acara makannya setelah mendengar gerutuan Kyungsoo. "Sabarlah. Biarkan aku menikmati makanan gratis ini. Setelah itu kau bisa tanya apa saja, padaku", lalu Yuta mengerling padanya.

Sementara Kyungsoo hanya mengedikkan bahu dan beralih membalas pesan Baekhyun yang lagi-lagi menyumpah padanya, sebab ia bolos kuliah.

Sepuluh menit berlalu,

Yuta mengambil alih atensinya setelah lelaki itu bersendawa.

"Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?"

Oh, bagus. Kyungsoo harus mulai dari mana?

Matanya memandang Yuta lamat-lamat. "Ceritakan padaku! Alasan Kai berada di Korea saat ini, apa itu karena seseorang bernama Lee Taemin?"

.

.

.

.

To Be Continued :*


Hello hello... Fafa udh nepatin janji kan :'v
Well,, setelah ini fafa gak janji bisa fast up because,,, banyak alasan yang tidak bisa disebutkan :3 And,, makasih buat yang udh review,,, demi apah aku kangen kalian :"""( love u all *love sign*

Maaf karena kaisoo gak ada manis-manisnya di chapter ini :") Janji dehh chapter yang akan datang dan seterusnya bakal ku kasih gula banyak2 wkwk *jngn gebukin acuu please*

Bye Bye Bye Babe~~~~

Main ke wattpad fafa juga kuy^^ di fafasoo202 , sampai jumpa disana^^

Mind to Review