Author : Fafasoo202
Title : Life with Babbo Kim
Genre : Romance, Friendship, Humor, YAOI
Rated : T+ (?)
Lenght : Chaptered
Pairing : My Lovely KaiSoo
Support Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, etc..
Disclaimer : Cerita murni dari pemikiran saya, tidak plagiat atau sejenisnya. Para pemeran, milik kedua orang tuanya juga Tuhan YME. Kalau bisa, saya ingin memiliki satu diantara merdeka :3
Note : Huruf 'italic' menunjukkan kata hati dan flashback. Jadi, perhatikan tiap kata dan kondisi dalam cerita. Bagi yang tidak menyukai YAOI, tolong segera menutup halaman. Terima Kasih ^^
.
.
.
Copyright © 2016 Fafasoo202 Present
.- Life with Babbo Kim -.
.
.
.
.
.
Chapter 7
Kyungsoo membuka pintu flatnya dengan pelan. Ia merasa begitu lelah entah kenapa. Perkataan Yuta bahkan selalu berputar dikepalanya sepanjang perjalanan pulang.
"Taemin hyung, Kai, dan aku sudah berteman dari kecil. Saat itu, aku dan Kai bertemu Taemin hyung ditaman kanak-kanak. Ahh... aku ingat betul bagaimana Kai menunjukkan ketertarikannya saat itu. Kai bilang padaku, 'Taemin hyung itu keren dan cantik, pintar, aku suka padanya'. Aku tidak pernah menyangka, rasa itu semakin tumbuh seiring berjalannya waktu. Kami selalu bersekolah disekolah yang sama. Kai amat teramat dekat dengan Taemin hyung, tapi mereka tidak pernah menjalin sebuah hubungan lebih dari sepasang saudara. Karna Kai tau, hati Taemin hyung bukan untuknya."
Suasana gelap menyambutnya, Kyungsoo mengernyit kemudian meraba sakelar lampu disebelah pintu. Lampu menyala, lalu ia berjalan pelan memasuki rumahnya, dan hatinya terenyuh mendapati Kai terbaring di sofa seraya meringkuk, botol soju berjejer di atas meja, dan putung rokok yang berserakan.
Ia duduk menghadap Kai, memandangi wajah yang tampak sedih bahkan dalam tidurnya.
"Choi Minho. Dia adalah teman sekelas Taemin hyung di tahun pertama Junior High School. Sejak bertemu dengan Minho, Taemin hyung menjadi sangat jarang berkumpul dengan kami. Aku tau Kai kesal dan marah saat itu, tapi Kai bisa apa. Dan saat itu kami hanyalah seorang anak kecil yang penakut. Kai tidak pernah bisa marah, terlebih pada Taemin hyung kesayangannya itu."
Kyungsoo menyandarkan dagu kelututnya yang tertekuk, tangannya mengelap peluh yang mengalir dari pelipis Kai. "Aku mengerti perasaanmu..." lirihnya.
"Oh ya,, kau ingat? Saat pertama kau pindah ke jepang dan menjadi tetangga kami? Itu juga bertepatan dengan pindahnya Taemin Hyung ke korea, meninggalkan kami, dan juga Choi Minho. Kai mengurung dirinya sejak saat itu, dan kau datang, kemudian mengatakan ingin berteman dengan kami. Kyungsoo,, ketahuilah. Kai tidak membencimu. Hanya saja... dia masih tidak rela ada yang menggantikan posisi Taemin hyung dihatinya."
"Huh?..."
Yuta tergelak, "Kau akan mengetahuinya nanti.." Matanya mulai menerawang lagi, kali ini tampak sebuah kesedihan dikedua bola matanya "Lalu... kabar bahwa Taemin hyung sakit keras sampai ketelinganya, dan Kai langsung memutuskan untuk menyusul ke korea. Kai bilang, 'aku akan menjaga Taemin hyung sampai kapanpun'. 1 minggu yang lalu, sebelum hal mengerikan itu terjadi padanya, Taemin hyung menelponku... berkata bahwa aku dan Kai harus menjaga diri, jangan membuat onar, dan nasihat-nasihat lainnya. Entah kenapa... i-itu... terasa seperti salam terakhir darinya. Aku masih tidak menyangka bahwa,, bahwa Taemin hyung,, meninggalkan kami... Hiks... Aku memutuskan tidak datang saat itu, aku takut jika aku tidak bisa mengendalikan diriku. Tapi sekarang aku menyesal... Aishh.. hiks"
Hening beberapa saat, Kyungsoo membiarkan Yuta menumpahkan kesedihannya. Kehilangan orang yang disayang pastilah sakit.
Lelaki jepang itu tiba-tiba menggenggam tangannya erat. "Kyungsoo... aku tau Kai selama ini jahat padamu. Tapi tolong,, kumohon bersabarlah sedikit lagi. Jangan berhenti memperhatikannya. Kau mau berjanji padaku kan? Ku mohon... aku tidak ingin melihatnya dalam kondisi buruk karena kejadian itu"
Kyungsoo menyadari saat itu juga, kalau Lee Taemin sangat berarti bagi Kai maupun Yuta.
== Life with Babbo Kim ==
Minggu pagi dimusim dingin...
Kai terbangun dengan pening dikepalanya. Ia sadar bahwa sudah menghabiskan banyak soju tadi malam. Ketika hendak bangun, sesuatu yang hangat dan sedikit berat menahannya. Kai membuka mata perlahan dan menemukan selimut membungkus tubuhnya.
Ia menghela nafas dan mencoba bangkit ditengah sakit kepala yang mendera. Sesuatu yang lain mengejutkannya lagi.
Semangkuk sup penghilang pengar. Dan beberapa obat tersedia di atas meja.
Kai mengangkat segelas air yang ditempeli note kuning, lalu membacanya lamat-lamat.
"Selamat pagi~
Habiskan supnya, dan jangan mengabaikan obatnya. Aku sudah membuat beberapa makanan untuk bisa kau makan siang ini dan malam nanti. Kau tinggal memanaskannya. Aku mungkin, akan bermalam di rumah Baekhyun.
Jaga dirimu baik-baik, aku yakin Taemin-ssi tidak akan suka melihatmu dalam keadaan sakit."
Kyungsoo terduduk di bangku taman. Termenung dibawah pohon oak tua dengan kepala yang kosong.
Pandangannya beralih pada ponsel yang sedari tadi ia pegang, lalu memutuskan untuk memanggil seseorang melalui telepon.
Tuuttt... Tuuttt...
"Ya, Kyungsoo.. ada apa?"
Ia terlihat berpikir untuk sejenak, menimang sesuatu yang harus ia katakan. "Baekhyun-ah..."
"Eum?"
"Aku—"
"Sayang, apa kau sudah siap?!"
"Yaaaa~ sebentar lagi..."
Kyungsoo mengerutkan keningnya, ada suara Chanyeol disana. "Mau kemana?" tanya Kyungsoo gamblang. Oh Tuhan jika aku bilang sekarang, mungkin aku akan menghancurkan rencana Baekhyun dan Chanyeol.
"Chanyeol mengajakku ke pantai hehe... kebetulan kita tidak ada jadwal kan, dan Chanyeol juga, jadi kami membuat rencana mendadak seperti sekarang. Ah yaa,,, kau ingin ikut bersama kami? Lalu, tadi apa yang ingin kau sampaikan?"
Kyungsoo terkekeh, "Tidak Baekhyun,, aku juga akan membuat acaraku sendiri haha~ Tidak ada, selamat bersenang-senang. Jangan berbuat macam-macam, eo!"
"Arraseo~~ aku pergi dulu... sampai jumpa Kyungsoo.."
Dewi batinnya menghela nafas, okay... apa yang harus dia lakukan sekarang? Tidak mungkin 'kan Kyungsoo kembali kerumah. Apa yang akan Kai katakan nanti!
Ditengah kekacauan otaknya, Kyungsoo mendapati seseorang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
"Lee Seok Min!"
Ouch! Kyungsoo tidak tahu kenapa mulutnya bisa berteriak seperti tadi. Matilah!
Lelaki hyper itu menoleh dan seketika kedua sudut bibirnya terangkat kala mendapati Kyungsoo di sana.
"Sunbaenim~~ kau memanggilku~~" sapanya dengan begitu semangat dan mata yang berbinar. Sedang Kyungsoo merasa ingin memukul mulutnya sendiri. Sialan! Umpatnya dalam hati.
Kyungsoo tertawa kaku dengan jarinya yang menggaruk alis. Ah canggung sekali!
"Ada apa?" tanya Dokyeom terkesan mendesak sambil mendudukkan dirinya sedekat mungkin dengan Kyungsoo. Kyungsoo mengerjap beberapa kali, sementara kepalanya berpikir untuk memberi jawaban yang tepat pada orang ini.
"Eung,,, hanya memanggil saja.."
"Eyyy,,, kau rindu padaku yaa?"
"Haha... Bodoh!" gerutu Kyungsoo diakhir.
Lalu tiba-tiba suasana di sekeliling mereka terasa hening. Kyungsoo bersama pikirannya, dan begitu pula dengan Dokyeom.
"Sunbae~~"
"Hn..."
"Apa kau baik-baik saja?"
Lelaki itu berhasil mengambil alih atensi Kyungsoo, alisnya terangkat bingung. "Apa maksudmu?" Kyungsoo bersumpah ia tidak mengerti.
"Apa Kai menjauhimu? Atau Sunbae yang menjauhi Kai?"
Hah! Apa?! Bagaimana bisa dia berasumsi seperti itu. Kyungsoo menggeleng cepat, "Tidak... Hubungan kami tidak sepeti yang kau pikirkan. Jadi untuk apa saling menjauh..." ... kami hanya berpura-pura menjadi orang asing. Dewi batinnya melanjutkan.
"Kau menyukainya... 'kan?"
Jantungnya tiba-tiba bergetar hebat, "Dokyeom sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?" bagus! Kyungsoo mulai frustasi.
"Tidak,, hanya saja... Ahh aku tau ini terdengar bodoh. Tapi,, kau tau perasaanku dan aku juga tidak menutup mata akan perasaanmu. Oleh karena itu, aku hanya... hanya ingin membuktikan bahwa aku memang tidak memiliki tempat sama sekali. Jadi, aku akan benar-benar berhenti berharap padamu, Kyungsoo Sunbae."
Ya Tuhan. Apa aku melukai ciptaanmu yang satu ini?
Kyungsoo menelan ludahnya. Dan tangannya mengepal kuat karena perasaan marah dan sedih memenuhi kepalanya.
"Lee Seokmin! Ayo berkencan denganku!"
"Ne?!"
"Ayo berkencan... untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Setidaknya aku harus memberimu kesempatan, ya kan? Apa... kau mau?"
Great Kyungsoo! Kau seperti sedang merayu gadis yang baru saja kau tolak.
Awkward.
Helaan nafas terdengar dan Kyungsoo mendapatkan sebuah jawaban.
"Itu terdengar menyakitkan bagiku. Tapi... call!"
== Life with Babbo Kim ==
Mereka benar-benar berkencan. Menjelajahi semua wahana Lotte World, membeli permen kapas, melakukan foto box, dan hal lain layaknya sepasang kekasih.
Ketika jam menunjukkan pukul 10 malam, mereka memutuskan pulang dan mengakhiri semuanya. Mereka sepakat untuk saling melupakan hari ini, tapi Dokyeom bersikeras ingin tetap menempel padanya dengan alasan 'hanya menganggap Kyungsoo sebagai Hyung'. Kyungsoo tidak bisa menolak hal itu. Sungguh!
Saat mereka memasuki bus, Kyungsoo teringat akan sesuatu. "Ahh! Kenapa kau ada di taman hari ini?"
Dokyeom mengeluarkan cengiran lebarnya, "Aku bolos, hehe...". Dan Kyungsoo memutar bola matanya jengah. Ya ampun, anak zaman sekarang...
Kyungsoo melirik arloji hitamnya, sudah pukul 10 lewat 30 malam ketika ia dan Dokyeom tiba di halte bus terdekat dengan flat Kyungsoo.
"Dokyeom,, sebaiknya kau pulang." Lelaki tinggi itu mengernyit tidak setuju, "Aku akan mengantarmu sampai rumah."
Kyungsoo menggeram, "Aku hanya memakan 5 menit untuk sampai kerumah, jadi sebaikya kau pulang". Saat Dokyeom ingin mengeluarkan protesannya, Kyungsoo tiba-tiba...
Dang!
"Argh!"
"Pulang sekarang atau akan kuhabisi bokong kecilmu itu!"
"Ugh,,, kau terlihat menyeramkan. Ya baiklah aku akan pulang. Jika membutuhkan sesuatu, aku siap kapanpun untukmu. Sampai jumpaa Kyungsoo Hyung..."
Kyungsoo berbalik setelah membalas lambaian tangan orang tersebut.
Dan sekarang tinggallah Kyungsoo dengan otaknya yang penuh dengan berbagai macam pikiran.
Tanpa sadar Kyungsoo sudah sampai didepan pintu flatnya. Dan ia tidak berencana untuk memegang kenop pintu dan membukanya. Oh tidak,,
10 menit berlalu,,,
Kyungsoo masih memandangi pintu rumahnya. Masuk atau tidak?
Pada akhirnya, Kyungsoo memilih untuk duduk disamping pintu sambil memeluk lututnya. Angin berhembus, membuat giginya menggeram sesaat sebelum merapatkan hoodie yang ia kenakan. Biarlah... ia akan bertindak bodoh kali ini. Lagi pula siapa yang peduli? Kecuali Baekhyun, tentu saja.
Kai tersentak dari tidurnya, melirik kesamping dimana jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 3 dini hari. Hatinya bergemuruh tiba-tiba. Dan kepalanya dipenuhi dengan Kyungsoo.
Ketika hendak beranjak dari kasurnya, Kai merasakan lambungnya seperti di peras. Oh! Maag sialan.
Ia mengambil jaket, dompet dan hpnya. Membeli beberapa makanan di toserba terdengar menarik.
Saat kakinya melangkah keluar dari pintu,
Bugh~
"Ahhh!"
Kai membelalakkan matanya. Seeonggok manusia kecil jatuh terbaring didepan pintu flat. Lelaki tan itu memberanikan diri untuk memastikan siapa kah orang ini. Kai menyenggol tubuh itu dengan kakinya.
Tak ada pergerakan yang berarti.
Kai mendekatkan wajahnya, tangannya terulur membuka tudung jaket hitam itu. Dan betapa terkejutnya ia, mendapati Kyungsoo dengan bibir membiru dan tubuh yang membeku.
"Sial, Kyungsoo! Bangunlah!"
"Nnh~ Kai.. dingin~"
Hatinya jatuh, tidak... Kai tidak menyukai ini. Segera di angkatnya tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar. Perutnya tidaklah penting sekarang.
Pagi menjelang...
Kyungsoo membuka matanya, dan membiasakan diri dengan cahaya matahari yang menembus jendela kamarnya. Kepalanya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.
Selagi ia berusaha untuk bangkit dan mendudukkan diri, pintu kamar terbuka dan menampilkan Kai dengan nampan berisi air dan semangkuk makanan, mungkin.
Ia diam memfokuskan pandangannya pada lelaki tan yang semakin mendekat ke arahnya.
*Kyungsoo POV*
Kai duduk di tepian ranjang setelah meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja nakas. Mata abu-abunya menatapku. Tidak ada emosi yang berarti. Tapi tiba-tiba, jemarinya menyentuh bibirku. Ibu jarinya membelai bibir bawahku dengan pelan. Lalu beralih ke mata, turun ke hidung,
Aku menahan nafas ketika ia menunduk dan berbisik sangat dekat dengan wajahku.
"Jangan menahan nafasmu", layaknya sebuah mantra. Aku langsung menghembuskan nafas yang sejak tadi ku tahan.
Kai menghela nafasnya, lalu tangannya meraih segelas air yang ia bawa tadi. Matanya mengisyaratkan agar aku meminum air itu. Aku meraih gelas perlahan dan meminum airnya sekali teguk.
Aku terkejut saat Kai berniat menyuapiku dengan semangkuk bubur di tangannya. Aku buru-buru meletakkan gelas dan mengambil alih mangkuk itu dari Kai.
"A-aku bisa melakukannya sendiri." Kai menghela nafas sekali lagi. Lalu sejurus kemudian ia menatapku lagi, terlihat begitu marah padaku.
"Kau bilang, kau akan bermalam di rumah Baekhyun?" Aku hampir tersedak sesendok bubur yang baru saja ku suap. Secepat kilat aku mengangguk meng-iyakan perkataannya.
"Lalu kenapa? Kenapa aku bisa menemukanmu di depan pintu dalam keadaan yang mengenaskan beberapa jam lalu?"
Aku mencoba berpikir keras untuk menemukan jawaban yang tepat bagi Kai. "Kau berbohong padaku?". Mataku membelalak, "Tidak, aku tidak bohong. Aku memang berniat untuk bermalam di rumah Baekhyun. Tapi— tapi Baekhyun ternyata memiliki rencana bersama Chanyeol."
"Kenapa tidak langsung pulang?"
Aku mencoba mengatur nafasku. Kai, membuatku amat bingung dengan sikapnya sekarang. "Bagaimana aku bisa pulang, sementara aku berpikir... mungkin bisa saja aku membuatmu merasa terusik tanpa sengaja dengan kehadiranku disekelilingmu." Aku terdiam sesaat memandangi bubur ditangaku. "Tidak mungkin aku menambah kekesalan hatimu sementara kau masih saja bersedih hati karena kehilangan Taemin-ssi. Aku tidak sampai hati melakukan itu padamu."
Hening yang menyiksa.
Aku memberanikan diri untuk menatapnya dalam-dalam. Ia membalas tatapan mataku. Entah kenapa rasanya aku ingin menumpahkan semua emosi yang selama ini aku pendam.
"Kim Jongin. Ku mohon jangan seperti ini. Aku tidak ingin menumbuhkan harapan yang nantinya akan menyakitiku."
Keterkejutan terlalu kentara di matanya. Kai tertawa sinis.
"Kau tidak menyadari sedikitpun Kyungsoo." Lelaki tinggi itu bangkit, membereskan meja nakas dan berniat untuk keluar dari kamar. Tapi sebelum itu dia berbalik dan tersenyum kecil padaku.
"Minum obatnya, bibirmu kering dan nafasmu panas sekali. Lekas sembuh Kyungsoo."
Untuk pertama kalinya,
Hatiku bergetar begitu hebat karena kalimat lembut yang terucap dari Kim Jongin.
== Life with Babbo Kim ==
Seminggu berlalu...
Kyungsoo merasakan perubahan yang begitu besar pada diri Kai. Manusia satu itu lebih banyak tersenyum, walau hanya senyuman kecil. Tak jarang juga ia mendapati Kai menatapnya lama di satu kesempatan.
Jujur Kyungsoo merasa senang, tapi di sisi lain ia merasa takut karena akhirnya harapan itu muncul.
Baekhyun juga sering berbisik, memberitahu bahwa sebenarnya Kai memiliki perasaan khusus untuk dirinya. Namun Kyungsoo menampik keras semua itu. Kai tidak akan pernah memiliki rasa yang sama seperti yang dimilikinya.
Sore itu Kyungsoo termenung seorang diri di halte bus. Kepalanya penuh dengan Kim Jongin. Kim Jongin. Kim Jongin. Kim Jongin. Dan hanya Kim Jongin. Sialan memang.
Selang beberapa menit, sebuah motor sport berhenti tepat di depannya. Kyungsoo mengertnyit bingung. Terlalu familiar.
Dan ia terpaku,
pada seorang lelaki tinggi berkulit eksotis, mata kelabu, dan perawakan bugar yang sedang berjalan kearahnya. Jantungnya bereaksi lebih dahsyat dari biasanya. Detakannya tak berarutan. Terlalu cepat. Hawa panas mengalir dikedua pipi Kyungsoo ketika si lelaki tersenyum dan memasangkan helm dikepalanya.
Dewi batinnya berteriak berkali-kali demi mengembalikan kesadarannya. Do Kyungsoo! Demi Tuhan! SADARLAH!
Kyungsoo terlonjak saat si lelaki eksotik itu menarik pergelangan tangannya.
"Kai! A— apa yang kau lakukan?"
Laki-laki itu terkekeh kecil, lalu ia mengatakan "Ayo kita pulang soo~"
Tunggu! Apa yang terjadiiiii?!
Kyungsoo nyaris antipati terhadap kehadiran Kai. Dia terlihat menyeramkan kaarena sikapnya yang tidak biasa itu.
Dan sebaliknya, Kai seringkali berusaha mendekatinya. Dimanapun.
Seperti hari ini.
Kyungsoo mengangkat tinggi-tinggi buku ensiklopedia yang ia baca. Ia pikir Kai tidak akan menemuinya di perpustakaan. Karena menurut Kai, perpustakaan adalah tempat yangg membosankan. Tapi sekarang apa?!
Orang itu duduk tepat di hadapannya. Tanpa berbuat apapun, dan hanya menatap dirinya.
Celaka lah kau Kim Jongin!
"Kyungsoo..."
Diam Jongin!
"Kyungsoo-ya.."
"Do Kyungsoo..."
"Soo..."
"Kyungiee~~~"
GOD! Kyungsoo menjatuhkan bukunya. Menatap sengit kearah Kai yang masih saja tersenyum seperti orang idiot
"Kim Jongin! Apa maumu?!" tanyanya nyaris berteriak. Bagus, sekarang ia mendapatkan atensi dari semua orang disini.
Kai makin melebarkan senyumannya, kemudian mulutnya berucap, "Kau masih menyukaiku kan?"
Skak!
Pertanyaan itu lagi.
.
.
.
.
To Be Continued :*
Tetewww :V
Annyeong yeorobun, gaes, eonni, oppa, ahjumma, ahjussi, dkk ^^ Fafa bawa chapter 7. Harapan fafa masih sama seperti chapter sebelumnya, semoga ini memuaskan. Ahh fafa gk bisa banyak curcol :"
Tapi intinya,, Aku rindu kalian reader's nim :") Ada yag kangen aku gk? Kalo gk ada, dikangen-kangenin juga gpp ^^'
Udah ahh,,,
Sampai ketemu di chapter depan yaa^^ Jangan bosan menunggu,, fafa gk akan DISCONTIUE ff ini kok. It goes down down baby...
Bye byee~~~
Mind to Review(?)
