Chapter 2 updateee!! Haha, cepet banget ya, di update-nya? Nafsu banget!

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Harmony with Sorrow © Tsukioka Nagisa

Read, Enjoy and Review!

Harmony with Sorrow

Bukankah kita hidup untuk mencari kebahagiaan?

-

-

Chapter 2: Seperti angin yang berhembus…

Musim semi.

Dimana bunga bersemi dimana-mana.

Benci.

Aku benci musim yang merenggut nyawa keluargaku—ayah dan ibu. Aku tidak peduli akan bunga. Aku tidak peduli akan piknik. Aku hanya ingin kebahagiaanku kembali. Hanya itu.

"Naruto, pagi!" sahut gadis berambut pink pendek menyapaku.

"Hm," jawabku ketus.

"Tuh kan! Naruto marah!" sahut Sakura, itu nama gadis itu.

"Daripada menyapaku, lebih baik kamu berjalan sama pacarmu itu" sahutku cuek. Aku tidak peduli.

"Y—Ya sudah…" sahut Sakura lalu pergi ke pacarnya—Uchiha Sasuke.

Kalau boleh jujur, aku pernah menyukai Sakura. Dia temanku yang pertama. Tapi, hari itu—dia jadian dengan Sasuke. Tentu saja, Sasuke yang menembak. Aku, sejak saat itu, menutup hatiku untuk dunia.

Selamanya, kalau perlu.

---Harmony with Sorrow---

Hyuuga Hinata.

Nama 'Hinata' memang tidak kukenal, tapi sepertinya nama 'Hyuuga' terasa familiar. Payung yang diberinya secara sepihak itupun masih ada dikamarku selama seminggu ini.

Aku berjalan menyusuri jalan penuh bunga sakura—yang justru membuatku muak. Hanya jalan ini yang kuingat saat aku bersama orang tuaku. Di jalan ini aku, ayah, ibu berjalan, saling bergandengan tangan, dengan senyuman menghiasi wajah kita. Tapi—itu saat aku masih berumut 6 tahun. Dan, 2 tahun kemudian—tidak. Aku lebih baik tidak mengingatnya.

"Loh? Yang kemarin…" sahut suara yang kucari.

Aku berbalik kearah suara itu. Ya, Hyuuga Hinata. Tunggu—dia memakai seragam sekolah elit Hyuuga? Sekolah yang hanya bisa dimasuki oleh anak-anak jenius itu?

Tunggu…Hyuuga?

"Anu…Jangan-jangan kamu…putri dari keluarga Hyuuga?" tanyaku memastikan.

"Um? Iya, itu benar. Namaku Hyuuga Hinata. Kamu?" tanyanya sambil tersenyum padaku.

"U—Uzumaki Naruto…"

"Ah, Uzumaki-kun ya?" sahutnya memanggilku dengan bahasa formal.

"Naruto saja enggak apa-apa…" sahutku.

Dia tersenyum, lalu berkata, "nah, Naruto-kun, aku punya pertanyaan yang harus kamu jawab."

"Hah? Pertanyaan?" tanyaku. Bicara apa gadis ini? Baru kenal juga—

"Untuk apa kamu hidup?" tanyanya.

"H—hah?"

"Untuk apa kamu hidup? Untuk apa kamu disini?" tanyanya, dan memasang wajah serius.

"Kita akan bertemu lagi—" selanya tiba-tiba. "besok, di tempat ini juga. Di waktu yang sama. Naruto-kun, kamu harus punya jawaban yang tepat."

"Hi—Hinata?" sahutku kaget. Apa maksud dia? Apa dia peramal? Kenapa dia tahu kalau kita pasti akan bertemu lagi?

"Mata ashita, Naruto-kun" sahut Hinata tersenyum lalu pergi. Tiba-tiba saja, angin berhembus kencang. Kelopak bunga sakura berterbangan dan membuatku harus menutup mataku.

Hinata sudah tidak ada.

Seperti yang kuduga, dia itu memang gadis aneh. Kenapa tiba-tiba saja dia menghampiriku seperti dia mengenalku?

Aneh.

---Harmony with Sorrow---

Hari Minggu.

Ya, hari ini hari Minggu. Dimana Hinata berkata bahwa kita akan bertemu lagi. Kalau ini hari sekolah, kemungkinan kita akan bertemu, kerana jalan Sakura itu adalah jalan utama ke 2 sekolah, yaitu SMA Swasta Hyuuga yang elit dan SMA Negeri Konoha yang bobrok.

Aku terbangun dan langsung mandi. Memakai kaos putih dan parka oranye. Tidak lupa celana jeans kesayanganku—atau lebih pantas disebut celana jeans ku satu-satunya. Tak lupa, payung itupun harus kubawa.

"Oi, Naruto" panggil seseorang saat aku keluar dari kamar flat bobrokku.

"Oh, Shika. Kenapa?" tanyaku saat mengetahui Nara Shikamaru, yang tinggal di kamar sebelah kamarku, memanggilku. Shikamaru seumur denganku, tapi ini putus sekolah, bukan karena tidak ada biaya, tapi dia terlalu pintar.

"Kalau kamu mau keluar, tolong belikan aku kopi instant 2 kotak ya. Pakai duitmu dulu, nanti kuganti" suruhnya.

"Hah? Kenapa tidak pergi sendiri aja?" sahutku berusaha menolak.

"Malas," sahutnya. Cepat, padat, dan sangat kumengerti.

"Uukh—terserah kamu deh" sahutku kalah.

"Lagipula, kamu kerja part-time di supermarket kan? Sekalian aja kesana" tambah Shika.

"Iya, iya…"

Benar, demi kelangsungan hidupku, aku berkerja part-time di sebuah supermarket 24 jam. Waktu kerjaku dari jam 5 sampai jam 10.

Aku mulai berjalan menuruni tangga peyot dan bertemu pemilik flat, Kakashi-san.

"Naruto, kamu mau kemana?" tanyanya, padahal pandangannya sedang membaca buku-entah-apa-judulnya.

"Jalan-jalan sebentar," jawabku dan memasukan tanganku ke kantung celana jeans ku.

"Titip koran hari ini ya, kalau kamu bersedia membelikannya, aku tidak keberatan tagihan flat diundur beberapa minggu" sahut Kakashi-san.

"Baiklah…" sahutku pasrah. Itu adalah titik kelemahanku: tagihan flat.

---Harmony with Sorrow---

Aku melirik jam. Jam 3.

Sudah saatnya aku ke jalan sakura itu. Tidak mungkin kan, Hinata ada disana? Lagipula, pertanyaanya itu…

Aku mulai memasuki jalan sakura itu. Aku mengadahkan kepalaku, mencari gadis itu. Dan—aku terkejut.

"Kamu datang, Naruto-kun" sahutnya—Hinata—menungguku, dengan menyenderkan tubuhnya di salah satu pohon sakura tak jauh dari aku.

"Ka—kamu…?" sahutku terkejut. Kenapa…kenapa dia tahu kalau aku…

"Jawabannya sudah ketemu?" tanyanya dan beranjak dari posisinya. Dia membersihkan cardigan lavender setengah lengannya, lalu menghampiriku.

"Kenapa—kenapa kamu tahu kalau aku akan kesini?" tanyaku, tidak mempedulikan pertanyaannya.

"Karena aku percaya kalau kamu akan datang," jawabnya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa terdiam. Aku tidak bisa menjawab apa-apa.

"Bagaimana, Naruto-kun? Jawabanmu?" tanyanya lagi.

"Aku—aku hidup untuk…" sahutku "—untuk…tidak tahu…"

"Eh?"

"Aku…tidak tahu aku hidup untuk apa. Hidupku tidak ada bagus-bagusnya. Kesialan selalu menghampiriku" sahutku dan mengadah kepalaku.

Hinata tampak diam. Lalu, dia berkata, "kamu tahu, Naruto-kun, kalau aku…adalah anak yang tidak diharapkan oleh keluargaku?"

Aku terkejut. Seorang tuan putri keluarga Hyuuga yang tidak diharapkan oleh keluarganya?

"Badanku dari kecil selalu lemah. Dan aku sering jatuh sakit. Karena itu, keluargaku lebih mengharapkan adikku, Hanabi, untuk mewarisi semua yang dimiliki keluarga Hyuuga. Dan, itu…" jelas Hinata sedih "sangat menyakitkan"

Angin mulai berhembus kencang lagi. Rambut panjang Hinatapun berkibar dengan indahnya.

"Tapi, aku masih ingin hidup. Untuk…mencari kebahagiaanku" lanjutnya sambil tersenyum padaku. "hari itu, aku melihatmu. Matamu penuh kesedihan, dan seperti ingin menghilang saja dari dunia ini"

Itu…benar. Kenapa…kenapa orang yang sama sekali tidak kenal padaku bisa tahu kalau aku ingin—

"karena itu, aku ingin memberitahumu apa artinya hidup. Nah, apakah Naruto-kun sudah tahu jawabannya?" tanyanya.

"Ya—" jawabku. "sama sepertimu, mencari kebahagiaan"

Hinata tersenyum. Dia tampak puas dengan jawabanku. "kalau boleh, kita berteman ya, Naruto-kun?"

"Hm," jawabku singkat. "Oh ya, ini payungmu. Tenang saja, payungmu tidak aku apa-apakan kok."

Hinata tersenyum dan mengambil payungnya dari tanganku.

Hari itu, hari dimana aku perlahan-lahan membuka hatiku pada dunia, seperti angin yang berhembus…

--- Seperti angin yang berhembus---

End of chapter

Uaaah, makasih banget yah, yang udah nge-review fanfic ini! Gak disangka, baru sehari aku tinggal nih fanfic merantau, udah ada 6 review! Makasiiiih!

Hehe, tenang aja. Payungnya Hinata enggak diapa-apain kok sama Naruto. Bahkan gak dia sentuh tuh payung. Kenapa? Pas aku tanya ke Naruto, dia jawab: "itu kan payung cewek! Gengsi!". Gituuu

Fanfic ini multi chapter kok. Sekarang aku lagi dalam proses pembuatannya. Kalau akhirnya Naruto sama Hinata jadian atau enggak…rahasia perusahaan! Hehe.