Chapter 3 is hereee!
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Harmony with Sorrow © Tsukioka Nagisa
Read, Enjoy and Review!
Harmony with Sorrow
Kesepian yang sebenarnya adalah kamu tidak menyadari keinginan hatimu yang sebenarnya.
-
-
Chapter 3: Sesuatu telah berubah…
"Selamat pagi, Naruto-kun!" sapa Hinata.
"Hm, selamat pagi" jawabku.
"Hmm" gumam Hinata saat melihat wajahku.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Aku sudah seminggu mengenalmu, tapi, aku tidak pernah melihatmu tersenyum…" sahut Hinata sambil menaruh jarinya di dagu mungilnya.
"Haah, daripada itu, lebih baik kamu masuk sekolah sana, nanti telat." Sahutku menyuruh Hinata.
"Baiklah. Naruto-kun, seperti biasa, aku akan menunggumu pulang!" sahut Hinata tersenyum. "Mata ne!"
"Hm," jawabku singkat, dan melambaikan tanganku sedikit.
Berbeda dengan sekolahku, sekolah Hinata, SMA Swasta Hyuuga, memakai seragamnya dengan rapih. Blazer merah dengan lambang SMA Swasta Hyuuga, pita berwarna hitam—dasi hitam untuk cowok dan kemeja putih. Tidak lupa rok kotak-kotak merah, sedangkan cowoknya celana panjang kotak-kotak merah. Kaos kaki hitam sebetis pun ada lambangnya.
Sedangkan SMA Negeri Konoha, hanya memakai seragam negeri pada umumnya. Cowok memakai seragam hitam-hitam biasa, sedangkan murid ceweknya memakai seragam sailor. Tidak ada lambang, tidak mengharuskan kerapihan. Berbeda sekali.
"Oh, jadi sekarang kamu jadian sama anak SMA Swasta Hyuuga?" sahut seseorang dari belakangku.
"U—Uaa! Kiba! Sejak kapan kamu disitu?" tanyaku kaget. Ini adalah Inuzuka Kiba, temanku, mungkin sesama tukang bolos.
"Itu Hyuuga Hinata kan?" tanya Kiba tiba-tiba.
"Kok kamu tahu?" tanyaku
"Hah? Kamu—jangan-jangan kamu enggak tahu siapa sebenarnya Hyuuga Hinata? Ya ampun, parah banget!" sahut Kiba setengah mengejekku, yang membuatku sedikit jengkel.
"Dia itu pernah menang perlombaan menyanyi se-Jepang tahu! Lalu, dia menjadi runner-up perlombaan menyanyi di Eropa tahun lalu! Kamu enggak tahu itu?" jelas Kiba.
"Menyanyi?"
"Tapi—kau tahu, Hyuuga Hinata, gosipnya dia tidak dihargai oleh keluarganya. Meski dia berusaha memenangkan lomba ini-itu, mendapatkan ranking terbaik di sekolahnya, dia tidak dilirik sedikitpun oleh keluarganya, terutama ayahnya" jelas Kiba.
"Kok kamu tahu semua itu?" tanyaku bingung.
"Dulu, kakakku pernah bekerja di kediaman Hyuuga sebagai pelayan, lalu dia mendengar gosip itu. Yah, percaya atau enggak sih" sahut Kiba lalu beranjak pergi.
Apakah itu benar, Hinata?
---Harmony with Sorrow---
"Hm, benar" jawab Hinata begitu aku menanyakan hal itu padanya saat kita berjalan di jalan sakura ini.
"Jadi, kamu…" sahutku prihatin.
"Tapi tidak apa-apa kok, Naruto-kun! Aku baik-baik saja!" sahut Hinata mencoba membuatku sedikit lega.
"Dan…katanya kamu pintar menyanyi ya?" tanyaku.
"Hm, itu benar juga. Tapi, sebanyak apapun aku menyanyi, keluargaku tidak akan…" sahut Hinata dengan suara agak parau.
"Hinata—" sahutku ikut tenggelam dalam kesedihannya.
"Hinata-sama, ternyata anda disini" sahut sesosok pria—tidak, dia terlihat seumur, atau setahun lebih tua dariku. Dia memakai tuxedo lengkap, rambut panjangnya diikat, dan mempunyai mata yang sama dengan Hinata, lavender.
"Ne—Neji-nii san…" sahut Hinata mundur selangkah.
"Nii…Nii-san? Kakakmu?" tanyaku.
"Dia…dia kakak sepupuku—" jawab Hinata dan bersembunyi di balik tubuhku. Dia terlihat ketakutan.
"Hinata-sama, anda harus pulang. Hiashi-sama sudah menunggu—"
"Tidak! Otou-sama tidak mungkin memintaku pulang! Dia takkan mengkhawatirkan segala sesuatu tentangku! Tak akan!" sela Hinata dengan suara keras, dan hampir menangis.
"Tapi, Hinata-sama, anda salah sangka" bantah kakak sepupu Hinata, Neji, mencoba membujuk Hinata.
"Bohong! Bohong!" teriak Hinata, kali ini air matanya benar-benar keluar. Tangannya yang menggenggam lengan kananku bergetar ketakutan.
"Hinata, lari!" sahutku tanpa pikir panjang, menggenggam tangan mungil Hinata, dan mulai berlari.
"Hinata-sama!" panggil Neji 'kurang ajar' itu.
Aku tidak peduli akan Neji, atau apapun namanya, memanggil nama Hinata berkali-kali. Aku hanya berlari, dengan tangan Hinata dalam genggamanku.
---Harmony with Sorrow---
"Hah, hah…"
"Disini, mungkin kita takkan terkejar" sahutku. Ini adalah sebuah bukit kecil di pinggir kota, yang sangat indah.
Hinata langsung duduk kelelahan di rumput, sedangkan aku merebahkan tubuhku.
"Sudah lama…aku tidak berlari seperti ini" sahut Hinata. Setengah ngos-ngosan.
"Aku juga," sahutku, dan tanpa sadar aku tersenyum tipis.
"Aah! Naruto-kun tersenyum!" sahut Hinata bahagia.
Aku langsung kaget dan segera memalingkan mukaku ke arah yang berbeda dengan arah wajah Hinata. Aku merasakan mukaku menjadi panas…
"Sepertinya, kamu senang sekali ya, Naruto-kun?" tanya Hinata dan mengguncangkan tubuhku lembut. "Naruto-kun! Hadap sini! Jangan marah dong!"
"Cerewet banget sih!" sahutku dan akhirnya membalikan badanku. Ya ampun, kukira dia itu gadis pendiam, tapi ternyata tukang maksa juga.
"Nih, tiket," sahut Hinata begitu aku membalikkan badanku.
"Tiket apaan?" tanyaku dan bangkit dari posisi tidurku.
"Lomba menyanyi di kota ini. Acaranya besok" sahut Hinata. "aku akan bernyanyi disana, loh"
"Oh ya? Baiklah, kalau bisa aku akan datang" sahutku dan menerima tiket iu dari tangan Hinata.
"Itu tiket untuk 3 orang. Ajak teman-temanmu ya, Naruto-kun!" sahut Hinata.
"Hm," sahutku, kembali mengembangkan senyumku yang sudah lama tak kuperlihatkan. "aku janji"
Hinata tidak berkata apa-apa. Dia tersenyum dengan sedikit rona merah di pipinya.
Sesuatu telah berubah. Cara hidupku, semuanya, diubah dengan hanya bersama Hinata. Rasanya, kebahagiaan sudah memenuhi diriku lagi. Aku berharap, semua ini akan terus berlanjut…
--- Sesuatu telah berubah…---
End of Chapter
Maaf ya, update nya lama. Minggu ini banyak banget PR sama ulangan di sekolah. Makasih banget yang udah nge-review! Tolong jangan bosan baca Harmony with Sorrow, ya! Makasiiih!
