Chapter 4!

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Harmony with Sorrow © Tsukioka Nagisa

Read, Enjoy and Review!

Harmony with Sorrow

Aku hanya ingin menyampaikan hatiku melalui lagu ini…

-

-

Chapter 4: Ke Ketinggian Yang Sama

Kenapa…

Kenapa aku harus berakhir mengajak mereka berdua?

"Ooh, jadi ini gedung terbesar di kota ini?" sahut Kakashi-san kagum, namun justru seperti orang bodoh.

"Aduh, aku malas sekali…." sahut Shika dengan nada malas.

Kalau dipikir-pikir, cuma mereka aja yang kukenal punya waktu luang di hari Minggu begini. Ya ampun. Ngajak mereka sama aja mempermalukan diri sendiri.

"Baiklah, mari kita cari tempat duduk—ah, disana!" sahut Kakashi-san dan segera mengambil tempat duduk di barisan ke-tiga agak ke tengah. Tempat yang bagus!

Nggak lama, acarapun dimulai. Satu, dua, tiga peserta sudah menampilkan penampilannya. Suara mereka bagus—tapi, bagaimana dengan Hinata?

Setengah jam aku menunggu penampilan Hinata. Shika saja sudah tidur lelap tanpa suara sedikitpun, Kakashi-san sudah mulai membalikan lembaran koran. Bosan, itu yang mereka rasakan—seperti aku.

"…menyedihkan," sahut Kakashi-san tiba-tiba, dengan mata yang serius dan tajam.

"Hah? Apa maksud—"

"Nyanyian mereka bukan dari hati. Tapi, hanya dari mulut saja. Menyedihkan." sahut Kakashi-san.

"Kenapa…Kakashi-san bisa tahu?" tanyaku penasaran.

"Shikamaru tidak terbangun," jawab Kakashi-san singkat.

"Jangan bercanda, Kakashi-san!!" sahutku setengah teriak.

"Aku tidak bercanda. Shikamaru, meski dia begitu, dia sangat mengerti musik. Setiap dia mendengar musik yang murni, pasti dia akan terbangun," sahut Kakashi-san. "Tapi…sejak saat itu"

"Sejak saat itu?" tanyaku.

"Ah, benar juga. Kamu belum datang ke flat-ku pada 'saat itu', yah" sahut Kakashi-san. "Jadi, waktu itu, Shikamaru mempunyai—"

"—baiklah, peserta nomor 25, Hyuuga Hinata-san!" sahut pembawa acaranya.

"Ah, sudah saatnya Hinata tampil" sahutku dan berbalik arah ke panggung.

Hinata maju ke panggung. Dia tampak berbeda dengan balutan gaun berwarna ungu cerah dan rambutnya dihias dengan hiasan yang indah.

Hinata mulai membuka mulutnya, dan dia pun bernyanyi.

Disaat aku mulai terdiam dalam kesedihan,

Disaat aku membiarkan diriku dibasahi oleh hujan,

Aku tersadar bahwa aku yang sekarang hidup di dunia,

Di dunia tanpa suara yang menyedihkan

Aku mengangkat wajahku,

Aku mulai mengejar bayanganmu

Aku ingin bersamamu…

Ke ketinggian yang sama denganmu,

Ke tempat yang sama denganmu,

Mengarungi laut terganas pun tak apa

Asalkan itu untuk melihat matamu lagi

Aku akan melakukan apa saja, demi senyummu

Aku akan melawan apa saja, demi kebahagiaanmu

Ke ketinggian yang sama denganmu…

Entah mengapa, ketika kamu hadir dalam hariku,

Aku mulai merasakan warna-warna hidup

Hujan deras yang mengguyurku itu,

Sekarang sudah bukan masalah lagi

Ke ketinggian yang sama denganmu,

Ke dunia yang sama denganmu,

Meski aku akan terluka parah, tak apa

Asalkan itu untuk melihat senyummu lagi

Hanya ke ketinggian yang sama denganmu,

Hanya ke tempat yang sama denganmu,

Hanya itu, hanya itu,

Akhirnya aku menemukan mimpiku…

Hinata selesai bernyanyi. Aku hanya terdiam. Perasaan kagum dan terkejut tercampur menjadi satu.

"…hmp, tidak buruk" sahut Shikamaru dengan mata setengah tertutup, tapi dengan suara yang nyaris berbisik. Hingga aku hampir tidak mendengarnya.

---Harmony with Sorrow---

"Sayang sekali kamu tidak menang yah" sahutku.

"Hm, tapi, aku senang dapat menyanyi lagi" sahut Hinata tersenyum. Hinata hanya menduduki juara ke-dua. Dia sudah mengganti gaun indahnya itu dengan baju sehari-hari.

Aku hanya tersenyum. Lalu, aku menepuk kepala Hinata, "berjuang terus, ya!"

"Iya!" sahut Hinata tersenyum, "oh ya, Naruto-kun…"

"Ada apa?" tanyaku dan mengangkat tanganku dari kepala Hinata.

"Tadi, yang duduk di sebelahmu itu…Nara Shikamaru-san, kan?" tanya Hinata.

"Kok kamu tahu cowok pemalas kayak dia?" tanyaku.

"Eeh—Naruto-ku tidak tahu yah? Kalau Nara Shikamaru-san itu…penulis lirik lagu terkenal?" sahut Hinata.

Aku terdiam. Shikamaru? Penulis lagu?

"Gak mungkin" sahutku singkat.

"Ta—tapi ini benar! Salah satu lagunya yang kusukai itu 'Seribu Kenangan' yang ternyata itu adalah lagu untuk kekasihnya—"

"Hah? Kekasih?!!" sahutku kaget, tidak percaya.

"Naruto-kun, kok kamu benar-benar tidak tahu tentang orang-orang terkenal di sekitar sini yah?" tanya Hinata takjub.

"Jadi—si Shika itu punya ke-ka-sih?!" tanyaku sekali lagi.

"Iya, kalau tidak salah namanya Temari-san. Dia juga penyanyi. Dia menyanyikan lagu karangan Shikamaru-san…" sahut Hinata.

"Hah? Yang benar?" tanyaku lagi, untuk memastikan.

"Iya. Tapi, dia berhenti menulis lagu sejak 4 tahun yang lalu…" sahut Hinata dengan suara sedikit sedih.

"Tunggu! Dia masih SMP dong?!" sahutku kaget.

"Iya. Temari-san saat itu juga masih SMP," jawab Hinata.

"Hinata! Ikut aku!" sahutku dan menarik tangan Hinata.

"E—Ehh?"

---Harmony with Sorrow---

"Ki—kita mau kemana, Naruto-kun?" tanya Hinata di sela nafasnya yang terengah-engah.

"Ke flat ku! Sialan Shika! Dia malah pulang duluan!" teriakku.

"Buat apa?!" tanya Hinata

"Memastikan hal itu!!"

Aku pun sampai di flat bobrok itu. Aku segera menarik tangan Hinata, naik ke lantai atas, dan membuka dengan kasar pintu kamar Shika.

Saat aku membuka pintunya, terdengan sebuah alunan lagu. Shika menyanyi. Ya, dengan alunan gitar tuanya.

Seribu kenangan yang kita rajut bersama,

Sekarang sudah menjadi daun yang berguguran

Satu, dua, sekarang kenangan itu hilang

Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?

Hanya kamu yang kucintai,

Aku tak bisa—

"Hah, jadi ini kerjaan penulis lirik lagu?" selaku. Shika kaget dan langsung menghentikan nyanyiannya.

"N—Naruto! Bagaimana kamu bisa—" sahut Shika dan berbalik arah ke arahku. "—ah, pasti dari kamu, Hinata?"

"I—iya, maaf, Shikamaru-san" sahut Hinata

"Jadi, mana kekasihmu itu?" tanyaku usil.

"Ukh," sahut Shika dengan suara jengkel. "kamu itu! Temari…Temari—"

Aku melihat air mata Shika jatuh perlahan di pipinya. Aku tersentak kaget. Apa maksud semua ini?

"—Temari, dia…sudah meninggal," isak Shika ditengah tangisnya.

"Eh? Meningg…al?"

"Sepertinya, aku harus menceritakannya padamu. Semuanya" sahut Shika. Meski suaranya lebih tegar dari yang tadi, tapi, aku masih bisa melihat air mata.

"Oh, jadi Naruto sudah tahu?" sahut Kakashi-san tiba-tiba. Dia masih membaca koran, tapi sepertinya, dia sudah tahu semua ini.

"Baiklah, Naruto. Dengar. Ini kejadian 4 tahun yang lalu. Aku hanya akan menceritakannya padamu sekali" sahut Shika dan mengambil sebuah figura foto.

"Ini?"

"Ini Temari," sahut Shika. Wajahnya nampak tersenyum, namun suaranya sedikit bergetar.

Gadis berambut pirang yang dikuncir secara aneh—kuncir empat—nampak bahagia di foto itu. Ada Shika di sebelahnya. Gadis itu memegang sebuah piagam dan ada air mata bahagia di mata hijaunya. Sedangkan Shika yang merangkulnya nampak bahagia.

"Waktu itu, musim dingin 4 tahun yang lalu—"

--- Ke Ketinggian yang Sama---

End of Chapter

Hiaa! Sekarang kita masuk ke permasalahan Shikamaru! Don't forget Revieeew!

Karatker Naruto disini mirip Sasuke yah? Maaf, aku buat karakter Naruto kayak gitu untuk mendukung jalan cerita. Aku pikir, kalo karakter Naruto kayak biasanya, ceria dan periang, jadinya kurang pas…